cover
Contact Name
Iqbal Arifin
Contact Email
jurnalpijarnusantaraaa@gmail.com
Phone
+6282192209015
Journal Mail Official
jurnalpijarnusantaraaa@gmail.com
Editorial Address
Jl. Poros Majene-Mamuju, Kel. Rangas, Kec. Banggae, Kab. Majene (Sul-Bar) 91415
Location
Kab. majene,
Sulawesi barat
INDONESIA
Pijar Nusantara
ISSN : -     EISSN : 31634389     DOI : -
PIJAR NUSANTARA merupakan jurnal ilmiah yang mempublikasikan hasil dari berbagai disiplin ilmu. Jurnal ini hadir sebagai wadah akademik bagi dosen, peneliti, praktisi, dan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap upaya pemberdayaan masyarakat melalui implementasi ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya. Jurnal ini berfokus pada publikasi karya-karya yang inovatif, aplikatif, dan berdampak langsung terhadap penyelesaian persoalan nyata di masyarakat. Artikel yang diterbitkan diarahkan pada hasil yang tidak hanya mendeskripsikan pelaksanaan program, tetapi juga menampilkan kontribusi nyata dalam peningkatan kapasitas masyarakat, penguatan kelembagaan, pengembangan pendidikan, pemberdayaan ekonomi, kesehatan, lingkungan, serta pembangunan sosial berbasis kebutuhan lokal.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 14 Documents
Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Potensi Lokal: Pendekatan Participatory Action dalam Penguatan Tata Kelola Desa Novayanti Rukmana; Febrianto Syam; Muhammad Nur Yamin; Asri Nur Aina; Anna Fiulaizi
Pijar Nusantara Vol 1 No 2 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat Pijar Nusantara : Maret (2026)
Publisher : Arunika Media Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Community empowerment grounded in local potential constitutes a strategic approach in strengthening rural governance. This article documents the role of a field supervisor lecturer (Dosen Pembimbing Lapangan/DPL) in facilitating a participatory action-based community service program through Kuliah Kerja Nyata (KKN) in Tabo-Tabo Village, Bungoro District, Pangkajene dan Kepulauan Regency, South Sulawesi. The DPL's supervisory functions encompassed needs identification, program planning facilitation, field coordination with village and sub-district governments, and reflective evaluation alongside students. Three program clusters directly aligned with the article's focus: (1) strengthening village governance through public information transparency and digital media development; (2) community economic empowerment through MSME legalization and local tourism asset development; and (3) social and infrastructure capacity building through environmental health activities and public facility revitalization. Results demonstrate that active DPL mentorship within a participatory framework effectively catalyzed multi-stakeholder collaboration, produced measurable community outcomes, and cultivated sustainable local capacity. These findings affirm that the DPL role extends beyond administrative supervision into substantive facilitation of community-based development grounded in local assets.
Storry Telling: Penguatan Budaya Anti Kekerasan di Satuan Pendidikan melalui Pendekatan Hukum, Sosial, dan Antropologi Heri Tahir; Ririn Nutfaathirany Heri; Muhammad Aswan; Sitti Junaeda; Nasihin
Pijar Nusantara Vol 1 No 2 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat Pijar Nusantara : Maret (2026)
Publisher : Arunika Media Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kekerasan di lingkungan satuan pendidikan masih menjadi persoalan yang memerlukan perhatian serius karena berdampak terhadap perkembangan psikologis, sosial, dan akademik peserta didik. Fenomena bullying, kekerasan verbal, intimidasi, dan pengucilan sosial sering kali dianggap sebagai bagian biasa dari interaksi sosial di lingkungan sekolah sehingga berpotensi membentuk budaya kekerasan yang terus berkembang. Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara idealitas perlindungan anak di lingkungan pendidikan dengan realitas sosial yang masih ditemukan dalam kehidupan sekolah sehari-hari. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan edukatif yang komunikatif dan sesuai dengan perkembangan psikologis anak untuk membangun budaya anti kekerasan sejak dini. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat budaya anti kekerasan di satuan pendidikan melalui metode story telling dengan pendekatan hukum, sosial, dan antropologi. Kegiatan dilaksanakan di SD Inpres IKIP pada tanggal 16 Oktober 2025 dengan melibatkan siswa/i kelas III, IV, V, dan VI, guru, tenaga kependidikan, serta mahasiswa KKN-PPL Terpadu Universitas Negeri Makassar. Metode pelaksanaan dilakukan melalui tahapan observasi awal, edukasi interaktif, penyampaian materi, story telling, diskusi partisipatif, dan evaluasi kegiatan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa metode story telling mampu meningkatkan pemahaman peserta mengenai bentuk-bentuk kekerasan di lingkungan sekolah serta pentingnya sikap empati, toleransi, dan penghormatan terhadap sesama. Pendekatan multidisipliner melalui perspektif kriminologi, perlindungan anak, dan antropologi pendidikan juga membantu peserta memahami dampak perilaku bullying serta pentingnya membangun budaya sekolah yang aman, humanis, dan ramah anak.
Penguatan Literasi Nilai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) untuk Keberlanjutan Budaya Komunitas Dimas Ario Sumilih; Atma Ras
Pijar Nusantara Vol 1 No 2 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat Pijar Nusantara : Maret (2026)
Publisher : Arunika Media Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelestarian nilai Warisan Budaya Takbenda menjadi kebutuhan penting di tengah perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan melemahnya pewarisan budaya antargenerasi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memperkuat literasi, kesadaran, dan kapasitas awal peserta dalam memahami konsep nilai, warisan budaya, budaya takbenda, serta strategi pelestarian nilai budaya secara berkelanjutan. Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk pelatihan dasar secara daring oleh ESAS Management dengan peserta level nasional yang memenuhi persyaratan kepesertaan, meliputi latar pendidikan minimal mahasiswa atau lulusan sarjana, kemampuan komunikasi, minat terhadap pelestarian budaya, dan komitmen berkontribusi pada masyarakat. Metode kegiatan menggunakan pendekatan edukatif, partisipatif, dan reflektif melalui penyampaian materi, diskusi interaktif, refleksi terarah, serta perumusan gagasan tindak lanjut. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman peserta mengenai nilai budaya takbenda sebagai sistem makna, identitas, pengetahuan, keterampilan, dan pedoman sosial. Peserta juga mampu mengenali tantangan pelestarian dan merumuskan strategi sederhana berbasis komunitas, pendidikan, dan teknologi. Pelatihan ini berkontribusi menyiapkan peserta sebagai agen awal pelestarian nilai budaya takbenda.
Pelestarian Nilai - Nilai Kearifan Lokal melalui Pembelajaran Sejarah berbasis Budaya Daerah Bahri; Asmunandar; Suriani Abbas; Andi Dewi Riang Tati; Fitra Widya Wati
Pijar Nusantara Vol 1 No 2 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat Pijar Nusantara : Maret (2026)
Publisher : Arunika Media Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman peserta didik mengenai pentingnya pelestarian nilai-nilai kearifan lokal melalui pembelajaran sejarah berbasis budaya daerah di SMAN 11 Takalar. Permasalahan yang dihadapi adalah rendahnya minat peserta didik terhadap budaya lokal dan pembelajaran sejarah yang masih didominasi metode ceramah serta penggunaan buku teks. Padahal, Kabupaten Takalar memiliki potensi budaya lokal yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar sejarah yang kontekstual dan bermakna. Metode pelaksanaan kegiatan dilakukan secara sistematis dan partisipatif melalui tahap persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk sosialisasi, pembelajaran interaktif, diskusi kelompok, studi kasus, dan identifikasi nilai-nilai kearifan lokal di lingkungan peserta didik. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk mengetahui peningkatan pemahaman peserta. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan partisipasi, pemahaman, dan kesadaran peserta didik terhadap pentingnya pelestarian budaya lokal. Peserta mampu mengidentifikasi nilai-nilai kearifan lokal seperti gotong royong, toleransi, kebersamaan, dan kepedulian sosial. Pembelajaran sejarah berbasis budaya daerah juga terbukti mampu menciptakan proses pembelajaran yang lebih kontekstual, menarik, dan bermakna bagi peserta didik.

Page 2 of 2 | Total Record : 14