cover
Contact Name
Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Contact Email
prodipbsi22@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
prodipbsi22@gmail.com
Editorial Address
Jl. Veteran No. 15 KM 2 Kompleks Perikanan, Kotabaru Kalimantan Selatan, Indonesia
Location
Kab. kotabaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
SEMIORA: Jurnal Bahasa, Semiotika, dan Budaya
ISSN : 31639062     EISSN : 31639054     DOI : -
Core Subject :
Jurnal Bahasa, Semiotika, dan Budaya merupakan jurnal ilmiah yang ditelaah sejawat (peer-reviewed) yang mempublikasikan artikel penelitian, kajian pustaka, dan artikel konseptual di bidang linguistik, semiotika, dan studi budaya. Jurnal ini bertujuan menjadi wadah akademik bagi mahasiswa, peneliti, akademisi, dan praktisi untuk mendiseminasikan gagasan ilmiah serta mendorong pengembangan kajian humaniora interdisipliner. Ruang lingkup jurnal mencakup, namun tidak terbatas pada, linguistik, semiotika, komunikasi simbolik, sastra, kajian budaya, tradisi lisan, etnolinguistik, antropologi linguistik, filsafat bahasa, media dan komunikasi, serta bidang interdisipliner lainnya yang relevan.
Arjuna Subject : -
Articles 17 Documents
ANALISIS SEMIOTIKA PADA DESAIN PRODUK UMKM D'JAJAN'S 3R BERDASARKAN TEORI FERDINAND DE SAUSSURE Yuyun Hamidatun Rahayu
SEMIORA: Jurnal Bahasa, Semiotika, dan Budaya Vol 1 No 1 (2026): SEMIORA: Jurnal Bahasa, Semiotika, dan Budaya
Publisher : LPPM STKIP Paris Barantai Kotabaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna tanda visual pada desain produk UMKM D’JAJAN’S 3R berdasarkan teori semiotika Ferdinand de Saussure. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif untuk mengidentifikasi hubungan antara penanda (signifier) dan petanda (signified) pada unsur-unsur visual desain produk. Data penelitian diperoleh melalui observasi, dokumentasi visual, dan studi pustaka terhadap desain produk D’JAJAN’S 3R. Hasil penelitian menunjukkan bahwa unsur visual berupa tipografi, ilustrasi tokoh chef perempuan berhijab, ilustrasi makanan, warna dominan ungu, ornamen, dan tata letak memiliki makna simbolik yang saling berkaitan dalam membangun identitas merek. Tulisan “D’JAJAN’S 3R” merepresentasikan identitas usaha yang modern dan mudah dikenali, ilustrasi tokoh chef melambangkan profesionalitas dan keterlibatan dalam proses memasak, sedangkan ilustrasi makanan menunjukkan keberagaman menu yang ditawarkan. Dominasi warna ungu membangun kesan kreatif, elegan, dan unik. Penelitian ini menunjukkan bahwa desain produk tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetika, tetapi juga sebagai media komunikasi visual yang mampu membangun citra positif dan meningkatkan daya tarik UMKM di era digital.
MAKNA SIMBOLIK TRADISI RUJAKAN DALAM UPACARA TINGKEBAN MASYARAKAT JAWA: ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES Karmila
SEMIORA: Jurnal Bahasa, Semiotika, dan Budaya Vol 1 No 1 (2026): SEMIORA: Jurnal Bahasa, Semiotika, dan Budaya
Publisher : LPPM STKIP Paris Barantai Kotabaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis makna simbolik tradisi rujakan dalam upacara Tingkeban masyarakat Jawa melalui pendekatan semiotika Roland Barthes. Tradisi rujakan merupakan salah satu rangkaian ritual Tingkeban yang mengandung simbol budaya, nilai sosial, dan keyakinan spiritual masyarakat Jawa. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan semiotika budaya. Data penelitian diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dokumentasi, dan studi pustaka. Data berupa simbol-simbol budaya dalam tradisi rujakan, seperti buah-buahan, rasa makanan, penggunaan kreweng, serta aktivitas jual beli simbolik dalam prosesi ritual. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, kemudian dianalisis melalui konsep denotasi, konotasi, dan mitos Roland Barthes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simbol-simbol dalam tradisi rujakan memiliki makna filosofis yang berkaitan dengan perjuangan hidup, kasih sayang, keharmonisan keluarga, solidaritas sosial, serta harapan keselamatan bagi ibu dan bayi. Buah masam melambangkan perjuangan hidup, gula merah melambangkan kelembutan dan keharmonisan, sedangkan cabai melambangkan keberanian dan semangat hidup. Penggunaan kreweng menunjukkan nilai kesederhanaan dan kerendahan hati masyarakat Jawa. Penelitian ini memperlihatkan bahwa tradisi rujakan tidak hanya berfungsi sebagai ritual adat, tetapi juga sebagai media transmisi nilai budaya dan pelestarian identitas lokal di tengah arus modernisasi.
TRADISI DAN KEARIFAN LOKAL SEBAGAI IDENTITAS BUDAYA MASYARAKAT KOTABARU Muhammad Yohanies; Normasunah
SEMIORA: Jurnal Bahasa, Semiotika, dan Budaya Vol 1 No 1 (2026): SEMIORA: Jurnal Bahasa, Semiotika, dan Budaya
Publisher : LPPM STKIP Paris Barantai Kotabaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan tradisi dan kearifan lokal sebagai identitas budaya masyarakat di Kotabaru. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan perspektif antropologi budaya dan komunikasi simbolik. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka terhadap berbagai praktik budaya masyarakat pesisir Kotabaru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi dan kearifan lokal masyarakat Kotabaru tidak hanya berfungsi sebagai warisan budaya, tetapi juga menjadi representasi identitas sosial masyarakat. Tradisi seperti Mappanre Tasi, budaya gotong royong, kesenian tradisional, tradisi lisan, dan penggunaan bahasa daerah mengandung nilai simbolik, religius, sosial, dan ekologis. Tradisi tersebut berfungsi sebagai media pewarisan nilai budaya, solidaritas sosial, serta hubungan harmonis antara manusia dan alam. Keragaman budaya masyarakat Kotabaru yang terdiri atas berbagai etnis seperti Banjar, Bugis, Mandar, Jawa, dan Dayak juga membentuk karakter budaya multikultural yang khas. Di tengah arus modernisasi dan globalisasi, budaya lokal menghadapi berbagai tantangan berupa menurunnya minat generasi muda, perubahan pola hidup masyarakat, serta pengaruh budaya populer dan media digital. Oleh karena itu, pelestarian budaya lokal melalui pendidikan berbasis budaya, dokumentasi tradisi, penguatan peran tokoh adat, serta pemanfaatan media digital menjadi langkah strategis dalam mempertahankan identitas budaya masyarakat Kotabaru.
SELAMATAN LEUT BAJAU SAMMAH: RITUAL MARITIM DAN KEARIFAN BUDAYA MASYARAKAT KOTABARU Bangun Verdhana
SEMIORA: Jurnal Bahasa, Semiotika, dan Budaya Vol 1 No 1 (2026): SEMIORA: Jurnal Bahasa, Semiotika, dan Budaya
Publisher : LPPM STKIP Paris Barantai Kotabaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan sejarah, pelaksanaan, makna simbolik, nilai budaya, dan proses pewarisan tradisi Selamatan Leut Bajau Sammah pada masyarakat Bajau Sammah di Desa Rampa, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dokumentasi, dan studi pustaka. Informan penelitian terdiri atas sandro, tokoh adat, tokoh agama, nelayan, perempuan yang terlibat dalam persiapan ritual, serta generasi muda masyarakat Bajau Sammah. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña yang meliputi kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Selamatan Leut Bajau Sammah merupakan ritual maritim yang berakar pada tradisi mamuja dan mengalami proses akulturasi dengan ajaran Islam. Ritual ini dilaksanakan melalui tahapan persiapan, pelaksanaan, dan pascapelaksanaan yang melibatkan partisipasi kolektif masyarakat. Berbagai simbol ritual seperti anceak, kelengkeang, ketan tujuh warna, dan replika rumah mengandung makna religius, sosial, dan ekologis. Tradisi ini juga merepresentasikan nilai pengetahuan lokal, gotong royong, solidaritas sosial, serta kesadaran ekologis masyarakat terhadap laut sebagai sumber kehidupan. Pewarisan budaya dilakukan melalui keluarga, komunitas, dan keterlibatan generasi muda dalam setiap tahapan ritual. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan kajian antropologi budaya, etnografi komunikasi, dan warisan budaya takbenda, sekaligus memperkaya pemahaman mengenai hubungan antara ritual maritim, identitas budaya, dan kearifan ekologis masyarakat Bajau Sammah.
IDENTITAS BUDAYA MASYARAKAT BAJAU DI RAMPA CENGAL:KAJIAN TRADISI MARITIM DAN KEARIFAN LOKAL Yanti
SEMIORA: Jurnal Bahasa, Semiotika, dan Budaya Vol 1 No 1 (2026): SEMIORA: Jurnal Bahasa, Semiotika, dan Budaya
Publisher : LPPM STKIP Paris Barantai Kotabaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis identitas budaya masyarakat Bajau di Rampa Cengal, Kabupaten Kotabaru, melalui kajian tradisi maritim dan kearifan lokal yang masih dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi yang melibatkan tokoh adat, tokoh agama, nelayan, perempuan, pemuda, dan masyarakat Bajau. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas budaya masyarakat Bajau dibangun melalui hubungan yang erat dengan laut sebagai ruang kehidupan, sumber ekonomi, dan simbol budaya. Tradisi Selamatan Leut Bajau Sammah berfungsi sebagai sarana reproduksi budaya yang memperkuat solidaritas sosial dan pewarisan nilai budaya antargenerasi. Bahasa Bajau tetap dipertahankan sebagai penanda identitas etnik meskipun menghadapi pengaruh globalisasi dan dominasi bahasa Indonesia. Selain itu, masyarakat Bajau memiliki kearifan lokal maritim berupa pengetahuan tradisional mengenai cuaca, arah angin, arus laut, dan musim penangkapan ikan yang diwariskan secara turun-temurun. Modernisasi tidak menghilangkan identitas budaya masyarakat Bajau, tetapi mendorong terjadinya adaptasi budaya melalui proses negosiasi antara tradisi dan modernitas. Penelitian ini menegaskan bahwa keberlanjutan identitas budaya masyarakat Bajau di Rampa Cengal ditopang oleh tradisi maritim, bahasa, kearifan lokal, dan nilai-nilai kolektif yang diwariskan dalam kehidupan komunitas.
KEARIFAN LOKAL DAN KETAHANAN BUDAYA MASYARAKAT ENDE–LIO DI FLORES DALAM MENGHADAPI MODERNISASI Rosa Delima Lete
SEMIORA: Jurnal Bahasa, Semiotika, dan Budaya Vol 1 No 1 (2026): SEMIORA: Jurnal Bahasa, Semiotika, dan Budaya
Publisher : LPPM STKIP Paris Barantai Kotabaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji kearifan lokal dan ketahanan budaya masyarakat Ende–Lio di Flores dalam menghadapi modernisasi dan globalisasi. Masyarakat Ende–Lio memiliki sistem budaya yang kuat yang tercermin dalam kelembagaan adat, bahasa daerah, tradisi lisan, tenun ikat, serta hubungan spiritual dengan alam. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk-bentuk kearifan lokal yang masih bertahan dan menganalisis perannya dalam memperkuat ketahanan budaya masyarakat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka (library research). Data diperoleh dari buku, artikel ilmiah, laporan penelitian, dokumen budaya, dan kajian etnografi yang relevan. Analisis data dilakukan secara interpretatif melalui reduksi data, kategorisasi, interpretasi, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem adat nua mbada, kepemimpinan mosalaki, penggunaan bahasa daerah, tradisi tenun ikat, serta penghormatan terhadap alam dan leluhur masih menjadi fondasi utama identitas budaya masyarakat Ende–Lio. Meskipun modernisasi membawa perubahan sosial, ekonomi, dan komunikasi, masyarakat tetap mampu mempertahankan nilai-nilai budaya melalui adaptasi, pendidikan budaya, pengembangan pariwisata budaya, dan pemanfaatan teknologi digital. Kearifan lokal terbukti menjadi modal budaya yang memperkuat ketahanan budaya masyarakat dalam menghadapi perubahan zaman.
TRADISI LISAN SEBAGAI PEWARISAN BUDAYA MASYARAKAT BUGIS DI DESA RAMPA CENGAL Siti Syarifah
SEMIORA: Jurnal Bahasa, Semiotika, dan Budaya Vol 1 No 1 (2026): SEMIORA: Jurnal Bahasa, Semiotika, dan Budaya
Publisher : LPPM STKIP Paris Barantai Kotabaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk tradisi lisan yang berkembang dalam masyarakat Bugis di Desa Rampa Cengal, Kabupaten Kotabaru, serta menganalisis perannya dalam proses pewarisan budaya antargenerasi. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka (library research). Data diperoleh dari berbagai sumber ilmiah berupa buku, artikel jurnal, laporan penelitian, dokumen budaya, dan kajian etnografi yang relevan dengan tradisi lisan dan budaya masyarakat Bugis. Data dianalisis secara interpretatif melalui tahapan reduksi data, kategorisasi, interpretasi, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi lisan masyarakat Bugis Rampa Cengal masih bertahan dalam bentuk pappaseng, petuah orang tua, ungkapan adat, cerita rakyat, dan berbagai bentuk komunikasi budaya yang mengandung nilai siri’ na pacce. Tradisi lisan berfungsi sebagai media pendidikan budaya, pembentukan karakter, penguatan solidaritas sosial, pelestarian memori kolektif, dan pemeliharaan identitas budaya masyarakat. Meskipun modernisasi dan perkembangan teknologi digital memengaruhi pola komunikasi generasi muda, tradisi lisan tetap mampu bertahan melalui adaptasi budaya yang dilakukan masyarakat. Penelitian ini berkontribusi dalam memperkaya kajian tradisi lisan, antropologi budaya, dan pelestarian budaya lokal, khususnya terkait peran tradisi lisan sebagai mekanisme pewarisan budaya masyarakat Bugis pesisir.
MITOS TANAH KUBURAN DALAM KEPERCAYAAN MASYARAKAT DI DESA TERANGKEH Sapardi
SEMIORA: Jurnal Bahasa, Semiotika, dan Budaya Vol 1 No 1 (2026): SEMIORA: Jurnal Bahasa, Semiotika, dan Budaya
Publisher : LPPM STKIP Paris Barantai Kotabaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan makna mitos tanah kuburan serta menganalisis pengaruh kepercayaan masyarakat terhadap mitos tersebut dalam kehidupan sosial masyarakat Desa Terangkeh, Kecamatan Pulau Laut Barat, Kabupaten Kotabaru. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan melibatkan lima informan yang dipilih secara purposive berdasarkan pengetahuan dan pengalaman mereka mengenai mitos tanah kuburan. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mitos tanah kuburan masih bertahan sebagai bagian dari sistem kepercayaan masyarakat meskipun tingkat penerimaannya mengalami perubahan seiring perkembangan zaman. Bentuk mitos yang ditemukan meliputi kepercayaan terhadap kekuatan gaib tanah kuburan, pemaknaan kuburan sebagai ruang sakral, pengalaman subjektif yang dikaitkan dengan area pemakaman, serta keyakinan mengenai penggunaan tanah kuburan untuk tujuan tertentu. Kepercayaan tersebut berpengaruh terhadap perilaku masyarakat, seperti munculnya sikap lebih berhati-hati, rasa sugesti terhadap peristiwa tertentu, penghormatan terhadap tradisi leluhur, serta penyesuaian pemaknaan mitos dengan nilai-nilai agama. Penelitian ini berkontribusi dalam memperkaya kajian budaya lokal, khususnya mengenai sistem kepercayaan masyarakat Kalimantan Selatan, sekaligus menjadi upaya dokumentasi dan pelestarian warisan budaya takbenda yang masih hidup dalam kehidupan masyarakat.
IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN KODING BERBASIS SCRATCH DAN KECERDASAN ARTIFISIAL UNTUK MENINGKATKAN LITERASI DIGITAL SISWA KELAS V SDN TERANGKIH Fikriansyah; Yusriani Amanda
SEMIORA: Jurnal Bahasa, Semiotika, dan Budaya Vol 1 No 1 (2026): SEMIORA: Jurnal Bahasa, Semiotika, dan Budaya
Publisher : LPPM STKIP Paris Barantai Kotabaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas implementasi pembelajaran koding berbasis Scratch dan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) dalam meningkatkan literasi digital siswa kelas V SDN Terangkih Kabupaten Kotabaru. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode pre-eksperimental melalui desain one group pretest-posttest. Subjek penelitian berjumlah 32 siswa kelas V yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui tes, observasi, dan angket respons siswa. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan perhitungan Normalized Gain (N-Gain). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai literasi digital siswa meningkat dari 57,38 pada pretest menjadi 87,75 pada posttest dengan peningkatan sebesar 30,37 poin. Hasil perhitungan N-Gain sebesar 0,71 berada pada kategori tinggi yang menunjukkan bahwa pembelajaran koding berbasis Scratch dan kecerdasan artifisial efektif dalam meningkatkan literasi digital siswa. Hasil observasi menunjukkan tingkat aktivitas siswa mencapai 87,50% dengan kategori sangat baik, sedangkan respons positif siswa terhadap pembelajaran mencapai 94,38%. Temuan penelitian menunjukkan bahwa integrasi pembelajaran koding, kecerdasan artifisial, dan literasi digital mampu meningkatkan pemahaman teknologi, kemampuan berpikir komputasional, kreativitas, serta pemanfaatan teknologi secara bertanggung jawab. Oleh karena itu, pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial layak diimplementasikan sebagai bagian dari penguatan kompetensi digital siswa sekolah dasar.
MAKNA SIMBOLIK BUNGA EDELWEIS SEBAGAI IKON WISATA  ALAM DI KAWASAN BROMO Fiqrian Akbar
SEMIORA: Jurnal Bahasa, Semiotika, dan Budaya Vol 1 No 1 (2026): SEMIORA: Jurnal Bahasa, Semiotika, dan Budaya
Publisher : LPPM STKIP Paris Barantai Kotabaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna simbolik bunga edelweis (Anaphalis javanica) sebagai ikon wisata alam di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) melalui perspektif semiotika. Secara khusus, penelitian ini mengidentifikasi makna ekologis, kultural, dan wisata yang melekat pada edelweis serta menjelaskan proses pembentukannya sebagai simbol yang merepresentasikan identitas destinasi Bromo. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi langsung di kawasan savana Bromo, wawancara tidak terstruktur dengan wisatawan dan pelaku usaha wisata, studi dokumentasi, serta telaah pustaka yang relevan. Analisis data dilakukan menggunakan perspektif semiotika untuk mengungkap hubungan antara tanda, makna, dan konteks sosial budaya yang melatarbelakanginya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara ekologis edelweis dimaknai sebagai simbol ketahanan hidup dan kemampuan beradaptasi pada lingkungan ekstrem. Secara kultural, edelweis berfungsi sebagai simbol kesucian, keabadian, dan penghubung spiritual masyarakat Tengger dengan leluhur melalui ritual Kasada. Dalam konteks wisata, edelweis merepresentasikan cinta abadi, kemurnian, dan eksklusivitas yang memperkuat citra Bromo sebagai destinasi wisata alam. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya pengelolaan wisata berbasis konservasi dan budaya lokal melalui program interpretasi wisata yang edukatif, sehingga pelestarian edelweis dapat berjalan seiring dengan pengembangan pariwisata berkelanjutan.

Page 1 of 2 | Total Record : 17