cover
Contact Name
Agustina Engry
Contact Email
agustina-engry@ukwms.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalexperientia@ukwms.ac.id
Editorial Address
Jl. Raya Kalisari Selatan 1, Surabaya
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Experientia : Jurnal Psikologi Indonesia
ISSN : -     EISSN : 26859963     DOI : 10.33508/exp
Core Subject :
Experientia is an open-access, scientifically sound peer-reviewed journal that considers manuscripts from all domains of psychology and also encourages interdisciplinary studies pertaining to the human mind and behaviors. The journal welcomes quantitative and qualitative methods, and also considers non-empirical research (i.e literature reviews, metanalysis). Replication studies and negative results are welcomed.
Arjuna Subject : -
Articles 148 Documents
KECENDERUNGAN PERILAKU NARSISTIK DENGAN INTENSITAS PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL INSTAGRAM Shania Liang
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 9 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v9i1.2881

Abstract

Media sosial merupakan sekelompok aplikasi berbasis internet yang digunakan untuk berbagai tujuan seperti berkomunikasi dan berbagi informasi. Individu memiliki kebebasan dalam menggunakan media sosial sehingga menyebabkan pengguna tidak mengungkapkan diri sepenuhnya karena individu dapat membangun image yang diinginkan. Berdasarkan kebebasan penggunaan tersebut, media sosial dianggap dapat digunakan untuk mengidentifikasi kecenderungan perilaku narsistik. Kecenderungan perilaku narsistik merupakan rasa cinta yang berlebih terhadap dirinya sendiri sehingga ingin dipuja, memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan tidak memiliki empati terhadap orang di sekitarnya. Individu dengan kecenderungan perilaku narsistik seringkali menggunakan media sosial sebagai tempat untuk mencari pengakuan terhadap dirinya sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara intensitas penggunaan media sosial instagram dengan kecenderungan perilaku narsistik. Sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa Perguruan Tinggi di Surabaya yang menggunakan media sosial instagram. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 130 responden. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah NPI-16 untuk mengukur kecenderungan perilaku narsistik dan unstructured questionnaire (pertanyaan lama waktu) untuk mengukur intensitas penggunaan media sosial. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa ada hubungan positif antara intensitas penggunaan media sosial instagram dengan kecenderungan perilaku narsistik pada mahasiswa di Perguruan Tinggi di Surabaya.  
GAMBARAN SELF ESTEEM REMAJA PEREMPUAN YANG MERASA IMPERFECT AKIBAT BODY SHAMING Priscilla Angelina; Fransisca Dessi Christanti; Happy Cahaya Mulya
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 9 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v9i2.2889

Abstract

ABSTRAKSelf esteem adalah persepsi masing-masing orang mengenai bagaimana individu menilai atau menghargai dirinya, penilaian seseorang terhadap diri sendiri dapat bersifat positif atau negatif. Hal ini dipengaruhi oleh pengalaman dalam kehidupannya, salah satu yang dapat mempengaruhi self esteem adalah perilaku body shaming. Body shaming adalah fenomena bullying atau mengomentari bentuk tubuh seseorang, hal ini sedang marak atau banyak terjadi hingga saat ini. Bentuk body shaming bukan hanya gemuk ataupun kurus, tetapi juga bisa karena warna kulit, bentuk hidung, bentuk gigi ataupun bentuk tubuh yang lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui self esteem remaja perempuan yang merasa imperfect akibat body shaming. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif dengan tipe fenomenologis. Penelitian ini menggunakan teknik analisis induktif. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Informan dalam penelitian ini adalah dua remaja yang mengalami body shaming hingga membuat penilaian diri yang negatif. Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa informan yang mendapatkan perilaku body shaming memiliki self esteem atau penilaian diri yang negatif. Informan juga mengalami berbagai dampak negatif akibat self esteem yang negatif. 
GAMBARAN GRIT PADA MAHASISWA YANG MEMILIKI ONLINE SHOP Albertus Suhardinata Dharmawan
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 10 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v10i1.2895

Abstract

ABSTRACT Technological advances make everything fast so, there are many changes in various sectors including the industrial sector. The process of buying and selling transactions can now be done digitally and online. This progress is used by college students to get income to meet their needs. The problem that arises when students have an online shop is how the lecture process and the business online shop run optimally? Grit is a combination of consistency with passion, namely consistency with goals that have been set for a long period of time, and perseverance which means the ability to overcome the desire to give up (Duckworth, 2016). Grit is one of the differences so that online shops and lectures can run together and optimally. Researchers conducted research to determine the description of grit in college students who have an online shop. This research used a qualitative approach with a phenomenological type. The data obtained were analyzed using themethod led theory, especially deductive analysis. The research informants were undergraduate students with a minimum GPA of 2.75 and theage was online shop over 1 year. The results of the study found that the grit of the two informants was the same as the existing theory. There are 4 aspects, namely 1) interest, 2) practice, 3) purpose, and 4) hope that there are also factors that influence the growth of grit, namely 1) parenting, 2) culture and 3) experience. However, researchers found another factor, which is the situation where informants were forced to be independent because students had to migrate away from their parents. Keywords : Grit, Online Shop, Perseverence
HUBUNGAN ALEXITHYMIA DAN KECENDERUNGAN BUNUH DIRI PADA REMAJA LAKI-LAKI DI SURABAYA Michelle Aveline Kurniawan; Jaka Santosa Sudagijono
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 9 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v9i2.2904

Abstract

Masa remaja merupakan suatu masa yang diwarnai dengan konflik dan perubahan suasana hati. Konflik yang dialami oleh individu pada masa ini salah satunya adalah bunuh diri. Indonesia diprediksi menjadi negara dengan tingkat kematian tertinggi akibat bunuh diri di Asia Tenggara dan individu laki-laki memiliki kecenderungan yang lebih tinggi untuk bunuh diri yaitu 3x lebih banyak dibandingkan perempuan. Fenomena kecenderungan bunuh diri sendiri memiliki kaitan dengan suatu fenomena yang disebut alexithymia yang merupakan suatu keadaan dimana individu mengalami kekurangan atau kendala dalam area kognitif serta mengatur emosi, yang menyebabkan individu tidak dapat menyampaikan emosinya secara verbal maupun non-verbal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan alexithymia dan kecenderungan bunuh diri pada remaja laki-laki di Surabaya. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan incidental sampling pada remaja laki-laki yang bertempat tinggal di Surabaya dan pernah memiliki pemikiran untuk melakukan tindakan bunuh diri. Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala kecenderungan bunuh diri yang terdiri dari 3 aspek dan skala alexithymia yang terdiri dari 4 karakteristik. Hasil uji asumsi normalitas terpenuhi, sedangkan uji asumsi linearitas tidak terpenuhi. Data penelitian ini dianalisis dengan menggunakan statistik non-parametrik Kendall’s Tau B. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh hasil nilai signifikansi sebesar 0,015 (p < 0,05) dan nilai koefisien korelasi 0,315. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan alexithymia dan kecenderungan bunuh diri pada remaja laki-laki di Surabaya. Arah hubungan kedua variabel positif yang berarti semakin tinggi kecenderungan bunuh diri maka akan diikuti semakin tinggi alexithymia, begitu juga sebaliknya.Kata kunci : kecenderungan bunuh diri, alexithymia, remaja laki-laki
PERBEDAAN SUICIDE IDEATION PADA REMAJA DITINJAU DARI BIG FIVE PERSONALITY TRAITS Florencia Irena Mulyana; Fransisca Dessi Christanti; Happy Cahaya Mulya
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 9 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v9i1.2905

Abstract

Suicide ideation adalah kecenderungan berpikir untuk merusak atau mematikan diri sendiri yang dilakukan secara sengaja. Suicide ideation dapat terjadi pada remaja karena salah satu faktor seseorang mengalami suicide ideation adalah karakteristik kepribadian. Tipe kepribadian yang digunakan dalam penelitian ini adalah big five personality traits. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan suicide ideation pada remaja ditinjau dari big five personality traits. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif dengan teknik pengambilan data accidental sampling. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan skala big five inventory (BFI) dan skala suicide ideation yang disusun oleh peneliti. Subjek dalam penelitian ini sebanyak 250 remaja di Surabaya dengan rentang usia 13-21 tahun. Data pada penelitian ini diolah dengan menggunakan teknik statistik non-parametrik Kruskall Wallis karena tidak memenuhi uji asumsi. Hasil pada penelitian ini mengatakan bahwa ada perbedaan yang signifikan pada suicide ideation pada remaja ditinjau dari big five personality traits karena diperoleh nilai sig sebesar 0,000 (Sig. <0,05). Kepribadian big five yang terdiri dari openness, conscientiousness, extraversion, agreeableness, dan neuroticism yang dominan pada remaja akan memberikan pengaruh terhadap cara tingkah lakunya terhadap kecenderungan berpikir untuk merusak atau mematikan diri sendiri yang dilakukan secara sengaja. Oleh karena itu, ada perbedaan ide bunuh diri pada remaja dikarenakan kepribadiannya dengan kepribadian openness memiliki nilai mean rank sebesar 131,58, kepribadian conscientiousness memiliki nilai mean rank sebesar 97,58, kepribadian extraversion memiliki mean rank sebesar 97,48, kepribadian agreeableness memiliki mean rank sebesar 86,91, dan kepribadian neuroticism memiliki mean rank sebesar 153,41. Kata kunci: Suicide Ideation; Big Five Personality Traits; Remaja.
GAMBARAN WORK-LIFE BALANCE PADA MOMPRENEUR Brigitta Prasartika; Andhika Alexander Repi
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 9 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v9i2.2910

Abstract

Nowadays married women who do not work nine-to-five and choose to become housewives can be productive by generating high-achieving and income-generating works, one of which is by opening a business at home. Housewives who open businesses at home are commonly referred to as mompreneurs. However, being a mompreneur is not easy. A mompreneur needs to strive for a balance between her work life and also her personal life to maintain the sustainability of her business and her family. This study aims to observe how the work-life balance of the mompreneur is depicted, where work-life balance is an individual effort to balance work life and personal life. This research was conducted using qualitative phenomenological methods that applied the theory-led thematic analysis technique. The informants of this study are mompreneurs, who have been managing a business in the house which is operated online or offline with the business age is <2 years, and have or are currently nurturing a child <18 years old. Informants were selected using purposive and snowball techniques. The results of this study illustrate that the two informants show that there are three aspects of work-life balance, namely time balance, involvement balance, and satisfaction balance. Additionally, this study also found a new aspect of work-life balance, namely emotional balance, and the factors that affect the work-life balance of the two informants are the characteristics of the informant's trait or attitude, continuous learning, social support, and work overload.
DINAMIKA GRATITUDE PADA IBU YANG MEMILIKI ANAK DOWN SYNDROME Pipit Meidy Teguh; Eli Prasetyo
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 9 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v9i1.2913

Abstract

Down syndrome adalah sebuah kelainan kromosom 21 menyebabkan anak dengan memiliki kekurangan dalam aspek kognitif. Ketika seorang ibu dihadapkan dengan lahirnya anak down syndrome pasti akan memberikan dampak pada kehidupan ibu. Adanya keterbatasan yang dialami oleh anak down syndrome, pengasuhan yang diberikan kepada anak down syndrome dengan anak normal akan berbeda. Dalam hal ini, gratitude penting untuk tumbuh dalam kehidupan orangtua atau ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Adanya gratitude ini penting, sebagai protective factor agar individu menjadi pribadi yang resilien dalam melampaui kondisi yang penuh. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Informan dalam penelitian ini adalah tiga ibu yang memiliki anak down syndrome usia remaja. Peneliti memperoleh informan dengan menggunakan metode purposive sampling. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data inductive thematic analysis. Hasil penelitian dalam penelitian ini menunjukkan bahwa titik di mana informan merasakan gratitude adalah ketika terjadi proses internal dalam diri informan yang disertai oleh nilai-nilai spiritualitas, lalu informan membandingkan kondisinya dengan kondisi orang lain yang lebih di bawahnya dan adanya dukungan sosial dari keluarga dan lingkungannya. Dengan adanya gratitude, ketiga informan dapat memunculkan rasa empati, memaknai kehadiran anak, dan juga mendukung perkembangan anak. 
PERBEDAAN SELF-DISCLOSURE DITINJAU DARI TIPE KEPRIBADIAN EXTROVERT & INTROVERT PADA REMAJA PENGGUNA MEDIA SOSIAL INSTAGRAM DI SURABAYA Faustina Xaviera; Eli Prasetyo; Happy Cahaya Mulya
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 9 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v9i1.2932

Abstract

Manusia sebagai makhluk sosial memiliki dorongan untuk berkomunikasi satu sama lain. Salah satu bentuk komunikasi adalah self-disclosure. Self-disclosure adalah bentuk pengungkapan diri yang dapat terjadi secara tatap muka atau online. Penelitian ini berfokus pada self-disclosure yang dilakukan secara online yaitu melalui media sosial Instagram karena adanya tiga fitur yang mendukung kemampuan kontrol individu dalam situasi komunikasi online seperti anonimitas, asynchronicity, dan aksesibilitas. Self-disclosure merupakan kemampuan yang penting untuk dimiliki dalam berkomunikasi terutama pada masa remaja karena salah satu tugas perkembangan remaja adalah mengembangkan ketrampilan komunikasi dan belajar bergaul dengan orang lain. Salah satu faktor yang mempengaruhi self-disclosure adalah tipe kepribadian. Individu yang suka bersosialisasi dan dengan tipe kepribadian extrovert lebih melakukan self-disclosure daripada mereka yang kurang suka bersosialisasi dan dengan tipe kepribadian introvert.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan self-disclosure ditinjau dari tipe kepribadian extrovert & introvert pada remaja pengguna sosial media Instagram di Surabaya. Subjek penelitian ini adalah remaja dengan rentang usia 18-21 tahun yang berdomisili di Surabaya (N=152). Teknik pengambilan data dilakukan dengan teknik incidental sampling. Self-disclosure diukur dengan skala self-disclosure dan tipe kepribadian diukur dengan Eysenck Personality Inventory (EPI-A). Teknik analisis data yang digunakan adalah uji beda Mann-Whitney U. Hasil analisis menunjukkan nilai sig sebesar 0,482 (p>0,05), artinya tidak ada perbedaan self-disclosure ditinjau dari tipe kepribadian extrovert & introvert pada remaja pengguna media sosial Instagram di Surabaya. Berdasarkan nilai mean, self-disclosure pada tipe kepribadian extrovert sebesar 78,49 dan self-disclosure pada tipe kepribadian introvert sebesar 73,36.
HUBUNGAN RELIGIOSITAS DENGAN KECERDASAN EMOSI PADA DOKTER MUDA YANG SEDANG MENJALANI PENDIDIKAN PROFESI DOKTER DI SURABAYA Fransiska Dwi Kristiani; Dicky Susilo
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 9 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v9i1.2940

Abstract

Kecerdasan Emosi merupakan salah satu aspek psikologis yang berperan penting dalam kehidupan seseorang. Kecerdasan emosi dapat menunjang kinerja seseorang baik dalam pekerjaan, pendidikan maupun dalam berinteraksi dengan orang lain. Peran kecerdasan emosi dalam menunjang kinerja seseorang dirasakan oleh dokter muda yang sedang menjalani pendidikan profesi dokter. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan religiositas dengan kecerdasan emosi pada dokter muda yang sedang mejalani pendidikan profesi dokter di Surabaya. Penelitian ini dilakukan pada dokter muda yang sedang menjalani pendidikan profesi dokter di beberapa rumah sakit di Surabaya (N = 95). Penarikan sample dilakukan dengan teknik non-random sampling (convenience sampling & snowball sampling). Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan skala Religiositas dan skala Kecerdasan Emosi dimana masing-masing skala terdiri dari 5 aspek. Data dianalisis dengan teknik statistika non-parametrik yaitu Kendall’s Tau B. Hasil pengolahan data mendapatkan nilai r sebesar 0,277 yang memiliki nilai p 0,000 (p < 0,05) yang berarti ada hubungan positif antara religiositas dengan kecerdasan emosi pada dokter muda yang sedang menjalani pendidikan profesi dokter di Surabaya, sehingga apabila religiositas tinggi maka kecerdasan emosi seseorang juga tinggi begitupun sebaliknya. Selain itu religiositas berkontribusi sebesar 7% terhadap kecerdasan emosi, maka 93% lainnya dipengaruhi oleh variabel lain. 
HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN WELLBEING PADA REMAJA AKHIR DI SURABAYA Christianto Tedjasuksmana
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v10i2.2946

Abstract

ABSTRAKKetika memasuki usia remaja, individu memerlukan kondisi wellbeing yang baik agar dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya, serta berkarya secara produktif dan efektif. Wellbeing memiliki 2 pendekatan, yaitu pendekatan hedonic atau subjective wellbeing dan pendekatan eudaemonic atau psychological wellbeing. Dalam mencapai hal tersebut, maka dibutuhkannya konsep diri untuk membantu individu memahami dirinya melalui kondisi fisik, sosial, serta aspek-aspek personal seperti kepribadian, sikap, dan perilaku. Dengan mencapai identitas yang utuh, individu dapat memiliki fungsi psikologis dan sosial yang baik, serta mengurangi masalah pada perilakunya. Dengan kata lain, pencapaian identitas melalui konsep diri yang positif mengarah pada kondisi wellbeing yang baik. Penelitian ini melibatkan 72 orang remaja yang berusia 18-21 tahun di Surabaya. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik accidental sampling. Peneliti menggunakan skala Pemberton Happiness Index untuk mengukur wellbeing dan skala Personal Self-concept Questionnaire untuk mengukur konsep diri. Data penelitian dianalisis dengan menggunakan teknik korelasi non-parametrik Kendall’s tau-b. Hasil penelitian menunjukkan korelasi positif yang signifikan antara variabel konsep diri dengan wellbeing, r = 0,456 dan p = 0,000 (p < 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa semakin baik konsep diri remaja, maka semakin baik pula wellbeing­ remaja. Demikian pula sebaliknya, konsep diri yang kurang diikuti oleh menurunnya wellbeing. 

Page 8 of 15 | Total Record : 148