cover
Contact Name
Chairunnisa
Contact Email
jurnalkemenhub@gmail.com
Phone
+6281213236151
Journal Mail Official
jurnalkemenhub@gmail.com
Editorial Address
Jl. Medan Merdeka Timur No. 5, Gambir, Jakarta 10110
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Warta Ardhia: Jurnal Transportasi
ISSN : 02159066     EISSN : 25284045     DOI : https://doi.org/10.25104/wa
Core Subject : Engineering,
Jurnal Warta Ardhia adalah jurnal yang mewadahi publikasi ilmiah peer-reviewed serta sumber informasi yang kredibel dari hasil penelitian, ide, dan gagasan dengan cakupan nasional dan global. Publikasi tersebut ditujukan untuk memperluas pemanfaatan pengetahuan serta memperkuat kemampuan stakeholder terkait dalam mengenali dan memecahkan berbagai persoalan di sektor transportasi. Jurnal ini diterbitkan oleh Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, yang sebelumnya diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Transportasi Udara dengan Nomor Akreditasi 72/E/KPT/2024. Jurnal ini mempublikasikan artikel hasil penelitian dan kajian ilmiah di bidang transportasi udara, yang mencakup kebijakan, sarana, prasarana, rute, tarif, evaluasi kebijakan, serta perkembangan teknologi. Seluruh artikel ditelaah oleh minimal dua orang reviewer. Warta Ardhia diterbitkan secara berkala dua kali dalam setahun, yaitu pada bulan Juni dan Desember.
Articles 281 Documents
Dampak Masuknya Low-cost Carrier Terhadap Pergerakan Penumpang Internasional pada Bandar Udara Internasional di Asia Putut Purwandono; Yuichiro Yoshida; Keisuke Kawata
Warta Ardhia Vol. 42 No. 2 (2016)
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, Kementerian Perhubungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/wa.v42i2.236.57-62

Abstract

Tujuan utama penelitian ini adalah mempelajari dampak dari masuknya maskapai berbiaya murah (LCC) terhadap perubahan pergerakan penumpang internasional di 30 bandar udara internasional di wilayah Asia Timur dan Asia Tenggara. Hasil estimasi menggunakan model fixed-effect yang kami peroleh menunjukkan bukti kuat bahwa masuknya LCC menyebabkan naiknya jumlah penumpang internasional secara signifikan. Namun demikian, dampak ini akan menurun ketika jarak antara bandar udara asal dan tujuan semakin jauh dan maskapai non-LCC melayani rute yang sama. Penambahan jumlah LCC yang terus menerus akan memberikan tingkat kenaikan yang semakin menurun. Hasil studi kami mampu menyimpulkan dampak dari masuknya LCC pada rute internasional dan dapat menjelaskan pada kondisi apa masuknya LCC mampu menghasilkan dampak positif yang signifikan. [Impact of Low-cost Carrier Entry on International Air Passenger Movements at International Airports in Asia] This paper primarily studies the impact of low-cost carrier (LCC) entry on the change of international passenger movement at 30 international airports in Northeast and Southeast Asia. Our fixed-effect estimation found enough evidence to claim that LCC entry at international route causes number of passenger to increase significantly. Nevertheless, the positive impact of LCC entry diminishes as distance between origin and final destination airport gets longer and full service carrier (FSC) service exists. Moreover, additional LCC companies brings about lower increase rate in number of international passengers. Our findings justify the positive impact of having LCC entry for international route and explain the condition under which LCC entry gives positive and significant result.
Penerapan Skema Badan Layanan Umum Dalam Pengelolaan Keuangan Bandar Udara Internasional Jawa Barat Zulaichah Zulaichah
Warta Ardhia Vol. 42 No. 3 (2016)
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, Kementerian Perhubungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/wa.v42i3.245.149-164

Abstract

Bandara Internasional Jawa barat (BIJB) merupakan salah satu bandar udara di provinsi Jawa Barat. Bandara ini dibangun dalam rangka mendorong pengembangan wilayah pembangunan Ciayumajakuning (Cirebon-Indramayu-Majalengka-Kuningan). Presiden Republik Indonesia menerbitkan kebijakan pengalihan pembangunan dan pengoperasian BIJB dari Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat ke Kementerian Perhubungan (pemerintah pusat). Kajian ini bertujuan untuk mengetahui apakah skema Badan Layanan Umum (BLU) dapat diterapkan pada pengelolaan keuangan Bandar Udara Internasional Jawa Barat. Metode yang digunakan dalam pengkajian adalah analisis deskriptif kualitatif. Ditinjau dari persyaratan pengusulan BLU, BIJB telah memenuhi persyaratan substantif namun persyaratan teknis dan administratif belum terpenuhi. Jika persyaratan substantif dan teknis telah terpenuhi maka BIJB dapat diusulkan menjadi satuan kerja yang menerapkan PPK BLU bertahap. Aset BIJB masih terdiri dari 2 kepemilikan dimana lahan dan fasilitas sisi darat (terminal penumpang) merupakan aset milik Pemerintah Daerah Jawa Barat sedangkan fasilitas sisi udara (runway, apron, taxiway) merupakan aset milik Kementerian Perhubungan. Pengalihan kepemilikan aset dari Pemerintah Daerah Jawa Barat ke Kementerian Perhubungan harus diselesaikan sebelum BIJB diusulkan menjadi satuan kerja pemerintah yang menerapkan pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum (PPK BLU) [The Application of Badan Layanan Umum Scheme in The Financial Management of Jawa Barat International Airport] Jawa Barat International Airport (JBIA) is one of the airports in the West Java Province. This airport was built to boost the growth of Ciayumajakuning region (Cirebon, Indramayu, Majalengka and Kuningan). The President of Indonesia issued a policy that JBIA construction and operation transferred from the West Java Provincial Government to The Ministry of Transportation (as the Central Government). This research aims to determine whether the scheme of Badan Layanan Umum (BLU) can be applied in the financial management of JBIA. The method which is used in this research is qualitative descriptive analysis. Based on this research, JBIA has met the substantive requirement, but not yet in the technical and administrative requirements. If JBIA can fulfill the substantive and technical requirements, then JBIA can be proposed as government agency that applies BLU financial management gradually. JBIA assets are belong to two owners where the landside facilities (terminal building) are owned by the West Java Provincial Government while the airside facilities (runway, apron and taxiway) are owned by the Ministry Of Transportation. The transfer of the assets from the West Java Provincial Government to The Ministry of Transportation needs to be done before JBIA is proposed as government agency with BLU financial management.
Desain Konseptual Speech Recognition di Komunikasi Pesawat untuk Mengurangi Kesalahan Komunikasi Penerbangan Nur Oktaviani Widiastuti
Warta Ardhia Vol. 42 No. 3 (2016)
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, Kementerian Perhubungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/wa.v42i3.244.109-116

Abstract

Penyebab utama kecelakaan penerbangan adalah human error (55%) dengan salah satu penyebab adalah miskomunikasi. Miskomunikasi menjadi penyebab kasus kecelakaan terbesar di dunia seperti kecelakaan antara Pan Am dan KLM, Garuda dengan nomor penerbangan 152, dan kecelakaan yang baru-baru ini terjadi antara Batik Air dan Transnusa. Selain itu, KNKT pernah mengalami kebingungan saat menginvestigasi cockpit recorder Air Asia QZ8501. Saat miskomunikasi terjadi, instruksi sering kali sulit dipahami dan diperlukan pengulangan komunikasi, yang mempersempit waktu pengambilan tindakan. Penelitian ini ingin mengembangkan konsep speech recognition dengan sistem voice sign and text untuk prosedur pengecekan komunikasi kru penerbangan. Metode dalam penelitian ini adalah kajian pustaka dan perancangan sistem. Hasil dari penelitian ini adalah penambahan prosedur komunikasi dengan sign dan teks yang diperoleh dengan bantuan speech recognition. Pesan teks berasal dari ucapan yang diterjemahkan oleh speech recognition menjadi teks, kemudian teks akan diubah menjadi sign. Lalu sign dan teks akan ditampilkan dan dilihat langsung oleh pilot. Dengan penambahan sistem sign dan teks disamping komunikasi melalui suara diharapkan kesalahan dapat diminimalisir, pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan cepat, dan kecelakaan dapat dihindari. [Speech Recognition Conceptual Design in Aircraft Communications to Reduce Flight Communication Mistake] The main cause of aviation accidents is the human error (55%) in which one of its factor is the miscommunication. Miscommunication involved in the most accidents in the world including Pan Am and KLM accident, Garuda flight 152 (the biggest accident in Indonesia), and that was recently occurred between Batik Air and Transnusa Airline. Moreover, NTSC was confused when investigating the Air Asia QZ8501 cockpit recorder. When miscommunication occurs, the repetition of communication is prominently required due to the difficulty in understanding the instruction, which later narrowed the time to take any action. This study is intended to develop the concept of speech recognition with voice sign and text system for flight crew communication checking procedure. The methodology that is used in this research is the combining of literature review and system design. The results of this study is the addition of communication procedure by means of sign and text that obtained from speech recognition process. The text is produced from the translation of voice by speech recognition and converted into sign afterwards. Both of sign and text will be displayed, thus can be seen by the pilot. In addition to communication by voice, the implementation of sign and text is expected in minimalizing the error, supporting faster decision making, and avoiding the accident.
Faktor Penyebab Kelelahan dan Stres Kerja Terhadap Personel Air Traffic Controller (ATC) di Bandar Udara “X” Susanti Susanti
Warta Ardhia Vol. 42 No. 3 (2016)
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, Kementerian Perhubungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/wa.v42i3.243.139-148

Abstract

Sebagai upaya dalam meningkatkan keselamatan penerbangan khususnya di bandar udara, maka perlu dilakukan kajian tentang fatigue dan Job Stress ATC yang memegang peranan penting dalam menjaga keselamatan khususnya penanganan terhadap pesawat. Maksud kajian adalah untuk mengevaluasi bagaimana peran kelelahan dan stres kerja ATC dapat diantisipasi untuk mencegah faktor human error. Tujuan kajian ini adalah memberikan bahan masukan kepada penyelenggara jasa angkutan udara dan instansi terkait untuk mencegah fatigue dan job stress dengan melakukan upaya-upaya yang maksimal. Hasil kajian ini mengindikasikan beberapa faktor yang mempengaruhi stres kerja, yang paling besar memberikan pengaruh adalah faktor beban kerja (workload) yang memberikan kontribusi sebesar 3.24, kemudian disusul oleh hubungan kerja (human relationship) sebesar 2.53, lingkungan kerja (working environment) sebesar 2.11 dan konfilk peran (role conflict) sebesar 2.12. [Air Traffic Controllers Fatigue and Job Stress at X Airport ] In the effort to improve aviation safety, particularly at the airports, it is necessary to conduct the research concerning on the fatigue and job stress of the Air Traffic Controller (ATC) whom have an important role in maintaining aviation safety particularly in the aircrafts control and guidance. The purpose of this study is to evaluate the fatigue and job stress of the ATC so that it can be anticipated to prevent the occurrence of any human errors. The aim of this study is to provide the recommendation for aviation service operator and other related stakeholders in order to reduce the fatigue and job stress. From the conclusion, it is indicated that several factors affect the fatigue and job stress in which the most important factors (in descending order) are the workload (score 3.24), human relationship (score 2.53), the working environment (score 2.11) and role conflict (score 2.12).
Desain dan Eksperimen Uji Getaran di Tanah dari Model Separuh Sayap Pesawat N219 Sayuti Syamsuar; Leonardo Gunawan; Martina Widiramdhani; Nina Kartika
Warta Ardhia Vol. 42 No. 3 (2016)
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, Kementerian Perhubungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/wa.v42i3.242.123-138

Abstract

Fenomena flutter merupakan salah satu fenomena yang kritis dan dapat membahayakan pesawat. Ketika, pesawat terbang semakin cepat dan mencapai kecepatan flutter, maka akan terjadi ketidakstabilan struktur. Oleh sebab itu, untuk menjamin keselamatan Pilot saat uji terbang, perlu dilakukan analisis awal pada kecepatan flutter. Uji terowongan angin selalu dilakukan untuk memvalidasi hasil dari analisis numerikal. Penelitian ini meliputi analisis program NASTRAN pada model separuh sayap pesawat N219 saat uji getaran di tanah. Prediksi kecepatan flutter secara analisis hampir sama dengan hasil uji terowongan angin. Parameter modus struktur yang ditemukan, seperti frekuensi natural, modus getar dan rasio redaman, dapat digunakan untuk analisis parameter flutter sebagai metoda analisis baru. [The Design and Experiment of Ground Vibration Test of N219 Aircraft Half Wing Model] Flutter phenomena is a critical phenomenon that can be dangerous for aircraft. When an aircraft fly faster until reach flutter speed, the structure will become unstable. Therefore, it is important to conduct preliminary analysis of flutter speed to ensure the safety of Pilot. Wind tunnel test is necessary to be conducted to validate numerical analysis results. This research consist of NASTRAN software analysis of half wing model of N219 aircraft for ground vibration test. The prediction of flutter speed which is obtained from software analysis is similar with the wind tunnel test result. It is found that the modus parameter of structure like natural frequency, modus of vibration and damping ratio can be used on the parameter analysis as a new analysis method.
Kajian Desain Kelaiktabrakan Pesawat Terbang Annisa Jusuf; Afdhal Afdhal; Minda Mora
Warta Ardhia Vol. 42 No. 3 (2016)
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, Kementerian Perhubungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/wa.v42i3.241.117-122

Abstract

Lalu lintas penerbangan di Indonesia mengalami tren peningkatan dari tahun ke tahun. Peningkatan frekuensi penggunaan pesawat terbang tentunya akan meningkatkan kemungkinan kejadian kecelakaan. Konsep kelaiktabrakan pesawat terbang menjadi hal penting yang perlu mendapat perhatian untuk mencegah kerusakan struktur dan cedera pada penumpang. Desain kelaiktabrakan struktur pesawat berada pada tahapan desain awal yang terintegrasi kedalam proses desain pesawat secara keseluruhan. Struktur subfloor pada pesawat terbang menjadi bagian yang digunakan untuk menyerap energi kinetik tabrakan dalam kasus pembebanan vertikal pada pesawat terbang. Crash box merupakan komponen pada subfloor yang akan menyerap energi kinetik tabrakan dengan mengubahnya menjadi deformasi plastis. [A Review of Aircraft Crashworthiness Design] Air traffic in Indonesia is experiencing a positive trend in recent years. The increase in the frequency of aircraft operation might particularly increase the possibility of accidents occurrence. Aircraft crashworthiness concept becomes an important matter that need to be considered in order to prevent structural damage and injuries to the passengers. Aircraft structural crashworthiness design is developed in the aircraft preliminary design phase which is, later, integrated into the overall aircraft design process. Aircraft subfloor structure is the part of the aircraft that is used to restrain the kinetic energy of a collision in the case of vertical loading on the aircraft. Subsequently, crash box is a component of the subfloor that will absorb collisions kinetic energy by turning it into plastic deformation.
Evaluasi Kinerja Infrastruktur Transportasi Udara di Ibukota Provinsi Ayomi D. Rarasati; Imran H. Mohammad; Yusuf Latief
Warta Ardhia Vol. 42 No. 4 (2016)
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, Kementerian Perhubungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/wa.v42i4.248.185-194

Abstract

Adanya penurunan kualitas infrastruktur transportasi di Indonesia menjadikan penelitian mengenai perbedaan kondisi antara kebutuhan dan kemampuan sektor transportasi udara perlu untuk dilaksanakan dalam rangka peningkatan kinerja infrastruktur transportasi udara. Artikel ini menitikberatkan pada analisa jumlah dan pertumbuhan penumpang, jumlah dan pertumbuhan kargo dan juga kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah terkait infrastruktur transportasi udara. Berdasarkan analisa multi kriteria yang didapatkan dari data primer dan sekunder, penelitian yang bersifat eksploratif ini akan memberikan gambaran kondisi infrastruktur transportasi udara berdasarkan lalu lintas udara di infrastruktur bandara dan beberapa sudut pandang pemangku kepentingan seperti pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi dan praktisi. Peningkatan pertumbuhan penumpang merupakan indikator utama kinerja transportasi udara sedangkan pertumbuhan barang hanya sebagai indikator sekunder jika dinilai dari sudut pandang pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. [The Evaluation of Air Transportation Infrastructure Performance in Indonesian Capital Province] The research related to the difference between supply and demand of air transportation due to the decrease in the quality of the transportation infrastructure in Indonesia is needed in order to improve the performance of the air transportation infrastructure. This paper focuses on the analysis of the number and growth of passengers, the number and growth of cargos, and related government policies in air transportation sector. Based on multi-criteria analysis derived from primary and secondary data, this exploratory study will provide the condition of air transportation infrastructure based on the air traffic at the airport and several stakeholders perspectives such as central government, local government, academics and practitioners. The increase in passenger growth is the key indicator of air transportation performance while the cargo growth only serves as the secondary indicator if measured from the viewpoint of the central government and local government.
Perencanaan Pengembangan Runway dan Taxiway Bandar Udara Juwata – Tarakan Endang Dwi
Warta Ardhia Vol. 42 No. 4 (2016)
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, Kementerian Perhubungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/wa.v42i4.250.203-208

Abstract

Di Kalimantan Utara saat ini transportasi melalui udara memegang peranan penting sehingga diperlukan mobilitas angkutan udara yang tinggi, dimana ibukota Provinsi adalah Kota Tarakan yang didalamnya terdapat Bandar Udara Juwata yang telah ditetapkan sebagai bandar udara kelas 1 khusus. Disamping menjadi bandar udara internasional, Bandar Udara Juwata juga berfungsi sebagai pusat penyebaran dan merupakan bandar udara perbatasan yang mempunyai tugas pokok melaksanakan penyelenggara pelayanan kepada masyarakat pengguna jasa penerbangan dan penyedia penunjang angkutan udara. Bandar Udara Juwata mempunyai program pengembangan runway/landasan pacu dan taxiway/landas hubung dalam merencanakan pesawat yang dibutuhkan yaitu Airbus A-330 dimasa yang akan datang. Melalui metode peramalan pergerakan pesawat serta menggunakan panduan dari SKEP/77/VI/2005 dalam menghitung perencanaan perpanjangan landasan pacu serta landas hubung, disimpulkan bahwa sampai dengan tahun 2026 terdapat 24.049 pergerakan pesawat, sedangkan hasil perhitungan pengembangan landas pacu yang dibutuhkan untuk pesawat rencana A-330 adalah 3.383 meter dan jarak touchdown ke lokasi taxiway yang dibutuhkan adalah 1.394 meter. Untuk pengembangan tersebut akan dilaksanakan melalui tahapan sesuai program. [Runway Development Planning and Taxiways Airport Juwata- Tarakan] Air transportation in North Borneo region nowadays plays an important role where the mobility by air transportation is getting higher and the provincial capital city, Tarakan, has the Juwata Airport which is classified as the Class 1 Distinguish Airport. Besides it is designated as international airport, the Juwata Airport also act as the distribution center and country border airport in which its main task is serving the air transportation users and operators. The Juwata Airport is planning the development of runway and taxiway so that it can serve the Airbus A-330 aircraft in the near future. Using the guideline in SKEP/77/VI/2005 and applying the method of aircraft movement forecast to calculate the planned runway and taxiway extension, it is found that until 2026 there will be 24.049 aircraft movement while the calculation results give the runway length that is needed so that the airport can serve the targeted aircraft, Airbus A-330, is 3.383 meter and the distance between touchdown point to taxiway is 1.394 meter. The development process will be done in phases according to the appropriate program.
Perwujudan/Implementasi Konsep Interaksi Aerotropolis Berbasis Tata Ruang di Indonesia Jermanto Setia Kurniawan
Warta Ardhia Vol. 42 No. 4 (2016)
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, Kementerian Perhubungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/wa.v42i4.249.195-202

Abstract

Banyak kegiatan usaha atau jasa komersial di sekitar kawasan bandar udara menjadi dasar terbentuknya konsep/model kota bandara (airport city) yang merupakan embrio terbentuknya konsep aerotropolis. Konsep ini berkembang secara organik dan dimulai dari bandar udara itu sendiri, dimana bandar udara tak hanya sebatas sebagai pendukung kegiatan penerbangan. Lebih dari itu, ada berbagai jenis kegiatan bisnis lainnya, sehingga bandar udara dan wilayah sekitarnya merupakan kawasan komersial yang terintegrasi. Prinsip perencanaan aerotropolis meliputi struktur ruang wilayah, jarak, zonasi, tata guna lahan, peruntukan utama fungsi kawasan, penyediaan kawasan bisnis, integrasi, dan konektivitas. Dalam perencanaan aerotropolis diperlukan upaya koordinasi dengan para pihak untuk pengembangan terhadap tata guna lahan di sekitar bandar udara. Pendekatan konsep yang ditawarkan sebagai implementasi pengembangan aerotropolis adalah menyelaraskan konsep Aerotropolis ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Daerah; mengusulkan regulasi pendukung dari Pemerintah Daerah ke Pemerintah Pusat dalam bentuk Peraturan Presiden mengenai Pengembangan Kawasan Aerotropolis sebagai payung hukumnya; membentuk Badan Hukum Pengelola Kawasan Aerotropolis dalam rangka pelayanan satu pintu manajemen bersama-sama dengan para pemangku kepentingan. [Implementation of Aerotropolis Interaction Concept Based Spatial in Indonesia] Many business activities or commercial services that are involved around the airport serve as the basis of the concept/model of airport city formation which is later become the embryo of the aerotropolis concept. This concept evolved organically and is started from the airport itself, where the airport is not only limited as a proponent of aviation activity. Moreover, there are various kinds of other business activities, so that the airport and the surrounding area constitute as an integrated commercial area. The principle of an aerotropolis planning includes the spatial structure, distance, zoning, land-use, area function main designation, providing business district, integration, and connectivity. The aerotropolis planning requires the coordination efforts from all stakeholders for the development of the land-use around the airport. The approach concepts that are offered as the implementation of aerotropolis development are aligning the concept of aerotropolis into the regional Spatial Plan and Detailed Spatial Plan; proposing the supporting regulations from Local Governments to Central Government in the form of Presidential Regulation as the legal aspect in regard to the development of aerotropolis region; forming the legal entity for managing aerotropolis area in order to serve the users and form the joint management together with the stakeholders.
Modal Share Dalam Demand Forecasting di Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati Majalengka Eny Yuliawati
Warta Ardhia Vol. 42 No. 4 (2016)
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, Kementerian Perhubungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/wa.v42i4.247.173-184

Abstract

Provinsi Jawa Barat, dengan wilayah daratan seluas 3.709.528,44 Ha dan jumlah penduduk sebanyak 35,72 juta jiwa, memiliki potensi sumber daya alam maupun sumber daya manusia yang sangat maju. Potensi tersebut tentu membutuhkan dukungan infrastruktur transportasi, salah satunya adalah dengan keberadaan bandara yang memadai. Saat ini keberadaan Bandara Husein Sastranegara semakin padat, sehingga mendorong Pemerintah Daerah untuk menginisiasi pembangunan bandara baru di Kertajati Majalengka. Penelitian ini bermaksud mengembangkan model demand forecasting berdasarkan modal share dalam rangka mendukung akselerasi pembangunan Bandara di Kertajati Jawa Barat. Analisa prediksi permintaan penumpang ini didasarkan pada modal share data Origin-Destination di 9 wilayah kabupaten/kota yang diasumsikan berada dalam cakupan pelayanan Bandara Kertajati dengan mempertimbangkan pengaruh variabel ekternal berupa variabel sosioekonomi pada masing-masing wilayah prediksi. Selain itu pendekatan teknik stated preference juga digunakan untuk mengetahui preferensi penumpang angkutan udara di Bandara Husein Sastra Negara dengan adanya Bandara Baru di Kertajati. Teknik stated preference tersebut mempertimbangkan atribut-atribut seperti travel time, travel cost dan aksesibilitas. Hasil penelitian model demand forecasting penumpang angkutan udara berdasarkan pendekatan model share dan teknik stated preference diharapkan dapat digunakan untuk menganalisa prediksi potensi penumpang angkutan udara di bandara baru sehingga dapat mendukung akselerasi pembangunan BIJB di Kertajati Majalengka Jawa Barat. [Demand Forecasting of Modal Share of Bandara Internasional Jawa Barat (BJIB) in Kertajati Majalengka] The province of West Java, with 3,709,528.44 hectares area and 35.72 million population, has the great potential for natural resources and human resources. These potentials would require the support of transport infrastructure, one of which is the existence of a proper airport infrastructure. Currently the airport of Husein Sastranegara Bandung is getting more congested, thus encouraging of the local governments to initiate the development of the new airport in Kertajati Majalengka. The purpose of this study is to develop the demand forecasting model based on the modal share in order to support the acceleration of the new airport development in Kertajati in the West Java. The analysis of passenger demand forecasting is based on the modal share with review of Origin-Destination Data in 9 regions that are assumed covered by the new airport in Kertajati and also considering the influence of external variables such as socioeconomic variables in each region. The stated preference technique is used for analysis with the purpose to find the preferences of air passengers in Husein Sastranegara Airport if there is a new airport in Kertajati. The stated preference technique considering the attributes of travel time, travel cost and accessibility. The research result is expected to be used in analyzing the forecasting of the air transportation potential passenger in the new airport so that it can support the development acceleration of BJIB in Kertajati Majalengka.