cover
Contact Name
Muhammad Syachrofi
Contact Email
m.syachrofi@uinjambi.ac.id
Phone
+6285399456993
Journal Mail Official
at-tibyan.fusa@uinjambi.ac.id
Editorial Address
Jl. Jambi-Ma. Bulian KM. 16 Simpang Sungai Duren, Jambi Luar Kota, Muaro Jambi, Jambi, Indonesia, 363636
Location
Kota jambi,
Jambi
INDONESIA
At-Tibyan: Journal of Qur’an and Hadis Studies
ISSN : 26145774     EISSN : 26147068     DOI : https://doi.org/10.30631/2vj8tq33
Core Subject :
The journal has a particular focus on Qur’anic and Hadith sciences, exegesis and commentary, as well as the intellectual traditions of interpretation throughout history. It also accommodates research on the living practices of the Qur’an and Hadith within Muslim communities, alongside interdisciplinary and digital approaches—including manuscript studies, education, socio-cultural perspectives, and the integration of technology in Qur’an and Hadith studies.
Arjuna Subject : -
Articles 72 Documents
KONSEP TOLERANSI DALAM AL-QUR’AN (KAJIAN TAFSIR TEMATIK) Rika Nurcahyani Hasibuan
At-Tibyan Vol 3 No 2 (2020): AT-TIBYAN: Journal of Qur’an and Hadis Studies
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/w91r0y60

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keresahan penulis dengan maraknya konflik yang terjadi dengan mengatas namakan agama. Sebagai contoh konflik intoleransi seperti Bom bunuh diri di salah satu Gereja di Makassar, kemudian pelarangan perayaan natal di Padang Sumatera Barat dan masih banyak kasus lainnya. Dari latar belakang di atas, maka riset ini akan menelaah bagaimana konsep toleransi di dalam al-Qur’an. Penelitian ini bersifat library research dengan pendekatan kualitatif kemudian mengumpulkan data yang berkaitan dengan menggunakan metode maudhu’i. Sumber data primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah al-Qur’an kemudian dilengkapi dengan data sekunder yang meliputi buku, artikel, jurnal, yang relevan dengan tema riset yang dibahas. Riset ini menemukan kesimpulan dari kandungan ayat-ayat diatas bahwa dalam hubungan sosial dengan masyarakat luas sikap toleransi ini harus dikembangkan. Namun dalam hal keyakinan akan sebuah agama tertentu toleransi tetap harus pada batasan-batasannya. Pandangan al-Qur’an mengenai toleransi beragama sangatlah rasional dan praktis serta tidak berbelit-belit. Toleransi di dalam Islam diarahkan pada hubungan sosial kemasyarakatan, sehingga bagian akidah tidak termasuk dalam ranah ini.
MENABUNG DALAM AL-QUR’AN: TAFSIR ANALISIS TERHADAP QS. YUSUF AYAT 47-49 Jum'atul Hani
At-Tibyan Vol 3 No 2 (2020): AT-TIBYAN: Journal of Qur’an and Hadis Studies
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/a8xj6804

Abstract

Menabung merupakan kegiatan untuk mempersiapkan biaya masa depan sehingga segala kebutuhan hidup tetap stabil dan teratur. Persiapan mental sebelum menabung adalah berhemat, tanpa ini sangat sulit untuk diselamatkan. Artikel ini akan membahas mengenai pentingnya menabung serta keuntungannya yang tentunya telah dicontohkan dalam Al-Qur’an. dengan demikian, diharapkan akan menumbuhkan kesadaran untuk menabung sebagai persiapan masa depan serta mengamalkan ayat-ayat Al-Qur’an. Penelitian ini akan menggunakan metode kualitatif dalam yang bersifat deskriptif analitis. Dengan pendekatan linguistik penelitian ini menggunakan banyak sumber di antaranya adalah Al-Qur’an, skripsi, jurnal dan kitab tafsir yang bercorak kebahasaan, sehingga penelitian ini dapat disebut juga dengan penelitian kepustakaan. Dalam melakukan analisis data, penelitian ini menggunakan metode tafsir tahlili atau analisis isi yakni metode penelitian simbolik terhadap pesan-pesan teks Al-Qur’an. adapun langkah-langkah dalam menganalisis data pada penelitian ini antara lain, Menjelaskan kandungan ayat dari berbagai seginya, mencakup pengertian kosa kata ayat., Menjelaskan tentang munasabah (keterkaitan) antar ayat, dan langkah terakhir menjelaskan makna dan yang ada pada Ayat berdasarkan ayat-ayat lain, hadis Nabi SAW, pendapat Sahabat dan Tabi’in, serta ulama-ulama terdahulu dan kemudian dianalisis dan diterapkan di zaman sekarang. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa beberapa ayat tentang menabung terdapat pada QS. Yusuf  Ayat 47-49 diceritakan bahwa Nabi Yusuf As. menakwilkan mimpi sang Raja agar memerintahkan masyarakat Mesir terus menerus bercocok tanam, selama tujuh tahun berturut-turut dengan sungguh. Maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di bulirnya, kemudian setelah masa paceklik itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan dengan cukup dan pada masa itu mereka akan hidup sejahtera. Jika dianalisis dari makna ayat tersebut maka dapat diartikan bahwa Allah Swt. memerintahkan pada manusia untuk menyimpan sebagian harta yang dimiliki seperti dengan menabung agar bisa mempersiapkan kehidupan dimasa yang akan datang. Bila dikaitkan dengan jenis tabungan modern, jenis tabungan yang terdapat pada QS. Yusuf  Ayat 47-49 adalah jenis tabungan darurat.
AIR HUJAN DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN (STUDI KOMPARATIF TAFSIR IBNU KATSIR DAN TAFSIR M QURAISH SHIHAB) M Ilyah Habibullah
At-Tibyan Vol 3 No 2 (2020): AT-TIBYAN: Journal of Qur’an and Hadis Studies
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/jg2qn880

Abstract

Tulisan ini mengkaji tentang penafsiran air hujan dalam dua perbandingan tafsir yakni Ibnu Katsir dan al-Misbah. Kedua tafsir ini dipilih untuk melihat perbandingan bagaimana air hujan dipahami dalam konteks dua corak penafsiran yang berbeda. Pendekatan pada penelitian yang peneliti gunakan yaitu penelitian kepustakaaan (Library Research). Untuk menganalisis kajian tersebut tulisan ini menggunakan pendekatan tafsir muqaran atau perbandingan. Metode muqarran digunakan pada pembahasan ayat-ayat Al-Qur’an yang memiliki kesamaan redaksi namun berbicara tentang topik yang berbeda atau sebaliknya. Hasil penelitian menjelaskan bahwa kedua tafsir sepakat bahwa air hujan dipandang sebagai rahmat atau anugerah, karena dianggap bermanfaat oleh seluruh makhluk yang ada di muka bumi, hujan dianggap dianggap azab dikarenakan Allah menahan turunnya air hujan selama beberapa waktu, lalu Allah juga menurunkan hujan bersamaan dengan turunnya petir yang dahsyat dan angin kencang yang dapat merusak bumi. Air hujan bermakna sebagai fenomena alam disebabkan turunnya sebagai suatu proses turunnya air dari langit ke bumi. Menariknya ada perbedaan dari keduanya bahwa Ibnu Katsir menjelaskan dimulai dari mengumpulkan ayat yang berkaitan dengan hujan, disertakan dengan hadis tentang hujan, mengutip ijtihad para sahabat Nabi, dan juga mengutip pendapat para tabiin tentang hujan itu sendiri. Sedangkan M. Quraish Shihab mengawali dengan menerangkan dari pendekatan bahasa, lalu ia menjelaskan secara berurutan ayat-ayat berhubungan dengan fungsi hujan sebagai berkah, hujan sebagai musibah, serta hujan sebagai fenomena alam.
PEMAHAMAN TERHADAP QS. AL-ISRA’ [17]: 79 SEBAGAI AYAT MOTIVASI TAHAJUD (STUDI LIVING QUR’AN) Wita Astuti
At-Tibyan Vol 4 No 1 (2021): AT-TIBYAN: Journal of Qur’an and Hadis Studies
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/vczm3g82

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mengeksplorasi pemahaman dan praktik umat Islam terhadap Q.S. Al-Isra’ [17]: 79 sebagai bentuk motivasi spiritual dalam melaksanakan salat tahajud. Pesan yang disampaikan ayat tersebut adalah apabila ada yang menegakkan salat tahajud dan istikamah melaksanakannya, maka Allah akan mengangkat derajatnya kepada tingkat yang lebih tinggi dan terpuji serta mengabulkan doa-doa yang dipanjatkan kepada-Nya di sepertiga malam. Pokok masalah dalam penelitian ini adalah, “Bagaimana pemahaman Q.S. Al-Isra’ [17]: 79 sebagai ayat motivasi tahajud?” Rumusan masalah dalam tulisan ini adalah: (1) bagaimana penafsiran Q.S. Al-Isra’: 79 menurut ulama?; (2) bagaimana pemahaman masyarakat terhadap Q.S. Al-Isra’: 79?; (3) bagaimana pelaksanaan motivasi tahajud oleh masyarakat Muslim? Tulisan ini termasuk penelitian lapangan. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode kualitatif. Pendekatan yang digunakan dalam tulisan ini adalah pendekatan living qur’an. Pendekatan tersebut diharapkan dapat mengungkap bagaimana ayat tersebut hidup dalam praktik keagamaan umat dan menjadi sumber inspirasi dalam kehidupan spiritual sehari-hari. Teknik pengumpulan data dari tulisan ini antara lain observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil dari tulisan ini menemukan bahwa Q.S. Al-Isra’ [17]: 79 tidak hanya dipahami secara tekstual, tetapi juga dihidupkan dalam bentuk ritual, narasi motivatif, dan praktik moral oleh masyarakat Muslim.
STUDI LIVING QUR’AN MENGENAI SEDEKAH DARI JENAZAH Nafsya Khoirin
At-Tibyan Vol 4 No 1 (2021): AT-TIBYAN: Journal of Qur’an and Hadis Studies
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/q68kze90

Abstract

Kegiatan sedekah dari jenazah pada Masyarakat Desa Mersip yang telah ada sejak Tahun 1950. Bentuk usaha yang dilakukan dalam pengaplikasian budaya Islam, khususnya kebiasaan pada masyarakat Desa Mersip yang telah mengalami pergeseran semenjak kedatangan Islam. Penelitian ini termasuk dalam kategori penelitian lapangan kualitatif (field research). Dalam kajian Living Qur’an, pendekatan yang digunakan penulis dalam penelitian ini yakni fenomenologi, pendekatan ini dianggap relevan dalam kajian Living Qur’an, dikarenakan yang menjadi objek pembahasan dalam penelitian ini berhubungan erat dengan realita sosial yaitu tentang fenomena sosial yang terdapat didalam kehidupan masyarakat di Desa Mersip Kecamatan Limun Kabupaten Sarolangun yang bersedekah mengatasnamakan dari jenazah. Hasil dari penelitian ini adalah menjelaskan landasan kegiatan sedekah dari Jenazah di Desa Mersip Kecamatan Limun Kabupaten Sarolangun, dikarenakan bahwa terdapat di dalam kitab Haqiqatul Ta’mil menjelaskan apabila ada orang yang meninggal maka, banyak-banyaklah kita bersedekah dengan niat untuk menghadiahkan jenazah tersebut. Bapak M. Arsal memberikan pandangannya terhadap sedekah dari jenazah adalah suatu kegiatan yang mengandung amal ibadah dan mengumpulkan masyarakat untuk saling bersilaturahmi, pada intinya kegiatan ini adalah bersifat positif.
PENGAMALAN SURAT AL-KAHFI DI PONDOK PESANTREN TAHFIZH SATU QUR’AN SUNGAI DUREN JAMBI Rahmat Abrozi
At-Tibyan Vol 4 No 1 (2021): AT-TIBYAN: Journal of Qur’an and Hadis Studies
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/1h4vx131

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengamalan surah Al-Kahfi di Pondok Pesantren satu Qur’an Sungai Duren Jambi, yang masih dilakukan oleh santri dan santriwati tersebut sejak tahun 2015 hingga saat ini. Surah Al-Kahfi yang dibaca oleh santri dan santriwati Pondok Pesantren Satu Qur’an serta tentang bagaimana pemahaman santi dan santriwati terhadap Pengamalan surah Al-Kahfi. Metode dalam penelitian ini adalah metode living Qur’an, yaitu sebuah metode yang digunakan untuk melihat dan memotret fenomena yang ada di masyarakat berupa bagaimana tata cara masyarakat menghidupkan Al-Qur’an. Data dalam penelitian ini dikumpulkan menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis kualitatif. Hasil dari penelitian ini ditemukan bahwa; pertama, pengamalan pembacaan surat Al-Kahfi di Pondok Pesantren Tahfizh Satu Qur'an didasari atas keyakinan para guru dan santri terhadap hadits-hadits yang menjelaskan tentang keutamaan membaca surat Al-Kahfi. Kedua, praktik pengamalan pembacaan surat Al-Kahfi di Pondok Pesantren Tahfizh Satu Qur'an dilakukan secara Bin-Nadzri atau dengan membuka Al-Qur’an, dan ada juga yang dengan cara Bil-Ghaib atau dengan tanpa melihat Al-Qur’an. Ketiga, Kegiatan pembacaan surat Al-Kahfi di Pondok Pesantren Tahfizh Satu Qur’an, bagi para guru dimaknai sebagai pembentukan karakter santri yang berakhlakul karimah, dikarenakan adanya nilai-nilai moral atau nilai pendidikan karakter yang terkandung di dalam surat Al-Kahfi.
PRAKTIK RUKIAH SYAR’IYYAH DI PESANTREN NUR AL-AMIN: SEBUAH KAJIAN LIVING QUR’AN Sriyan Kumala Niarti
At-Tibyan Vol 4 No 1 (2021): AT-TIBYAN: Journal of Qur’an and Hadis Studies
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/fcyp2f22

Abstract

Artikel ini bertujuan menelisik rukiah syar’iyyah di pondok pesantren Nur Al-Amin Kabupaten Batang Hari dari aspek landasan rukiah syar’iyyah, pemahaman pelakunya dan dampak yang dihasilkannya. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan para guru dan santri pondok pesantren, serta observasi dan dokumentasi data tersebut dianalisa dengan pendekatan Living Qur’an yang berparadigma fenomenologi untuk memahami makna dari rukiah tersebut. Bahwa rukiah syar’iyyah di Pondok pesantren Nur Al-Amin Kabupaten Batang Hari adalah sebuah Living Qur’an kemasyarakatan yang didasari oleh surah Al-Baqarah ayat 122, surah Al-Baqarah ayat 255 dan Surah At-Taubah ayat 14-15. Pembahasan penelitian ini fokusnya terkait dengan pemahaman santriwan-santriwati tentang rukiah syar’iyyah menggunakan ayat Al- Qur‟an dengan proses secara mandiri, Ditemukan juga bahwa rukiah syar’iyyah ini di pahami pelakunya sebagai benteng diri untuk melindungi santriwan-santriwati dari kejahatan makhluk gaib, rukiah syar’iyyah ini dapat diakui memberi dampak positif bagi para pelakunya.
LIVING QUR’AN MENGENAI IMPLEMENTASI TAFSIR HALALAN THAYYIBAN DI RUMAH MAKAN SAMBAL LALAP KOTA JAMBI Rumiyati Rumiyati
At-Tibyan Vol 4 No 1 (2021): AT-TIBYAN: Journal of Qur’an and Hadis Studies
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/nt2e5996

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena perkembangan bisnis sekarang telah berkembang sangat pesat. Pelaku bisnis dituntut untuk memiliki kepekaan terhadap setiap perubahan yang terjadi dan menempatkan orientasi kepada kepuasan konsumen. Tidak terkecuali usaha dalam penyajian makanan dan minuman yang mulai dari skala kecil hingga skala besar. Rumah Makan Sambal Lalap Kota Jambi merupakan salah satu rumah makan yang menggunakan slogan halalan thayyiban, artinya makanan yang disajikan berasal dari bahan-bahan yang halal dan diproses dengan memperhatikan hukum-hukum dalam ajaran agama Islam. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui apa saja yang dijadikan sebagai inspirasi serta penafsiran yang menjelaskan tentang halalan thayyiban, implementasi (penerapan) tafsir halalan thayyiban yang diterapkan di Rumah Makan Sambal Lalap Kota Jambi, serta dampak terhadap adanya slogan halalan thayyiban. Penelitian ini merupakan Penelitian lapangan dalam teknis deskriptif kualitatif eksploratif, metode yang digunakan adalah metode Living Qur’an, yang berupaya melakukan peninjauan di lapangan terhadap pemahaman masyarakat tentang halalan thayyiban, pendekatan Penelitian ini adalah pendekatan fenomenologi yang berdasarkan oleh fenomena sosial yang terjadi di tengah masyarakat, kajian ini lebih menekankan pada aspek respon masyarakat pada Al-Qur’an disebut dengan Living-Qur’an. Kemudian penulis menggunakan pengumpulan data dengan tiga cara yakni observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil dari Penelitian ini mengungkapkan bahwa penerapan tafsir halalan thayyiban yang diterapkan oleh Rumah Makan Sambal Lalap Kota Jambi memang benar-benar berdasarkan dari Al-Qur’an, yaitu pada QS Al-Baqarah:168, QS Al-Baqarah:172-173, QS Al-Maidah:5, QS Al-Maidah:88, QS Al-A’raf:157. Penerapan makanan yang halal pada Rumah Makan Sambal Lalap Kota Jambi ditinjau dari segi zatnya, cara memperolehnya, cara pengolahannya, cara penyimpanannya, cara penyajiannya, dan cara pendistribusiannya. Penerapan thayyib ditinjau dari makanan yang baik dan sehat, proposional, serta bersih dan aman. Dampak dar slogan halalan thayyiban pada Rumah Makan Sambal Lalap Kota Jambi dapat membawa keberkahan, keuntungan yang banyak, pahala, serta dapat meyakinkan dan menarik minat konsumen bahwa Rumah Makan Sambal Lalap mampu menciptakan makanan yang halal dan baik untuk kesehatan.
FENOMENA SPIRIT DOLL DALAM PANDANGAN QS. LUQMAN [31]: 13 DENGAN PENDEKATAN MA’NA-CUM-MAGHZA Yesi Fera
At-Tibyan Vol 4 No 2 (2021): AT-TIBYAN: Journal of Qur’an and Hadis Studies
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/qvbvr456

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang fenomena boneka ruh dikalangan masyarakat yang percaya bahwa boneka tersebut berisi arwah dan diperlakukan sebagaimana layaknya manusia. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji pandangan ulama terhadap fenomena Spirit Doll di Indonesia serta menganalisis fenomena tersebut melalui pendekatan penafsiran Ma’na Cum Maghza terhadap Al-Qur’an surah Luqman ayat 13. Kajian ini menggunakan pendekatan library research dengan menggunakan teknik analisis komparatif, yaitu mencoba mendeskripsikan konstruksi tafsir, kemudian di analisis secara kritis, serta mencari sisi persamaan dan perbedaan antara kedua tafsir tersebut. Sedangkan dalam analisis data, metode yang digunakan dalam menganalisis permasalahan ini adalah metode Ma’na Cum Magza. Hasil penelitian menunjukan bahwa orang yang merawat boneka ruh sudah termasuk penyimpangan dan termasuk dalam perbuatan syirik. Selain itu, fenomena spirit doll di Indonesia ini sebagai penguji keimanan manusia. Namun demikian, fenomena spirit doll menjadi bukti bahwa Al-qur’an sebagai jawaban dari setiap problematika kehidupan manusia. Kitab suci ini merupakan pedoman dan rujukan bagi umat muslim. Perkembangan serta perubahan sosial, Al-qur’an tetap menjadi  pegangan ilmu yang terus berkembang dalam upaya mengkaji khazanah keilmuan.
SIGNIFIKANSI AYAT HUKUM QISAS QS. AL-BAQARAH AYAT 178 DENGAN PENDEKATAN MA’NA-CUM-MAGHZA Shela Aulia
At-Tibyan Vol 4 No 2 (2021): AT-TIBYAN: Journal of Qur’an and Hadis Studies
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/6dezkf70

Abstract

Dewasa ini, terdapat kesenjangan antara idealitas ajaran al-Qur’an dan realitas sosial kontemporer. Salah satu ayat hukum yang menunjukkan jarak antara teks dan konteksnya adalah ayat tentang qisas. Hal ini mendapat respons dari berbagai pemikir kontemporer dalam upaya memahami al-Qur’an secara lebih kontekstual. Salah satu pendekatan yang mampu mengakomodasi pandangan-pandangan sebelumnya adalah pendekatan Ma’na-cum-Maghza, yang memiliki dua langkah utama dalam penerapannya. Pertama, analisis terhadap Ma’na al-Tarikhi dan Maghza al-Tarikhi, yaitu penelaahan makna dan pesan ayat berdasarkan signifikansi fenomenal historis. Langkah ini mencakup analisis intertekstual, yakni mengkaji keterkaitan makna suatu ayat dengan ayat lain melalui ilmu al-munāsabah, serta membandingkannya dengan makna dari hadis, syair Arab, dan teks-teks relevan lainnya. Selain itu, analisis dilakukan terhadap konteks historis mikro, yaitu asbāb al-nuzūl, serta historis makro berupa situasi sosial, budaya, dan politik bangsa Arab pada masa turunnya ayat. Kedua, tahap Maghza al-Mutaharrik, yakni pengembangan makna dan pesan utama ayat berdasarkan signifikansi fenomenal dinamis sesuai dengan kebutuhan dan konteks kekinian (baik waktu maupun tempat). Misalnya, hukuman mati sebagai bentuk qisas telah dikenal sejak masa pra-Islam dan menjadi bagian dari budaya masyarakat Hijaz abad ke-7 M. Namun, jika dikaji secara kontekstual, prinsip utama dari ayat tentang qisas adalah keadilan. Oleh karena itu, implementasinya pada masa kini dapat berbentuk hukuman lain, seperti pidana penjara, selama tetap berlandaskan pada prinsip keadilan sebagaimana ditetapkan dalam sistem hukum yang berlaku.