cover
Contact Name
Muhammad Syachrofi
Contact Email
m.syachrofi@uinjambi.ac.id
Phone
+6285399456993
Journal Mail Official
at-tibyan.fusa@uinjambi.ac.id
Editorial Address
Jl. Jambi-Ma. Bulian KM. 16 Simpang Sungai Duren, Jambi Luar Kota, Muaro Jambi, Jambi, Indonesia, 363636
Location
Kota jambi,
Jambi
INDONESIA
At-Tibyan: Journal of Qur’an and Hadis Studies
ISSN : 26145774     EISSN : 26147068     DOI : https://doi.org/10.30631/2vj8tq33
Core Subject :
The journal has a particular focus on Qur’anic and Hadith sciences, exegesis and commentary, as well as the intellectual traditions of interpretation throughout history. It also accommodates research on the living practices of the Qur’an and Hadith within Muslim communities, alongside interdisciplinary and digital approaches—including manuscript studies, education, socio-cultural perspectives, and the integration of technology in Qur’an and Hadith studies.
Arjuna Subject : -
Articles 72 Documents
BATASAN SEKSUALITAS DALAM AL-QUR’AN DAN RELEVANSINYA TERHADAP PRAKTIK SEKSUAL KONTEMPORER: ANALISIS TAFSIR MAQĀṢIDĪ ATAS QS. AL-MU’MINŪN [23]: 5–7 Yuliani; D.I. Ansusa Putra; Nurfazillah
At-Tibyan Vol 9 No 1 (2026): AT-TIBYAN: Journal of Qur’an and Hadis Studies
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/nq6z5646

Abstract

The development of contemporary sexual practices has given rise to various forms of sexual relationships that depart from the normative boundaries traditionally recognized in Islamic teachings. This phenomenon calls for a comprehensive understanding of the Qur’anic concept of sexuality to ensure that its underlying values remain relevant to the challenges of modern society. This study aims to analyze the boundaries of sexuality in the Qur’an based on Qur’an 23:5–7 and to examine their relevance to contemporary sexual practices through a maqāṣidī approach to Qur’anic exegesis. Employing a qualitative method and a library research design, this study draws primarily on the Qur’an and relevant exegetical works as its principal sources. The primary data consist of Qur’an 23:5–7 and relevant works of Qur’anic exegesis, while secondary data are derived from books, journal articles, and scholarly literature addressing sexuality in Islam, including Abdul Mustaqim’s Tafsir Maqāṣidī. The findings demonstrate that Qur’an 23:5–7 remains highly relevant to contemporary forms of sexual transgression within marriage. These verses emphasize the obligation to safeguard sexual dignity and confine sexual relations to a lawful marital bond. From the perspective of maqāṣidī exegesis, practices such as open marriage and swinging have the potential to undermine the fundamental objectives (maqāṣid) of Islamic law. Accordingly, this study underscores the importance of strengthening the understanding of Islamic sexual norms to ensure that marital relationships remain within the framework of Islamic law and that human well-being (maṣlaḥah) is preserved.
PENAFSIRAN AYAT WARISAN PERSPEKTIF GENDER (STUDI KOMPARATIF PENAFSIRAN ‘ALI AL-SHABUNI DAN MUHAMMAD SYAHRUR) Suharni Awaliyah; Ahmad Taufik; Baharudin Baharudin
At-Tibyan Vol 8 No 2 (2025): AT-TIBYAN: Journal of Qur’an and Hadis Studies
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/nyfsjq79

Abstract

Penelitian ini membahas persoalan warisan dalam syariat Islam. Para ulama fikih berpendapat bahwa warisan untuk laki-laki lebih besar dibandingkan dengan untuk perempuan. Pandangan ini dikritisi oleh para feminis seperti Aminah Wadud, Fatimah Mernisi, dan Munawir Sjadzali. Mereka berpendapat bahwa pandangan tersebut tidak adil dan bias gender. Menurut mereka, pembagian warisan seharusnya ditentukan oleh kondisi dan keadaan ahli waris serta berdasarkan prinsip kesetaraan dan bukan berdasarkan perbedaan gender. Melalui artikel ini, penulis akan mengkaji secara kritis-komparatif bagaimana para mufasir memahami dan menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an tentang warisan dalam tinjauan kesetaraan gender. Mufasir yang dipilih adalah Muhammad ‘Ali al-Shabuni dan Muhammad Syahrur. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif berbasis kepustakaan. Penelitian ini menggunakan data kualitatif dan disajikan secara deskriptif-komparatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Syahrur lebih progresif-kontekstual dalam menafsirkan ayat-ayat waris dibandingkan dengan al-Shabuni yang cenderung tekstual. Menurut al-Shabuni, warisan untuk laki-laki dua kali lebih besar daripada untuk perempuan dan ketentuan ini tidak dapat diubah dan tidak dapat dinalar oleh akal karena nash al-Qur’an yang menyatakan hal tersebut sudah jelas. Menurutnya, ayat tersebut sudah memuat nilai kesetaraan gender dalam hal tanggung jawab. Tanggung jawab seorang laki-laki lebih besar daripada perempuan, sehingga wajar jika laki-laki mendapat bagian lebih besar pula daripada perempuan. Sedangkan menurut Syahrur, perempuan berhak mendapatkan harta warisan yang setara dengan laki-laki. Melalui teori batasnya, Syahrur memandang bahwa kesetaraan gender dalam pembagian harta warisan berarti membagi harta tersebut secara merata tanpa mempertimbangkan tanggung jawab dan kondisi ahli waris.