cover
Contact Name
Muhammad Syachrofi
Contact Email
m.syachrofi@uinjambi.ac.id
Phone
+6285399456993
Journal Mail Official
at-tibyan.fusa@uinjambi.ac.id
Editorial Address
Jl. Jambi-Ma. Bulian KM. 16 Simpang Sungai Duren, Jambi Luar Kota, Muaro Jambi, Jambi, Indonesia, 363636
Location
Kota jambi,
Jambi
INDONESIA
At-Tibyan: Journal of Qur’an and Hadis Studies
ISSN : 26145774     EISSN : 26147068     DOI : https://doi.org/10.30631/2vj8tq33
Core Subject :
The journal has a particular focus on Qur’anic and Hadith sciences, exegesis and commentary, as well as the intellectual traditions of interpretation throughout history. It also accommodates research on the living practices of the Qur’an and Hadith within Muslim communities, alongside interdisciplinary and digital approaches—including manuscript studies, education, socio-cultural perspectives, and the integration of technology in Qur’an and Hadith studies.
Arjuna Subject : -
Articles 72 Documents
LOKALITAS TAFSIR AL-QUR’AN BERBAHASA SUNDA: STUDI KITAB TAFSIR AYAT SUCI LENYEPANEUN KARYA MOH. E. HASIM (1916-2009) Haniatul Agniah; Abdullah Firdaus; Ariyandi Batu Bara
At-Tibyan Vol 9 No 1 (2026): AT-TIBYAN: Journal of Qur’an and Hadis Studies
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/e5y0v187

Abstract

Artikel ini mengkaji relevansi kearifan lokal sebagai alternatif penyelesaian konflik antar-etnis melalui studi terhadap tafsir al-Qur'an berbahasa Sunda, dengan fokus pada Tafsir Ayat Suci Lenyepaneun karya Moh. E. Hasim (1916–2009). Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan dengan pendekatan deskriptif-analitik, bertumpu pada Tafsir Ayat Suci Lenyepaneun sebagai sumber primer serta didukung oleh berbagai literatur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Moh. E. Hasim mengintegrasikan nilai-nilai budaya Sunda dalam penafsiran QS. al-Ḥujurāt [49]:13 melalui penekanan pada prinsip kesetaraan, penghargaan terhadap keberagaman, dan pentingnya saling mengenal antarkelompok. Penafsiran tersebut tidak hanya merepresentasikan pemaknaan tekstual terhadap ayat, tetapi juga mengontekstualisasikan ajaran Islam dengan kearifan lokal sebagai landasan etika sosial. Dengan demikian, tafsir ini menawarkan model interpretasi yang berkontribusi dalam penguatan kohesi sosial serta menjadi alternatif konseptual untuk merespons konflik antar-etnis dan krisis kemanusiaan di tengah masyarakat multikultural. Penelitian ini menegaskan signifikansi tafsir lokal dalam membangun kehidupan yang harmonis dalam keberagaman serta membuka peluang bagi kajian komparatif terhadap tafsir al-Qur'an berbahasa daerah lainnya.
TAFSIR AL-QUR'AN DI MEDIA SOSIAL: ANALISIS PENAFSIRAN LORA ISMAIL PADA AKUN INSTAGRAM @ISMAILASCHOLY Habibah Sufriani; Zaki Mubarak; Sajida Putri
At-Tibyan Vol 9 No 1 (2026): AT-TIBYAN: Journal of Qur’an and Hadis Studies
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/hdxky133

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perkembangan tafsir al-Qur'an pada era globalisasi yang ditandai dengan transformasi media penyampaian dari tradisi lisan, tulisan, kitab tafsir, hingga media digital. Salah satu bentuk perkembangannya ialah hadirnya tafsir al-Qur'an melalui media sosial, khususnya Instagram. Penelitian ini mengkaji penafsiran al-Qur'an pada akun Instagram @ismailascholy yang secara konsisten menyajikan konten tafsir dengan gaya komunikatif dan kreatif. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis metode dan pendekatan penafsiran yang digunakan oleh Lora Ismail dalam konten tafsirnya. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis. Data primer diperoleh dari unggahan tafsir pada akun @ismailascholy, sedangkan data sekunder berasal dari berbagai literatur yang relevan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan dokumentasi. Objek penelitian difokuskan pada penafsiran Surah al-Fīl dan Ayat Kursi karena keduanya disajikan secara lebih komprehensif serta menunjukkan perbedaan dengan sejumlah kitab tafsir klasik dan modern, seperti Tafsir al-Jalālayn, Tafsir al-Miṣbāḥ, Tafsir al-Ibrīz, Tafsir al-Azhar, Fayḍ al-Raḥmān, dan Marāḥ Labīd. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial berperan dalam memperluas dinamika penyebaran tafsir al-Qur'an di ruang digital. Penafsiran Lora Ismail menggunakan metode taḥlīlī, bersumber pada tafsīr bi al-ra'y, serta menerapkan pendekatan kontekstual. Dalam menjelaskan Surah al-Fīl dan Ayat Kursi, ia memanfaatkan istilah populer, analogi, ilustrasi, dan humor sehingga lebih mudah dipahami oleh berbagai kalangan pengguna media sosial. Secara substantif, penafsirannya menekankan nilai-nilai ketauhidan, keimanan, dan kemuliaan umat Nabi Muhammad SAW. Penelitian ini juga menemukan bahwa faktor sosial turut memengaruhi konstruksi penafsiran yang dibangun oleh Lora Ismail.
MAKNA AURAT PEREMPUAN DALAM QS. AL-NŪR [24]: 31: ANALISIS MA'NĀ-CUM-MAGHZĀ Isqonabila Maghfiroh; Zaki Mubarak; Muhammad Iqbal Rahman
At-Tibyan Vol 8 No 2 (2025): AT-TIBYAN: Journal of Qur’an and Hadis Studies
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/x3a3dq22

Abstract

Nowadays, many women wear hijab, but wear tight, transparent clothes, and behave in ways that are not in accordance with the sharia. This article aims to reveal the meaning of women's awrah contained in QS. al-Nūr [24]: 31 with one of the contemporary interpretations with hermeneutic and contextual nuances, namely the ma'nā-cum-maghzā approach initiated by Sahiron Syamsuddin. Ma'nā-cum-maghzā is an approach that focuses on two things, namely the main historical meaning/message (ma'nā) and historical significance (maghzā), which is then developed into the context of the present. After following the systematic steps of the ma'nā-cum-maghzā approach and applying it to QS. al-Nūr [24]: 31, it was found that the aurat of a woman is not only visible by birth. However, behavior and politeness are also very important to maintain. Covering the awrah not only covers the body with loose and non-tight clothes, but also means covering and guarding oneself from everything that lowers one's self-esteem and eliminates shame.
HADITS MISOGINIS PERSPEKTIF GENDER DAN FEMINISME: Indonesia Ade Marhamah Muhtadin
At-Tibyan Vol 2 No 2 (2019): AT-TIBYAN: Journal of Qur’an and Hadis Studies
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/atb.v2i2.1

Abstract

Maraknya berita tentang kekerasan pada perempuan di media sosial menjadi bukti bahwa kekerasan pada perempuan tidak pernah usai. Indonesia dengan struktur sosial budaya patriarki yang masih melekat kuat pada masyarakat menghasilkan stigma perempuan sebagai makhluk nomor dua dari laki-laki, dianggap lemah dan harus menuruti apa yang menjadi keinginan laki-laki itu sendiri. Fakta-fakta yang muncul dari lingkungan masyarakat tersebut memunculkan kekhawatiran, akan terjadinya kekerasan fisik atau verbal khususnya kepada perempuan. Bahkan tidak jarang kekerasan tersebut disertai atas nama ayat-ayat suci dan hadits- hadits nabi sebagai legitimasi atas perbuatan pelaku. Padahal jika dilihat dari al-Quran itu sendiri, al-Quran mengandung ayat-ayat yang memuliakan perempuan. Jika hadits-hadits tersebut berasal dari Nabi, tentunya Nabi tidak mungkin mengajarkan kekerasan pada perempuan. Mengingat nabi digambarkan dalam al-Quran al-Karim sebagai uswatun hasanah. Tidak hanya itu, menurut sejarah (sirah nabawiyyah), Nabi juga senantiasa memuliakan dan menghormati perempuan. Tujuan tulisan ini adalah untuk menganalisis bagaimana kemunculan hadits-hadits yang menunjukkan ketidakadilan pada perempuan melalui pendekatan feminisme dan gender dengan sejarah yang mendampinginya. Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat tiga formulasi pembacaan kaum feminis terhadap hadits misogini. Pertama, ada pembawa hadits pada salah satu atau lebih level sanad yang menggunakan hadits secara politis untuk mendukung tegaknya tradisi patriarkal. Kedua, metodologi kritik hadits yang lebih berorientasi untuk mengungkap keshahihan sanad pada matan serta berpihak pada truth claim yang berakibat adanya suatu generasi tertentu yang dipandang tanpa cacat dalam meriwayatkan hadits. Ketiga, pemahaman matan hadits yang dilakukan secara doktrinal-normatif tanpa melihat proses hermeneutis yang terjadi seputar pembentukan teks (penyingkapan pesan moral teks). Implikasi dari tulisan ini adalah perlunya kesadaran para peneliti hadits dalam memahami dan menerima sebuah hadits secara kompleks, jangan hanya terfokus pada kebenaran sanad hadits, namun perlu memperjelas kesesuaian teks/matan hadits dengan konteks setiap zaman.
SEGMENTASI TERM SUNNAH DI INDONESIA Sanip Nasrullah
At-Tibyan Vol 2 No 2 (2019): AT-TIBYAN: Journal of Qur’an and Hadis Studies
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/atb.v2i2.3

Abstract

Term sunnah adalah salah satu kata yang sangat familiar di kalangan umat Islam, khususnya di Indonesia. Sunnah adalah kata yang digunakan untuk menunjukkan suatu perbuatan atau amalan yang disandarkan langsung kepada Nabi Saw. dari segi perkataan, perbuatan, dan persetujuan (taqrir). Di Indonesia pada beberapa oknum atau kalangan tertentu, term sunnah digunakan bukan untuk menunjukkan suatu amalan atau perbuatan yang disandarkan kepada Nabi sebagaimana yang telah disebutkan, akan tetapi term sunnah tersebut digunakan sebagai kata yang dilekatkan pada penamaan sebuah objek tertentu. Dengan menggunakan survey literature, artikel ini mencoba untuk mengkaji makna sunnah yang sebenarnya menurut para ulama, juga untuk meneliti beberapa objek yang menggunakan kata sunnah dalam penamaannya. Data yang didapat melalui penelusuran naskah dari berbagai sumber tentang penamaan dengan memakai kata sunnah ini akan dikaji ulang untuk kemudian dikomparasikan dengan makna sunnah yang sesungguhnya. Hasilnya, Merupakan suatu kesalahan apabila kata sunnah digunakan untuk penamaan suatu objek, sebagaimana yang terjadi di Indonesia yang jelas-jelas tidak pernah terjadi di zaman Rasulullah; baik yang secara langsung dilakukan oleh beliau, Sahabat maupun Tabi’in. Hal ini akan memunculkan asumsi bahwa suatu objek seperti para Ustadz, toko, komunitas, radio, tv, dan objek-objek lainnya yang tidak menggunakan kata sunnah dalam penamaannya akan dianggap bid’ah. Hal ini akan berdampak pada bingungnya ummat dan konsekuensinya adalah ummat akan menjauh serta akan muncul sikap meremehkan dan saling menyalahkan dan akan menimbulkan perpecahan. Jika-pun memang harus memakai kata sunnah untuk nama suatu objek, maka hal itu harus diakui hanya sebatas label saja dan bukan untuk menunjuk pada makna dari kata sunnah yang sebenarnya.
KONSEP AL-QUR’AN DALAM MEMBENTUK KESEJAHTERAAN SOSIAL MENUJU MASYARAKAT MADANI Ahmad Mustaniruddin
At-Tibyan Vol 2 No 2 (2019): AT-TIBYAN: Journal of Qur’an and Hadis Studies
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/atb.v2i2.6

Abstract

Fokus penelitian ini adalah tentang teori kesejahteraan sosial dan bagaimana konsep al-Qur’an dalam membentuk kesejahteraan sosial menuju masyarakat madani. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui; (1) Komponen kesejahteraan sosial yang terdapat dalam al-Qur’an. (2) Cara-cara al-Qur’an dalam mewujudkan kesejahteraan sosial (3) Implementasi Untuk Membentuk Kesejahteraan Sosial Menuju Masyarakat Madani. Hasil penelitian menunjukkan (1) Menurut al-Qur’an terdapat lima komponen yang harus terpenuhi dalam kehidupan agar tercipta kesejahteraan sosial, yaitu kebutuhan fisik biologis, intelektual, emosi/psikis, spiritual dan sosial. (2) Secara subtantif terdapat sejumlah ayat al-Qur’an yang menunjukkan cara-cara untuk memenuhi lima komponen kesejahteraan sosial yang dikemukakan oleh al-Qur’an sehingga terciptalah sebuah masyarakat yang sejahtera dan menjadi salah satu faktor pendukung perwujudan masyarakat madani. (3) Konsep kesejahteraan sosial menurut al-Qur’an masih belum terimplementasikan dengan sempurna di Indonesia. Masih banyak teori-teori lain seperti liberalis kapitalis, sosialis dan lain sebagainya yang lebih didahulukan penggunaannya dalam membentuk kesejahteraan sosial di Indonesia. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah konsep al-Qur’an dalam membentuk kesejahteraan sosial menuju masyarakat madani adalah dengan mengedepankan nilai-nilai ketuhanan dalam segala aktivitas kemanusiaan serta melapisi dimensi material dengan dimensi spiritual yang dibangun di atas pilar agama.
KONSEP TASHAWWUR Al-HAYAH DAN GHAYAH AL-HAYAH DALAM BEKERJA PERSPEKTIF AL-QUR’AN Zaki Mubarak
At-Tibyan Vol 2 No 2 (2019): AT-TIBYAN: Journal of Qur’an and Hadis Studies
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/atb.v2i2.7

Abstract

Tulisan ini mengkaji tentang konsep bekerja yang di era modernisasi saat ini tengah mengalami distansi dari tujuannya. Kebutuhan hidup yang semakin menghimpit dan lapangan pekerjaan yang semakin sempit membuat manusia menghalalkan segala cara dalam memperoleh harta. Sehingga konsep bekerja manusia saat ini menjadi penting untuk dikaji berlandaskan pedoman umat Islam yakni al-Qur’an. Dalam menganilisis permasalahan penulis menggunakan metode tafisr maudhu’i (tafsir tematik). Hasil dari tulisan ini memperlihatkan bahwa al-Qur’an telah memberikan pedoman bagi manusia dalam bekerja yang dapat dirangkum dalam konsep tashawwur al-hayah dan ghayah al-hayah. Dalam bingkai tashawwur al-hayah (tujuan hidup di dunia) bekerja merupakan tanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan pribadi, keluarga, dan masyarakat yang harus dimulai dengan niat, tempat, dan cara yang baik. Sedangkan dalam bingkai ghayah al-hayah (tujuan hidup manusia), bekerja merupakan realisasi dari fungsi ibadullah dari hasil bekerja yang didistribusikan kepada sail dan mahrum, baik yang bersifat ijbari maupun ikhtiyari.
KISAH ASHCHABUL KAHFI DALAM AL-QUR’AN: Analisis Terhadap Penafsiran KH. Bisyri Musthofa Dalam Kitab Tafsir Al-Ibriz Li Ma’rifah Al-Qur’an Al-Aziz Lu'luil Maknun
At-Tibyan Vol 2 No 2 (2019): AT-TIBYAN: Journal of Qur’an and Hadis Studies
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/atb.v2i2.8

Abstract

Penelitian ini di latarbelakangi oleh ketertarikan penulis terhadap keunikan penafsiran KH. Bisyri Musthofa terhadap kisah Ashchabul Kahfi dalam surat al-Kahfi ayat 9-26, dimana penafsiran beliau sangat kental dengan nuansa budaya Jawa. Pendekatan penelitian yang penulis gunakan adalah deskriptif kualitatif dengan bersifat kepustakaan (library research), dengan menggunakan metode tahlili. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa penafsiran Kyai Bisyri ini sangat kental dengan budaya Jawa, dilihat pada bentuk penulisan beliau dengan menggunakan arab pegon, dengan bahasa Jawa Ngoko. Dalam menafsirkan kisah Ashchabul Kahfi, Kyai Bisyri menyebutkan secara jelas kronologi peristiwa lengkap dengan nama-nama pemuda Ashchabul Kahfi berikut dengan karomahnya. Beliau juga mencantumkan Ashbabun Nuzul dan munasabah ayat. Kemudian, dari perbandingan dengan penafsiran mufassir lain, penafsiran KH. Bisyri Musthofa mempunyai kemiripan konten dengan Imam Al-Alusi dalam tafsirnya Ruhul Ma’ani.
KUALITAS HADIS-HADIS DALAM PENAFSIRAN SURAH AL-KAHFI: (Studi Kritik Terhadap Hadis-Hadis Tafsir al-Maraghi) Jamilah Abu Bakar
At-Tibyan Vol 2 No 1 (2019): AT-TIBYAN: Journal of Qur’an and Hadis Studies
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/atb.v2i1.9

Abstract

Selain dilatarbelakangi oleh beberapa faktor pentingnya penelitian hadis, antara lain terjadinya pemalsuan hadis sebagai sumber hukum islam kedua serta berkembangnya pemalsuan-pemalsuan hadis hingga saat ini, penelitian ini juga dilatarbelakangi oleh realitas yang memprihatinkan dan memerlukan perhatian, khususnya demi menjaga kualitas dan keaslian sebuah hadis, yaitu maraknya penggunaan hadis-hadis dalam kitab-kitab dan buku-buku di berbagai bidang keilmuan seperti kitab tafsir dan lain sebagainya, namun hanya mencantumkan penggalan-penggalan matan hadis saja, sehingga muncul keraguan terhadap kualitas dan keaslian hadis-hadis tersebut. Latar persoalan tersebut memicu penulis untuk ikut serta berperan memastikan kembali kualitas hadis-hadis Nabi dalam kitab-kitab tersebut, yang diharapkan dapat ikut serta menjaga keasliannya dan menghindarkannya dari bercampur dengan hadis-hadis palsu. Adapun kitab yang akan penulis teliti adalah kitab Tafsîr al-Marâghî karangan Ahmad Musthafâ al-Marâghî, karena didalamnya penulis temukan persoalan yang penulis ungkapkan di atas. Adapun metode yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian hadis-hadis Nabi yang meliputi: Metode takhrîj al-hadîs, i’tibâr al-sanad, al-jarh wa al-ta’dîl, dan metode penelitian matan. Hasilnya penulis menemukan bahwa bahwa didalam kitab Tafsîr al-Marâghî khususnya dalam surah al-Kahfi, terdapat hadis-hadis dhaîf yang digunakan oleh Ahmad Musthafâ al-Marâghî sebagai pendukung dalam penafsirannya. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa al-Marâghî ternyata kurang selektif dalam memilih hadis-hadis yang menjadi pendukung penafsirannya.
Konsep Al-Quran dalam Penerimaan Hidayah Tentang Perbuatan Manusia Mohd Kailani
At-Tibyan Vol 2 No 1 (2019): AT-TIBYAN: Journal of Qur’an and Hadis Studies
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/atb.v2i1.10

Abstract

Penelitian ini terfokus pada pembahasan hidayah dalam al-Qur’an mengenai hubungan antara hak mutlak Allah dan perbuatan manusia, hidayah di fahami dalam persepsi yang berbeda beda baik tentang esensi maupun cara memperolehnya. Dalam penelitian ini memfokuskan pada apakah makna hidayah menurut al-Qur’an dan apakah hidayah merupakan hak prerogatif Tuhan ataukah ikhtiar hamba-Nya. Dalam penelitian ini untuk mengetahui konsep hidayah dalam al-Qur’an. Secara Mendalam tujuan nya yaitu ingin mengetahui bagaimana hakikat hidayah dan bagaimana sikap seorang untuk mendapat hidayah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan tafsir metode maudhu’i sesuai dengan sipat pembahasannya. Penelitian ini mengungkap bahwa hidayah sebagai perangkat yang dimanfaatkan manusia untuk mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan dan juga hidayah didapatkan oleh siapapun yang berusaha dan mempersiapkan diri untuk mendapatkannya, ia tidak didapat oleh orang yang tidak mempersiapkan diri.