cover
Contact Name
Muhammad Syachrofi
Contact Email
m.syachrofi@uinjambi.ac.id
Phone
+6285399456993
Journal Mail Official
at-tibyan.fusa@uinjambi.ac.id
Editorial Address
Jl. Jambi-Ma. Bulian KM. 16 Simpang Sungai Duren, Jambi Luar Kota, Muaro Jambi, Jambi, Indonesia, 363636
Location
Kota jambi,
Jambi
INDONESIA
At-Tibyan: Journal of Qur’an and Hadis Studies
ISSN : 26145774     EISSN : 26147068     DOI : https://doi.org/10.30631/2vj8tq33
Core Subject :
The journal has a particular focus on Qur’anic and Hadith sciences, exegesis and commentary, as well as the intellectual traditions of interpretation throughout history. It also accommodates research on the living practices of the Qur’an and Hadith within Muslim communities, alongside interdisciplinary and digital approaches—including manuscript studies, education, socio-cultural perspectives, and the integration of technology in Qur’an and Hadith studies.
Arjuna Subject : -
Articles 72 Documents
PENAFSIRAN KATA HIJAB  (TABIR) PADA QS. AL-AHZAB  AYAT 53 PERSPEKTIF MA’NA CUM  MAGHZA DAN SIGNIFIKASINYA TERHADAP FENOMENA IKHTILATH Anggun Septiani; Sajida Putri
At-Tibyan Vol 7 No 2 (2024): AT-TIBYAN: Journal of Qur'an and Hadis Studies
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/ney9z068

Abstract

Fenomena ikhtilath saat ini cukup marak terjadi, sebab tidak adanya batasan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Hal ini tentu bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh agama Islam melalui Al-Qur’an dan Hadis. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk melihat gabaran ikhtilath  di Indonesia, kemudian melihat ragam penafsiran Qs. Al-Ahzab  ayat 53 yang berhubungan dengan larangan bercampur-baur antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, serta untuk melihat signifikasi Qs. Al-Ahzab  ayat 53 terhadap tindakan ikhtilath  dengan pendekatan ma’na cum maghza. Penelitian ini berjeniskan kepustakaan dengan metode kualitatif. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari pendekatan ma’na cum maghza yaitu dengan cara analisis linguistik, intratekstualitas, analisis histori baik makro maupun mikro, dan dignifikasi fenomenal historis, serta signifikasi fenomenal dinamis. Hasil temuan dalam penelitian ini menyatakan bahwa pertama, fenomena ikhtilath ini sangat marak terjadi di Indonesia. Kemudian hasil dari interpretasi terhadap Qs. Al-Ahzab  ayat 53 dengan pendekatan ma’na cum maghza maka ditemukan signifikasi fenomenal historis yaitu, perintah menggunakan Hijab pada saat bertemu dengan yang bukan mahram. Kedua, larangan memasuki rumah orang lain tanpa izin. Ketiga, larangan berlama-lama ketika bertamu tanpa adanya kepentingan khusus. Jika dilihat di masa sekarang hal ini memunculkan signifikasi fenomenal dinamis berupa perintah menjaga batasan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram untuk menghindari perilaku ikhtilath  dalam upaya minimalisasi pergaulan bebas. Salah satu bentuk ikhtilath tersebut yakni berdua-duaan ataupun berkumpulnya laki-laki dan perempuan tanpa adanya batasan, sehingga memungkinkan terjadinya perbuatan yang dilarang Allah SAW. Fenomena ikhtilath merupakan perilaku yang sangat tercela, sebagaimana tergambarkan pada Qs. Al-Ahzab ayat 53.
ETIKA SOSIAL MENURUT IBNU KATSIR DALAM TAFSIR  AL-QUR’AN AL-‘AZHIM (KAJIAN QS. AL-HUJURAT AYAT 1-13) Rulida Elfiza; Hasbullah Hasbullah; Hayatul Islami
At-Tibyan Vol 7 No 2 (2024): AT-TIBYAN: Journal of Qur'an and Hadis Studies
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/gy9rhs74

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh merosotnya akhlak mulia pada zaman sekarang. Akhlak merupakan nilai luhur yang kini mulai sulit ditemukan, disebabkan oleh minimnya pemahaman terhadap nilai-nilai akhlak dalam al-Qur’an serta kuatnya pengaruh lingkungan negatif. Banyak manusia lebih mengikuti hawa nafsu dan amarah demi mengejar kedudukan dan kekayaan, hingga melupakan tugas utamanya sebagai hamba Allah SWT. Penelitian ini merupakan studi kepustakaan (library research) dengan metode tahlili, yaitu metode penafsiran yang menjelaskan arti ayat al-Qur’an dari berbagai aspek berdasarkan urutan surah, hubungan antar ayat, asbabun nuzul, hadits-hadits terkait, serta pendapat sahabat dan ulama. Penelitian difokuskan pada penafsiran Tafsir Ibnu Katsir terhadap QS. Al-Hujurat yang membahas etika sosial. Data dikumpulkan melalui literatur-literatur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa etika sosial adalah seperangkat aturan dan norma yang mengatur perilaku individu dalam masyarakat, termasuk kebiasaan, sopan santun, serta adat istiadat. QS. Al-Hujurat memuat berbagai prinsip etika seperti larangan mendahului Allah dan Rasul-Nya, pentingnya memanggil dengan sopan, menjaga lisan, verifikasi berita dari orang fasik, serta tata krama dalam pergaulan. Selain itu, ditekankan pula larangan mencela, mengolok, memanggil dengan julukan buruk, mencari kesalahan orang lain, dan menggunjing. Keseluruhan nilai-nilai ini menunjukkan urgensi penerapan etika sosial Qur’ani dalam membangun masyarakat yang harmonis dan berakhlak mulia.
HASAD DALAM AL-QUR’AN PERSPEKTIF TAFSIR MAUDHU‘I Wan Nur Afifah; Muhammad Nurung; Muhammad Al Fikri
At-Tibyan Vol 7 No 2 (2024): AT-TIBYAN: Journal of Qur'an and Hadis Studies
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/5cjw9r68

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah disebabkan keresahan penulis apabila masyarakat masa kini yang telah mengabaikan keburukan dan larangan sifat hasad dalam kehidupan mereka. Hasad yang dimaksudkan disini adalah salah satu daripada penyakit hati yang boleh membawa dampak buruk kepada diri. Hasad atau dengki merupakan suatu perasaan yang tidak senang apabila melihat seseorang yang lain mendapatkan nikmat yang lebih daripada dirinya dan mengharapkan nikmat itu hilang daripadanya. Hasad juga termasuk dalam penyakit besar bagi hati dan penyakit hasad ini tidak dapat diobati melainkan dengan ilmu dan amal. Pendekatan penelitian yang peneliti gunakan adalah metode penelitian kepustakaan (library research) kemudian mengumpulkan data yang berkaitan dengan menggunakan langkah kerja tafsir tematik. Sumber data primer yang digunakan skripsi ini adalah Al-Qur’an dan kitab tafsir kemudian dilengkapi dengan data sekunder yang meliputi buku, artikel, jurnal yang terkait dengan judul di atas. Hasil dari penelitian ini diketahui bahwasanya hasad merupakan sifat yang dilarang oleh Allah SWT kepada setiap manusia di muka bumi ini. Maka sifat ini perlulah dihindari dengan menerapkan sifat-sifat yang sebaliknya.
INTERPRETASI FITNAH DALAM QS. AL-BAQARAH AYAT 191 (STUDI PENDEKATAN MA’NĀ CUM MAGZHĀ) Muhammad Malik Ibrahim Philar Fajar Jantan; Masiyan Masiyan; Muhammad Iqbal Rahman
At-Tibyan Vol 7 No 2 (2024): AT-TIBYAN: Journal of Qur'an and Hadis Studies
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/crdvk450

Abstract

Dalam bahasa Indonesia, kata fitnah sering dipahami sebagai tuduhan palsu yang tidak sesuai fakta. Namun dalam al-Qur’an, makna fitnah lebih luas dan kompleks. Ia dapat merujuk pada ujian, cobaan, syirik, pembunuhan, dosa, sakit, hingga kesesatan. Pemahaman yang keliru terhadap makna fitnah dalam QS. Al-Baqarah ayat 191 dapat berakibat pada tindakan yang mencederai kehormatan orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perkembangan makna fitnah di Indonesia, menelusuri ragam penafsiran terhadap QS. Al-Baqarah: 191, serta mereinterpretasikannya menggunakan pendekatan ma’na-cum-maghza yang dikembangkan oleh Sahiron Syamsuddin. Pendekatan ini menekankan pada analisis linguistik dan konteks historis ayat guna menghasilkan pemahaman yang relevan dan aplikatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna fitnah dalam ayat tersebut mencakup ujian, cobaan, syirik, dan azab, serta memiliki kedekatan makna dengan kata buhtan (kebohongan). Para mufasir klasik hingga kontemporer cenderung menafsirkan fitnah sebagai kekacauan yang lebih buruk dari pembunuhan. Reinterpretasi dengan pendekatan ma’na-cum-maghza menghasilkan tiga pesan utama: pentingnya perdamaian sebagai prinsip fundamental, perlindungan atas jiwa dan agama dalam kerangka maqāṣid al-syarī‘ah, serta etika bermuamalah yang menjunjung kesetaraan antarmanusia, baik sesama muslim maupun antarumat beragama.
IMPLIKASI QIRA’AH AL-QUR’AN TERHADAP PENAFSIRAN AYAT TAHARAH (STUDI KITAB RAWA’I AL-BAYAN KARYA ‘ALI AL-SHABUNI) ADIB AFHAN
At-Tibyan Vol 8 No 1 (2025): AT-TIBYAN: Journal of Qur’an and Hadis Studies
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/t3ftcf63

Abstract

Differences in the variants of Qur’anic recitation (qirā’āt) have significant implications for the interpretation and understanding of its verses. These variations, particularly in verses related to legal rulings such as matters of ṭahārah (ritual purity), can lead to differing perspectives among exegetes. The purpose of this study is to examine the influence of qirā’āt differences on the jurisprudential interpretive approach in Rawā’iʿ al-Bayān by ʿAli al-Ṣābūnī. This research adopts a qualitative approach with a library research method. The primary source is the Rawā’iʿ al-Bayān itself, while secondary sources include literature on the biography and thought of ʿAli al-Ṣābūnī, other works of Qur’anic exegesis, and relevant academic studies. The analysis involves identifying verses with variations in recitation, then tracing their implications for the legal reasoning presented by the exegete. The findings reveal that differences in qirā’āt influence how the exegete understands and interprets the text, including in deriving legal conclusions. ʿAli al-Ṣābūnī consistently employs the qirā’āt sabʿah (seven canonical, mass-transmitted readings) as the foundation for his interpretation, presenting the views of various juristic schools and engaging in tarjīḥ (preference) based on arguments he deems strongest. While he reports opinions from different schools of law, he does not confine himself to a single school; rather, he adopts a balanced and reasoned approach. These findings affirm that the study of qirā’āt plays a significant role in enriching exegetical analysis, particularly in jurisprudence-oriented interpretations.
INTERPRETASI Q.S. AL-ISRĀ’ [17]: 32 TENTANG ZINA ONLINE DENGAN PENDEKATAN MA’NA-CUM-MAGHZA Sukaina Asharo
At-Tibyan Vol 8 No 1 (2025): AT-TIBYAN: Journal of Qur’an and Hadis Studies
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/ar0hny07

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pola perilaku seksual. Fenomena zina kini tidak hanya terjadi secara fisik, tetapi juga bertransformasi menjadi interaksi virtual melalui media sosial dan platform daring. Kondisi ini memunculkan pertanyaan penting terkait relevansi larangan zina dalam Q.S. al-Isrā’ [17]: 32 terhadap praktik zina online. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena tersebut melalui penafsiran ayat dengan menggunakan pendekatan ma’nā-cum-maghzā, yaitu metode tafsir yang memadukan pemahaman makna literal teks dengan penelusuran pesan mendalam dan kontekstualnya. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan metode studi pustaka (library research), mengkaji literatur tafsir, fatwa, dan sumber-sumber hukum Islam yang relevan. Hasil analisis menunjukkan bahwa meskipun zina online tidak melibatkan kontak fisik, interaksi yang terjadi melalui media digital—apabila menimbulkan rangsangan seksual, memicu syahwat, atau mengarah pada hubungan yang tidak halal—termasuk dalam perilaku yang dilarang Islam. Penafsiran para ulama menegaskan bahwa larangan mendekati zina sebagaimana termaktub dalam Q.S. al-Isrā’ [17]: 32 tetap berlaku dalam konteks teknologi modern, sehingga penggunaan media digital untuk aktivitas yang mengarah pada zina wajib dihindari. Penelitian ini memberikan kontribusi pada kajian hukum Islam kontemporer dengan menegaskan relevansi prinsip-prinsip syariat dalam menghadapi tantangan moral di era digital. Selain itu, hasil penelitian dapat menjadi rujukan bagi ulama, pendidik, dan masyarakat dalam membina akhlak serta menjaga kesucian dan kehormatan diri di tengah kemajuan teknologi.
PENGELOLAAN DAN PELESTARIAN SDA: STUDI Q.S. SABA’ [34]: 15-21 PERSPEKTIF TAFSIR AL-NUR Muhammad Romadhon; Abdur Rahman Nor Afif Hamid; Aviyah Asmaul Husna
At-Tibyan Vol 8 No 1 (2025): AT-TIBYAN: Journal of Qur’an and Hadis Studies
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/jgng8b84

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji penafsiran Q.S. Saba’ [34]: 15–21 sebagaimana termaktub dalam Tafsir al-Nur karya Hasbi Ash-Shiddieqy. Penelitian ini disusun dengan menggunakan metode deskriptif-interaktif, yakni dengan memaparkan data secara deskriptif kemudian menganalisisnya secara simultan, yang pada akhirnya menghasilkan kesimpulan dari hasil kajian tersebut. Berdasarkan hasil analisis terhadap penafsiran Hasbi Ash-Shiddieqy, ayat-ayat tersebut menggambarkan kondisi Kabilah Saba’ yang pada awalnya hidup dalam kemakmuran dan keberlimpahan sumber daya alam. Mereka dianugerahi negeri yang subur, aman, dan tenteram. Namun, kemakmuran tersebut tidak diiringi dengan rasa syukur kepada Allah, baik dalam bentuk ketaatan spiritual maupun pengelolaan nikmat-Nya secara bijaksana. Kelalaian mereka dalam menjaga dan mensyukuri nikmat itu pada akhirnya mengundang azab Allah berupa banjir besar yang menghancurkan infrastruktur dan sumber daya alam mereka. Hasbi Ash-Shiddieqy, melalui penafsirannya, menekankan urgensi sikap syukur serta integrasi nilai-nilai spiritual dalam proses pembangunan bangsa. Menurutnya, pengelolaan sumber daya alam yang dilandasi oleh ketakwaan kepada Allah akan menciptakan kemaslahatan jangka panjang. Oleh karena itu, aspek pelestarian dan pemanfaatan sumber daya alam tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai etika dan spiritualitas. Dalam konteks ini, ayat-ayat tersebut memberikan pelajaran penting mengenai pentingnya mengelola nikmat Tuhan secara bertanggung jawab dan berkelanjutan sebagai wujud nyata dari rasa syukur.
EVALUASI REKONSTRUKSI ATAS Q.S. AL-NISA’ [4]: 34 (STUDI PEMIKIRAN NUR ROFIAH DALAM BUKU MEMECAH KEBISUAN) Lola Pertiwi
At-Tibyan Vol 8 No 1 (2025): AT-TIBYAN: Journal of Qur’an and Hadis Studies
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/j0xh8578

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya penafsiran Nur Rofiah mengenai kewajiban nafkah pada Q.S. al-Nisa’ [4]: 34 dalam buku “Memecah Kebisuan”, yang tidak sesuai dengan realitas implementasi nash dan hukum menurut jumhur ulama. Nur menyebutkan bahwasanya kewajiban yang berlaku selama ini, terkait laki-laki sebagai penanggung jawab nafkah, hanya bentuk hukum yang berasal dari konstruksi masyarakat. Metode penelitian yang digunakan dalam artikel ini adalah metode analisis-kritis yang dihimpun dengan telaah kepustakaan (library research), untuk mengumpulkan semua literatur terkait pembahasan yang akan diteliti. Sedangkan jenis data pada kajian ini dibagi menjadi dua jenis yakni data primer dan data sekunder. Data primer terdiri dari objek material (tafsir Q.S. al-Nisa’ [4]: 34) yang bersumber pada al-Qur’an dan buku Memecah Kebisuan karya Nur Rofiah, dan objek formalnya (teori evaluatif-rekonstruktif) diambil dari buku Rekonstruksi Metodologi Kritik Tafsir dari M. Ulinnuha.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa penafsiran Nur Rofiah terkait penafkah dalam Q.S. al-Nisa’ [4]: 34 pada buku Memecah Kebisuan, memiliki tingkat kualitas yang rendah, sebab tidak relevan dengan ketentuan dari nash, hukum alam, dan ijmak ulama.  Kajian ini mendapati  adanya beberapa elemen dalam tafsir Nur Rofiah yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip dasar penafsiran al-Qur’an yang telah disepakati oleh mayoritas ulama.
PERBANDINGAN PENAFSIRAN AYAT NIKAH BEDA AGAMA PERSPEKTIF AL-QURTUBI DAN MUHAMMAD ABDUH Af'idatun Nisa; Zaki Mubarak; Rusmanto Rusmanto
At-Tibyan Vol 8 No 1 (2025): AT-TIBYAN: Journal of Qur’an and Hadis Studies
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/qca1pk72

Abstract

Nikah beda agama merupakan polemik yang kerap muncul di masyarakat, khususnya dalam relasi pernikahan antara muslim dan non-muslim. Perbedaan pandangan ulama terkait isu ini umumnya berakar pada definisi musyrik dan ahl al-kitab. Penelitian ini berfokus pada kajian ayat-ayat al-Qur’an tentang pernikahan beda agama, yakni QS. Al-Baqarah [2]: 221 dan QS. Al-Ma'idah [5]: 5. Pendekatan yang digunakan adalah metode tafsir muqaran dengan membandingkan Tafsir al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān karya al-Qurtubi dan Tafsir al-Manār karya Muhammad Abduh. Hasil penelitian menunjukkan adanya persamaan dan perbedaan dalam penafsiran kedua mufasir tersebut. Pada QS. Al-Baqarah [2]: 221, kedua mufasir sepakat bahwa pernikahan antara laki-laki muslim dan perempuan musyrik dilarang. Namun, perbedaan terletak pada definisi musyrikāt. Al-Qurtubi memaknainya sebagai perempuan penyembah berhala dan penganut Majusi, sedangkan Muhammad Abduh membatasinya pada perempuan Arab yang tidak memiliki kitab suci, sehingga Majusi tidak termasuk kategori musyrik. Dalam penafsiran QS. Al-Ma’idah [5]: 5, keduanya juga memiliki titik temu dan perbedaan. Mereka sepakat bahwa al-muḥṣanāt merujuk pada perempuan yang menjaga kehormatan. Namun, al-Qurtubi menekankan status merdeka, sedangkan Abduh menekankan aspek moral. Perbedaan utama terletak pada hukum menikahi perempuan ahl al-kitab. Al-Qurtubi cenderung melarang karena menganggap mereka bagian dari musyrik, sementara Abduh membolehkan dengan cakupan ahl al-kitab yang lebih luas.
KONSEP SIDRAT AL-MUNTAHĀ DALAM AL-QUR’AN MENURUT MUFASIR NUSANTARA: STUDI TAFSIR TARJUMĀN AL-MUSTAFĪD, AL-NŪR, AL-AZHAR, DAN AL-MIṢBĀḤ Pajar Rizki Baroka; M. Ied Al Munir; Muh. Nurung; Munsarida
At-Tibyan Vol 9 No 1 (2026): AT-TIBYAN: Journal of Qur’an and Hadis Studies
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/p2s7q045

Abstract

The concept of Sidrat al-Muntahā constitutes one of the central themes in discussions of the Prophet Muḥammad’s Miʿrāj (Ascension), as mentioned in Qur’an 53:14–16 (Sūrat al-Najm). This concept carries profound theological significance and has been interpreted in various ways by Qur’anic exegetes, including those from the Malay-Indonesian (Nusantara) tradition. Differences in scholarly background, socio-historical context, and exegetical methodology have given rise to diverse interpretations of Sidrat al-Muntahā among Nusantara commentators. Examining these interpretive variations is essential for understanding how Nusantara exegetes have articulated the meaning of this concept within their respective works of tafsīr. This study aims to examine the concept of Sidrat al-Muntahā in the works of four prominent Nusantara exegetes: Tarjumān al-Mustafīd by ʿAbd al-Raʾūf al-Sinkilī, Tafsīr al-Nūr by Hasbi Ash-Shiddieqy, Tafsīr al-Azhar by Hamka, and Tafsīr al-Miṣbāḥ by M. Quraish Shihab. Employing a qualitative library research design, the study draws its primary data from these four tafsīr works. The data are analyzed using descriptive-analytical and comparative methods, with particular attention to the Qur’anic passages concerning Sidrat al-Muntahā, especially Qur’an 53:14–16. The findings indicate that the four Nusantara exegetes share a broadly similar understanding of Sidrat al-Muntahā as the highest boundary within the unseen realm (al-ghayb), where the knowledge of created beings reaches its limit and which marks the culmination of the Prophet Muḥammad’s Miʿrāj. Nevertheless, their interpretations differ in emphasis and symbolic elaboration. Some exegetes interpret Sidrat al-Muntahā descriptively as a tree located in the highest heaven that serves as the ultimate boundary for all created beings, whereas others advance a more philosophical and spiritual interpretation, presenting it as a symbol of the limits of human knowledge and of the highest degree of proximity attainable by creation to God.