cover
Contact Name
Jabes Pasaribu
Contact Email
jabespasaribu@institutkristenrealbatam.ac.id
Phone
+6285372472039
Journal Mail Official
kampuslppm@gmail.com
Editorial Address
Komplek House Of Glory, Eden Park. Jalan Ahmad Yani, Taman Baloi, 29432 Batam
Location
Kota batam,
Kepulauan riau
INDONESIA
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika
ISSN : 26853515     EISSN : 26853485     DOI : https://doi.org/10.53547/775swq73
Core Subject :
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika is an open-access, peer-reviewed, and nationally accredited journal managed and published by Institut Agama Kristen REAL Batam, Riau Islands, Indonesia. The journal is registered under ISSN 2685-3485 (online) and ISSN 2685-3515 (print) and publishes articles in both Indonesian and English. The primary focus of DIEGESIS is Pentecostal-Charismatic theology, approached from academic, interdisciplinary, and contextual perspectives. Its scope includes biblical and hermeneutical studies, church history, spirituality, and the relationship between theology and issues of society, culture, Christian education, psychology, and religions. DIEGESIS is nationally accredited at SINTA 2 level (Decree No. 295/C/C3/KPT/2026) for the 2025–2029 period. It is published twice a year, in June and December, and welcomes contributions from academics and theological practitioners, both nationally and internationally. All manuscripts that meet the submission requirements are evaluated by expert reviewers through a double-blind review process.
Arjuna Subject : -
Articles 85 Documents
Persepsi Gembala Sidang tentang Peran Penginjil, Gembala dan Guru dalam Pelayanan Gerejawi di GPdI se-Kabupaten Bondowoso Bambang Sriyanto; Roberto Ganda
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 2 No. 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v2i2.57

Abstract

The purpose of this paper is to find out the extent of the perception of the pastor about the role of evangelists, pastors, and teachers in ecclesiastical services in GPdI throughout Bondowoso District. The research method used in this research is descriptive qualitative research. Research data obtained directly in the field using a research instrument in the form of a questionnaire. The results show that most pastors understand the role of the evangelist who proclaims Jesus is God; understand the pastor's role as an elder, someone who is skilled in ministry and people who are gifted to serve the church (75%); understand the role of teachers having the gift of teaching, opening the secrets of God's Word and teaching through exemplary living (66.67%). In conclusion, the perception of the pastor about the role of evangelists, pastors, and teachers in ecclesiastical ministers in GPdI in Bondowoso Regency, has very high understanding.AbstrakTujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui sejauh mana persepsi gembala sidang tentang peran penginjil, gembala dan guru Injil dalam pelayanan gerejawi di GPdI se-Kabupaten Bondowoso. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah penelitian kualitatif deskriptif. Data-data penelitian diperoleh langsung di lapangan dengan menggunakan instrumen penelitian berupa angket. Hasil penelitian menunjuk-kan bahwa sebagian besar gembala sidang memahami atas peran penginjil yang memproklamirkan Yesus adalah Tuhan; memahami atas peran gembala sebagai penatua, orang yang terampil dalam pelayanan dn orang yang diberi karunia untuk melayani jemaat (75%); memahami atas peran guru memiliki karunia mengajar, membuka rahasia Firman Allah dan mengajar melalui keteladanan hidup (66,67%). Kesimpulannya, persepsi gembala sidang tentang peran penginjil, gembala dan guru dalam pelayan gerejawi di GPdI se-Kabupaten Bondowoso, telah memiliki pemahaman yang sangat tinggi.
Memahami Penolakan Soteorologi Gnostik oleh Gereja Perdana Eduward Purba
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 2 No. 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v2i2.60

Abstract

Gnostics are synchronic character ideas from a variety of Hellenistic types of beliefs and philosophies that try to influence early Christian salvation theology. The infiltration effort has opportunities because of: the cultural context of the missionary and recipient of the gospel, the decline of the Church of Jewish background, the emergence of Jewish Diaspora, the use of Hellenic terms in the New Testament and by the Early Church. This research is qualitative research literature. Researchers collected data by determining the qualifications of Gnostic library sources, both from Gnostic sources themselves and from Christian theologians. The steps taken are recording findings, combining all findings, both theories or new findings of Gnostic soteriology, analyzing findings, and finally criticizing Gnostic ideas. The results found that gnosis was the first condition in Gnostic soteriology that produced catharsis as a way of releasing divine sparks from the body with variations in business such as fasting, monasticism, torturing oneself until the legalization of murder. So, in the Gnostic idea, the principle of traditional Christian salvation has no place at all. In conclusion, ownership of gnosis by understanding the importance of releasing the spirit or divine spark from the body is a major condition in Gnostic soteriology. On this basis, the early Church rejected this gnostic idea because it was considered very speculative and heretical.  AbstrakGnostik merupakan gagasan berkarakter sinkritis dari variasi tipe keyakinan dan filsafat Helenistik yang berusaha memengaruhi teologi keselamatan Kristen perdana. Usaha infiltrasi memiliki peluang karena konteks budaya pekabar dan penerima Injil, kemunduran jemaat berlatarbelakang Yahudi, kemunculan Yahudi diaspora, penggunaan istilah-istilah Helenis da-lam Perjanjian Baru dan oleh gereja perdana. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif literatur. Peneliti mengumpulkan data dengan menentukan kualifikasi sumber pustaka Gnostik, baik dari sumber Gnostik sendiri dan dari teolog Kristen. Langkah yang dilakukan yaitu men-catat temuan, memadukan segala temuan, baik teori atau temuan baru tentang soteriologi Gnostik, menganalisis temuan, terakhir mengkritisi gagasan Gnostik. Hasil yang ditemukan bahwa gnosis syarat pertama dalam soteriologi Gnostik yang menghasilkan katarsis sebagai cara melepaskan percikan ilahi dari tubuh dengan variasi usaha seperti puasa, monastik, menyiksa diri sampai legalisasi pembunuhan. Sehingga dalam gagasan Gnostik, prinsip keselamatan Kristen tradisional tidak memiliki tempat sama sekali. Kesimpulannya, bahwa kepemilikan gnosis dengan memahami pentingnya melepaskan roh atau percikan Ilahi dari tubuh merupakan syarat utama dalam soteriologi Gnostik. Atas dasar ini gereja perdana menolak gagasan Gnostik ini karena dianggap sangat spekulatif dan sesat.
Analisis tentang Relevansi Ibadah Gereja Pascapandemi Covid-19 Irfan Feriando Simanjuntak; Ramses Simanjuntak; Agiana Her Visnhu Ditakristi
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 3 No. 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v3i1.63

Abstract

Covid-19 pandemic has caused churches to change their worship patterns from those implemented in church buildings to virtual worship at home. This decision relates to the government's call for social distancing and physical distancing in order to break the chain of transmission of the virus which is very easy to move especially through interactions between people in the crowd. In connection with this new worship phenomenon, this research aims to analyze and explore the theological principles of Christian worship, especially with regard to the question of the relevance of worship together in church buildings after the Covid-19 pandemic ends. The method used is descriptive qualitative through research on various literatures to produce a theologically based writing. Based on this study, it is concluded that joint worship in the church building remains relevant because it has an accountable basis. This is certainly important in the education and maturity of the people so that they continue to view worship in the church building is something that is important to carry out even after the phenomenon of the Covid-19 pandemic passed. AbstrakPandemi Covid-19 telah menyebabkan gereja-gereja harus mengubah pola ibadahnya dari yang dilaksanakan di gedung gereja kepada pola ibadah virtual di rumah. Hal ini berkaitan dengan imbauan pemerintah untuk melakukan social distancing dan physical distancing demi memutus mata rantai penularan virus tersebut yang sangat mudah berpindah terutama melalui interaksi antar manusia di dalam kerumunan. Berkaitan dengan fenomena ibadah yang baru ini, penelitian ini bertujuan untuk menganalisa dan menggali prinsip teologis ibadah Kristiani, khususnya berkaitan dengan pertanyaan masih relevankah beribadah bersama di gedung gereja setelah pandemi Covid-19 berakhir. Metode yang digunakan bersifat kualitatif deskriptif melalui penelitian terhadap berbagai literatur sehingga diharapkan menghasilkan tulisan yang bersifat teologis. Berdasarkan penelitian ini, disimpulkan ibadah bersama di gereja tetap relevan dilaksanakan karena memiliki landasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini tentunya penting dalam pendidikan dan pendewasaan umat sehingga tetap memandang beribadah di gereja adalah sesuatu hal yang penting dilaksanakan bahkan setelah fenomena pandemi Covid-19 berlalu. 
Optimalisasi Fungsi Rumah Sebagai Tempat Pembinaan Warga Gereja di Masa Pandemi Covid-19 Purim Marbun
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 3 No. 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v3i1.64

Abstract

This writing is motivated by the problem of the lack of church members who use the house as a place of spiritual formation. This is due to the lack of family skills in carrying out coaching tasks both practically and theologically. Another problem is that many coaching programs are centered in the church, thus consuming family time. During the Covid-19 Pandemic, it was necessary to attend church from home in accordance with government recommendations. By using a qualitative approach, and using a descriptive analysis study research method, accompanied by a descriptive analysis study it was found that the house can be used as a place for the formation of church members. Optimization of the house as a place for fostering church members is done by expanding the dimensions of the function of the house that is not only a place to live but as a place to educate, a place of worship and the ongoing community of faith. AbstrakTulisan ini dilatarbelakangi adanya masalah minimnya warga gereja yang memanfaatkan rumah sebagai tempat pembinaan rohani. Hal ini disebabkan kurangnya ketrampilan keluarga melakukan tugas-tugas pembinaan baik secara praktis maupun teologis. Masalah yang lain adalah banyaknya program pembinaan yang berpusat di gereja, sehingga menyita waktu keluarga. Dalam masa Pandemi Covid-19, mengharuskan bergereja dari rumah sesuai dengan anjuran pemerintah. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, dan memakai metode penelitian studi deskriptif analisis, disertai dengan kajian analisis deskriptif didapati bahwa rumah dapat dijadikan sebagai tempat pembinaan warga gereja. Optimaliasasi rumah sebagai tempat pembinaan warga gereja, dilakukan dengan cara memperluas dimensi fungsi rumah yang bukan saja sebagai tempat tinggal, melainkan sebagai tempat mendidik, tempat beribadah dan berlangsungnya komunitas iman.
Revitalisasi Misi Kristen Menghadapi Sekularisasi dan Sekularisme: Kasus Gereja Protestan dan Katolik di Belanda Alexander Djuang Papay; Ferdinandes Petrus Bunthu; Francois Pieter Tomasoa
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 3 No. 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v3i1.65

Abstract

This  paper is an insight into the revitalization of Christian mission in dealing with secularism in Catholic and Prostestant churches in the Netherlands. Analysis from various collective sources as a consideration to find out how much degradation of the Christian Faith is caused by the influence of secularism and on the other hand also to find out how much influence from the church that still remains. The research used is qualitative descriptive with a literature review, the authors sought the results of this study are expected to help the church to be able to revitalize the Christian mission of secularism in the younger generation, schools within the church environment, evangelism, and contextualization so that the church is expected to return to its heyday. ABSTRAKPaper ini sebagai wawasan tentang revitalisasi misi Kristen dalam menghadapi sekulerisme di gereja-gereja Katolik dan Prostestan di Nederland. Analisis dari berbagai sumber kolektif sebagai pertimbangan untuk mengetahui seberapa besar degradasi Iman Kristen disebabkan oleh sekulerisme dan disisi lain juga untuk mengetahui seberapa besar pengaruh dari gereja yang masih tersisa. Penelitian yang digunakan adalah deskritif kualitatif dengan tinjauan pustaka.  Penulis berupaya hasil penelitian ini diharapkan membantu pihak  gereja  untuk dapat revitalisasi misi Kristen terhadap sekulerisme di generasi muda, sekolah dilingkungan gereja, penginjilan, dan kontekstualisasi sehingga diharapkan gereja kembali mengalami zaman kejayaanya.
Karakteristik Kepemimpinan Hamba Yesus Kristus menurut Filipi 2:5-8 Bimo Setyo Utomo
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 3 No. 2: Desember 2020
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v3i2.78

Abstract

In His time on earth, Jesus Christ introduced, taught, and practiced a model of leadership that had excellence. For Jesus, a leader is a servant, so leadership is the same as a ministry, not power. This research will examine the characteristics of the servant leadership of Jesus according to Philippians 2: 5-8. According to researchers, the analysis of the text of Philippians 2: 5-8 is very precise because the context in the Philippians at that time was a threat of enmity and division. This is the background of the writing of Philippians, especially Philippians chapter 2 where Paul wanted them to remain united and humble themselves like Christ. Because by not being selfish, humble, having servant character, and being willing to be led well, it is Paul's hope that the Philippians will remain strong and steadfast. The approach used in this research is qualitative, by applying the descriptive analysis method to the text of Philippians 2: 5-8, which results in three characteristics of the servant leadership of Jesus Christ, namely the willingness to lose rights, the humility of Jesus, and the obedience of Jesus.AbstrakDalam masa hidup-Nya di bumi, Yesus Kristus memperkenalkan, mengajarkan, dan mempraktikkan sebuah model kepemimpinan yang memiliki keunggulan. Bagi Yesus, pemimpin adalah seorang hamba atau pelayan, sehingga kepemimpinan sama dengan sebuah pelayanan, bukan kekuasaan. Pada penelitian ini akan diteliti karakteristik kepemimpinan hamba dari Yesus menurut Filipi 2:5-8. Menurut peneliti, analisa terhadap teks Filipi 2:5-8 sangat tepat karena konteks dalam jemaat Filipi pada waktu itu terjadi ancaman perseteruan dan perpecahan. Hal ini yang melatarbelakangi penulisan surat Filipi, khususnya Filipi pasal 2 dimana Paulus ingin mereka tetap bersatu dan merendahkan diri seperti Kristus. Sebab dengan tidak saling mementingkan diri sendiri, rendah hati, memiliki karakter hamba, dan bersedia dipimpin dengan baik, maka harapan Paulus, jemaat Filipi ini tetap dapat kuat dan teguh. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, dengan menerapkan metode deskriptif analisis pada teks Filipi 2:5-8, yang menghasilkan tiga karakteristik dalam kepemimpinan hamba dari Yesus Kristus, yaitu kerelaan untuk kehilangan hak, kerendahan hati Yesus, dan ketaatan Yesus.
Eco-Theology dalam Kisah Penciptaan Hasiholan Sihaloho; Martina Novalina
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 3 No. 2: Desember 2020
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v3i2.79

Abstract

The world is currently faced with a serious problem that determines the survival of humankind and the universe, namely the environmental crisis. The crisis can be caused by two factors: environmental factors or human factors. Various perspectives are used to be able to find the root of the problem, including religion in it. In Christianity, issues related to this are discussed in eco-theology. This article intends to examine eco-theology based on the creation story. The method used is qualitative research, where the description of the phenomena found is used as a background to the problem, which will then be discussed in depth through biblical literature studies from books, journals, and other sources related to the topic of discussion. The result is that chaos is a reality rejected by Allah. The presence of Christians must bring order to the natural surroundings. This will show the authenticity of the Christian faith. Obedience to the mandate of creation is a form of human responsibility at the end of time. Those who are obedient will enjoy God's Kingdom, both now and in the future.AbstrakDunia saat ini sedang diperhadapkan pada satu persoalan serius yang menentukan keberlangsungan hidup umat manusia dan alam semesta, yakni krisis lingkungan. Krisis tersebut dapat disebabkan oleh dua faktor: faktor lingkungan atau faktor manusia. Berbagai perspektif digunakan untuk bisa mencari akar permasalahannya, termasuk agama di dalamnya. Dalam kekristenan, permasalahan yang berkaitan dengan hal ini dibahas dalam eco-theology. Artikel ini hendak meneliti tentang eco-theology berdasarkan kisah penciptaan. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif, dimana pemaparan akan fenomena yang ditemukan dijadikan sebagai latar belakang masalah, yang kemudian akan dibahas secara mendalam melalui kajian literatur secara biblika dari buku-buku, jurnal, maupun sumber-sumber lain yang berkaitan dengan topik bahasan. Hasil yang didapat adalah bahwa kekacau balauan adalah realitas yang ditolak oleh Allah. Kehadiran orang Kristen harus menimbulkan keteraturan pada alam sekitarnya. Hal inilah yang akan menunjukkan kesejatian iman Kristen. Ketaatan akan mandat penciptaan merupakan wujud pertanggungan jawab manusia di akhir zaman nanti. Mereka yang taat akan menikmati Kerajaan Allah, baik sekarang maupun yang akan datang.
Teologi Pastoral dalam Menghadapi Tantangan Kepemimpinan Kristen di Era Post-Modern: Tinjauan Yesaya 40:11 Candra Gunawan Marisi; Didimus Sutanto; Ardianto Lahagu
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 3 No. 2: Desember 2020
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v3i2.80

Abstract

Pastoral Theology has its own challenges facing this postmodern era. Postmodern phenomena that prioritize rationality, pragmatism, and relativism make truths subjective in nature based on context. The reluctance to place the absolute truth of the Bible even more so makes pastoral theology at a point that continues to erode. Where its role continues to be sued and replaced by other disciplines. Now the pastoral theology is questioned for its relevance to be able to provide answers to current pastoral problems. This study aims to answer the relevance of pastoral theology to the challenges of Christian leadership in this postmodern era. The method used is descriptive qualitative method with a literature study approach. Analyze journal data, books, and also do a theological review by exegeting Isaiah 40:11 to get data on information about pastoral theology to answer the challenges of Christian leadership today. This research has produced a formulation of pastoral theology that is still relevant to address the challenges of the times including this postmodern era. Pastoral theology must be based on the absolute truth of the Bible, where study through textual exegesis of Isaiah 40:11 produces a shepherd triplet which is a unit that must be worked on together. The shepherding triplets are Shepherd, Leader, Managerial.AbstrakTeologi Penggembalaan memiliki tantangan tersendiri menghadapi era postmodern ini. Gejala postmodern yang mengedepankan rasionalitas, pragmatisme dan relativisme menjadikan kebe-naran bersifat subyektif yang didasarkan pada konteks semata. Keengganan menempatkan kebenaran absolut Alkitab, justru semakin membuat teologi pastoral berada pada titik yang terus terkikis habis. Di mana perannya terus digugat dan digantikan oleh disiplin ilmu yang lain. Kini teologi pastoral dipertanyakan relevansinya untuk dapat memberi jawab akan permasalahan-permasalahan penggembalaan masa kini. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab relevansi teologi pastoral terhadap tantangan kepemimpinan kristen di era postmodern ini. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan. Mengana-lisis data jurnal, buku-buku dan juga melakukan tinjauan teologis dengan mengeksegesis Yesaya 40:11 untuk mendapatkan suatu data mengenai informasi-informasi tentang teologi pas-toral guna menjawab tantangan kepemimpinan Kristen masa kini. Penelitian ini telah meng-hasilkan suatu rumusan mengenai teologi pastoral yang masih relevan menjawab tantangan zaman termasuk era postmodern ini. Teologi pastoral harus di dasarkan pada kebenaran absolut Alkitab, di mana telaah melalui eksegesis tekstual Yesaya 40:11 menghasilkan triperan peng-gembalaan yang merupakan satu kesatuan yang harus dikerjakan bersama-sama; Gembala, Pemimpin, dan Manejerial. 
Karakteristik Kepemimpinan Pentakostal-Karismatik: Refleksi Daniel 6:4 Phanny Tandy Kakauhe; Fransiskus Irwan Widjaja
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 3 No. 2: Desember 2020
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v3i2.81

Abstract

Pentecostal-Charismatic Leadership has often drawn criticism from controversy, and many have negative nuances. However, this leadership has dynamic strength which its character, and it must be realized by many parties. The purpose of the discussion in this article is to show the characteristics of Pentecostal-Charismatic leadership through the modeling shown by Daniel. With a qualitative approach and using a descriptive interpretive analysis method in the passage of Daniel 6: 4, the result is that Daniel's charismatic leadership is indicated by the phrase "extraordinary spirit". In conclusion, Pentecostal-Charismatic leadership must be characterized by the work or manifestation of the Holy Spirit within the leader, so as to make the leader have an extraordinary spirit, as the quality or value of his leadership.AbstrakKepemimpinan Pentakosta-Karismatik seringkali menuai kritik kontroversi, dan tidak sedikit yang bernuansa negatif. Namun demikian kepemimpinan ini memiliki kekuatan yang dinamis yang menjadi karakteristiknya, dan harus disadari oleh banyak pihak. Tujuan pembahasan da-lam artikel ini adalah untuk menunjukkan karakteristik kepemimpinan Pentakosta-Karismatik yang melalui permodelan yang ditunjukkan oleh Daniel. Dengan pendekatan kualitatif dan menggunakan metode deskriptif analisis interpretatif pada nas Daniel 6:4, maka diperoleh hasil bahwa kepemimpinan karismatik Daniel ditunjukkan oleh frasa “roh yang luar biasa”. Kesim-pulannya, kepemimpinan Pentakostal-Karismatik haruslah dikarakterisasi oleh pekerjaan atau manifestasi Roh Kudus dalam diri pemimpinnya, sehingga membuat pemimpin tersebut memili-ki roh yang luar biasa, sebagai kualitas atau nilai kepemimpinannya.
Tantangan dan Strategi Gereja Menjalankan Misi Allah dalam Menghadapi Penerapan Industri 4.0 di Indonesia Aldrin Purnomo; Yudhy Sanjaya
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 3 No. 2: Desember 2020
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v3i2.83

Abstract

Indonesia has begun to enter the Industrial 4.0 era. Preparation of resources must be started early to face this implementation. The adoption of Industry 4.0 causes significant changes in technology, ways of thinking, and social and economic structures. These changes will certainly affect the church in its main task of carrying out God's mission in Indonesia. The church must prepare from now on and not wait for the implementation of Industry 4.0 to affect the church. The purpose of this paper is to provide an understanding of the challenges that occur and the transformation strategies that need to be applied by the church. The transformation carried out will enable the church to read and act accordingly when the Industrial 4.0 era is fully implemented (fast and agile capability). This study uses a narrative analysis method by looking at the challenges faced and implementing the right strategy from a complete perspective. As a result, God's mission remains the same but with the right strategy so that it can be applied in carrying out missions in the era of the Industrial Revolution 4.0.AbstrakIndonesia mulai memasuki era Industri 4.0. Persiapan sumber daya harus dimulai semenjak dini untuk menghadapi penerapan ini. Penerapan Industri 4.0 menyebabkan terjadinya perubahan dalam teknologi, cara berpikir, serta struktur sosial dan ekonomi yang signifikan. Perubahan tersebut dipastikan akan mempengaruhi gereja dalam tugas utamanya menjalankan misi Allah di Indonesia. Gereja harus mempersiapkan diri semenjak sekarang dan tidak menunggu penerapan Industri 4.0 akan mempengaruhi gereja. Tujuan tulisan ini memberikan pemahaman tantangan yang terjadi dan strategi transformasi yang perlu diterapkan oleh gereja. Transformasi yang dilakukan akan menjadikan gereja mampu membaca dan bertindak menyesuaikan diri di saat era Industri 4.0 diterapkan secara penuh (fast and agile capability). Penelitian ini menggunakan metode analisis naratif dengan melihat tantangan yang dihadapi dan penerapan strategi yang tepat dari sudut pandang yang utuh. Hasilnya, misi Allah tetap sama namun dengan strategi yang tepat sehingga dapat diterapkan dalam melakukan misi di era revolusi Industri 4.0.