cover
Contact Name
Jabes Pasaribu
Contact Email
jabespasaribu@institutkristenrealbatam.ac.id
Phone
+6285372472039
Journal Mail Official
kampuslppm@gmail.com
Editorial Address
Komplek House Of Glory, Eden Park. Jalan Ahmad Yani, Taman Baloi, 29432 Batam
Location
Kota batam,
Kepulauan riau
INDONESIA
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika
ISSN : 26853515     EISSN : 26853485     DOI : https://doi.org/10.53547/775swq73
Core Subject :
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika is an open-access, peer-reviewed, and nationally accredited journal managed and published by Institut Agama Kristen REAL Batam, Riau Islands, Indonesia. The journal is registered under ISSN 2685-3485 (online) and ISSN 2685-3515 (print) and publishes articles in both Indonesian and English. The primary focus of DIEGESIS is Pentecostal-Charismatic theology, approached from academic, interdisciplinary, and contextual perspectives. Its scope includes biblical and hermeneutical studies, church history, spirituality, and the relationship between theology and issues of society, culture, Christian education, psychology, and religions. DIEGESIS is nationally accredited at SINTA 2 level (Decree No. 295/C/C3/KPT/2026) for the 2025–2029 period. It is published twice a year, in June and December, and welcomes contributions from academics and theological practitioners, both nationally and internationally. All manuscripts that meet the submission requirements are evaluated by expert reviewers through a double-blind review process.
Arjuna Subject : -
Articles 85 Documents
Generasi yang Unggul dalam Iman, Ilmu, dan Pengabdian di Era Industri 4.0 Andrias Pujiono; Carolina Etnasari Anjaya; Yonatan Alex Arifianto
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 5 No. 1: Juni 2022
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v5i1.143

Abstract

Industrial era 4.0 contains challenges and opportunities. But behind this condition, there are believers, including Christian Religious Education (PAK) teachers and pastors who are stuttering about technology. Instead of studying or catching up, many scholars hide behind their age, limited facilities, and other factors. But in fact, it is mostly caused by a reluctance to learn. In fact, in order to meet the needs of this era, superior humans are needed. These advantages include skills or optimal conditions in faith, knowledge, and devotion. The qualitative descriptive method is the approach used in this article. This article aims to describe the meaning of the superior generation in the industrial era 4.0 and how to achieve it. In the conclusion, it is explained that a superior person will develop faith, and knowledge and try to make a greater contribution to the Christian faith community and society at large. Being such a person in the era of the industrial revolution 4.0 is increasingly easy to achieve through the use of technology and a new basic mindset, namely: a growth mindset. Reluctance to grow to become a superior person is unfair behavior. Individuals who stagnate will sink into laziness or a reluctance to learn and change. Personal excellence never stops the process, and it will have a significant impact on the world. AbstrakEra industri 4.0 memuat tantangan dan kesempatan. Namun, balik kondisi itu terdapat umat percaya, termasuk guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) dan pendeta yang gagap terhadap teknologi. Alih-alih belajar atau mengejar ketertinggalan, banyak sarjana yang bersembunyi dibalik faktor umur, terbatasnya fasilitas dan faktor lainnya. Namun, hal itu lebih banyak disebabkan oleh keengganan untuk belajar. Padahal agar dapat memenuhi kebutuhan era ini, dibutuhkan manusia unggul. Keunggulan tersebut meliputi kecakapan atau kondisi optimal dalam iman, ilmu dan pengabdian. Metode deskriptif kualitatif merupakan pendekatan yang dipergunakan dalam artikel ini. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan makna generasi unggul di era industri 4.0 dan bagaimana cara mencapainya. Dalam kesimpulan dipaparkan bahwa pribadi unggul akan mengembangkan iman, ilmu dan berusaha memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap komunitas iman Kristen dan masyarakat luas. Menjadi pribadi yang demikian di era revolusi industri 4.0 semakin mudah tergapai melalui pemanfaatan teknologi dan sebuah dasar pola pikir baru yaitu: mindset tumbuh. Sikap enggan bertumbuh untuk menjadi pribadi yang unggul adalah tindakan tidak adil; sebaliknya, yang malas dan enggan belajar akan menjadi mandek atau mengalami kemandekan. Pribadi yang unggul tidak pernah berhenti berproses dan hal itu akan memberi dampak signifikan bagi dunia.
Good Church Governance dengan Menerapkan Seri ISO 9000 dan Implikasinya bagi Pemimpin Gereja Yakub Hendrawan Perangin Angin; Tri Astuti Yeniretnowati
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 5 No. 1: Juni 2022
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v5i1.179

Abstract

AbstractThe Good Corporate Governance in this study was borrowed as Good Church Governance because the principles of GCG are in line with the principles contained in Total Quality Management based on the ISO 9000 series of quality management standards. Good church governance practices have become not only an obligation but a necessity for current and future churches to implement good quality management. The ISO standard is recommended to be applied as a model of good church governance because the criteria contained in it can lead the church to achieve good, healthy, and effective church governance by complying with the rules and Bible truth. This research was conducted under the library research method. The results of this study indicate the implications for the church leaders, namely: First, Be actively involved in empowering yourself in the church. Second, understand the concept of good organizational governance. Third, is the commitment to implement the ISO 9000 series of quality management governance models, whose approach is easy and simple because it is based on the PDCA pattern, namely plan-do-check-act. AbstrakIstilah Good Corporate Governance pada penelitian ini dipinjam menjadi Good Church Governance, karena prinsip-prinsip dari GCG senada dengan prinsip yang terkandung dalam Total Quality Management berbasis standar manajemen mutu seri ISO 9000. Praktik tata kelola gereja yang baik sudah menjadi bukan hanya kewajiban tetapi keharusan bagi gereja saat ini dan masa mendatang untuk menerapkan manajemen mutu yang baik. Standar ISO disarankan untuk diterapkan sebagai model tata kelola gereja yang baik karena kriteria yang terkandung di dalamnya dapat mengantarkan gereja mencapai tata kelola gereja yang baik, sehat dan efektif dengan mematuhi aturan peraturan dan kebenaran Alkitab. Penelitian ini dilakukan dengan metode riset pustaka. Hasil dari penelitian ini menunjukkan implikasi bagi pemimpin gereja, yaitu: Pertama, Terlibat aktif memberdayakan diri dalam gereja. Kedua, Memahami konsep tata kelola organisasi yang baik. Ketiga, Komitmen menerapkan model tata kelola manajemen mutu seri ISO 9000, yang pendekatannya mudah dan sederhana karena berbasiskan pola PDCA, yaitu plan-do-check-act.
Orisinalitas Pneumatologi John Calvin sebagai “Teolog Roh Kudus” Herman Herman; Ceria Ceria; Fredy Simanjuntak
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 5 No. 1: Juni 2022
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v5i1.180

Abstract

John Calvin is one of the foremost theologians among reformed theologians. His works are a major contribution to the history of Protestant development even to the present day. But along the way, the development of Protestant theology has produced two views on the sustainability of the gifts of the Spirit. One of the views is to see that the gifts of the Holy Spirit no longer occur after the Biblical canonization (cessationism). This view is dominated by most Calvinist theologians and eventually creates the stigma that Calvin theology does not emphasize the Holy Spirit in its doctrines, even though in his day Calvin was given the nickname "The Theologian of the Holy Spirit”. This fact goes against the built stigma. To answer this question, the writer uses the descriptive-qualitative research method by reviewing the theology of the Holy Spirit written by Calvin in his masterpiece Institutes of The Christians, and the context at that time. In the end, this research finds that the main points of the Calvin’s Holy Spirit theology that are not indicated to the built stigma about Calvin’s Holy Spirit theology are the basis of cessationist or rationalist, but on the contrary, in accordance to the nickname given to him as the theologian of the Holy Spirit who integrated the theology of the Holy Spirit in all of his doctrines and ministries based on the Bible. AbstrakJohn Calvin merupakan salah satu teolog terkemuka dari kalangan teolog-teolog reformasi. Karya-karyanya memberikan kontribusi besar dalam sejarah perkembangan Protestan hingga saat kini. Namun dalam perjalanan perkembangan teologi Protestan telah menghasilkan dua pandangan mengenai keberlangsungan karunia-karunia Roh. Salah satunya melihat bahwa karunia-karunia Roh Kudus tidak lagi berlangsung setelah pengkanonan Alkitab (cessasionism), pandangan ini didominasi oleh sebagian besar teolog Calvinis dan akhirnya menimbulkan stigma bahwa teologi Calvin tidak menekankan Roh Kudus dalam doktrin-doktrinnya. Padahal pada zamannya Calvin diberi julukan “Teolog Roh Kudus”. Kenyataan ini menimbulkan kontradiksi dengan stigma yang terbangun. Untuk menjawab pertanyaan ini maka penulis menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan meninjau kembali teologi Roh Kudus Calvin yang tertulis dalam maha karyanya yaitu Intitutes of The Christian dan konteks pada masa itu. Pada akhirnya penelitian ini menemukan pokok-pokok teologi Roh Kudus Calvin yang tidak terindikasi kepada stigma yang terbangun mengenai teologi Roh Kudus Calvin adalah dasar cessasionist atau rasionalis tetapi justru sebaliknya seperti julukan yang diberikan kepadanya sebagai teolog Roh Kudus yang mengintegrasi teologi Roh Kudus dalam semua doktrin dan pelayanannya dengan dasar Alkitab.
Implikasi Pemahaman Kematian bagi Pembinaan Kerohanian Jemaat: Refleksi Teologis Lukas 16:19-31 Marnaek Nainggolan; Happy Fasigita Paradesha
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 5 No. 1: Juni 2022
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v5i1.181

Abstract

This study aims to counteract the paradigm claim that says that a person's spirit can wander and enter human life. In addition, it is concluded that people who have died can still communicate actively with humans to provide guidance, protection, and sustenance to humans, especially for those who want to honor the spirits of the dead. This attitude has been deeply rooted both from the side, religions, and even cultures in Christianity that do not understand the concept of death from a biblical perspective. The discussion of this article uses an inductive method of qualitative research, first looking for data and Bible facts. Data were collected through field observations and literature study through reference books, journal articles related to problems in article writing. These results explain that the understanding of death in Luke 16:19-31 cannot be used as a basis for thinking that people who have died can still communicate with everyone who is still in the world. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menangkal adanya klaim paradigma yang mengatakan bahwa setelah seseorang meninggal, rohnya dapat mengembara dan memasuki kehidupan manusia. Selain itu sebagian meyakini bahwa orang yang sudah meninggal masih dapat berkomunikasi secara aktif dengan manusia untuk memberi petunjuk, perlindungan, dan rezeki kepada manusia secara khusus bagi mereka yang mau menghormati arwah yang sudah meninggal. Sikap seperti ini telah mengakar kuat baik dari sisi budaya, agama-agama dan bahkan dalam kekristenan yang tidak memahami konsep kematian dari perspektif Alkitabiah. Pembahasan artikel ini menggunakan penelitian kualitatif metode induktif penafsiran terlebih dahulu mencari data dan fakta Alkitab. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan dan studi pustaka melalui buku-buku referensi, artikel jurnal yang berkaitan dengan permasalahan dalam penulisan artikel. Hasil pembahasan ini menguraikan bahwa pemahaman kematian pada Lukas 16:19-31 tidak dapat dijadikan sebagai dasar untuk berpikir bahwa orang yang sudah meninggal masih bisa berkomunikasi dengan setiap orang yang masih berada di dunia. 
Kepemimpinan Pelayan Mengajarkan Teologi Memberi di Kalangan Pekerja Migran Indonesia di Gereja Lokal Malaysia Joni Manumpak Parulian Gultom
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 5 No. 1: Juni 2022
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v5i1.189

Abstract

Indonesian migrant workers in Malaysia are the main source of the country's huge foreign exchange income. Within the church, their number alone is relatively large spread across the peninsula. The Lord's Church serves them as souls in need of strength and discipleship in the faith. Church leadership becomes important in directing the life of faith and also in the management of future lives. In addition to making them obedient people from the example of servant leaders, the church is also responsible for bringing them to love their fellow human beings with their finances in terms of giving. The question is first, what is the correct method of teaching the theology of giving to migrant workers? And what kind of servant leadership strategy do you expect? Research method with qualitative description. The purpose of the study is to describe the basis and pattern of Biblical giving and to explain appropriate servant leadership strategies for Indonesian migrant workers in Malaysia AbstrakPekerja migran Indonesia di Malaysia menjadi sumber utama pemasukan devisa negara yang sangat besar. Dalam gereja, jumlah mereka sendiri terbilang relative besar yang tersebar di semenanjung. Gereja Tuhan melayani mereka sebagai jiwa yang perlu kekuatan dan pemuridan dalam iman. Kepemimpinan gereja menjadi penting dalam mengarahkan kehidupan iman dan juga management kehidupan masa depan. Selain menjadikan mereka umat yang taat dari keteladanan pemimpin yang melayani, gereja juga bertanggung jawab untuk membawa mereka dapat mengasihi sesama manusia dengan keuangan mereka dalam hal memberi. Pertanyaan nya dalah pertama, bagaiamana metode mengajarkan teologi memberi yang benar buat para pekerja migran? Dan strategi kepemimpinan pelayan seperti apa yang di harapkan? Metode penelitian dengan dekripsi kualitatif. Tujuan penelitian untuk menggambarkan kepemimpinan di gereja sangat berpengaruh memberikan andil dalam mendorong umat untuk memberi. 
Konsep Manusia Theosis sesuai Injil, Menurut Matius 13:45-46 Analisis Perumpamaan Yesus Yolin ilo; Hendi Wijaya
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 6 No. 1: Juni 2023
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v6i1.192

Abstract

This article is the result of research on an effort to seize a valuable opportunity according to the Gospel of Matthew 13:45-46 to become similar to Christ in eternity (Kingdom of Heaven). The method used is the exegesis method. The results show that the effort or ability to choose the most valuable opportunity is the key to uniting oneself with God in eternity. Everyone who is aware of the precious opportunity that is given, will completely surrender himself to God, and try to discipline himself through obedience in becoming a disciple of Christ and choosing to live with Christ. In the end, the effort to choose the most valuable opportunity, makes everyone live in obedience that unites with Christ.Keywords: effort; respond to opportunities; surrender to Christ; become a disciple of Jesus.AbstrakArtikel ini merupakan hasil penelitian tentang sebuah usaha meraih kesempatan yang berharga menurut Injil Matius 13:45-46 untuk menjadi serupa dengan Kristus dalam kekekalan (Kerajaan Sorga). Metode yang digunakan adalah metode eksegesis. Hasilnya menunjukkan bahwa usaha atau kemampuan memilih kesempatan yang paling berharga adalah kunci menuju pada penyatuan diri dengan Allah dalam kekekalan. Setiap orang yang sadar akan kesempatan berharga yang diberikan, maka akan sepenuhnya menyerahkan diri kepada Allah, serta berusaha mendisiplinkan diri melalui ketaatan dalam menjadi murid Kristus dan memilih hidup bersama dengan Kristus. Pada akhirnya usaha memilih kesempatan yang paling berharga tersebut, menjadikan setiap orang hidup dalam ketaatan yang menyatu dengan Kristus.Kata kunci: usaha; meresponi kesempatan; menyerahkan diri pada Kristus; menjadi murid Yesus.
Memaknai “Kehendak-Mulah Yang Jadi” Berdasarkan Lukas 22:42 dan Aplikasinya bagi Peningkatan Iman Anggota Gereja Toraja Monika Jerry D. Londongna; Stephani Intan M. Siallagan; Deflit Dujerslaim Lilo
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 6 No. 1: Juni 2023
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v6i1.243

Abstract

The aim of this study is to find out the meaning of "Thy will be done" according to the Bible in Luke 22:42, to find the right application for the lives of Toraja Church members of the Gloria Buttutanga, Buakayu Klasis. The authors begin with an overview and background of Luke 22:42, as well as an analysis of the text and then describes the understanding of church members Gloria Church about "Thy will be done" and the practices of life that members of the Gloria Church should have based on the meaning of "Thy will be done" from Luke 22:42. The qualitative research methods used in this research are literature review and a field study. For literature studies, the researcher also used the hermeneutic method, while field studies are carried out by observation and interview.  First, the phrase "Thy will be done" in Luke 22:42 can be interpreted as a form of total surrender and perfect obedience from Jesus. Second, members of the Toraja Church congregation in Gloria Buttutanga who are still weak in faith due to the suffering of life experienced should surrender themselves to God in totality and continue to live in obedience despite the suffering of life.Keywords: God's will; obedience; faith; the suffering of life.AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui makna “Kehendak-Mulah Yang Jadi” menurut Alkitab dalam Lukas 22:42 untuk menemukan penerapan yang tepat bagi kehidupan anggota Gereja Toraja Jemaat Gloria Buttutanga, Klasis Buakayu. Penulis memulai dengan gambaran umum dan latar belakang Lukas 22:42, serta analisis teks dan selanjutnya memaparkan pemahaman anggota jemaat Gloria Buttutanga Klasis Buakayu tentang “kehendak-Mulah yang jadi” dan praktek kehidupan yang harus dimiliki oleh anggota Jemaat Gloria berdasarkan makna “kehendak-Mulah yang jadi” dari Lukas 22:42. Metode penelitian kualitatif yang digunakan dalam peneltian ini adalah studi pustaka dan studi lapangan. Untuk studi pustaka, penulis gunakan juga metode hermeneutik sedangkan studi lapangan dilakukan dengan cara observasi dan wawancara. Temuan penelitian ini yaitu: pertama, frasa “Kehendak-Mulah Yang Jadi” di dalam Lukas 22:42 dapat dimaknai sebagai bentuk penyerahan diri total dan ketaatan yang sempurna dari Yesus. Kedua, anggota jemaat Gereja Toraja di Gloria Buttutanga yang masih lemah imannya karena penderitaan hidup yang dialami, seyogianya menyerahkan diri kepada Tuhan secara totalitas dan tetap hidup dalam ketaatan meski berada dalam penderitaan hidup.Kata kunci: kehendak Allah; ketaatan; iman; penderitaan hidup
Konsekuensi Atas Pemberitaan Injil Palsu Menurut Galatia 1:8-9: Sebuah Analisis Tentang Kemarahan Rasul Paulus kepada jemaat di Galatia Cange Esra Runisi Gulo
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 5 No. 2: Desember 2022
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v5i2.255

Abstract

Consequences of false preaching of the gospel in (Galatians 1:8-9): An analysis of the apostle Paul's anger at the Galatians. The anger expressed by the apostle Paul was of great benefit especially to the Galatians who passed from Christ to living under the Law. In this study, the author used the exegesis method with a syntactic and semantic approach to text analysis by focusing on the text itself and interacting with other texts in the Bible as well as with various libraries, books, journals that discuss related topics. So, through this method, the author was able to find the meaning of the apostle Paul's anger in (Galatians 1:8-9). The results of this research can be revealed that the consequence of false preaching of the gospel is a curse that creates separation from God and becomes a person who does not love God. It can be known that when man is separated and does not live in Christ, he can do nothing and will perish. Thus, the activity of preaching the gospel should be carried out together with God the Holy Spirit who is the guide so that everyone who carries out the preaching of the gospel, the Ecclesiastes and Teachers of dogma, does not deviate from the purpose of God's mission, and faithfully embraces people to become believers and have faith in the Lord Jesus Christ.Keywords: consequences; gospel; false; aacursed; separated AbstrakKonsekuensi atas pemberitaan injil palsu dalam (Galatia 1:8-9): Sebuah analisis tentang kemarahan rasul Paulus kepada jemaat di Galatia. Kemarahan yang diungkapkan rasul Paulus ini sangat bermanfaat terutama bagi jemaat Galatia yang beralih dari Kristus kepada hidup dibawah Hukum Taurat. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode eksegesis dengan pendekatan analisis teks secara sintaksis dan semantis dengan berfokus pada teks itu sendiri dan melakukan interaksi dengan teks-teks yang lain dalam Alkitab serta dengan berbagai pustaka, buku-buku, jurnal yang membahas topik terkait. Sehingga melalui metode ini, penulis dapat menemukan makna dari kemarahan rasul Paulus dalam (Galatia 1:8-9). Hasil dari penelitian ini dapat disingkapkan bahwa konsekuensi dari pemberitaan injil palsu adalah sebuah kutukan yang menimbulkan keterpisahan dengan Allah serta menjadi pribadi yang tidak mengasihi Allah. Dapat diketahui bahwa ketika manusia terpisah dan tidak hidup dalam Kristus, ia tidak dapat berbuat apa-apa dan akan binasa. Jadi, kegiatan pemberitaan injil seharusnya dilakukan bersama dengan Allah Roh Kudus yang menjadi penuntun sehingga setiap orang yang melaksanakan pemberitaan injil, para Pengkhotbah dan Pengajar dogma, tidak menyimpang dari tujuan misi Allah, dan dengan setia merangkul orang-orang untuk menjadi percaya dan beriman kepada Tuhan Yesus Kristus.Kata kunci: konsekuensi; injil; palsu; terkutuk; terpisah
Internalisasi Moderasi Beragama dalam Konteks Oikumene di Kampus STAKPN Sentani Santy Layan
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 5 No. 2: Desember 2022
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v5i2.260

Abstract

This paper aims to analyze the internalization of religious moderation values using the ecumenical approach at the STAKPN Sentani campus. This research uses a qualitative approach with a case study method. Researchers used an approach of in-depth interviews, observations, and documentation studies for data collection in this study. The research found that the internalization of moderation values for students in the STAKPN Sentani environment, which is different denominations and Church doctrines, was successfully carried out by campus residents, so that harmonization, togetherness, and responsibility in caring for life together remained intertwined until this moment. Several perspectives have been considered in religious moderation from an ecumenical point of view among students to ensure that no divisions among doctrines or traditions have been held. The conclusion that can be drawn is that ecumenism is the choice of path used to connect Christians in all aspects, including denominations, doctrines, and common ideals for proclaiming the gospel. Through the internalization of moderation values for students in STAKPN Sentani environments of different denominations and doctrines the Church can take care of harmonization, unity, togetherness, and shared responsibility in arranging life together according to God's will.Keywords: STAKPN Sentani students; religious moderation; Ecumene AbstrakPenulisan ini bertujuan menganalisis internalisasi nilai-nilai moderasi beragama menggunakan pendekatan oikumene di kampus STAKPN Sentani. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Peneliti menggunakan pendekatan yaitu wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi untuk pengumpulan data dalam penelitian ini. Penelitian menemukan, internalisasi nilai-nilai moderasi bagi mahasiswa di lingkungan STAKPN Sentani yang berbeda denominasi dan doktrin Gereja berhasil dilakukan oleh warga kampus, sehingga harmonisasi, kebersamaan, dan tanggung jawab dalam merawat hidup bersama tetap terjalin sampai detik ini. Beberapa perspektif telah dipertimbangkan dalam moderasi agama dari sudut pandang oikumene di kalangan mahasiswa untuk memastikan bahwa tidak ada perpecahan di antara doktrin atau aliran yang telah dipegang. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah oikumene menjadi pilihan jalan yang digunakan untuk menghubungkan umat Kristiani dalam segala aspek, termasuk denominasi, doktrin, dan cita-cita bersama untuk mewartakan injil. Melalui internalisasi nilai-nilai moderasi bagi mahasiswa di lingkungan STAKPN Sentani yang berbeda denominasi dan doktrin Gereja dapat merawat harmonisasi, persatuan, kebersamaan, dan tanggung jawab bersama dalam menata hidup bersama sesuai kehendak Tuhan.Kata kunci: mahasiswa STAKPN Sentani; moderasi beragama; oikumene
Penghakiman Yang Akan Datang: Refleksi Teologis Bagi Kehidupan Kristiani Febri Yanto Ziliwu; Ishak Kukuh Soliyanto; Kharisda Mueleni Waruwu
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 5 No. 2: Desember 2022
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v5i2.266

Abstract

Talking about the upcoming judgment is a mysterious thing that is certainly questioned by everyone, causing their own fears, some are not too curious and even most don't really know what the upcoming judgment will look like. As a result, different opinions have emerged in response to this. In the Old and New Testament Bibles it is written how God gives a picture of the judgment. Thus, this article attempts to examine theologically the upcoming judgments found in the Old to New Testaments with the aim that people have a correct picture of the coming judgments. Researchers use descriptive analytical methods to explain the concept of judgment in the Old Testament, and the concept of judgment in the New Testament. In this study, it is a reflection that the judgment that occurs is inseparable from how God relates to His creation, all will experience both the living and the just dead and the person who does so is God Himself. Thus, man needs to maintain the sanctity of life, make the word the center of life, keep hope in Jesus and carry out the Great Commission until thetime of judgment comes.Keywords: bible; judgment; new testament; old testament AbstrakBerbicara mengenai penghakiman yang akan datang merupakan suatu hal yang misterius yang tentunya dipertanyakan oleh setiap orang sehingga menimbulkan ketakutan tersendiri, ada pula yang tidak terlalu ingin tahu bahkan sebagian besar tidak terlalu spesifik tahu seperti apa kelak penghakiman yang akan datang itu. Akibatnya muncul berbagai pendapat yang berbeda-beda dalam menanggapi hal demikian. Dalam Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru telah tertulis bagaimana Allah memberikan gambaran kelak mengenai penghakiman itu. Dengan itu, artikel ini mencoba mengkaji secara teologi penghakiman yang akan datang yang terdapat dalam Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru dengan tujuan agar umat memiliki gambaran yang benar akan penghakiman yang akan datang. Peneliti menggunakan metode deskriptif analitik untuk memaparkan konsep penghakiman dalam Perjanjian Lama, dan konsep penghakiman dalam Perjanjian Baru. Dalam kajian ini mendapatkan sebuah refleksi bahwa penghakiman yang terjadi tidak terlepas dari bagaimana hubungan Allah dengan ciptaan-Nya, semua akan mengalami baik yang hidup maupun yang telah mati secara adil dan oknum yang melakukannya ialah Allah sendiri. Dengan itu, manusia perlu menjaga kekudusan hidup, menjadikan firman sebagai pusat hidup, tetap berpengharapan pada Yesus dan melaksanakan Amanat Agung hingga waktunya penghakiman itu tiba.Kata kunci: alkitab; penghakiman; perjanjian baru; perjanjian lama