cover
Contact Name
Jabes Pasaribu
Contact Email
jabespasaribu@institutkristenrealbatam.ac.id
Phone
+6285372472039
Journal Mail Official
kampuslppm@gmail.com
Editorial Address
Komplek House Of Glory, Eden Park. Jalan Ahmad Yani, Taman Baloi, 29432 Batam
Location
Kota batam,
Kepulauan riau
INDONESIA
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika
ISSN : 26853515     EISSN : 26853485     DOI : https://doi.org/10.53547/775swq73
Core Subject :
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika is an open-access, peer-reviewed, and nationally accredited journal managed and published by Institut Agama Kristen REAL Batam, Riau Islands, Indonesia. The journal is registered under ISSN 2685-3485 (online) and ISSN 2685-3515 (print) and publishes articles in both Indonesian and English. The primary focus of DIEGESIS is Pentecostal-Charismatic theology, approached from academic, interdisciplinary, and contextual perspectives. Its scope includes biblical and hermeneutical studies, church history, spirituality, and the relationship between theology and issues of society, culture, Christian education, psychology, and religions. DIEGESIS is nationally accredited at SINTA 2 level (Decree No. 295/C/C3/KPT/2026) for the 2025–2029 period. It is published twice a year, in June and December, and welcomes contributions from academics and theological practitioners, both nationally and internationally. All manuscripts that meet the submission requirements are evaluated by expert reviewers through a double-blind review process.
Arjuna Subject : -
Articles 85 Documents
Implikasi Paralelisme Janus dalam Filipi 3:9 Bagi Iman Percaya Masa Kini Candra Gunawan Marisi
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 5 No. 2: Desember 2022
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v5i2.267

Abstract

Paul is a great writer. As a Pharisee is undoubtedly his skill as an interpreter and writer with the semistic style seen in parts of his writings. The basic point for understanding the epistles, however, is that in the Jewish and Pharisee backgrounds it remained an integral part of Paul. His identity as a Jew and his concern for his nation's heritage provide one side of dialogue that continues throughout the letter, an arch that runs back and forth across patterns. Likewise, in Paul's writings in Philippians 3:9, there is a central point of Paul's belief in God's justification. This research was conducted using a qualitative method with a semantic analysis approach, namely with the literary style of Janus parallelism and the polysemy parallelism approach to texts. There is a literary style of Janus's parallelism in Paul's writing style in Philippians 3:9. Through this method of parallelism Janus can look deeper into the meaning written by Paul of "the justification of God through the Faithfulness of Christ." This verse has similarities with what Paul wrote in Romans 1:17 and Galatians 2:16 and 3:11 regarding the believer's justification first of all because of "Christ's faithfulness" until death even to death on the cross. Paul had a firm conviction that believers are justified not because of the law, but believers are justified because of Christ's faithfulness which is the righteousness that God bestows upon believers.Keywords: janus parallelism; polysemy parelelism; Paul; pistis; Philippian’s letter AbstrakPaulus merupakan seorang penulis yang handal. Sebagai seorang Farisi tidak diragukan lagi keahliannya sebagai penafsir dan penulis dengan gaya semistik yang terlihat dalam bagian-bagian tulisannya. Poin dasar untuk pemahaman tentang surat-surat itu, bagaimanapun, adalah bahwa di latar belakang Yahudi dan Farisi tetap menjadi bagian integral dari Paulus. Identitas dirinya sebagai seorang Yahudi dan kepeduliannya terhadap warisan bangsanya memberikan satu sisi dialog yang berlanjut di seluruh surat, lengkungan yang berjalan bolak-balik di seluruh pola. Demikian juga terlihat dalam tulisan Paulus di surat Filipi 3:9 terdapat pusat keyakinan Paulus terhadap pembenaran Allah. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif dengan pendekatan analisa semantik, yakni dengan gaya sastra paralelisme Janus dan pendekatan paralelisme polisemi terhadap teks. Terdapat gaya sastra paralelisme Janus pada gaya penulisan Paulus dalam teks Filipi 3:9. Melalui metode paralelisme Janus ini dapat melihat lebih dalam kepada makna yang dituliskan oleh Paulus tentang “pembenaran Allah melalui Kesetiaan Kristus.” Ayat ini memiliki kesamaan dengan apa yang Paulus tuliskan di dalam Roma 1:17 dan Galatia 2:16 dan 3:11 mengenai pembenaran orang percaya pertama-tama adalah karena “kesetiaan Kristus” sampai mati bahkan sampai mati di kayu salib. Paulus memiliki keyakinan yang teguh bahwa orang percaya dibenarkan bukan karena melakukan hukum Taurat, melainkan orang percaya dibenarkan karena kesetiaan Kristus yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan kepada orang percaya.Kata kunci: paralelisme janus; parelelisme polisemi; Paulus; pistis; surat filipi
Cara Pandang Kaum Pentakostal Mencermati Pelayanan Petrus Sang Tokoh Kontraversi Kosma Manurung
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 5 No. 2: Desember 2022
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v5i2.270

Abstract

For the Pentecostals, Peter's life was always interesting to observe. Peter, who was originally just a fisherman, usually fished, but his encounter with God turned him into a fisher of men. In addition, there were various supernatural events that Peter saw and experienced in his life. One of the interesting events to study that occurred in Peter's ministry, is presented very nicely in Acts 9:32-43 which the researcher then makes the purpose of this article by framing it from the perspective of the Pentecostals. The use of the method of description and support from literature review is expected to provide a clear, accurate, and adequate picture of the story of Peter's life and ministry, an overview of the story of Peter's ministry in the passage of Acts 9:32-34, and the perspective of the Pentecostals regarding this story. For the Pentecostals this story of Peter's enrichment provides an example in leadership and ministry, a life filled with God's supernatural powers, the importance of doing good to others, and a mandatory choice to live in a community of believers.Keywords: spiritual community; Peter's ministry; Pentecostal Theology AbstrakBagi kaum Pentakostal, kehidupan Petrus selalu menarik untuk dicermati. Petrus yang awalnya hanya seorang nelayan yang biasanya menjala ikan, namun pertemuannya dengan Tuhan merubahnya menjadi penjala manusia. Selain itu, ada berbagai peristiwa supranatural yang Petrus lihat dan alami dalam hidupnya. Salah satu peristiwa menarik untuk dikaji yang terjadi dalam pelayanan Petrus, disuguhkan dengan sangat apik dalam Kisah Para Rasul 9:32-43 yang kemudian peneliti jadikan tujuan dalam artikel ini dengan membingkainya dari cara pandang kaum Pentakostal. Penggunaan metode deskripsi dan dukungan dari kajian literatur diharapkan bisa memberikan gambaran yang jelas, cermat, dan memadai terkait selayang pandang kisah hidup dan pelayanan Petrus, gambaran kisah pelayanan Petrus dalam perikop Kisah Para Rasul 9:32-34, dan cara pandang kaum Pentakostal terkait kisah ini. Bagi kaum Pentakostal kisah pelayaan Petrus ini memberikan keteladanan dalam kepemimpinan maupun pelayanan, adanya kehidupan yang dipenuhi kuasa supranatural Allah, pentingnya berbuat baik kepada sesama, dan pilihan wajib untuk hidup dalam komunitas orang percaya.Kata kunci: komunitas rohani; pelayanan Petrus; teologi pentakostal
Keterikatan Pengambilan Keputusan, Konsistensi Sifat-Sifat Bijak dan Evaluasi Karakter dalam Pembentukan Integritas (Paralelisme Amsal 28:6; 19:1) Farel Yosua Sualang
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 6 No. 1: Juni 2023
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v6i1.378

Abstract

The groups of Proverbs 10-29 present a topical discussion, such as wealth, poverty, honesty, diligence, gentleness, etc. Proverbs 28:6; 19:1 speaks of the integrity of wise men who do not prioritize wealth. The problem is that interpreters limit the emphasis to elements essential to the formation of integrity in the assemblies of Proverbs 10-29, such as decision-making and character habituation. However, using a qualitative study of the sub-interpretive design of wisdom literature (especially considering the structure of parallelism, figurative language style), this article finds that there is an attachment between decision making, consistency in the nature of wisdom and character evaluation in the formation of integrity in a wise person. The attachment of these three elements is due to the existence of the wording pattern of item-evaluation and the character of the evaluation of parallelism Proverbs 28:6; 19:1.Keywords: Integrity; Parallelism; Book of Proverbs AbstrakKumpulan-kumpulan Amsal 10-29 menyuguhkan suatu pembahasan secara topikal, misalnya mengenai kekayaan, kemiskinan, kejujuran, ketekunan, kelemahlembutan, dll. Tidak terkecuali mengenai topik integritas, Amsal 28:6;19:1 membahas mengenai integritas dari orang bijak yang tidak mengutamakan harta kekayaan. Permasalahannya, para penafsir hanya membatasi penekanan elemem-elemen penting dalam pembentukan integritas dalam kumpulan-kumpulan Amsal 10-29, misalnya pengambilan keputusan dan pembiasaan karakter. Akan tetapi, dengan menggunakan kajian kualitatif sub interpretative design sastra hikmat (khususnya memperhatikan struktur paralelisme, gaya bahasa kiasan), artikel ini menemukan bahwa adanya keterikatan antara pengambilan keputusan, konsistensi pada sifat-sifat hikmat dan evaluasi karakter dalam pembentukan integritas pada seseorang yang bijak. Keterikatan ketiga elemen ini disebabkan oleh adanya pola perkataan item-evaluasi dan karakter evaluasi terhadap paralelisme Amsal 28:6; 19:1.Kata Kunci: Integritas; Paralelisme; Kitab Amsal.
PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH: Diajukan Sebagai Model Kajian Alkitab dalam Ibadah Keluarga Fredrik Warwer
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 6 No. 1: Juni 2023
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v6i1.384

Abstract

Problem-based learning can improve conceptual understanding and constructive thinking. This research aims to develop a problem-based learning model design and an ideal family or cell group worship design. Family worship or cell group worship is a worship that is carried out regularly once a week. This research was conducted at the Smirna GKII Sentani Papua Congregation, qualitative, data collection was carried out through observation and review of articles. The problem-based learning model developed consists of six stages, namely determining the problem; problem analysis; information retrieval; synthesis of knowledge; conclusion and evaluation of the problem-solving process; as well as evaluation of activities. The worship design developed includes leading praise and opening prayers (initial activities), prayers, preaching God's Word, devotionals (core activities), intercessory prayers and offerings, concluding (final activities). The problem-based learning model is carried out on the core activities and the problems discussed are raised from the bible passages read. During the process of core activities, church members play an active role in discussions, expressing opinions, explore Bible passages related to the problems discussed, providing solutions to problems appropriately based on Bible verses. This model is expected to be used as an alternative model in the implementation of family worship or cell groups, because it can empower congregation members.Keywords: Problem Based Learning Model; Smirna GKII Sentani Chruch; Worship; JonahAbstrakPembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan pemahaman konseptual dan pemikiran konstruktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan desain model pembelajaran berbasis masalah dan desain ibadah keluarga atau kelompok sel yang ideal. Ibadah keluarga atau kelompok sel dimaksud merupakan ibadah yang dilakukan secara rutin satu kali dalam seminggu. Penelitian ini dilakukan di Jemaat Smirna GKII Sentani Papua, bersifat kualitatif, pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan review artikel. Model pembelajaran berbasis masalah yang dikembangkan terdiri dari enam tahap, yaitu menentukan masalah; analisis masalah; penelusuran informasi; sintesis pengetahuan; kesimpulan dan evaluasi proses pemecahan masalah; serta evaluasi kegiatan. Desain ibadah yang dikembangkan meliputi memimpin pujian dan doa pembukaan (kegiatan awal), doa, pemberitaan Firman Tuhan, renungan (kegiatan inti), doa syafaat dan persembahan, penutup (kegiatan akhir). Model pembelajaran berbasis masalah dilakukan pada kegiatan inti dan masalah yang dibahas diangkat dari bagian Alkitab yang dibaca. Selama proses kegiatan inti berlangsung, anggota jemaat berperan aktif dalam diskusi, mengemukakan pendapat, melakukan penelusuran bagian alkitab yang terkait dengan masalah yang dibahas, memberikan solusi terhadap masalah dengan tepat berdasarkan ayat Alkitab. Model ini diharapkan dapat dijadikan alternatif model dalam pelaksanaan ibadah keluarga atau kelompok sel, karena dapat memberdayakan anggota jemaat.Kata kunci: Model Pembelajaran Berbasis Masalah; Jemaat Smirna GKII Sentani; Ibadah; Yunus
GERONTEOLOGI PANTEKOSTA: Manusia Lanjut Usia sebagai Subjek Diakonia Sosial Elia Tambunan
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 6 No. 1: Juni 2023
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v6i1.385

Abstract

Indisputable, by remembering Pantecost, the association formed in the minds of academics is the doctrinal "drama" of the church that is infatuated with the strange manifestations of the Holy Spirit. Not many have considered that there is an academic reason to say, in the capacity possessed by Pentecostals according to their respective zones, they contribute socially to local communities. This paper answers how to humanize humans. With qualitative research by reading Pentecostal literature as a primary source, and interviewing many pastors, it is clear that the empirical data is true that there is Pantecostal gerontheology. Until now, these people are struggling to make adults the subject of social diakonia. Pantecostals represents the church's social responsibility to humans which is rightly seen as one of the social ways the church is present in the public arena so that they live a more dignified life.Keywords: Social Diakonia; Gerontheology; Elders; Pantecost. AbstrakSulit untuk dibantah, dengan hanya mengingat Pantekosta, maka asosiasi yang terbentuk di nalar akademisi ialah “drama” doktrinal gereja yang tergila-gila dengan manifestasi Roh Kudus yang ganjil. Tak banyak yang memperhatikan ada alasan akademis untuk mengatakan, dalam kapasitas yang dimiliki oleh kaum Pantekosta sesuai dengan zona masing-masing, mereka berkontribusi sosial kepada masyarakat lokal. Tulisan ini menjawab bagaimana memanusiakan manusia usia lanjut? Dengan penelitian kualitatif lewat membaca literatur Pantekosta sebagai sumber primer, dan mewancarai sejumlah pendeta terlihat data empiris benar ada geronteologi Pantekosta. Hingga sekarang, kaum ini terus bergulat untuk menjadikan orang dewasa sebagai subjek diakonia sosial. Pantekosta merepresentasikan tanggung jawab sosial gereja kepada manusia yang tepat dilihat sebagai salah satu cara sosial menggereja hadir di arena publik agar mereka hidup lebih bermartabat.Kata kunci: Diakonia Sosial; Geronteologi; Manula; Pantekosta.
Analisa Narasi Yehovah Shalom dalam Repetisi Perkataan Tuhan Kepada Gideon Berdasarkan Hakim-Hakim 6:11-24 Andris Kiamani; Aska Pattinaja
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 6 No. 2: Desember 2023
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v6i2.438

Abstract

Judges 6:11-24 contains the life story of Gideon who was chosen by God to judge Israel. In researching this story, there is a special emphasis given by Gideon in response to God's call, by calling Yehovah Shalom. Many studies discuss the story of Gideon only in the context of its thematic structure in Gideon's encounter with God and ignore the deepening of the narrative meaning of Jehovah Shalom, which correlates with the repetition of God's words to Gideon. For this reason, this article is written based on qualitative research with a literature study in a hermeneutic approach, to analyze the narrative of Jehovah Shalom in the repetition of God's words to Gideon. This article finds that there are five important meanings, namely: First, Gideon believed that only God could save the Israelites from the Midianites; Second, Gideon believed that only God could restore the condition of the Israelites that was destroyed due to the colonization of the Midianites; Third, Gideon believed that only God could bless the Israelites so that they would experience prosperity from every poverty; Fourth, Gideon believed that only God could give peace to the Israelites so that Israel could return to a quiet, safe and peaceful life; and Fifth, Gideon believed that only God could choose and call him and give him the strength to be a judge over Israel.Keywords: judges; gideon; repetition; jehovah shalomAbstrakHakim-Hakim 6:11-24 berisi kisah hidup Gideon yang diplih oleh Tuhan untuk menjadi hakim atas Israel. Dalam meneliti tentang kisah ini, ada penekanan khusus yang diberikan oleh Gideon sebagai respon terhadap panggilan Tuhan, dengan menyebut Yehovah Shalom. Banyak penelitian yang membahas kisah Gideon hanya dalam konteks struktur tematisnya dalam perjumpaan Gideon dengan Tuhan dan mengabaikan pendalaman makna narasi Yehovah Shalom, yang berkorelasi dengan repetisi perkataan Tuhan terhadap Gideon. Untuk itulah artikel ini ditulis berdasarkan, penelitian kualitatif dengan studi literatur dalam pendekatan hermeneutik, untuk menganalisa narasi Yehovah Shalom dalam repetisi perkataan Tuhan kepada Gideon. Artikel ini menemukan, ada lima arti penting, yaitu: pertama, Gideon percaya hanya Tuhan yang sanggup menyelamatkan bangsa Israel dari bangsa Midian; kedua, Gideon percaya hanya Tuhan yang dapat memulihkan kondisi bangsa Israel yang hancur akibat penjajahan bangsa Midian; ketiga, Gideon percaya hanya Tuhan yang dapat memberkati bangsa Israel sehingga mengalami kemakmuran dari setiap kemelaratan; keempat, Gideon percaya hanya Tuhan yang dapat memberikan damai sejahtera atas bangsa Israel sehingga Israel dapat kembali hidup tenang, aman dan damai; dan kelima, Gideon percaya hanya Tuhan yang sanggup memilih dan memanggil dirinya serta memberikan kekuatan untuk dapat menjadi hakim atas Israel.Kata Kunci: hakim-hakim; gideon; repetisi; yehovah shalom
Mendesak Peran Aktif Gereja Merawat Ekosistem Laut: Sebuah Pelajaran Penting Dari Masyarakat Marao Biak Godfried San Ferre; Jois Yohanes Rumansara
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 6 No. 2: Desember 2023
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v6i2.443

Abstract

The Marao community in Biak Numfor Regency, Papua, faces severe challenges in managing marine ecosystems. The community's lack of knowledge about marine ecosystem management means that human activities in the sea that violate environmental ethics worsen conditions, threatening marine ecosystems and the quality of the coastal environment. This research examines the church's active role in caring for aquatic ecosystems in Marao village, Biak. A qualitative method with a case study approach was used to analyse the church's active role in protecting the marine environment. The results showed that community-based marine resource management involves active community participation in ecosystem protection. In Marao, the community applies the Sasi tradition to regulate the use of natural resources. This practice consists of prohibiting fishing or using destructive fishing gear for a certain period, allowing the marine ecosystem to recover and fish resources to be sustainable. The church plays an active role in introducing environmental ethics to the community, although it has not yet fully integrated the teachings in its programmes. The application of ethical-theological values influences the perception and responsibility of the Marao community in caring for the marine ecosystem, emphasising that nature is the work of God and thus a moral obligation and calling as believers in the God of man in maintaining the balance of the ecosystem.Keywords: active role of the church; marine ecosystem; marao biak communityAbstrakMasyarakat Marao di Kabupaten Biak Numfor, Papua yang menghadapi tantangan serius dalam mengelola ekosistem laut. Pengetahuan masyarakat yang minim tentang pengelolaan ekosistem laut sehingga aktivitas manusia di laut yang melanggar etika lingkungan memperburuk kondisi, mengancam ekosistem laut dan kualitas lingkungan pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran aktif gereja merawat ekosistem laut di kampung Marao, Biak. Metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus digunakan untuk menganalisis peran aktif gereja dalam menjaga lingkungan laut. Hasil penelitian menunjukkan pengelolaan sumber daya laut berbasis masyarakat melibatkan partisipasi aktif masyarakat dalam melindungi ekosistem. Di Marao, masyarakat menerapkan tradisi Sasi untuk mengatur penggunaan sumber daya alam. Praktik ini melibatkan pelarangan penangkapan ikan atau penggunaan alat tangkap merusak selama periode tertentu, memungkinkan ekosistem laut pulih dan sumber daya ikan berkelanjutan. Gereja menjalankan peran secara aktif dalam mengenalkan etika lingkungan kepada masyarakat, meskipun belum sepenuhnya mengintegrasikan ajaran tersebut dalam programnya. Pengaplikasian nilai etis-teologi memengaruhi persepsi dan tanggung jawab masyarakat Marao dalam merawat ekosistem laut yang menekankan bahwa alam adalah karya Tuhan sehingga menjadi tanggung jawab dan panggilan moral sebagai umat yang beriman kepada Tuhan manusia dalam menjaga keseimbangan ekosistem.Kata Kunci: peran aktif gereja; ekosistem laut; masyarakat marao biak
Kehilangan Hutan, Kehilangan Masa Depan: Krisis Ekologi Dalam Pendekatan Biblis Fredrik Warwer; Yakob Godlif Malatuny; Santy Layan
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 7 No. 1: Juni 2024
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v7i1.446

Abstract

The destruction of forests in Indonesia has resulted in disasters and threatens the future of humanity on earth. Using forests for personal interests is an action that humans should prohibit. Theological reflection or Christian perspective studies are needed to encourage a contemplative approach to forests. This paper aims to examine the issue of ecological crisis in Indonesia with a biblical approach. A qualitative methodology of literature review approach is used in this article. The research reveals that deforestation continues to be the most significant form of land degradation in Indonesia. Although the Central Bureau of Statistics reported a substantial decrease in deforestation in Indonesia from 2019 to 2020, the country lost 213 million hectares of forest, equivalent to 3.5 times the size of Bali Island, between 2015 and 2020. Therefore, eco theology seeks to critique the Christian tradition to raise public awareness of the ecological crisis and not just concern for the environment. Awareness of forest sustainability should be instilled in the younger generation through planting programs to develop a sense of belonging, appreciation, and responsibility for the forest. This is an expression of gratitude to the Owner, God, while at the same time showing love to others and ensuring the preservation of the planet for future generations. Keywords: Forest Loss, Future Loss, Ecological Crisis, Biblical ApproachKeywords: forest los; future loss; ecological crisis; biblical approach Abstrak Kerusakan hutan di Indonesia mengakibatkan bencana dan mengancam masa depan umat manusia di muka bumi. Pemanfaatan hutan untuk kepentingan pribadi adalah tindakan yang seharusnya dilarang oleh manusia. Dibutuhkan refleksi teologi atau kajian perspektif Kristen untuk mendorong pendekatan kontemplatif terhadap hutan. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji persoalan krisis ekologi di Indonesia dengan pendekatan biblis. Metodologi kualitatif pendekatan tinjauan literatur digunakan dalam artikel ini. Penelitian ini mengungkapkan bahwa deforestasi terus menjadi bentuk degradasi lahan yang paling signifikan di Indonesia. Meskipun Badan Pusat Statistik melaporkan penurunan deforestasi yang signifikan di Indonesia dari tahun 2019 hingga 2020, kenyataannya negara ini kehilangan 213 juta hektar hutan, atau setara dengan 3,5 kali luas Pulau Bali, antara tahun 2015 dan 2020. Oleh karena itu, ekoteologi berusaha untuk mengkritik tradisi Kristen untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang krisis ekologi, dan bukan hanya sekedar kepedulian terhadap lingkungan. Kesadaran akan kelestarian hutan harus ditanamkan kepada generasi muda melalui program penanaman, sehingga mereka dapat mengembangkan rasa memiliki, menghargai, dan bertanggung jawab terhadap hutan. Hal ini merupakan ungkapan rasa syukur kepada Sang Pemilik, Tuhan, dan sekaligus menunjukkan rasa cinta kasih kepada sesama, serta memastikan kelestarian planet ini untuk generasi mendatang.Kata Kunci: kehilangan hutan; kehilangan masa depan; krisis ekologi; pendekatan biblis
Model Transformasi Terhadap Budaya Sunda Cageur, Bageur, Bener, Pinter jeung Singer Jellia Puspa Purnama; Yanto Paulus Hermanto
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 7 No. 1: Juni 2024
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v7i1.460

Abstract

The Sundanese culture, known as cageur, bageur, bener, pinter, jeung singer, also referred to as Gapura Panca Waluya, is deeply ingrained in the life of the Sundanese community. Unfortunately, Christianity is often perceived as a religion that opposes culture, even compelling individuals to abandon their native traditions. This perception arises because Christianity was introduced to Sundanese lands by European missionaries, who were associated with colonialism, making conversion to Christianity seem like adopting the religion of the colonizers. Through this research, the author aims to answer how the model of transformation for the Sundanese values of cageur, bageur, bener, pinter, jeung singer can be achieved without opposing them but by transforming the existing understanding to help Sundanese Christians experiencing these cultural values. The data collection and analysis technique employed is a literature review. Through this research, the author hopes to ensure that the Gospel can remain relevant and contextual, especially for the Sundanese community, as God uses culture to communicate His plans and wills. Keywords: Sunda; cageur; bener; pinter; bageurAbstrak Budaya Sunda yaitu cageur, bageur, bener, pinter jeung singer, disebut juga dengan Gapura Panca Waluya merupakan budaya yang melekat dalam kehidupan masyarakat Sunda. Sayangnya, kekristenan dianggap sebagai agama yang menentang budaya, bahkan dianggap memaksa seorang untuk meninggalkan budaya asal. Ini disebabkan oleh karena agama Kristen dibawa ke tanah Sunda melalui para misionaris Eropa yang identik dengan penjajah, sehingga memeluk agama Kristen dianggap memeluk agama penjajah. Lewat penelitian ini, penulis bertujuan ingin menjawab bagaimana model transformasi terhadap budaya Sunda cageur, bageur, bener, pinter jeung singer dengan tidak perlu menentang, namun mentransformasikan pengertian yang ada untuk menolong masyarakat Sunda Kristen mengalami nilai budaya tersebut. Adapun teknik pengumpulan dan analisa data menggunakan kajian literatur. Lewat penelitian ini, penulis berharap agar Injil bisa tetap menjadi relevan dan konstekstual khususnya bagi masyarakat Sunda, sebab Allah memakai budaya untuk mengkomunikasikan rencana dan kehendakNya.Kata Kunci: Sunda; cageur; bener; pinter; bageur
Debora Dan Kepemimpinan Perempuan Dalam Konteks Indonesia Rolin Ferdilianto Sandelgus Taneo
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 7 No. 1: Juni 2024
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v7i1.472

Abstract

Women are not actually second class citizens in society.  Women can actually lead too.  However, public awareness of choosing women is still low.  Moreover, in the Indonesian political calendar, in 2024 Indonesia will elect leaders both above the executive and legislative branches.  This article is intended to find out the causes of women’s minimal involvement in the Indonesian political arena.  After that, this article will also show the role of women in leading.  This context will be put into dialogue with the story of Deborah in the Bible, who was also a successful female leader.  The result of this dialogue is to provide a leadership perspective that is not gender biased.  The building in this paper uses the literature method, namely by looking at literature that specifically discusses the two topics that are currently in the spotlight, namely the role of Deborah and the contribution of Indonesian women in leading. Keywords: Deborah; women; leadersAbstrakPerempuan sesungguhnya bukan warga kelas dua dalam masyarakat. Perempuan juga sebenarnya bisa memimpin. Hanya saja, kesadaran publik untuk memilih perempuan masih rendah. Apalagi dalam kalender politik Indonesia, tahun 2024 ini Indonesia akan memilih pemimpin baik di atas eksekutif maupun legislatif. Adanya tulisan ini dimaksudkan untuk mencari tahu penyebab keterlibatan perempuan yang minim di arena politik Indonesia. Setelah itu, tulisan ini juga akan menampilkan tentang bagaimana peran perempuan dalam memimpin. Konteks ini akan didialogkan  dengan kisah Debora dalam Alkitab yang juga adalah pemimpin perempuan yang berhasil. Hasil dialog ini yakni memberi suatu perspektif kepemimpinan yang tidak bias gender. Bangunan dalam tulisan ini menggunakan metode kepustakaan yaitu dengan melihat literatur-literatur yang secara khusus membahas kedua topik yang sementara menjadi sorotannya yaitu peran Debora dan kontribusi perempuan Indonesia dalam memimpin.Kata Kunci: Debora; perempuan; pemimpin