cover
Contact Name
Rahmat Gaho
Contact Email
jtpa.wahanapublikasi@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jtpa.wahanapublikasi@gmail.com
Editorial Address
Jl. Terompong, Sumerta Kelod, Denpasar Timur, Kota Denpasar, Bali 80239, Indonesia
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Journal of Theory and Practice in Arts
Published by CV Wahana Publikasi
ISSN : 31647790     EISSN : 31647804     DOI : 10.59011/jtpa
Core Subject :
Journal of Theory and Practice in Arts is a scientific journal that publishes research findings, theoretical studies, critical analyses, and creative practices in the field of arts. This journal serves as an academic platform for researchers, academics, practitioners, and artists to disseminate innovative ideas related to visual arts, performing arts, music, dance, theatre, design, creative media, as well as interdisciplinary studies in arts and culture. The journal focuses on the development of art theory, artistic practices, art education, art criticism, aesthetics, visual culture, and the application of arts within social and technological contexts. Through a multidisciplinary approach, the journal aims to strengthen the contribution of arts scholarship to the advancement of knowledge, creativity, and cultural transformation at both local and global levels. Journal of Theory and Practice in Arts is published periodically and accepts original articles that have not been previously published. All submitted articles undergo a peer-review process to ensure academic quality, originality, and scholarly relevance.
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Analisis Musikologis Komposisi Passionflower Karya Jon Gomm: Pemberdayaan Elemen Musikal dan Teknik Fingerstyle dalam Gitar Akustik Kontemporer Augusto Diego Van Join Jangin; Perry Rumengan; R. A. Dinar Sri Hartati
Journal of Theory and Practice in Arts Vol. 1 No. 1 (2026)
Publisher : CV Wahana Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan fungsi musik dalam peribadatan Anak Sekolah Minggu di Jemaat GMIM Sion Tempang Wilayah Langowan II, Kabupaten Minahasa, dengan memperhatikan bentuk musik, penggunaan instrumen, pola penyajian, posisi dalam liturgi, serta kontribusinya terhadap keterlibatan, pengalaman emosional, pemahaman iman, dan spiritualitas anak. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang dilaksanakan pada Agustus–September 2025. Informan terdiri atas seorang pembina Sekolah Minggu dan 10–15 anak yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dokumentasi, dan perekaman audio-visual, kemudian dianalisis melalui reduksi data, pengodean, pengelompokan tema, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan memadukan perspektif psikologi musik dan teologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa musik memiliki fungsi multidimensional dalam peribadatan anak, meliputi fungsi pengiring, pengatur kegiatan ibadah, pembentuk suasana, emosional, sosial, pedagogis, dan spiritual. Lagu dengan melodi sederhana, ritme mudah diikuti, tempo yang sesuai, serta lirik yang dipahami anak cenderung meningkatkan partisipasi dan antusiasme. Penggunaan keyboard membantu menjaga tempo, menyediakan dasar harmonis, dan mengarahkan jalannya puji-pujian. Musik juga membantu anak memahami pesan iman melalui pengulangan lirik serta memberikan ruang bagi ekspresi emosional, interaksi sosial, dan pengalaman spiritual. Penelitian menyimpulkan bahwa pengelolaan musik yang sesuai dengan karakteristik perkembangan anak dapat mendukung terciptanya ibadah yang partisipatif, edukatif, dan bermakna.
Analisis Akord Substitusi dan Tensi Akord dalam Lagu Pure Imagination Aransemen Miguel Granada Ekleisio Fralvi Jonan Ruru; Perry Rumengan; R. A. Dinar Sri Hartati
Journal of Theory and Practice in Arts Vol. 1 No. 2 (2026)
Publisher : CV Wahana Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk substitusi akord, karakteristik tensi harmonik, serta hubungan antara substitusi akord dan pembentukan alur tensi–resolusi dalam aransemen Pure Imagination karya Leslie Bricusse dan Anthony Newley oleh Miguel Granada. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis. Data primer berupa partitur atau transkripsi aransemen Granada, sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur mengenai harmoni jazz, substitusi akord, reharmonisasi, konsonansi-disonansi, dan tensi musikal. Analisis dilakukan melalui identifikasi progresi akord, klasifikasi teknik substitusi, analisis tensi berdasarkan disonansi, tonal distance, voice leading, hierarchical tension, fungsi harmonik, dan kecenderungan resolusi, serta interpretasi hubungan tensi dan resolusi. Hasil penelitian menunjukkan 68 penggunaan substitusi harmonik yang terdiri atas Chord Enrichment (15), Common Tone Substitution (12), Chromatic Chord Enrichment (11), Modal Interchange (9), Secondary Dominant (8), Tritone Substitution (7), dan Diminished Substitution (6). Chord Enrichment dan Common Tone Substitution terutama berfungsi memperkaya warna sonoritas dengan mempertahankan kontinuitas tonal, sedangkan Chromatic Enrichment, Secondary Dominant, Tritone Substitution, Diminished Substitution, dan Modal Interchange meningkatkan kompleksitas serta tensi harmonik. Pemetaan tensi memperlihatkan pola 2–3–4–5–2, yaitu peningkatan dari Intro menuju Development sebagai puncak tensi, kemudian kembali menuju stabilitas pada Resolution. Temuan ini menunjukkan bahwa substitusi akord dalam aransemen Granada berfungsi sebagai strategi pengelolaan warna harmonik, ekspektasi, tensi, voice leading, dan resolusi musikal secara terpadu.
The Role of Gospel Music in Enhancing Congregational Participation and Spiritual Experience at Gereja Gerakan Pentakosta Batu Karang Sejati Bitung Josua Natanael Sumigar; Glenie Latuni; R. A. Dinar Sri Hartati
Journal of Theory and Practice in Arts Vol. 1 No. 3 (2026)
Publisher : CV Wahana Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study examines the role of gospel music arrangements in enhancing congregational participation and spiritual experiences during Pentecostal worship at Gereja Gerakan Pentakosta Batu Karang Sejati Bitung, North Sulawesi. The study employed a descriptive qualitative approach to explore congregants’ experiences, perceptions, behaviors, and responses to gospel music in a natural worship context. Data were collected through observations, semi-structured interviews with 20 congregants and the church pastor, and documentation of worship activities. The data were analyzed through data condensation, data display, and conclusion drawing and verification. The findings indicate that gospel arrangements positively influenced the worship atmosphere and congregational participation. Although the songs and lyrics remained unchanged, modifications in rhythm, tempo, harmony, dynamics, vocal expression, and musical interaction created a livelier, warmer, and more expressive worship environment. Congregants demonstrated increased participation through active singing, clapping, hand raising, bodily movement, and responses to worship leaders. Younger congregants showed particularly positive responses, perceiving gospel music as energetic, creative, and relevant to their musical preferences. Gospel music also supported emotional and spiritual experiences, including greater enthusiasm, joy, peace, attentiveness, personal reflection, and feelings of closeness to God. However, respondents emphasized that music functions as a supporting medium rather than the sole determinant of spiritual experience, which remains influenced by personal faith and spiritual readiness. The study concludes that gospel music can function as an affective, participatory, social, and spiritual resource in Pentecostal worship when implemented with appropriate musical competence, coordination, expressive performance, and spiritual orientation.
Live Music as a Visitor Experience and Attraction at DoubleD Manado Café Loria Maindoka; Sri Sunarmi; Luccylle Manina Takalumang
Journal of Theory and Practice in Arts Vol. 1 No. 1 (2026)
Publisher : CV Wahana Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study examines the implementation of live music at DoubleD Café Manado and its relationship to visitor responses, engagement, and experiences. Live music in cafés is increasingly recognized not merely as entertainment but as an element of the servicescape that contributes to atmosphere and customer experience. This study employed a descriptive qualitative approach to obtain an in-depth understanding of the phenomenon in its natural setting. The research was conducted at DoubleD Café, Sario Kota Baru, Manado, North Sulawesi, Indonesia, over four months. Data were collected through direct observation, semi-structured interviews, literature review, documentation, and audiovisual recording. The participants consisted of seven informants, including the café owner and six visitors. Data were analyzed through data reduction, data display, conclusion drawing and verification, supported by thematic analysis. The findings indicate that live music is regularly performed every two weeks on Saturday evenings for approximately five hours, featuring local musicians and genres such as pop, acoustic, and indie music. The performances are supported by adequate sound equipment, lighting, stage arrangements, and a semi-outdoor setting with Japandi-style decoration. Visitors, predominantly young people and university students, demonstrated active engagement through paying attention to performances, singing along, humming, expressing appreciation, interacting with companions, and remaining at the café until performances ended. The findings suggest that live music functions as entertainment, an atmosphere-creating element, and a visitor attraction that encourages engagement. From the Stimulus–Organism–Response perspective, live music and supporting environmental elements stimulate emotional and experiential responses that shape visitor behavior. Thus, integrating live music with physical environmental management can strengthen café identity, enhance visitor experiences, and potentially encourage satisfaction and revisit intentions.
Peran Pemimpin Pujian dalam Peribadatan di GPdI Karmel Tataaran 2 Patar Risel Jan Branth Pangkey; Franklin E. Dumais; Meyny S. C. Kaunang
Journal of Theory and Practice in Arts Vol. 1 No. 3 (2026)
Publisher : CV Wahana Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis dan mendeskripsikan peran pemimpin pujian dalam peribadatan di GPdI Karmel Tataaran 2 Patar, khususnya pada dimensi liturgis, musikal, komunikatif, sosial, dan spiritual. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian terdiri atas pemimpin pujian, anggota tim musik, dan jemaat yang dipilih secara purposif berdasarkan keterlibatan mereka dalam kegiatan peribadatan. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif-interpretatif melalui tahapan kondensasi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Keabsahan data diperoleh melalui triangulasi teknik dan sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemimpin pujian memiliki peran strategis yang melampaui aktivitas memimpin nyanyian. Pertama, pemimpin pujian berfungsi sebagai pengarah liturgi melalui pemilihan lagu, pengaturan urutan dan transisi, serta penjagaan kesinambungan rangkaian ibadah. Kedua, pemimpin pujian berperan sebagai komunikator rohani melalui pengantar, ajakan, dan peneguhan yang mendorong keterlibatan jemaat. Ketiga, pemimpin pujian menjadi penggerak partisipasi dengan membangun suasana ibadah yang komunikatif, akrab, dan sesuai dengan kondisi jemaat. Keempat, pemimpin pujian berfungsi sebagai pelayan spiritual yang membantu mengarahkan perhatian jemaat kepada Tuhan dan mendukung penghayatan iman. Efektivitas peran tersebut dipengaruhi oleh kompetensi musikal, komunikasi, kepemimpinan, pemahaman liturgi, kesiapan spiritual, serta koordinasi dengan tim musik. Penelitian menyimpulkan bahwa penguatan pelayanan pemimpin pujian memerlukan latihan, pembinaan spiritual, koordinasi, dan evaluasi berkelanjutan agar ibadah berlangsung tertib, partisipatif, kontekstual, dan bermakna.

Page 2 of 2 | Total Record : 15