cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Edutech
ISSN : 08521190     EISSN : 25020781     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Edutech adalah jurnal majalah ilmiah di Program Studi Teknologi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia yang terbit sebanyak tiga kali dalam setahun pada bulan Februari, Juni, dan Oktober. Semua artikel yang dikirim melalui proses peer review double blind dan ulasan editor sebelum di publikasikan.Jurnal Edutech atau kepanjangan dari Educational Technology ini menerima artikel tentang pendidikan, teknologi pendidikan dan komunikasi
Arjuna Subject : -
Articles 267 Documents
EDUCATION AS A PRODUCTION FUNCTION OF HUMAN RESOURCES Ahmad, Dedy
EDUTECH Vol 14, No 1 (2015): DINAMIKA PENDIDIKAN INDONESIA
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/edutech.v14i1.1292

Abstract

Abstrak. Manusia sebagai salah satu faktor produksi perlu mempunyai pengetahuan dan keterampilan untuk mampu melaksanakan rangkaian kegiatan yang berhubungan dengan sasaran dan tujuan yang ingin di capai oleh suatu organisasi/institusi. Pengetahuan dan keterampilan tersebut hanya akan diperoleh melalui suatu proses pendidikan.Pendekatan tingkat pengembalian dari hasil pendidikan (rate of return approach), mengungkap bahwa penghasilan orang berpendidikan berasal dari investasi pendidikan, dan karena nya menilai penghasilan dianggap sebagai produk pendidikan. Pendidikan merupakan sebuah proses produksi bagi sumber daya manusia yang mengharapkan untuk mempunyai bekal pengetahuan dan keterampilan untuk menunjang pertumbuhan perekonomian bagi bangsanya di masa yang akan datang. Metode Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif, dimana pembahasan kajian ini menggunakan bentuk desk study. Pendidikan dapat dipandang sebagai suatu fungsi produksi bagi pembangunan sumber daya manusia, karena dengan mengikuti proses pendidikan manusia akan mempunyai pengetahuan, keterampilan, dan keahlian sesuai dengan apa yang diharapkannya. Hal tersebut merupakan suatu investasi bagi diri manusia itu sendiri untuk dapat tumbuh dan berkembang secara totalitas dalam rangka pembangunan dalam berbagai aspek kepentingan hidup baik untuk pribadinya maupun secara nasional dan internasional.Kata Kunci : Fungsi Produksi, Pertumbuhan Ekonomi, dan Human Investment Abstract. As one of production factors, man has to manage to have knowledge and skills. That way, the power to accomplish a series of activities relating to aims and goals of an organization can be achieved. The knowledge and skills aformentioned are gained through a merely process of education. The rate of return approach as a result of the process reveals that an income of an educated man derives from educational institution, and therefore measuring one's income is considered as a product of education. A set of education proves to be a process of production fir human resources expecting to an entity of knowledge and skills to support economic growth for the nation in years to come.The method of this research is decription method.Keywords : Production Function, Economic Growth, Human Investment
TRANSFORMASI PEMBELAJARAN UNTUK MENCIPTAKAN PENGALAMAN PENGGUNAAN TIK MELALUI BLENDED LEARNING Rahmi, Ulfia; Azrul, Azrul
EDUTECH Vol 18, No 2 (2019)
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v18i2.16895

Abstract

This study aims to analyze the learning transformation process of future educators and education personnel through the application of blended learning as an effort to optimize the implementation of the ICT-based curriculum. The problem that occurs is the lack of relevance of the learning activities of prospective educators and education staff in higher education to current and future field conditions and needs. This research was conducted on 32 students who were enrolled in the Learning and Learning Theory course. Data were collected through: 1) observation of learning activities and assignments at each meeting, both in person and virtual, and 2) interviews with students who attended the lecture. Then the data were analyzed descriptively qualitatively. The results show that there is a transformation of learning for prospective educators and education staff through blended learning. Blended learning creates high learning interactivity so that prospective educators and education staff have learning experiences, especially using ICT as long as students are given wide opportunities to be actively involved.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses transformasi pembelajaran calon pendidik dan tenaga kependidikan masa depan melalui penerapan blended learning sebagai upaya untuk mengoptimalkan implementasi kurikulum berbasis ICT. Masalah yang terjadi adalah kurang relevannya kegiatan pembelajaran calon pendidik dan tenaga kependidikan di perguruan tinggi dengan keadaan dan kebutuhan lapangan saat ini dan masa depan. Penelitian ini dilakukan terhadap 32 mahasiswa yang terdaftar pada mata kuliah Teori Belajar dan Pembelajaran. Data dikumpulkan melalui: 1) observasi terhadap kegiatan pembelajaran dan tugas-tugas setiap pertemuan baik langsung maupun virtual, dan 2) wawancara dengan mahasiswa yang mengikuti perkuliahan tersebut. Kemudian data tersebut dianalisis secara kualiitatif deskriptif. Hasilnya menunjukkan bahwa terjadi transformasi pembelajaran bagi calon tenaga pendidik dan kependidikan melalui blended learning. Blended learning menciptakan interaktivitas pembelajaran yang tinggi sehingga calon tenaga pendidik dan kependidikan memiliki pengalaman belajar terutama menggunakan ICT selama mahasiswa diberikan kesempatan yang luas untuk terlibat secara aktif.
THE IMPACT OF CURRICULUM AND INSTRUCTION MODEL TOWARDS RELIGIOSITY, SPIRITUALITY, AND BEHAVIOR OF ADOLESCENTS dkk, Herlina
EDUTECH Vol 14, No 3 (2015): INOVASI MODERN DALAM PENDIDIKAN
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/edutech.v14i3.1388

Abstract

Abstract, The present research aims at testing the impact of curriculum and instruction model towards religiosity and behavior of adolescent. Participants for the research are 634 high school students with gender percentage as following: 58% female students and 42% male students. The participants are students from Daarut Tauhid high school (SMA Daarut Tauhid) and PGII high school (SMA PGII) as representative of schools employing Islamic-based curriculum (IC), and SMA Kartika Siliwangi, SMA Negeri 23 and SMA Negeri 24 as representative of schools employing national curriculum (NC). The result of the research shows a significant difference between schools with IC and schools with NC in terms of students’ religiosity. In addition, significant difference is also found between schools with IC and schools with NC in terms of students’ spirituality. Moreover, the behavioral observation of students of schools with IC and students of schools with NC results on finding of significant difference as well. Integration of two factors—Islamic-based curriculum and boarding school model—would result on an effective and powerful aspect to develop students’ religiosity and spirituality, as well as reducing deviant and risky behavior. However, without the integration, Islamic-based curriculum itself is not a major factor in reducing deviant behavior in high school students; therefore, other potential factors should be integrated with the curriculum in playing important roles to develop students’ religiosity and spirituality and reducing deviant behavior. Keywords: Islamic-based curriculum, religiosity, spirituality, deviant or risky behavior. Abstrak,Penelitian ini bermaksud untuk menguji dampak kurikulum dan model pembelajaran terhadap religiusitas dan perilaku remaja. Sampel penelitian ini berjumlah 634 partisipan dengan proporsi jenis kelamin 58% perempuan dan 42% laki-laki yang merupakan siswa SMA Daarut Tauhid dan SMA PGII yang dianggap mewakili sekolah dengan kurikulum bermuatan Islam, dan SMA Kartika Siliwangi, SMA Negeri 23, dan SMA Negeri 24 yang dianggap mewakili sekolah dengan kurikulum nasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara religiusitas siswa sekolah dengan kurikulum bermuatan agama dan siswa sekolah berkurikulum nasional. Selain itu penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara spiritualitas siswa sekolah dengan kurikulum bermuatan agama dan siswa sekolah berkurikulum nasional. Hasil yang sama juga terjadi ketika menguji signifikansi perbedaan antara perilaku siswa di sekolah dengan kurikulum bermuatan agama dan siswa sekolah berkurikulum nasional. Kurikulum berbasis Islam dan model sekolah boarding school adalah dua faktor yang secara bersama-sama yang paling kuat meningkatkan religiusitas, spiritualitas, dan menurunkan perilaku menyimpang atau beresiko. Sedangkan kurikulum berbasis Islam bukan faktor utama atau ada faktor lain yang bisa menurunkan perilaku menyimpang siswa SMA.Kata kunci: Kurikulum, religiusitas, spiritualitas, perilaku yang menyimpang atau beresiko melanggar aturan, remaja
MEMBANGUN KARAKTER MAHASISWA BERBASIS NILAI-NILAI PANCASILA SEBAGAI RESOLUSI KONFLIK -, Supriyono
EDUTECH Vol 13, No 3 (2014): DINAMIKA PENDIDIKAN DAN LAYANAN PEMBELAJARAN
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/edutech.v13i3.3087

Abstract

Abstract, Condition of Indonesia is now being hit by a climate of character which does not support the output of Pancasila culture . The waning of characters can be seen from the number of people taking drugs, fighting between the village and the school , consumerist lifestyle , which is concerned with the practice of religious life and the juridical formalism symbols that make it easy to competed. The crisis of character now has spread on campus so easily found student attitudes and behaviors that conflict with moral values .As a man who respects the harmony and compatibility of national identity as it is appropriate if the values of Pancasila moral values to serve as a foundation to live a life of society , nation and state . Ethical principles of Pancasila intrinsically humanistic , meaning that the values of Pancasila based on values rooted in the dignity of man as a being cultured . Pancasila as the state ideology of the nation and contain values of divinity , human values, the value of unity , democratic values and the values of justice . If people are able to realize and really be able to run five moral rules or values contained in the fifth Pancasila , then humans can save the nation from various conflicts . Building character through the values of Pancasila can unite the entire diversity of Indonesia .Keywords : Character , values of Pancasila , and Conflict ResolutionAbstrak, Kondisi bangsa Indonesia sekarang sedang dilanda oleh sebuah iklim karakter kehidupan yang tidak mendukung tumbunya budaya Pancasila. Memudarnya karakter dapat dilihat dari banyaknya orang mengkonsumsi narkoba, tawuran antar kampung dan sekolah, pola hidup konsumeris, praktik hidup keagamaan yang mementingkan formalisme yuridis dan simbol-simbol yang memudahkan untuk diadu domba. Krisis karakter sekarang ini sudah menjalar pada lingkungan kampus sehingga mudah ditemui sikap dan perilaku mahasiswa yang bertentangan dengan nilai moral.Sebagai manusia yang menjunjung keharmonisan dan keserasian sebagai jati diri bangsa maka sangatlah tepat jika nilai-nilai Pancasila dijadikan sebagai nilai moral untuk landasan dalam menjalani kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Prinsip etika Pancasila pada hakikatnya bersifat humanistik, artinya nilai-nilai Pancasila mendasarkan pada nilai yang bersumber pada harkat dan martabat manusia sebagai makhluk yang berbudaya. Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa mengandung nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan dan nilai keadilan. Apabila manusia mampu menyadari dan benar-benar bisa menjalankan kelima aturan moral atau kelima nilai yang terkandung dalam Pancasila, maka manusia dapat menyelamatkan bangsa dari berbagai konflik. Membangun karakter melalui nilai-nilai Pancasila dapat mempersatukan seluruh kebhinekaan bangsa Indonesia.Kata Kunci: Karakter, Nilai-nilai Pancasila, dan Resolusi Konflik
MODEL PEMBELAJARAN PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP PADA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI Djoehaeni, Heny
EDUTECH Vol 13, No 1 (2014): DINAMIKA PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/edutech.v13i1.3216

Abstract

Abstract, Issues relating to the environment is a global issue that demands attention from various sectors including education . Sullivan in Bezzina (2006 ) states that the environmental crisis is a social issue and not a matter of merely natural . Environmental education has a very important role in addressing environmental problems that arise at this time . Although the policy published by the government of West Java, but at the level of implementation required a learning model which could be a reference to the teacher in implementing the learning of Environmental Education in Early Childhood Education. The method used in this study is Research and Development with the following phases: preliminary study include literature studies , field surveys and preparation of the initial product . The development phase includes limited testing and trials as well as broader validation phase . Result shows that Environmental Education in Early Childhood education is still not optimal . Learning model is developed with the model based on Contextual Inquiry process . Implementation of Contextual Inquiry-based learning model in the Learning Environment Education in Early Childhood Education can improve children's learning outcomes , especially in the sphere of competence of knowledge , attitudes and skills which refers to the Local Content Curriculum Environmental Education. .Keywords : Environmental Education, Early childhood Education, CurriculumAbstrak, masalah-masalah yang berhubungan dengan lingkungan merupakan isu global yang menuntut perhatian dari berbagai sektor termasuk pendidikan. Sullivan di Bezzina ( 2006) menyatakan bahwa krisis lingkungan merupakan masalah sosial dan bukan semata-mata sesuatu yang alami. Pendidikan Lingkungan Hidup memiliki peran yang sangat penting dalam menangani masalah lingkungan yang muncul saat ini. Meskipun kebijakan diterbitkan oleh pemerintah Jawa Barat, tetapi pada tingkat implementasi diperlukan model pembelajaran yang dapat menjadi acuan untuk guru dalam melaksanakan pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup pada Pendidikan Anak Usia Dini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian dan Pengembangan dengan tahap-tahap berikut: studi pendahuluan meliputi studi literatur, survei lapangan dan penyusunan produk awal. Tahap pengembangan termasuk pengujian terbatas dan uji coba serta tahap validasi yang lebih luas. Hasil menunjukkan bahwa Pendidikan Lingkungan Hidup pada Pendidikan Anak Usia Dini masih belum optimal. Sebuah model pembelajaran dikembangkan dengan model yang didasarkan pada proses inkuiri kontekstual. Penerapan model pembelajaran berbasis inkuiri kontekstual pada Pendidikan Lingkungan Hidup pada Pendidikan Anak Usia Dini dapat meningkatkan hasil belajar anak-anak, terutama pada ranah kompetensi pengetahuan, sikap dan keterampilan yang mengacu pada Kurikulum Muatan Lokal Pendidikan Lingkungan Hidup.Kata Kunci: Pendidikan Lingkungan Hidup, Pendidikan Anak Usia Dini, kurikulum
PENGGUNAAN MOBILE LEARING UNTUK MENINGKATKAN KEMANDIRIAN BELAJAR PESERTA DIDIK SEKOLAH MENENGAH ATAS Rahmana Dewi, Icca Morinzky
EDUTECH Vol 19, No 2 (2020)
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v1i2.24193

Abstract

This study was conducted to determine the effect od Mobile Learing on learning independence, especially in senior high scholl students. Mobile Learing is distance learning that uses mobile devices such as tablet, smarphone, laptop, and each other. By using Mobile Learing, learning becomes easily accesile. Because it can be done wherever and whenever students want ti study. The use of Mobile Learing can improve student thinking skills and can increase students independence in learning.Telaah ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh Mobile Learing terhadap kemandirian belajar khususnya pada peserta didik Sekolah Menengah Atas (SMA). Mobile Learing merupakan belajar jarak jauh yang menggunakan perangkat mobile seperti tablet, smartphone, laptop, dan lain sebagainya. Dengan menggunakan Mobile Learing, pembelajaran menjadi mudah diakses. Karena dapat dilakukan di mana pun dan kapan pun peserta didik mau. Penggunaan Mobile Learing dapat meningkatkan kemampuan berpikir peserta didik dan dapat meningkatkan kemandirian peserta didik dalam belajar.
PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP MENGENAI PENGELOLAAN DAN PENGOLAHAN SAMPAH: PERSPEKTIF PESERTA DIDIK Dewi, Laksmi; Kurniawan, Deni; Matsumoto, Toru; Rachman, Indriyani; Mulyadi, Dadi
EDUTECH Vol 19, No 2 (2020)
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v1i2.24624

Abstract

Public awareness of waste management and processing in Indonesia is still very low. Likewise, with students,  warnings are still needed in keeping the environment clean. Environmental education (EE) in schools has started to be widely applied in many schools. Ideally, student awareness in keeping the environment, especially in managing waste, becomes better wherever they are. This study aims to explore students’ perceptions of waste management and processing as one of the implementations of environmental management. It is hoped that Environmental Education can have an impact on students’ perception in managing their daily environment. It also explores students’ pereptions at elementary, junior high, and senior high school levels about: (1) environmental education in a school; (2) waste management and processing as part of environmental education; and (3) waste management and processing by local government. Data collection was carried out randomly to several students taking part in Car Free Day (CFD) activity involving 42 student respondents. and the data was processed using descriptive statistics. It was found that firstly, respondents agreed with the application of environmental education in schools through local content subjects, and the Adiwiyata program itself was felt necessary to add insight and knowledge about managing the environment. Secondly, students’ perceptions of waste management as part of Environmental Education was already good, as shown by their preference to keep the garbage if they couldn’t find a place to throw them. Third, waste management and processing by the local government statistically showed good responses. One example is that many dust bins are placed in public location by grouping waste according to their type.    Lingkungan alam di sekitar kita dan dunia saat ini sedang mengalami kerusakan. Salah satu penyebabnya adalah rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga dan mengelola lingkungan hidup ini. Di Sekolah pendidikan lingkungan hidup (PLH) dilaksanakan sebagai salah satu kurikulum muatan local dengan waktu1 jam pelajaran saja. Tentunya bukan seberapa banyak waktu yang dihabiskan untuk mempelajari kesadaran lingkungan hidup, namun yang paling penting adalah bagaimana mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai upaya membantu menjaga lingkungan hidupnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana persepsi masyarakat tentang implementasi PLH yang diterapkan oleh peserta didik saat di rumah dan di lingkungan sekitarnya. Bukti real mengetahui kesadaran diterapkannya PLH salah satunya terlihat di ruang public, sebagai contohnya saat pelaksanaan Car Free Day (CFD). Tidak sedikit setelah CFD selesai petugas kebersihan harus membersihkan kembali kawasan karena banyaknya sampah yang dibuang masyarakat tidak pada tempatnya. Data diambil kepada 40 orang secara acak terdiri dari anak usia sekolah SD, SMP, dan SMA, serta orang tua.  Simpulan dari penelitian ini adalah kesadaran masyarakat akan menjaga lingkungan cukup baik. Hanya saja belum ada spesifikasi upaya yang dilakukan oleh masyarakat dalam upaya mengurangi, mengolah, dan menggunakan sampah yang ada agar lebih mermanfaat.
NILAI-NILAI KARAKTER PADA BAHAN AJAR BAHASA INDONESIA SMA KELAS X SEMESTER 1 Inayah, Firqah
EDUTECH Vol 19, No 2 (2020)
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v1i2.23754

Abstract

Character values can be integrated in the learning process at school, one of which is through the development of teaching materials. Indonesian as one of the compulsory subjects in high school has teaching materials that can be integrated with character values. The purpose of this research is to produce Indonesian language teaching materials integrated with character values. The development model used is ADDIE with a qualitative descriptive approach. The results of product feasibility reviews by content (material) experts are 93.84% and learning design experts are 80%. Product trials by small groups and field trials through questionnaires showed good responses with review results of 95% and 84.28%, respectively, indicating that these teaching materials are suitable for use in learning. Nilai-niai karakter dapat diintegrasikan dalam proses pembelajaran di sekolah salah satunya melalui pengembangan bahan ajar. Bahasa Indonesia sebagai salah satu mata pelajaran wajib di Sekolah Menengah Atas memiliki bahan ajar yang dapat diintegrasikan dengan nilai-nilai karakter. Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan bahan ajar Bahasa Indonesia terintegrasi nilai-nilai karakter. Model pengembangan yang digunakan adalah ADDIE dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil review kelayakan produk oleh ahli isi (materi) sebesar 93,84% dan ahli desain pembelajaran sebesar 80%. Uji coba produk oleh kelompok kecil dan uji coba lapangan melalui angket menunjukkan respon baik dengan hasil review masing-masing sebesar 95% dan 84,28% menunjukkan bahan ajar ini layak digunakan dalam pembelajaran.
DEVELOPING A TECHNO-FAMILY THROUGH VIRTUAL-REALITY BENTHIX GAME Gamayanto, Indra; wibowo, Sasono
EDUTECH Vol 19, No 2 (2020)
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v1i2.23687

Abstract

 The development of information technology cannot separate from the family. It produces three classifications of the family: socio-family; media-family and techno-family. The problems that exist in techno-family: the pattern of parent education to the child, how parents oversee the use of social media owned by children, and how gaming can use as an educational pattern in improving family relationships. Furthermore, this journal uses the Johari window method, which is one method that can classify families into four family types. Thus, a formula for the techno-family is created: F = L.K2 and developed into seven stages and seven essential elements that can be applied to the family, to find out how mature the family is in educating especially in the field of technology information-social media-game, called the 7 stages of techno-family (the maturity level of family-technology). Knowing the weaknesses and strengths of a family is at the core of building and producing high-quality human resources that have the power of character that can provide positive benefits and contribution to the family life itself, society and the world. Techno-family is one of the solutions to change the culture and future inside the family. Perkembangan teknologi informasi tidak dapat dipisahkan dari keluarga. Ini menghasilkan tiga klasifikasi keluarga: sosio-keluarga; keluarga-media dan keluarga-tekno. Permasalahan yang ada dalam techno-family: pola pendidikan orang tua kepada anak, bagaimana orang tua mengawasi penggunaan media sosial yang dimiliki anak, dan bagaimana game dapat digunakan sebagai pola pendidikan dalam meningkatkan hubungan keluarga. Selanjutnya jurnal ini menggunakan metode Johari window yang merupakan salah satu metode yang dapat mengklasifikasikan keluarga ke dalam empat tipe keluarga. Maka dibuatlah formula techno-family: F = L.K2 dan dikembangkan menjadi tujuh tahapan dan tujuh unsur esensial yang dapat diterapkan pada keluarga, untuk mengetahui seberapa dewasa keluarga dalam mendidik khususnya dalam bidang teknologi. information-social media-game, yang disebut dengan 7 tahapan techno-family (tingkat kedewasaan keluarga-teknologi). Mengetahui kelemahan dan kekuatan sebuah keluarga merupakan inti dari membangun dan menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas yang memiliki kekuatan karakter yang dapat memberikan manfaat dan kontribusi positif bagi kehidupan keluarga itu sendiri, masyarakat dan dunia. Techno-family merupakan salah satu solusi untuk mengubah budaya dan masa depan dalam keluarga.
PEMBELAJARAN BLENDED SEBAGAI STRATEGI PERSIAPAN KEPALA SEKOLAH MENGHADAPI ERA NEW NORMAL DI SDN 3 PUTRAJAWA KECAMATAN SELAAWI KABUPATEN GARUT Mintarsih, Mimin
EDUTECH Vol 19, No 3 (2020)
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v1i3.28754

Abstract

In the current era of new normal life, which requires all activities to follow certain health protocols. No exception in learning, proper planning is needed so that it fulfills two things, namely health protocols and the best implementation of learning. The purpose of this study was to find out how the principal's strategy in preparing blended learning at SDN 3 Putrajawa, Selaawi District, Garut Regency. This research includes qualitative descriptive research. The principal of SDN 3 Putrajawa, in this research, is the subject of the research. This research was carried out at SD Negeri 3 Putrajawa, precisely in Putrajawa Village, Selaawi District, Garut Regency.Data collection techniques in this study used observation, interviews and documentation techniques. The results of research conducted by researchers can be explained that the principal has used the right strategy in preparing blended learning, in the form of a needs analysis which includes student readiness, teacher readiness, infrastructure readiness, namely forming a blended learning technical service team and evaluating the implementation of learning. Blended learning is ready to be implemented, it can be seen from the results of the needs analysis in the form of teachers ready to carry out blended learning, students ready to take blended learning, and the availability of infrastructure.Pada era kehidupan new normal saat ini yang mengharuskan semua aktivitas mengikuti protokol kesehatan tertentu. Tidak terkecuali  dalam pembelajaran diperlukan perencanaan yang tepat sehingga memenuhi dua hal yaitu protokol kesehatan dan pelaksanaan pembelajaran dengan sebaiknya. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana strategi kepala sekolah dalam mempersiapkan pembelajaran blended di SDN 3 Putrajawa Kecamatan Selaawi Kabupaten Garut. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kualitatif. Kepala sekolah SDN 3 Putrajawa,  dalam penelitan ini yang menjadi subyek penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 3 Putrajawa, tepatnya di Desa Putrajawa Kecamatan Selaawi Kabupaten Garut. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini digunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti dapat dijelaskan bahwa kepala sekolah ini telah menggunakan strategi yang tepat dalam mempersiapkan pembelajaran blended, berupa analisis kebutuhan yang meliputi kesiapan siswa, kesiapan guru, kesiapan infrastruktur yaitu membentuk tim layanan teknis pembelajaran blended serta evaluasi pelaksanaan pembelajaran. Pembelajaran blended telah siap dilaksanakan tampak dari adanya hasil analisis kebutuhan berupa  guru siap melaksanakan pembelajaran blended, siswa siap mengikuti pembelajaran blended, dan tersedianya  infrastruktur.