cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Edutech
ISSN : 08521190     EISSN : 25020781     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Edutech adalah jurnal majalah ilmiah di Program Studi Teknologi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia yang terbit sebanyak tiga kali dalam setahun pada bulan Februari, Juni, dan Oktober. Semua artikel yang dikirim melalui proses peer review double blind dan ulasan editor sebelum di publikasikan.Jurnal Edutech atau kepanjangan dari Educational Technology ini menerima artikel tentang pendidikan, teknologi pendidikan dan komunikasi
Arjuna Subject : -
Articles 267 Documents
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN BLENDED LEARNING BERBASIS EDMODO TERHADAP HASIL BELAJAR MAHASISWA Susilawati, Evi
EDUTECH Vol 17, No 2 (2018): DINAMIKA DALAM KERANGKA ADAPTASI TEKNOLOGI PEMBELAJARAN
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v17i2.12374

Abstract

Abstract. The aim of this study was to see the learning outcomes of Civic Education subjects by using the Blended Learning model that based on Edmodo at the Faculty of Education of the Islamic University of North Sumatra. The population in this study amounted to 156 students and a sample of 59 students in the school year 2017/2018. The sample was taken using cluster random sampling technique and selected a total of 32 students from the History Education study program and 27 students of the Pancasila and Civic Education study program. Hypothesis testing is done by using one-way analysis of variance (Anava) at a 0.05 level of significance using the SPSS 24.0 for Windows program. Test the hypothesis in this study using an independent T test. Based on the T test results obtained a significance value of 0.032 with a significant value of 0.032 0.05 which rejects H0 and accepts H1. Based on the hypothesis test, it can be concluded that there are differences in learning outcomes of Citizenship Education courses for History Education students and students of the Pancasila and Civic Education Study program. Abstrak. Tujuan penelitian ini untuk melihat hasil belajar Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dengan menggunakan model pembelajaran blended Learning berbasis Edmodo di Fakultas Kependidikan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Islam Sumatera Utara. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 156 mahasiswa dan sampelnya berjumlah 59 mahasiswa pada tahun pelajaran 2017/2018. Sampel diambil dengan menggunakan teknik cluster random sampling dan terpilih program studi Pendidkan Sejarah berjumlah 32 mahasiswa dan program studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan berjumlah 27 mahasiswa. Uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan analisis varians (Anava) one way pada taraf signifikansi 0.05 dengan menggunakan program SPSS 24.0 for Windows. Uji hipotesis pada penelitian ini menggunakan uji T independen. Berdasarkan hasil uji T diperoleh nilai signifikansi 0,032 dan dengan nilai signifikansi 0,0320,05 yang menolak H0 dan menerima H1. Berdasarkan uji hipotesis tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar matakuliah PKn pada mahasiswa program studi Pendidikan Sejarah dan mahasiswa program studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.
KESIAPAN MENUJU PAUD RAMAH ANAK Gustiana, Asep Deni
EDUTECH Vol 18, No 1 (2019): PEMBELAJARAN DI DIGITAL ERA
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v18i1.14640

Abstract

The rise of acts of violence against children has become a problem that needs to be addressed by all elements, not only by parents, but teachers, schools, communities and other stakeholders are obliged to cooperate in protecting children. One of the government's efforts in dealing with these problems is by providing a child-friendly learning environment. Bandung City as a Child-Friendly City since 2016 should be a solution to providing a child-friendly environment. one of the indicators is having a child-friendly school. The child protection commission survey shows that more than 84% of cases of violence occur in schools, therefore the need and importance of child-friendly schools is a condition or indicator point of a child-worthy city precisely at cluster 4. To find out about the availability of child-friendly schools in Bandung Early Childhood Education Unit ECE in each District. The results of research in the field show that 52.9% of ECE units in Sukasari Sub-district are ready to become child-friendly ECE units, the remaining around 47.1% are not ready to become child-friendly ECE. This research is expected to be a material reflection for stakeholders in realizing child-friendly schools.Maraknya tindak kekerasan terhadap anak menjadi suatu permasalahan yang perlu diatasi oleh semua elemen, tidak hanya oleh orang tua, tetapi guru, sekolah, masyarakat dan juga pemangku kebijakan lainnya berkewajiban bekerjasama dalam melindungi anak. Salah satu upaya pemerintah dalam menangani permasalahan tersebut yaitu dengan menyediakan lingkungan belajar yang ramah bagi anak. Kota Bandung sebagai Kota Layak anak sejak tahun 2016 sudah seharusnya dapat menjadi solusi penyediaan lingkungan yang ramah untuk anak. salah satu indikatornya yakni memiliki sekolah ramah anak. Survey komisi perlindungan anak menunjukan bahwa lebih dari 84% kasus kekerasan terjadi di sekolah, oleh karena itu perlu dan pentingnya Sekolah ramah anak menjadi syarat atau point indikator kota layak anak tepatnya pada klaster 4. Untuk mengetahui kesipan sekolah ramah anak di Kota Bandung dapat dilihat dari Satuan Pendidikan anak usia dini (PAUD) pada tiap Kecamatan. Hasil penelitian dilapangan menunjukkan bahwa 52,9% satuan PAUD di Kecamatan Sukasari sudah siap menjadi satuan PAUD ramah anak, sisanya sekitar 47,1% belum siap mejadi PAUD ramah anak. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan refleksi bagi pemangku kebijakan dalam mewujudkan sekolah ramah anak.
THE EFFECT OF PICURE STORY VIDEO MEDIA ON THE SPEAKING SKILLS IMPROVEMENT OF CHILDREN WITH INTELLECTUAL CHALLENGES AT GRADE IV SPECIAL EDUCATION SCHOOL CLASS C (SPLB-C) OF CIPAGANTI SPECIAL EDUCATION FOUNDATION (YPLB CIPAGANTI) Sutisna, Nia
EDUTECH Vol 14, No 2 (2015): INOVASI DAN APLIKASI PENDIDIKAN
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/edutech.v14i2.1377

Abstract

Abstract. Children with intellectual challenges are those who experience barriers to intelligence, such as low academic skills, low personal and vocational abilities and have impaired speech. Further, those children have to deal with fine motor skills and hand-eye coordination which are essentially needed in speaking and performing various daily activities such as writing. The problem that is often faced by children with intellectual challenges is difficulty in beginning writing at the stage of imitating or copying text. Another problem found in children with intellectual challenges is related to communication barrier or developing oral language skills in accordance with society norms so that they are able to catch the feeling and the idea of the people they speak to and play active role in the society. To achieve the goals, there needs to be sufficient speaking practice or speech education using picture story video media with supporting activities. Therefore, this research aimed to find out the effect of using picture story video media in improving the speaking skills of children with intellectual challenges. This research used experimental method with One Group Pre Post Test design and Wilcoxon test. The subjects are four children with intellectual challenges at Grade IV SPLB-C YPLB Cipaganti.Keywords: video media, children with intellectual challenges, speaking skillsAbstrak. Anak tunagrahita adalah mereka yang mengalami hambatan dalam inteligensi, seperti rendahnya kemampuan akademik, kemampuan personal, kemampuan vokasional, dan mengalami gangguan berbicara. Selain itu, anak tunagrahita ringan mengalami motorik halus dan koordinasi mata tangan sangat diperlukan untuk berbicara dan melakukan berbagai aktivitas yang terkait dengan kehidupan sehari-hari seperti untuk menulis. Adapun masalah yang sering dihadapi anak tunagrahita dalam kemampuan menulis permulaan yaitu pada tahapan meniru atau menyalin tulisan.Masalah yang ditemukan pada anak tunagrahita yaitu berkaitan dengan hambatan berkomunikasi atau mengembangkan kemampuan bahasa lisan/berbicara sesuai dengan norma lingkungan dan dapat menangkap perasan dan gagasan lawan bicara serta berperan aktif dalam lingkungan. Untuk merealisasikan usaha tersebut perlu adanya latihan berbicara atau speech education yaitu melalui media video cerita yang memadai dan bentuk kegiatan yang menunjang. berdasarkan latar belakang masalah tersebut timbullah sebuah rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu: “Adakah pengaruh penggunaan media cerita bergambar terhadap peningkatan kemampuan berbicara Anak Tunagrahita Ringan?” Dalam menjawab permasalahan penelitian tersebut, peneliti menggunakan metode eksperimen dengan bentuk One Group Pre test Post test Design uji Wilcoxon. Adapun subjek dalam penelitian ini adalah empat orang siswa tunagrahita kelas IV SPLB-C YPLB CipagantiKata kunci: media video, tunagrahita, kemampuan berbicara
CONTEXTUAL MODEL APPLICATION TO IMPROVE STUDENT LEARNING OUTCOMES IN LEARNING CONCEPT TWO-DIMENTIONAL FIGURE Sunimah, Nani
EDUTECH Vol 15, No 1 (2016): MEDIA DAN MODEL PEMBELAJARAN TERBARU
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/edutech.v15i1.2229

Abstract

Abstract. Cilengkrang Elementary School second grade students in learning are still having trouble getting up flat. Based on early research on learning outcomes, students who completed study on indicators to use a formula to calculate the flat wake, only reached 25%. To overcome this implemented so that students understand the contextual model for teaching students associated with the real world. The method used in this research is a classroom action research methods to the design of the research procedure refers to the spiral model Kemmis and MC. Taggart. Research data collection techniques are observation, interviews, field notes, and tests using instruments guidelines for observation, interview, field notes, journals and tests. As for data validation, used techniques chek members, triangulation, audit trail and expert opinion. Based on the implementation of the actions carried out by two cycles, as a whole has shown an increase from the initial data, both process and outcomes of learning. From the data obtained, the process of learning to teacher performance, tahapperencanaan the first cycle to IImencapai 100%, during the implementation phase, the first cycle of 75% and the second cycle of 100%, at this stage of the evaluation cycle I to II reached 100% target achievement completeness 80 %. On the percentage of student activity average values, the first cycle and the second cycle 67% 82% with a target of achieving completeness ≥ 80.64%. As for the study results, the percentage ketuntasannya, the first cycle and the second cycle 42% 87% with a target of achieving completeness ≥ 80.64%. So that the application of contextual models can enhance students' understanding of the class II SDN Cilengkrang Northern District of Sumedang Sumedang Regency to the concept of a flat wake. Keywords: Build Flat, Contextual Model, Mathematics Education Abstrak.  Siswa kelas II SDN Cilengkrang dalam pembelajaran bangun datar masih mengalami kesulitan. Berdasarkan penelitian awal pada hasil belajar, siswa yang tuntas belajar pada indikator menggunakan rumus untuk menghitung bangun datar, hanya mencapai 25%. Untuk mengatasi hal tersebut diterapkan model kontekstual agar siswa paham karena pembelajaran dikaitkan dengan dunia nyata siswa. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas dengan rancangan prosedur penelitiannya mengacu pada model spiral Kemmis dan MC. Taggart. Teknik pengumpulan data penelitian yang digunakan adalah observasi, wawancara, catatan lapangan, dan tes dengan menggunakan instrumen pedoman observasi, pedoman wawancara, catatan lapangan, jurnal dan tes. Sedangkan untuk validasi data, digunakan teknik  member chek, triangulasi,audit trail dan  expert opinion. Berdasarkan pelaksanaan tindakan yang dilakukan sebanyak dua siklus, secara keseluruhan telah menunjukan adanya peningkatan dari data awal, baik dalam proses maupun hasil belajar. Dari data yang diperoleh, pada proses pembelajaran, untuk kinerja guru, tahapperencanaan siklus I sampai IImencapai 100%, pada tahap pelaksanaan, siklus I 75% dan siklus II 100 %, pada tahap evaluasi siklus I sampai II mencapai 100 % dengan target pencapaian ketuntasan 80 %. Pada aktivitas siswa persentase nilai rata-rata, siklus I 67%dan siklus II 82% dengan target pencapaian ketuntasan ≥ 80,64 %. Sedangkan untuk hasil belajar, persentase ketuntasannya, siklus I 42 %dan siklus II 87% dengan target pencapaian ketuntasan ≥ 80,64 %. Sehingga penerapan model kontekstual dapat meningkatkan pemahaman siswa kelas II SDN Cilengkrang Kecamatan Sumedang Utara Kabupaten Sumedang terhadap konsep bangun datar. Kata Kunci: Bangun Datar, Model Kontekstual, Pendidikan Matematika
MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI MAHASISWA MELALUI MEDIA SOSIAL Hanoum, R Nadia
EDUTECH Vol 13, No 3 (2014): DINAMIKA PENDIDIKAN DAN LAYANAN PEMBELAJARAN
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/edutech.v13i3.3093

Abstract

Abstract. Social media allow their users to share, collaborate, and making network more flexibly without having to be in the same place and time. The use of social media in learning gives students more opportunities to interact and exchange information with each other through various activities like discussion, peer correction, and peer evaluation. Viewing from social learning and social constructivism theories, using social media in learning will affect students’ behavior and learning outcomes. The learning outcomes explored in this paper is the cognitive domain of analyze, evaluate, and create aspects. These three aspects are considered as higher order thinking skills which should be mastered by college students as it is at university level that quality human resources are expected to be generated.Keywords: higher order thinking skills, social media, social learning theoryAbstrak. Media sosial memungkinkan para penggunanya untuk berbagi, berkolaborasi, dan berjejaring secara lebih fleksibel tanpa harus berada pada tempat dan waktu yang sama. Penggunaan media sosial dalam pembelajaran memberikan kesempatan yang lebih banyak kepada peserta didik untuk berinteraksi dan bertukar informasi dengan peserta didik lainnya melalui berbagai kegiatan seperti diskusi, mengoreksi informasi yang diberikan oleh teman atau kelompok lain atau memberikan penilaian terhadap kinerja atau penampilan teman sekelas. Jika dilihat dari teori belajar sosial dan teori konstruktivisme sosial, maka penggunaan media sosial dalam pembelajaran akan berdampak pada perilaku dan hasil belajar peserta didik. Hasil belajar yang dieksplor dalam artikel ini adalah domain kognitif aspek menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan. Ketiga aspek ini merupakan keterampilan berpikir tingkat tinggi yang harus dapat dikuasai oleh mahasiswa mengingat pada level pendidikan tinggi lah diharapkan akan dihasilkan SDM yang berkualitas.Kata Kunci: keterampilan berpikir tingkat tinggi, media sosial, teori belajar sosial
KOMUNIKASI KRISIS: ANALISIS UPAYA RESPON KRISIS TELUK MEKSIKO DARI PERSPEKTIF PUBLIC RELATIONS Koswara, Aang
EDUTECH Vol 13, No 1 (2014): DINAMIKA PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/edutech.v13i1.3224

Abstract

Abstract, crisis communication is a situation that may cause effects on the company's sustainability business operations; the treatment at every stage of the crisis will minimize the negative public reaction against the company. This paper reviews the crisis of BP Oil Company that had a leak in the Gulf of Mexico that resulted in the spill along the coast a few U.S. states that threaten ecosystems and marine life, tourism businesses and the livelihoods of fishermen population around the spill from the perspective of public relations. Communication crisis began when BP made a number of controversial statements to the public through the mass media which resulted negatives responses from the Government of the United States, communities around the spill, a shareholder in the stock, and environmental activists. BP responsed this negative public reaction is generated through a crisis communication in the form of lobbying to the Government of the United States and key stakeholders as well as the handling of campaign messages through social media networking and mass media.Keywords: Communication Disaster, Public Relations, Communication CrisisAbstrak, krisis komunikasi merupakan sebuah situasi yang dapat menimbulkan efekberkelanjutan operasional bisnis perusahaan pada masa yang akan datang, perlakuan dalamtiap tahapan krisis akan membantu meminimalisir reaksi negatif publik terhadapperusahaan. Tulisan ini memaparkan tinjauan krisis dari perspektif public relations terhadapperusahaan minyak BP yang mengalami kebocoran di Teluk Meksiko yang mengakibatkantumpahan di sepanjang pesisir pantai beberapa negara bagian Amerika Serikat yangmengancam ekosistem dan biota laut, bisnis pariwisata, dan mata pencaharian nelayanpenduduk sekitar tumpahan. Krisis komunikasi BP dimulai ketika sejumlah pernyataankontroversial disampaikan kepada publik melalui sejumlah media massa yangmengakibatkan reaksi negatif dari Pemerintah Amerika Serikat, komunitas sekitartumpahan, pemegang saham di bursa, dan aktivis lingkungan. Respon BP terhadap reaksinegatif publik tersebut dimunculkan melalui komunikasi krisis dalam bentuk upaya lobikepada Pemerintah Amerika Serikat dan pemegang saham kunci serta kampanye pesanpenanganan melalui jejaring media sosial dan media massa.Kata Kunci : Bencana Komunikasi, Public Relations, Komunikasi Krisis
CORPORATE REBRANDING OF GRAMEDIA STORE (CORPORATE REBRANDING DI GRAMEDIA STORE) Kairupan, Natasha Helena; Dida, Susanne; Budiana, Heru Ryanto
EDUTECH Vol 15, No 3 (2016): ESENSI PEMBELAJARAN MASA KINI
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/edutech.v15i3.4872

Abstract

Abstract. The purposes of this research are to determine the stages of analysis, planning, and evaluation of corporate rebranding process of Gramedia Book Store to be Gramedia Store to rise stakeholder’s awareness. The method used is descriptive qualitative with positivism paradigm. The technique of collecting data through in-depth interview, observation, and literature study. The result of this research showed the analysis stage by analyzing the market through insights and foresights, brand audit through SWOT analysis, and identifying opportunities. The planning stage is by determine the purpose of the planning process and then determine the target audience, consist of external and internal customer. The planning of external customer by renaming and change of corporate identity, and marketing planning using communication channel (above the line and below the line). The planning of internal customer by Brand Induction, training, inspiration briefing at store, and innovation competition. The evaluation of rebranding process of Gramedia Store is having a focus group discussion with customer, media monitoring, and presentation to BOD.Keywords : Process, Corporate Rebranding, Stakeholder Awareness, Corporate Identity, Gramedia StoreAbstrak.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana tahapan analisis, perencanaan, dan evaluasi proses corporate rebranding Gramedia Book Store menjadi Gramedia Store untuk meningkatkan stakeholder awareness. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan paradigma positivisme dan jenis studi deksriptif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi pustaka. Berdasarkan hasil penelitian, tahapan analisis dilakukan dengan menganalisis pasar melalui insights dan foresights, audit merek dengan analisis SWOT, dan mengidentifikasi peluang. Dalam tahapan perencanaan dengan menentukan tujuan kemudian menentukan target audiens, yaitu eksternal dan internal. Perencanaan kepada external customer dilakukan dengan perubahan nama dan identitas perusahaan, melakukan perencanaan publikasi dan pemasaran menggunakan saluran komunikasi baik above the line dan below the line. Perencanaan kepada internal customer dilakukan dengan mengadakan brand induction, training, briefing inspirasi, dan lomba inovasi. Evaluasi dalam proses rebranding Gramedia Store dilakukan dengan focus group discussion dengan customer, media monitoring, dan presentasi ke BOD.Kata kunci : Proses, Corporate Rebranding, Stakeholder Awareness, Identitas Perusahaan, Gramedia Store
RESTORASI PRAKTEK PENGALAMAN LAPANGAN (Studi Inovasi Manajemen Kurikulum PPL melalui Kolaborasi Pendekatan Craft, Competency dan Reflective Model) Mustaqim, Mujahidil
EDUTECH Vol 16, No 2 (2017): GLOBAL EDUCATION
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v16i2.6782

Abstract

Abstract. This article is based on the fact that until now there has not been any serious at-tempt to improve field experience practice (PPL). This was indicated by a number of common problems that occur surrounding fiend experience practice, such as inability to maximally meet the goals of the program, ambiguity of supervisor teachers’ job description in educating student teachers, and loose and asymmetrical coordination between teachers college (LPTK) as producer and schools as industry. Thus, there needs to be restoration of field experience practice which is initiated by establishing PPL curriculum management which collaborates Craft, Competency and Reflective Models. This article presents three principal suggestions, which were obtained from literature study and data collection from observation and interview. First, there should be design innovation of PPL curriculum management using Craft, Competency and Reflective Models ap-proach by formulating success criteria and instructional plan of the program to be used as guid-ance of supervisor teachers in educating student teachers. In so doing, there will be change in the process of educating the students which is usually accidental instead of as planned. Second, it is important to formulate elaborate job description of supervisor teacher during introduction, train-ing, and evaluation periods based on the common problems that usually occur so that the role of the supervisor teacher can be optimized, which will impact the students’ teaching competency. Third, there should be simultaneous, continuous, and intensive coordination between teachers college (LPTK) and schools in order to create symbiotic relationship in establishing prospective professional future teachers.Keywords: field experience practice, curriculum management, teacher education model, Craft, Competency and Reflective ModelsAbstrak. Artikel ini didasari atas seputar distorsi praktek pengalaman lapangan (PPL) namun hingga kini belum benar-benar tersentuh oleh iktikad perbaikan. Hal ini tampak dari sepu-tar realitas lazim antara lain pada beberapa kasus disebutkan bahwa belum maksimalnya pen-capaian tujuan PPL, ketaksaan kerangka kerja (job description) guru pamong dalam mendidik ma-hasiswa PPL, dan koordinasi yang masih dinilai belum erat dan simetris antara Lembaga Pendidi-kan dan Tenaga Kependidikan (LPTK) sebagai produsen dan sekolah sebagai industri. Maka untuk menangani persoalan ini, maka perlunya restorasi kegiatan PPL sehingga kompetensi lulusan kegiatan PPL dapat lebih terstandar dari sebelumnya dan tujuan PPL dicapai dengan optimal. Selain itu, kegiatan PPL dapat memberi makna khusus dan manfaat yang mendalam bagi calon guru sebelum terjun ke dunia kerja. Sehingga, kesan yang selama ini masih berbekas bahwa guru baru tidak “well prepared” saat memasuki dunia mengajar tidak lagi muncul. Hal ini dapat tercapai dengan menginisiasi tiga hal berikut, yaitu: Pertama, perlunya sebuah inovasi yakni mendesain manajemen kurikulum PPL menggunakan pendekatan craft, competency, dan reflective model me-lalui perumusan kriteria keberhasilan PPL dan rencana pembelajaran PPL yang dimakudkan men-jadi pedoman bagi guru pamong dalam mendidik praktikan. Kedua, pentingnya rumusan deskripsi lebih lanjut tentang job description guru pamong pada masa pengenalan, pembimbingan dan eval-uasi praktikan didasarkan pada persoalan yang kerap terjadi pada kegiatan PPL. Ketiga, perlunya koordinasi antara LPTK dan sekolah secara simultan, kontinu dan intens dimana saling memberi hubungan timbal balik dalam upaya membentuk bibit calon guru yang profesional. Artikel ini di-tulis dengan menggunakan pendekatan library research dengan menelaah sejumlah literatur.Kata kunci : Praktek Pengalaman Lapangan, Manajemen Kurikulum, Model Pendidikan Guru
CORPORATE REBRANDING FRAMEWORK OLEH CGV CINEMAS Khairunnisa, Silka; Hafiar, Hanny; Bakti, Iriana
EDUTECH Vol 17, No 1 (2018): INTERDISIPLINER PEMBELAJARAN
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v1i1.12249

Abstract

Abstract. The purpose of research are to determine the stages of analysis, planning and eval-uation of corporate rebranding framework of CGV Blitz to be CGV Cinemas. This research uses descriptive method with qualitative data type. Data collection method used in this research is in-terview, observation, and literature study.The results of this research showed that CGV Cinemas has been rebranding but in reality there are still many stakeholders from CGV Cinemas that tar-geted for rebranding that still not aware of the rebranding of CGV Blitz to CGV Cinemas by doing three stages of analysis, planning and evaluation. In this study concluded that at the analysis stage, planning and evaluation, communication campaign that CGV Cinemas do to internal cus-tomer has not been able to optimally because there’s still employee that did not undetstand with CGV Cinemas concept and still miscalled the old brand.At the evaluation stage, CGV Cinemas are not doing an evaluation after communication campaign and only doing an evaluation at the time of execution of socialization in the form of question and answers and CGV Cinemas are doing evaluation in focus group discussion to some customers but those evaluation was evaluation non formal and not spread and did not have a structured results that’s why those evaluation could not be used as a measure of success while doing or after doing a rebranding to customers Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana tahapan analisis, perencanaan dan evaluasi corporate rebranding framework CGV Blitz menjadi CGV Cinemas. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan jenis data kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi, dan studi pustaka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa CGV Cinemas sudah melakukan rebranding namun pada ken-yataannya masih banyak stakeholders dari CGV Cinemas yang menjadi target untuk rebranding yang masih tidak mengetahui adanya rebranding CGV Blitz menjadi CGV Cinemas dengan melakukan tiga tahapan yaitu tahapan analisis, perencanaan dan evaluasi. Dalam penelitian ini disimpulkan bahwa pada tahap analisis, perencanaan dan evaluasi, communication campaign yang CGV Cinemas lakukan ke internal customer masih belum optimal dikarenakan, masih ada karya-wan yang belum paham dengan konsep CGV Cinemas dan masih salah menyebut merek lamanya dan CGV Cinemas tidak mengadakan evaluasi sesudah mengadakan kampanye komunikasi dan hanya melakukan evaluasi pada saat pelaksanaaan sosialisasi dalam bentuk tanya jawab dan CGV Cinemas melakukan evaluasi focus group discussion ke beberapa customer namun evaluasi terse-but merupakan evaluasi non formal dan tidak menyeluruh serta tidak mempunyai hasil yang ter-struktur maka dari itu evaluasi tersebut tidak dapat dijadikan ukuran keberhasilan saat melakukan maupun sesudah melakukan rebranding terhadap customer.
MULTIMEDIA USE BASED ON VISUALIZATION, AUDITORY, KINESTHETIC (VAK) MODEL FOR LISTENING STORY SKILL IN THE FIFTH GRADE STUDENTS Kusumawati, Etika
EDUTECH Vol 17, No 3 (2018): KOMPUTER, SEKOLAH & KOMUNITAS BELAJAR
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v17i3.14343

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan keterampilan menyimak cerita pada siswa kelas V sekolah dasar melalui pembelajaran yang menggunakan multimedia berbasis model Visualization, Auditory, Kinesthetic (VAK). Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang berlangsung selama tiga siklus. Setiap siklus yang terdiri dari dua pertemuan membahas cerita yang berbeda-beda. Pelaksanaan tindakan berupa pembelajaran keterampilan menyimak cerita dilakukan secara kolaboratif antara peneliti dan guru kelas. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan tes dan non tes. Analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif berupa analisis kritis dan kuantitatif berupa deskrptif komparatif.  Data yang terkumpul selanjutnya diuji kevalidannya menggunakan teknik triangulasi yang meliputi triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan keterampilan menyimak cerita pada siswa kelas V sekolah dasar yang menggunakan multimedia berbasis model VAK. Memanfaatkan multimedia berbasis model VAK membuat pembelajaran menjadi menyenangkan dan bermakna karena siswa dapat menggunakan gaya belajar yang dimiliki serta membuat siswa lebih aktif dan termitovasi dalam pembelajaran.