cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalekologikesehatan@gmail.com
Editorial Address
Badan LItbangkes, Jalan Percetakan Negara no.29 Jakarta Pusat
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Ekologi Kesehatan
ISSN : 14124025     EISSN : 23548754     DOI : https://doi.org/10.22435/jek
Core Subject : Health,
The scope of this journal covers the ecological health that emphasizes mutual interaction between human and enviromental aspects such as in physical chemical biological and sociocultural that affect peoples healts status
Arjuna Subject : -
Articles 102 Documents
PHUBBING, PENYEBAB DAN DAMPAKNYA PADA MAHASISWA FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT, UNIVERSITAS INDONESIA Tiara Amelia; Mieska Despitasari; Kencana Sari; Dwi Sisca Kumala Putri; Puput Oktamianti; Agustina Agustina
JURNAL EKOLOGI KESEHATAN Vol 18 No 2 (2019): JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOL 18 NO.2 TAHUN 2019
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.743 KB) | DOI: 10.22435/jek.18.2.1060.122-134

Abstract

ABSTRACT Nowadays, phubbing phenomena occur in various social groups, including college students. This has an impact on social relationships and physical health. This is a qualitative study which aims to describe the causes, behavior, and impact of phubbing. The informants were fifth semester Faculty of Public Heath, University of Indonesia undergraduate students’ year 2018. Data collected through focus group discussions on female students and in-depth interviews with male students. The results of this study indicate that students understand phubbing as a phenomenon where a person is more engaging with mobile phones than interacting with the surrounding environment. Duration of internet usage starts from 5 hours to almost 24 hours a day. Phubbing among students was due to the desire to get updated information and events, entertainment, and shows the activities or achievements of themselves. The influence of the social environment and the demands of the academic environment encourage the use of smartphones frequently. Some students experience physical health problems (tiredness, sore eyes, dizziness, nausea) and sign of mental problem (sad, depressed, lost confidence) due to improper use of smartphones. Therefore, education students regarding the use of the internet wisely to prevent phubbing behavior and its effects are needed. In addition, academic and student activities through direct interaction rather than internet need to be maintained. Keywords: Phubbing, student, internet, smartphone ABSTRAK Saat ini fenomena phubbing terjadi di berbagai kelompok sosial, tidak terkecuali mahasiswa. Hal ini berdampak pada hubungan sosial maupun kesehatan fisik seseorang. Penelitian ini merupakan studi kualitatif yang bertujuan untuk mengetahui penyebab, perilaku, dan dampak phubbing. Informan adalah mahasiswa FKM UI Strata 1, semester 5 tahun 2018. Pengumpulan data dilakukan dengan cara Focus group discussion (FGD) kelompok mahasiswa perempuan dan wawancara mendalam terhadap mahasiswa laki-laki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa mengetahui phubbing sebagai fenomena dimana seseorang lebih banyak berkutat dengan handphone dibandingkan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Durasi penggunaan internet sehari mulai dari 5 jam sampai hampir 24 jam. Phubbing yang terjadi di kalangan mahasiswa dikarenakan keinginan agar tetap update informasi dan kejadian yang berlangsung, hiburan, dan juga menunjukkan kegiatan atau capaian diri sendiri. Pengaruh lingkungan sosial dan tuntutan lingkungan akademik mendorong penggunaan smartphone setiap saat. Sebagian mahasiswa mengalami gangguan kesehatan fisik (lelah, mata pedih, pusing, mual) dan tanda gangguan kesehatan mental (sedih, depresi, hilang percaya diri) akibat penggunaan smartphone yang tidak tepat. Perlu adanya upaya edukasi kepada mahasiswa mengenai penggunaan internet secara bijak sehingga mencegah perilaku phubbing dan dampaknya. Selain itu juga, perlu dipelihara kegiatan akademis maupun kegiatan mahasiswa yang dilakukan melalui interaksi secara langsung dibandingkan melalui internet. Kata kunci: Phubbing, mahasiswa, internet, smartphone
IMPLEMENTASI PROGRAM JAMINAN KESEHATAN NASIONAL DAN PERMASALAHANNYA DALAM PENURUNAN ANGKA KEMATIAN IBU (STUDI DI KABUPATEN SOLOK, PROVINSI SUMATERA BARAT) Yulfira Media
JURNAL EKOLOGI KESEHATAN Vol 18 No 1 (2019): JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOL 18 NO.1 TAHUN 2019
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.268 KB) | DOI: 10.22435/jek.18.1.1367.48-59

Abstract

ABSTRACT One of the government's efforts to reduce the high maternal mortality rate (MMR) is to implement the National Health Insurance (JKN) program. The purpose of the study was to determine the description of the implementation of the national health insurance program and its problems in an effort to reduce MMR. This research was conducted in Solok District, West Sumatra Province in 2017using qualitative methods with in-depth interviews with several informants from the Solok District Health Office, health workers, families who experienced cases of maternal deaths and community leaders. The results revealed that several public health insurance (JKN) efforts for pregnant and childbirth mothers, especially for the poor, have been provided and the outcome were quite good. However, there are still a number of problems including limited access to JKN, non-optimal JKN socialization and utilization of JKN service access, inadequate availability of health facilities and health workers. The alternative suggestions proposed include increasing periodic socialization of JKN programs and participation, especially in remote areas by involving cross-sectors, optimizing the utilization of JKN membership access through increasing the availability, quality and affordability of maternal health services, increasing health financing for the poor, and optimizing the system referral through strengthening application-based delivery referrals. Keywords: National health insurance, maternal health services, maternal mortality ABSTRAK Salah satu upaya pemerintah untuk menekan tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) adalah dengan menerapkan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui gambaran implementasi program jaminan kesehatan nasional dan permasalahannya dalam upaya penurunan AKI. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat pada tahun 2017. Desain penelitian menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam kepada beberapa informan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Solok, petugas kesehatan, keluarga yang mengalami kasus kematian ibu dan tokoh masyarakat. Pengolahan dan analisis data dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa beberapa upaya penjaminan kesehatan masyarakat untuk ibu hamil dan melahirkan terutama bagi masyarakat miskin sudah dilaksanakan, dan hasilnya sudah cukup baik. Namun, masih terdapat beberapa permasalahan di antaranya adalah masih terbatasnya akses kepesertaan JKN, belum optimalnya sosialisasi JKN, belum optimalnya pemanfaatan akses pelayanan JKN, belum memadainya ketersediaan sarana prasarana/fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan. Alternatif saran yang diusulkan antara lain adalah meningkatkan sosialisasi program dan kepesertaan JKN secara berkala terutama di daerah terpencil dengan melibatkan lintas sektor, mengoptimalkan pemanfaatan akses kepesertaan JKN melalui peningkatan ketersediaan, kualitas dan keterjangkauan pelayanan kesehatan ibu, peningkatan pembiyaan kesehatan pada kelompok miskin, dan mengoptimalkan sistem rujukan melalui penguatan rujukan persalinan yang berbasis aplikasi. Kata kunci: Jaminan kesehatan nasional, pelayanan kesehatan ibu, kematian ibu
KUSTA DI PROVINSI LAMPUNG: STUDI EKOLOGI BERDASARKAN TREN WAKTU Nurhalina Sari; Eliza Eka Nurmala
JURNAL EKOLOGI KESEHATAN Vol 18 No 2 (2019): JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOL 18 NO.2 TAHUN 2019
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.486 KB) | DOI: 10.22435/jek.18.2.1372.88-98

Abstract

ABSTRACT Leprosy is a disease that can cause pain and disability, which in the end can affect a person's quality of life. Through the 2013 Bangkok Declaration, Indonesia declared itself that 2020 was a leprosy-free country. However, until 2015, there were still reports of leprosy cases, including in Lampung Province. This study aims to analyze spatial leprosy and its risk factors to get priority areas for leprosy handling in Lampung Province. The study used ecological study designs. The sources of leprosy data and risk factors came from secondary data at the Central Statistics Agency and Health Office in Lampung for the year 2011 to 2015. Data analysis using spatial analysis. The analysis shows that leprosy cases are divided into two categories, namely paucibacillary and multibacillary. Spatial analysis results for 5 years indicate that leprosy cases are dominant in Central Lampung and East Lampung Districts. Based on population density, number of poor people, sanitation, nutritional status, and health facilities, several districts have a high risk of leprosy. The conclusion of this study is the priority in handling leprosy cases should be focused in the Central Lampung District and East Lampung District. Keywords: Leprosy, Lampung, spatial analysis, ecological study ABSTRAK Kusta merupakan penyakit yang dapat menyebabkan kesakitan dan kecacatan, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Melalui Deklarasi Bangkok 2013, Indonesia menyatakan bahwa tahun 2020 menjadi negara bebas kusta. Namun, hingga 2015 masih terdapat laporan kasus kusta, termasuk di Provinsi Lampung. Penelitian ini bertujuan menganalisis secara spasial kusta dan faktor risikonya untuk mendapatkan prioritas penanganan kusta di Provinsi Lampung dengan desain studi ekologi. Sumber data kusta dan faktor risiko berasal dari data sekunder di Badan Pusat Statistik dan Dinas Kesehatan di Lampung 2011 sampai dengan 2015. Analisis data menggunakan analisis spasial. Hasil analisis menunjukkan bahwa kasus kusta terbagi dalam dua kategori yaitu pausibasiler (PB) dan multibasiler (MB).Hasil analisis spasial selama 5 tahun menunjukkan bahwa kasus kusta dominan di Kabupaten Lampung Tengah dan Kabupaten Lampung Timur. Berdasarkan kepadatan penduduk, jumlah orang miskin, sanitasi, status gizi, dan fasilitas kesehatan, beberapa kabupaten memiliki risiko tinggi terhadap kasus kusta. Kesimpulan penelitian ini adalah prioritas penanganan kasus kusta sebaiknya difokuskan di wilayah Kabupaten Lampung Tengah dan Kabupaten Lampung Timur. Kata kunci: Kusta, Lampung, analisis spasial, studi ekologi
MODEL INTERVENSI HIPERTENSI DI PUSKESMAS PURWOYOSO, SEMARANG Eva Laelasari; Rachmalina S Prasodjo; Cahyorini Cahyorini; Kartika Handayani; Yuwana Wiryawan; Athena Anwar
JURNAL EKOLOGI KESEHATAN Vol 18 No 1 (2019): JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOL 18 NO.1 TAHUN 2019
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.522 KB) | DOI: 10.22435/jek.18.1.1472.15-26

Abstract

ABSTRACT To overcome community health problems, the government has launched the Healthy Indonesia Program through Family Approach (PIS-PK) since 2015. Until early 2018 the progress of this program over regions varies. The aim of this operational research conducted in Semarang in 2018 was to provide assistance for regions in implementing PIS-PK stages based on guidelines in order to produce an intervention model that can be sustainably applied with the commitments of related sectors and community participation. The result showed that Puskesmas Purwoyoso has implemented management of health service program throughout P1, P2, and P3 stages correctly in accordance with the guidelines. Based on healthy family indicators, RW 11 Purwoyoso Village was chosen as a priority area to be intervention model of hypertension prevention. The PIS-PK indicator showed that hypertension sufferers who were regularly treated was small in number. Several models used in handling hypertension cases through community empowerment approach including picking up patients with severe hypertension; blood pressure checking activity during social group gathering, so-called ‘arisan’ (CETAR), and anti-hypertension gardens. The intervention model had been implemented and established in RW 11 of Puskesmas Purwoyoso working area, therefore, other sectors involvement and community participation in hypertension prevention were expected Keywords: Intervention model, hypertension, PIS-PK ABSTRAK Sejak tahun 2015 Pemerintah telah meluncurkan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS PK) untuk menangani masalah kesehatan di masyarakat. Hingga awal tahun 2018, kemajuan pelaksanaan PIS PK di beberapa daerah bervariasi. Riset operasional yang dilakukan di Semarang pada tahun 2018 ini bertujuan untuk mendampingi daerah dalam melaksanakan tahapan pelaksanaan program PIS PK yang sesuai dengan pedoman, hingga menghasilkan model intervensi yang dapat diimplementasikan dengan melibatkan lintas sektor dan melibatkan peran serta masyarakat.Hasil pendampingan menunjukkan, Puskesmas Purwoyoso sudah menerapkan manajemen program pelayanan kesehatan Puskesmas melalui tahapan P1, P2, dan P3 sesuai pedoman. Berdasarkan nilai IKS dan cakupan indikator PIS PK yang belum berjalan dengan baik yaitu penderita hipertensi yang berobat teratur, maka dipilih RW 11 Kelurahan Purwoyoso sebagai wilayah prioritas untuk mendapat intervensi model penanggulangan hipertensi. Pemilihan model intervensi hipertensi melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat adalah jemput pasien gawat hipertensi, cek tensi saat arisan (CETAR), dan taman hepi (anti hipertensi). Model intervensi telah ditetapkan dan diimplementasikan di RW 11 yang termasuk wilayah kerja Puskesmas Purwoyoso, dan diharapkan keterlibatan lintas sektor serta masyarakat untuk ikut berperan dalam penanggulangan hipertensi. Kata kunci: Model intervensi, hipertensi, PIS-PK
Front Matter Vol 17 No. 3 Desember 2018
JURNAL EKOLOGI KESEHATAN Vol 17 No 3 (2018): JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOL 17 NO.3 TAHUN 2018
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.187 KB) | DOI: 10.22435/jek.17.3.1499.%p

Abstract

Front Matter Vol 17 No. 3 Desember 2018
Back Matter Vol 17 No. 3 Desember 2018
JURNAL EKOLOGI KESEHATAN Vol 17 No 3 (2018): JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOL 17 NO.3 TAHUN 2018
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.31 KB) | DOI: 10.22435/jek.17.3.1500.%p

Abstract

Back Matter Vol 17 No. 3 Desember 2018
HUBUNGAN KEGEMUKAN, KONSUMSI SAYUR DAN BUAH DENGAN KEJADIAN TOLERANSI GULA TERGANGGU (TGT) DI INDONESIA Bunga Ch Rosha; Dwi Sisca Kumalaputri; Indri Yunita Suryaputri
JURNAL EKOLOGI KESEHATAN Vol 18 No 1 (2019): JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOL 18 NO.1 TAHUN 2019
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.116 KB) | DOI: 10.22435/jek.18.1.1602.27-36

Abstract

ABSTRACT The incidence of diabetes has been increasing gradually each year. According to WHO, diabetes is the leading cause of blindness, kidney failure, heart attack, and stroke. Prevention strategies are needed, especially for people with Impaired Glucose Tolerance (IGT), as IGT is an intermediate stage in the natural course of type 2 diabetes and a predictor of type 2 diabetes. This paper is a secondary-data analysis of 2013 Basic Health Research aiming to identify IGT predictors. Samples were the respondents aged 15 years and over, with a total of 38,149. Analysis was carried out using logistic regression with odds ratios and 95% confidence intervals. Results showed that factors associated with IGT were age (OR (95% CI): 1.51 (1.43-1.59)), gender (OR (95% CI): 1.54 (1.46- 1.62)), education ((OR (95% CI): 1.18 (1.10-1.26), overweight (OR (95% CI): 1.24 (1.17-1.31) ) and fruit and vegetable consumption (OR (95% CI): 0.89 (0.80-0.99)). To conclude, obesity is a risk factor of IGT prevalence, while consumption of fruits and vegetables less than 4 portions per day was protective against IGT. There is a need of IGT prevention strategy, such as regular blood sugar checks, weight control and increased physical activity (exercise) and consume fruits and vegetables that are low in glucose and fluctose. Keywords: IGT, obesity, fruit and vegetable consumption, Riskesdas ABSTRAK Kejadian diabetes dari tahun ketahun semakin meningkat. Menurut WHO, diabetes merupakan penyebab utama kebutaan, gagal ginjal, serangan jantung, dan stroke. Perlu upaya pencegahan terutama pada orang dengan Toleransi Glukosa Terganggu (TGT), karena TGT merupakan tahap pertengahan di dalam perjalanan alamiah DM tipe 2 dan faktor prediktor terhadap terjadinya DM tipe 2. Artikel ini adalah analisis lanjut Riskesdas 2013, yang bertujuan untuk mengidentifikasi faktor prediktor TGT. Sampel adalah responden dengan umur 15 tahun ke atas berjumlah 38.149. Analisis dilakukan dengan regresi logistik dengan odds ratio dan 95 % confidence Interval. Hasil menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan dengan TGT ialah umur (OR (95% CI): 1,51 (1,43-1,59)), jenis kelamin (OR (95% CI): 1,54 (1,46-1,62)), pendidikan ((OR (95% CI): 1,18 (1,10-1,26), kegemukan (OR (95% CI): 1,24 (1,17-1,31)) dan konsumsi buah dan sayur (OR (95% CI): 0,89 (0,80-0,99)). Dapat disimpulkan bahwa kegemukan berisiko terhadap kejadian TGT dan konsumsi buah dan sayur < 4 porsi perhari protektif terhadap kejadian TGT. Perlu adanya upaya pencegahan TGT, seperti pemeriksaan gula darah secara berkala, mengontrol berat badan meningkatkan aktifitas fisik (olahraga), serta mengkonsumsi jenis buah dan sayur yang rendah glukosa dan fluktosa. Kata kunci: TGT, kegemukan, konsumsi buah dan sayur, Riskesdas
ANALISIS KEBERLANJUTAN PENGELOLAAN LIMBAH DI INSTALASI KARANTINA HEWAN (IKH) RUMINANSIA BESAR Nuryani Zainuddin; Khariri Khariri; M Ma'arif; E Riani; Susan M Noor
JURNAL EKOLOGI KESEHATAN Vol 19 No 1 (2020): JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOLUME 19 NOMOR 1 TAHUN 2020
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (532.823 KB) | DOI: 10.22435/jek.v19i1.1613

Abstract

ABSTRACT Indonesia regulates post-entry observations of slaughter animals through the Animal Quarantine Installation (AQI). For the continuation of the existence of AQI, it is necessary to carry out an analysis of the sustainability of AQI waste management, because errors in waste management can cause disease and environmental pollution. The purpose of this study is to evaluate and determine the sustainability of AQI based on 5 dimensions, namely the dimensions of ecology, economics, technology, social, and institutions. AQIs taken as research objects are one government AQI and one private AQI. The study was conducted by observation. The results of the observations were analyzed using a modification of the Rap-fish method with Multidimensional Scaling called Rap-AQI. The results showed the sustainability of private AQI in multidimensional aspects showing a sustainability index of 57.47, each indicated from the dimensions of ecology (54.17), economy (70.12), social (57.47), technology (54.89), and institutional (50,73). Whereas the government's AQI showed unsustainable results with a sustainability index of 45.02, each from ecological dimensions (49.24), economic (45.30), social (55.77), technology (29.27) and institutional dimensions (43.53). Leverage attribute analysis shows that of 54 existing attributes, there are 12 sensitive attributes as a key factor in the sustainability of AQI waste management. Keywords: Sustainability, animal quarantine installation, atribute, dimention ABSTRAK Indonesia mengatur pengamatan pasca-masuk hewan potong melalui Instalasi Karantina Hewan (IKH). Pemerintah telah melakukan kebijakan untuk pencegahan atau meminimalkan risiko penyebaran organisme penyakit hewan dan zoonosis pada kegiatan impor hewan dipintu masuk yaitu IKH. Untuk keberlanjutan keberadaan IKH, perlu dilakukan analisis keberlanjutan pengelolaan limbah IKH, karena kesalahan dalam pengelolaan limbah dapat menimbulkan dampak penyakit dan pencemaran lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan evaluasi dan menentukan keberlanjutan IKH berdasarkan 5 dimensi, yaitu dimensi-dimensi ekologi, ekonomi, teknologi, sosial dan kelembagaan. IKH yang diambil sebagai objek penelitian adalah satu IKH pemerintah dan satu IKH swasta. Penelitian dilakukan dengan pengamatan. Hasil pengamatan dianalisa dengan menggunakan modifikasi metode Rap-fish dengan Multidimensional Scaling yang disebut Rap-IKH. Hasil penelitian menunjukkan keberlanjutan IKH swasta dalam multidimensi aspek menunjukkan indeks keberlanjutan 57,47, masing-masing ditunjukkan dari dimensi ekologi (54,17), ekonomi (70,12), sosial (57,47), teknologi (54,89), dan kelembagaan (50,73). Sedangkan IKH pemerintah menunjukkan hasil yang kurang berkelanjutan dengan indeks keberlanjutan 45,02, masing-masing dari dimensi ekologi (49,24), ekonomi (45,30), sosial (55,77), teknologi (29,27) dan dimensi kelembagaan (43,53). Analisis leverage atribut menunjukkan bahwa dari 54 atribut yang ada, terdapat 12 atribut sensitif sebagai faktor kunci keberlanjutan pengelolaan limbah IKH. Kata kunci: Keberlanjutan, instalasi karantina hewan, atribut, dimensi
PELAYANAN PEMERIKSAAN KEHAMILAN BERKUALITAS YANG DIMANFAATKAN IBU HAMIL UNTUK PERSIAPAN PERSALINAN DI INDONESIA Ika Dharmayanti; Khadijah Azhar; Dwi Hapsari Tjandrarini; Puti Sari Hidayangsih
JURNAL EKOLOGI KESEHATAN Vol 18 No 1 (2019): JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOL 18 NO.1 TAHUN 2019
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.004 KB) | DOI: 10.22435/jek.18.1.1777.60-69

Abstract

ABSTRACT Antenatal care (ANC) is a prevention healthcare for maternal health and their babies. In order to fulfill the needs of them, an accessible health facility that provides ANC with qualified services for the community is needed. This study aims to determine the utilization of maternal health services as preparation for safe delivery. Analysis of this study used the data from National Health Indicator Survey (Sirkesnas) 2016 and Village Potential Census (Podes) 2014. The analysis technique was multivariable logistic regression. The results showed that the use of qualified ANC tended to be used by mothers who were examined by midwives in health centers, highly educated mothers, those who were living in moderate and good neighborhoods, not living in slums (social environment) and residing in Java-Bali region. It can be concluded that midwives and location of ANC provided important role to improve the utilization of ANC services as an ideal preparation for safe delivery. Keywords: Quality of ANC, maternal health, living environment, social environment ABSTRAK Pemeriksaan kehamilan atau antenatal care (ANC) merupakan upaya untuk menjaga kesehatan ibu hamil dan bayinya. Dalam memenuhi kebutuhan tersebut, diperlukan fasilitas kesehatan yang mudah diakses oleh masyarakat serta pelayanan pemeriksaan ANC yang berkualitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan pelayanan kesehatan ibu hamil sebagai persiapan persalinan yang aman. Analisis menggunakan data Survei Indikator Kesehatan Nasional (Sirkesnas) tahun 2016 dan Potensi Desa (Podes) tahun 2014. Teknik analisis yang digunakan adalah regresi logistik multivariabel. Hasil uji regresi logistik multivariabel menunjukkan bahwa pemanfaatan ANC berkualitas cenderung digunakan oleh ibu yang diperiksa bidan di puskesmas, ibu berpendidikan tinggi, tinggal di lingkungan permukiman sedang dan baik, tidak tinggal di wilayah kumuh (lingkungan sosial) serta bertempat tinggal di Regional Jawa-Bali. Dapat disimpulkan bahwa bidan dan tempat ANC mempunyai peran sangat penting untuk meningkatkan pemanfaatan pelayanan ANC ideal sebagai persiapan persalinan yang aman. Kata kunci: Pelayanan kehamilan berkualitas, kesehatan ibu hamil, lingkungan permukiman, lingkungan sosial
WASTE MANAGEMENT IN INDONESIAN PUBLIC HEALTH CENTRES: FACTORS ASSOCIATED WITH WASTE SEGREGATION PRACTICES AND DISPOSAL METHODS Sri Irianti; Puguh Prasetyoputra
JURNAL EKOLOGI KESEHATAN Vol 18 No 1 (2019): JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOL 18 NO.1 TAHUN 2019
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.793 KB) | DOI: 10.22435/jek.18.1.1831.1-14

Abstract

ABSTRAK Pada tahun 2014 Indonesia mulai menerapkan Universal Health Coverage (UHC), yang akan meningkatkan cakupan asuransi kesehatan. Artinya bahwa pemanfaatan layanan kesehatan akan meningkat juga, sehingga pengelolaan limbah medis di pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) akan menjadi semakin penting. Artikel ini merupakan analisis data Riset Fasilitas Kesehatan (Rifaskes) yang dilakukan oleh Badan Litbang Kesehatan tahun 2011 tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pemisahan limbah dan pembuangan akhir limbah layanan kesehatan di Puskesmas. Jumlah sampel adalah 8.599 Puskesmas. Variabel yang dianalisis meliputi sistem pembuangan limbah, perilaku pemisahan limbah, dan pengolahan limbah dengan cara dibakar. Analisis data dilakukan secara multivariat dengan model logistik biner multivariabel dan regresi multinomial pada tingkat signifikansi 0,05. Hasil analisis regresi multivariabel menemukan bahwa ada ketidaksetaraan berbasis geografis di mana Puskesmas yang terletak di wilayah Jawa-Bali, di daerah perkotaan, bukan di daerah terpencil, dan di pulau-pulau utama, cenderung melakukan pemisahan limbah medis, dan cenderung tidak melakukan praktik pembakaran terbuka. Puskesmas yang memiliki sistem pembuangan limbah yang layak, mengindikasikan bahwa memiliki kecenderungan mempraktikkan pemisahan limbah medis (tidak pembakaran terbuka). Sebaliknya puskesmas di daerah pedesaan, tidak melakukan pemilahan limbah dan cenderung mengelola sampah dengan cara dibakar. Hal ini mengindikasikan bahwa sumber daya untuk menerapkan pengelolaan limbah layanan kesehatan yang tepat di Puskesmas, termasuk fasilitas dasar, pelaksanaan pemisahan di sumber, dan pengolahan serta pembuangan limbah yang tepat menjadi sangat penting. Kata kunci: Limbah medis, fasilitas kesehatan, analisis regresi, pengelolaan limbah, Indonesia ABSTRACT In 2014, Indonesia started implementing Universal Health Coverage (UHC). As coverage of health insurance expands, healthcare utilisation will increase. Therefore, sustainable healthcare waste management (HCWM) in public health centres (PHCs) will become more important. This paper addresses the drivers of waste segregation and the final disposal of healthcare wastes. We obtained data on health care waste management (HCWM) in 8,599 PHCs from the 2011 Health Facility Research (Rifaskes). We then fitted multivariable binary logistic and multinomial regression models at the 0.05 level of significance. The multivariable regression analyses found that there were geographically based inequalities where PHCs located in Java­Bali region, in the urban area, not in the remote area, in main islands, were more likely to practice medical waste segregation, and less likely to practice open burning. Owning a sewerage system corresponds to a higher likelihood of practising medical waste segregation and lower likelihood of open burning. Moreover, PHCs with better basic amenities were more likely to segregate their waste and less likely to practice open burning. This paper recommends the importance of resource for establishing proper HCWM in PHCs including basic amenities, implementation of segregation at source, and appropriate waste treatment and disposal. Keywords: Medical waste; health facilities; regression analysis; waste management; Indonesia

Page 4 of 11 | Total Record : 102