cover
Contact Name
Hayani Anastasia
Contact Email
jvektorpenyakit@gmail.com
Phone
+62811459507
Journal Mail Official
jvektorpenyakit@gmail.com
Editorial Address
Balai Litbangkes Donggala, Jl. Masitudju No.58, Labuan Panimba, Labuan, Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah, 94252
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Vektor Penyakit
ISSN : 19783647     EISSN : 23548835     DOI : https://doi.org/10.22435/vektorp
Jurnal Vektor Penyakit is an open access, per-reviewed, online journal fully dedicated to publishing quality manuscript on all aspects on tropical diseases, i.e malaria, dengue, lymphatic filariasis, chikungunya, schistosomiasis, soil transmitted helminth, leptospirosis and others related to vector, reservoir and zoonotic diseases. Jurnal Vektor Penyakit also concerned to the pathology, epidemiology, prevention, health environment, treatment and control of the parasitic and infectious diseases, tropical diseases as well as public policy relevant to that group of diseases.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 92 Documents
Efektivitas Ekstrak Daun Pandan Wangi (Pandanus amaryllifolius) Terhadap Mortalitas Larva Aedes sp dan Anopheles Andi Tilka Muftiah; Andi Yulia Kasma; Renaldi M
Jurnal Vektor Penyakit Vol 13 No 2 (2019): Edisi Desember
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.773 KB) | DOI: 10.22435/vektorp.v13i2.465

Abstract

Abstract Dengue hemorrhagic fever (DHF) and malaria are diseases that are spread through vector (Vector Borne Disease), which can be prevented by applying larvacides. One of plant showing function as a natural larvacide is fragrant pandan leaves (Pandanus amaryllifolius). The chemical contents in fragrant pandan leaves are polyphenols, flavonoids, saponins, tannin, and alkaloids. This study aimed to recognize the effectiveness of fragrant pandan extract (P. amaryllifolius) in killing the larvae of Aedes sp. and Anopheles. This was experimental research, posttest only with control group design. The study population was Aedes sp. and Anopheles larvae (Instar III-IV) taken from the original habitat, then the sample was determined by purposive sampling method. The results revealed that the most effective concentration of fragrant pandan extract (P. amaryllifolius) in killing the larvae of Aedes sp. and Anopheles was 15%. Probit test results of Lethal Concentration 50% and 90% fragrant pandan extract for 24 hours to Aedes sp. larvae showed 9.445% and 14.087%, while to Anopheles larvae depicted 14.874% and 31.468%. It is expected to be guided to community in applying fragrant pandan extract as an alternative larvacide in everyday life to control vector diseases, particularly dengue hemorrhagic fever and malaria. Abstrak Demam berdarah dengue (DBD) dan malaria merupakan penyakit yang disebarkan melalui vektor nyamuk (Vector Borne Disease), yang dapat dicegah penyebarannya dengan menggunakan larvasida. Salah satu tanaman yang berfungsi sebagai larvasida alami adalah daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius). Kandungan kimia yang ada di daun pandan wangi adalah senyawa pahit berupa polifenol, flavonoid, saponin, tanin dan alkaloid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak daun pandan wangi (P. amaryllifolius) dalam mematikan larva Aedes sp. dan Anopheles. Jenis penelitian ini adalah Experimental dengan desain posttest only with control group. Populasi penelitian adalah larva nyamuk Aedes sp. dan Anopheles (instar III-IV) yang diambil dari habitat asli, kemudian sampel ditentukan dengan menggunakan metode purposive sampling. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konsentrasi ekstrak daun pandan wangi (P. amaryllifolius) yang efektif dalam mematikan larva Aedes sp. dan Anopheles dalam jumlah terbanyak adalah 15%. Hasil uji probit Lethal Concentration 50% dan 90% ekstrak daun pandan wangi selama 24 jam terhadap larva Aedes sp. menunjukkan angka 9,445% dan 14,087% sedangkan terhadap larva Anopheles menunjukkan angka 14,874% dan 31,468%. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi masyarakat dalam mengaplikasikan ekstrak daun pandan wangi sebagai larvasida alternatif di kehidupan sehari-hari untuk mengendalikan penyakit vektor khususnya demam berdarah dengue dan malaria.
Diagnosis Klinis Demam Berdarah Dengue di Tiga Kabupaten/Kota Sulawesi Tengah Tahun 2015-2016 Hayani Anastasia
Jurnal Vektor Penyakit Vol 12 No 2 (2018): Edisi Desember
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.358 KB) | DOI: 10.22435/vektorp.v12i2.834

Abstract

Abstract Dengue is a major public health problem in Indonesia including Central Sulawesi. In the past, Palu was the only city reported high dengue cases. Then, dengue outbreaks were also reported from several districts in Central Sulawesi. The Provincial Health Office suspected over-reporting of dengue infection. This reviewed article was aimed to identify whether the clinical diagnosis was the cause of over-reporting of dengue infection. Data of dengue cases from three districts/city in 2015-2016 were analyzed descriptively. The results showed that there was an over-reporting of dengue infection by 51.7%. The over-reporting occurred because the diagnosis of cases was not strictly followed the guideline for dengue infection classification by the Ministry of Health. Therefore, it is necessary for the health practitioners to understand fully the guideline of dengue infection classification used in Indonesia. Abstrak Dengue merupakan salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia, termasuk di Sulawesi Tengah. Kota Palu merupakan daerah endemis Demam Berdarah Dengue (DBD) utama di Sulawesi Tengah. Namun, dalam beberapa tahun terakhir kejadian luar biasa DBD dilaporkan di beberapa kabupaten. Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah menduga adanya kemungkinan over-reporting kasus DBD yang menyebabkan meningkatnya laporan kasus DBD setiap tahunnya. Review ini bertujuan untuk mengidenfikasi kemungkinan adanya over-reporting kasus DBD di tiga kabupaten/kota di Sulwesi Tengah. Data kasus DBD tahun 2015-2016 dianalisis secara deskriptif untuk melihat adanya over-reporting. Hasil menujukkan bahwa terdapat kelebihan 51,7% kasus DBD yang disebabkan karena diagnosis tidak mengikuti kriteria diagnosis klinis sesuai panduan klasifikasi infeksi dengue yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan. Oleh karena itu sangat penting bagi klinisi untuk memahami kriteria diagnosis infeksi dengue yang digunakan di Indonesia.
Front Matter JVP Vol. 12 No. 1 Tahun 2018 Jurnal Vektor Penyakit
Jurnal Vektor Penyakit Vol 12 No 1 (2018): Edisi Juni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.339 KB) | DOI: 10.22435/vektorp.v12i1.835

Abstract

Back Matter JVP Vol. 12 No. 1 Tahun 2018 Jurnal Vektor Penyakit
Jurnal Vektor Penyakit Vol 12 No 1 (2018): Edisi Juni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (53.576 KB) | DOI: 10.22435/vektorp.v12i1.836

Abstract

Studi Filariasis Pasca Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) Filariasis Tahap III Kabupaten Muara Enim Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2016 ritawati ritawati; Reni Oktarina
Jurnal Vektor Penyakit Vol 12 No 2 (2018): Edisi Desember
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (852.039 KB) | DOI: 10.22435/vektorp.v12i2.837

Abstract

Abstract Muara Enim is an endemic lymphatic filariasis district in South Sumatera Province. Microfilaria rate reported in 2009 was 10.3%. Filarial prevention mass drug administration (MDA) was simultaneously carried out since 2013. The objectives of the study were to identify the lymphatic filariasis situation (microfilaria rate, history of drugs administration, vector species and larval habitat) after the introduction of third phase filariasis prevention drugs. Study design was cross sectional study, which located in Penanggiran and Cinta Kasih Village, Muara Enim District in 2015. Sampling was done by examination of finger blood at night from 19:00 to 24:00. The history of taking MDA was asked to the villagers > 15 years old that were taken finger blood speciments. The catching of adult mosquitoes was done once by human landing collection method for 12 hours (18.00-06.00). Observation of larvae was conducted in larval breeding habitats.The results found one sample Brugia malayi mikrofilaria species positive of 726 from the sentinel village of sentinel. Microfilarial rate was 0.29%. The dominant mosquito vector species was Culex quinquefasciatus. The mosquito larvae were found in the marsh area. We found only 22% of 537 respondents has been taking the drug three times for three years. Abstrak Muara Enim merupakan daerah endemis filariasis di Provinsi SumateraSelatan. Mikrofilaria rate dilaporkan tahun 2009 sebesar 10,3%. Pemberianobat pencegahan massal serentak dilakukan sejak tahun 2013. Tujuanpenelitian mengetahui gambaran filariasis (mikrofilaria rate, riwayat minumobat, spesies nyamuk dan habitat larva) pasca-Pemberian Obat PencegahanMassal (pasca-POPM) filariasis tahap tiga. Desain penelitian studi potonglintang, lokasi penelitian di Desa Penanggiran dan Cinta Kasih. Pengambilansampel dengan cara pemeriksaan darah jari pada malam hari dimulai pukul19.00-24.00 WIB terhadap seluruh penduduk desa yang datang pada saatsurvei darah jari (SDJ). Riwayat minum obat pencegahan ditanyakan padapenduduk yang diambil spesimen darah jari berumur >15 tahun. Penangkapannyamuk dewasa dilakukan masing-masing satu kali di desa lokasi penelitiandengan metode human landing collection selama 12 jam (18.00–06.00 WIB).Pengamatan dan pencidukan larva pada habitat perkembangbiakan larva.Hasil pemeriksaan darah terhadap 726 orang ditemukan satu orang positifmikrofilaria dengan spesies Brugia malayi dengan Mf rate sebesar 0,29%.Frekuensi minum obat massal filariasis selama tiga tahun POPM dari 537responden hanya sebesar 22,0%. Spesies nyamuk yang dominan ditemukanCulex quinquefasciatus. Larva nyamuk vektor filariasis ditemukan di rawa.Disarankan sosialisasi, pentingnya minum obat pencegahan filariasis danpeningkatan praktik pencegahan untuk mengurangi kontak dengan nyamuk.
Lotion Ekstrak Daun Zodia (Evodia sauveolens) Sebagai Repellent Nyamuk Aedes sp Indah Werdiningsih; Riski Amalia
Jurnal Vektor Penyakit Vol 12 No 2 (2018): Edisi Desember
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (686.748 KB) | DOI: 10.22435/vektorp.v12i2.839

Abstract

AbstractDengue fever is vector borne disease by Aedes sp. mosquito. Insecticide was used widespreadly to control this vector. The use of insecticide in long periode will arise problemssuch as polluting the environment, killing non-target organism, and causing vectorresistant. It is need to looking for natural ingredient to use as the repellent of mosquitoescontact. Zodia plant (Evodia sauveolens) is contain active substances among otherlinanool and a-pinene which are natural active ingredients as mosquitoes repellent. Thestudy aimed to determine the influence of lotion from Zodia leaves extract against Aedessp. mosquitoes. The study design was post test only control. The result showed the highestprotection lotion zodia leaf extract (Evodia sauveolens) against Aedes sp. was atconcentration of 50% and 60%, ie 90% in the first hour. Long time protection longestpower was concentration 60%, that can reached up to 6 hours at 16%. We can concludethat there was an influence of the application of lotion from Zodia leaves extract to theprotection against Aedes sp. Abstrak Demam berdarah adalah penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes sp.Penggunaan insektisida merupakan cara yang sering digunakan. Namun demikian,penggunaan insektisida dapat menimbulkan pencemaran lingkungan. Salah satutindakan pencegahan kontak nyamuk adalah dengan pemakaian repellent yangumumnya berbahan aktif kimia sintetis. Untuk itu perlu dicari bahan alami yang lebihaman, diantaranya penggunaan tanaman zodia (Evodia sauveolens) yang mengandungbahan aktif linanool dan a-pinene yang merupakan bahan alami penolak nyamuk.Metode penelitian ini post tes only control design. Pembuatan ekstrak dengan metodedestilasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian lotionekstrak daun zodia terhadap daya proteksi nyamuk Aedes sp. Hasil penelitianmenunjukkan daya proteksi lotion ekstrak daun zodia (Evodia sauveolens) terhadapnyamuk Aedes sp. paling tinggi pada konsentrasi 50% dan 60% pada jam pertama yaitu90 %. Daya proteksi terlama diperoleh pada konsentrasi 60% yang dapat mencapai jamke-6 sebanyak 16%. Berdasarkan hasil dapat disimpulkan ada pengaruh pengolesanlotion ekstrak daun zodia terhadap daya proteksi nyamuk Aedes sp.
Pemetaan Keong Fokus Oncomelania hupensis lindoensis di Empat Desa Schistosomiasis di Kabupaten Sigi dan Poso Samarang Pawakkangi; Malonda Maksud; Mujiyanto Mujiyanto; Junus Widjaja; Hayani Anastasia
Jurnal Vektor Penyakit Vol 12 No 2 (2018): Edisi Desember
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (506.184 KB) | DOI: 10.22435/vektorp.v12i2.849

Abstract

Abstract The habitat of Oncomelania hupensis lindoensis snails was found widely spread in the three areas of the Napu, Bada and Lindu Highlands with the infection rate above 1%. The last focus distribution map of this snail was done eight years ago. Therefore, it needs to be updated. This study aimed to identify and map the primary and secondary foci area of O.hupensis lindoensis snail. Mapping of the intermediate host of schistosoma, O. hupensis lindoensis was conducted for seven month in four schistosomiasis endemic villages in Poso and Sigi District of Central Sulawesi in 2016. The result showed that snail of O. hupensis lindoensis in Sedoa was found reduced to 33 foci, in Watutau Village was also reduced to two foci, in Tomehipi Village was found increased become eight foci, and in Tomado Village was found reduced become 15 foci. The foci areas needs to be changed into agricultural land, to reduce the number and area of O. hupensis lindoensis. Abstrak Penyebaran habitat keong O. hupensis lindoensis ditemukan di tiga wilayah yaitu Dataran Tinggi Napu, Bada dan Lindu dengan infection rate di atas 1%. Data distribusi fokus telah dilakukan delapan tahun lalu melalui pemetaan fokus, sehingga perlu diperbaharui. Telah dilakukan pemetaan habitat perantara schistosomiasis keong O. hupensis lindoensis selama tujuh bulan di empat daerah endemis di Kabupaten Poso dan Sigi Sulawesi Tengah. Studi ini bertujuan memetakan dan mengidentifikasi fokus keong O. hupensis lindoensis di dataran tinggi Napu, Bada, dan Lindu, sebagai pembaharuan data perkembangan fokus di daerah endemis. Hasil pemetaan habitat hospes perantara schistosomiasis keong O. hupensis lindoensis menunjukan bahwa jumlah fokus keong O. hupensis lindoensis di Desa Sedoa menurun menjadi 33 fokus, di Desa Watutau jumlah fokus menurun menjadi dua fokus, di Desa Tomehipi meningkat menjadi delapan fokus, dan di Desa Tomado menurun menjadi 15 fokus. Aktivitas pengelolaan area fokus menjadi lahan produktif perlu diintensifkan guna mengurangi jumlah fokus O. hupensis lindoensis.
Aplikasi IJEN (Infeksi Jamur Entomopatogen pada Nyamuk) : Jamur Metarhizium anisopliae pada Nyamuk Aedes aegypti Liestiana Indriyati; Salamiah Salamiah; Lutfhi Fatah; Eko Suhartono; Muhammad Rasyid Ridha; Abdullah Fadily; Paisal Paisal; Dicky Andiarsa
Jurnal Vektor Penyakit Vol 13 No 1 (2019): Edisi Juni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.914 KB) | DOI: 10.22435/vektorp.v13i1.893

Abstract

Abstract Dengue hemorrhagic fever is one of the main problems in Indonesia, its handling on chemical insecticides with insecticide resistance constraints that can inhibit vector control efforts. Entomopathogenic fungi especially Metarhizium anisopliae is one of bioinsecticides that has been widely used in agriculture for controlling insect attacks, effective in killing mosquitoes, safe for vertebrates, humans and the environment and has a small risk of resistance. Appropriate methods of formulation and application for M. anisopliae infection to mosquitoes suitable for mosquito bionomic and fungus characteristics are required. Experimental research with complete randomized design was conducted to test the efficacy of. M.anisopliae solution mixed olive oil and honey formula applied to ovitrap, plant trap and black cotton trap in infecting adult female Ae. aegypti. The death of Ae.a egypti and fungal growth on kadaver was observed everyday. 100% Ae. aegypti death was obtained in the ovitrap method with mixed formulation of M.anisopliae and olive oil. This method was also capable of infecting Ae.aegypti in various phases of both adults, eggs and larvae so that in this study ovitrap olive oil method was the most effective method for infecting M.anisopliae on Ae.aegypti. Abstrak Demam berdarah dengue merupakan salah satu masalah utama di Indoneisa. Penggunaan insektisida kimia sebagai upaya pengendalian DBD saat ini memiliki kendala resistensi insektisida yang dapat menghambat upaya pengendalian vektor. Jamur entomopatogen khususnya Metarhizium anisopliae adalah salah satu bioinsektisida yang telah digunakan secara luas di bidang pertanian untuk pengendalian serangan serangga efektif membunuh nyamuk, aman bagi vertebrata, manusia dan lingkungan serta memiliki risiko resistensi yang kecil. Diperlukan metode yang tepat baik dari formulasi maupun cara aplikasi untuk penginfeksian M.anisopliae kepada nyamuk yang sesuai dengan bionomik nyamuk dan karakteristik jamur. Penelitian eksperimental dengan rancangan acak lengkap dilakukan untuk menguji efektivitas formula M.anisopliae. Larutan M.anisopliae dicampur minyak zaitun dan madu yang diaplikasikan pada ovitrap, plant trap dan black cotton trap dalam menginfeksi Ae.aegypti betina dewasa. Pengamatan dilakukan pada kematian Ae.aegypti dan pertumbuhan jamur pada kadaver setiap hari. Kematian Ae.aegypti 100% didapatkan pada metode ovitrap dengan formulasi campuran M.anisopliae dan minyak zaitun. Metode ini juga mampu menginfeksi Ae.aegypti pada berbagai fase baik dewasa, telur maupun larva sehingga pada penelitian ini metode zaitun ovitrap dinyatakan metode yang paling efektif untuk penginfeksian M.anisopliae pada Ae.aegypti.
Potensi Ekstrak Daun Marigold (Tagetes erecta L.) sebagai Larvasida terhadap Larva Aedes aegypti di Laboratorium Marini Marini; Vivin Mahdalena; Tanwirotun Ni'mah
Jurnal Vektor Penyakit Vol 12 No 2 (2018): Edisi Desember
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.873 KB) | DOI: 10.22435/vektorp.v12i2.898

Abstract

Abstract Control of mosquito vectors by using natural ingredients is being developed intensively. Marigold (Tagetes erecta) was widely used as a mosquito repellent plant. The results of research before had found that marigold leaf extract has a repulsive effect on Aedes aegypti mosquitoes. This study aimed to identify the potential of marigold leaf extract as larvacide against Ae. aegypti larvae in the laboratory. The material used in this research was extracts of marigold leaves. Larvacide test was carried out by dissolving of extract in water at the concentration of 2,000 ppm, 4,000 ppm, 6,000 ppm, 8,000 ppm, and 10,000 ppm. The larvae used was Ae. aegypti larvae as many as 25 larvae each five treatment of replications. Probit analysis was conducted on larval mortality after 24 hours of exposure. The results of the probit analysis showed that the estimated concentration of extracts that could result in larval mortality up to 95% (LC95) was 7,456 ppm. From the result we can conclude that ethanol extract of marigold leaves (T. erecta L. ) has the biolarvacidal activity against larvae. Abstrak Pengendalian vektor nyamuk dengan memanfaatkan bahan alam makin banyak dikembangkan. Marigold (T. erecta) merupakan tumbuhan yang banyak dimanfaatkan sebagai tanaman pengusir nyamuk. Hasil penelitian sebelumnya menemukan bahwa ekstrak daun memiliki daya tolak terhadap nyamuk Ae. aegypti. Penelitian ini bertujuan untuk melihat potensi ekstrak daun marigold sebagai larvasida terhadap larva Ae. aegypti instar III di laboratorium. Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah ekstrak etanol daun marigold hasil ekstraksi dari penelitian sebelumnya. Uji larvasida dilakukan dengan melarutkan ekstrak dalam air pada konsentrasi 2.000 ppm, 4.000 ppm, 6.000 ppm, 8.000 ppm, dan 10.000 ppm. Larva yang digunakan yaitu larva Ae. aegypti sebanyak 25 larva tiap perlakuan dengan lima ulangan. Dilakukan analisis probit terhadap kematian larva setelah 24 jam paparan. Hasil analisa probit menunjukkan perkiraan konsentrasi ekstrak yang mampu mengakibatkan kematian larva hingga 95% (LC95 ) adalah 7.456 ppm. Ekstrak etanol daun marigold (T.erecta L.) memiliki potensi sebagai biolarvasida terhadap larva Ae. aegypti.
Survei Darah Jari di Kabupaten Tanjung Jabung Timur Provinsi Jambi Tahun 2017 Yanelza Supranelfy; Sulfa Esi Warni; Nur Inzana; Ade Verientic Satriani; deriansyah EKa Putra; betriyon yon; nungki hapsari s; santoso santoso
Jurnal Vektor Penyakit Vol 13 No 2 (2019): Edisi Desember
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (832.961 KB) | DOI: 10.22435/vektorp.v13i2.915

Abstract

Abstract Tanjung Jabung Timur Regency conducted Mass Drug Prevention (POPM) Filariasis for five consecutive years (2012 up to 2016). The results of the evaluation of the prevalence of microfilaria in the third year (2014) indicated POPM Mf rate in the Regency Tanjung Jabung Timur of 0.83%. Activities conducted after implementation of the POPM filariasis fifth-year evaluation survey was the survey of filariasis transmission. The purpose of this survey was to detect filarial worms in the community, assessed filarial numbers (Microfilaria rate/Mf rate) in the study area, identified the characteristics of the research subjects (age, sex, education, occupation, history of recurrent fever) and identified treatment history and behavior in society. The survey conducted in Nibung Putih Village and Rantau Karya Village on July 2017. Site selection was conducted by the Tanjung Jabung Timur District Health Office based on the results of research conducted in 2014 and villages bordering filariasis endemic villages. The activities conducted were blood finger examination and interview to the respondent which was done from 20.00 until 00.00. Samples collected were 602 individuals. The collected blood specimen was then stained using Giemsa 5% for 30 minutes then read under a microscope to determine the species of filarial worm found. The survey results obtained two new filariasis sufferers in Nibung Putih Village, with Brugia malayi species. The Mf rate in East Tanjung Jabung Regency is 0.33 percent or less than 1%. The results of the pre-TAS previously in the same year obtained a Mf rate in Tanjung Jabung Timur District of 0.82% with a Mf rate of 1.29% in sentinel villages. Based on the two survey results, it shows that there is still a high risk of filariasis transmission, then POPM is continued for at least two years in succession (6th and 7th POPM filariasis). The administration of drugs to positive patients is following the treatment procedure and increases the coverage of treatment in the 6th and 7th years, namely to supervise taking medication by ensuring the drug is taken directly in front of the health worker or cadre. Abstrak Kabupaten Tanjung Jabung Timur telah melaksanakan kegiatan pemberian obat pencegahan massal (POPM) filariasis selama lima tahun berturut-turut (2012-2016). Hasil evaluasi prevalensi mikrofilaria pada tahun ketiga POPM (2014) menunjukkan mikrofilaria rate (Mf rate) di Kabupaten Tanjung Jabung Timur sebesar 0,83%. Kegiatan yang dilakukan setelah pelaksanaan POPM filariasis tahun kelima adalah survei evaluasi penularan filariasis. Tujuan survei ini adalah untuk mendeteksi cacing filaria pada masyarakat, menilai angka filaria (Microfilaria rate/Mf rate) di daerah penelitian, identifikasi karakteristik subyek penelitian (umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, riwayat demam berulang) serta identifikasi riwayat pengobatan dan perilaku pada masyarakat. Survei dilakukan di Desa Nibung Putih dan Desa Rantau Karya pada Juli 2017. Pemilihan lokasi dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Tanjung Jabung Timur berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada tahun 2014 dan desa yang berbatasan dengan desa endemis filariasis. Kegiatan yang dilakukan adalah pemeriksaan darah jari dan wawancara kepada responden yang dilakukan mulai pukul 20.00 WIB sampai dengan 00.00 WIB. Sampel yang dikumpulkan sebanyak 602 individu. Spesimen darah yang telah terkoleksi kemudian dilakukan pewarnaan dengan menggunakan Giemsa 5% selama 30 menit lalu dibaca di bawah mikroskop untuk menentukan spesies cacing filaria yang ditemukan. Hasil survei mendapatkan dua orang penderita baru filariasis di Desa Nibung Putih, dengan spesies Brugia malayi Angka Mf rate di Kabupaten Tanjung Jabung Timur sebesar 0,33 persen atau kurang dari 1 %. Hasil pre-TAS sebelumnya di tahun yang sama didapatkan angka Mf rate sebesar 0,82%. dengan angka Mf rate 1,29% di desa sentinel. Berdasarkan kedua hasil survei tersebut menunjukkan bahwa masih terdapat risiko penularan filariasis yang tinggi, maka POPM dilanjutkan minimal dua tahun berturut-turut (POPM filariasis tahun ke-6 dan ke-7). Pemberian obat kepada penderita positif sesuai dengan prosedur pengobatan serta meningkatkan cakupan pengobatan pada tahun ke-6 dan ke-7 yaitu melakukan pengawasan minum obat dengan memastikan obat diminum langsung di depan petugas kesehatan atau kader.

Page 2 of 10 | Total Record : 92