cover
Contact Name
Hayani Anastasia
Contact Email
jvektorpenyakit@gmail.com
Phone
+62811459507
Journal Mail Official
jvektorpenyakit@gmail.com
Editorial Address
Balai Litbangkes Donggala, Jl. Masitudju No.58, Labuan Panimba, Labuan, Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah, 94252
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Vektor Penyakit
ISSN : 19783647     EISSN : 23548835     DOI : https://doi.org/10.22435/vektorp
Jurnal Vektor Penyakit is an open access, per-reviewed, online journal fully dedicated to publishing quality manuscript on all aspects on tropical diseases, i.e malaria, dengue, lymphatic filariasis, chikungunya, schistosomiasis, soil transmitted helminth, leptospirosis and others related to vector, reservoir and zoonotic diseases. Jurnal Vektor Penyakit also concerned to the pathology, epidemiology, prevention, health environment, treatment and control of the parasitic and infectious diseases, tropical diseases as well as public policy relevant to that group of diseases.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 92 Documents
Persepsi Stakeholder Tentang Program Eliminasi Filariasis di Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan : Suatu Tinjauan Studi Kasus ahmad erlan; Sitti Chadijah; Yusran Udin
Jurnal Vektor Penyakit Vol 13 No 2 (2019): Edisi Desember
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (514.428 KB) | DOI: 10.22435/vektorp.v13i2.1097

Abstract

Abstract Enrekang District was declared passed the Transmission Assessment Survey (TAS) - 3 in 2016 and received a certificate of free elephant foot area by the Ministry of Health in 2017. The study aims to thoroughly identify various aspects related to the success of Enrekang District in implementing TAS third stage to lead to the elimination of filariasis. Qualitative studies are carried out by conducting in-depth interviews with relevant stakeholders in supporting the filariasis elimination program. The research has been carried out in two locations which are sentinel areas namely Potokullin Village, Buntu Batu District, and Parombean Village, Curio District, Enrekang Regency. The results of the study show that there are important concerns from relevant stakeholder both from the health sector and across sectors towards the implementation of filariasis elimination in Enrekang District. Most stakeholders' perceptions already know what filariasis is, what the dangers are and how to prevent them. But it needs more intensive advocacy from health promotion personnel to get support from stakeholder involved in the success of the filariasis elimination program in Enrekang District. Abstrak Kabupaten Enrekang telah dinyatakan lulus Transmission Assesment Survey (TAS)-3 pada tahun 2016, bahkan telah menerima sertifikat daerah bebas kaki gajah oleh Kementerian Kesehatan pada tahun 2017. Studi ini bertujuan untuk mengetahui secara menyeluruh berbagai aspek yang terkait dengan keberhasilan Kabupaten Enrekang dalam melaksanakan TAS tahap ketiga dalam rangka menuju eliminasi filariasis. Studi kualitatif dilakukan dengan melakukan wawancara mendalam (indepth interview) kepada stakeholder yang berkaitan dalam mendukung program eliminasi filariasis. Penelitian telah dilaksanakan di dua lokasi yang merupakan daerah sentinel yaitu Desa Potokullin, Kecamatan buntu Batu dan Desa Parombean, Kecamatan Curio Kabupaten Enrekang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya perhatian penting dari para stakeholder yang berkaitan baik itu dari sektor kesehatan maupun lintas sektor terhadap pelaksanaan eliminasi filariasis di Kabupaten Enrekang. Sebagian besar persepsi stakeholder sudah mengetahui apa itu filariasis, apa bahayanya dan bagaimana cara pencegahannya. Namun perlu advokasi lebih gencar dari tenaga promosi kesehatan agar mendapat dukungan dari para stakeholder yang terlibat dalam menyukseskan program eliminasi filariasis di Kabupaten Enrekang.
Rencana Aksi Lintas Sektor dan Peran Serta Masyarakat dalam Pengendalian Fokus Keong Perantara Schistosomiasis di Dataran Tinggi Napu Kabupaten Poso Sulawesi Tengah Junus Widjaja; Hayani Anastasia
Jurnal Vektor Penyakit Vol 13 No 2 (2019): Edisi Desember
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (824.886 KB) | DOI: 10.22435/vektorp.v13i2.1274

Abstract

Abstract Schistosomiasis in Indonesia is endemic only in Napu and Bada highlands in Poso District and Lindu highlands in Sigi District, Central Sulawesi. Schistosomiasis control program has been done since 1982; however, it is not successful yet. The objective of this study was to re-identify the active focus area of O.h. lindoensis and the schistosomiasis control program by multi-sector and community. This study mapped the foci area and designed an action plan for schistosomiasis control by multi-sector in provincial level, Poso District, and Sigi District. The sectors involved are Agency for Regional Development, Regional Institute of Research and Development, Health Services, Agriculture Office, Plantation, and Animal Health Office, Maritime and Fisheries Office, Public Works Office, and Village Empowerment Office. The foci area of O.h. lindoensis were distributed in 16 villages in Napu, with a total of 242 foci area. The schistosomiasis control program by multi-sectors was making water catchment, making new paddy field, irrigation, molluscicide, cleaning foci area, draining, re-use of abandoned paddy field and plantation. There is a need for a regulation about budgeting and environmental management in sub-district and village level to support community participation in cleaning foci area, mass drug treatment, and stool survey. Abstrak Schistosomiasis di Indonesia hanya ditemukan di Dataran Tinggi Napu dan Dataran Tinggi Bada, Kabupaten Poso serta Dataran Tinggi Lindu, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Sejak tahun 1982 telah dilakukan upaya pemberantasan tetapi sampai saat ini belum berhasil. Tujuan penulisan adalah mengidentifikasi kembali fokus keong perantara schistosomiasis yang masih aktif dan menyusun rencana aksi lintas sektor serta peran serta masyarakat dalam penanganan fokus keong. Kegiatan meliputi pemetaan kembali dan melakukan pertemuan menyusun rencana aksi pengendalian schistosomiasis dengan lintas sektor terkait di tingkat Provinsi Sulawesi Tengah, Kabupaten Poso dan Kab. Sigi. Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang terlibat antara lain Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda), Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kesehatan Hewan, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD). Fokus keong Oncomelania hupensis lindoensis tersebar pada 16 desa di Dataran Tinggi Napu. Jumlah fokus keong O. hupensis lindoensis 242 fokus. Rencana aksi lintas sektor dengan pembuatan bak penangkap air, pencetakan sawah, pembuatan saluran air permanen dan penyemprotan moluskisida sedangkan peran serta masyarakat berupa pembersihan, pengeringan, pengaktifan sawah dan kebun. Perlu ada regulasi pembiayaan untuk pengembangan manajeman lingkungan dan regulasi di tingkat kecamatan atau desa untuk peningkatan peran serta masyarakat dalam pelaksanaan pembersihan fokus keong, pengobatan massal dan survei tinja.
Kepadatan dan Keragaman Spesies Nyamuk di Desa Jagaraga Kecamatan Buana Pemaca dan Desa Sukajaya, Kecamatan Buay Rawan, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan yahya yahya; R Irpan Pahlepi; Rahayu Hasti Komariah; Desy Asyati; Surakhmi Oktavia
Jurnal Vektor Penyakit Vol 14 No 1 (2020): Edisi Juni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1204.979 KB) | DOI: 10.22435/vektorp.v14i1.1286

Abstract

Abstract The study on mosquito diversity was conducted in Jagaraga Village, Buana Pemaca Subdistrict and Sukajaya Village, Buay Rawan Subdistrict of Ogan Komering Ulu Selatan Regency in 2017. This study aimed to analyze population density of mosquitoes, feeding habits and resting behavior of mosquito, and identify the types of potential /specific breeding habitat of mosquito larvae in OKU Selatan regency. Mosquitoes were collected during the night for 12 hours, started at 06.00 p.m. until 06.00 a.m. by human landing, resting, and cattle landing collection methods. The indoor density of mosquitoes ranged from 0.04-3.96 mosquitoes/person/hour with the highest density of 10,7 on Cx.tritaeniorhyncus. Species of mosquitoes collected in Sukajaya Village were more diverse than in Buana Pemaca Village. There were 12 species and the most dominant species was Cx. tritaeniorhyncus (68.09%), Breeding habitats were identified in rice fields, bricks pit, puddle marsh, and flow of rice fields. Abstrak Penelitian tentang keragaman nyamuk telah dilakukan Di Desa Jagaraga Kecamatan Buana Pemaca dan Desa Sukajaya Kecamatan Buay Rawan Kabupaten OKU Selatan pada tahun 2017. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka kepadatan populasi nyamuk yang tertangkap, menganalisis kebiasaan mencari makan danperilaku beristirahat masing-masing spesies nyamuk yang tertangkap serta mengetahui jenis-jenis habitat perkembangbiakan potensial bagi larva nyamuk yang ada di Kabupaten OKU Selatan. Penangkapan nyamuk dilakukan selama 12 jam dimulai dari pukul 18.00 WIB malam hingga pukul 06.00 pagi, menggunakan metode human landing collection, resting collection dan penangkapan di sekitar kandang ternak. Spesies nyamuk yang tertangkap 12 spesies dan yang paling dominan yaitu Culex tritaeniorhyncus(68,9%). Kepadatan nyamuk yang menggigit per orang per jam (MHD) di dalam rumah berkisar antara 0,04-3,96 ekor/orang/jam. Kepadatan rata-rata paling tinggi pada nyamuk Cx. tritaeniorhyncus 10,7 ekor. Habitat perkembangbiakan berupa sawah, lubang galian tanah liat untuk batu bata, kobakan, aliran sawah.
Hubungan Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan terhadap DBD dengan Keberadaan Jentik di Lingkungan Rumah Masyarakat Kecamatan Medan Marelan Tahun 2018 Ade Pryta Simaremare; Novita Hasiani Simanjuntak; Saharnauli J. V. Simorangkir
Jurnal Vektor Penyakit Vol 14 No 1 (2020): Edisi Juni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (739.906 KB) | DOI: 10.22435/vektorp.v14i1.1671

Abstract

Abstract Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is public health problem in Indonesia and causes extraordinary event with high mortality rate. It is caused by Dengue virus infection of the genus Flavivirirus transmitted by Aedes aegypti bite. All regions in Indonesia are risky for contracting DHF because the virus and the mosquitoes have spread widely in residential housing and public places throughout Indonesia. This study used an observational analytic design with cross sectional method. The respondents were people in the Marelan District of Medan. Data on knowledge, attitudes and practices about DHF were obtained through a guided questionnaire. Data about the presence of Aedes aegypti larvae were obtained through direct observation of the environment around the respondent's houses. The chi square analysis showed that the level of knowledge about DHF was not related to the presence of larvae with a p value of 0.128 (p value> 0.05). For attitude and practice aspects indicate relationship with p values of 0.01 and 0.004 (p value< 0.05). Often the knowledge about DHF is not manifested as action to reduce the presence of mosquito larvae causing the disease in their environment. Still, guidance in intensive counseling and motivating the community about eradicating mosquito nests is very important. Abstrak Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dan sering menimbulkan kejadian luar biasa dengan tingkat kematian yang tinggi. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus Dengue dari genus Flavivirus yang dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui perantaraan nyamuk Aedes aegypti. Seluruh wilayah di Indonesia berisiko terjangkit penyakit DBD, sebab baik virus penyebab maupun nyamuk penularnya sudah tersebar luas di perumahan penduduk maupun di tempat-tempat umum di seluruh Indonesia. Penelitian ini menggunakan disain penelitian analitik observasional dengan metode cross sectional. Responden dalam penelitian ini adalah masyarakat di Kecamatan Medan Marelan. Data variabel pengetahuan, sikap dan tindakan mengenai DBD diperoleh melalui kuesioner secara terpimpin. Data variabel keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti diperoleh melalui observasi secara langsung lingkungan sekitar rumah responden. Hasil analisis chi square menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan mengenai penyakit DBD tidak berhubungan dengan keberadaan jentik dengan nilai p=0,128 (p value >0,05). Untuk aspek sikap dan tindakan menunjukkan adanya hubungan dengan nilai p masing-masing 0,01 dan 0,004 (p value <0,05). Seringkali pengetahuan mengenai DBD tidak diwujudnyatakan menjadi suatu tindakan untuk mengurangi keberadaan jentik nyamuk penyebab penyakit tersebut di lingkungan rumahnya. Walaupun demikian,pembinaan dalam penyuluhan dan motivasi yang intensif kepada masyarakat tentang pemberantasan sarang nyamuk tetap sangat penting dilakukan.
Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Masyarakat Tentang Aspek Pencegahan dan Pengendalian Demam Berdarah Dengue di Kota Prabumulih, Sebelum dan Sesudah Intervensi Pemberdayaan Masyarakat Lasbudi P. Ambarita; Milana Salim; Hotnida Sitorus; Rika Mayasari
Jurnal Vektor Penyakit Vol 14 No 1 (2020): Edisi Juni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (803.07 KB) | DOI: 10.22435/vektorp.v14i1.1759

Abstract

Abstract Dengue hemorrhagic fever (DHF) in South Sumatra Province especially Prabumulih in recent years has not shown a significant decline. This research aims to assess community’s level of knowledge, attitudes and practice with regards to empowerment of cadres and community group as an intervention variable. There were three location of research, first location with intervention of empowerment of cadre and community group, second location with cadre empowerment and the third location without intervention. The data collected in this research is knowledge, attitude and practice of the community before and after the intervention provided. The results showed there is an average level difference of knowledge, but statistically difference occurred on the knowledge and practice in an area with an intervention empowerment of cadres and local community groups. Local community groups such as religious group, social gathering, youth organization, etc can be an effective target for increasing knowledge about disease prevention aspects of DHF, raises awareness and triggered behavior change collectively. Abstrak Demam Berdarah Dengue (DBD) di Provinsi Sumatera Selatan khususnya Kota Prabumulih dalam beberapa tahun terakhir belum menunjukkan penurunan yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak dari intervensi, pemberdayaan kader dan kelompok masyarakat terhadap tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat. Intervensi yang diberikan pada penelitian ini adalah satu wilayah dengan intervensi pemberdayaan kader jumantik dan kelompok ibu-ibu pengajian, wilayah yang kedua dengan intervensi pemberdayaan kader jumantik, dan wilayah yang ketiga tanpa diberikan intervensi. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat sebelum dan sesudah intervensi diberikan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan rata-rata tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat antara sebelum dan sesudah intervensi, namun secara statistik perbedaan yang bermakna terjadi pada aspek pengetahuan dan perilaku di daerah dengan intervensi pemberdayaan kader dan kelompok masyarakat lokal. Kelompok masyarakat lokal seperti kelompok pengajian, arisan, karang taruna dan sebagainya dapat menjadi sasaran efektif untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang aspek pencegahan penyakit DBD, menimbulkan kesadaran dan memicu terjadinya perubahan perilaku secara kolektif.
FRONT MATTER JVP VOL.13 NO.1 JUNI 2019 jvp managerxot
Jurnal Vektor Penyakit Vol 13 No 1 (2019): Edisi Juni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (453.766 KB) | DOI: 10.22435/vektorp.v13i1.1905

Abstract

BACK MATTER JVP VOL.13 NO.1 JUNI 2019 jvp managerxot
Jurnal Vektor Penyakit Vol 13 No 1 (2019): Edisi Juni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (53.576 KB) | DOI: 10.22435/vektorp.v13i1.1906

Abstract

Detection of Leptospira spp. in kidney tissues isolated from rats in the Napu and Bada Highlands of Poso District, Central Sulawesi Province Gunawan Gunawan; Tri Wibawa; Mahardika Agus Wijayanti; Hayani Anastasia
Jurnal Vektor Penyakit Vol 14 No 1 (2020): Edisi Juni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (965.201 KB) | DOI: 10.22435/vektorp.v14i1.1965

Abstract

Leptospirosis is still a global health problem because it affects human health in rural and urban areas, both in industrialized and developing countries. The aim of the study was to detect Leptospira spp. bacteria in kidney tissues isolated from rats in the Napu and Bada Highlands of Poso District, Central Sulawesi Province. Kidneys sample from 63 rats were collected from Napu and Bada Highlands of Poso District, Central Sulawesi Province in MayJune 2018. Polymerase Chain Reaction (PCR) was used to detect Leptospira. The molecular characterizations were conducted based on the 16SrRNA and LipL32 genes. Data were analyzed descriptively to describe the presence of pathogenic Leptospira DNA. Analysis phylogenetic was performed using MEGA 6.2 software. A total of 63 rats was successfullycaught during the study consisting of males and female for 36 (57.1%) and 27 (42.9%), respectively. The species of rats were R. exulans, R. tanezumi, R. argentiventer, R. norvegicus, M. Musculus, Paruromys dominator, Maxomys sp., and Rattus sp. The pathogenic of Leptospira DNA was detected in rats with R. argentiventer and Paruromys dominatorspecies using the 16S rRNA and LipL32 gene. Sample sequences using LipL32 target gene is a close similarity with L. interrogans serovar Hardjo, serovar Autumnalis, Lai, Icterohaemorrhagiae, Balico, Grippotyphosa, Mini, Canicola, Hebdomadis; L. noguchii serovar Pomona and L. kirschneri whereas the sample sequence using 16S rRNA targetgene showed similarity with L. interrogans serovar Canicola, Copenhagen, Autumnalis, Pyrogenes, Javanica, Icterohaemorrhagiae, Manilae, Bratislava, Linhae, Hebdomadis, and L. kirschneri serovar Grippotyphosa. The PCR method with the target gene 16SrRNA and LipL32 are able to detect Leptospira spp. in rats R. argentiventer and P. dominator species Keywords: Leptospira, 16S rRNA, LipL32, PCR, Kidney’s Rat Leptospirosis masih merupakan masalah kesehatan global karena mempengaruhikesehatan manusia di daerah pedesaan dan perkotaan, baik di negara industri maupun mnegara berkembang. Tujuan penelitian adalah untuk mendeteksi bakteri Leptospira spp di jaringan ginjal dari tikus di Dataran Tingi Napu dan Bada Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah. Ginjal tikus sebanyak 63 sampel dikoleksi dari Dataran Tinggi Napu dan Bada Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah pada bulan Mei – Juni 2018. PCR digunakan untuk mendeteksi Leptospira. Karakterisasi molekuler dilakukan berdasarkan gen 16SrRNA dan LipL32. Data dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan keberadaaN Leptospira yang patogenik. Analisis filogenetik dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak Mega 6.2. Sebanyak 63 tikus berhasil ditangkap selama penelitian yang terdiri dari jantan dan betina, masing masing 36 ekor (75,1%) dan 27 ekor (42,9%). Spesies tikus adalah R. exulans, R. tanezumi, R. argentiventer, R. norvegicus, M. Musculus, Paruromys dominator, Maxomys sp, dan Rattus sp. DNA Leptospira patogenik terdeteksi pada tikus dengan spesies R. argentiventer dan Paruromys dominator menggunakan gen 16SrRNA dan LipL32 Sekuen sampel dengan target gen LipL32 menunjukkan kesamaan dengan L. interrogans serovar Hardjo, serovar Autumnalis, Lai, Icterohaemorrhagiae, Balico, Grippotyphosa, Mini, Canicola, Hebdomadis; L. noguchii serovar Pomona dan L. kirschneri. Sedangkan sekuen sampel dengan target gen 16S rRNA menunjukkan kesamaan dengan L. interrogans serovar Canicola,Copenhagen, Autumnalis, Pyrogenes, Javanica, Icterohaemorrhagiae, Manilae, Bratislava, Linhae, Hebdomadis, dan L. kirschneri serovar Grippotyphosa. Metode PCR dengan target gen 16SrRNA dan LipL32 mampu mendeteksi Leptospira spp. pada tikus dengan spesies R. argentiventer dan P. dominator. Kata kunci: Leptospira, 16S rRNA, LipL32, PCR, Ginjal Tikus
Deteksi Penyakit Schistosomiasis Melalui Identifikasi Telur Cacing Pada Feses Manusia Menggunakan Probabilistic Neural Network (PNN) windy rusma astuti; Hayani Anastasia; R Ratianingsih; J. W. Puspitaa; samarang samarang
Jurnal Vektor Penyakit Vol 14 No 1 (2020): Edisi Juni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.53 KB) | DOI: 10.22435/vektorp.v14i1.2013

Abstract

Abstract Schistosomiasis is a zoonotic disease caused by a blood worm in the Trematode class of the genus Schistosoma that lives in a vein. This disease is one of the oldest and most important diseases in the world. In Indonesia, Schistosomiasis is caused by Schistosoma Japonicum Sp. This study focused on the detection of Schistosomiasis disease through identification of worm eggs found in human feces. Based on the result of the observations of the Schistosomiasis Laboratory in Kaduwaa and Dodolo Villages in North Lore Subdistrict, Poso Regency it was found the worm eggs of other species in feces of resident in Kaduwaa and Dodolo villages, namely Ascaris Lumbricoides worm eggs and Ancylostoma Duodenale worm eggs. Principal Component Analysis (PCA) and Linear Discriminant Analysis (LDA) methods are used to extract the egg image for the identification process, while Probabilistic Neural Network (PNN) methods were used to classify the species of the egg. The identification results are influenced by image capture techniques, image cutting techniques, the pixel size in the image, smoothing parameter values, and the number of sample images that used to train and test the data. The average accuracy of worm egg images identification using PNN is 98% with using the value of smoothing parameters 0,2. This result also shows that the Probabilistic Neural Network (PNN) method could be applied to identify the image of worm eggs found in human feces. Abstrak Schistosomiasis merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh cacing darah kelas Trematoda dari genus Schistosoma yang tinggal dalam pembuluh darah vena. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit tertua dan paling penting di dunia. Di Indonesia, Schistosomiasis disebabkan oleh cacing Schistosoma Japonicum Sp. Penelitian ini berfokus pada deteksi penyakit Schistosomiasis melalui identifikasi telur cacing yang terdapat pada feses manusia. Hasil observasi di Laboratorium Schistosomiasis desa Kaduwaa dan Desa Dodolo Kecamatan Lore Utara Kabupaten Poso memperlihatkan ditemukannya pula telur cacing dari spesies lain pada feses masyarakat desa Kaduwaa dan Desa Dodolo, yaitu telur cacing Ascaris Lumbricoides dan Ancylostoma Duodenale. Metode Principal Component Analysis (PCA) dan Linear Discriminant Analysis (LDA) digunakan untuk ekstraksi citra telur dalam proses identifikasi, sementara metode Probabilistic Neural Network (PNN) digunakan untuk klasifikasi spesies telur. Hasil identifikasi dipengaruhi oleh teknik pengambilann citra, teknik pemotongan citra, besarnya piksel pada citra, nilai smoothing parameter, serta jumlah citra sampel yang digunakan untuk data pelatihan dan pengujian. Akurasi rata-rata identifikasi citra telur cacing menggunakan PNN tertinggi yaitu dengan menggunakan nilai smoothing parameter . Hal ini menunjukkan bahwa metode Probabilistic Neural Network (PNN) dapat diterapkan untuk identifikasi citra telur cacing yang terdapat pada feses manusia.
Deteksi Virus Dengue pada Nyamuk Aedes aegypti (Diptera: Culicidae) yang Tersebar di Kabupaten Sumba Timur dan Sumba Barat Daya Monika Noshirma; Ruben Wadu Willa; Muhammad Kazwaini; Arief Wibowo
Jurnal Vektor Penyakit Vol 14 No 1 (2020): Edisi Juni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.266 KB) | DOI: 10.22435/vektorp.v14i1.2421

Abstract

Abstract Incidence Rate (IR) of Dengue fever in east and southwest Sumba district in 2015 amounted to 10.7‰ and 12.95‰ respectively. The phenomenon which is often found during this time is the transovarial transmission of the dengue virus in Ae. aegypti mosquitoes. The purpose of this research was to determine the presence of viral infections in Ae. aegypti mosquitoes through transovarial. It was a descriptive study with a cross-sectional design. The sample was an adult Ae. aegypti mosquito that is 8 to 10 days old. Dengue virus in mosquito body was checked by using immunocytochemical method Streptavidin Biotin Peroxidase Complex (ISBPC) at headsquash preparation. The resultshowed that the transovarial infection presence in male and female Ae. aegypti in East and Southwest Sumba District with Transovarial Infection Rate (TIR) in females and males ranging from 41.67%-41.92 and 25.00 – 50.00% respectively. The female and males mosquitoes TIR in East Sumba district were ranging from 20.00%-40.00% and 35.00%-40.00% respectively. East and Southwest Sumba districts are a high potential area for the transmission of dengue hemorrhagic fever with the presence of dengue virus in Ae. aegypti. Abstrak Incidence Rate (IR) Demam Berdarah Dengue di Kabupaten Sumba Barat Daya dan Kabupaten Sumba Timur pada tahun 2015 masing-masing sebesar 10,7‰ dan 12,95‰. Fenomena yang sering ditemukan selama ini adalah transmisi trans-ovari virus dengue pada nyamuk Ae. aegypti. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui adanya infeksi virus dengue pada nyamuk Ae. aegypti melalui trans-ovari. Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan desain potong lintang. Sampelnya adalah nyamuk Ae. aegypti dewasa yang telah berumur delapan sampai 10 hari. Pemeriksaan virus Dengue dalam tubuh nyamuk menggunakan metode Imunositokimia Streptavidin Biotin Peroxidase Complex (ISBPC) pada sediaan headsquash. Hasil penelitian infeksi virus dengue pada Ae. aegypti betina maupun jantan di Kabupaten Sumba Barat Daya menunjukkan adanya infeksi virus dengue melalui trans-ovari dengan Transovarial Infection Rate pada nyamuk betina berkisar antara 41,67% - 41,92, dan pada nyamuk jantan 25,00 – 50,00%. Transovarial Infection Rate di Kabupaten Sumba Timur pada nyamuk betina yang berkisar antara 20,00% - 40,00% dan pada nyamuk jantan 35,00% - 40,00%. Kesimpulannya Kabupaten Sumba Barat Daya dan kabupaten Sumba Timur merupakan daerah yang berpotensi untuk terjadinya penularan DBD dengan ditemukannya infeksi virus dengue pada nyamuk Ae. aegypti betina maupun jantan.

Page 4 of 10 | Total Record : 92