cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
JURNAL PSIKOLOGI UDAYANA
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 422 Documents
HUBUNGAN POLA ASUH DEMOKRATIS DENGAN PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH PADA REMAJA DI DENPASAR DAN BADUNG Kartika, A.A.I Dina; Budisetyani, I.G.A Putu Wulan
Jurnal Psikologi Udayana Vol 5 No 01 (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.321 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2018.v05.i01.p06

Abstract

Dewasa ini perilaku seksual pranikah di kalangan para Remaja Bali semakin meningkat dan menimbulkan berbagai dampak buruk seperti kehamilan tidak diinginkan, HIV-AIDS, serta risiko terkena berbagai penyakit menular seksual yang dapat berujung pada kematian. Salah satu faktor yang memengaruhi perilaku seksual pranikah adalah pola asuh orang tua yang terbagi dalam tiga tipe, yaitu pola asuh otoriter, pola asuh permisif, dan pola asuh demokratis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pola asuh demokratis dengan perilaku seksual pranikah sehingga dapat menjadi salah satu alternatif dalam menekan berbagai dampak buruk perilaku seksual pranikah. Subjek yang digunakan adalah remaja Bali dengan rentang usia 15-23 tahun sebanyak 65 orang. Alat ukur yang digunakan adalah skala pola asuh demokratis dan skala perilaku seksual pranikah yang disusun sendiri oleh peneliti. Analisis dilakukan menggunakan uji statistik korelasi product moment dari Karl Pearson. Hasil analisis data menunjukkan nilai signifikansi p sebesar 0.029 (p<0.05), yang bermakna variabel perilaku seksual pranikah memiliki hubungan dengan pola asuh demokratis. Koefisien korelasi didapat sebesar -0.0270 sehingga bermakna bahwa hubungan yang terdapat pada kedua variabel bersifat rendah dan negatif. Kata Kunci: pola asuh demokratis, perilaku seksual pranikah, remaja.
Pengaruh Religiusitas terhadap Kecerdasan Emosi pada Siswa Perempuan SMA Muhammadyah 1 Denpasar Shata, Nuzhatul Imani; Wilani, Ni Made Ari
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (739.675 KB)

Abstract

Kecerdasan emosi merupakan aspek penting yang perlu dimiliki siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Muhammadiyah 1 Denpasar. Salah satu faktor yang dapat memengaruhi kecerdasan emosi adalah religiusitas. Religiusitas merupakan keyakinan dimana seseorang merasakan dan mengakui adanya kekuatan tertinggi, yang menaungi kehidupan dan hanya kepada-Nya bergantung dan berserah hati yang kemudian diwujudkan dengan ketaatan menjalankan agama. Pada masa remaja perkembangan keagamaan ditandai dengan adanya keragu-raguan terhadap ketentuan-ketentuan agama. Namun pada dasarnya sebagai manusia, remaja tetap membutuhkan agama sebagai pegangan dalam kehidupan, terutama pada saat menghadapi kesulitan. Praktik agama juga dapat mempengaruhi kecerdasan emosi remaja. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif untuk mengetahui pengaruh religiusitas terhadap kecerdasan emosi pada siswa SMA Muhammadiyah 1 Denpasar. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 57 orang siswa SMA Muhammadiyah 1 Denpasar dengan menggunakan teknik cluster sampling. Alat ukur dalam penelitian ini menggunakan skala religiusitas dan kecerdasan emosi yang dibuat sendiri oleh peneliti. Reliabilitas skala religiusitas sebesar 0,951 dan skala kecerdasan emosi dengan reliabilitas sebesar 0,937. Hasil uji regresi linier sederhana menunjukkan R= 0,460 dan R square sebesar 0,211. Hal tersebut menjelaskan bahwa religiusitas memiliki peran sebesar 21,10% terhadap kecerdasan emosi. Koefisien beta terstandarisasi religiusitas sebesar 0,460 dan signifikansi 0,000 (p<0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa religiusitas berpengaruh terhadap kecerdasan emosi pada siswa perempuan SMA Muhammadiyah 1 Denpasar. Kata kunci: Kecedasan Emosi, Religiusitas, Siswa perempuan SMA Muhammadiyah 1 Denpasar.
Hubungan Antara Kecerdasan Emosi dan Self Efficacy dalam Pemecahan Masalah Penyesuaian Diri Remaja Awal Artha, Ni Made Wahyu Indrariyani; Supriyadi, Supriyadi
Jurnal Psikologi Udayana Vol 1 No 1 (2013)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (734.35 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2013.v01.i01.p19

Abstract

Adolescence’s life especially the early one cannot be separated from upcoming problems because their physical, cognitive, and socio-emotional changes are significantly affecting their self-controlling and mindset to their surrounding environment. Both of emotion and self-confidence are playing an important role on facing the problems especially on adolescent adjustment. The purposes of this research are to understand the relationship between emotional intelligence and self efficacy in problem solving of adjustment early adolescence and to understand effective contribution of emotional intelligence and self efficacy to problem solving of adjustment early adolescence.   The subjects in this research were 129 students of high school in Denpasar especially students in grade 10, who were chosen by simple random sampling. This research used three scales as measurement tools, namely emotional intelligence scale, self efficacy scale, and adjustment scale. Emotional intelligence scale has a reliability value = 0,822, consist of 20 items; self efficacy scale has a reliability value = 0,913, consist of 34 items; and adjustment scale has a reliability value = 0,896, consist of 31 items.   According to the result of multiple regression analysis, the value of R correlation = 0,772, F regression = 93,211, p = 0,000, there was relationship between emotional intelligence and self efficacy in problem solving of adjustment early adolescence. The effective contribution of emotional intelligence and self efficacy to adjustment are 59,70%. The result of each correlation emotional intelligence and self efficacy to problem solving of adjustment early adolescence is 0,632 and 0,715; p = 0,000, there was a positive and strength relationship between emotional intelligence and self efficacy in problem solving of adjustment early adolescence.   Keywords: emotional intelligence, self efficacy, and problem solving of adjustment  
Hubungan antara Perilaku Prososial dengan Psychological Well-Being pada Remaja Megawati, Elisa; Herdiyanto, Yohanes Kartika
Jurnal Psikologi Udayana Vol 3 No 1 (2016)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (429.445 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2016.v03.i01.p13

Abstract

Psychological well-being is a life that goes well, and is a combination of feeling good and functioning themselves effectively (Huppert, 2009). Humans in every age group would want to achieve psychological well-being during their lifetime, as well as adolescencts. Adolescencts can achieve psychological well-being when they are actively develop positive behaviors during adolescence. One of the positive behavior that should be developed during adolescence is prosocial behavior. Prosocial behavior involve altruism, so that adolescencts who can show helping behavior and give positive consequences for others, are expected to help adolescencts feel good about themself. This study aimed to determine the correlational between prosocial behavior with psychological well-being in adolescent in the city of Denpasar.The sampling technique used in this study is cluster random sampling. Subjects of this research are 214 adolescents from age 15-17 years old (m=91, f=123). Researcher deploy two scales, the psychological well-being scale modified from the Scales of Psychological Well-Being (Ryff, 1995) consisted of 30 item with a reliability coefficient of 0,898 and prosocial behavior scale consisted of 68 item with a reliability coefficient of 0,958. The data obtained in this study were analyzed by simple regression analysis to examine correlational between prosocial behavior and psychological well-being.Regression analysis results t value 11,203 and P = 0,000 ( P < 0,05). It means prosocial behavior and psychological well-being are significantly and positively correlated, when prosocial behavior is high they will have a high score on psychological well-being too. Coefficient of determination equal to 0,372 indicates prosocial behavior contribution to psychological well-being is 37,2%, and 62,8% was contributed by other factors such as age, socioeconomic level, social relations and personality factors.Keywords: prosocial behavior, psychological well-being, adolescence.
Peran Kecerdasan Emosi dan Self Control pada Sikap terhadap Perilaku Seksual Pranikah Siswa SMPN di Bali Ningsih, Ni Kadek Dwi Jayanti; Susilawati, Luh Kadek Pande Ary
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.796 KB)

Abstract

Dewasa ini banyak ditemukan perilaku seksual pranikah di kalangan remaja, khususnya remaja awal dengan usia 12-15 tahun. Perilaku seksual muncul karena adanya perkembangan seksualitas remaja pada fase pubertas serta dorongan seksual dari dalam diri remaja untuk menonjolkan daya tarik seksual dan memenuhi dorongan seksual. Perilaku seksual pranikah yang dilakukan remaja menunjukkan bahwa remaja memiliki sikap yang positif terhadap perilaku seksual pranikah. Sikap terhadap perilaku seksual pranikah merupakan reaksi positif-negatif atau setuju-tidak setuju terhadap perilaku seksual pranikah. Sikap ini menjadi penting karena suatu sikap dapat memprediksi perilaku. Penelitian ini bertujuan untuk melihat peran kecerdasan emosi dan self-control pada sikap terhadap perilaku seksual pranikah siswa SMPN di Bali. Subjek dalam penelitian ini adalah 206 siswa kelas VIII SMPN di Bali dengan rentang usia 12-15 tahun yang dipilih secara random dengan menggunkan teknik two stage cluster sampling. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan skala kecerdasan emosi, skala self-control dan skala sikap terhadap periaku seksual pranikah. Analisis data penelitian menggunakan teknik regresi berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kecerdasan emosi dan self-control secara bersama-sama berpengaruh pada sikap terhadap periaku seksual pranikah, akan tetapi secara parsial, hanya self-control yang berpengaruh secara signifikan pada sikap terhadap perilaku seksual pranikah, sedangkan kecerdasan emosi tidak berpengaruh secara signifikan pada periaku seksual pranikah. Kata kunci: Kecerdasan emosi, self-control, sikap terhadap perilaku seksual pranikah, remaja awal. ?
Hubungan antara Penerimaan Kelompok Teman Sebaya dengan Konsep Diri pada Remaja Panti Asuhan di Kabupaten Badung, Bali Santiari, I Gusti Agung Tri; Tobing, David Hizkia
Jurnal Psikologi Udayana Vol 3 No 1 (2016)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (446.07 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2016.v03.i01.p01

Abstract

Self concept is a reflection of the judgement of others (Charles Cooley, in Watson, Borlall-Tregerthan, & Frank, 1984). The formation of individual self concept is influenced by several factors, one of which is peers in adolescence is a very important figure for indiciduals. Not all teens get through phase of adolescence his parents. There are some situations that cause adolescent should live apart from their parents, by staying at the orphanage institution for example. This different conditions will certainly affect the processes occurring friendship with the adolescent peer groups which will certainly affect the formation of self concept. The purpose of this study was to determine the relationship between peer group acceptance of the self concept in adolescents orphanage in the District Badung, Bali.Subjects in this study were 170 adolescents (girls=101, boys=69) who lived in the orphanage which is in the District Badung-Bali. The instrument of this research are self concept and peer group acceptance scale. Self concept scale consisted of 30 item with a reliability coefficient of 0,875. Peer group acceptance scale consisted of 21 item with a reliability coefficient of 0,873.Product moment correlation analysis result showed the correlation of 0,719 with a significance level of 0,000 (p<0,05), which means that there is a significant and positive relationship between peer group acceptance and self concept in adolescents orphanage in the District Badung, Bali. The higher the intensity of the peer group acceptance, the more positive self concept in adolescents orphanage in the District Badung, Bali.Keywords : Self Concept, Peer Group Acceptance, Adolescenct, Orphanage.
PROSES PENERIMAAN DIRI PADA GAY YANG BERSTATUS HIV POSITIF Pemayun, Cokorde Istri Dwi Anindyawati; Lestari, Made Diah
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (732.095 KB)

Abstract

Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menyerang leukosit yang menyebabkan penurunan sistem kekebalan tubuh manusia. Sekumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh infeksi oleh HIV disebut dengan Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS). Berdasarkan faktor risiko penularannya, salah satu populasi yang berisiko adalah gay karena aktivitas seksual berisiko. Di Indonesia gay masih mengalami stigma. Stigma dapat memengaruhi penerimaan diri (self acceptance) gay. Penerimaan diri adalah keadaan individu menerima serta mengakui segala kelebihan dan keterbatasan yang ada dalam dirinya tanpa merasa malu atau merasa bersalah (Ryff dalam Atwater, 2015). Dikaitkan pada gay yang berstatus HIV-AIDS, maka akan sulit melakukan penerimaan diri tersebut karena adanya diskriminasi dan stigma. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini difokuskan untuk membahas mengenai proses penerimaan diri pada gay yang berstatus HIV positif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan desain penelitian fenomenologi. Pengambilan data dilakukan dengan teknik wawancara, observasi serta photovoice pada tiga orang laki-laki homoseksual yang berstatus HIV positif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat dua fase dalam proses penerimaan pada gay yang berstatus HIV positif. Fase I (Setelah mengetahui status HIV positif tetapi belum menjalani terapi) terdiri dari penolakan terhadap status HIV, kekecewaan dan penyesalan terhadap diri, dan penerimaan status HIV. Fase II (Setelah menjalani terapi) terdiri dari kondisi menurun akibat efek samping obat, penerimaan kembali status HIV setelah terapi, adanya pengalaman penolakan terkait status HIV positif, kondisi memperkenankan dan kondisi bersahabat dengan status HIV positif. Faktor pendukung untuk mencapai penerimaan diri pada gay antara lain kepatuhan menjalani terapi Antiretroviral (ARV) dan adanya dukungan sosial dari orang-orang terdekat. Kata kunci: proses penerimaan diri, gay, HIV positif
Pengaruh dukungan sosial teman sebaya dan kontrol diri terhadap perundungan (bullying) pada remaja awal di Denpasar Susanti, Isza Gita; Wulanyani, Ni Made Swasti
Jurnal Psikologi Udayana Vol 6 No 01 (2019)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (427.213 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2019.v06.i01.p18

Abstract

Abstrak Perundungan atau yang disebut bullying merupakan perilaku yang bersifat menyerang, negatif, dan merugikan, yang dilakukan oleh individu atau sekelompok orang dengan tidak adanya keseimbangan kekuatan antara korban dan pelaku. Beberapa faktor diperlukan agar perundungan dapat ditekan kemunculannya. Dukungan sosial teman sebaya merupakan faktor eksternal dan kontrol diri merupakan faktor internal yang dapat menekan munculnya perilaku perundungan pada remaja. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh dukungan sosial teman sebaya dan kontrol diri terhadap perundungan pada remaja awal di Denpasar. Responden penelitian ini dipilih melalui two stage cluster sampling yang berjumlah 210 orang remaja awal usia 12-15 tahun dan berstatus sebagai siswa SMP Swasta di Denpasar. Hasil uji regresi berganda menunjukkan nilai signifikansi 0,430 (P> 0,05) yang menunjukkan bahwa dukungan sosial teman sebaya dan kontrol diri secara bersama-sama tidak berpengaruh terhadap munculnya perundungan. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor lainnya yang kemungkinan mempengaruhi munculnya perundungan tidak diteliti seperti dinamika keluarga, jenis kelamin, iklim dan budaya sekolah. Kata kunci: dukungan sosial teman sebaya, kontrol diri, perundungan (bullying).
Dinamika Kesetiaan Pada Kaum Gay Wedhanti, Putu Hening; Fridari, I Gusti Ayu Diah
Jurnal Psikologi Udayana Vol 1 No 2 (2014)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.283 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2014.v01.i02.p15

Abstract

Homosexual is an interest in feeling or in erotic, both are in predominant or exclusiveness against individuals who has a similarity in sexes violent or without involves interaction physical, while gay is term to mention man who likes fellow man as partners sexual, and have interest both in feeling or erotic, both in dominant and exclusive and also with or without any relation physical (Putri, 2013) Faithfulness is a form of behaviors that performed recurrently that will eventually become a permanent nature. Directed toward your faithfulness also means that individual in relationship was able to rely to keep commitments together, which has agreed by Cloud&Townsand (in Sari, 2008). The aim of this research is to find out the dynamics of faithfulness to gay. This research using qualitative methods by case study approach to describe the dynamics of faithfulness in gay relationship. To collecting data in this research used interview technique and used 4 subject. This research used thematic coding for analyzing data. The result of this study suggest that in a world of a gay, most individuals within it are the people who run the principle of free life, where they hang out and behaving freely without any rules that tie it. Generally the respondents in this study say that faithfulness is crucial and absolutely there are in relationship but not all gay capable of running commitment to remain faithful.   Keywords: Homosexual, Gay, Faithfulness, Qualitatife, Case study
DINAMIKA MEMAAFKAN PADA KORBAN PELECEHAN SEKSUAL Yudha, I Nyoman Bagus Darma; Tobing, David Hizkia
Jurnal Psikologi Udayana Vol 4 No 02 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.933 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i02.p18

Abstract

Dewasa ini semakin banyak kasus pelecehan seksual terjadi, korban pelecehan seksual tidak memandang usia dan jenis kelamin baik laki-laki maupun perempuan. Berdasarkan data yang dimiliki Direktorat Reaserse Kriminal Umum Polda Bali, pada tahun 2014 tercatat 87 kasus pelecehan seksual, sedangkan di tahun 2015, hingga Maret 2015 baru tercatat 18 kasus pelecehan seksual. Pelecehan seksual dapat menimbulkan berbagai dampak, baik secara psikologis, fisik, maupun dalam bidang pekerjaan. Dalam mengatasi dendam kepada pelaku pelecehan seksual, memaafkan menjadi satu cara yang dapat dilakukan oleh para korban untuk menghapus trauma yang dirasakan. Memaafkan merupakan sesuatu yang penting tapi juga sulit untuk dilakukan. Memaafkan tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat dan setiap individu akan mengalami proses yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Berdasarkan hal tersebut, peneliti ingin mengetahui bagaimana dinamika memaafkan pada korban pelecehan seksual dengan pelaku (teman baik, ayah, paman, tetangga) dan jenis kelamin korban pelecehan seksual (laki-laki dan perempuan). Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Jumlah responden terdiri dari dua orang perempuan dan dua orang laki-laki sebagai korban pelecehan seksual, beserta satu significant others dari satu responden. Hasil penemuan dalam penelitian ini dibagi dalam tiga fase, yaitu Fase I: Pengalaman, bentuk dan dampak pelecehan seksual, Fase II: Proses, tujuan dan motivasi perilaku memaafkan dan Fase III: Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku memaafkan. Dalam penelitian ini, satu responden perempuan dan satu responden pria dapat memaafkan pelaku, sedangkan responden penelitian lainnya tidak dapat memaafkan pelaku, sehingga penelitian ini menemukan bahwa perilaku memaafkan tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin korban. Kata Kunci: Dinamika memaafkan, pelecehan seksual, korban pelecehan seksual

Page 10 of 43 | Total Record : 422