cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
JURNAL PSIKOLOGI UDAYANA
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 422 Documents
PENYESUAIAN DIRI PADA WARIA ADJUSTED DI BALI Puji Palupi, Agra Putri; Tobing, David Hizkia
Jurnal Psikologi Udayana Vol 4 No 02 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.982 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i02.p06

Abstract

Pada hakikatnya manusia diciptakan dengan jenis kelamin yang berbeda (pria dan wanita), namun dalam kenyataannya, kini telah banyak pria yang berdandan atau bergaya seperti seorang wanita. Seharusnya pria yang berdandan selayaknya seorang wanita akan merasa malu, namun pria-pria ini adalah tipe pria yang berbeda dari biasanya. Indonesia memiliki sebutan yang berbeda bagi pria-pria yang memiliki penampilan seperti wanita, yaitu waria atau “wanita pria”. Jumlah waria di wilayah Bali hingga tahun 2015 menurut LSM Gaya Dewata Bali mencapai 973 orang. Banyak masyarakat yang menganggap kaum waria adalah kaum yang melanggar kodrat sebagai manusia sehingga masyarakat cenderung memberi label buruk kepada kaum waria. Banyaknya diskriminasi yang diterima, kaum waria tetap berani menampilkan diri sesuai dengan keinginannya. Kaum waria yang berani “menampilkan diri” ditengah masyarakat pada siang atau bahkan malam hari disebut sebagai kaum waria yang adjusted dan yang membedakannya dengan waria yang lain adalah dari penyesuaian diri yang dilakukan. Kemampuan kaum waria yang adjusted dapat bertahan ditengah-tengah masyarakat tidak lepas dari proses penyesuaian diri yang menyertai. Berdasarkan hal tersebut, peneliti ingin mengetahui Bagaimana proses Penyesuaian Diri pada Waria Adjusted di Bali. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Jumlah partisipan dalam penelitian ini adalah empat orang waria yang telah adjusted lebih dari tiga tahun. Penelitian ini menghasilkan tiga kategori temuan, yaitu kategori I: karakteristik partisipan secara umum, karakteristik II: proses penyesuaian diri (yang merupakan temuan utama dalam penelitian ini) dan kategori III: kondisi setelah menjadi waria adjusted. Kata Kunci: waria adjusted, penyesuaian diri, Bali?
Perbedaan Intensitas Komunikasi Melalui Jejaring Sosial antara Tipe Kepribadian Ekstrovert dan Introvert pada Remaja Widiantari, Komang Sri; Herdiyanto, Yohanes Kartika
Jurnal Psikologi Udayana Vol 1 No 1 (2013)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.878 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2013.v01.i01.p11

Abstract

The progress of information and communication technology influencethe increase of the usage of social network. Social network users are mostly inadult group. The existence of social networks can bring positive impact as well as negative impact to the society especially in adult group. The aim of this research is to find out the difference in communication intensity through social networks between extrovert and introvert types of personality in adolescents.   This research is a quantitative research with comparative method, the sampling technique used in this research is stratified proporsional randomsampling and the population is High School students in Denpasar, with the total respondents 218 student. The analysis data by t-test independent sample, and shown the result that there was a difference in the communication intensity through social network between introvert and extrovert type of personality in adolescents, the extrovert personality had a high level of communication better than introvert personality. The additional analysis, it is stated that there was a relationship between the number of social networks and the intensity of communication on social networks, and there was no difference in the intensity of communication based on gender.   Keywords: Communication intensity, social networks, extrovert,introvert  
Penyesuaian dan Kepuasan Perkawinan pada Perempuan Bali yang Tinggal di Keluarga Inti dan Keluarga Batih Rospita, Indri Oktavia; Lestari, Made Diah
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.468 KB)

Abstract

Marital satisfaction is not an easy thing to accomplish, especially for wife. Ibrahim (2002) explains that the number of wife which perceive marital satisfaction less than husband. Surya (2001) said that to achieve a successful marriage, the individual must have the ability to adjust. The main adjustment in the overall process of marriage is marital adjustment. Marital adjustment will be more complex for wife who lived with in-law. Balinese women who married and not able to build their own house are required to live in extended family which usually consists of mother-in-law and law. Balinese people also knows other type of marriage that called nuclear family which the couples lived in separated house of their family. The purpose of this study is to know the correlation between marital adjustment and marital satisfaction on Balinese women who lived in nuclear and extended family and to know the differentiation of marital adjustment and marital satisfaction on Balinese women who lived in nuclear and extended family. This study used quantitative method. Subject were 116 Balinese women who married. The results showed a positive and significant correlation between marital adjustment and marital satisfaction on Balinese women who lived in nuclear family with correlation 0,353 (r>0,05) and probability 0,007 (p<0,05). The similar result also found on Balinese women who lived in extended family with correlation 0,518 (r>0,05) and probability 0,000 (p<0,05). Marital adjustment and marital satisfaction were not different between Balinese women who lived in nuclear or extended family. Keyword : marital adjustment and marital satisfaction, nuclear family, extended family, Balinese women.
HUBUNGAN POLA ASUH AUTORITATIF DENGAN TARAF KECEMASAN PADA SISWA AKSELERASI SMA NEGERI 1 DENPASAR Sari, Amanda; Rustika, I Made
Jurnal Psikologi Udayana Vol 2 No 2 (2015)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.31 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2015.v02.i02.p10

Abstract

Anxiety is a state of excessive tension is not in place, which is marked by feelings of worry, uncertain or afraid. Anxiety is able to influence health and emotional development, so it plays an important role in someone's life, even more in acceleration class which is always required high achievement. Parenting style adopted by parents determine the ability of adolescents to adapt to a variety of problems. Application of the authoritative parenting style characterized by warmth of parent-child relationship will greatly affect the ability of adolescents to overcome emotional problems.   This study aims to determine the relationship between authoritative parenting style with acceleration students’ anxiety level. Subjects in this study were all acceleration students of SMAN 1 Denpasar. The instrument used in this study is the authoritative parenting scale and the scale of anxiety. The research data were analyzed by using product moment. The correlation coefficient between authoritative parenting style with the anxiety level is -0.268 (p = 0.035), thus can be mentioned that there was a negative relationship between authoritative parenting style with anxiety level.   Keywords: authoritative parenting style, anxiety, acceleration students
GAMBARAN HARGA DIRI PADA REMAJA PUTRI YANG MELAKUKAN SEKS PRANIKAH Maharani, Ni Luh Putu Devita; Wulanyani, Ni Made Swasti
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.991 KB)

Abstract

Perilaku seks pranikah dikalangan remaja pada saat ini menunjukkan angka yang tinggi. Pada remaja putri, perilakuseksual pranikah yang dilakukan dapat berakibat negatif salah satunya yaitu rendahnya harga diri. Harga diri adalahpandangan keseluruhan dari individu tentang dirinya sendiri. Bagaimana seseorang memaknai dirinya dan seberapajauh dia merasa puas terhadap gambaran dirinya. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk melihat gambaranharga diri pada remaja putri yang melakukan seks pranikah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatifdengan desain penelitian fenomenologi. Responden dalam penelitian ini yaitu remaja putri yang berjumlah tiga orang.Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa dua dari tiga responden mengalami dampak yang negatif setelahmelakukan hubungan seks pranikah dan berada pada tahap harga diri rendah. Responden yang ketiga berada padatahap harga diri tinggi karena hubungan seks pranikah tidak mempengaruhi harga diri responden. Kata Kunci: seks pranikah, remaja putri, harga diri.
Hubungan antara komunikasi interpersonal orangtua-remaja dengan keterampilan sosial remaja Larasati, Kinanti; Marheni, Adijanti
Jurnal Psikologi Udayana Vol 6 No 01 (2019)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.078 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2019.v06.i01.p09

Abstract

Remaja adalah salah satu masa perkembangan yang dimulai dari usia 13 tahun sampai 21 tahun. Pada masa ini kebanyakan waktu dihabiskan remaja dalam kegiatan sekolah atau bersama teman sebaya. Interaksi dan penerimaan teman sebaya merupakan hal penting bagi perkembangan remaja. Untuk dapat berinteraksi dan diterima dengan baik oleh lingkungan, remaja diharapkan dapat memiliki keterampilan sosial yang baik. Keterampilan sosial terutama diperoleh melalui proses pembelajaran (terutama pembelajaran sosial, termasuk observasi, modeling, latihan, dan proses umpan balik). Salah satu faktor yang memengaruhi keterampilan sosial seseorang adalah keluarga. Komunikasi orangtua dengan anak merupakan proses pembentukan sikap dan perilaku anak, yang berpengaruh pada perkembangan anak dan disinilah unsur pendidikan terhadap anak akan dibentuk. Remaja akan belajar cara berinteraksi dan berperilaku yang baik melalui interaksi mereka dengan orangtua. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara komunikasi interpersonal orangtua-remaja dengan keterampilan sosial remaja. Subjek pada penelitian ini adalah 114 orang siswa SMA Dwijendra Denpasar. Instrument dalam penelitian ini adalah skala komunikasi interpersonal orangtua-remaja dan skala keterampilan sosial remaja. Hasil analisis korelasi product moment menunjukkan angka korelasi sebesar 0,681 dan taraf signifikansi sebesar 0,000 (p<0,05), yang berarti ada hubungan yang signifikan antara komunikasi interpersonal orangtua-remaja dengan keterampilan sosial remaja. Semakin efektif komunikasi interpersonal yang dimiliki orangtua-remaja maka akan semakin tinggi keterampilan sosial yang dimiliki remaja, begitu pula sebaliknya semakin kurang efektif komunikasi interpersonal orangtua-remaja maka akan semakin rendah keterampilan sosial yang dimiliki remaja. Kata kunci: Remaja, komunikasi interpersonal antara orangtua-remaja, keterampilan sosial.
KONFLIK KERJA-KELUARGA DAN WORK ENGAGEMENT KARYAWATI BALI PADA BANK DI BALI Kesumaningsari, Ni Putu Adelia; Simarmata, Nicholas
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.444 KB)

Abstract

The complexity life roles of Balinese Woman have been a challenge for them who work in formal sector. Balinese Woman is bounded by customs duties as part of the fulfillment of their domestic role in the family. Undergoing role in a balanced work and family often lead to work-family conflict, then giving impact to reduce work engagement among them. Work engagement characterized by vigor, dedication, and absorption during work (Schaufeli, Salanova, Gonzalez-Roma, & Bakker, 2002). Work engagement is really required by the industrial sector workers who need to involves quality of service as the main capital (Indrianti & Hadi, 2012), such as banking sector. Hence, this study aimed to examine the relationship between work-family conflict and work engagement on Balinese Woman employees at banking sector in Bali. This research uses quantitative method. Respondents involved are 121 Balinese Woman employees who have had family, educated at least bachelor degree (S1), and at least have been working for 1 year in their company. Research validity uses content validity and items test empirically through internal consistency procedure. Reliability score for work-family conflict scale shows 0.944 and reliability score for work engagement shows 0.910. Data distribution has shown normal and linear distribution. Results of simple regression analysis shows negative and significant relationship between work-family conflicts with work engagement on Balinese Woman Employee at banking sector in Bali (B= -0.411; p= 0,002). Contribution of work-family conflict variable on work engagement is 8.1% and the remaining 91.9% is influenced by other factors. Keywords: Work-family Conflict, Work Engagement, Balinese Woman Employees at Banking Sector in Bali
COPING PEREMPUAN BALI SINGLE-PARENT SELAMA MENEMPUH STUDI PROGRAM DOKTOR YANG MENGALAMI GRIEVING DI TENGAH PENYELESAIAN STUDI Nugraha, Aussie Safitri; Tobing, David Hizkia
Jurnal Psikologi Udayana Vol 4 No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.971 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i01.p17

Abstract

Pendidikan tinggi telah menjadi suatu kebutuhan bagi individu untuk mencapai kesuksesan. Program doktor merupakan salah satu program pascasarjana sekaligus jenjang tertinggi di universitas. Perempuan dilaporkan memiliki tingkat stres yang lebih tinggi selama menempuh studi program doktor daripada laki-laki. Perempuan kerap menghadapi permasalahan akademik, permasalahan psikososial, dan permasalahan yang berkaitan dengan pekerjaan dan/atau rumah tangga. Menempuh studi program doktor bagi perempuan Bali tentu memiliki kompleksitas tersendiri, mengingat perempuan Bali tidak dapat lepas dari kewajiban adat. Salah satu pengalaman hidup yang dapat menghambat studi mahasiswi program doktor adalah kematian orang yang dicintai, termasuk kematian pasangan. Kematian pasangan menduduki peringkat pertama sebagai peristiwa yang paling menyebabkan kondisi stres pada individu yang dapat mengakibatkan perempuan Bali berubah status menjadi single-parent dan mengalami grieving. Untuk menghadapi permasalahan-permasalahan tersebut perempuan Bali tentu melakukan coping sehingga berhasil menyelesaikan studi dan meraih gelar doktor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui coping perempuan Bali single-parent selama menempuh studi program doktor yang mengalami grieving di tengah penyelesaian studi.Penelitian ini merupakan sebuah penelitian kualitatif yang menggunakan pendekatan studi kasus dengan desain kasus tunggal. Penggalian data dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara dan observasi. Responden penelitian ini adalah seorang perempuan Bali yang telah berhasil meraih gelar doktor dan menghadapi kematian suami di tengah penyelesaian studi. Penelitian ini menggunakan tiga orang significant others (SO). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa responden menghadapi permasalahan akademik, permasalahan personal, dan permasalahan sosial selama menempuh studi program doktor serta melakukan berbagai bentuk coping yang bergantung pada permasalahan yang dihadapi. Coping yang digunakan responden untuk mengatasi permasalahan-permasalahan selama menempuh studi program doktor diantaranya adalah seeking social support, planful problem solving, escape-avoidance, accepting responsibility, dan positive reappraisal. Kata kunci: coping, perempuan Bali, program doktor, single-parent, grieving.  
Hubungan Regulasi Diri Dengan Status Gizi pada Remaja Akhir di Kota Denpasar Pramitya, A.A. Istri Mira; Valentina, Tience Debora
Jurnal Psikologi Udayana Vol 1 No 1 (2013)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.3 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2013.v01.i01.p05

Abstract

One of the nutritional problem in adolescent is about health which it’s also major concern in the health sector. Obesity and anemia are two things that vulnerable adolescents facing problem related to nutritional problem. Proliferation of fast food restaurant are very contradictory to the widespread phenomenon of obesity which it’s been a global epidemiology and body image distortion is concerned with anemia which it’s related with losing body weight. Nutrition fulfillment can be seen through optimal nutrition status as related to the ability of people to control their behavior, emotion and mind (drives). The purpose of this research is to explore the relationship between self-regulation with nutritional status of fulfillment. This research used quantitative methods. The subject of this research are 280 late adolescents in Denpasar. Data was gathered by using self-regulation scale (r=0,936; ?=0,273-0,625) Physical measurement with Body Mass Index (BMI) is used to measure nutritional status. Data analysis is performed by Spearman analysis. The result shows that there is correlation coefficient score (p) is 0,822. It means there is no significant relationship between self-regulation and nutritional status of late adolescents in Denpasar. Therefore, alternative hypothesis is rejected, it can caused by the theory that used in this research hasn’t been much tested in other studies, the sampling technique is less representative and there are internal and external factor which are more related with nutritional status and it will be discussed later. Key words: self-regulation, nutritional status, late adolescent.Hubungan Regulasi Diri Dengan Status Gizi pada Remaja Akhir di Kota Denpasar
WORK-LIFE BALANCE DAN INTENSI TURNOVER PADA PEKERJA WANITA BALI DI DESA ADAT SADING, MANGUPURA, BADUNG Bintang, Stepani Kartika; Astiti, Dewi Puri
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (546.599 KB)

Abstract

A survey was held by US company, Randstad in 2012 showed that women worker reached a work-life balance, refers to man worker who were focus to reached the career goal. Women worker who take multiple role in their life, mostly had imbalance condition as a result. This condition will be trigger of turnover in women worker, even in Balinesse women worker who called Krama Banjar Istri too in their hometown village. The turnover condition can bring susceptible condition for the company from the cost recruitment effectiveness, the other side the employee will get lose out with re-adaptation from the new job of them (Abasi & Hollman, 2008). This research want to explain correlation between work-life balance and turnover intensity to describe how much impact of work-life balance to turnover intensity which done by Balinesse women worker in Sading village. This research involved by 206 subjects filled two scales which are work-life balance scale and turnover intention scale, both of it used simple random sampling method. The analysis used simple regression and descriptive analysis method. The result showed that significant negative correlation between work-life balance with turnover intensity. Effective contribution of work-life balance variable to turnover intention is 6.4%, while 93.6% of influenced by other factors. The factors that interfere work-life balance, thus triggering create imbalance conditions makes the subject decided the problem solving. Furthermore, the recommendation for the women worker shoud be perform time management wisely and involve the other member of the family to do homework. Key word: work-life balance, turnover intention, Balinesse women worker, imbalance, Sading village.

Page 11 of 43 | Total Record : 422