cover
Contact Name
Gusti Ayu Made Suartika
Contact Email
ayusuartika@unud.ac.id
Phone
+6289685501932
Journal Mail Official
ruang-space@unud.ac.id
Editorial Address
R. 1.24 LT.1, Gedung Pascasarjana, Universitas Udayana, Kampus Sudirman Denpasar Jalan P.B. Sudirman, Denpasar 80232, Bali (Indonesia).
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
RUANG: JURNAL LINGKUNGAN BINAAN (SPACE: JOURNAL OF THE BUILT ENVIRONMENT)
Published by Universitas Udayana
ISSN : 23555718     EISSN : 2355570X     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal RUANG-SPACE mempublikasikan artikel-artikel yang telah melalui proses review. Jurnal ini memfokuskan publikasinya dalam bidang lingkungan binaan yang melingkup beragam topik, termasuk pembangunan dan perencanaan spasial, permukiman, pelestarian lingkungan binaan, perancangan kota, dan lingkungan binaan etnik. Artikel-artikel yang dipublikasikan merupakan dokumentasi dari hasil aktivitas penelitian, pembangunan teori-teori baru, kajian terhadap teori-teori yang ada, atau penerapan dari eksisting teori maupun konsep berkenaan lingkungan terbangun. Ruang-Space dipublikasi dua kali dalam setahun, setiap bulan April dan Oktober, oleh Program Studi Studi Magister Arsitektur Universitas Udayana yang membawahi Program Keahlian Perencanaan dan Pembangunan Desa/Kota; Konservasi Lingkungan Binaan; dan Kajian Lingkungan Binaan Etnik.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 199 Documents
TRANSFORMASI PEMANFAATAN RUANG KOMUNAL PADA PERMUKIMAN TRADISIONAL BALI DI DESA PEKRAMAN PEDUNGAN Ni Made Emmi Nutrisia Dewi
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 1 No 1 (2014): April 2014
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.46 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2014.v01.i01.p04

Abstract

Abstract Communal spaces of Pedungan Village (Denpasar, Bali) have played important roles within the community. They have acted as places for various communal activities and interactions which over time have grown in type and scale. This takes place in line with level of physical and social development the Pedungan Village has been through. It is written based on a study aiming at how functions of these communal spaces have been transformed, as well as factors behind this transformation. The study achieves its objective by first, analysing the use/s of each communal space by certain groups within its communities and how these uses have changed. Second, it develops typologes of functional transformation experienced by many forms of communal spaces of Pedungan Village. In doing so, it implements qualitative research approaches and a naturalistic research paradigm. It is discovered that communal spaces have been transformed bith in functions and spatial structures. Major factors behind this transformation include systems of belief, customs and traditions, an increasing need for space, economic considerations, and the location of the communal space being studied. This study finds that the most functional transformations have taken place in communal spaces of a balai banjar. Such a trend however, does not happen on communal spaces where religious/ritual activities are performed. This is bcause ritual places are sacred and therefore cannot be amended, both in their uses and structures as is the case of other public spaces.Keywords: communal space, spatial use, spatial transformationAbstrak Ruang-ruang komunal telah memiliki peran yang penting dalam keseharian di Desa Pekraman Pedungan (Denpasar, Bali). Ruang-ruang ini telah menjadi wadah bagi masyarakat dalam beraktivitas dan berinteraksi, dan fungsi ini telah mengalami perkembangan baik secara tipe maupun skala dari waktu ke waktu. Artikel ini diulis berdasarkan sebuah studi yang bertujuan untuk menstudi bagaimana fungsi ruang-ruang komunal telah ditransformasi beserta faktor-faktor yang melandasinya. Dalam mencapai tujuannya, studi ini menerapkan pendekatan penelitian kualitatif dan paradigma naturalistik. Hasil studi menemukan bahwa ruang-ruang komunal di Desa Pedungan tidak hanya telah mengalami transformasi secara fungsi, namun juga secara struktur keruangan. Faktor utama yang mempengaruhi terjadinya transformasi termasuk sistem kepercayaan, tradisi dan adat istiadat, peningkatan kebutuhan akan ruang, pertimbangan ekonomi, dan lokasi dari site dimana ruang komunal tersebut berada. Lebih lanjut studi ini menemukan bahwa, ruang komunal yang paling banyak mengalami trasnformasi adalah ruang-ruang yang ada di balai banjar. Tetapi berbeda dengan balai banjar, ruang-ruang komunal di tempat-tempat berfungsi religius/ritual mengalami transformasi yang paling sedikit. Ini dikarenakan adanya pandangan akan ruang-ruang yang berada di sebuah tempat ritual bernilai sakral yang tidak bisa dirubah semudah mentransformasi ruang-ruang komunal lainnya. Kata kunci: ruang komunal, pemanfaatan ruang, transformasi ruang 
Perubahan Identitas Tempat dan Konflik Ruang di Pinggiran: Studi Awal Tentang Urban Habitus dalam Transformasi Ruang di Kota Depok, Jawa Barat Hafid Setiadi
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 5 No 1 (2018): April 2018
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1098.338 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2018.v05.i01.p05

Abstract

Studi ini bertujuan untuk mengemukakan gagasan tentang struktur yang terkandung dalam Teori Habitus Sosial serta temuan-temuan awal yang dipandang relevan dengan gejala transformasi ruang di Kota Depok Jawa Barat; sebagai wilayah pinggiran yang sedang berkembang pesat. Cara pandang ini mengisyaratkan adanya keterlibatan pusat, aktor dominan, dan resistensi sosial budaya dalam proses transformasi ruang. Berkenaan dengan itu, pembahasan berbagai temuan awal yang diperoleh baik melalui observasi lapang, studi literatur, maupun wawancara menekankan pada saling keterkaitan antara perubahan identitas tempat dan konflik ruang yang berlangsung dalam suatu pola kekuasaan tertentu. Berlandaskan pada konsep “struktur yang menstruktur” dan “struktur yang terstruktur”, hasil studi menunjukkan bahwa perubahan wujud fisik, desain arsitektur, dan fungsi bangunan tidak selalu berimplikasi pada perubahan atau bahkan hilangnya identitas tempat. Hal ini tergantung pada tingkat kesadaran spasial penduduk sesuai dengan sejarah panjang dari pengalaman serta kontribusi sosial mereka pada tempat tertentu. Namun demikian, daya tahan identitas suatu tempat dapat meningkatkan konflik ruang sebagai cermin dari persaingan simbol antara aktor-aktor urban demi memperkuat keberadaan mereka masing-masing. Kata kunci: identitas tempat, konflik ruang, urban habitus, transformasi ruang urban
PEMBENTUKAN STRUKTUR RUANG RUMAH TINGGAL DESA JULAH, KECAMATAN TEJAKULA, KABUPATEN BULELENG Ni Putu Suda Nurjani
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 3 No 2 (2016): Agustus 2016
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (590.928 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2016.v03.i02.p07

Abstract

Abstract Bali has many vernacular settlements and Desa (village) Julah forms the focus of this study. Unlike many other villages, the Desa Julah has uniquely maintained their traditional homes despite abundant opportunities to modernize. The objective of this article is to explain why this happens, especially in the case of the krama tegak – households which belong to the core members of the Julah community. A qualitative research approach addresses the spatial orientation of each housing compound and the use of site, for both buildings and the outdoor living environment.  Supporting data have been acquired combining an extensive literature review; in-depth interviews and on- site physical observation. Results suggest that a Julah’s traditional home is patrilineal, expressed in the building layout and the overall use of space. Keywords: vernacular architecture; home; spatial orientation; mountain and sea conception; patrilineal. Abstrak Bali memiliki banyak permukiman tradisional dan Desa Julah menjadi fokus dari studi ini. Tidak seperti desa-desa tradisional lainnya, Desa Julah memiliki kekhasan pada rumah tinggal mereka yang terjaga secara baik dari pengaruh modernisasi. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan mengapa situasi ini terjadi, khususnya dalam penerapan konsep krama-tegak – keluarga yang dimiliki oleh anggota inti masyarakat Julah. Pendekatan kualitatif ditujukan kepada orientasi ruang pada setiap massa bangunan dan penggunaan site, baik untuk bangunan dan lingkungan sekitarnya. Data pendukung diperoleh melalui perpaduan teknik pengumpulan data, yaitu penelaahan pustaka, wawancara mendalam, dan pengamatan di lapangan. Studi ini menghasilkan bahwa rumah tinggal tradisional Julah mengikuti konsep patrilineal yang diekspresikan pada tata letak massa bangunan dan keseluruhan dari penggunaan ruang pada bangunan tersebut.
Kajian Rasio D/H pada Koridor Jalan Laksamana, Kelurahan Seminyak, Kabupaten Badung Ida Ayu Catur Maharani; . Widiastuti; Ciptadi Trimarianto
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 6 No 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1366.179 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2019.v06.i02.p05

Abstract

Jalan Laksamana is one of three commercial corridors located in the allotment of trade and services in Seminyak Village. As a commercial corridor, one important consideration to be discussed here is the level of visitor comfort. One factor influencing this issue is a ratio of distance (D) over height (H) - (D/H). Calculation on this ratio is seen fundamental since it will determine the spatial impression one may get when standing in a certain position in this corridor. The study is conducted with a descriptive qualitative method and a deductive. It is carried out in three different segments of Jalan Laksamana, namely Segment 1, Segment 2, and Segment 3. This categorization is done based on level of crowd (visitors) who actively use the corridor at a certain timing of the day. The study results show that spatial impressions felt by the crowd when they are standing in these three segments are as follows. First, openness and spaciousness are felt when one stands in segment 1. The D/H ratio within this segment also enables one to observe details a building. Second, the spatial impression felt in segment 2 varies from one spot to another. This largely depends on the physical state of various buildings that one passes by. While in Segment 3, the spatial impression begins to disappear, and building details are invisible. Buildings are seen in relation to their surroundings and the presence of decorative plants has created artificial walls which indeed form a more comfortable space to the crowd. Keywords: commercial corridor, Ratio (D/H), Proportion Abstrak Jalan Laksamana merupakan salah satu dari tiga koridor komersial yang berada pada Kawasan Peruntukan Perdagangan dan Jasa di Kelurahan Seminyak. Sebagai koridor komersial, hal yang perlu diperhatikan adalah tingkat kenyamanan pengunjung. Salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat kenyamanan pengunjung adalah rasio D/H. Perbandingan jarak antara bangunan (D) dengan ketinggian bangunan (H) menghasilkan nilai proporsi. Nilai setiap perbandingan akan menghasilkan kesan ruang yang berbeda-beda. Nilai rasio D/H merupakan salah satu fenomena keruangan yang menarik untuk diteliti berkenaan dengan pengaruhnya terhadap kesan ruang yang dihasilkan. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif deskriptif dan pendekatan deduktif untuk mengetahui kesan ruang yang ditimbulkan secara teori berdasarkan pembagian jarak antara bangunan dan ketinggian bangunan yang ada di Jalan Laksmana. Penelitian dilakukan pada tiga segmen yaitu Segmen 1, Segmen 2, dan Segmen 3 yang dipenggal berdasarkan tingkat keramaian pengunjung yang beraktifitas di sekitar jalan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pada Segmen 1 ruang berkesan terbuka dan luas namun pengamat masih bisa melihat detail bangunan. Pada Segmen 2 kesan ruang yang dihasilkan berbeda-beda bergantung pada bangunan yang dilewati sehingga kesan ruang pada Segmen 2 tidak dapat didefinisikan. Sedangkan pada Segmen 3 kesan ruang mulai hilang, detail bangunan tidak tampak, dan bangunan dilihat dalam hubungan dengan sekelilingnya. Keberadaan vegetasi di sekitar jalan dapat menciptakan dinding semu dan membentuk ruang yang lebih nyaman untuk pengunjung. Kata kunci: koridor komersial, rasio (D/H), proporsi
Book Review : Penelitian Kualitatif: Proses dan Aplikasi Ngakan Putu Sueca
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 2 No 1 (2015): April 2015
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.082 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2015.v02.i01.p09

Abstract

-
Editorial: Sustainability is in Question Gusti Ayu Made Suartika
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 4 No 1 (2017): April 2017
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.892 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2017.v04.i01.p01

Abstract

The thesis is simple. Due to the ambiguous interpretations of sustainability (each enterprise interpreting the word in their own way) - there can be no significant explanation of the term outside a theory of capital accumulation. With its absorption by the market, the term sustainable has been elevated to sublime uselessness. It has become a totally politicized ideology anointed with anodyne qualities. Paradoxically, these very qualities are invaluable to the reproduction of capital. It bleats we are all together in this battle against climate change, pollution, and the destruction of natural resources. Populations throughout the developed world have rallied to the cause, providing subliminal cover for corporate rape and pillage to continue as usual. So the term sustainability allows the deepening of capitalist social relations chameleon properties, obscuring the fact that scarcity is not a problem of nature but of politics. Neo-Darwinism rules. No corporation will voluntarily sacrifice market share to sustainable practices. No nation will willingly sacrifice gross development product for the greater good. And no politician will sacrifice votes to their moral conscience. As Nicolas Sarkozy recently said ‘we know what to do, we just don’t know how to get re-elected if we do it’. Consequently economic growth measured as GDP will likely ‘tank the biosphere’ and only the rich will afford to live sustainably (Monbiot). The causes of this global problem are clear. Nature has its own laws. But the neo-corporate state has adopted a mechanistic concept of nature which only recognizes its instrumental value within the market system. This allows corporations free reign to fly the flag of patriotism and benevolence. The terms green and sustainable now legitimize the very institutions that have bankrupted, polluted and exhausted nature – banks, finance and insurance companies, national and trans-national corporations. Unfortunately nature does not yield to the market without problems and an unsustainable planet is the result. Clearly, none of this will be solved by insulation bats in Sydney roofs, solar panels, bio-fuelled buses, wind farms in Denmark, or a Toyota Prius in the garage. These are cosmetic fixes for the wealthy, short term forms of penance to assuage individual guilt. The structural problems of the capitalist system remain undiminished. In its Volume IV, Number 1, Ruang-Space Journal publishes seven articles. The first one is composed by I Putu Edy Rapiana, entitled Perubahan Fungsi Spasial sebagai Akibat Perkembangan Pariwisata di Banjar Kedungu, Desa Belalang Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan (Spatial Changes Resulted from the Tourist Development in Kedungu Neighborhood, Belalang Village, Kediri District, of Tabanan Regency). The second article is contributed by Kadek Ary Wibawa Patra. This publication is entitled Alih Fungsi Lahan Pertanian yang Berbatasan dengan Area Puspem Kabupaten Badung: Tahun 2005-2015 (The Conversion of Agricultural Land Situated on the Periphery of Badung Regency's Civic Centre: in the Year of 2005-2015). The third article is authored by A A Gde Djaja Bharuna S, entitled Perkembangan Spasial di Desa Pengotan - Bangli (Spatial Development of Pengotan Village - Bangli). The fourth article is written by I Putu Hartawan, whose title is Pemanfaatan Ruang Terbuka Publik sebagai Setting Kegiatan Ngaben Masal di Banjar Teges Kawan Yangloni, Peliatan (The Use of Open Public Space, as a Setting for Mass Cremation Related Activities in Teges Kawan Yangloni Neighborhood, of Peliatan Village). The fifth article is authored by I Ketut Mudra entitled Kontribusi Program Desa Wisata dalam Mentransisi Arsitektur Umah Tua di Desa Julah, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali (The Contribution of Village-Based Tourism Program in the Conversion of Original Homes in Julah Village, Tejakula District, Buleleng Regency, Bali). The sixth article is contributed by Michael Bounds and Peter Phibbs with a title of Putting Practice into Theory: Reconciling Academic Discourse with Experience. The seventh article is by Ni Made Swanendri, with a title Pola Spasial Permukiman Desa Pakraman Timbrah, Karangasem (Spatial Pattern of Timbrah Settlement in Karangasem).
CULTURAL HERITAGE TOURISM – CASE STUDY OF PALEMBANG Listen Prima
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 1 No 2 (2014): October 2014
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.481 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2014.v01.i02.p03

Abstract

Abstrak Artikel ini mengkaji tentang site-site peninggalan yang ada di Palembang, beserta potensinya untuk dijadikan wisata warisan budaya di Indonesia. Palembang sangat tergantung terhadap tantangan dan keuntungan yang diperoleh dari industri kepariwisataan, sehingga proses perbaikan-pun perlu dilaksanakan di segala bidang untuk keberlanjutan kondisi serta kesejahteraan ekonomi dari salah satu provinsi yang berlokasi di sebelah selatan Pulau Sumatra ini. Penelitian ini merupakan sebuah studi empiris yang menginvestigasi: beragam metode terkait konservasi serta peningkatan dan efektifitas dari tata aturan yang ada, baik yang diinstigasi di tingkat nasional, regional, dan lokal. Setiap variabel dikaji dari sisi potensi yang kemungkinan dimilikinya, dan dievaluasi berdasarkan data-data yang telah didokumentasikan berkenaan dengan masing-masing studi kasus. Ketergantungan Palembang terhadap pendapatan yang diperoleh dari industri kepariwisataan, mensyaratkan adanya peningkatan dalam aspek pendanaan, kesadaran masyarakat, konservasi, perubahan dalam tata aturan, dan yang paling penting adalah proses pentaatan masyarakat terhadap tata aturan yang ada pada semua level. Hasil analisis disini secara mengkhusus merekomendasikan adanya efesiensi dari perundang-undangan yang ada, salah satu aspek dasar yang sangat perlu peningkatan di Palembang. Kata kunci: proteksi, peningkatan, peninggalan, legislasi, pariwisata Abstract This paper examines heritage sites in Palembang and their potential for cultural heritage tourism in Indonesia. Palembang is very reliant on the challenges and dominance of tourism benefits, and upgrading in all areas is necessary for Palembang's (a province located in the southern part of Sumatra) continuing economic well-being. This research is empirically focused and investigates methods for conservation, enhancement and the effectiveness of existing legislation at national, regional and local levels. Each variable is assessed as to its potential, and evaluated on the basis of case study material. Since Palembang is very reliant on revenues from tourism and it is imperative that significant improvement occurs in terms of funding, public awareness, conservation, legislative change and most importantly, enforcement of the law at all levels. The result of this analysis lead to recommendations in all areas, but specifically for the effectiveness of regional legislation, which is currently represents a catastrophe for Palembang. Keywords: protection, enhancement, heritage, legislation, tourism
Konsep Keruangan pada Permukiman Inti di Desa Pakraman Gunungsari Gusti Ayu Cantika Putri
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 4 No 2 (2017): October 2017
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1293.154 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2017.v04.i02.p03

Abstract

This article discusses the strategic plan for Gunungsari Village. As a desa wisata (village (community)-based tourism), the intention is to guide the industry while conserving the social, cultural, and spatial environments. It is based on a research study that employed qualitative method and naturalistic paradigm. Data collection was carried out through physical observations, interviews, and study to relevant literatures. Result of this study proposes the implementation of a community based economy by conserving the existence of Gunungsari agricultural land and the full engagement of its community members in the process. It is also underlined the need to isolate tourism related activities to a specific zone. This is to isolate damaging impacts of tourism on local resources. This strategy also anticipates a possibility in which the industry is participated by investors who inevitably come with less/no intention to protect local culture, social interactions, and space. This is a pivotal aspect of the strategic plan, since Gunungsari has been well-known for its natural beauties decorated by beautifully laid paddy fields and resourceful water springs everywhere. Keywords: desa wisata, strategic plan, economic development
Filosofi Estetika Rumah Tradisional Desa Bayung Gede A. A. Gde Djaja Bharuna S.; Ida Bagus Bupala; Ketut Muliawan Salain
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 6 No 1 (2019): April 2019
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (549.625 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2019.v06.i01.p04

Abstract

The village of Bayung Gede is a mountain village (± 800-900 M asl) in Kintamani Subdistrict, Bangli Regency, and one of the traditional villages that have uniqueness in its architecture. The traditional house in Bayung Gede Village is not only a multifunctional dwelling, but also has aesthetic value, philosophy, and representation of the simple life of its inhabitants. The aesthetics seem simple, but they contain philosophical values in every detail. The use of natural materials such as wood and bamboo are abundant in the village environment affect the appearance of architectural form, while the shape will affect the appearance of aesthetic build. The purpose of this paper is to uncover the aesthetics of traditional houses in the village of Bayung Gede, within the framework of philosophy concept studies underlying the embodiment of the aesthetic aspect of architecture. The purpose of the study is, a proposition about the effort of appreciation and enrichment of Traditional Balinese Architecture, as one element of national/regional cultural identity. The method used is descriptive-naturalistic, which is a way to find and understand the values owned by society in accordance with the structure of components in the architecture. The conclusion of the research, that the essence of a work of architecture contains social functions and aesthetic rules, is a supernatural power that is incarnate, as a realized idea, the devotion to God, the means of continuity of tradition, as a form of creativity, and as a means of recreation . This is apparent in the aesthetic philosophy of a traditional house in Bayung Gede Village. Keywords: aesthetics, philosophy, traditional Balinese architecture, traditional house Abstrak Desa Bayung Gede merupakan desa pegunungan (±800-900 M dpl) di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, serta salah satu desa tradisional yang memiliki keunikan dalam arsitekturnya. Rumah di Desa Bayung Gede merupakan tempat beraktivitas juga menjadi simbol yang khas dari masyarakatnya. Rumah tradisional di Desa Bayung Gede tidak hanya sebagai hunian yang multifungsi, melainkan juga memiliki nilai estetika, filosofi, dan representasi kehidupan sederhana penduduknya. Estetikanya nampak sederhana, namun mengandung nilai-nilai filosofi pada setiap detailnya. Topografi di daerah pegunungan dan pemakaian bahan alam seperti kayu dan bambu yang banyak terdapat di lingkungan desa mempengaruhi tampilan bentuk arsitekturnya, sedangkan bentuk akan mempengaruhi tampilan estetika bangunanannya. Maksud penulisan adalah untuk mengungkap estetika rumah tinggal tradisional di Desa Bayung Gede, dalam kerangka studi konsep filosofi yang melatari perwujudan hadirnya aspek estetika arsitekturnya. Tujuan penelitian adalah, sebuah proposisi tentang upaya penghargaan serta pengayaan khasanah Arsitektur Tradisional Bali, selaku salah satu unsur jati diri kebudayaan daerah/nasional. Metoda yang dipergunakan adalah deskriptif-naturalistik, yaitu suatu cara untuk mencari dan memahami nilai-nilai yang dimiliki oleh masyarakat sesuai dengan struktur komponen pada arsitektur. Kesimpulan penelitian adalah, bahwa hakikat suatu karya arsitektur mengandung fungsi-fungsi sosial dan kaidah estetika, merupakan kekuatan adikodrati yanng menjelma, sebagai ide yang terwujud, bakti kepada Tuhan, kesinambungan tradisi, wujud kreativitas, dan sebagai sarana bersenang. Hal tersebut nampak pada filsafat estetika rumah tradisional di Desa Bayung Gede. Kata Kunci: estetika, filosofi, arsitektur tradisional Bali, rumah tradisional
PERLUASAN TERITORI RUMAH DI PERUMAHAN RELOKASI NELAYAN KECAMATAN AMPENAN Tjok Istri Widyani Utami Dewi; I Nyoman Widya Paramadhyaksa; Ngakan Putu Sueca
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 3 No 1 (2016): April 2016
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (830.634 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2016.v03.i01.p02

Abstract

Abstract This is a study of new settlements that accommodate communities which have been relocated due to natural disasters. Case studies are carried out in the fishing communities of Ampenan and Tanjung Karang coasts of Lombok which were hit by tidal wave disasters in 1997. In order to house the affected communities, the government of Mataram City developed housing units which have since been gradually adapted by dwellers to meet their needs for extra space. These forms of adaptation include: (1) introduction of new functions; (2) the use of public spaces for private purposes; (3) the inclusion of space outside domestic territory for personal use; (4) development of additional fencing; and (5) an expansion of house floor areas. These also in turn bring about change in the occupational profile of inhabitants. The main aim of this study is to identify factors underlining the aforementioned conditions. It implements qualitative research methods derived from the paradigm of phenomenology. Data collection was centralized at Kampong Gatep - a settlement of Ampenan Coast -, where 19 housing units to be studied are located. These 19 family homes exist among the total of 56 relocated family groups. Since each unit is limited in scale, its occupants began their spatial expansion by containing their belongings within their spatial allocation. This gradually expanded as their needs changed. The final findings shows that the dominant factors behind such spatial expansion include: (1) inhabitants' past habit to use space outside domestic sphere; (2) increasing demands for space due to changes in lifestyle; (3) limited space provided by local government for each unit; (4) space available outside housing unit; and (5) locally derived consensus in regard to non-domestic space utilization. Keywords: territoriality, relocated settlement, fishing community, Ampenan Abstrak Pemerintah Daerah Kota Mataram memberi bantuan berupa perumahan relokasi kepada nelayan korban bencana gelombang pasang yang terjadi di sepanjang pantai Ampenan dan Tanjung Karang yang telah terjadi sejak tahun 1997. Pascarelokasi, banyak fenomena terkait teritori yang terjadi di perumahan relokasi berupa: (1) penambahan fungsi bangunan; (2) pemanfaatan ruang publik untuk keperluan pribadi; (3) pemanfaatan lahan sisa; (4) penambahan pagar rumah; (5) penambahan luas lantai; dan (6) perubahan profesi kepala keluarga. Mencermati gambaran fenomena tersebut, muncullah gagasan untuk memfokuskan arah penelitian kearah teritorialitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang melatarbelakangi adanya perluasan area teritori. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan paradigma fenomenologi. Lokasi penelitian ini adalah di Kecamatan Ampenan, tepatnya di perkampungan Gatep. Jumlah masyarakat nelayan pesisir Pantai yang telah direlokasi pada tahap pertama adalah 56 kepala keluarga. Kasus dipilih menggunakan teknik purposive (bertujuan), yaitu dengan memilih 19 kasus yang memiliki karakter kuat sesuai dengan fenomena yang terjadi. Fenomena-fenomena yang terkait perluasan area teritori bermula dari terbatasnya fasilitas yang disediakan Pemerintah Daerah di perumahan relokasi. Terbatasnya ruang menyebabkan penghuni mulai melakukan invasi dengan meletakkan property pribadi di lahan-lahan sisa yang tersedia. Hasil akhir penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat beberapa faktor dominan yang menjadi latar belakang adanya perluasan area teritori, antara lain: (1) masa lalu; (2) tuntutan kebutuhan ruang; (3) keterbatasan lahan; (4) adanya lahan sisa; dan (5) konsensus penggunaan lahan. Kata kunci: teritorialitas, perumahan relokasi, nelayan, Ampenan.

Page 7 of 20 | Total Record : 199