cover
Contact Name
Gusti Ayu Made Suartika
Contact Email
ayusuartika@unud.ac.id
Phone
+6289685501932
Journal Mail Official
ruang-space@unud.ac.id
Editorial Address
R. 1.24 LT.1, Gedung Pascasarjana, Universitas Udayana, Kampus Sudirman Denpasar Jalan P.B. Sudirman, Denpasar 80232, Bali (Indonesia).
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
RUANG: JURNAL LINGKUNGAN BINAAN (SPACE: JOURNAL OF THE BUILT ENVIRONMENT)
Published by Universitas Udayana
ISSN : 23555718     EISSN : 2355570X     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal RUANG-SPACE mempublikasikan artikel-artikel yang telah melalui proses review. Jurnal ini memfokuskan publikasinya dalam bidang lingkungan binaan yang melingkup beragam topik, termasuk pembangunan dan perencanaan spasial, permukiman, pelestarian lingkungan binaan, perancangan kota, dan lingkungan binaan etnik. Artikel-artikel yang dipublikasikan merupakan dokumentasi dari hasil aktivitas penelitian, pembangunan teori-teori baru, kajian terhadap teori-teori yang ada, atau penerapan dari eksisting teori maupun konsep berkenaan lingkungan terbangun. Ruang-Space dipublikasi dua kali dalam setahun, setiap bulan April dan Oktober, oleh Program Studi Studi Magister Arsitektur Universitas Udayana yang membawahi Program Keahlian Perencanaan dan Pembangunan Desa/Kota; Konservasi Lingkungan Binaan; dan Kajian Lingkungan Binaan Etnik.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 199 Documents
TERITORIALITAS DAN INTERAKSI MULTI-ETNIK DI TANJUNG BENOA, BALI Stefanie Ongelina
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 1 No 2 (2014): October 2014
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (537.609 KB)

Abstract

Abstract Tanjung Benoa is occupied by five different ethnicities which over time have established a very well bound multi ethnic relationship. They live side by side physically and socially. The condition is in contradiction to the ethnocentricism in which one ethnicity tends to demonstrate its superiority over others (Sumner in Liliweri 2005). This situation has grounded the formation of this article whose focus is to explore the relationship between ethnic interactions and the use of space. There are three issues addressed within, including: (i) how and when multi ethnic interactions take place; (ii) type of ethnic behavioral and spatial patterns that have emerged within; and (iii) various factors underlining the formation of both behavioral and spatial pattern in Tanjung Benoa. The study was conducted using ethnographic approach and qualitative research method for data collection. Research findings demonstrate that multi-ethnic interactions have been performed in various manners that led to the development of both unique behavioral and spatial settings. Determining factors influencing the formation of these settings include, ritual and religious activities; personal and individual reasons; the conduct of various art performances; occupancy of each ethnic group involved; and land availability. Keywords: territoriality, multi ethnic interactions, behavioral pattern, spatial pattern Abstrak Tanjung Benoa ditempati oleh lima suku yang berbeda, yang lambat laun telah membangun keterikatan multi-etnik yang baik. Mereka hidup secara berdampingan, baik secara fisik maupun sosial. Kondisi ini bertolak belakang dengan paham etnosentrisis yang menyatakan bahwa dalam masyarakat multi etnik akan selalu ada minimal satu suku yang memiliki superioritas di atas suku yang lain (Sumner dalam Liliweri 2005). Kondisi inilah yang melatarbelakangi penulisan artikel ini, yang memiliki tujuan untuk mengekplorasi hubungan antar interaksi etnik dengan pemanfaatan ruang. Ada tiga isu yang yang dibahas di dalamnya, termasuk: (i) bagaimana dan kapan terjadinya interaksi multi-etnik; (2) tipe dari beragam patrun perilaku etnik serta setting keruangan yang terjadi; dan (iii) faktor-faktor yang mempengaruhi kedua patrun ini di Tanjung Benoa. Penelitian ini memakai pendekatan etnografi dengan menerapkan metode penelitian kualitatif dalam pengkoleksian data. Hasil studi menunjukan bahwa interkasi multi-etnik di Tanjung Benoa telah dilaksanakan dengan beragam cara yang telah mendorong kemunculan pola perilaku dan  pola pemanfaatan ruang yang unik. Adapun faktor-faktor penentu yang memicu terbentuknya kondisi ini adalah adanya aktivitas ritual dan keagamaan; alasan individu/personal; pelaksanaan beragam atraksi kesenian; mata pencaharian dari anggota masyarakat yang terlibat; dan ketersediaan lahan. Keywords: teritorialitas, interaksi multi-etnik, pola perilaku, pola spasial
Makna dan Konsep Arsitektur Tradisional Bali dan Aplikasinya dalam Arsitektur Masa Kini I Nyoman Susanta
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 4 No 2 (2017): October 2017
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (842.32 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2017.v04.i02.p08

Abstract

This is a study of principles and meanings encompassing the traditional Balinese Architecture. Its conduct is underlined by a deep concern that Balinese practices in the built form will not survive, as many determining circumstaces have inevitably changed overtime. This article aims at providing an understanding in regard to non-physical aspects which would be crucial when changes and transformations of the Balinese architectural tradition are seen necessary. It proposes continuous modification and repetition related practice as a strategy to uphold meanings, concepts, and values contained within this tropical architecture. This research was carried out using qualitative research approach. Data collection was done by conducting a field survey and literature study. Discussions and analyses presented within have been enriched by author's practical experiences in the field. Keywords: meaning, principle, traditional architecture, modifikation, transformation
Kajian Arsitektur Bali pada Tampilan Bangunan Komersial di Koridor Jalan Danau Tamblingan, Kelurahan Sanur, Denpasar Selatan I Gede Putu Astamarsa Werdantara; Tri Anggraini Prajnawrdhi; Antonius Karel Muktiwibowo
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 7 No 2 (2020): Oktober 2020
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (992.751 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2020.v07.i02.p02

Abstract

The development brings inevitable changes to the built environment in which architectural design holds a significant part. Architecture, undoubtedly, has a strong association with identity and the character of a certain built urban environment. Changes in architectural principles and designs may bring two-side impacts, which may either strengthen or harm the existing urban identity. This is especially true when we discuss architectural changes and the formation of urban identity on the Island of Bali. This study aims to examine the conformance of numerous facades of commercial buildings located along the Danau Tamblingan Corridor in Sanur-Bali to the set of local government regulations that govern the implementation of local traditions in architectural design and practices. The study is approached with a qualitative method. The study result shows there are 5 groups of violations, which are: 1) violation of the tri angga principle; 2) the use of flat roofs; 3) minimum use of local decorative elements; 4) dominant exhibition of commercial identity; 5) the absent of handcrafted character, natural materials and the color derived from their uses.Keywords: Balinese Architecture; facade; commercial building AbstrakPerkembangan zaman membawa perubahan pada banyak hal dan tidak dapat dihindari. Salah satu hal yang mengalami perubahan adalah arsitektur. Arsitektur memiliki hubungan yang erat dengan tata ruang sebuah wilayah atau kota. Arsitektur berkaitan dengan karakter dari suatu wilayah tersebut. Perubahan dalam arsitektur yang tidak terkontrol dapat menghilangkan karakter dari sebuah wilayah. Arsitektur Bali adalah salah satu gaya arsitektur yang mengalami perubahan. Jalan Danau Tamblingan adalah salah satu koridor komersial di Kelurahan Sanur yang terdiri dari berbagai jenis fasilitas komersial dengan karakter bangunan yang bervariasi. Namun terdapat banyak bangunan komersial yang tidak menerapkan prinsip Arsitektur Bali sebagaimana mestinya seperti yang sudah diatur dalam Peraturan Walikota Denpasar No. 25 Tahun 2010. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji prinsip Arsitektur Bali dalam peraturan perundang-undangan yang tidak diterapkan pada tampilan bangunan fasilitas komersial di lokasi penelitian. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan strategi studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 5 pelanggaran yang dilakukan oleh bangunan-bangunan komersial di Koridor Jalan Danau Tamblingan, Sanur yaitu; 1) tidak menerapkan konsep tri angga; 2) menggunakan atap datar; 3) minimnya penggunaan ragam hias Arsitektur Bali; 4) dominasi identitas perusahaan pada tampilan bangunan; 5) tidak menampilkan karakter handicraft serta tidak menggunakan warna dan material alamiah.Kata kunci: Arsitektur Bali; fasad; bangunan komersial
Detil Publikasi Gusti Ayu Made Suartika
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 4 No 1 (2017): April 2017
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.572 KB)

Abstract

Bentuk dan Makna Simbolik Ragam Hias pada Masjid Sunan Giri Rizal Wahyu Bagas Pradana
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 7 No 1 (2020): April 2020
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (709.906 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2020.v07.i01.p07

Abstract

Sunan Giri Mosque is one of the ancient Javanese mosques which was built in the time of Walisongo. Sunan Giri Mosque building has its own uniqueness in its ornament. This uniqueness is rarely found in other mosques in general. This study aims to describe the various ornaments and symbolic meanings found in the Sunan Giri Mosque. This research uses descriptive qualitative research methods. Research data obtained through observation, interviews, documentation, and literature study. Data analysis with data reduction, data presentation, and concluding. Meanwhile, to obtain data validity, using data triangulation and review informants. The results showed the ornament at the Sunan Giri Mosque was influenced by Javanese, Hindu, and Islamic culture. The decoration in the Sunan Giri Mosque takes pre-Islamic elements and is processed, adjusted to the rules contained in the Islamic religion. The ornament in the Sunan Giri Mosque can be grouped into several motives: lung-lungan, patran, padma, tlacapan, saton, kebenan, garuda, praba and surya majapahit motifs. Aside from its role as building decoration, ornament in the Sunan Giri Mosque has symbolic meaning in it. The symbolic meaning is addressed to the Muslims who worship in the mosque. This symbolic meaning contains symbols about noble teachings in Islam, and hopes to Allah SWT. Keywords: architecture; ornament; symbolic meaning; Sunan Giri Mosque Abstrak Masjid Sunan Giri merupakan salah satu masjid kuno Jawa yang dibangun pada zaman walisongo. Bangunan Masjid Sunan Giri memiliki keunikan tersendiri pada ragam hiasnya. Keunikan tersebut jarang ditemui pada masjid-masjid lain pada umumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan ragam hias dan makna simboliknya yang terdapat di Masjid Sunan Giri. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Data penelitian diperoleh melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Analisis data dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Sedangkan untuk mendapatkan kevalidan data, menggunakan triangulasi data dan informan review. Hasil penelitian menunjukkan ragam hias di Masjid Sunan Giri dipengaruhi oleh budaya Jawa, Hindu, dan Islam. Ragam hias di Masjid Sunan Giri menggambil unsur-unsur pra Islam dan diolah, disesuaikan dengan aturan-aturan yang terdapat dalam agama Islam. Ragam hias di Masjid Sunan Giri dapat dikelompokkan menjadi beberapa motif: motif lung-lungan, patran, padma, tlacapan, saton, kebenan, garuda, praba dan surya majapahit. Selain berperan sebagai penghias bangunan, ragam hias di Masjid Sunan Giri memiliki makna simbolik di dalamnya. Makna simbolik tersebut ditujukkan kepada kaum muslimin yang beribadah di dalam masjid. Makna simbolik ini berisi simbol tentang ajaran-ajaran luhur dalam agama Islam, dan harapan-harapan kepada Allah SWT. Kata kunci: arsitektur; ragam hias; makna simbolik; Masjid Sunan Giri
PENDEKATAN PERENCANAAN TATA RUANG WILAYAH DI KOTA DENPASAR Arya Bagus Mahadwijati Wijaatmaja
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 2 No 2 (2015): Oktober 2015
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.259 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2015.v02.i02.p05

Abstract

Abstract The spatial planning of Denpasar proceeds from the evaluation of prior policy through to final draft approval at the national level, in this case the Ministry of Public Works.  Numerous institutions in Denpasar are involved in this process, including the regional development bureau, local leaders, professional associations, and a number of related institutions. The adopted approach uses therational comprehensive model. It has five properties, namely planning characteristics, the role of the state, planning objectives, the scope of planning, and planning methods, This study uses a qualitative approach to evaluate this process focussing on institutions and influential interests. It emphasizes the actors' policies and their networks. Field data are obtained through archival research and focussd interviews. Keywords: urban planning, spatial planning Abstrak Perencanaan Tata Ruang Wilayah Kota Denpasar melalui beberapa tahapan, dari evaluasi rencana tata ruang sebelumnya hingga persetujuan rancangan tata ruang tersebut kepada Pemerintah Pusat, dalam hal ini Kementerian Pekerjaan Umum. Sejumlah pihak terlibat dalam proses ini, di antaranya Badan Perencana Pembangunan Daerah Kota Denpasar, seluruh lurah dan kepala desa se-Kota Denpasar, asosiasi profesi, dan sejumlah instansi terkait. Berdasarkan lima uraian mengenai perbandingan perencanaan: karakteristik perencanaan, peran negara, tujuan perencanaan, ruang lingkup perencanaan, dan metode perencanaan, maka pendekatan yang diterapkan dalam perencanaan tata ruang wilayah Kota Denpasar adalah pendekatan rasional komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses perencanaan tata ruang wilayah di atas, pihak-pihak dan kepentingan yang berpengaruh, serta pendekatan dalam perencanaannya. Dengan pendekatan kualitatif, penelitian ini menekankan pada para aktor kebijakan, jaringan kebijakan, dan pendekatan perencanaan. Data lapangan diperoleh melalui penelusuran dokumen dan wawancara pada sejumlah pihak terkait. Kata kunci: perencanaan kota, tata ruang
Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian di Kawasan Perkotaan Mangupura Kabupaten Badung I Putu Anom Widiarsa; Gusti Ayu Made Suartika
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 5 No 2 (2018): October 2018
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (631.676 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2018.v05.i02.p02

Abstract

This article aims at analyzing determining aspects that must be incorporated in to the process of developing a strategy to control land development. It converses this objective by taking the increasing rate of agricultural land conversion in Mangupura urban area, of Badung Regency-Bali, as its case study. The study was carried out using a qualitative approach. The findings demonstrate the driving factors behind such a conversion are classified into four categories, including social, economical, environmental and regulatory forces. Learning from the dynamic of land development of Mangupura area, the study subsequently comes out with a conclusion that for efficiency and success, the strategy to control land use changes has to embrace two basic aspects of: (i) identification and clarification of instruments to regulate spatial changes, and (ii) the allocation of agency/s assigned to carry out the controlling roles. It is further emphasized that attempts to rule spatial development should take both of the aforementioned determining forces and basic aspects influencing the success of the control strategy, into account. Keywords: conversion, agricultural land, land use control and strategy
FAKTOR-FAKTOR PEMILIHAN LOKASI DAN SEBARAN MINIMARKET WARALABA DI KECAMATAN DENPASAR BARAT I Made Agus Dharmadiatmika
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 3 No 3 (2016): Oktober 2016
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (380.994 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2016.v03.i03.p05

Abstract

Denpasar has been faced with a rapid proliferation of the so called ‘minimarket’ (modernized warung). While on the one hand this has meant a provision of more space for youth to congregate, it has caused economic deprivation for various small warung whose customers divert their purchases to these new enterprises on the other.  Supporting the idea of regulating the development of commercial functions in an urban area, this article offers a preliminary study of considerations used before the location for any minimarket is finalized by owners, prior to building permit application to the government.  Since this in fact corresponds to a franchised warung, these considerations are subject to locational constraints set by the main company. The study also investigates how this list of priorities is negotiated to either accommodate or adapt to given economic and other circumstances encountered in any potential new location. This research was undertaken in with West Denpasar as its focus, since it has the highest density of minimarkets in Denpasar. The highest concentration of such minimarts are located in the areas of Kertha Tega , Tegal Harum and Pemecutan Kelod. Keywords: minimarket; location; economic functions; urban development Abstrak Pertumbuhan minimarket waralaba yang sangat cepat di Kecamatan Denpasar Barat mengakibatkan berdampak pada termarginalkannya warung/toko tradisional. Hal mendasar yang perlu dilakukan adalah menganalisa keberadaan lokasi minimarket waralaba, sehingga menjadi pedoman dalam penataan ruang di Kota Denpasar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif untuk menjawab permasalahan awal, yaitu faktor pemilihan lokasi, faktor utama pemilihan lokasi terkait karakteristik pemanfaatan lahan, dan kecenderungan sebaran minimarket waralaba di Kecamatan Denpasar Barat. Hasil penelitian menunjukkan faktor-faktor pemilihan lokasi minimarket waralaba dipengaruhi oleh sepuluh faktor, dengan faktor utama pemilihan lokasi adalah faktor kawasan perdagangan dan jasa/komersial, faktor kedekatan terhadap fasilitas pendidikan, faktor kedekatan terhadap fasilitas kesehatan, dan faktor pola hidup modern. Minimarket waralaba pertama kali berlokasi pada daerah yang belum terdapat pesaing. Masuknya pesaing menyebabkan sebaran lokasi terjadi secara acak dengan mempertimbangan keuntungan aglomerasi dan adanya konsentrasi permintaan pasar. Sebaran minimarket secara tidak langsung cenderung membentuk spasial, mengelompok secara sentralisasi pada daerah pusat kota, dan menyebar ke arah barat, yaitu daerah Desa Tegal Kertha, Desa Tegal Harum, dan Desa Pemecutan Kelod. Secara tidak langsung ini membentuk desentralisasi dari pusat kota.
Tipologi Rumah sebagai Usaha Berbasis Rumah Tangga (UBR) di Banjar Panti Gede, Kelurahan Pemogan, Denpasar Selatan Angelina Made Yani Linda Sari; Tri Anggraini Prajnawrdhi; Antonius Karel Muktiwibowo
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 7 No 2 (2020): Oktober 2020
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2028.586 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2020.v07.i02.p08

Abstract

Apart from being a dwelling, a house is also often used as a work-place to support home based enterprise (HBE) related practices. This condition requires spatial compromises. This study seeks to investigate typologies and factors underlining these spatial compromises. Being guided by qualitative research approaches, analysis within this study uses a conception proposed by Silas (1993) regarding HBE typology. The study examines numerous privately owned houses located in Banjar Panti Gede, Pemogan Village, Denpasar Selatan District – Bali. This is a community with the highest number of home-based micro-businesses. The study result shows that typologies of overall spatial compromises taking place in the selected housing complex do not correspond with the view proposed by Silas (1993). These condition has been grounded by several factors, including 1) limited scale of land afforded by the owner and restricted capital to support the development of a home that is also used to accommodate HBE; 2) types of added commercial activities to be accommodated within a home; 3) the timing when a plan to use the home as a basis for HBE emerges, and 4) home dwellers' preferences. This study has the potential to enrich the collection of relevant researches on Home and HBE, especially of those that take housing units in Bali as their case studies.Keywords: Home Based Enterprise (HBE); house; house function; house typology AbstrakRumah merupakan salah satu kebutuhan utama manusia yang saat ini semakin berkembang dan bertambah fungsinya. Selain sebagai hunian, rumah juga berfungsi sebagai tempat usaha atau Usaha Berbasis Rumah Tangga (UBR). Perkembangan fungsi rumah tentunya berdampak pada penataan ruang yang berada di lingkungan rumah. Berdasarkan penjabaran tersebut penelitian ini bertujuan untuk menggali lebih dalam terkait tipologi penataan area usaha dan hunian sebagai UBR, berdasarkan proporsi masing-masing fungsi serta faktor penyebab terjadinya tipologi. Teori yang digunakan untuk membahas adalah teori tipologi UBR oleh Silas (1993). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan strategi studi kasus karena objek yang diteliti merupakan fenomena yang terjadi masa kini dan peneliti tidak memiliki kontrol terhadap fenomena tersebut. Objek penelitian merupakan rumah tinggal pribadi yang terletak di Banjar Panti Gede, Kelurahan Pemogan, Kecamatan Denpasar Selatan. Kelurahan Pemogan dipilih karena merupakan salah satu kelurahan dengan jumlah usaha mikro tertinggi di Denpasar Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tipologi rumah berdasarkan penataan dan proporsi masing-masing fungsi tidak selalu sejalan dengan teori tipologi UBR oleh Silas. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor: 1) adanya keterbatasan modal dan lahan; 2) jenis usaha yang dijalani; 3) perencanaan terkait membuka usaha; dan 4) preferensi penghuni. Penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan untuk menganalisis permasalahan-permasalahan yang terjadi akibat adanya pembagian area rumah yang berfungsi sebagai hunian dan tempat usaha.Kata kunci: Usaha Berbasis Rumah Tangga (UBR); rumah, fungsi rumah; tipologi rumah
KONSEP ARSITEKTUR RUMAH ADAT SUKU SASAK DI DUSUN SEGENTER, KECAMATAN BAYAN, LOMBOK UTARA – NTB I Made Wirata; Ngakan Putu Sueca
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 1 No 1 (2014): April 2014
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (858.449 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2014.v01.i01.p05

Abstract

Abstract Traditional housing in Dusun Segenter deploys unique concepts in building structure, spatial pattern and architectural form. The house is organized based on the belief systems of the community, its norms and a sacred: profane orientation. The purpose of this study is to explain the concept of spatial patterns, shapes and facade forming the house of the Segenter. Phenomenology is used as the chosen qualitative method. Results of this study indicate that the main building site of Segenter village is based on traditions and customs that have been handed down from generation to generation by order of papuk baloq who is the head of the Village. The orientation and placement of the spaces in the main building like paon, amben beleq and klepok are based on the location of the door and the position of sakenem building. There is also an inan bale which is always located in the middle of the house. Both east-west and north-south orientation are also implemented in the Segenter's traditional house. The facade of the traditional building is the embodiment of the three main constituent elements - sacral value (reflecting the dominance of roof elements using inan bale construction; karang lamin; and its gable horns); orientation; and privacy. The material used is widely available around the village. The selected building material in use prioritizes consideration for comfort, adaptation to local climate, as well as accommodation for the functions and activities of residential space. Keywords:  spatial pattern, architectural concept, Sasak Ethnicity, traditional house, Dusun Segenter Abstrak Rumah adat Dusun Segenter memiliki konsep yang unik, baik dalam tata bangunan, pola ruangan dan bentuk arsitekturnya. Rumah adat ditata berdasarkan sistem kepercayaan, norma-norma setempat, serta orientasi sakral profan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan konsep pola keruangan, bentuk dan fasade rumah adat Dusun Segenter. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penataan dan penetapan lokasi bangunan utama rumah adat Dusun Segenter dilakukan berdasarkan tradisi yang diwariskan secara turun temurun atas perintah papuk baloq. Ruangan-ruangan yang ada di dalam bangunan utama yaitu paon, klepok dan amben beleq memiliki orientasi ruangan dan perletakan ruangan berdasarkan perletakan pintu dan letak bangunan sekenem, sedangkan inan bale selalu berada di tengah ruangan. Konsep sumbu timur-barat serta utara-selatan diterapkan di bangunan rumah adat Segenter. Tampak bangunan rumah adat merupakan perwujudan dari tiga unsur utama yang menonjol yaitu nilai kesakralan; orientasi; dan privasi. Nilai kesakralan dicerminkan dengan dominasi elemen atap yang terbentuk dari kontruksi inan bale, karang lamin serta gable horns dari bangunan rumah adat. Material yang digunakan adalah material yang banyak tersedia di sekitar desa. Pemilihan material bangunan mengutamakan kenyamanan, adaptasi dengan iklim setempat, serta pengakomodasian fungsi-fungsi ruang dan aktivitas di dalamnya. Kata kunci: pola ruang, konsep arsitektur, Suku Sasak, rumah adat, Dusun Segenter.

Page 9 of 20 | Total Record : 199