cover
Contact Name
Fathiah Alatas
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
edusains-fitk@uinjkt.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
EDUSAINS
ISSN : 19797281     EISSN : 24431281     DOI : 10.15408/es
Core Subject : Education,
EDUSAINS is a journal publishing the Natural Science Education, Biology Education, Physics Education, and Chemistry Education Journal. Edusains is published by Center for Science Education (CSE) which is located in Departement of Natural Science Education, Faculty of Education and Teachers' Training, Islamic State University (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 303 Documents
PENGEMBANGAN TES DIAGNOSTIK TWO-TIER UNTUK MENDETEKSI MISKONSEPSI SISWA SMA PADA TOPIK ASAM-BASA Desy Rositasari; Nanda Saridewi; Salamah Agung
EDUSAINS Vol 6, No 2 (2014): Edusains
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.497 KB) | DOI: 10.15408/es.v6i2.1148

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan instrumen diagnostik pilihan ganda two-tier untuk mengidentifikasi miskonsepsi siswa SMA pada topik asam basa (Tes Diagnostik Two-tier untuk Mendeteksi Miskonsepsi Siswa pada Topik Asam-basa/ TDTMMTA). Pengembangan instrumen diagnostik ini menggunakan kerangka kerja yang diuraikan oleh Treagust (1998). Dalam pengembangan instrumen ini, 154 siswa dilibatkan dalam wawancara, tes uraian, tes pilihan ganda dengan alasan terbuka, dan tes diagnostik two-tier. Dari keseluruhan siswa, 34 siswa digunakan untuk mengidentifikasi miskosepsi siswa menggunakan TDTMMTA. Terdapat 16 butir soal valid dengan nilai reliabilitas menggunakan persamaan Cronbach’s Alpha sebesar 0,764. Berdasarkan analisis miskonsepsi dari enam konsep utama dari asam basa, mayoritas siswa (54,46%) mengalami miskonsepsi pada konsep pH. Tetapi, sedikit siswa (15,54%) mengalami miskonsepsi pada konsep perhitungan pH. Secara keseluruhan, instrumen TDTMMTA cukup efektif untuk menentukan miskonsepsi siswa. Oleh karena itu, instrumen ini dapat digunakan sebagai tes alternatif untuk mengevaluasi miskonsepsi siswa pada topik asam basa.
font meter font meter
EDUSAINS Vol 9, No 2 (2017): EDUSAINS
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/es.v9i2.8678

Abstract

HUBUNGAN ANTARA PEMAHAMAN KEUNGGULAN LOKAL DAN SIKAP ETIKA LINGKUNGAN DENGAN WAWASAN EKOLOGI SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS DI KOTA TANGERANG SELATAN Ani Nuraisyah; Yosa Istiadi; Indarti Kumala Dewi
EDUSAINS Vol 9, No 1 (2017): EDUSAINS
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (457.74 KB) | DOI: 10.15408/es.v9i1.5148

Abstract

Abstract The purpose of this study was to determine the relationship between comprehension of local excellence and ethical environment attitudes with ecological insights. This study was conducted in senior high school in South Tangerang. The study population was 140 with a sample of 104 people taken by proportional random sampling. Data was collected by questionnaire. The data analysis technique used correlation regression partial and multiple. The result show that there is relationship between comprehension of local excellence with ecology insight (ry1 = 0,34), the relationship between environmental ethics attitude with ecology insight (ry2 = 0,25), and the relationship between comprehension of local excellence, environmental ethics attitude with ecology insight (ry12 = 0,42). Based on the result, it can be concluded that the ecology insight can be enhanced through comprehension of local excellence and environmental ethics attitude. Keywords: comprehension of local excellence; ethics environment attitude; ecology insight Abstrak Penelitian ini bertujuan menentukan hubungan antara pemahaman keunggulan lokal dan sikap etika lingkungan dengan wawasan ekologi.  Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri di Kota Tangerang Selatan pada tahun 2016. Populasi penelitian berjumlah 140 siswa dengan jumlah sampel sebanyak 104 orang yang ditentukan secara purposive random sampling. Pengumpulan data untuk setiap variabel yang diteliti menggunakan angket dengan skala (Rating Scale). Teknik analisis menggunakan korelasi regresi parsial dan korelasi ganda. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara pemahaman keunggulan lokal dengan wawasan ekologi (ry1 = 0,34), terdapat hubungan antara sikap etika lingkungan dengan wawasan ekologi (ry2 = 0,25), dan terdapat hubungan antara pemahaman keunggulan lokal, sikap etika lingkungan dengan wawasan ekologi (ry12 = 0,42). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa wawasan ekologi dapat ditingkatkan melalui pemahaman keunggulan lokal dan sikap etika lingkungan baik secara parsial maupun bersama-sama. Kata Kunci: wawasan ekologi; keunggulan lokal; sikap etika lingkungan Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/es.v9i1.5148  
PENINGKATAN DOMAIN KOMPETENSI DAN PENGETAHUAN SISWA MELALUI PENERAPAN LEVELS OF INQUIRY DALAM PEMBELAJARAN IPA TERPADU Puspo Rohmi
EDUSAINS Vol 9, No 1 (2017): EDUSAINS
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.521 KB) | DOI: 10.15408/es.v9i1.1979

Abstract

Abstract The aim of this study was to determine the enhancement of students’ competencies and knowledge domains of scientific literacy after the levels of inquiry on integrated science instruction was implemented on the theme of environmental pollution. This study used pre-experimental research method with one sample pretest-posttest design. Data were collected through scientific literacy test, observation sheet, worksheet, and questionnaire instruments. Wilcoxon Signed Ranks test results showed that there was a statistically significance different between the pretest scores and the posttest scores after implementing levels of inquiry. Significance is shown by both domains of competencies and knowledge aspects studied. Results indicated that the implementation of levels of inquiry in integrated science lesson can enhance students' scientific literacy on competencies and knowledge aspects. It was concluded that implementing the levels of inquiry can help students to practice inquiry skills to enhance their scientific literacy which requires the application of competencies and knowledge they have. In addition, it was also found that the students’ have positive response about using inquiry systematically in science instruction. Keywords: levels of inquiry; scientific literacy; competencies domain; knowledge domain; integrated science Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan domain kompetensi dan pengetahuan siswa setelah diterapkannya levels of inquiry pada pembelajaran IPA terpadu tema pencemaran lingkungan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian pre-eksperimental dengan desain one-sample pretest posttest design. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah tes literasi sains berbentuk pilihan ganda, lembar observasi, dan angket. Hasil analisis data tes literasi sains menggunakan uji Wilcoxon Signed Ranks menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara skor pretes dan skor postes setelah diterapkannya levels of inquiry. Sebagai kesimpulan yaitu penerapan levels of inquiry dapat membantu meningkatkan domain kompetensi dan pengetahuan siswa pada pembelajaran IPA. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa siswa mempunyai respon positif terhadap penggunaan inkuiri yang dilakukan secara sistematis dalam pembelajaran IPA. Kata Kunci: levels of inquiry; literasi sains; domain kompetensi; domain pengetahuan; IPA terpadu  Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/es.v9i1.1979
PEMBELAJARAN IPA TERPADU MENGGUNAKAN PENDEKATAN SCIENCE WRITING HEURISTIC UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI TULISAN SISWA SMP Winda - Yusefni; Siti Sriyati
EDUSAINS Vol 8, No 1 (2016): Edusains
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.848 KB) | DOI: 10.15408/es.v8i1.1562

Abstract

Abstract This study investigated the effect of integrated science learning using Science Writing Heuristic (SWH) approach to enhance students’ ability in written communication. Participated by 46 students of grade 8 of a junior high school in West Sumatra whose purposively sampled, the study used a quasi-experiment with static group pretest-posttest design. Data were gathered from written communication test developed for pretest and posttes. The result of data analysis showed that there were significant effect of implementing the integrated science learning using SWH approach in enhancing the ability of students’ written communication. The mean gain of experimental group is 0,8, which is higher than the control group (0,6). Abstrak Penelitian ini menyelidiki pengaruh pembelajaran IPA terpadu menggunakan pendekatam Science Writing Heuristic (SWH) untuk meningkatkan kemampuan komunikasi tulisan siswa. Penelitian dilakukan pada 46 siswa kelas VIII salah satu SMPN di Sumatera Barat yang dipilih dengan teknik purposive, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuasi eksperimen dengan desain nonequivalent pretest and posttest control group design. Data didapatkan dari tes kemampuan komunikasi tulisan yang dikembangkan untuk pretes dan postes. Hasil analaisis data menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari penerapan pembelajaran IPA terpadu menggunakan pendekatan SWH berpengaruh dalam meningkatkan kemampuan komunikasi tulisan siswa. Rata-rata n-gain yang dimiliki kelas eksperimen 0,8, yang lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol (0,6). Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/es.v8i1.1562
CRITICAL THINKING ABILITY OF BIOLOGY EDUCATION STUDENTS THROUGH ENVIRONMENTAL TOXICOLOGY’S PROBLEM SOLVING Laili Munawarah; Mochamad Arief Soendjoto; Bunda Halang
EDUSAINS Vol 10, No 1 (2018): EDUSAINS
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.802 KB) | DOI: 10.15408/es.v10i1.6656

Abstract

KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MAHASISWA PENDIDIKAN BIOLOGI MELALUI PENYELESAIAN MASALAH TOKSIKOLOGI LINGKUNGAN Abstract In the era of globalization, science and technology that growing rapidly causing information flow becomes faster and limitless. This has a direct impact on many areas of life, including education. The process of education is required to prepare and produce quality human resources in order to process the information properly and correctly, by developing a culture of critical thinking. Critical thinking is a must-have capability of Bachelor Program’s graduates in National Standards of Higher Education. Critical thinking is important to students because they can train themselves to be rational and choose the problem’s best solution faced through the knowledge they have. But in fact the students are often still difficult to decide the right solution when faced with a problem around them. This problem must be addressed immediately, because it can lead to decreased quality of education and quality of human resources itself. One way to track and describe critical thinking ability is through the provision of problems related to Biology learning subjects. One of the subjects in Biology learning that deals with many issues around life is Environmental Toxicology. Environmental Toxicology issues can encourage students to find solutions to the dangers of contaminants and the work that can be done to minimize the impact of the contaminants.   Abstrak Di era globalisasi, ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang pesat menyebabkan aliran informasi menjadi lebih cepat dan tanpa batas. Hal ini berdampak langsung pada banyak bidang kehidupan, termasuk pendidikan. Proses pendidikan diperlukan untuk mempersiapkan dan menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk memproses informasi dengan benar dan tepat, dengan mengembangkan budaya berpikir kritis. Berpikir kritis adalah kemampuan yang harus dimiliki lulusan Program Sarjana dalam Standar Nasional Pendidikan Tinggi. Berpikir kritis penting bagi siswa karena dapat melatih diri siswa untuk menjadi rasional dan memilih solusi terbaik dari masalah yang dihadapi melalui pengetahuan yang siswa miliki. Namun pada kenyataannya siswa seringkali masih kesulitan untuk memutuskan solusi yang tepat ketika dihadapkan dengan masalah di sekitar mereka. Masalah ini harus segera diatasi, karena dapat menyebabkan menurunnya kualitas pendidikan dan kualitas sumber daya manusia itu sendiri. Salah satu cara untuk membawa dan menggambarkan kemampuan berpikir kritis adalah melalui penyediaan masalah yang terkait dengan mata pelajaran pembelajaran Biologi. Salah satu materi dalam pembelajaran Biologi yang berhubungan dengan banyak masalah di sekitar kehidupan adalah Toksikologi Lingkungan. Masalah Toksikologi lingkungan dapat mendorong siswa untuk menemukan solusi terhadap bahaya kontaminan dan hal yang dapat dilakukan untuk meminimalkan dampak dari kontaminan. Permalink/DOI:http://dx.doi.org/10.15408/es.v10i1.6656 
KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING DAN SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT PADA KONSEP VIRUS Melia Noprianda; Meiry Fadillah Noor; Zulfiani Zulfiani
EDUSAINS VOL 8, NO 2 (2016): EDUSAINS
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.119 KB) | DOI: 10.15408/es.v8i2.3892

Abstract

Abstract Graduation standard of Indonesia senior high school hopes the students show their logical, crithical, creative, and inovative thinking skill in making decision. The study aimed to find out difference of crithical thinking between students taught with Problem Based Learning (PBL) method and Society Technology Science (STM) in the concept of virus. The subject are 64 students grade X of SMAN 11 South Tangerang City. Method used was quasy experiment with non-equivalent control group design. Sample were taken by simple random technique sampling. Instruments used was free analysis essay test. The result of postest percentage in both of class shows that (PBL) is better in giving the simple explanation and constructing the basic skill aspect, while STM model is better in giving further explaination aspect. In addition, the posttetest result was analyzed by t-test. The result gained was t-count is 2,79 and t-table with the significant of 5% is 1,99. It shows that there is a difference in in chritical thinking between students taught with PBL method and STM in the concept of virus. Keywords: quasi experiment; problem based learning; society tecnology science; chritical thinking skill Abstrak Standar kelulusan SMA di Indonesia mengharapkan seorang siswa menunjukan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif dalam pengambilan keputusan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan keterampilan berpikir kritis siswa yang diajar dengan model pembelajaran Problem Based Learning dan Sains Teknologi Masyarakat pada konsep Virus. Subjek penelitian adalah siswa SMA Negeri 11 Kota Tangerang Selatan kelas X yang berjumlah 64 siswa. Tipe Penelitian kuasi eksperimen dengan desain non-equivalent control group. Sampel ditentukan dengan teknik simple random sampling dengan diberikan instrumen berupa tes essay uraian bebas sebagai pengumpul data. Hasil menunjukan model pembelajaran Problem Based Learning lebih baik pada aspek Memberikan Penjelasan Sederhana dan Membangun Keterampilan Dasar. Aspek kritis pada Menjelaskan Lebih Lanjut lebih baik di model pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat. Analisis hasil menggunakan uji-t menunjukkan nilai t-hitung sebesar 2,79 lebih besar dari t-tabel sebesar 1,99 pada taraf signifikasi 5%. Dengan demikian keterampilan berpikir kritis siswa yang diajar dengan model pembelajaran PBL berbeda dengan STM pada konsep Virus. Kata Kunci: kuasi eksperimen; problem based learning; sains teknologi masyarakat; berpikir kritis Ennis  Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/es.v8i2.3892
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROCESS ORIENTED GUIDED INQUIRY LEARNING TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS DAN KEMAMPUAN KOGNITIF SISWA PADA MATA PELAJARAN FISIKA Adelia Alfama Zamista; Ida Kaniawati
EDUSAINS Vol 7, No 2 (2015): Edusains
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.369 KB) | DOI: 10.15408/es.v7i2.1815

Abstract

AbstractThe study in this paper is based on the results of literature study, journals and research findings on proces oriented guided inquiry learning (POGIL) that focus on the implementation of POGIL and the influence of POGIL in building science process skills and student cognitive abilities. From the results of the study, it was found that POGIL could improve science process skills, thinking skills, train problem solving skills, enhance the mastery of subject matters, and improve student cognitive abilities. POGIL consists of five phases: 1) orientation, 2) exploration, 3) concept formation, 4) applications and 5) closure. Orientation, at this stage, students are directed to focus on one particular topic, also facilitates students to make observations as initial activities to explore. Exploration and concept formation, the students are guided to find concept. As a result of the exploration, concepts are formed, introduced, or students prove the concept that has been discovered by experts. Application involves using the new knowledge in exercises, problems, and even research situations. Each activity ends with a class discussion to validate the results of student performance. AbstrakPenulisan makalah ini didasarkan pada hasil studi literatur, jurnal dan temuan penelitian pada model pembelajaran process oriented guided inquiry learning (POGIL) yang berfokus pada implementasi model pembelajaran POGIL dan pengaruh model pembelajaran POGIL terhadap keterampilan proses sains (KPS) dan kemampuan kognitif siswa. Dari hasil kajian teori ditemukan bahwa model POGIL dapat meningkatkan keterampilan proses, kemampuan berpikir, keterampilan menyelesaikan masalah (problem solving), dan meningkatkan kemampuan kognitif siswa. POGIL terdiri dari lima tahapan, yaitu: 1) orientasi, 2) eksplorasi, 3) pembentukan konsep, 4) aplikasi dan 5) penutup. Orientasi, pada tahap ini siswa diarahkan untuk terfokus pada satu topik khusus, juga memfasilitasi siswa untuk melakukan observasi sebagai kegiatan awal untuk melakukan eksplorasi.. Sebagai hasil dari kegiatan pada tahap eksplorasi, konsep dibentuk, diperkenalkan kepada siswa atau siswa membuktikan konsep yang telah ditemukan para ahli. Aplikasi menuntut siswa untuk menerapkan konsep yang telah dipelajari dalam menyelesaikan masalah kehidupan sehari-hari, bahkan untuk menjawab pertanyaan penelitian. Setiap kegiatan berakhir dengan diskusi kelas untuk memvalidasi hasil kinerja siswa.Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/es.v7i2.1815
PROFIL KETERAMPILAN ARGUMENTASI SISWA PADA KONSEP KOLOID YANG DIKEMBANGKAN MELALUI PEMBELAJARAN INKUIRI ARGUMENTATIF Ida Farida
EDUSAINS Vol 6, No 1 (2014): Edusains
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.41 KB) | DOI: 10.15408/es.v6i1.1098

Abstract

Telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk menganalis profil keterampilan argumentasi siswa salah satu Madrasah Aliyah Negeri di Bandung yang dikembangkan melalui pembelajaran inkuiri argumentatif pada konsep Sistem Koloid.  Instrumen penelitian berupa rubrik penilaian untuk menilai: kinerja praktikum, laporan praktikum, kualitas argumentasi dan karakter ilmiah. Data-data diperoleh dari observasi pelaksanaan delapan tahap proses pembelajaran, yaitu:  identifikasi tugas dan pertanyaan inkuiri; pengumpulan dan analisis data; pengembangan argumentasi tentatif, sesi argumentasi, penyusunan laporan, penilaian sejawat, revisi, dan diskusi eksplisit dan reflektif.  Siswa bekerja  secara kelompok dan berdiskusi berdasarkan  tugas yang diberikan melalui lembar kerja. Hasil penelitian menunjukkan aktivitas siswa selama pembelajaran menunjukkan proses penerapan pembelajaran inkuiri argumentatif berjalan baik.  Kualitas argumentasi siswa secara lisan jauh lebih baik dibandingkan dengan tulisan. Karakter ilmiah siswa berkembang dengan baik, khususnya sikap komunikatif dan toleransi. Dengan demikian penerapan  pembelajaran inkuiri argumentatif pada konsep koloid dapat meningkatkan keaktifan siswa, mengembangkan keterampilan berargumentasi siswa, dan mengembangkan karakter ilmiah siswa.
IMPLEMENTATION OF DIGITAL ASSIGNMENTS TO IMPROVE HIGH ORDER THINKING SKILLS (HOTs) ABILITY OF SENIOR HIGH SCHOOL STUDENTS IN THE CONCEPT OF NEWTON'S LAW Iwan Permana Suwarna; Fatimah Fatimah
EDUSAINS VOL 10, NO 2 (2018): EDUSAINS
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.338 KB)

Abstract

IMPLEMENTASI PENUGASAN DIGITAL UNTUK MENINGKATKAN HIGH ORDER THINKING SKILLS (HOTs) PADA  KEMAMPUAN SISWA MENENGAH ATAS  DALAM KONSEP HUKUM NEWTON AbstractThe research was conducted in SMAN 7 South Tangerang in the even semester of academic year 2017/2018 with the aim to know the improvement of HOTs of senior high school students after using digital assignment. The research method used is quasi experiment with design of non-equivalent control group. The numbers of respondents in this research are 80 students. Instruments used in the form of a high order thinking ability, instrument that has been tested for its validity and reliability. The numbers of questions in use as many as 23 questions. Conclusion: Digital assignments can improve students' HOTs. All classes that use digital assignments have a higher order of HOTs than a print-based (conventional) class. Use of the Digital assignment method can be: teacher's main consideration in training and improving students' HOTs; and tools for teacher correcting student assignment results; Digital assignment can be applied to the students to deepen the material or concept, to train the national exam questions in digital form.AbstrakPenelitian ini dilakukan di SMAN 7 Tangerang Selatan pada semester genap tahun akademik 2017/2018 dengan tujuan untuk mengetahui peningkatan High Order Thinking Skills (HOTs) siswa SMA setelah menggunakan tugas digital. Metode penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan desain kelompok kontrol tidak setara. Jumlah responden dalam penelitian ini adalah 80 siswa. Instrumen yang digunakan berupa kemampuan HOTs, instrumen yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Jumlah pertanyaan yang digunakan sebanyak 23 pertanyaan. Kesimpulan: Tugas digital dapat meningkatkan HOTs siswa. Semua kelas yang menggunakan tugas digital memiliki urutan HOTs lebih tinggi daripada kelas berbasis cetak (konvensional). Penggunaan metode penugasan Digital dapat berupa: pertimbangan utama guru dalam melatih dan meningkatkan HOTs siswa; dan alat untuk mengoreksi hasil tugas siswa; Tugas digital dapat diterapkan pada siswa untuk memperdalam materi atau konsep, untuk melatih soal-soal ujian nasional dalam bentuk digital.  

Page 9 of 31 | Total Record : 303