cover
Contact Name
Fidrayani
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
psga@uinjkt.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender
ISSN : 14122324     EISSN : 26557428     DOI : 10.15408/harkat
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender is published by the Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. the journal has been issued two times a year. Harkat invites scholarly articles on gender and child studies from multiple disciplines and perspectives, including religion, education, psychology, law, social studies, etc.
Arjuna Subject : -
Articles 156 Documents
EKSPLOITASI PEREMPUAN DI MEDIA MASSA PERSPEKTIF ALQURAN Ahmad Hamdani
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender, 13(1), 2017
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.016 KB) | DOI: 10.15408/harkat.v13i1.7720

Abstract

Dewasa ini, perempuan masih dianggap sebagai manusia kelas dua (the second human) yang berada di bawah superioritas kaum laki-laki. Kondisi tersebut tergambar pada praktik di media massa. Kecanggihan sains dan teknologi, menjadikan perempuan sebagai objek paling ampuh terutama dalam meraup keuntungan yang melimpah. Hal ini tercermin dengan adanya 45 bias gender yang ada di media massa dari pelbagai macam sektor, mulai dari perawatan tubuh, minuman, bumbu dapur, obat, hingga otomotif. Karakter media massa seperti ini memunculkan pertanyaan besar dalam konteks sosial-masyarakat, bahkan kemudian membentuk kesimpulan bahwa ternyata perempuan identik dengan perilaku yang negatif. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dimana datanya diambil dari observasi dan studi kepustakaan. Analisis teks yang digunakan bersifat kualitatif, yaitu merupakan proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang mudah dipahami. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengkaji dan memberikan interpretasi dalam menjabarkan kemelut gender terhadap eksploitasi perempuan di media massa dengan bersumber pada pemahaman Alquran.
Potret Pengarusutamaan Gender dalam Kehidupan Keluarga Rasulullah Muhammad Subhi Mahmasoni
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender, 13(1), 2017
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.898 KB) | DOI: 10.15408/harkat.v13i1.7706

Abstract

Faktanya al-Qur’an dan hadist sering disalah fahami, dintrepetasikan dan dijadikan landasan bahwa agama Islam anti gender. Padahal semua itu tidak berdasar terlebih jika mengacu pada pemahaman yang sebenarnya tentang keterangan al-Qur’an dan bagaimana kehidupan Nabi dalam memperlakukan perempuan. Idealnya agama Islam mengangkat derajat perempuan terbukti Nabi juga mempraktekannya. Sebab itu, perlu diketengahkan disini satu pertanyaan mayor: bagaimana potret pengarusutamaan gender dalam kehidupan Keluarga Nabi? Adapun pertanyaan minornya: bagaimana keduduan perempuan pra dan pasca Islam dari aspek sosiologis? Apa saja langkah Nabi dalam proses pengarusutamaan gender? Artikel ini menegaskan adanya potret pengarusutamaan gender dalam kehidupan keluarga Rasulullah. Adanya indikasi kuat bahwa Nabi dalam strategi dakwahnya berusaha keras dalam mengangkat derajat perempuan dan menjunjung tinggi kesetaraan gender. Dalam mendialogkan kasus tersebut, gender digunakan sebagai pisau analisisnya dan sosiologis sebagai pendekatannya. Akhirnya Islam hadir menjunjung tinggi harkat martabat perempuan yang tradisi sebelumnya dari aspek sosiologis dan psikologis tidak pernah dirasakan oleh kaum perempuan. Hal itu dikuatkan dengan kehidupan keluarga Nabi yang sarat akan adanya pengarusutamaan gender, serta adanya indikasi kuat bahwa Nabi dalam strategi dakwahnya berusaha keras dalam mengangkat derajat perempuan dan menjunjung tinggi kesetaraan gender.
REALIASI KEBIJAKAN KOTA/ KABUPATEN LAYAK ANAK UNTUK MEWUJUDKAN BALANCING WORK AND FAMILY LIFE Fase Badriah
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 11 (2), 2015
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3808.898 KB) | DOI: 10.15408/harkat.v11i2.10439

Abstract

Bercermin dari sistem perlindungan  anak di beberapa negara maju,  pembentukan  kebijakan peraturan daerah kota/kabupaten layak anak, telah  mampu menjadi sistem pendukung dalam terciptanya lingkungan yang ramah dan layak anak, di semua lingkungan, termasuk lingkungan tempat kerja.  Sistem pendukung lingkungan yang ramah anak dan layak anak diharapkan mampu mewujudkan balancing work and family life.  Upaya mewujudkan balancing work and family life, bukan saja akan memberikan jaminan perlindungan pada anak, tetapi juga pada perempuan yang pada hakikatnya memiliki peran reproduksi sekaligus peran produksi (bekerja). Oleh karena itu, dukungan pemerintah dan seluruh unsur organisasi masa sangatlah diperlukan. Karena memberi perlindungan pada perempuan yang bekerja bekerja, berarti memberikan perlindungan juga pada anak-anak dan keluarga (family life). Saat ini, keterlibatan perempuan dalam peran produksi tidak mengurangi beban tanggung jawabnya di peran reproduksi. Situasi di sektor publik tempat para perempuan berperan produksi,  sering kali dalam kondisi yang tak ramah pada perempuan yang bekerja dan memiliki anak. Oleh karena itu, perlu realisasi kebijakan yang memiliki dampak terhadap perlindungan perempuan dan dapat memberi perlindungan hak pada anak dengan efek perlindungan secara sistem. Pada Kenyataannya, meskipun telah ada kebijakan kota/kabupaten layak anak, namun belum semua pemerintah daerah mampu merealisasikan hal tersebut dengan berbagai alasan. Bahkan, walaupun beberapa daerah berupaya merealisasikan kota/kabupaten layak anak, tetapi akses perempuan untuk bekerja secara balancing work dan family life sesuai kebutuhan  perempuan dan anak-anak dengan ibu yang bekerja di sector produksi belum sepenuhnya diakomodasi dalam cluster indikator kota layak anak di Indonesia.   
GENDER KETIGA DAN TRANSPHOBIA SEBUAH DUNIA BARU Gefarina Djohan
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 11 (1), 2015
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3427.064 KB) | DOI: 10.15408/harkat.v15i1.10430

Abstract

Judul diatas menjadi tidak umum manakala kita diperhadapkan pada istilah gender yang masih membutuhkan penjelasan panjang di tengah-tengah masyarakat. Ketika seorang kepala daerah dalam pidatonya menyebutkan pada sekelompok perempuan dengan sebutan yang manis “wahai para gender”, lantas semua orang mengasumsikan bahwa gender itu adalah perempuan. Benarkah gender itu berarti perempuan? Ternyata jawaban berdasarkan kajian ilmiah, gender tidak bisa diasumsikan sebagai perempuan melainkan gender adalah konsep yang merujuk pada perbedaan antara laki-laki dan perempuan yang dikonstruksikan secara sosial, dapat berubah-ubah  dengan berlalunya waktu,  sangat bervariasi di dalam dan antara budaya. Berbeda dengan kodrat dalam kaitannya dengan penciptaan, maka mahluk di dunia ini terdiri atas perempuan dan laki-laki. Perempuan mempunyai ovum, menstruation, melahirkan dan menyusui, sedangkan laki-laki mempunyai  sperma dan penis. Cara pandang yang berlandaskan pada kultur, nilai dan norma-norma tertentu melahirkan kontruksi sosial yang kemudian menempatkan bahwa perempuan itu lemah, feminim, reproduksi, berperan di domestik dan pencari nafkah tambahan, sedangkan laki-laki kuat, maskulin, bekerja di ruangan publik dan pencari nafkah utama. Meskipun pandangan ini tidak semuanya bisa diterima, tetapi masyarakat seolah-olah meyakini sebagai sebuah kebenaran. Konstruksi sosial inilah yang kemudian memunculkan situasi ketidak adilan gender diantaranya perempuan subordinasi laki-laki, pelebelan, doble burden, marginalisasi, kekerasan dan kemiskinan. Jika dikemudian hari muncul fenomena tuntutan untuk “gender ke tiga” adalah situasi yang berbeda. Gender ke tiga dimaksud adalah gejala transseksualisme ataupun  transgender yaitu merupakan suatu gejala ketidakpuasan seseorang karena merasa tidak adanya kecocokan antara bentuk fisik dan kelamin dengan kejiwaan ataupun adanya ketidak puasan dengan alat kelamin yang dimilikinya. Pada hakikatnya hal ini adalah  masalah kebingungan jenis kelamin. Konon kaum transgender ini seringkali mengalami segala bentuk kekerasan dan diskriminasi, namun muncul pula pertanyaan besar  apakah dengan melegalisasikan gender ketiga menjadi solusi terbaik? Rasa ketidaksukaan terhadap eksistensi transgender (Transphobia) kemudian menjadi fenomena umum yang terus bergulir seiring dengan perjalanan waktu dan derasnya arus globalisasi, sehingga masalah yang muncul menembus batas wilayah di tingkat lokal, nasional, regional maupun internasional.
PENDIDIKAN GENDER SEJAK USIA DINI MELALUI HYPNOPARENTING Betty Yulia Wulansari
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender, 12(1), 2016
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2473.41 KB) | DOI: 10.15408/harkat.v12i1.7575

Abstract

Kekerasan seksual yang terjadi pada anak kian meningkat. Anak perempuan lebih rentan menjadi korban keganasan para pelaku yang tidak bermoral. Anak-anak dicabuli, dinodai dan dibunuh seakan  nyawa mereka tidak berharga. Hukum perlindungan anak dari kejahatan seksual sudah diterapkan di Indonesia. Akan tetapi, masih diperlukan pencegahan yang bersumber dari dalam diri anak. Pendidikan gender menjadi salah satu upaya perlindungan anak perempuan dari kekerasan seksual. Pendidikan Gender sejak dini ini betujuan agar anak perempuan mulai bisa menjaga diri dari lawan gender mereka. Pendidikan gender dapat disampaikan orang tua kepada anak perempuanya melalui metode hynoparenting menjelang tidur malam. Metode ini memanfaatkan aspek karakteristik anak usia dini dipadu dengan pemanfaatan gelombang theta pada otak. Sugesti hypnoparenting akan bertahan di memori jangka panjang anak sehingga sesuai untuk menanamkan pendidikan gender sejak usia dini.
NARASI PERJUANGAN KATINI KENDENG DALAM PERSPEKTIF EKOLOGI LIBERATIF AL-QURAN Wildan Imaduddin Muhammad
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 14(2), 2018
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3495.227 KB) | DOI: 10.15408/harkat.v14i2.12816

Abstract

 Abstract. The Women Farmer from Mount Kendeng a.k.a Kartini Kendeng are persistence to refuse the operation of cement factories and its mining in their land. They are representative of consevasion movement to not defferred to corporation and goverment for their own land and water. This article illustrates narratively the fighting of Kartini Kendeng trhough the perspective of ecology and liberation in the Quran. It is the convergence of thought from three women scholars are Nur Arfiyah Febriani, Amina Wadud and Asma Barlas. Those women agree that Quran is book of liberation from any oppression and despotism. By viewing the Quran as book of liberation, this research consider that Kartini Kendeng are appropriate with Quranic values. In other word, the religious preaching has been motivates the persistent of Kartini Kendeng.Abstrak. Para petani perempuan dari lereng Pegunungan Kendeng atau dikenal dengan Kartini Kendeng sangat gigih menolak operasi Pabrik Semen dan penambangan. Mereka adalah representasi pejuang ekologi yang enggan mengalah dari korporasi yang didukung Negara demi kelestarian tanah dan air. Tulisan ini memotret narasi perjuangan kartini kendeng dengat perspektif ekologi dan liberasi dalam Al-Quran. Perspektif ekologi dan liberasi Al-Quran merupakan konvergensi dari pemikiran tiga tokoh: Nur Arfiyah Febriyani, Amina Wadud dan Asma Barlas. Ketiga tokoh ini sepakat bahwa al-Quran adalah kitab pembebasan dari segala bentuk penindasan dan kesewenangan. Dengan memosisikan al-Quran sebagai kitab liberasi, penelitian ini melihat bahwa perjuangan Kartini Kendeng telah sesuai dengan nilai-nilai dalam al-Quran. Salah satu kesimpulan penelitian ini adalah bahwa ajaran agama turut menjadi motivasi perjuangan para Kartini Kendeng. 
POLA ASUH ANAK DALAM KELUARGA PEMULUNG inayati ma'rifah; Cut Dhien Nourwahida; Andri Noor Adriansyah
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 14(1), 2018
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3684.61 KB) | DOI: 10.15408/harkat.v14i1.10400

Abstract

Abstract.The study of child care in the family scavenger in Jurang Mangu Timur South Tangerang. The goal is to find out how this kind of upbringing applied parents who work as scavengers. The research method using qualitative methods, and the type of research is descriptive. Researchers took the data by interviewing, observation and documentation. Informant was a parent who worked as scavengers and their children aged 4-12 years old. The results showed that parenting in a family scavenger leads to authoritarian upbringing. That pattern of care that have rigid rules in raising children. Each violation subject to physical punishment, verbal and psychological. Rarely praise or reward obtained when children obey this parents. Few or never existed to justify the praise children's behaviour.  when they implement the rules. Low income levels have influenced parenting applied to the scavenger families. Income earned by only family scavenger Rp.400.000.00 until Rp600.000.00 every month, because of a low income, they even employ their children find stuff. They do not spoil the child, and also rare to spoil a child. Abstrak. Studi pengasuhan anak di pemulung keluarga di Jurang Mangu Timur Tangerang Selatan. Tujuannya adalah untuk mengetahui bagaimana cara pengasuhan yang diterapkan orangtua yang bekerja sebagai pemulung. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif, dan jenis penelitiannya adalah deskriptif. Peneliti mengambil data dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Informan adalah orang tua yang bekerja sebagai pemulung dan anak-anak mereka yang berusia 4-12 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mengasuh anak dalam pemulung keluarga mengarah pada pengasuhan yang otoriter. Itulah pola asuh yang memiliki aturan kaku dalam membesarkan anak. Setiap pelanggaran dikenakan hukuman fisik, verbal dan psikologis. Jarang pujian atau hadiah didapat saat anak-anak mematuhi orang tua ini. Beberapa atau tidak pernah ada untuk membenarkan perilaku pujian anak-anak. Ketika mereka menerapkan aturan. Tingkat pendapatan yang rendah telah memengaruhi pola asuh yang diterapkan pada keluarga pemulung. Penghasilan yang diperoleh hanya oleh pemulung keluarga Rp.400.000,00 hingga Rp600.000,00 setiap bulan, karena penghasilan yang rendah, mereka bahkan mempekerjakan anak-anak mereka mencari barang. Mereka tidak memanjakan anak, dan juga jarang memanjakan anak. 
KEKERASAN DAN DISKRIMINASI TERHADAP PEREMPUAN DALAM PANDANGAN HUKUM Defi Uswatun Hasanah
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender, 12 (2), 2016
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2309.754 KB) | DOI: 10.15408/harkat.v12i2.7564

Abstract

Kekerasan dan diskriminasi yang menimpa perempuan masih menjadi isu yang hangat untuk didiskusikan, hal ini tidak saja menjadi pembicaraan dalam tingkat nasional, namun juga dalam tingkat internasional. Kekerasan dan diskriminasi yang dialami perempuan berawal dari budaya patriarkhi dalam pemahaman tentang superioritas laki-laki terhadap perempuan. Ditambah dengan munculnya beragam pemahaman terhadap teks-teks agama yang diyakini sebagai pelegitimasi terhadap superioritas laki-laki. Diskriminasi juga diyakini sebagai pengaruh dari terjadi kekerasan terhadap perempuan, perlakuan diskriminasi ini hampir terjadi dalam setiap bidang kehidupan. Peraturan-peraturan yang dijadikan sebuah hukum dibentuk salah satunya berupaya untuk mengurangi kekerasan terhadap perempuan, namun hal itu tidaklah terbukti bahkan hukum dinilai menjadi lembaga yang menyuburkan diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan.
Peningkatan Peran Wanita Dalam Pengembangan Ilmu Kesehatan Masyarakat Yuli Amran
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender, 13(1), 2017
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.186 KB) | DOI: 10.15408/harkat.v13i1.7716

Abstract

Kegiatan pengembangkan keilmuan kesehatan masyarakat memerlukan partisipasi kaum wanita disebabkan lingkup keilmuannya meliputi segala tingkat usia dan jenis kelamin. Pemikiran-pemikiran yang dimiliki wanita dapat melengkapi pemikiranpemikiran kaum laki-laki dalam merancang konsep keilmuan kesehatan masyarakat. Dengan demikian, ilmu yang diaplikasikan nanti dapat diaplikasi untuk menyelesaikan permasalahan kesehatan masyarakat yang bebas dari bias gender. Namun, masih terdapat permasalahan keterlibatan wanita dalam pengembangan keilmuan yang lebih dominan dipengaruhi peran ganda yang dimiliki wanita yaitu sebagai ibu rumah tangga dan wanita karir. Oleh kerena itu, perlu kebijakan khusus yang berpihak pada wanita dan menciptakan lingkungan kerja yang kondusif serta waktu kerja yang fleksibel.
KAJIAN GENDER TERHADAP PELUANG USAHA DI WEB: PERILAKU INFORMASI PADA MASYARAKAT DESA GIRIMULYA KECAMATAN CIBUNGBULANG KABUPATEN BOGOR Ade Abdul Hak
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 11 (2), 2015
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3887.485 KB) | DOI: 10.15408/harkat.v11i2.10444

Abstract

This research investigated the differences of information behavior  between men and women in Girimulya, Cibungbulang, Bogor. It is important to know the effectiveness of the “WEB desa” as one of information resources of business opportunities. It has been developed by UIN students as one of KKN programs.The approach used in this research was TAM model that was based on the constructs of perceived ease of use (PEOU), perceived usefulness (PU), and behavioral intention (BI). Questionnaires of 100 samples (50 men and 50 women) collected with the random sampling approach were analysed using SPSS version 22. The result showed that the mean score for all of the constructs was high out of maximum score obtainable of 4 (very high), except to the behavioral intention (BI)which was very high and still different to  men’s was higher than women’s. T-Test analysis indicated that there was positive and significant effect for each construct, except the perceived ease of use (PEOU)to the behavioral intention (BI). Meanwhile, the most occurred in the effect value of the women’s were higher than men. The usefulness becomes more important than easiness  in providing “WEB desa”.   

Page 3 of 16 | Total Record : 156