cover
Contact Name
Rendy Anggriawan
Contact Email
bipfapertaunej@gmail.com
Phone
+6285946410007
Journal Mail Official
bipfapertaunej@gmail.com
Editorial Address
Jl. Kalimantan, Sumbersari, Universitas Jember.
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
Berkala Ilmiah Pertanian
Published by Universitas Jember
ISSN : -     EISSN : 23388331     DOI : https://doi.org/10.19184
Berkala Ilmiah PERTANIAN (BIP) is an electronic journal (e-journal) that established in August 2013 and publishes scientific articles, especially research results of students in the University of Jember in agriculture in general which includes Agriculture (Fields of Cultivation, Soil and Pests and Plant Diseases), Agricultural Technology (Agricultural Engineering and Technology) and Agricultural Socio-Economics. In addition, BIP also receives manuscript of research-based articles from outside the University of Jember through the OJS acceptance system (Open Journal System). The submitted article should not been submitted or published in any other scientific journals or is being review by a reviewer. This e-journal (BIP) publishes quarterly for August, November, February, and May.
Articles 215 Documents
KARAKTERISASI BAKTERI PENYEBAB PENYAKIT HAWAR DAUN EDAMAME DI JEMBER Rachmi Masnilah; Abd Latif Abadi; Tutung Hadi Astono; Luqman Qurata Aini
Berkala Ilmiah Pertanian Vol 1 No 1 (2013): AGUSTUS
Publisher : Jember University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.477 KB)

Abstract

[ENGLISH] One among important diseases in Edamame soybean is bacterial bligh. The disease is relatively new and causes significant loss of soybean yield. This research was aim to know the characterize the pathogen of bacterial blight in Jember. Survey was one in several soybean field in Jember and the plant sample was culture on King's B medium to grow the pathogen. Identification was done through pysiological and biochemistry assay. The result showed that the pathogen of bacterial blight disease on Edamame soybean di Jember (Panti, Sukorambi, Wirolegi, Ajung, and Sumbersari) was Pseudomonas syringae pv. glycinea with properties as Gram negative, produce fluorescent pigment on King's B medium, grew on 20-40O C, pH range of 4.5-8.5, tolerant on 0.5-2% NaCl and also pathogenic and virulent on Edamame while reinoculated to Edamame. Keywords: Edamame, bacterial blight, soybean  [INDONESIAN] Salah satu penyakit penting pada kedelai khususnya edamame ialah hawar daun bakteri, penyakit ini merupakan penyakit yang relatif baru dan menyebabkan kerugian yang cukup signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik bakteri penyebab penyakit hawar daun edamame di daerah Jember. Penelitian diawali dengan pengamatan gejala di lapangan di beberapa lokasi di daerah Jember. Bagian tanaman yang sakit dibawa ke laboratorium, selanjutnya dilakukan isolasi pada medium King B. Identifikasi dilakukan dengan serangkaian pengujian fisiologi dan biokimia. Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan disimpulkan bahwa bakteri penyebab penyakit hawar daun edamame di Jember (Panti, Sukorambi, Wirolegi, Ajung, dan Sumbersari) ialah Pseudomonas syringae pv. glycinea yang bersifat gram negatif, mampu membentuk pigmen fluoresen pada medium king B, mampu tumbuh baik pada kisaran suhu 20-400 C, mempunyai kisaran pH 4,5-8,5, toleran pada kandungan NaCl 0,5-2%, serta bersifat patogenik dan virulen pada tanaman edamame. Keywords: Edamame; Hawar Daun; Kedelai How to citate: Masnilah R, AL Abadi, TH Astono, LQ Aini. 2013. Karakterisasi bakteri penyebab penyakit hawar daun edamame di Jember. Berkala Ilmiah Pertanian 1(1): 10-14.
FUNGSI KEUNTUNGAN USAHATANI KOPI RAKYAT DI DESA BELANTIH KECAMATAN KINTAMANI KABUPATEN BANGLI Vanya Pinkan Maridelana; Yuli Hariyati; Ebban Bagus Kuntadi
Berkala Ilmiah Pertanian Vol 1 No 3 (2014): FEBRUARI
Publisher : Jember University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

[ENGLISH] Arabica coffee in Bangli regency is known as of specialty coffee and branded as Bali Coffee or Kintamani Coffee. Kintamani sub-district is the largest specialty coffee producing region in Bangli regency. Belantih is a village of Kintamani sub-disctrict which has developed institutional, that is Subak Abian Kerta Waringin. Arabica coffee farmers in Subak Abian Kerta Waringin has been doing organic farming and performed within the household scale. The research aims to determine the factors that affecting profit of Arabica coffee growers members Subak Abian Kerta Waringin in Belantih Village. The method of research used descriptive and analytical methods. Data analysis to analize primary data used the profit function from Cobb Douglass production function with its validation test (F test, t test and coefficient of multiple determination). Analysis results showed the factors that affecting profit of Arabica coffee growers members Subak Abian Kerta Waringin in Belantih Village are production and land area. Keywords: Profit; Arabica Coffee; Subak Abian Kerta Waringin  [INDONESIAN] Kopi arabika di Kabupaten Bangli dikenal sebagai kopi specialty dengan brand Kopi Bali atau Kopi Kintamani. Kecamatan Kintamani merupakan wilayah penghasil kopi specialty terbesar di Kabupaten Bangli. Desa Belantih merupakan daerah di Kecamatan Kintamani yang memiliki kelembagaan yang maju yaitu Subak Abian Kerta Waringin. Petani Kopi Arabika Subak Abian Kerta Waringin ini telah melakukan usahatani organik dan dilakukan dalam skala rumah tangga. Penelitian bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keuntungan petani kopi arabika anggota Subak Abian Kerta Waringin Desa Belantih. Metode penelitian yang digunakan metode dekriptif dan analitik. Analisis data yang digunakan untuk menganalisis data primer yaitu fungsi keuntungan yang didapatkan dari fungsi produksi Cobb Douglass serta uji validasinya (uji F, uji t dan koefisien determinasi ganda). Hasil analisis menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi keuntungan petani kopi arabika anggota Subak Abian Kerta Waringin di Desa Belantih adalah produksi dan luas lahan. Kata Kunci: Keuntungan; Kopi Arabika; Subak Abian Kerta Waringin  How to citate: Maridelana VP, Y Hariyati, EB Kuntadi. 2014. Fungsi keuntungan usahatani kopi rakyat di desa Belantih kecamatan Kintamani kabupaten Bangli. Berkala Ilmiah Pertanian 1(3): 47-52
FORMULASI TABLET EFFERVESCENT BERBAHAN BAKU KULIT BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus) DAN BUAH SALAM (Syzygium polyanthum [Wight.] Walp) Yoga Sindi Pribadi; . Sukatiningsih; Puspita Sari
Berkala Ilmiah Pertanian Vol 1 No 4 (2014): MEI
Publisher : Jember University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

[ENGLISH] Red dragon fruit peel, which is 30-35% from red dragon fruit, is supposed to be a waste containing betacyanin ± 186,90 mg/100 g and antioxidant activity ± 53,71 %. Another potential fruit, which can be developed as an antioxidant, is a salam fruit. Salam fruit is one of local fruits in Indonesia, which has a high antioxidant but its potential has not been utilized optimally. The aim of this research is to determine the exact formulation in effervescent tablet from red dragon fruit peel and salam fruit’s extracts through sensory, physical as well as chemical characteristics. This research was conducted in three steps. Firstly, the researchers made the preparation of raw materials to get the red dragon fruit peel and flesh of salam fruit. Secondly, extraction using 97% ethanol and vacuum drying to obtained extract powder of red dragon fruit peel and salam fruit. At last, determines the formulation of effervescent tablet. Effervescent tablets were analyzed sensory, physical and chemical characteristics. Sensory analysis showed F1, F2 and F3 having the preferred formulation. Furthermore, the results of physical and chemical characteristics analysis indicate F3 having the best formulation with the highest antioxidant activity 63,13% with speed-soluble 72.40 seconds, water content of 11.24%, color parameters L = 41,32, C = 23 and hue = 358,74 (red purple), betacyianin content 309,75 mg/100 g dry basis and anthocyianin content 5,26 mg/100 g dry basis. Keywords: red dragon fruit peel; salam fruit; effervescent tablet [INDONESIAN] Kulit buah naga merah merupakan limbah (30 - 35% buah utuh) mengandung betasianin ± 186,90 mg/100 g dan aktivitas antioksadan ± 53,71%. Buah lainnya yang potensial dikembangkan sebagai sumber antioksidan adalah buah salam. Buah salam adalah salah satu buah-buahan lokal Indonesia yang mengandung antioksidan, tetapi belum dimanfaatkan secara optimal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui formulasi yang tepat tablet effervescent yang dibuat dari ekstrak kulit buah naga merah dan buah salam melalui pengujian karakteristik sensori, fisik, dan kimia. Penelitian dilakukan dalam tiga tahapan. Pada tahap pertama, peneliti melakukan persiapan bahan baku untuk mendapatkan kulit buah naga merah dan buah salam tanpa biji. Tahap kedua melakukan ekstraksi menggunakan pelarut etanol (97%) dan pengeringan ekstrak menggunakan pengering vakum untuk mendapat bubuk ekstrak kulit buah naga merah dan buah salam. Tahap terakhir melakukan pengujian tablet effervescent. Tablet effervescent dianalisa karakteristik sensori, fisik, dan kimia. Analisis sensori menunjukkan bahwa formulasi F1, F2, dan F3 lebih disukai panelis. Lebih lanjut, hasil dari analisis fisik dan kimia menunjukkan bahwa formulasi F3 merupakan formulasi terbaik dengan nilai aktivitas antioksidan tertinggi 63,13%, waktu larut 72,40 detik, kadar air 11,24%, parameter warna L = 41,32; C =23; dan hue = 358,74 (red purple), kandungan betasianin 309,75 mg/100 g (berat kering), dan kandungan antosianin 5,26 mg/100 g (berat kering). Kata kunci: kulit buah naga merah; buah salam; tablet effervescent How to citate: Pribadi YS, Sukatiningsih, P Sari. 2014. Formulasi tablet effervescent berbahan baku kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) dan buah salam (Syzygium polyanthum [Wight.] Walp). Berkala Ilmiah Pertanian 1(4): 86-89.
ISOLASI DAN SELEKSI PSEUDOMONAD FLUORESCENS PADA RISOSFER PENYAMBUNGAN TOMAT Suhartiningsih Dwi Nurcahyanti; Triwidodo Arwiyanto; Didik Indradewa; Jaka Widada
Berkala Ilmiah Pertanian Vol 1 No 1 (2013): AGUSTUS
Publisher : Jember University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.592 KB)

Abstract

[ENGLISH] Fluorescen pseudomonad had been isolated from the rhizosphere of grafting tomato with resisten rootstock (H 7996 and EG 203 from Asian Vegetable Research Development Center). Tomato varieties Permata and Fortuna were used as scion in grafting. Fluorescen pseudomonad was isolated on King’S B medium and used phosphate buffer 0,1 M + 0,1 % pepton. About 230 isolates of P. fluorescens were isolated from tomato rhizosphere at 14 HST and about 454 isolates at 28 HST. All isolates were tested for their capability to suppress the growth Ralstonia solanacearum in vitro. All isolates inhibited the growth of R. solanacearum with an inhibition zone of 1 mm to 7 mm or more. The mechanism growth of inhibition was bacteriostatic. About Ten isolates of P. fluorescens which had large inhibition zone, were not inhibit each other and inhibition against R. solanacearum due to nutrient competition. Keywords : tomato; grafting; Fluorescens pseudomonad [INDONESIAN] Pseudomonad fluorescens diisolasi dari risosfer tomat hasil penyambungan dengan batang bawah tahan yaitu tomat H 7996 dan terung EG 203 dari Asian vegetebles Research Development Center (Taiwan). Sebagai batang atas digunakan varietas Permata dan Fortuna. Isolasi dilakukan pada media King’s B dan menggunakan buffer phospat 0,1 M + pepton 0,1 %. Sejumlah 230 isolat P. fluorescens berhasil diisolasi dari risosfer pada 14 HST dan 454 isolat pada 28 HST. Semua isolat diuji kemampuannya dalam menghambat pertumbuhan Ralstonia solanacearum secara in vitro. Semua isolat P. fluorescens mampu menghambat R. solanacearum dengan zona hambatan antara 1 mm sampai dengan lebih dari 7 mm. Semua isolat mempunyai mekanisme penghambatan bakteriostatik. Sebanyak sepuluh isolat P. fluorescens yang mempunyai daya hambat besar, tidak saling menghambat satu dengan yang lain dan penghambatan terhadap R solanacearum yang terjadi karena adanya kompetisi nutrisi. Kata kunci: Tomat; Penyambungan; Pseudomonad fluorescens  How to citate: Nurcahyanti SD, T Arwiyanto, D Indradewa, J Widada. 2013. Isolasi dan seleksi pseudomonad fluorescens pada risosfer penyambungan tomat. Berkala Ilmiah Pertanian 1(1): 15-18
EKSTRAKSI PATI RESISTEN DARI TIGA VARIETAS KENTANG LOKAL YANG BERPOTENSI SEBAGAI KANDIDAT PREBIOTIK Fitrah Kurnia Sari; . Nurhayati; . Djumarti
Berkala Ilmiah Pertanian Vol 1 No 3 (2014): FEBRUARI
Publisher : Jember University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

[ENGLISH] Potato native starch (PNS) can pass trough the gastrointestinal digestive tract without undergoing substantial breakdown so they are classified as resistant starch type II (RS2). The research were to extract the PNS by using water and 10% etanol solution (1:3) and evaluated the probiotic properties. The starch extraction was conducted at room temperature with three times. The result showed that the arka variety produced highest starch than rendang or granola variety. Extraction yield of arka with aquades has highest yield approximately 10,49 ± 0,03%.The kind of solvent and potato varieties affect significant different in standart 5% of RS content. The starch from granola variety of water solvent extraction (K3P1) was the highest levels of RS2 aproximately 56,37 ± 0,24%. The RS2 arka’s potato of water solvent (K2P1) was more resistant to gastric acid hydrolysis than the other. K2P1 was highest to increase survival of L.acidophillus than K1P1 and K3P1. In addition, K2P1 suppressed survival of EPEC and Salmonella Typhimurium. It can be concluded that RS2 extracted from arka’s potato of water solven (K2P1) was better prebiotics properties than RS2 extracted from rendang’s potato of water solven (K1P1) and granola’s potato of water solven (K3P1) Keywords: Potato; Resistant starch type II (RS2); Water–ethanol extraction; Prebiotic properties. [INDONESIAN] Pati kentang alami yang mampu melewati saluran pencernaan tanpa mengalami pemecahan akibat struktur granula pati yang sedimikian rupa sehingga diklasifikasikan sebagai pati resisten tipe II (RS2). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengekstrak pati kentang alami dengan menggunakan pelarut air dan pelarut etanol 10% pada perbandingan 1:3 dan mengevaluasi sifat-sifat prebiotiknya. Ekstraksi pati dilakukan pada suhu ruang dengan tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas arka menghasilkan pati terekstrak lebih tinggi daripada varietas granola. Yield ekstraksi dari varietas arka dengan pelarut air menghasilkan yield tertinggi sekitar 10,49 ± 0,03%. Jenis pelarut dan varietas kentang secara nyata mempengaruhi kadar pati resisten. Pati kentang varietas granola yang diekstrak dengan pelarut air (K3P1) menghasilkan kadar RS2 tertinggi sebesar 56,37 ± 0,24%. RS2 dari kentang varietas arka dengan pelarut air (K2P1) bersifat lebih resisten terhadap hidrolisis asam lambung daripada varietas granola. K2P1 tertinggi dalam meningkatkan survival L . acidophilus daripada K1P1 dan K3P1. K2P1 juga mampu menekan survival Enteropatogenik Escherichia coli (EPEC) dan Salmonella Typhimurium. Hal ini dapat disimpulkan bahwa RS2 yang diekstrak dari kentang varietas arka dengan menggunakan pelarut air (K2P1) memiliki sifat-sifat pre-biotik lebih baik dari pada RS2 yang diekstrak dari kentang varietas rendang (K1P1) dan varietas granola (K3P1) Kata Kunci: Kentang; Pati resisten tipe 2; Ekstraksi Air-Etanol; Sifat Prebiotik How to citate: Sari FK, Nurhayati, Djumarti. 2013. Ekstraksi pati resisten dari tiga varietas kentang lokal yang berpotensi sebagai kandidat prebiotik. Berkala Ilmiah Pertanian 1(2): 38-42.
PEMANFAATAN BIJI KAKAO INFERIOR CAMPURAN SEBAGAI SUMBER ANTIOKSIDAN DAN ANTIBAKTERI Yulianto Tri Chandra Kusuma; Sony Suwasono; Sih Yuwanti
Berkala Ilmiah Pertanian Vol 1 No 2 (2013): NOVEMBER
Publisher : Jember University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

[ENGLISH] There are about 30% of cocoa beans still classified as inferior or low quality beans due to diseases. Low-quality cocoa beans can be used as the source of polyphenolic substances. The purpose of this study was to determine the potency of inferior cocoa beans with various particle sizes as raw materials for polyphenol extraction, and the use of polyphenol-rich cocoa extracts as antioxidant and antibacterial substances. The research was conducted in two stages, namely preliminary research and primary research. This preliminary study aimed to obtain polyphenol-rich cocoa bean extract and to examine antioxidant activity using DPPH method. The next research was to conduct antibacterial test against Escherichia coli and Bacillus subtilis using well diffusion method treated using polyphenols of each type of various particle size (16 mesh, 25 mesh, 35 mesh) with concentrations of 0 ppm, 25.000 ppm, 50.000 ppm, 75.000 ppm, 100.000 ppm. The plates were incubated at 37°C for 24 hours and the inhibition power against bacteria was observed. The results showed that the greater the concentration of polyphenol extracts and the smaller size of the filter powder cocoa resulted in the increase of bacterial growth inhibition area. Keywords: Polyphenol; Cocoa beans; Escherichia coli; Bacillus subtilis [INDONESIAN] Biji kakao inferior merupakan biji buah kakao bermutu rendah karena terserang penyakit dan belum termanfaatkan secara maksimal. Biji kakao berkualitas rendah dapat dimanfaatkan dengan cara mengekstrak kandungan polifenolnya. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui potensi ekstrak polifenol biji kakao inferior dengan variasi ukuran partikel sebagai bahan yang memiliki aktivitas antioksidan dan penghambat pertumbuhan bakteri. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap, yaitu penelitian pendahuluan dan penelitian utama. Penelitian pendahuluan bertujuan untuk memperoleh esktrak polifenol dari biji kakao inferior campuran yang terserang penyakit. Esktrak polifenol hasil penelitian pendahuluan berpotensi sebagai senyawa antioksidan dan antibakteri. Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan dengan menggunakan metode DPPH. Sedangkan pengujian antibakteri menggunakan metode difusi sumuran. Daya penghambatannya terhadap bakteri Escherichia coli dan Bacillus subtilis menggunakan esktrak polifenol dari variasi ukuran partikel (16 mesh, 25 mesh, 35 mesh) yaitu sebanyak 0 ppm, 25000 ppm, 50000 ppm, 75000 ppm, 100000 ppm dan dilakukan secara triplo. Setelah itu diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37°C dan diamati daya penghambatan terhadap bakteri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin besar konsentrasi ekstrak polifenol dan semakin kecil ukuran saringan bubuk biji kakao, menghasilkan luasan diameter daerah hambatan pertumbuhan bakteri yang semakin besar. Kata kunci: Polifenol; Kakao; Escherichia coli; Bacillus subtilis How to citate: Kusuma YTC, S Suwasono, S Yuwanti. 2013. Pemanfaatan biji kakao inferior campuran sebagai sumber antioksidan dan antibakteri. Berkala Ilmiah Pertanian 1(2): 33-37.
ANALISIS RANTAI PASOKAN (SUPPLY CHAIN) DAGING SAPI DI KABUPATEN JEMBER Annona Emhar; Joni Murti Mulyo Aji; Titin Agustin
Berkala Ilmiah Pertanian Vol 1 No 3 (2014): FEBRUARI
Publisher : Jember University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

[ENGLISH] Beef is kind of food products that have nutrition value to complete the protein needs for human. Supply chain of beef is a concept that have regulatory system related to the product flow, the financial flow and the information flow in the process of beef cattle distribution into beef. The research is intended to: (1) identify the product flow, the financial flow, and the information flow in supply chain of beef; (2) determine the level of marketing efficiency; and (3) determine the value added in slaugtered process of beef cattle. This research used descriptive and analytic methods. The analysis method of sampling is purposive sampling and snowball sampling. The analysis method of data used are marketing efficiency analysis, marketing margin analysis, and value added analysis with Hayami method. The result analysis showed that: (1) there are three flows in supply chain of beef in Jember Regency that are the product flow, the financial flow and the information flow that is not optimal; (2) the distribution channel of beef in Jember Regency is efficient that showed value of marketing efficiency, profitable of marketing margin (Ski>Sbi) and proportioned of shared value that according to the contributions from each chain, and (3) the average of value added is Rp 33.144,68/kg or 36,25 % of the total output value. Keywords: Beef; Marketing Efficiency; Hayami Value Added; Supply Chain [INDONESIAN] Daging sapi merupakan salah satu produk pangan yang memiliki nilai gizi untuk memenuhi kebutuhan protein bagi masyarakat. Rantai pasokan atau supply chain daging sapi merupakan suatu konsep yang memiliki sistem pengaturan yang berkaitan dengan aliran produk, aliran keuangan dan aliran informasi dalam proses distribusi sapi potong hidup menjadi daging sapi. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui aliran produk, aliran keuangan dan aliran informasi pada rantai pasokan daging sapi; (2) mengetahui tingkat efisiensi pemasaran; dan (3) mengetahui nilai tambah pada proses pemotongan sapi potong. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan analitik. Metode pengambilan contoh dalam penelitian ini adalah teknik purposive sampling dan snowball sampling. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis efisiensi pemasaran, analisis dan margin pemasaran, analisis nilai tambah dengan metode Hayami. Hasil analisis menunjukkan bahwa: (1) terdapat 3 aliran dalam rantai pasokan daging sapi di Kabupaten Jember yaitu aliran produk, aliran keuangan dan aliran informasi yang tidak berjalan dengan optimal; (2) saluran distribusi daging sapi di Kabupaten Jember adalah efisien berdasarkan nilai efisiensi pemasaran, margin pemasaran yang menguntungkan (Ski>Sbi) dan shared value yang proporsional sesuai dengan kontribusi yang diberikan setiap mata rantai; dan (3) rata-rata nilai tambah yang diperoleh sebesar Rp 33.144,68/kg atau 36,24 % dari total output yang dihasilkan. Kata Kunci: Daging Sapi; Efisiensi Pemasaran; Nilai Tambah Hayami; Rantai Pasokan How to citate: Emhar A, JMM Aji, T Agustina. 2014. Analisis rantai pasokan (supply chain) daging sapi di kabupaten Jember. Berkala Ilmiah Pertanian 1(3): 53-61.
PENGENDALIAN PENYAKIT PATIK (Cercospora nicotianae) PADA TEMBAKAU NA OOGST SECARA IN-VIVO DENGAN EKSTRAK DAUN GULMA KIPAHIT (Tithonia diversifolia) Aditya Reza Apriyadi; Wiwiek Sri Wahyuni; Victoria Supartini
Berkala Ilmiah Pertanian Vol 1 No 2 (2013): NOVEMBER
Publisher : Jember University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.002 KB)

Abstract

[ENGLISH] Frog eyes diseases or leaf spot caused by Cercospora nicotinae that can reduce the quality of tobacco leaves, especially when used as a cigar deckblad. Affected leaves was easyly torn and the syhmptoms developed rapidly when processed in the storage. Therefore the alternative control of plant is by mexico sun flower leaf extracts. Mexico sunflower belonging to the broadleaf weeds. It suggested contains flavonoids, tannins, terpenoids, and saponins. The results showed mexico sunflower leaf extract concentration 50 g / L was effective to control this diseases, when compared mexico sunflower leaf extract concentration 25 g / L. However, there was no different between plant sprayed with mexico sun flower extract at concentration of 50 g/L and 75 g/L. Keywords: Mexico Sunflower leaf extract; Cercospora nicotianae; Tobacco. [INDONESIAN] Penyakit patik atau bercak daun Cercospora yang disebabkan oleh jamur Cercospora nicotinae dapat mengurangi mutu daun tembakau, terutama apabila digunakan sebagai daun pembalut cerutu. Biasanya penyakit ini dikendalikan dengan pestisida kimia tetapi karena ada batasan residu kimia maksimum sebesar 2,0 ppm, maka dicari alternatif pengendaliannya. Kipahit merupakan gulma berdaun lebar yang mempunyai potensi sebagai anti jamur patogen tanaman, karena mengandung senyawa flavonoid, tannin, terpenoid, dan saponin. Dengan penyemprotan empat kali dalam interval 15 hari, diketahui ekatrak daun kipahit dengan konsentrasi 50 g/l dan 75 g/L dapat menurunkan tingkat keparahan penyakit 1% sejak 60 hst sampai 70 hst. Akan tetapi, nilai insiden penyakit diketahui 100% pada semua perlakuan ekstrak daun kipahit. Ekstrak daun kipahit dengan konsentrasi 50 g/L sudah efektif mengendalikan penyakit patik jika dibandingkan dengan ekstrak daun kipahit dengan konsentrasi 25 g/L. Namun ekstrak daun kipahit dengan konsentrasi 75 g/L tidak berbeda efektifitasnya dengan ekstrak daun kipahit dengan konsentrasi 50 g/L. Kata Kunci: Ekstrak daun kipahit; Cercospora nicotianae; Tembakau How to citate: Apriyadi AR, WS Wahyuni, V Supartini. 2013. Pengendalian penyakit patik (Cercospora nicotianae) pada tembakau na oogst secara in-vivo dengan ekstrak daun gulma kipahit (Tithonia diversifolia). Berkala Ilmiah Pertanian 1(2): 30-32.
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK Ascophyllum nodosum SERBUK DAN CAIR TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN SELADA BERDAUN MERAH (Lactuca sativa var. crispa) Asfia Falasifa; . Slameto; Kacung Hariyono
Berkala Ilmiah Pertanian Vol 1 No 3 (2014): FEBRUARI
Publisher : Jember University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.649 KB)

Abstract

[ENGLISH] This Study was aimed to determine the effect of Ascophyllum nodosum extract with powder and liquid form on the growth of red lettuce in the field. The experiment is conducted on field trials area of Kyungpook National University, Sangju, Gyeongsangbuk-do, South Korea from . The treatments that used are extract powder and liquid form with concentration 0g / l and 4g / l for each treatment . There are four combinations of treatments and each treatment combination was repeated 45 times. The results showed that the extract of seaweed with the concentratio  4g/l proved to provide significant results for most parameters. A. nodosum seaweed extract powder gives the best results on the growth of red lettuce plants compared to extract liquid. Keywords: Ascophyllum nodosum; Extract; Foliar Feeding; Red Lettuce; Seaweed [INDONESIAN] Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pemberian ekstrak Ascophyllum nodosum dengan bentuk serbuk dan cair terhadap pertumbuhan selada merah di lapangan. Penelitian dilakukan pada lahan uji coba Kyungpook National University, Sangju, Gyeongsangbuk-do, Korea Selatan. Perlakuan yang digunakan yaitu ekstrak berbentuk serbuk dan berbentuk cair dengan konsentrasi 0g/l dan 4g/l untuk masing-masing perlakuan. Terdapat 4 kombinasi perlakuan dan masing-masing kombinasi perlakuan diulang sebanyak 45 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak rumput laut dengan konsentrasi 4g/l terbukti memberikan hasil yang signifikan pada sebagian besar parameter. Ekstrak rumput laut A. nodosum berbentuk serbuk memberikan hasil terbaik terhadap pertumbuhan tanaman selada merah dibandingkan ekstrak berbentuk cair. Kata Kunci: Ascophyllum nodosum; Pupuk Daun; Rumput Laut; Selada Merah How to citate: Falasifa A, Slameto, K Hariyono. 2014. Pengaruh pemberian ekstrak Ascophyllum nodosum serbuk dan cair terhadap pertumbuhan tanaman selada berdaun merah (Lactuca sativa var. crispa). Berkala Ilmiah Pertanian 1(3): 62-64
KARAKTERISTIK BROWNIES YANG DIBUAT DARI KOMPOSIT TEPUNG GEMBOLO (Dioscorea bulbifera L.) Tutik Windaryati; . Herlina; Ahmad Nafi
Berkala Ilmiah Pertanian Vol 1 No 2 (2013): NOVEMBER
Publisher : Jember University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

[ENGLISH] Gembolo bulbs were an inferior crop which development has not been optimal. Gembolo bulbs rich in bioactive components such as glucomannan which were a water-soluble dietary fiber because it can absorb 200 times its weight of water. Brownies is a very popular food and flour composites research gembolo on making brownies has never been done, so the presence of composite flour in making gembolo brownies expected to improve the quality and flavor of brownies as a product that safe and good for consumers. The purpose of this study was to determine the influence of the type and percentage of composite gembolo flour physical chemical properties and organoleptic brownies generated. Parameters measured were ash content, moisture content, protein content, fat content, carbohydrate content, overrun, texture, baking loss, stanleness, sliced appearance and WHC. Data were analyzed by ANOVA. The best treatment of compsite treatment is A2B2 treatment (composite flour soaking gembolo 5% citric acid for 24 hours at 20%). Brownies of treatment had 0.68% ash content, water content of 16.83%, 5.15% protein, 23.78% fat content, carbohydrate content of 53.57%, 39.76% flower power, texture 77, 67%, baking loss 5.02%, and 33.96% WHC. Keywords: Brownies; Composite; Gembolo flour [INDONESIAN] Umbi gembolo merupakan tanaman inferior yang pengembangannya belum optimal. Umbi gembolo kaya akan kandungan komponen bioaktif berupa glukomanan yang merupakan serat pangan larut air karena dapat menyerap 200 kali berat air. Brownies merupakan makanan yang sangat digemari dan  penelitian komposit tepung gembolo pada pembuatan brownies belum pernah dilakukan, sehingga dengan adanya komposit tepung gembolo dalam pembuatan brownies diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan citarasa brownies sebagai produk yang aman dan baik untuk konsumen. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh jenis dan persentase komposit tepung gembolo terhadap karakteristik fisik, kimia dan organoleptik brownies yang dihasilkan. Parameter yang diamati adalah kadar abu, kadar air, kadar protein, kadar lemak, kadar karbohidrat, daya kembang, tekstur, baking loss, stanleness, kenampakan irisan, dan WHC. Data yang diperoleh dianalisis dengan ANOVA. Perlakuan terbaik dari perlakuan komposit adalah perlakuan A2B2 (komposit tepung gembolo perendaman asam sitrat 5% selama 24 jam sebesar 20%).  Brownies dari perlakuan tersebut memiliki  kadar abu 0,68%, kadar air 16,83%, kadar protein 5,15%, kadar lemak 23,78%, kadar karbohidrat 53,57%, daya kembang 39,76%, tekstur 77,67%, baking loss 5,02%, dan WHC 33,96%. Kata Kunci: Brownies; Komposit; Tepung Gembolo How to citate: Windaryati T, Herlina, A Nafi. 2013. Karakteristik brownies yang dibuat dari komposit tepung gembolo (Dioscorea bulbifera L). Berkala Ilmiah Pertanian 1(2): 25-29.

Page 3 of 22 | Total Record : 215