cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jap.anestesi@gmail.com
Editorial Address
Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Jalan Pasteur No. 38 Bandung 40161, Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Anestesi Perioperatif
ISSN : 23377909     EISSN : 23388463     DOI : 10.15851/jap
Core Subject : Health, Education,
Jurnal Anestesi Perioperatif (JAP)/Perioperative Anesthesia Journal is to publish peer-reviewed original articles in clinical research relevant to anesthesia, critical care, case report, and others. This journal is published every 4 months with 9 articles (April, August, and December) by Department of Anesthesiology and Intensive Care Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran/Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung.
Arjuna Subject : -
Articles 484 Documents
Lama Pengerjaan, Volume Anestetik Lokal, dan Angka Keberhasilan Blokade Aksilar dengan Panduan Pencitraan Ultrasonografi pada Prosedur Arterio-Venous Shunt Ara Guntara; Dedi Fitri Yadi; Ruli Herman Sitanggang
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1108.319 KB)

Abstract

Kunci keberhasilan melakukan blokade aksilar adalah mendistribusikan secara optimal anestetik lokal ke sekeliling saraf, hal ini tercapai dengan panduan pencitraan ultrasonografi. Penelitian ini bertujuan menilai lama pengerjaan, volume  anestetik lokal, dan angka keberhasilan blokade aksilar dengan panduan pencitraan ultrasonografi. Metode penelitian adalah deskriptif prospektif. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Maret–April tahun 2014 terhadap 40 pasien (21‒60 tahun), status fisik American Society of Anesthesilogist (ASA) II, menjalani pembedahan dalam blokade aksilar dengan panduan pencitraan ultrasonografi. Fungsi sensorik dan motorik dinilai setiap 5 menit selama 15 menit. Keberhasilan blokade dinilai dari hilangnya fungsi sensorik dan motorik pada saraf medialis, radialis, ulnaris, dan muskulokutaneus. Hasil penelitian didapatkan lama pengerjaan blokade aksilar rata-rata dengan panduan pencitraan ultrasonografi 548 detik (9,1 menit), volume anestetik lokal dibutuhkan 10 mL dan angka keberhasilan blokade aksilar sebesar 97,5%. Penelitian lain lama pengerjaan dengan bantuan alat stimulasi saraf tepi selama 11,2 menit, volume total anestetik lokal dibutuhkan 30‒40 mL, dan angka keberhasilan 60‒85%.  Simpulan, panduan pencitraan ultrasonografi dapat mempersingkat pengerjaan, mengurangi volume obat anestesi lokal, dan meningkatkan keberhasilan blokade aksilar.Kata kunci: Arterio-venous shunt, blokade aksilar, panduan ultrasonografiProcedure Time, Local Anaesthetic Volume, and Success Rate of Axillary Block with Ultrasound Guidance in Arterio-Venous Shunt ProcedureThe key requirement for successful axillary block is to ensure optimal distribution of local anesthetic around the nerve structure. This goal is most effectively achieved under sonographic visualization. This study aimed to assess block procedure time, minimum volume of local anesthetic required, and success rate of axillary brachial plexus block under ultrasound guidance. This study was conducted between March and April 2014 in Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung. This was an observational prospective study involving 40 patients (21‒60 years old) with American Society of Anesthesiologist (ASA) physical status II who underwent arterio-venous shunt under axillary brachial plexus block. Sensory and motor functions were assessed every five minutes for 15 minutes. A successful block was defined as complete sensoric and motoric loss in median, radial, ulnar, and musculocutaneus nerve distributions by 15 minutes. Results showed average block procedure time of 548 seconds (9.1 min), total volume of local anesthetic of 10 mL, and  block success rate of 97.5%. This study concludes that ultrasound guidance can reduce block procedure time and required local anesthetic volume as well as improving the success rate of axillary brachial plexus block. Key words: Arterio-venous shunt, axillary block, ultrasound guidance DOI: 10.15851/jap.v2n3.329
Hubungan antara Lama Puasa Preanestesi dan Kadar Gula Darah Saat Induksi pada Pasien Pediatrik yang Menjalani Operasi Elektif Arsy Felisita Dausawati; Doddy Tavianto; Rudi K. Kadarsah
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 3, No 3 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.248 KB)

Abstract

Puasa preoperatif adalah untuk mengurangi volume, tingkat keasaman lambung, dan mengurangi risiko aspirasi paru. Puasa preoperatif sering kali lebih lama daripada yang direkomendasikan karena berbagai alasan di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui korelasi antara lama puasa preanestesi dan kadar gula darah saat induksi pada pasien pediatrik di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian analitik observasional cros sectional dilakukan pada pasien pediatrik pada bulan Januari–Februari 2015 di Instalasi Bedah Sentral Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Uji distribusi data menurut Kolmogorov-Smirnov kemudian dilakukan Uji kolerasi Spearman. Lama puasa minimum, maksimum, dan rata-rata (SD) puasa dari makanan  4, 15, dan 8,7500 (3,48597) jam. Lama puasa minimum, maksimum, dan rata-rata (SD) dari minuman adalah 2, 15, dan 12,56 (3,26) jam. Tidak ditemukan kejadian hipoglikemia pada penelitian ini dengan gula darah sewaktu induksi terendah 59 mg/dL. Terdapat hubungan yang bermakna antara lama puasa preanestesi dengan GDS induksi (p<0,05). Simpulan, lama puasa preanestesi pada pasien pediatrik yang akan menjalani operasi elektif melebihi dari apa yang dianjurkan oleh ASA. Terdapat hubungan antara lama puasa preanestesi dan kadar gula darah saat induksi. Kata kunci: Kadar gula darah, lama puasa preanestesi, operasi elektif, pediatrik Correlation between Preanesthetic Fasting Duration and Blood Glucose Level During Induction in Pediatric Elective Surgery PatientsPreoperative fasting is to reduce the volume and acidity of gastric and further reduce the risk of pulmonary aspiration. Preoperative fasting period often longer than the recommended time for various reasons in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. The purpose of this study was to determine the correlation between preanesthetic fasting duration and blood sugar level induction in pediatric patients in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. An analytical observational cross-sectional study was conducted on pediatric patients during period of January–Februari 2015 at the Central Surgical Installation of Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. The minimum, maximum, and mean (SD) fasting from food duration were 4, 15, and 8.7500 (3.48597) hours. The minimum, maximum, and mean (SD) fasting from drinks durations were 2, 15 and 12.56 (3.26) hours. The incidence of hypoglycemia was not found in this study. Based on the result of Spearman correlation test showed a statistically significant relationship between preanesthetic fasting duration and with blood glucose level during induction (p<0.05). In conclusion, preanesthetic fasting duration in pediatric patients who are undergoing an alective surgerybin this hospital is longer than the duration recommended by ASA. There is a correlation between the preanesthetic fasting period and blood sugar level during induction. Key words: Blood glucose levels, duration of preanesthetic fasting, elective surgery, pediatric DOI: 10.15851/jap.v3n3.614
Perbandingan Efek Induksi Propofol dengan Ketamin terhadap Penurunan Nilai Neutrofil pada Pasien dengan Tindakan Anestesi Umum Angga Permana Putra; Hasanul Arifin; Chairul M. Mursin
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (719.611 KB) | DOI: 10.15851/jap.v5n1.999

Abstract

Leukosit merupakan bagian dari imunitas bawaan. Penurunan nilai neutrofil dapat dipakai sebagai parameter yang sederhana untuk mengukur berat ringannya stres dan inflamasi sistemik pada pasien. Beberapa penelitian mengemukakan pengaruh obat-obat anestesi terhadap leukosit dan penelitian yang lain melihat dari pengaruh obat-obat anestesi terhadap fungsi dari subset leukosit terutama neutrofil. Tujuan penelitian ini mengetahui perbedaan efek induksi propofol dengan ketamin terhadap penurunan nilai neutrofil pada pasien dengan tindakan anestesi umum di Instalasi Bedah Pusat RSUP H. Adam MalikMedan mulai Mei–Juni 2016. Penelitian uji klinis dengan  randomized control trial double blind dilakukan pada 32 pasien ASA I dan II dibagi dalam 2 kelompok yang menjalani operasi dengan anestesi umum. Pasien pada kelompok propofol (A) diberikan induksi dengan propofol 2 mg/kgBB. Kelompok ketamin diinduksi ketamin 2 mg/kgBB. Kemudian diukur nilai neutrofil (%) pada saat sebelum induksi (T1), 10 menit setelah intubasi (T2), dan 60 menit setelah insisi kulit (T3). Dengan SPSS ver.23, Uji T-independen dan Mann-Whitney U didapatkan hasil T1 neutrofil nilai p=0,636, T2 neutrofil nilai p=0,846, T3 neutrofil nilai p=0,403. Simpulan, terdapat perbedaan efek induksi antara propofol dan ketamin terhadap penurunan nilai neutrofil. Terdapat pengaruh ketamin terhadap penurunan nilai neutrofil, tetapi tidak ada pengaruh propofol terhadap penurunan nilai neutrofil. Comparison of Induction Effect between Propofol and Ketamine against Impairment of Neutrophils in Patient with General AnesthesiaLeukocyte is a part of innate immunity elements. Neutrophil impairment of can be used as a simple parameter to measure the severity of stress and systemic inflammation in patients. Some research suggests the influence of anesthetic drugs on leukocytes and other studies look at the effect of anesthetic drugs on leukocyte subset functions, especially neutrophils. This study aimed to reveal the difference in the induction effect of propofol and ketamine against impairment of neutrophils in patients with general anesthesia. This was a double blind randomized control trial conducted in 32 patients ASA I and II who were divided into two groups. These patients underwent general anesthesia at the Central Operating Theater of H. Adam Malik General Hospital during May–June 2016. Group propofol (A) received 2 mg/kgBW propofol, while group ketamine (B) received 2 mg/kgBW ketamine. Neutrophils were measured before induction (T1), 10 minutes after intubation (T2), and 60 minutes after intubation (T3). By using T-independent and Mann-Whitney U test in SPSS ver.23, it was found that the the p-values for T1. T2, and T3 neutrophils were 0.636,0.846, and 0.403. respectively. In conclusion, there is a difference in induction effect between propofol and ketamine against impairment of neutrophils with no effect is found for propofol. 
Penatalaksanaan Anestesi pada Pasien dengan Sick Sinus Syndrome yang Menjalani Laparotomi Ec Perforasi Gaster Radian Ahmad Halimi; Doddy Tavianto
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Disfungsi dari Sinoarterial node (SA node, yang dikenal sebagai “Sick Sinus Syndrome”,  merupakan salah satu penyebab gangguan ritme jantung, dan dapat disebabkan  oleh gangguan baik faktor intrinsik atau faktor ekstrinsik dari SA node. Diagnosis Sick Sinus Syndrome ditegakkan dengan adanya gangguan ritme jantung dengan episode takikardia-bradikardia, dan disertai  gejala klinis seperti; sinkop, palpitasi, atau dapat saja  tanpa gejala klinis. Semua literatur mengatakan penatalaksanaan Sick Sinus Syndrom perioperatif adalah dengan  pemasangan  pacemaker jantung baik transkutaneus maupun secara transvenous pada preoperatif. Seorang pria berumur 75 tahun dengan diagnose peritonitis diffuse yang disebabkan oleh perforasi gaster. Pada pemeriksaan klinis preoperatif didapatkan pasien kompos mentis, anamnesis ada riwayat hipertensi yang tidak terkontrol. Pada pemeriksaan fisik didapatkan bradikardi dengan nadi 31x/menit, tekanan darah 190/100 mmHg. Ditempat tersebut tidak terdapat fasilitas untuk pemasangan pace maker baik trans kutaneous maupun secara transvenous. Dengan pertimbangan sirkulasi organ (mikrosirkulasi) cukup baik ( kompos mentis, SpO2 99% dan setelah optimalisasi diuresi mencapai 1cc/kgBB/jam). Pemeriksaan foto toraks didapatkan kardiomegali tanpa bendungan paru, pemeriksaan laboratorium menunjukkan angka – angka normal termasuk tes fungsi ginjal (kreatinin 0,97 mg/dl dengan ureum 82,6 mg/dl). Diputuskan untuk melakukan tindakan anestesi / pembedahan ditempat ybs dan rencana anestesi adalah dilakukan dengan anestesi umum. Saat pasien masih sadar, mulai diberikan fentanyl secara bertahap, 2 µgr/kgBB. Nadi berkisar antara 28 – 44x/menit, SpO2 98%.  Limabelas menit kemudian diberikan propofol secara titrasi dan setelah pasien tertidur fasilitas intubasi dengan atrakurium. Setelah intubasi  nadi mencapai 44 - 90x/menit dan saat nadi mencapai 90x/menit, didapatkan nadi yang iregular berupa ventricular extrasystole ( VES ) yang multifokal, diputuskan untuk mempertahankan nadi sekitar 35 – 40x/ menit dengan tekanan darah 160/70 mmHg. Selama pembedahan, nadi dan tekanan darah stabil pada kisaran diatas. Pasca bedah pasien dirawat di ruang perawatan intensif selama 2 hari setelah itu pindah ke ruang perawatan biasa dalam keadaan baik. Pasien pulang setelah hari ke 8.Kata kunci: Sick Sinus Syndrome, Bradikardia Anesthesia for Laparatoy e.c Gaster Perforation with Sick Sinus SyndromeSA node dysfunction, or known as  Sick Sinus Syndrome is the common cause of disrythmia and can be caused by intrinsic and extrinsic factors of the SA node. The diagnose performed by the occurrence of bradi- takhikardia episode and the clinical symptoms, could be syncope, palpitation, or maybe asymptomatic. Some of the literature defined that the perioperative management of  sick sinus syndrome is preoperative insertion of pacemaker (transcutaneal or transvenous pacing). A 75 years old man underwent laparotomy with diffuse peritonitis caused by gastric perforation. In preoperative clinical evaluation the patients revealed full awake ( compos mentis), with  history of uncontrolled hypertension. In physical exammination a severe bradicardia was found with pulse of 31x/minute, and the blood pressure was 190/100 mmHg. In this rural hospital there was no fascility to insert the pace-maker. The organ perfusion was considered to be optimal from clinical evaluation ( proved by the wakefullness, SpO2 99%, and diuresis 1cc/kgBW after optimalization ). The chest X’ray showed a cardiomegali without the sign of pulmonary congestion. The laboratory test were within normal limit including the renal function test ( creatinin; 0,97 mg/dl, and ureum 82,6 mg/dl). We decided to perform general anesthesia in this procedure. Before the  induction while patient still awake, fentanyl 2µg/kgBW was given intravenously. Fifteen menue after fentanyl administration induction of anesthesia performed and initiated with propofol intravenous injection slowly until patients felt asleep, than intubated after muscle relaxant intravenous reached  the onset After intubation the pulse / heart rate of patients rose to 44 – 90x/minute. While the pulse was 90/ minute the heart rythm of the patients became irregular, a multifocal ventricular extra systole occured, and it was reversible when the heart rate back to 44x/ minute. We decided to maintain the heart rate between 35 – 40dmitted to the iCU, and after 2 days in the ICU patients was transfered to the ward, and can be dischared home after 8 days.Keywords: Bradikardia, Sick Sinus Syndrome DOI: 10.15851/jap.v1n1.159
Korelasi Skor Modified Sequensial Organ Failure Assesment dengan Kadar Superoksida Dismutase dan Vitamin D Serum pada Pasien Sepsis Cut Meliza Zainumi; Raka Jati Prasetya
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (718.684 KB) | DOI: 10.15851/jap.v6n1.1284

Abstract

Sepsis adalah disfungsi organ yang mengancam jiwa yang disebabkan oleh disregulasi antara respons tubuh dan infeksi. Penilaian tingkat keparahan sepsis berdasar atas derajat disfungsi organ dapat digunakan skor modified sequential organ failure assesment (MSOFA). Beberapa penelitian terdahulu menemukan hubungan rendahnya kadar vitamin D dan peningkatan kadar superoxide dismutase (SOD) pada sepsis. Tujuan penelitian ini mengetahui korelasi skor MSOFA dengan kadar SOD dan vitamin D serum pada sepsis. Penelitian ini adalah penelitian potong lintang pada 61 pasien sepsis yang dirawat di ruang terapi intensif pada bulan Juli sampai Oktober 2017. Penilaian Skor MSOFA dan pengambilan sampel darah dilakukan saat pasien masuk ruang intensif dengan metode enzim linked immunosorbent assay (ELISA). Analisis statistik menggunakan korelasi Spearman dengan p<0,05, hasil yang diperoleh terdapat korelasi skor MSOFA dengan kadar vitamin D serum (p 0,169 dan nilai r 0,179). Korelasi skor MSOFA dengan kadar SOD tidak bermakna dan kekuatan korelasinya juga sangat lemah (p=0,793; r=0,034). Simpulan penelitian ini adalah pada pasien sepsis skor MSOFA tidak mempunyai korelasi dengan kadar SOD dan vitamin D serum sehingga kadar vitamin D dan SOD tidak dapat digunakan sebagai prediksi morbiditas dan mortalitas sepsis.Kata kunci: Sepsis, skor MSOFA, superoksida dismutase, vitamin D
Perbandingan Efek Anestesi Spinal dengan Anestesi Umum terhadap Kejadian Hipotensi dan Nilai APGAR Bayi pada Seksio Sesarea Lasmaria Flora; Ike Sri Redjeki; A. Himendra Wargahadibrata
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.036 KB)

Abstract

Teknik anestesi spinal atau anestesi umum pada seksio sesarea menyebabkan penurunan tekanan darah berbeda, demikian pula nilai APGAR bayi.  Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kejadian hipotensi, nilai APGAR 1 menit dan 5 menit antara tindakan anestesi spinal dan anestesi umum. Penelitian dilakukan dengan cara randomized cross sectional pada 70 pasien di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada Februari–Maret 2011. Setelah dilakukan randomisasi, pasien dibagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok I (anestesi spinal) dan kelompok II (anestesi umum).  Data kejadian hipotensi dianalisis dengan uji chi-kuadrat, untuk nilai APGAR menggunakan Uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan kejadian hipotensi 57,1% pada kelompok anestesi spinal, sedangkan kelompok anestesi umum hanya 5,7% (p<0,001). Nilai APGAR rata-rata 1 menit pada kelompok anestesi spinal 8, sedangkan pada kelompok anestesi umum 7,06.  Berdasarkan Uji Mann Whitney didapatkan p<0,001. Nilai APGAR rata-rata 5 menit pada kelompok anestesi spinal 9,71,  sedangkan pada  kelompok   anestesi   umum  9,31 (p=0,015). Simpulan penelitian ini adalah angka kejadian hipotensi lebih tinggi pada anestesi spinal daripada anestesi umum.  Nilai APGAR bayi 1 menit dan 5 menit lebih tinggi pada anestesi spinal dibandingkan dengan anestesi umum.Kata kunci: Anestesi spinal, anestesi umum, hipotensi, nilai APGAR, seksio sesarea                      Comparison of  Effects  between  Spinal Anesthesia and General Anesthesia  on Hypotension and APGAR Scoring Values  of Caesarean Section BabiesTechnique of spinal anesthesia or general anesthesia on cesarean section causes decreasing in different blood pressure and APGAR score.  The purpose of this study was to identify the difference of hypotension, APGAR score 1 minute and 5 minutes on the action of spinal anesthesia and general anesthesia. A randomized cross sectional was conducted on 70 patients at Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung during February–March 2011. Patients were divided into two groups: group I (spinal anesthesia) and group II (general anesthesia).   The data of hypotension was analyzed with chi square test, for the APGAR score with Mann Whitney test. Result of the study showed that the case of hypotension was got 57.1% for the group of spinal anesthesia whereas the group of general anesthesia only 5.7% (p<0.001).  The mean of APGAR score 1 minute for the group spinal anesthesia was 8 whereas the group of general anesthesia was 7.06.  According to Mann Whitney test  got p<0.001.  The mean of APGAR score 5 minutes for the group spinal anesthesia was 9.71, whereas the mean for the group of general anesthesia was 9.31.  According to Mann Whitney test got p=0.015. The conclusion of the this study is the case of hypotension value is higher for the spinal anesthesia compared to general anesthesia.  APGAR score 1 minute and 5 minutes are higher for spinal anesthesia compared to general anesthesia.Key words: APGAR score, caesarean section, general anesthesia, hypotension,  spinal anesthesia   DOI: 10.15851/jap.v2n2.304
Implementasi Early Warning Score pada Kejadian Henti Jantung di Ruang Perawatan Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung yang Ditangani Tim Code Blue Selama Tahun 2017 Nurul Subhan; Gezy Weita Giwangkencana; M. Andy Prihartono; Doddy Tavianto
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.006 KB) | DOI: 10.15851/jap.v7n1.1583

Abstract

Angka kejadian henti jantung di rumah sakit sangat bervariasi. Sebagian besar kasus henti jantung didahului oleh penurunan kondisi pasien yang digambarkan dengan gangguan parameter tanda vital. Keberhasilan Early warning score (EWS) dalam menurunkan angka kejadian henti jantung dipengaruhi oleh implementasi yang baik dari instrumen EWS sesuai dengan pedoman yang ditetapkan. Penelitian ini bertujuan melihat implementasi EWS di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian bersifat deskriptif dengan desain potong lintang menggunakan data rekam medis pasien henti jantung di ruang perawatan yang ditangani oleh tim Code Blue selama tahun 2017, dan dilakukan pada bulan November 2018. Data EWS 6 jam sebelum dan saat henti jantung, serta tindak lanjut yang dilakukan setelah penilaian EWS dicatat. Didapatkan 87 data rekam medis henti jantung yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak termasuk eksklusi. Di antaranya, 72% memiliki catatan EWS lengkap, 9% memiliki catatan EWS tidak lengkap, dan 18% tidak memiliki data EWS. Dari 63 data rekam medis yang memiliki data EWS lengkap hanya 21% yang mendapat tindak lanjut yang sesuai dengan standar prosedur operasional EWS. Simpulan penelitian ini adalah implementasi EWS di ruang rawat inap RSUP Dr. Hasan Sadikin belum cukup memuaskan. Tindak lanjut yang dilakukan setelah penilaian EWS belum sesuai dengan standar prosedur operasional EWS yang berlaku.Implementation of Early Warning Score to Patients with In-Hospital Cardiac Arrest in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Managed  by Code Blue Team Incidence of in-hospital cardiac arrest varies greatly around the world. Most in-hospital cardiac arrests are preceded with physiological deteriorations that manifest as alterations in vital signs. The success of early warning score (EWS) in reducing the incidence of cardiac arrest is influenced by the good implementation of EWS instruments by ward staff in accordance with the guidelines The aim of this study was to assess to what degree EWS was implemented at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. This was a cross sectional descriptive study on patients with in-hospital cardiac arrest managed by the code blue team during 2017 that was conducted in November 2018. EWS 6 hour prior to cardiac arrest event, EWS at the event, and action taken upon finding an abnormal value were obtained from medical records.  Eighty seven medical records were included. Of these, 72% medical records had complete EWS data, 9 medical records had incomplete EWS data, and 18% medical records had no EWS recorded. From those 63 medical records with complete EWS recorded, only 21% had been managed correctly according to the EWS guideline. This study concludes that the implementation of EWS in the wards of Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung has not been completely satisfactorily. Actions taken after EWS assessment are still not accordance with the EWS guideline.
Perbandingan Penggunaan Topikal Spray Benzidamin HCl 0,15% dan Gel Lidokain 2% pada Pipa Endotrakeal terhadap Kejadian Nyeri Tenggorok Pascaintubasi Endotrakeal Maulana Muhammad; Iwan Fuadi; Abdul Muthalib Nawawi
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1369.815 KB)

Abstract

Nyeri tenggorok setelah operasi sering terjadi dan merupakan hal yang tidak menyenangkan setelah tindakan anestesia dengan intubasi endotrakeal. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah penggunaan benzidamin HCl 0,15% lebih menurunkan angka kejadian nyeri tenggorok dibanding dengan lidokain gel 2% pada pasien pascaintubasi endotrakeal. Penelitian eksperimental secara randomized control trial (RCT) dilakukan pada 90 pasien dengan status fisik American Society of Anesthesiologists (ASA) I–II, usia 18–60 tahun yang menjalani operasi elektif di ruang operasi bedah sentral Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada Juni–Agustus 2014. Pasien dibagi dalam kelompok benzidamin, kelompok lidokain, dan kelompok NaCl. Selama operasi dicatat perubahan hemodinamik, tekanan balon pipa endotrakeal dipertahankan di bawah 25 mmHg, dinilai skala nyeri tenggorok pada 2 jam, 6 jam, dan 24 jam (T2, T6, T24) setelah operasi dan dilakukan uji statistik dengan uji-t, Uji Kruskal-Wallis, chi-kuadrat. Dari hasil penelitian didapatkan angka kejadian nyeri tenggorok kelompok benzidamin lebih rendah dibanding dengan kelompok lidokain pada 6 jam setelah operasi (T6) dengan perbedaan yang bermakna (p<0,05). Simpulan penelitian ini menunjukkan spray benzidamin Hcl0,15% mampu mengurangi angka kejadian nyeri tenggorok pasca-anestesia endotrakeal dibanding dengan lidokain gel 2%.Kata kunci:  Anti-inflamasi, benzidamin HCl, lidokain gel, nyeri tenggorok pascaintubasiEffectiveness of Benzydamine HCl 0.15% Spray and Lidocaine 2% Gel on Post-operative Sore Throat IncidencePostoperative sore throat is common and unpleasant after endotracheal anesthesia. This study was conducted to determine whether the use of benzydamine hcl 0.15% can further reduce the incidence of sore throat compared to lidocaine gel 2% in patients under endotracheal anesthesia. This experimental study was a randomized control trial (RCT) in 90 patients with ASA physical status I–II, aged 18–60 years who underwent elective surgery in the central surgical operating room of Dr. Hasan Sadikin General Hospital during the period of June to August 2014. Patients were divided in benzydamine group, lidocaine group, and NaCl group. The hemodynamic changes were noted during surgery. The endotracheal tube cuff pressure was maintained below 25 mmHg and a graded scale for sore throat was performed at 2 hours, 6 hours, and 24 hours (T2, T6, T24) after surgery. Statistical tests using t-test, Kruskal-Wallis, and chi-square test were conducted. From the results, the incidence of sore throat in the benzydamine HCL group was significantly lower than in the lidoccaine HCL  group at 6 hours after surgery (T6; p<0.05). It is concluded that benzydamin HCL  0.15% spray is able to reduce the incidence of postoperative sore throat when compared to lidocaine 2% gel.Key words: Anti-inflammation, benzydamine HCL, lidocaine HCL , postoperative sore throat DOI: 10.15851/jap.v3n2.579
Perbandingan Osmolaritas Plasma Setelah Pemberian Manitol 20% 3 mL/kgBB dengan Natrium Laktat Hipertonik 3 mL/kgBB pada Pasien Cedera Otak Traumatik Ringan-Sedang Budi Harto Batubara; Nazaruddin Umar; Chairul Mursin
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 4, No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Terapi osmotik adalah salah satu cara penanganan pada cedera kepala traumatik untuk menurunkan tekanan intrakranial (TIK) dengan cara mengatasi edema yang terjadi. Penelitian ini dilakukan pada 30 pasien cedera otak traumatik ringan-sedang yang masuk ke UGD Rumah Sakit H. Adam Malik Medan pada Oktober–Desember 2015 yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak termasuk eksklusi. Subjek dibagi menjadi 2 kelompok secara acak, yaitu kelompok A diberikan manitol 20% 3 mL/kgBB dan kelompok B diberikan natrium laktat hipertonik 3 mL/kgBB. Dilakukan penilaian osmolaritas sebelum perlakuan dan 60 menit setelah perlakuan dengan cara pengambilan darah, kemudian dilakukan pemeriksaan laboratorium. Data hasil penelitian diuji dengan uji T-independent dan Uji Mann-Whitney. Dari hasil penelitian didapatkan efek perubahan osmolaritas plasma setelah perlakuan tidak bermakna secara statistik (p>0,05) walaupun osmolaritas plasma akhir setelah perlakuan pada kedua kelompok berbeda bermakna (p<0,05). Volume urin lebih banyak pada kelompok manitol dan bermakna secara statistik (p<0,05), akan tetapi tidak ada perubahan hemodinamik yang bermakna. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa manitol lebih baik dalam hal target osmolaritas plasma pada pasien cedera otak traumatik ringan sedang.Kata kunci: Cedera otak traumatik, manitol 20%, natrium laktat hipertonik, osmolaritasPlasma Osmolarity Changes After Mannitol 20% 3 mL/kgBW and Hypertonic Sodium Lactate Solution 3 mL/kgBW Administration in Patients with Mild-Moderate Traumatic Brain InjuryAbstractOsmotic therapy is one of many modalities to manage traumatic brain injuries aimed to decrease intracranial pressure by alleviating the brain edema. A study was performed on 30 subjects with mild and moderate brain injuries admitted to the emergency department of Adam Malik General Hospital Medan during October–December 2015 who meet the inclusion and exclusion criteria. Subjects were divided randomly into 2 treatment groups, i.e. group A that received mannitol 20% 3 mL/kgBW and group B that received hypertonic natrium lactate 3 mL/kgBW. The measurement of osmolarity was performed before administration of either of mannitol and hypertonic natrium lactate and at 60 minutes after the administration by drawing the blood for blood check. . Data were statistically analyzed using T- independent test and Mann-Whitney test. Plasma osmolarity changes before and after the treatment were not statistically sifgnificant (p>0.05) for each group treatment even though post-treatment plasma osmolarity was statistically significant. Urin output in the mannitol group was higher than in the hypertonic sodium lactate group and was statistically significant (p>0.05); nevertheless, there was no significant difference in the hemodynamic change. Therefore, manitol is better than hypertonic natrium lactate for osmolarity target therapy in patients mild-moderate head injury.Key words: Hypertonic natrium lactate, mannitol 20%, osmolarity, traumatic brain injury DOI: 10.15851/jap.v4n3.677
Efek Pemberian Magnesium Sulfat Intravena Perioperatif terhadap Nilai Visual Analog Scale (VAS) dan Kebutuhan Analgetik Pascabedah pada Pasien yang Menjalani Pembedahan Abdominal Ginekologi dengan Anestesi Umum Dhany Budipratama; U. Kaswiyan; Ike Sri Redjeki
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.907 KB)

Abstract

Magnesium sulfat sebagai antagonis reseptor N-methyl-D-aspartate (NMDA) dan penghambat saluran kalsium, memiliki efek antinosiseptif dan antihiperalgesia. Penelitian dilakukan secara acak, terkontrol, buta ganda bertujuan untuk menilai efek pemberian bolus magnesium sulfat intravena terhadap nilai visual analog scale (VAS) dan jumlah kebutuhan analgetik petidin pada 30 pasien wanita dengan status fisik ASA I–II, usia 18–60 tahun, yang akan menjalani operasi abdominal ginekologi elektif dengan anestesi umum di ruang operasi bedah sentral Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada Juni–September 2011. Subjek penelitian dibagi menjadi dua kelompok yang akan mendapat bolus dan rumatan MgSO4 intravena (grup M) atau NaCl 0,9% (grup S). Hasil penelitian menunjukkan nilai VAS dan jumlah pemberian analgetik petidin pada grup M secara statistik lebih rendah dibandingkan dengan grup S (p<0,05). Simpulan penelitian adalah pemberian bolus magnesium sulfat intravena perioperatif mampu menunjukkan nilai VAS saat mobilisasi pascabedah yang lebih rendah serta mengurangi kebutuhan analgetik pertolongan petidin pada pasien pascabedah abdominal ginekologi dalam anestesi umum.Kata kunci: Analgetik pascabedah, magnesium sulfat, nilai VAS saat mobilisasi, operasi abdominal ginekologiThe Effect of Perioperative Magnesium Sulphate Infusion on VAS (Visual Analog Scale) Scores and Postoperative Analgesic Requirements in Patients Undergoing Gynaecological Abdominal Surgery with General AnaesthesiaMagnesium sulphate is N-methyl-D-aspartate (NMDA) receptor antagonist and calcium channel blocker with antinociceptive and antihyperalgesia effects. A randomized, double blind, controlled study was conducted to evaluate the effect of perioperative magnesium sulphate infusion on visual analog scale (VAS) scores and cumulative rescue analgesic petidin consumption in 30 ASA physical status I–II female patients, aged 18– 60 years, scheduled for gynaecological surgery under general anaesthesia in central operating theatre Dr. Hasan Sadikin Hospital-Bandung within June–September 2011. Subjects were divided into two groups that received either intravenous bolus and maintenance of MgSO4 (M group) or 0.9% normal saline (S group). The results showed that postoperative VAS score during movement and the number of analgesic pethidin were significantly lower in M group compared to S group (p<0.05). In conclusions, intravenous bolus of magnesium sulphate perioperative are able to demonstrate the lower value of VAS during mobilization and reducing the amount of analgesic rescue petidin postoperative abdominal gynaecological surgery. Key words: Abdominal gynaecological surgery, magnesium sulphate, VAS scores during movement DOI: 10.15851/jap.v1n2.122