cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 180 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 2 (2017): November" : 180 Documents clear
Affixation of Depaha dialect ., Ngurah Putra Bayu Krisna; ., Dr. I Gede Budasi, M.Ed.; ., Kadek Sintya Dewi, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.213 KB) | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.15111

Abstract

This study aimed at 1) describing inflectional and derivational prefixes and suffixes 2) determining prefixes and suffixes which belong to inflectional morpheme and 3) determining prefixes and suffixes which belong to derivational morpheme . This research was a descriptive qualitative research. The informant sample were chosen based on set criteria and one of the important criteria was the informant must belonged to the original people of Depaha village. The data were collected based on three instruments, namely: researcher as the main instruments, tape recorder and word list. The results of the study show that there are no prefix and three suffixes in Depaha dialect. The suffixes are {-nine}, {-an}and {-nane}. All suffixes were not change the part of speech which means all suffixes belonged to derivational morpheme. There was no indication of prefixes because some words Depaha dialect were influenced by another language. Kata Kunci : Depaha dialect, Affixation, Prefixes, Suffixes, Morpheme This study aimed at 1) describing inflectional and derivational prefixes and suffixes 2) determining prefixes and suffixes which belong to inflectional morpheme and 3) determining prefixes and suffixes which belong to derivational morpheme . This research was a descriptive qualitative research. The informant sample were chosen based on set criteria and one of the important criteria was the informant must belonged to the original people of Depaha village. The data were collected based on three instruments, namely: researcher as the main instruments, tape recorder and word list. The results of the study show that there are no prefix and three suffixes in Depaha dialect. The suffixes are {-nine}, {-an}and {-nane}. All suffixes were not change the part of speech which means all suffixes belonged to derivational morpheme. There was no indication of prefixes because some words Depaha dialect were influenced by another language. keyword : Depaha dialect, Affixation, Prefixes, Suffixes, Morpheme
TENTH GRADE STUDENTS’ PERCEPTION TOWARD MOBILE ASSISTED LANGUAGE LEARNING (MALL) IN LEARNING ENGLISH IN BULELENG REGENCY IN ACADEMIC YEAR 2017/2018 ., Putu Agus Widiana; ., Made Hery Santosa, S.Pd, M.Pd., Ph.D.; ., I Putu Ngurah Wage Myartawan, S.Pd., M.P
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.064 KB) | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.13459

Abstract

Perkembangan mobile technology telah mempengaruhi setiap aspek kehidupan manusia. Penggunaan mobile technology seperti smartphone dan tablet dalam pendidikan akan mengatasi masalah keterbatasan kesempatan dalam belajar bahasa Inggris di negara-negara dimana bahasa Inggris merupakan bahasa asing. Dengan menggunakan smartphone, siswa dapat mengakses informasi dan mengembangkan informasi tersebut kapanpun dan dimanapun serta membentuk komunitas belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi siswa kelas sepuluh terhadap penggunaan smartphone dalam belajar bahasa Inggris (Mobile Assisted Language Learning/MALL) dan membandingkan persepsi antara siswa yang mempunyai smartphone dengan siswa yang tidak memiliki smartphone di kabupaten Buleleng. 174 siswa di enam sekolah di kabupaten Buleleng digunakan sebagai sampel penelitian. Kuisioner di Unified Theory of Accept and Use Technology (UTAUT) dikembangkan dan digunakan sebagai instrument dalam mengumpulkan data. Persepsi siswa terhadap penggunaan smartphone dalam belajar bahasa Inggris di pengaruhi oleh tiga dimensi yaitu Performance Expectancy, Effort Expectancy, dan Social Influence. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa siswa kelas sepuluh di kabupaten Buleleng mempunyai persepsi yang positif terhadapa penggunaan smartphone dalam belajar bahasa Inggis. Siswa yang mempunyai smartphone cendrung mempunyai persepsi yang lebih positif dari pada siswa yang tidak mempunyai gadget. Dalam penelitian ini, Performance Expectancy adalah factor yang paling kuat dalam menentukan persepsi siswa. Jadi dapat diimplikasikan bahwa pembelajaran bahasa Inggris harus lebih sering mengintegrasikan penggunaan smartphone untuk meningkatkan fungsi dari smartphone dalam mendukung pembelajaran bahasa Inggris. Kata Kunci : Persepsi, Mobile technology, m-learning, MALL, UTAUT. The characteristics of today’s mobile technology (Smartphone) which are wireless, personal, networking, and ubiquitous have influence every aspect of human life. Using mobile technology in learning would decrease learning English problems in EFL setting, including lack of opportunity to learn. By using Smartphone, the learners could access information and develop it across space and connected to the others. This study aimed at investigating tenth grades students’ perception toward Mobile Assisted Language Learning (MALL) in learning English and comparing the perception between the students who had mobile technology and the students who had no mobile technology in Buleleng regency. This study was quantitative research design which employed Cross-sectional survey as the method. The study involved 174 tenth grades students in six schools in Buleleng regency. The questionnaire on Unified Theory of Accept and Use Technology (UTAUT) was developed and used as instrument of collecting data in this study. The students’ perception toward MALL respected to three dimensions of UTAUT theory (Performance Expectancy, Effort Expectancy, and Social Influence). As the result, tenth grades students in Buleleng regency had positive perception toward MALL in learning English. Students who had mobile technology tend to have more positive perception rather than students who had no mobile technology. This study also confirmed that Performance Expectancy was the stronger factor of students’ perception on MALL in learning English. Thus, MALL should be integrated in learning English process since it is perceived to be useful in students’ performance in learning English. keyword : Perception, Mobile technology, m-learning, MALL, UTAUT.
Teachers' and Students' Perception on the Use of ICT Based Interactive Game in 4th Grade of Elementary School in Sukasada District in Academic Year 2016/2017 ., Luh Putu Yogi Indah Purnami; ., Dra.Ni Made Ratminingsih, MA; ., Putu Eka Dambayana S., S.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.11497

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meneliti persepsi guru dan siswa kelas 4 sekolah dasar dalam menggunakan Permainan Interaktif berbasis ICT. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan survey sebagai metode penelitian. Populasi dari penelitian ini adalah enam guru Bahasa Inggris dan 179 siswa kelas 4 sekolah dasar di Gugus IV dan V di Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, tahun ajaran 2016/2017. Sekolah yang digunakan antara lain SD Negeri 1 Sukasada, SD Negeri 2 Sukasada, SD Negeri 3 Sukasada, SD Negeri 1 Panji, SD Negeri 2 Panji, and SD Negeri 3 Sambangan. Penelitan ini menggunakan sampel jenuh untuk menentukan sampel penelitian, dimana seluruh populasi menjadi sampel dalam penelitian ini. Data diperoleh melalui penyebaran kuisioner yang diukur dengan 3-point Likert scale. Data yang diperoleh dari guru adalah persepsi guru dalam menggunakan Permainan Interaktif berbasis ICT sebagai media pembelajaran. Sementara itu, data yang diperoleh dari siswa berupa persepsi siswa dalam menggunakan Permainan Interaktif berbasis ICT dalam motivasi belajar siswa dan prestasi siswa dalam belajar Bahasa Inggris. Hasil dari data yang diperoleh kemudian di analisis untuk mendapatkan persentase dari kuisioner. Temuan hasil analisis menunjukkan 99,17% guru setuju dengan penggunaan Permainan Interaktif berbasis ICT sebagai media pengajaran. Selanjutnya, 81,92% siswa setuju dengan penggunaan Permainan Interaktif berbasis ICT pada motivasi belajar siswa dan 79,17% pada prestasi belajar Bahasa Inggris siswa. Temuan ini berarti bahwa guru Bahasa Ingris dan siswa kelas 4 sekolah dasar di Gugus IV dan V di Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, tahun ajaran 2016/2017memiliki persepsi positif terhadap penggunaan Permainan Interaktif berbasis ICT.Kata Kunci : motivasi belajar, permainan interaktif berbasis ICT, persepsi, prestasi belajar Bahasa Inggris The study aimed at investigating elementary school English teachers’ and 4th grade students’ perception on the use of ICT based Interactive Game. This was a quantitative research with survey as the research method. The population was six English teachers and 179 4th grade students from six elementary schools in cluster IV and V in Sukasada District, Buleleng Regency in academic year 2016/2017. The schools were SD Negeri 1 Sukasada, SD Negeri 2 Sukasada, SD Negeri 3 Sukasada, SD Negeri 1 Panji, SD Negeri 2 Panji, and SD Negeri 3 Sambangan. This research administered saturated sampling to determine the sample, in which all members of the population became the sample of the study. The data were collected by using questionnaire measured by 3-point Likert scale. The data collected from the English teachers were the teachers’ perception on the use of ICT based Interactive Game as teaching media. Meanwhile, the data collected from the students were students’ perception on the use of ICT based Interactive Game on their learning motivation and English learning achievement. The result of the derived data were analyzed by using Microsoft Office Excel in order to find the percentages and averages of each dimension of the questionnaires. The findings showed that 99.17% teachers agreed on the use of ICT based Interactive Game as teaching media. Furthermore, 81.92% students agreed on the use of ICT based Interactive Game on learning motivation and 79.17% on English learning achievement. It means that elementary school English teachers and 4th grade students in cluster IV and V in Sukasada District in academic year 2016/2017 had positive perception on the use of ICT based Interactive Game.keyword : English learning achievement, ICT based Interactive Game, learning motivation, perception
THE EFFECT OF DIARY WRITING METHOD ON STUDENTS' WRITING COMPETENCY IN RECOUNT TEXT ON THE EIGHTH GRADE STUDENTS OF SMP NEGERI 3 MANGGIS IN THE ACADEMIC YEAR 2017/2018 ., Ni Wayan Erarani; ., Dra. Luh Putu Artini, MA., Ph.D.; ., Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12276

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh signifikan dari penerapan metode menulis diari terhadap kompetensi menulis teks recount siswa kelas VIII di SMP Negeri 3 Manggis tahun ajaran 2017/2018.. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan menggunakan posttest-only control group design. Sample penelitian ini adalah 36 orang siswa kelas VIII G yang digunakan sebagai kelompok kontrol dan 36 orang siswa kelas VIII F yang digunakan sebagai kelompok eksperimen. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes tulis. Data yang didapatkan kemudian dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan analisis inferensial. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai rata-rata kelompok eksperimen adalah 76.05, sedangkan nilai rata-rata kelompok kontrol adalah 68.13. Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa nilai dari thitung lebih besar dari nilai ttabel (4.895 > 1.994). Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh signifikan dari metode menulis diari terhadap kompetensi menulis teks recount siswa kelas VIII di SMP Negeri 3 Manggis tahun ajaran 2017/2018. Kata Kunci : metode menulis diari, kompetensi menulis This research was aimed to investigate whether there was a significant effect of diary writing method on students’ writing competency in recount text on the eighth grade students of SMP Negeri 3 Manggis. The present study was an experimental research which used posttest-only control group design. The samples of this study were class VIII F and VIII G, where class VIII F consisted of 36 students as the experimental group and VIII G consisted of 36 students as the control group. The instrument used for collecting data in this study was writing test. The data were analyzed by using descriptive analysis and inferential analysis. The result of the study showed that the mean score of the experimental group was 76.05, while the mean score of the control group was 68.13. The result of the hypothesis testing showed that the value of t – observed (tobs ) was higher than the value of t – critical value (tcv) (4.895 > 1.994). Based on the result, it can be concluded that there was a significant effect of diary writing method on students’ writing competency in recount text on the eighth grade students of SMP Negeri 3 Manggis in the academic year 2017/2018. keyword : diary writing method, writing competency
APOLOGY ACTS AMONG EFL STUDENTS AT SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 1 BATURITI ., PUTU NITA YULIANI; ., Prof. Dr. Dewa Komang Tantra, M.Sc.; ., A.A. Gede Yudha Paramartha, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.32 KB) | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.15168

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk 1) menguji bentuk-bentuk dari tindak lokusi dan perlokusi permintaan maaf dan menginvestigasi strategi-strategi tindak lokusi dan perlokusi permintaan maaf yang digunakan oleh siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Baturiti. Penelitian in merupakan penelitian deskriptif qualitatif yang mana data dikumpulkan berupa kalimat. Subjek dari penelitian ini adalah 30 orang siswa kelas sebelas di SMA Negeri 1 Baturiti. Data dikumpulkan pengamatan. Data yang didapatkan dianalisis menggunakan teori dari Nordquist (2018) tentang bentuk (struktur kalimat dan tipe kalimat), teori dari Cohen & Olshtain’s (1983) tentang strategi tindak lokusi (permintaan maaf langsung dan tidak langsung) dan teori dari Holmes (1995) tentang strategy merespon permintaan maaf. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk-bentuk tindak lokusi permintaan maaf siswa yang paling sering digunakan adalah kalimat sederhana dan kalimat positif, sedangkan tindak perlokusi permintaan maaf yang yang paling sering digunakan oleh siswa adalah kalimat sederhana dan kalimat positif. Dalam strategi tindak lokusi permintaan maaf, siswa paling sering menggunakan permintaan maaf secara langsung. Sedangkan, dalam strategi tindak perlokusi, siswa paling sering mengunakan menerima dan memberi jawaban ambigu. Namun tidak ada satupun siswa yang menggunakan penolakan dalam merespon permintaan maaf. Kata Kunci : bentuk, permintaan maaf, strategi, tindak lokusi dan perlokusi This study aimed to 1) examine the locutionary and perlocutionary acts forms of apology and 2) investigated the locutionary and perlocutionary acts strategies of apology used by the students of Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Baturiti. This study was descriptive qualitative research which data were collected in the form of sentences. The subject of this research was 30 in eleventh grade students of SMA Negeri 1 Baturiti. The data were collected by observing. The data was analyzed by using Nordquists (2018) theory about form (sentence structure and sentence type), Cohen & Olshtain’s (1983) theory about locutionary acts strategy (direct and indirect apoloy) and Holmes’ (1995) theory about responding strategy. The finding shows that students’ locutionary acts forms of apology were frequently using simple and positive sentences, meanwhile the perlocutionary acts forms of apology were also frequently using simple and positive sentences. In addition, the most frequently used strategy by the students was direct apology in locutionary acts. Meanwhile, the most frequently used strategy by students was accept and evade in perlocutionary acts. However there was no one of the students used reject in responding an apology. keyword : apology, form, locutionary and perlocutionary acts, strategy
AN ANALYSIS OF CODE SWITCHING AS COMMUNICATION STRATEGY USED BY STUDENT TEACHERS IN TEACHING ENGLISH AS A FOREIGN LANGUAGE AT SMP N 2 SAWAN IN ACADEMIC YEAR 2016/2017 ., Ida Ayu Made Dwi Srawasti; ., Prof. Dr.I Ketut Seken,MA; ., I Putu Indra Kusuma, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.11517

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tipe dari alih kode bahasa, fungsi dari alih kode bahasa, dan alasan menggunakan alih kode bahasa yang digunakan oleh guru PPL sebagai strategi komunikasi dalam mengajar Bahasa Inggris sebagai bahasa asing di SMP N 2 Sawan pada tahun ajaran 2016/2017. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif. Subjek pada penelitian ini adalah guru PPL Bahasa Inggris. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah perekam suara, perekam video, lembar observasi, dan panduan wawancara. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa ada tiga tipe dari alih kode bahasa yang digunakan oleh guru PPL. Ketiga tipe tersebut adalah inter-sentential alih kode bahasa sebagai alih kode bahasa yang paling sering digunakan oleh guru PPL Bahasa Inggris, yang kedua adalah intra-sentential alih kode bahasa, dan yang selanjutnya adalah interpersonal alih kode bahasa. Fungsi dari alih kode bahasa yang digunakan oleh guru PPL Bahasa Inggris adalah pengaturan giliran, menekankan informasi tertentu, meminta informasi lebih lanjut, menarik perhatian, leksikalisasi, meminta klarifikasi, membuat klarifikasi, permainan sosiolinguistik, memberikan instruksi, memberikan penjelasan yang lebih jelas, memberikan kesempatan, mengkonfirmasi jawaban siswa, dan memberi perintah. Selanjutnya, alasan menggunakan alih kode bahasa yang digunakan oleh guru PPL Bahasa Inggris adalah membicarakan suatu topik, menegaskan sesuatu, menyisipkan, pengulangan yang digunakan untuk klarifikasi, maksud untuk menjelaskan isi pembicaraan kepada pendengar, meningkatkan motivasi belajar siswa, membantu siswa untuk menangkap informasi lebih mudah, menciptakan atmosfir belajar yang menyenangkan, membantu guru untuk memberikan penjelasan yang jelas, dan membantu guru untuk menarik perhatian siswa. Kata Kunci : alih kode bahasa, guru mahasiswa, strategi komunikasi, Bahasa Inggris sebagai bahasa asing This study aimed at analyzing the types of code switching, the functions of code switching, and the reasons for using code switching by English student teachers as communication strategy in teaching English as a foreign language at SMP N 2 Sawan in academic year 2016/2017. This study used qualitative research design. The subject of this study is English student teachers. The instruments used in this study are tape recorder, video recorder, observation sheet, and interview guide. The result of this study shows that there are three types of code switching used by English student teachers. Those types are inter-sentential code switching as the most dominant types used by English student teachers, the second was intra-sentential code switching and then followed by interpersonal code switching. The functions of code switching used by English students teachers were regulating turn taking, emphasizing certain information, asking further information, gaining the attention, lexicalization, asking for clarification, making clarification, sociolinguistics play, giving instruction, giving clearer explanation, giving chance, confirming students answer, confirming students’ understanding, and giving command. Furthermore, the reasons of code switching used by English student teachers were talking about particular topic, being emphatic about something, interjection, repetition used for clarification, intention to clarify the speech content for the interlocutor, increasing students’ motivation in learning English, helping students to catch the information easily, creating fun learning atmosphere, helping the teachers in giving clear explanation, and helping the teachers in attracting students’ attention. keyword : code switching, student teachers, communication strategy, English as a foreign language
A Descriptive Analysis of Slang Words Used in "Step Up: All In" Movie ., Luh Nik Sudiyanti; ., Drs. I Wayan Suarnajaya,MA., Ph.D.; ., I Wayan Swandana, S.S., M.Hum.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.834 KB) | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.13585

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang berusaha menemukan jenis-jenis slang dan mengamati fungsi-fungsi slang yang digunakan dalam film "Step Up: All In". Teori dari Allan dan Burridge (2006) tentang jeni-jenis slang dan teori dari Hymes tentang etnografi berbicara digunakan sebagai pedoman. Sehubungan dengan tujuan pertama, ada empat jenis-jenis slang yang ditemukan dalam film ini, yaitu fresh and creative, flippant, imitative, dan clipping. Penggunaan imitative mendominasi jenis slang yang digunakan pada film ini, dikarenakan pembicara tidak memerlukan pengetahuan tertentu dan dapat membuat slang jenis ini dengan mudah dengan meniru kata-kata yang sudah ada dan menyederhanakannya. Merujuk pada tujuan kedua, ada enam fungsi-fungsi slang yang ditemukan dalam film ini, yaitu to address, to form intimate atmosphere, to initiate relax conversation, to show impression, to show intimacy, dan to humiliate. Adapun, fungsi yang memiliki frekuensi paling tinggi adalah to address dan to initiate relax conversation. Dalam situasi informal, orang cederung menggunakan kata-kata slang untuk menciptakan suasana yang lebih santai dimana percakapan mereka dapat berjalan dengan lancar. Tujuan dari menggunakan kedua fungsi ini adalah untuk menjaga hubungan dekat mereka. Sebagai hasil, kedua fungsi ini dominan digunakan oleh karakter dalam film ini. Kata Kunci : deskriptif analisis, kata-kata slang, film This research is a descriptive qualitative research which attempts to find out slang types and observe slang functions used in “Step Up: All In” movie. The theory from Allan and Burridge (2006) about slang types and the theory from Hymes (1989) about ethnography of speaking were used as guidelines. Regarding to the first objective, there are four types of slang found in this movie, such as fresh and creative, flippant, imitative, and clipping. The occurrence of imitative dominates the slang type used in this movie, since the speakers do not require certain knowledge and can make this slang type easily by imitating the existing words and simplifying them. Referring to the second objective, there are six functions of slang discovered in this movie, such as to address, to form intimate atmosphere, to initiate relax conversation, to show impression, to show intimacy, and to humiliate. Therefore, the functions which have high frequency are to address and to initiate relax conversation. In informal situation, people tend to use certain kinds of addresses in addressing their close friends and use slang words since they want to create relax condition in which their conversation can run smoothly. The purpose of using these two functions is to maintain their close relationship. As a result these two functions are dominantly used by the characters in this movie.keyword : descriptive analysis, slang words, movie
THE EFFECT OF RECIPROCAL QUESTIONING STRATEGY COMBINED WITH NUMBERED HEADS TOGETHER ON READING COMPREHENSION OF THE EIGHTH GRADE STUDENTS IN SMP NEGERI 2 SINGARAJA ., Ni Luh Ersiana Wati; ., Made Hery Santosa, S.Pd, M.Pd., Ph.D.; ., G.A.P. Suprianti, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.572 KB) | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.13606

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui keefektifan dari strategi reciprocal questioning yang dikombinasikan dengan numbered heads together pada pemahaman membaca siswa kelas delapan di SMP Negeri 2 Singaraja. Penelitian ini menggunakan pendekatan experiment dengan design post – test. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 2 Singaraja yang dimana populasi dari penelitian ini adalah kelas delapan tahun ajaran 2017/2018 di SMP Negeri 2 Singaraja. Sample dari penelitian ini berjumlah 73 siswa yang diambil menggunakan random sampling. Data dari penelitian ini diambil dengan tes pemahaman membaca yang diberikan kepada siswa dalam bentuk objectives test. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji – T di SPSS 24. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa strategi reciprocal questioning yang dikombinasikan dengan numbered heads together efektif digunakan dalam pemahaman membaca siswa kelas delapan di SMP Negeri 2 Singaraja. Hasil dari uji – T yang dianalisis dengan menggunakan SPSS 24 menunjukan nilai signifikansi 0.027. Nilai tersebut kurang dari 0.05. Dalam uji effect size keefektifan dari strategi reciprocal questioning yang dikombinasikan dengan numbered heads together dikategorikan medium dengan nilai 0.5. Jadi dapat disimpulkan bahwa strategi reciprocal questioning yang dikombinasikan dengan numbered heads together efektif digunakan pada pemahaman membaca siswa kelas delapan yang dikategorikan medium.Kata Kunci : numbered heads together, pemahaman membaca, strategi recirpcal questioning This study was aimed at investigating whether there is a significant effect of reciprocal questioning strategy combined with numbered heads together on reading comprehension of the eighth grade students in SMP Negeri 2 Singaraja. This study was an experimental study. The design of this study was post – test only control group design. This study was conducted in SMP Negeri 2 Singaraja. The population of this study was the eighth grade students in SMP Negeri 2 Singaraja in academic year 2017/2018 with the sample of 73 students who were selected by using random sampling. The data were collected using reading comprehension test which given to the students in the form of objectives test. The data were analyzed by using independent samples test assisted with SPSS 24. The result showed that there is an effect of reciprocal questioning strategy combined with numbered heads together on reading comprehension of the eighth grade students in SMP Negeri 2 Singaraja. The result of independent samples test shows significant value was 0.027. It did not exceed 0.05. In effect size analysis, the result was 0.5. It is categorized as medium. It means that the effect of reciprocal questioning strategy combined with numbered heads together is categorized as medium.keyword : numbered heads together, reading comprehension, reciprocal questioning strategy
Developing Big Book as Media for Literacy Program at Second Grade Students of Elementary School in SD Laboratorium UNDIKSHA ., Ketut Ady Ananta; ., Prof. Dr. Putu Kerti Nitiasih, M.A.; ., Ni Wayan Surya Mahayanti, S.Pd.,M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.165 KB) | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.13638

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan Big Book berbasis karakter sebagai media pengajaran bahasa inggris siswa kelas dua SD di SD Laboratorium UNDIKSHA Singaraja. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas dua SD Laboratorium UNDIKSHA Singaraja. Data diperoleh dengan menggunakan beberapa instrumen penelitian, seperti lembar observasi, pedoman wawancara, kuesioner guru, kuesioner siswa, dan rubrik. Model desain Sugiyono (2011) digunakan sebagai prosedur penelitian saat ini. Data yang diperoleh dianalisis secara kuantitatif maupun kualitatif. Data dianalisis dengan menggunakan persentase frekuensi, kemudian dijelaskan secara kualitatif. Dari hasil tersebut, media baru dikembangkan, dinilai oleh para ahli, direvisi, dicoba, dianalisis dan dikategorikan ke skala rating tertentu. Dari hasil buku besar yang dikembangkan adalah "Get Dressed", "Days of the week", "Greeting", "Little Dog" Doggy ". Buku besar itu bisa digunakan secara efektif di sekolah dan media yang dikembangkan dikategorikan sebagai media yang sangat baik. Kata Kunci : Big book, pegembangan media, pembelajaran usia dini, pendidikan karakter This study aimed to develop character based Big Book as a media for literacy program at second grade students of elementary school in SD Laboratorium UNDIKSHA Singaraja.the subject of this study was second grade students in SD Laboratorium UNDIKSHA Singaraja. The data were gained by using some research instrument, such as observation sheet, interview guide, teacher questionnaire, students’ questionnaire, and rubric. Sugiyono (2011) design model was employed as the present research procedure. The data obtain were analyzed quantitatively as well as qualitatively. The data were analyzed by using percentage of frequency, then, described qualitatively. From the result, the new media were developed, judged by the experts, revised, tried out, analyze and categorized to certain rating scale. From the result the big book developed are “Get Dressed”, “Days of the week”, “Greeting”, “Little dog “Doggy”. The big book could be used effectively in schools and the media developed were categorized as excellent media.keyword : big book, character education, media development, teaching young learners
AN ANALYSIS OF POLITENESS PRINCIPLES USED BY THE CANDIDATES DURING 2ND ROUND DKI JAKARTA GOVERNOR ELECTION DEBATE IN 2017 ., Ni Wayan Ria Candra; ., Prof. Dr.I Nyoman Adi Jaya Putra, M.A.; ., Dr. Dewa Putu Ramendra, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12401

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis prinsip kesopanan yang digunakan oleh kandidat pada putaran kedua debat pemilihan gubernur DKI Jakarta, meyelidiki alasan dari penggunaan prinsip kesantunan jenis tertentu yang paling sering digunakan oleh kedua kandidat dan menganalisis implikasi dari jenis prinsip kesantunan yang digunakan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Data dianalisis berdasarkan prinsip kesopanan yang diusulkan oleh Leech (1983) dan klasifikasi tindakan ilokusi diusulkan berdasarkan Searle (1975) yang dikutip oleh Leech (1983). Data diambil dari transkripsi video putaran kedua debat pemilihan gubernur DKI Jakarta. Jumlah data yang ditemukan sebanyak 195 yang mengandung prinsip kesopanan dari kedua kandidat. Instrumen utama penelitian ini adalah peneliti itu sendiri dan peneliti meminta triangulator untuk menilai data untuk mendapatkan hasil terpercaya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hanya ada lima jenis prinsip kesopanan yang ditemukan dalam kedua pernyataan kandidat tersebut, yaitu: tact maxim, generosity maxim, modesty maxim, approbation maxim dan agreement maxim. Kedua kandidat sering kali melanggar penggunaan maksim. Pelanggaran maksim kebijaksanaan secara dominan digunakan oleh subjek I, sementara pelanggaran maksim kebijaksanaan sering digunakan oleh subjek II. Semua jenis tindakan ilokusi ditemukan di kedua pernyataan kandidat. Pernyataan asertif dominan digunakan oleh subjek I, sementara subjek II cenderung menggunakan pernyataan komisif. Oleh karena itu, alasan penggunaan prinsip kesopanan tertentu mengacu pada penggunaan tindakan ilokusi. Subjek I memaksimalkan pujian untuk dirinya dengan menyatakan program terbaik yang telah dilakukannya, sementara subjek II memaksimalkan untuk merugikan lawannya dengan mengungkapkan kesalahan subjek I dan kemudian memberikan penawaran tentang program barunya. Memberikan pernyataan komisif nyatanya lebih efektif untuk mendapat perhatian publik karena mereka ingin mendapatkan harapan baru.Kata Kunci : prinsip kesopanan, tindakan ilokusi, putaran 2 debat pemilihan DKI Jakarta This research aimed to identify the types of politeness principles used by candidates during 2nd round of DKI Jakarta governor election debate, investigate the reason of a particular type of politeness principles more frequently used by both candidates and analyse the implications of type of politeness principles used. This research employed descriptive qualitative research. The data were analysed based on Politeness Principle proposed by Leech (1983) and the classification of illocutionary acts was based on Searle (1975) cited by Leech (1983). The data were taken from transcription of 2nd round of DKI Jakarta governor election debate video. The total number of the data found were 195 containing politeness principles from both candidates. The main instrument of this research was the researcher herself and the researcher asked the triangulator to assess the trustworthiness of the data. The result of this research showed that there were five types of politeness principle found in both candidates’ statements, they were: tact maxim, generosity maxim, modesty maxim, approbation maxim and agreement maxim. Both candidates often flouted the use of maxims. Flouting modesty maxim was dominantly used by subject I, while flouting tact maxim was dominantly used by subject II. All types of illocutionary acts found in both candidates’ statements. The assertive were dominantly used by subject I, while subject II tended to use commisives. Therefore, the reason of the use particular politeness principles was referred to the use of illocutionary acts. Subject I maximized praise of himself by stating his best program that had been done, while subject II maximized cost of his opponent by exposing subject I’s mistakes and then gave an offer about his new program. In fact, giving commisives statements were more effective to get public’s attention since they wanted to get a new hope.keyword : politeness principles, illocutionary acts, 2nd round DKI Jakarta election debate

Page 7 of 18 | Total Record : 180