cover
Contact Name
Tri Wardhani
Contact Email
twd@widyagama.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
agrika@widyagama.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
AGRIKA
Published by Universitas Widyagama
ISSN : 19075871     EISSN : 25416529     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agrika mempublikasikan hasil-hasil penelitian dalam bidang ilmu pertanian meliputi penelitian di bidang budidaya pertanian, agrobisnis dan teknologi pengolahan hasil pertanian, juga menginformasikan berbagai paket teknologi, ulasan ilmiah, komunikasi singkat dan informasi pertanian.
Arjuna Subject : -
Articles 20 Documents
Search results for , issue "Vol. 19 No. 2 (2025): NOVEMBER 2025" : 20 Documents clear
PENGARUH INSEKTISIDA NABATI DAN TEKNIK APLIKASI TERHADAP MORTALITAS HAMA ULAT GRAYAK (Spodoptera frugiperda J.E. Smith) Ardiansyah, Ardiansyah; Mulyani, Cut; ., Rosmaiti
Agrika Vol. 19 No. 2 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v19i2.6607

Abstract

Ulat grayak (Spodoptera frugiperda J.E. Smith) dapat menyebabkan penurunan hasil yang signifikan jika tidak ditangani dengan segera dan tepat. Pengendalian hama S. frugiperda dapat dilakukan menggunakan senyawa kimia alami dari tumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh insektisida nabati dan teknik aplikasi terhadap larva ulat grayak. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap faktorial (RAL) yang terdiri dari 2 faktor yaitu jenis insektisida nabati dan teknik aplikasi. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis varians (Anova), kemudian dilanjutkan dengan Uji Duncan (DMRT) dengan taraf 5%. Hasil menunjukkan bahwa interaksi jenis insektisida nabati dan teknik aplikasi berpengaruh nyata pada  pengamatan 1 HSA dan berpengaruh sangat nyata pada  pangamatan 2 HSA terhadap persentase mortalitas larva S. frugiperda tetapi tidak berpengaruh nyata pada  pengamatan 3, 4 dan 5 HSA. Hasil terbaik diperoleh pada  perlakuan ekstrak kombinasi daun pepaya dan bawang putih dengan teknik aplikasi pakan direndam (I3A2). Perlakuan jenis insektida nabati berpengaruh sangat nyata terhadap persentase pupa yang terbentuk dan persentase imago yang muncul. Perlakuan terbaik jenis insektisida nabati adalah daun pepaya dan bawang putih (I3) yang mampu membunuh larva S. frugiperda sebesar 100%. Perlakuan teknik aplikasi terbaik adalah pakan direndam (A2) yang mampu menekan 75% mortalitas larva S. frugiperda.
PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN SELADA (Lactuca sativa L.) DENGAN SISTEM AEROPONIK VERTIKAL HEKSAGONAL PADA BERBAGAI INTERVAL WAKTU PENYIRAMAN Wibisono, Ari; Suhardjono, Hadi; Suryandika, Fadila
Agrika Vol. 19 No. 2 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v19i2.6808

Abstract

Aeroponik merupakan salah satu teknologi pada budidaya  secara urban farming. Tanaman selada (Lactuca sativa L.) merupakan salah satu jenis tanaman sayuran yang sangat cocok dibudidayakan menggunakan sistem aeroponik. Sistem aeroponik yang tepat juga dapat mendukung pertumbuhan dan hasil tanaman selada. Sistem aeroponik juga memiliki faktor penting yaitu interval waktu penyemprotan. Pada tanaman selada, interval waktu penyemprotan yang jaraknya terlalu singkat dapat menyebabkan akar tanaman menjadi busuk karena terkena larutan nutrisi dalam waktu yang lama. Sebaliknya, interval waktu penyemprotan yang jaraknya terlalu lama dapat menyebabkan tanaman kekurangan air dan nutrisi, sehingga pertumbuhannya terhambat. Oleh karena itu penelitian yang mengkaji interval waktu penyemprotan pada model instalasi aeroponik vertikal heksagonal perlu dilakukan. Penelitian dilaksanakan di Greenhouse Fakultas Pertanian UPN “Veteran” Jawa Timur, Kecamatan Gunung Anyar, Kota Surabaya. Perlakuan diaplikasin menggunakan pompa yang diatur interval waktu semprotnya. Waktu penyemprotan terdiri dari 3 macam waktu yaitu I1: menyala selama 24 jam (non Stop); I2: 5 menit menyala (on), 5 menit mati (off); I3: 5 menit menyala (on), 10 menit mati (off). Hasil penelitian menunjukkan Perlakuan interval waktu penyemprotan berpengaruh nyata pada beberapa parameter antara lain jumlah daun, berat segar dan berat kering. Interval waktu penyemprotan I2 (5 menit menyala (on); 5 menit mati (off)) memiliki nilai tertinggi pada jumlah daun, berat segar dan berat kering, tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan I1 (menyala selama 24 jam (non stop)). Interval waktu penyemprotan I2 (5 menit menyala (on); 5 menit mati (off)) menjadi interval waktu penyemprotan terbaik pada budidaya selada dengan sistem aeroponik vertikal heksagonal.
IDENTIFIKASI MORFOLOGI BUAH PADA GENOTIPE CABAI RAWIT HASIL IRADIASI SINAR GAMMA Gumelar, Rima; Setyowati, Ratih; Nabila, Nailan; Huda, Amalia Nurul; Mumtaza, Suha Ra Idah
Agrika Vol. 19 No. 2 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v19i2.6823

Abstract

Upaya meningkatkan produksi cabai rawit untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat perlu terus dilakukan. Salah satu cara yang dapat dilakukan yaitu dengan perakitan varietas baru cabai rawit berdaya hasil tinggi melalui kegiatan pemuliaan tanamanPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi morfologi buah pada cabai rawit hasil iradiasi sinar gamma. Indentifikasi atau karakterisasi penting untuk dilakukan karena informasi dari kegiatan tersebut akan membantu pemulia dalam mengidentifikasi dan memahami perbedaan karakter diantara genotipe. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Wedomartani Fakultas Pertanian UPN Veteran Yogyakarta, mulai bulan Juli 2023 sampai Januari 2024. Bahan genetik yang digunakan yaitu 87 genotipe M1 cabai rawit dan 2 varietas pembanding. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu Rancangan Bersekat (Augmented Design) dengan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) sebagai rancangan lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan keragaman pada karakter kuantitatif maupun kualitatif. Genotipe KL1-46 memiliki diameter buah, tebal daging buah, panjang buah, bobot/buah, jumlah buah/tanaman, dan bobot buah/tanaman nyata lebih tinggi dibandingkan dengan kedua varietas pembanding. Beberapa genotipe M1 cabai rawit juga menunjukkan perbedaan dengan varietas pembanding pada karakter kualitatif bentuk buah, lengkung keriting buah, penampang melintang buah, bentuk ujung buah, dan warna buah tua. Sementara itu, hasil analisis klaster membagi genotipe-genotipe yang diamati dalam 5 klaster.
PENGARUH PEMBERIAN IAA DAN BAP TERHADAP WAKTU MUNCUL TUNAS TANAMAN PULE PANDAK (Rauvolfia serpentina) SECARA IN VITRO Pribadi, Nathasya Yusvie; Nugrahani, Pangesti; Makhziah, Makhziah
Agrika Vol. 19 No. 2 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v19i2.6839

Abstract

Rauvolfia serpentina merupakan tanaman obat yang memiliki berbagai manfaat farmakologis, terutama dalam mengatasi hipertensi, gangguan saraf, dan insomnia. Populasi tanaman ini semakin menurun akibat kesulitan perkecambahan dan eksploitasi bagian akar sebagai bahan obat. Penelitian ini bertujuan mengoptimalkan multiplikasi tunas pule pandak melalui kultur jaringan dengan kombinasi zat pengatur tumbuh (ZPT) indole-3-acetic acid (IAA) dan 6-benzylaminopurine (BAP). Rancangan yang dipergunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari dua faktor perlakuan yaitu IAA (0.0, 0.5, 1.0, dan 1.5 mg/l) dan BAP (0, 1, 2, dan 3 mg/l). Parameter yang diamati meliputi persentase hidup, waktu muncul tunas, dan waktu muncul daun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi nyata pada kombinasi antara perlakuan IAA dan BAP pada waktu muncul daun. Kombinasi perlakuan 1.0 mg IAA dengan 2 ppm + 3 ppm BAP serta 1.5 ppm IAA + 1 ppm , 2 ppm dan 3 ppm BAP mengakibatkan daun muncul paling cepat, berturut-turut sebesar 15.33, 1567, 15.67, 16.00 dan 14.67 hari.  Sementara itu tidak terdapat interaksi nyata antara perlakuan IAA dan BAP pada parameter persentase hidup dan waktu muncul tunas. Persentase hidup akibat perlakuan 0.5 mg/l dan 1.5 mg/l lebih besar dibanding tanpa IAA, berturut-turut sebesar 86.22%, 83.33% dan 69.44%, sementara semua pemberian konsentrasi BAP mengakibatkan persentase hidup yang lebih tinggi dibanding tanpa BAP. Waktu muncul tunas tercepat diakibatkan perlakuan tunggal 1.0 ppm IAA, yaitu 16.66 hari, juga diakibatkan perlakuan 2 dan 3 ppm BAP, selama 16.00 dan 16.00 hari.
PENGARUH BEBERAPA KONSENTRASI Streptomyces sp. TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN Sclerotium rolfsii PENYEBAB PENYAKIT BUSUK BATANG TANAMAN KACANG TANAH (Arachis hypogaea L.) Ersyaf, Ihza Muhammad; Mujoko, Tri; Wiyatiningsih, Sri
Agrika Vol. 19 No. 2 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v19i2.6844

Abstract

ABSTRAK Sclerotium rolfsii adalah salah satu patogen yang tergolong penting pada tanaman kacang tanah. Upaya pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan kandungan senyawa antibiotik Streptomyces sp. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penghambatan Streptomyces sp. terhadap S. rolfsii. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) skala in-vitro dan in-vivo dengan perlakuan konsentrasi 5%, 10%, 15%, 20%, dan 25%. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh perlakuan konsentrasi Streptomyces sp. terhadap pertumbuhan S. rolfsii pada skala in-vitro tetapi pada skala in-vivo aplikasi perlakuan belum sepenuhnya optimal. Aplikasi 25% menunjukkan hasil terbaik pada seluruh parameter dibanding konsentrasi lainnya pada skala in-vitro dan in-vivo.
PENGARUH KONSENTRASI PAKLOBUTRAZOL DAN KONSENTRASI PUPUK ORGANIK CAIR BONGGOL PISANG TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KACANG PANJANG (Vigna sinensis L.) Dinanti, Adisty Nerananda; Sulistyono, Agus; Makhziah, Makhziah
Agrika Vol. 19 No. 2 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v19i2.6846

Abstract

ABSTRAK Kacang panjang (Vigna sinensis L.) merupakan komoditas hortikultura yang sering dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia sebagai bahan pangan mengandung berbagai vitamin, mineral, serat, dan antioksidan yang bermanfaat untuk kesehatan tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi paclobutrazol dan konsentrasi POC bonggol pisang terhadap pertumbuhan dan hasil kacang panjang. Penelitian dilaksanakan di Desa Wiyoro, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur pada bulan September-Desember 2024. Penelitian disusun menggunakan Rancangan Petak Terbagi dengan 2 faktor. Faktor pertama atau petak utama adalah konsentrasi paclobutrazol dan faktor kedua atau anak petak adalah POC bonggol pisang Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi perlakuan paclobutrazol dan POC bonggol pisang berpengaruh nyata terhadap panjang tanaman kacang panjang, jumlah daun, waktu berbunga, dan jumlah bunga tetapi tidak berpengaruh nyata pada berat polong total/petak maupun berat polong total/hektar. Masing-masing perlakuan tunggal paclobutrazol konsentrasi 125 ppm dan 150 ppm dan konsentrasi POC bonggol pisang 400 ml/l, 600 ml/l dan 800 ml/l memberikan berat polong total/petak dan berat polong total/hektar yang terbanyak.
EFEKTIVITAS Streptomyces sp. SEBAGAI AGEN BIOREMEDIASI CEKAMAN PESTISIDA DI PERTANAMAN BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) KECAMATAN BAGOR KABUPATEN NGANJUK Lius, Michelle; Mujoko, Tri; Nirwanto, Herry
Agrika Vol. 19 No. 2 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v19i2.6847

Abstract

ABSTRAK Pestisida merupakan bahan beracun yang berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan hidup dan keanekaragaman hayati. Pengaplikasian pestisida secara langsung pada tanaman dapat meninggalkan residu yang berdampak pada kesehatan serta mengendap di dalam tanah dan menyebabkan kesuburan tanah terganggu. Bioremediasi merupakan pengembangan di bidang bioteknologi lingkungan yang memanfaatkan agen biologis untuk mengendalikan pencemaran.  Streptomyces sp. dapat menjadi agen bioremediasi yang membantu menurunkan nilai residu klorpirifos. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan Streptomyces sp. sebagai agen bioremediasi serta untuk mengetahui konsentrasi Streptomyces sp. yang efektif. Penelitian dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan kontrol atau tanpa Streptomyces sp., penambahan konsentrasi Streptomyces sp. 10 ml/100 ml aquades dan 20 ml/100 ml aquades. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi Streptomyces sp. pada tanah tercemar residu klorpirfos dengan konsentrasi 20 ml mampu menurunkan nilai residu klorpirifos sebanyak 94% yaitu dari 1.08 ppm menjadi 0.06 ppm dalam waktu 21 hari.    
RESPON PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN JAGUNG PULUT UNGU (Zea mays ceratina L.) TERHADAP PEMBERIAN KONSENTRASI PACLOBUTRAZOL DAN DOSIS PUPUK KCl Rajagukguk, Via Clarita; Sulistyono, Agus; Djarwatiningsih, Djarwatiningsih
Agrika Vol. 19 No. 2 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v19i2.6848

Abstract

Kandungan unsur hara mempengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman jagung pulut ungu. Peningkatan produksi tanaman jagung pulut didukung oleh pemberian zat pengatur tumbuh (ZPT) dan pupuk KCl. ZPT Paclobutrazol diperlukan untuk meningkatkan kandungan klorofil, mengatur tinggi tanaman dan meningkatkan kekuatan struktural agar tahan cuaca ekstrem, sedangkan pupuk KCl penting untuk mendukung fotosintesis, pengisian biji, dan kualitas hasil. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui respon pertumbuhan dan hasil tanaman jagung pulut ungu terhadap pemberian konsentrasi ZPT paclobutrazol dan dosis pupuk KCl. Penelitian dilakukan di Desa Sekoto, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri, Jawa Timur pada bulan September-November 2024. Penelitian menggunakan rancangan petak terbagi (RPT) dengan petak utama konsentrasi paclobutrazol dan anak petak dosis pupuk KCl yang diulang sebanyak 3 kali. Petak utama adalah konsentrasi paclobutrazol (K) dengan 4 taraf perlakuan: 0 ppm (K0) (kontrol), 1250 ppm (K1), 1500 ppm (K2), 1750 ppm (K3). Sedangkan anak petak adalah dosis pupuk KCl (P) dengan 4 taraf perlakuan: 1.125 g/tanaman (75 kg/ha) (P1), 1.5 g/tanaman (100 kg/ha) (P2), 1.875 g/tanaman (125 kg/ha) (P3), dan 2.25 g/tanaman (150 kg/ha) (P4). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Interaksi perlakuan konsentrasi paclobutrazol dengan dosis pupuk KCl  memberikan respon yang bervariasi terhadap parameter yang diamati, antara lain panjang tanaman, jumlah daun, diameter batang, bobot tongkol berklobot/tanaman, bobot tongkol tanpa klobot/tanaman dan klorofil daun. Konsentrasi paclobutrazol 1750 ppm dengan dosis pupuk KCl 100 kg/ha memberikan hasil terbaik terhadap parameter bobot tongkol berklobot/tanaman sebesar 316.67 g dan bobot tongkol tanpa klobot/tanaman sebesar 251.67 g.  
UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK BAWANG PUTIH TERHADAP PERTUMBUHAN JAMUR PATOGEN Colletotrichum sp. SECARA IN VITRO Firmansyah, Moch Ryan; Purnawati, Arika; Mujoko, Tri
Agrika Vol. 19 No. 2 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v19i2.7270

Abstract

Peningkatan permintaan cabai di Indonesia diiringi dengan tantangan produksi, salah satunya adalah penyakit antraknosa yang disebabkan oleh Colletotrichum sp. Penyakit ini menurunkan hasil dan kualitas buah, dan umumnya dikendalikan dengan fungisida kimia. Penggunaan fungisida kimia menimbulkan risiko terhadap kesehatan dan lingkungan, sehingga diperlukan alternatif pengendalian hayati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak bawang putih sebagai agen hayati terhadap Colletotrichum sp. secara in vitro dan membandingkannya dengan fungisida propineb. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap faktorial (RALF) dengan dua faktor, yaitu jenis perlakuan (ekstrak bawang putih dan fungisida kimia) dan konsentrasi (5%, 10%, dan 15%). Parameter yang diamati meliputi diameter koloni, persentase hambatan, intensitas serangan pada buah, serta karakteristik makro dan mikroskopis jamur. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak bawang putih 15% mampu menghambat pertumbuhan jamur sebesar 38.73% dan intensitas serangan sebesar 21.33%, sedangkan fungisida propineb 5% menunjukkan hambatan tertinggi sebesar 78.43% dan intensitas serangan terendah sebesar 2.67%. Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak bawang putih memiliki potensi antijamur. namun efektivitasnya masih lebih rendah dibandingkan propineb.
ANALISIS KEMAMPUAN LAHAN BUKIT LAMBOSIR TAMAN NASIONAL GUNUNG CIREMAI KABUPATEN KUNINGAN, PROVINSI JAWA BARAT Naufal, Priya Pratista; Arifin, Moch.; Maroeto, M.; Wijaya , Kemal
Agrika Vol. 19 No. 2 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v19i2.7356

Abstract

Analisis kemampuan lahan dilakukan sebagai langkah pemanfaatan sumber daya lahan sesuai dengan kemampuannya. Penilaian terhadap kemampuan lahan menjadi sangat penting, terutama untuk merumuskan kebijakan pemanfaatan dan pengelolaan lahan secara berkelanjutan. Penelitian dilakukan untuk menganalisis kemampuan lahan di wilayah Bukit Lambosir, Taman Nasional Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Bukit Lambosir memiliki ketinggian 800-1200 m dpl merupakan kawasan dengan topografi bervariasi dan terdiri dari hutan rimba serta semak belukar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah Bukit Lambosir memiliki tiga kelas kemampuan lahan: kelas III (15.95%). kelas IV (67.99%). dan kelas VIII (16.05%). Faktor pembatas utama yang mempengaruhi kelas kemampuan lahan meliputi kemiringan lereng, kepekaan erosi, dan permeabilitas tanah. Lahan dengan kelas III dan IV memiliki potensi untuk pengelolaan terbatas, seperti penanaman tanaman semusim, tetapi memerlukan tindakan konservasi intensif, termasuk sistem terasering dan penambahan bahan organik. Sebaliknya, lahan kelas VIII disarankan untuk tetap dibiarkan dalam kondisi alaminya untuk tujuan konservasi. Penelitian ini memberikan informasi penting tentang potensi yang dimiliki wilayah Bukit Lambosir, meskipun adanya pembatasan aktivitas masyarakat akibat kebijakan taman nasional.

Page 1 of 2 | Total Record : 20