cover
Contact Name
Tri Wardhani
Contact Email
twd@widyagama.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
agrika@widyagama.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
AGRIKA
Published by Universitas Widyagama
ISSN : 19075871     EISSN : 25416529     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agrika mempublikasikan hasil-hasil penelitian dalam bidang ilmu pertanian meliputi penelitian di bidang budidaya pertanian, agrobisnis dan teknologi pengolahan hasil pertanian, juga menginformasikan berbagai paket teknologi, ulasan ilmiah, komunikasi singkat dan informasi pertanian.
Arjuna Subject : -
Articles 236 Documents
KERAGAAN BIOMASA BAWANG MERAH VARIETAS TAJUK DENGAN BAHAN PEMBENAH TANAH PADA TANAH REGOSOL Rajiman Rajiman; Sari Megawati; Arif Anshori; I.M.P. Adiwijaya; Assavero Muhammad Fathoni; A Malik
Agrika Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v17i2.4881

Abstract

ABSTRAKTanah regosol umumnya memiliki kesuburan tanah rendah. Upaya perbaikan kesuburan tanah dapat dilakukan menggunakan pembenah tanah Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh pembenah tanah terhadap biomasa bawang merah. Penelitian dilaksanakan di Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Provinsi D.I. Yogyakarta pada Juni-Juli 2023. Rancangan penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) diulang 3 kali. Bahan pembenah tanah dalam perlakuan ini terdiri dari H0:tanpa pembenah (kontrol); H1: pupuk kandang sapi 10 ton/ha; H2: arang sekam 5 ton/ha; H3: asam humat 3 kg/ha; H4: pupuk kandang sapi 5 ton/ha dan arang sekam 2.5 ton/ha; H5: pupuk kandang sapi 5 ton/ha dan asam humat 1.5 kg/ha; H6: asam humat takaran 1.5 kg/ha dan arang sekam 2.5 ton/ha dan H7: pupuk kandang sapi takaran 3.3 ton/ha; asam humat 1 kg/ha dan arang sekam 1.6 ton/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bahan pembenah tanah tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah daun, klorofil daun, kadar air relatif (KAR) daun, biomasa/rumpun (berat brangkasan segar dan kering jemur, umbi segar dan kering jemur; daun segar dan kering), berat/umbi dan jumlah anakan, namun berpengaruh nyata pada diameter umbi dan tinggi tanaman 3 dan 5 MST. Perlakuan H4 memberikan diameter umbi yang paling besar dibanding perlakuan yang lain, yaitu sebesar 28.16 mm.  ABSTRACTRegosol generally has low soil fertility. Efforts to improve soil fertility can be carried out using soil amendments. The aim of the research is to determine the effect of soil amendments on shallot biomass. The research was conducted in Kapanewon Kalasan, Sleman Regency, D.I. Province. Yogyakarta in June-July 2023. The research design used a randomized block design (RAK) repeated 3 times. The soil amendment materials in this treatment consisted of H0: no amendment (control); H1: cow manure 10 tons/ha; H2: husk charcoal 5 tons/ha; H3: humic acid 3 kg/ha; H4: cow manure 5 tonnes/ha and husk charcoal 2.5 tonnes/ha; H5: cow manure 5 tons/ha and humic acid 1.5 kg/ha; H6: humic acid at a rate of 1.5 kg/ha and husk charcoal at a rate of 2.5 tonnes/ha and H7: cow manure at a rate of 3.3 tonnes/ha; humic acid 1 kg/ha and husk charcoal 1.6 tons/ha. The results showed that soil amendments had no significant effect on the number of leaves, leaf chlorophyll, relative water content (KAR) of leaves, biomass/clump (weight of fresh and sun-dried stover, fresh and sun-dried tubers; fresh and dry leaves), weight/ tubers and number of tillers, but had a significant effect on tuber diameter and plant height at 3 and 5 WAP. The H4 treatment provided the largest tuber diameter compared to the other treatments, namely 28.16 mm. 
EFEKTIVITAS EKSTRAK DAUN SIRSAK (Annona muricata) DAN DAUN MIMBA (Azadirachtin indica) SEBAGAI PESTISIDA NABATI TERHADAP ULAT GRAYAK (Spodoptera litura) PADA TANAMAN TOMAT Patrisius Relentrain; Hidayati Karamina; Astri Sumiati
Agrika Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v17i2.4840

Abstract

ABSTRAKPenurunan hasil tomat disebabkan oleh kendala iklim, hama dan penyakit. Hama yang umum menyerang tanaman tomat adalah ulat grayak (Spodoptera litura). Hama ulat grayak mampu menurunkan hasil hingga 85% dan bahkan kegagalan panen. Mengingat berbagai dampak negatif pestisida kimia, perlu dilakukan penggunaan pestisida nabati. Pestisida nabati merupakan pestisida yang berasal dari tumbuhan yang mengandung senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, terpenoid, fenolik. Senyawa tersebut berfungsi sebagai penolak, penarik, antifertilitas (pemandul) dan pembunuh. Keuntungan penggunaan pestisida nabati adalah mudah terurai sehingga tidak mencemari lingkungan, relatif aman bagi manusia dan hewan. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas ekstrak daun mimba dan daun sirsak terhadap larva ulat grayak instar 2. Penelitian dilaksanakan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pada bulan Desember 2022-Januari 2023 di Laboratorium Hama dan Penyakit Fakultas Pertanian, Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang. Parameter yang diamati meliputi larva berhenti makan, mortalitas, kecepatan kematian, dan intensitas serangan pada daun. Data dianalisa menggunakan Anova dan diuji lanjut dengan uji BNJ 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan ekstrak pestisida nabati berpengaruh terhadap persentase larva ulat grayak berhenti makan, mortalitas, kecepatan kematian, dan intensitas serangan. Ekstrak daun mimba 80 ml sama efektifnya dengan ekstrak daun sirsak 80%. Pada 8 JSA ekstrak daun mimba dan ekstrak daun sirsak mampu menekan larva berhenti makan berturut-turut sebesar 17.50% dan 15%; pada 48 JSA mengakibatkan mortalitas larva ulat grayak sebesar 42.5% dan 40.00%; pada 48  JSA mengakibatkan kecepatan kematian sebesar 7.80 ekor/jam dan 7.35 ekor/jam; pada 72 JSA mengakibatkan kerusakan pada daun tomat sebesar 20.00% dan 22.50%. ABSTRACTThe decline in tomato yields is caused by climate constraints, pests and diseases. The common pest that attacks tomato plants is the armyworm (Spodoptera litura). Armyworm pests can reduce yields by up to 85% and even crop failure. Considering the various negative impacts of chemical pesticides, it is necessary to use plant-based pesticides. Botanical pesticides are pesticides derived from plants that contain secondary metabolite compounds such as alkaloids, terpenoids, phenolics. This compound functions as a repellent, attractant, antifertility (sterile) and killer. The advantage of using vegetable pesticides is that they are easily decomposed so they do not pollute the environment, and are relatively safe for humans and animals. This research aims to determine the effectiveness of neem and soursop leaf extracts against second instar armyworm larvae. The research was carried out using a Completely Randomized Design (CRD) in December 2022-January 2023 at the Pest and Disease Laboratory, Faculty of Agriculture, Tribhuwana Tunggadewi University, Malang. Parameters observed included larvae stopping eating, mortality, speed of death, and intensity of attacks on leaves. Data were analyzed using Anova and tested further with the 5% BNJ test. The results of the study showed that treatment with vegetable pesticide extracts affected the percentage of armyworm larvae that stopped eating, mortality, speed of death, and intensity of attacks. 80 ml neem leaf extract is as effective as 80% soursop leaf extract. At 8 JSA neem leaf extract and soursop leaf extract were able to suppress larvae from stopping eating by 17.50% and 15% respectively; at 48 JSA resulted in armyworm larval mortality of 42.5% and 40.00%; at 48 JSA resulted in a death rate of 7.80 individuals/hour and 7.35 individuals/hour; at 72 JSA resulted in damage to tomato leaves of 20.00% and 22.50%.  
RESPON JUMLAH TANAMAN PER LUBANG TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TIGA JENIS SAWI SECARA HIDROPONIK SISTEM NFT Dina Majuba Yahya; Endang Sri Wahyuni
Agrika Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v17i2.5070

Abstract

ABSTRAK Tahun 2019 sampai 2021 permintaan sawi meningkat 35 ton tiap tahunnya. Di saat banyak alih fungsi lahan pertanian menjadi fungsi lainnya maupun di perkotaan yang minim lahan, maka budidaya secara hidroponik sistem NFT dapat menjadi alternatif solusi untuk menanam sawi. Peningkatan produksi sawi dapat dilakukan dengan menambah jumlah bibit tanaman/lubang tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah tanaman/lubang tanam yang tepat pada tiga jenis sawi yang dibudidayakan dengan hidroponik sistem NFT. Penelitian dilaksanakan di Greenhouse DnR Hidroponik Farm Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember pada bulan Januari-Maret 2022. Penelitian menggunakan Rancangan Acak      Lengkap (RAL) faktorial 3 x 3 dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah jumlah tanaman/lubang tanam (B) yang terdiri dari B1: satu tanaman/lubang tanam; B2: dua tanaman/lubang tanam; dan B3: tiga tanaman/lubang tanam. Faktor kedua adalah jenis sawi (V) yang terdiri: V1: kailan; V2: pakchoy; dan V3:  caisim. Data dianalisa dengan uji F pada α=0.05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi jumlah tanaman/lubang tanam dan jenis sawi memberikan pengaruh nyata pada jumlah daun, berat akar, berat segar dan kandungan klorofil, tetapi tidak berpengaruh nyata pada tinggi tanaman dan panjang akar. Perlakuan V2B3 (pakchoy dengan tiga tanaman/lubang tanam) menghasilkan pertumbuhan dan produksi tertinggi pada jumlah daun, kandungan krorofil dan produksi sawi, berturut-turut sebesar 42.0; 39.1; dan 603.3 gram.ABSTRACT           From 2019 to 2021 demand for mustard increase by 35 tons each year. At a time when many agricultural land are being converted to other functions and in urban areas where land is scarce, hydroponic cultivation using the NFT system can be an alternative solution for growing mustard. Increasing mustard production can be done by increasing the number of plant seeds/plant holes. This research aims to determine the right number of plants/planting holes for three types of mustard cultivated using the NFT hydroponic system. The research was carried out at the DnR Hydroponic Farm Greenhouse, Kaliwates District, Jember Regency in January-March 2022. The research used a 3 x 3 factorial Completely Randomized Design (CRD) with 3 replications. The first factor is the number of plants/planting holes (B) which consists of B1: one plant/planting hole; B2: two plants/planting holes; and B3 three plants/planting holes. The second factor is the type of mustard (V) which consists of V1: kailan; V2: pakchoy; and V3: caisim. Data were analyzed using the F test at the α =0.05. The results showed that the interaction of number of plants/planting holes and type of mustard had significant influence on the number of leaves, root weight, fresh weight and chlorophyll content, but had no significant influence on plant height and root length. The V2B3 treatment (pakchoy with three plants/planting hole) produced the highest growth and production in the number of leaves, chlorophyll content and mustard  production, respectively at 42.0; 39.1; and 603.3 grams. 
KEANEKARAGAMAN JENIS ANGGREK HUTAN (EPIFIT) DI RESORT PTN RANU DARUNGAN SEKSI PTN WILAYAH IV BIDANG PTN WILAYAH II TAMAN NASIONAL BROMO TENGGER SEMERU Haryono Prawito; Suslam Pratamaningtyas; Yuni Agung Nugroho; Toni Artaka
Agrika Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v17i2.5161

Abstract

Anggrek adalah tanaman herba dengan bunga yang berbentuk sangat beragam dan tergolong famili Orchidaceae. Berdasarkan tempat tumbuhnya, anggrek dibagi menjadi anggrek epifit dan terrestrial. Umumnya anggrek dapat tumbuh pada dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian 50-600 m dpl dan tumbuh dengan baik pada ketinggian 700-1100 m dpl anggrek dengan suhu 5-18 °C. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi keragaman spesies anggrek epifit dan pohon inang habitat anggrek epifit. Penelitian dilakukan di wilayah hutan Resort PTN Ranu Darungan (Blok Loji dan Ranu Lingga Rekisi) pada bulan Mei-Juli 2023. Metode yang dilakukan yaitu deskriptif eksploratif menggunakan metode cek lapang dengan membuat plot pengamatan dengan ukuran 20m x 20m sebanyak 20 plot yang terdapat pada setiap lokasi penelitian. Data yang diperoleh ditabulasi dan dianalisa secara deskriptif penyebarannya dengan menghitung kerapatan (Di), kerapatan relatif (RDi), frekuensi (Fi), frekuensi relatif (RFi) dan indeks nilai penting (INP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 1455 individu anggrek epifit dari 52 spesies, 21 genus anggrek epifit dan 151 pohon inang yang terbagi dalam 19 famili. Beberapa genus anggrek epifit yang tidak teridentifikasi sampai tingkatan spesies yaitu : Podochilus sp., Phreatia sp., dan Thelasis sp. Populasi yang mempunyai penyebaran paling luas yaitu spesies Eria monostachya Lindl. dengan INP 38.808%. Pohon inang yang dijumpai yaitu: Pasang (Lithocarpus elegans Bl.), Jaranan (Lannea coromandelica Houtt. Merr.), Rampelas (Ficus ampelas Burm.f.), Danglu (Engelhardtia spicata Lechen ex Bl.), Suren (Garuga floribunda Decne.), Sembung (Blumea balsamifera L.) dan Gintungan (Bischofia javanica). Keanekaragaman anggrek epifit termasuk dalam kategori sedang karena memiliki nilai total 1.349. ABSTRACTOrchids are herbaceous plants with very diverse flowers and belong to the Orchidaceae family. Based on where they grow, orchids are divided into epiphytic and terrestrial orchids. Generally, orchids can grow in the lowlands to mountains at an altitude of 50-600 m above sea level and grow well at an altitude of 700-1100 m above sea level with temperatures of 5-18 °C. This research aims to identify the diversity of epiphytic orchid species and the host trees in epiphytic orchid habitat. The research was conducted in the forest area of the PTN Ranu Darungan Resort (Blok Loji and Ranu Lingga Rekisi) in May-July 2023. The method used was exploratory descriptive using the field check method by making observation plots measuring 20m x 20m with 20 plots in each research sites. The data obtained were tabulated and analyzed descriptively for distribution by calculating density (Di), relative density (RDi), frequency (Fi), relative frequency (RFi) and important value index (INP). The research results showed that 1455 individual epiphytic orchids were found from 52 species, 21 genera of epiphytic orchids and 151 host trees divided into 19 families. Several genera of epiphytic orchids that have not been identified to species level are: Podochilus sp., Phreatia sp., and Thelasis sp. The population with the widest distribution is the species Eria monostachya Lindl. with an INP of 38,808%. The host trees found were: Pasang (Lithocarpus elegans Bl.), Jaranan (Lannea coromandelica Houtt. Merr.), Rampelas (Ficus amelas Burm.f.), Danglu (Engelhardtia spicata Lechen ex Bl.), Suren (Garuga floribunda Decne.), Sembung (Blumea balsamifera L.) and Gintungan (Bischofia javanica). The diversity of epiphytic orchids is included in the medium category because it has a total value of 1,349. 
PENGARUH METODE TUMPANG SARI KENTANG (Solanum tuberosum L.) DENGAN KACANG FABA (Vicia faba L.) TERHADAP SIFAT KIMIA DAN BIOLOGI TANAH Ni Made Jeni Fanira Subagyo; Andree Wijaya Setiawan
Agrika Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v17i2.4783

Abstract

Sistem tumpang sari dengan tanaman legum merupakan salah satu praktik pertanian yang banyak dilakukan petani. Metode tumpang sari dengan tanaman legum kacang faba (Vicia faba L.) pada dataran menengah dan dataran tinggi dilakukan dengan kentang (Solanum tuberosum L.) karena memiliki syarat tumbuh yang hampir sama. Rhizobium yang bersimbiosis dengan kacang faba mampu mengikat unsur nitrogen bebas di udara menjadi nitrogen tersedia yang dapat diserap oleh tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tumpangsari kentang dan kacang faba terhadap karakter biologi tanah yang meliputi biomassa karbon mikroba (C mik) dan biomassa nitrogen mikroba (N mik), serta karakter kimia tanah seperti bahan organik, pH, Redoks, Daya Hantar Listrik (DHL), Nitrogen total dan Nitrogen tersedia. Penelitian ini menggunakan rancangan Rancangan Acak Kelompok (RAK), analisis laboratorium dan menggunakan lima sistem tumpang sari kentang dan kacang faba yaitu P1 (Monokuktur kentang); P2 (Tumpang sari kentang dan kacang faba 2:1 sejajar); P3 (Tumpang sari kentang dan kacang faba 1:1 selang seling pada guludan); P4 (Tumpang sari kentang dan kacang faba 2:1 atas bawah); P5 (Monokultur kacang faba) dengan lima kali ulangan. Sistem tumpang sari kentang dan kacang faba berpengaruh tidak nyata terhadap pH tanah, daya hantar listrik, nitrogen tersedia, nitrogen total, biomassa karbon mikroba, dan biomassa nitrogen mikroba, tetapi berpengaruh nyata terhadap bahan organik dan redoks (Eh). Parameter yang secara signifikan saling berkorelasi adalah pH dengan DHL; pH dengan redoks (Eh); pH dengan biomassa nitrogen mikroba dan DHL dengan biomassa nitrogen mikroba.ABSTRACTThe intercropping system with legume plants is one of the agricultural practices that many farmers use. The intercropping method with faba bean legumes (Vicia faba L.) in the midlands and highlands is also carried out with potatoes (Solanum tuberosum L.) because they have almost the same growing conditions. Rhizobium which is in symbiosis with faba beans is able to bind free nitrogen elements in the air to form available nitrogen that can be absorbed by plants. This research aims to determine the effect of intercropping potatoes and faba beans on soil biological characteristics, which include microbial carbon biomass (C mic) and microbial nitrogen biomass (N mic), as well as soil chemical characteristics such as organic matter, pH, Redox, Electrical Conductivity (EC), total nitrogen and available nitrogen. This research used a Randomized Block Design (RAK), laboratory analysis and used five intercropping systems for potatoes and faba beans, namely P1 (potato monocrop); P2 (2:1 parallel intercropping of potatoes and faba beans); P3 (1:1 intercropping of potatoes and faba beans on mounds); P4 (2:1 intercropping of potatoes and faba beans); P5 (Faba bean monoculture) with five replications. The potato and faba bean intercropping system had no significant effect on soil pH, electrical conductivity, available nitrogen, total nitrogen, microbial carbon biomass, and microbial nitrogen biomass, but had a significant effect on organic matter and redox (Eh). Parameters that are significantly correlated with each other are pH and DHL; pH with redox (Eh); pH with microbial nitrogen biomass and DHL with microbial nitrogen biomass. 
PENGARUH KONDISI RUANG SIMPAN DAN BAHAN PENGEMAS TERHADAP DAYA SIMPAN BENIH JAGUNG PULUT VARIETAS URI Cornelia Deserinda Devita Kotten; Endang Pudjihartati
Agrika Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v17i2.5112

Abstract

ABSTRAK Jagung pulut merupakan salah satu bahan pokok selain beras yang dapat mendukung diversifikasi dan industri pangan. Rendahnya ketersediaan benih bermutu membuat jagung pulut memiliki tingkat produktivitas yang rendah dan sulit berkembang dalam skala luas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengaruh kondisi ruang simpan dan bahan pengemas terhadap mutu benih jagung pulut. Penelitian ini menggunakan rancangan split plot. Petak utama berupa perlakuan kondisi ruang simpan yang terdiri dari ruang kamar, ruang AC, dan kulkas. Anak petak berupa kemasan simpan yang terdiri dari 4 taraf yaitu kaleng tin, alumunium foil, plastik PP, dan karung plastik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan yang terbaik untuk mempertahankan mutu fisik dan mutu fisiologis yaitu pada suhu dan kelembapan rendah (ruang AC dan kulkas) dengan menggunakan bahan pengemas kaleng tin dan plastik PP. Interaksi perlakuan antara kondisi ruang simpan kamar dan bahan pengemas karung plastik tidak mampu mempertahankan daya berkecambah (DB) hingga akhir penyimpanan (4 bulan).  ABSTRACT Sticky corn is a staple ingredient other than rice that can support diversification and the food industry. The low availability of quality seeds means that corn has a low level of productivity and is difficult to develop on a wide scale. This research aims to determine the influence of storage room conditions and packaging materials on the quality of sticky corn seeds. This research used a split plot design. The main plot was a treatment of the condition of the storage room which consists of the bedroom, AC room and refrigerator. The subplot was in the form of storage packaging consisting of 4 levels, namely tin cans, aluminum foil, PP plastic and plastic sacks. The results of the research showed that the best treatment to maintain physical quality and physiological quality was at low temperature and humidity (AC room and refrigerator) using packaging materials such as tin cans and PP plastic. The treatment interaction between the storage room conditions and the plastic sack packaging material was unable to maintain germination capacity (DB) until the end of storage (4 months).  
RESPON BENIH JAGUNG (Zea mays L.) KADALUARSA TERHADAP INVIGORASI DENGAN GA3 dan KNO3 Udkhulis Silmy; Bejo Suroso; Insan Wijaya
Agrika Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v17i2.4827

Abstract

ABSTRAKJagung (Zea mays L.) merupakan tanaman pangan potensial di Indonesia. Jagung merupakan makanan pokok terpenting kedua setelah beras. Faktor yang mempengaruhi kualitas benih selama penyimpanan antara lain viabilitas awal benih, kematangan benih, proses panen pasca panen benih, kondisi lingkungan di tempat penyimpanan dan lama penyimpanan benih. Benih yang lama disimpan akan mengalami masa kadaluarsa yang mengakibatkan pertumbuhan dan hasil sangat terbatas. Kualitas benih kadaluarsa dapat diperbaiki dengan invigorasi benih. Penelitian dilaksanakan di Universitas Muhammadiyah Jember, menggunakan rancangan acak lengkap yang tersusun atas 9 perlakuan dengan 3 kali ulangan yaitu C: kontrol; G1: 250 ppm; G2: 300 ppm; G3: 350 ppm; G4: 400 ppm; K1: 1000 ppm; K2: 5000 ppm; K3: 10000 ppm; dan K4: 5000 ppm. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan invigorasi meningkatkan viabilitas benih jagung pada parameter daya kecambah dan potensi tumbuh, serta meningkatkan vigor benih jagung pada parameter indeks vigor, kecepatan tumbuh, dan keserempakan tumbuh, juga meningkatkan diameter batang, tinggi tanaman, panjang akar, jumloah daun, berat basah dan berat kering. ABSTRACTCorn (Zea mays L.) is a potential food crop in Indonesia. Corn is the second most important staple food after rice. Factors that influence seed quality during storage include initial seed viability, seed maturity, post-harvest seed harvesting process, environmental conditions at the storage location and length of seed storage. Seeds that are stored for a long time will expire, resulting in very limited growth and yields. The quality of expired seeds can be improved by seed invigoration. The research was carried out at the Muhammadiyah University of Jember, using a completely randomized design consisting of 9 treatments with 3 replications, namely C: control; G1: 250 ppm; G2: 300ppm; G3: 350ppm; G4: 400ppm; K1: 1000 ppm; K2: 5000 ppm; K3: 10000 ppm; and K4: 5000 ppm. The results of the research showed that invigoration treatment increased the viability of corn seeds in the parameters of germination and growth potential, and increased the vigor of corn seeds in the parameters of vigor index, growth speed and growth simultaneity, also increased stem diameter, plant height, root length, number of leaves, wet weight. and dry weight.   
PENGARUH MEDIA PENYIMPANAN DAN LAMA PENYIMPANAN ENTRES TERHADAP KEBERHASILAN SAMBUNG PUCUK MANGGA (Mangifera indica, L.) AGRI GARDINA 45 Hadi Cahyono Kurniawan; Ririen Prihandarini; Elik Murni Ningtias Ningsih
Agrika Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v17i2.5113

Abstract

Mangga Agri Gardina 45 merupakan varietas mangga hasil persilangan Arumanis 143 x Saigon yang diakui sebagai varietas unggul. Mangga Agri Gardina 45 belum banyak dibudidayakan oleh petani di Indonesia karena ketersediaan bibit unggul sedikit di pasaran. Perbanyakan tanaman buah biasanya dilakukan secara vegetatif. Salah satu metodenya dengan sambung pucuk (grafting). Kendala utama grafting dalam jumlah banyak dan tepat waktu adalah terbatasnya pohon induk sebagai sumber entres. Kebutuhan entres yang tidak tercukupi disiasati oleh penangkar dengan mendatangkan entres dari penangkar lain, yang sering kali lokasinya jauh dari tempat pembibitan. Kondisi ini menyebabkan entres harus mengalami proses penyimpanan pada saat didistribusikan ke tempat pembibitannya sehingga kesegerannya menurun. Penelitian  ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media penyimpanan dan lama penyimpanan entres terhadap keberhasilan sambung pucuk mangga varietas Agri Gardina 45. Penelitian dilaksanakan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial. Faktor pertama adalah lama penyimpanan yang terdiri dari L0: 0 hari (tanpa simpan); LI: 2 hari simpan; L2: 4 hari simpan; L3: 6 hari simpan; dan faktor ke-2 adalah media penyimpanan yang terdiri dari M1: pelepah pisang; M2: kertas koran lembap; dan M3: plastik polyethylene. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bibit jadi tertinggi dihasilkan pada perlakuan L0M1, L0M2, L0M3, L1M1, L1M2, L1M3, L2M1, L2M2, L2M3 dan L3M1 dengan nilai 100.00%. Perlakuan lama penyimpanan entres berpengaruh terhadap kadar air entres, waktu pecah tunas, panjang tunas di umur 25, 32, 39 dan 53 HSS pada sambung pucuk mangga varietas Agri Gardina 45. Perlakuan media penyimpanan entres tidak berpengaruh terhadap semua variabel pengamatan pada sambung pucuk mangga varietas Agri Gardina 45. ABSTRACTMango Agri Gardina 45 is a mango variety resulting from a cross between Arumanis 143 x Saigon which is recognized as a superior variety. The Agri Gardina 45 mango has not been widely cultivated by farmers in Indonesia because there are few superior seeds available on the market. Propagation of fruit plants is usually done vegetatively. One method is grafting. The main obstacle to grafting in large quantities and on time is the limited number of parent trees as a source of scion. The breeder's unmet need for scion is overcome by bringing in scion from other breeders, which are often located far from the nursery. This condition causes the bullfrog to undergo a storage process when distributed to the nursery so that its freshness decreases. This research aims to determine the effect of storage media and storage time of scion on the success of shoot grafting of the Agri Gardina 45 mango variety. The research was carried out using a factorial completely randomized design (CRD). The first factor is storage time which consists of L0: 0 days (without storage); LI: 2 days save; L2: 4 days save; L3: 6 days save; and the 2nd factor is the storage medium consisting of M1: banana stem; M2: damp newsprint; and M3: polyethylene plastic. The results showed that the highest finished seeds were produced in the L0M1, L0M2, L0M3, L1M1, L1M2, L1M3, L2M1, L2M2, L2M3 and L3M1 treatments with a value of 100.00%. The storage time treatment for the scion had an effect on the water content of the scion, shoot break time, shoot length at the age of 25, 32, 39 and 53 DAP on the shoot grafts of the mango Agri Gardina 45.   
PENGARUH PEMANFAATAN TERARIUM EKOSISTEM TERHADAP MINAT WIRAUSAHA MAHASISWA (Studi Kasus pada Prodi PP Politani Samarinda) Andi Lelanovita Sardianti; Muhamad Yazid Bustomi; Pandhu Rochman Suosa Putra; Sri Marlendi; Natalia Holoho; Puput Haryati
Agrika Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v17i2.4986

Abstract

Upaya menumbuhkan minat berwirausaha dikalangan mahasiswa merupakan salah satu bentuk keberhasilan perguruan tinggi dalam membantu pemerintah mengurangi pengangguran. Modal awal menumbuhkan minat berwirausaha dapat dilaksanakan dengan berkreasi dan berinovasi melalui pemanfaatan terarium. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi minat berwirausaha mahasiswa dengan memanfaatkan terarium ekosistem. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode survei dengan sampel sebanyak 54 mahasiswa. Penelitian ini menggunakan jenis data kuantitatif dengan analisis berupa uji validitas, uji reliabilitas, uji asumsi klasik yang terdiri dari uji normalitas, uji heteroskedastisitas, uji regresi sederhana dan pengujian hipotesis yaitu uji t, dan koefisien determinasi (R2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan terarium berpengaruh signifikan terhadap minat wirausaha mahasiswa Program Studi Pengelolaan Perkebunan Politeknik Pertanian Negeri Samarinda. Variabel pemanfaatan terarium (X) menunjukkan nilai t hitung lebih besar dari t tabel, (5.640 0.268). Sementara itu variasi perubahan variabel minat wirausaha mahasiswa (Y) dipengaruhi oleh perubahan variabel independen yang terdiri dari pemanfaatan terarium (X) sebesar 61.6%, sedangkan sisanya sebesar 38.4% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti di luar dari penelitian ini. ABSTRACTEfforts to promote interest in entrepreneurship among students are conducted by universities in helping the government reduce unemployment. Initial capital to increase interest in entrepreneurship can be done by being creative and innovative, one of which involves the use of terrariums. This research aims to determine the factors that influence students' interest in entrepreneurship by utilizing an ecosystem terrarium. The data collection method used was survey with a sample of 54 students. This research used quantitative data and analysis instruments in the form of validity tests, reliability tests, classical assumption tests consisting of normality tests, heteroscedasticity tests, simple regression tests and hypothesis testing, namely the t test, and the coefficient of determination (R2). The results of the research show that the use of terrariums has a significant effect on the entrepreneurial interest of students in the Samarinda State Agricultural Polytechnic Plantation Management Study Program. The terrarium utilization variable (X) showed the calculated t value was greater than the t table, (5.640 0.268). Meanwhile, variations in changes in the student entrepreneurial interest variable (Y) were influenced by changes in the independent variable consisting of terrarium utilization (X) amounting to 61.6%, while the remaining 38.4% was influenced by other factors not examined in this research.  
RESPONS PERTUMBUHAN BIBIT PEPAYA (Carica papaya L.) PADA PEMBERIAN PUPUK KOMPOS PADAT LIMBAH SAWIT DAN PUPUK ORGANIK CAIR DI PEMBIBITAN Syamad Ramayana; Yetti Elidar; Dewi Arafah Mulyadi
Agrika Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v17i2.5068

Abstract

ABSTRAKPepaya (Carica papaya L.) merupakan komoditas buah tropika utama di Indonesia yang bernilai ekonomi dan memiliki potensi produksi yang tinggi. Tanaman pepaya sudah dibudidayakan secara intensif di Kalimantan Timur, namun produksinya masih mengalami fluktuasi. Hal ini disebabkan penggunaan bibit yang kurang bermutu sehingga diperlukan upaya peningkatan kualitas dan kuantitas bibit pepaya. Salah satu faktor penting dalam pembibitan adalah ketersediaan unsur hara. Pemberian pupuk organik baik untuk memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah sehingga baik untuk pertumbuhan bibit pepaya. Beberapa jenis pupuk organik yang dapat digunakan adalah kompos padat limbah sawit dan pupuk organik cair (POC). Pemanfaatan limbah kelapa sawit sebagai pupuk organik selain berguna untuk menambah hara tanaman juga berfungsi mengurangi pencemaran. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui interaksi perlakuan dosis kompos padat limbah sawit dan dosis POC terhadap pertumbuhan bibit pepaya. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial 3x4 jumlah ulangan sebanyak lima kali. Faktor pertama adalah dosis kompos padat limbah sawit yang terdiri dari s1: 150 g/polibag; s2: 300 g/polibag; dan s3: 450 g/polibag. Faktor kedua POC yang terdiri dari p0: control; p1: 1 ml/polibag; p2: 2 ml/polibag; dan p3: 3 ml/polibag. Data dianalisa menggunakan analisa ragam dan dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil (BNT) 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Interaksi antara pupuk kompos padat (S) dan POC (P) berpengaruh nyata terhadap parameter tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, panjang akar, berat basah/tanaman dan berat kering/tanaman. Hasil interaksi terbaik pada berat kering/tanaman terdapat pada perlakuan s2p0 dan s2p1 dengan nilai 9.85 g dan 9.39 gram.  ABSTRACTPapaya (Carica papaya L.) is the main tropical fruit commodity in Indonesia which has economic value and has high production potential. Papaya plants have been cultivated intensively in East Kalimantan, but the production is still experiencing fluctuations. This is due to the use of poor quality seedling, so efforts are needed to increase the quality and quantity of papaya seedling. One important factor in breeding is the availability of nutrients. Providing organic fertilizer is good for improving the physical, chemical and biological properties of the soil so that it is good for the growth of papaya seedlings. Several types of organic fertilizer that can be used are solid palm waste compost and liquid organic fertilizer (POC). The use of palm oil waste as organic fertilizer is not only useful for adding plant nutrients but also serves to reduce pollution. The aim of this research was to determine the interaction of solid palm waste compost dosage and POC dosage on the growth of papaya seedlings. This research used a 3x4 factorial completely randomized design (CRD) with five replications. The first factor is the dosage of solid palm waste compost consisting of s1: 150 g/polybag; s2: 300 g/polybag; and s3: 450 g/polybag. The second factor POC consists of p0: control; p1: 1 ml/polybag; p2: 2 ml/polybag; and p3: 3 ml/polybag. The data were analyzed using analysis of variance and continued with the least significant difference test (LSL) of 5%. The research results showed that the interaction between solid compost (S) and POC (P) had a significant effect on the parameters of plant height, stem diameter, number of leaves, root length, wet weight/plant and dry weight/plant. The best treatment interaction results on dry/plant weight were found in the s2p0 and s2p1 treatments with values of 9.85 g and 9.39 grams.