cover
Contact Name
Tri Wardhani
Contact Email
twd@widyagama.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
agrika@widyagama.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
AGRIKA
Published by Universitas Widyagama
ISSN : 19075871     EISSN : 25416529     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agrika mempublikasikan hasil-hasil penelitian dalam bidang ilmu pertanian meliputi penelitian di bidang budidaya pertanian, agrobisnis dan teknologi pengolahan hasil pertanian, juga menginformasikan berbagai paket teknologi, ulasan ilmiah, komunikasi singkat dan informasi pertanian.
Arjuna Subject : -
Articles 236 Documents
PENGARUH STADIA KUNCUP BATANG ATAS DAN BEBERAPA KLON TERHADAP KEBERHASILAN GRAFTING TANAMAN KOPI Mahrus Ali; Nurul Huda; Yeni Ika Pratiwi; Fauziatun Nisak
Agrika Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v17i1.4639

Abstract

ABSTRAK Kopi merupakan salah satu komoditi perkebunan penting dalam perekonomian nasional. Hal ini ditunjukkan oleh besarnya devisa negara yang diperoleh dari ekspor kopi serta banyaknya petani yang hidup dari budidaya tanaman kopi. Rendahnya produksi kopi Indonesia disebabkan antara lain karena 90% merupakan tanaman rakyat yang budidayanya umumnya tidak tepat serta teknologi pengolahannya masih sederhana. Salah satu cara meningkatkan produksi tanaman kopi adalah dengan menggunakan bahan tanaman klon unggul. Untuk memperbanyak secara klonal dilakukan grafting. Grafting lazimnya dilakukan pada masa bibit, tetapi ada juga yang dilakukan saat pertanaman tua dengan tujuan penyulaman atau peremajaan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh stadia kuncup batang atas yang tepat dari beberapa klon kopi terhadap tingkat keberhasilan grafting tanaman kopi. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok RAK faktorial terdiri dari dua faktor. Faktor pertama adalah stadia kuncup batang atas. Faktor kedua adalah penggunaan klon kopi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara stadia kuncup batang atas dan klon kopi pada variabel pengamatan saat tumbuhnya tunas (umur 40 hari),  panjang tunas, jumlah daun dan jumlah cabang saat umur 50 hari setelah dilakukan grafting. Perlakuan T1V4 memberikan keberhasilan grafting sebanyak 100%. Perlakuan stadia kucup batang atas berupa kuncup daun muda terbuka (T3) memberikan diameter batang tunas yang lebih besar dibanding stadia tunas dorman (T1). Perlakuan klon kopi menunjukkan diameter batang tunas yang sama besarnya. ABSTRACTCoffee is one of the important plantation commodities in the national economy. This is shown by the large amount of national foreign exchange earned from coffee exports and the large number of farmers who live from coffee cultivation. The low production of Indonesian coffee is partly due to the fact that 90% are smallholder plants whose cultivation is generally inappropriate and the processing technology is still simple. Effort to increase coffee plant production is to use superior clone plant material. To propagate clonally, grafting is performed. Grafting is usually done during the seedling period, but some are done during old plantings with the aim of replanting or rejuvenation. The purpose of this study was to determine the effect of the exact scion bud stage of several coffee clones on the success rate of coffee plant grafting. The study used a factorial RAK randomized block design consisting of two factors. The first factor is the scion bud stage. The second factor is the use of coffee clones. The results showed that there was an interaction between scion bud stadia and coffee clones on the observation variables of shoot growth (40 days old), shoot length, number of leaves and number of branches at 50 days after grafting. T1V4 treatment gave grafting success of 100%. The treatment of scion bud stage in the form of open young leaf buds (T3) gave a larger diameter of the shoot stem compared to the dormant bud stage (T1). The treatment of coffee clones showed that the diameter of the shoots was the same.
UPAYA PENINGKATAN SERAPAN UNSUR HARA DAN HASIL BAWANG MERAH DI INCEPTISOLS MALANG MELALUI OPTIMALISASI DOSIS PUPUK MAJEMUK Retno Suntari; Sekar Mariam Hapsari; Syahrul Kurniawan
Agrika Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v17i1.4574

Abstract

ABSTRAKKabupaten Malang termasuk salah satu wilayah penghasil bawang merah terbesar di Jawa Timur pada tahun 2012-2019. Luas panen bawang merah di propinsi Jawa Timur pada tahun 2019 mencapai 42.962 hektar. Produksi bawang merah mengalami peningkatan, namun produktivitas bawang merah nasional masih tergolong rendah. Hal ini diduga akibat rendahnya kesuburan tanah maupun pemupukan yang kurang tepat. Upaya peningkatan produksi dapat dilakukan dengan aplikasi pupuk majemuk. Penelitian dilakukan di lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya di Kelurahan Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru Kota Malang. Penelitian dirancang menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) terdiri dari 8 perlakuan yaitu M0 (kontrol), M1 (100% pupuk dasar), M2 (50% pupuk majemuk), M3 (75% pupuk majemuk), M4 (100% pupuk majemuk), M5 (125% pupuk majemuk), M6 (150% pupuk majemuk) dan M7 (200% pupuk majemuk) dengan 3 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pupuk majemuk NPS (16:20:16) mempengaruhi pertumbuhan tanaman (panjang dan jumlah daun), produksi bawang merah (diameter umbi, bobot basah dan bobot kering umbi), dan serapan unsur hara tanaman. Pupuk majemuk NPS (50%-200%) tidak mempengaruhi pertumbuhan bawang merah, tetapi mempengaruhi produksi umbi bawang merah dan serapan N serta K. Pupuk majemuk NPS dosis 200% (setara 550 kg/ha) mampu meningkatkan produksi umbi bawang merah yang lebih banyak dibandingkan dengan dosis 50% dan 150% (setara 137,5 kg/ha dan 412,5 kg/ha). Pupuk majemuk NPS dosis 200% menurunkan pH tanah. ABSTRACTMalang Regency is one of the largest shallot producing regions in East Java in 2012-2019. The shallot harvested area in East Java province in 2019 reached 42,962 hectares. Shallot production has increased, but the national shallot productivity is still relatively low. This is thought to be due to low soil fertility and inappropriate fertilization. Efforts to increase production can be done with the application of compound fertilizers. The research was conducted in the experimental field of the Faculty of Agriculture, University of Brawijaya in Jatimulyo Village, Lowokwaru District, Malang City. The study was designed using a randomized block design (RBD) consisting of 8 treatments, namely M0 (control), M1 (100% basic fertilizer), M2 (50% compound fertilizer), M3 (75% compound fertilizer), M4 (100% compound fertilizer) , M5 (125% compound fertilizer), M6 (150% compound fertilizer) and M7 (200% compound fertilizer) with 3 replications. The results showed that NPS compound fertilizer (16:20:16) affected plant growth (length and number of leaves), onion production (tuber diameter, tuber fresh and dry weight), and plant nutrient uptake. NPS compound fertilizer (50%-200%) does not affect shallot growth, but affects shallot bulb production and N and K uptake. NPS compound fertilizer dose of 200% (equivalent to 550 kg/ha) can increase shallot bulb production which is more than the doses of 50% and 150% (equivalent to 137.5 kg/ha and 412.5 kg/ha). The NPS compound fertilizer at a dose of 200% lowers soil pH.
PEMANGKASAN TUNAS APIKAL DAN POSISI BUAH PADA RUAS TANAMAN MELON (Cucumis melo L.) VAR. HONEYDEW ORANGE YANG DIBUDIDAYAKAN DALAM SCREENHOUSE Palupi Puspitorini; Tri Kurniastuti
Agrika Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v17i1.4513

Abstract

ABSTRAKDi Indonesia produksi melon tahun 2014 mencapai 150.347 ton/ha dengan produktivitas 18,40 ton/ha, serta luas panen 8.185 ha. Konsumsi melon di Indonesia terhitung tahun 2015-2018 terus meningkat. Produksi melon terus meningkat mencapai 332.698 ton/tahun. Kebutuhan melon juga harus selalu stabil agar permintaan dapat terpenuhi. Upaya meningkatkan produksi melon diperlukan strategi modifikasi pengelolaan tanaman dengan intensifikasi, di antaranya memperbaiki teknologi budidaya. Penanaman dalam screenhouse dapat memperbaiki dan meningkatkan mutu budidaya tanaman melon. Pemangkasan cabang tanaman dengan cara memangkas ujung apikal dapat meningkatkan besar dan kualitas buah. Penelitian dilaksanakan bulan Mei-Juni 2022 di screen house Fakultas Pertanian Universitas Islam Balitar (Unisba) Blitar. Penelitian menggunakan Rancangan Acak kelompok  faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama adalah pemangkasan (P) terdiri atas P0 = tanpa pemangkasan pucuk, P1 = pemangkasan pucuk.  Faktor kedua adalah letak buah (B) terdiri dari B1 = Letak  Buah pada ruas ke-6-7 , B2 = Letak buah pada ruas ke-8-9, B3 = Letak buah pada ruas ke-10-11,  B4 = Letak buah pada ruas  ke-12-13. Analisis data menggunakan analisis ragam dengan taraf 5%. Jika terdapat pengaruh nyata dilanjutkan dengan uji DMRT 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi pemangkasan dan peletakan buah pada ruas 10-13 adalah perlakuan terbaik yang ditunjukkan oleh parameter diameter batang tanaman, bobot buah dan volume buah melon pada saat panen. Sedangkan kadar kemanisan hanya dipengaruhi pada masing-masing perlakuan pemangkasan dan pengaturan letak buah pada ruas 8-9, 10-11 dan 12-13. ABSTRACTIn Indonesia melon production in 2014 reached 150,347 tons/ha with a productivity of 18.40 tons/ha, and a harvested area of 8,185 ha. Melon consumption in Indonesia from 2015-2018 continues to increase. Melon production continues to increase, reaching 332,698 tonnes/year. The need for melons must also always be stable so that demand can be met. Efforts to increase melon production require modification of plant management strategies with intensification, including improving cultivation technology. Planting in a screenhouse can improve and increase the quality of melon cultivation. Pruning plant branches by pruning the apical tip can increase the size and quality of the fruit. The research was carried out in May-June 2022 at the Screen house of the Faculty of Agriculture, Balitar Islamic University (Unisba) Blitar. This study used a factorial randomized block design with two factors. The first factor was pruning (P) consisting of P0 = without top pruning, P1 = top pruning. The second factor is the location of the fruit (B) consisting of B1 = Location of the fruit on the 6-7th segment, B2 = Location of the fruit on the 8-9th segment, B3 = Location of the fruit on the 10-11th segment, B4 = Location of the fruit on the 12-13th segment. Data analysis used analysis of variance with a level of 5%. If there is a significant effect, proceed with the 5% DMRT test. The results showed that the interaction of pruning and fruit placement on internodes 10-13 was the best treatment as indicated by the parameters of plant stem diameter, fruit weight and melon fruit volume at harvest. Meanwhile, the level of sweetness was only affected by each treatment of pruning and arrangement of fruit position on segments 8-9, 10-11 and 12-13.
PENGARUH VARIETAS DAN WAKTU PANEN TANAMAN NILAM (Pogostemon cablin Benth.) TERHADAP PRODUKSI DAN KUALITAS MINYAK NILAM Akbar Hidayatullah Zaini; Didik Hariyono; Onny C. Pandu Pradana; Septiana Septiana; Akbar Saitama
Agrika Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v17i1.4605

Abstract

ABSTRAKMinyak nilam (Pogostemon cablin (Blanco) Benth.) merupakan salah satu minyak esensial alami penting yang digunakan untuk memberikan karakter basa dan wangi yang awet dalam industri wewangian. Sembilan puluh persen permintaan minyak nilam di dunia dipasok oleh Indonesia. Kendala yang sering dihadapi petani di Indonesia dalam budidaya tanaman nilam adalah rendahnya rendemen minyak nilam yaitu kurang dari 3%. Hal ini di antaranya karena para petani melakukan pemanenan sebelum waktunya. Oleh karena itu dilakukan penelitian mengenai varietas dan umur panen nilam. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober 2022 hingga February 2023 di lahan percobaan Agrotechno Park Universitas Brawijaya. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang disusun secara faktorial dengan 2 faktor, faktor pertama yakni varietas dengan 3 taraf yaitu V1: Varietas Sidikalang, V2: Varietas Patchoulina 1, V3: Varietas Patchoulina 2. Faktor yang kedua yaitu umur panen dengan 2 taraf yaitu U1: 4 BST dan U2: 6 BST. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Varietas Sidikalang lebih tinggi nilainya dibanding Varietas Patchouli 1 dan Varietas Patchouli 2 pada parameter tinggi tanaman, jumlah daun, dan jumlah cabang sekunder. Umur panen 6 BST mengakibatkan parameter pertumbuhan yang lebih tinggi/besar dibanding umur panen 4 BST. Ketiga varietas yang diamati yang dipanen pada 6 BST semuanya memiliki rendemen atsiri lebih dari 3% dan kadar patchoulina  alkohol sebesar 30% dan mendekati 30%, sementara nilam yang dipanen 4 BST memiliki rendemen atsiri kurang dari 3% dan kadar patchoulina alkohol kurang dari 30%.ABSTRACTPatchouli oil (Pogostemon cablin (Blanco) Benth.) is one of the most important natural essential oils used to provide a base character and lasting fragrance in the perfumery industry. Ninety percent of the world's demand for patchouli oil is supplied by Indonesia. The obstacle often faced by farmers in Indonesia in cultivating patchouli plants is the low yield of patchouli oil, which is less than 3%. This is partly because the farmers harvest prematurely. Therefore, research was conducted on varieties and harvesting age of patchouli. The research was carried out from October 2022 to February 2023 at the Agrotechno Park experimental site, Universitas Brawijaya. The study used a randomized block design (RBD) arranged in a factorial manner with 2 factors, the first factor was varieties with 3 levels, namely V1: Sidikalang variety, V2: Patchoulina variety 1, V3: Patchoulina variety 2. The second factor was harvest age with 2 levels. i.e. U1:4 BST and U2:6 BST. The Sidikalang variety had a higher score than the Patchouli 1 and Patchouli 2 varieties on the parameters of plant height, number of leaves, and number of secondary branches. Harvesting age of 6 BST resulted in higher/bigger growth parameters compared to harvesting age of 4 BST. The three observed varieties that were harvested at 6 BST all had an essential oil of more than 3% and a patchoulina alcohol content of 30% and close to 30%, while patchouli harvested at 4 BST had an volatile yield of less than 3% and a patchoulina alcohol content of less than 30%.
PENINGKATAN PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN PAKCHOY (Brassica rapa L.) DENGAN PUPUK ORGANIK CAIR Plus BAKTERI FOTOSINTETIK Winarno Winarno; Mahrus Ali; Yeni Ika Pratiwi; Fauziatun Nisak
Agrika Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v17i2.5050

Abstract

ABSTRAKPakchoy (Brassica rapa L.) merupakan sayuran yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Selain karena rasanya yang lezat, pakchoy memiliki kandungan serat, vitamin dan mineral yang baik untuk kesehatan tubuh. Produksi optimal tanaman pakchoy membutuhkan unsur hara dalam jumlah yang cukup, maka untuk meningkatkan produksi dilakukan dengan meningkatkan efektivitas fotosintesis pakchoy salah satunya dengan pemanfaatan pupuk organik cair (POC) yang mengandung bakteri fotosintetik. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian konsentrasi POC plus bakteri fotosintetik terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman pakchoy. Penelitian dilaksanakan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan perlakuan konsentrasi POC Plus bakteri fotosintetik yang terdiri dari 8 perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pupuk organik cair plus bakteri fotosintetik konsentrasi 7.5 ml/liter air hingga 17.5 ml/liter mengakibatkan pertumbuhan yang lebih baik dan produksi pakchoy yang lebih berat dibanding kontrol. Antar perlakuan POC plus bakteri fotosintetik tidak berbeda, kecuali bahwa perlakuan 17.5 ml/liter menghasilkan produksi pakchoy/tanaman yang lebih berat dibanding perlakuan 5.0 ml/liter air. ABSTRACTPakchoy (Brassica rapa L.) is a vegetable that is widely consumed by Indonesian people. Apart from its delicious taste, pakchoy contains fiber, vitamins and minerals which are good for body health. Optimal production of pakchoy plants requires sufficient amounts of nutrients, so to increase production this is done by increasing the effectiveness of pakchoy photosynthesis, one of which is by using liquid organic fertilizer (POC) which contains photosynthetic bacteria. The aim of the research was to determine the effect of giving concentrations of POC plus photosynthetic bacteria on the growth and production of pakchoy plants. The research was carried out using a randomized block design (RAK) with treatment with a concentration of POC Plus photosynthetic bacteria consisting of 8 treatments. The results showed that treatment with liquid organic fertilizer plus photosynthetic bacteria at a concentration of 7.5 ml/liter of water to 17.5 ml/liter resulted in better growth and heavier pakchoy production compared to the control. There was no difference between the POC plus photosynthetic bacteria treatments, except that the 17.5 ml/liter treatment produced heavier pakchoy/plant production than the 5.0 ml/liter water treatment.
UJI MUTU PATOLOGI TERHADAP LAMA SIMPAN DUA VARIETAS BENIH KEDELAI Tri Endrawati; Alvita Sekar Sarjani; Agung Setya Wibowo
Agrika Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v17i2.5099

Abstract

Tanaman kedelai, sebagai sumber pangan yang memiliki nilai gizi tinggi dan populer di kalangan masyarakat Indonesia, mengalami tantangan produksi yang signifikan. Salah satu faktor yang berkontribusi pada produksi rendah adalah mutu benih yang menurun seiring lamanya penyimpanan benih kedelai. Oleh karena itu, penting untuk melakukan uji mutu benih kedelai yang mencakup aspek fisologi dan patologi untuk menentukan berapa lama benih tetap dapat digunakan. Penelitian ini berfokus pada pengujian mutu patologi yang mencakup tiga aspek: pertama, deteksi cendawan dan bakteri patogen yang terbawa oleh benih kedelai, kedua, identifikasi jenis cendawan yang ditemukan, dan ketiga, uji biokimia pada bakteri yang terdeteksi, yang meliputi pengamatan makroskopis bakteri, uji gram KOH 3%, dan uji oksidatif fermentatif. Selain itu, penelitian juga mencakup deteksi virus yang dapat terbawa oleh benih kedelai, menggunakan uji ELISA untuk virus SMV dan CMV. Penelitian ini menggunakan Rancangan Plit Plot dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan varietas Dering (VD) dan varietas Argomulyo (VA) sebagai faktor utama, sedangkan lama penyimpanan benih (0 bulan, 1 bulan, 2 bulan, dan 3 bulan) sebagai anak petak. Setiap perlakuan diulang tiga kali, sehingga total terdapat 18 unit perlakuan. Data yang terkumpul akan dianalisis menggunakan analisis ragam, dan apabila ditemukan pengaruh signifikan, akan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan (UJBD) pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada varietas Argomulyo, benih yang disimpan selama 1 bulan menunjukkan tingkat infeksi yang lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Dalam pengujian patologi, terdapat keberadaan bakteri dan cendawan kontaminan pada benih, tetapi cendawan kontaminan ini merupakan jenis cendawan yang umumnya ditemukan pada permukaan benih. Selain itu, dalam pengujian virus, tidak ditemukan adanya penyakit yang dapat ditularkan melalui benih pada varietas tersebut.
PENGARUH PUPUK KANDANG DAN BAKTERI FOTOSINTESIS TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KALE (Brassica oleracea L. Var. Acephala) Victor Bintang Panunggul; Ayu Sitanini; Afif Hendri Putranto; Susilo Gesit Widodo; Elisabeth Ari Pratiwi Panjaitan
Agrika Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v17i2.4997

Abstract

ABSTRAKTanah yang kurang sehat disebabkan penggunaan pupuk kimia yang berlebihan. Hal ini mengakibatkan tanaman tidak dapat tumbuh dan berproduksi optimal, sehingga perlu diimbangi dengan pemberian bahan organik. Tujuan penelitian ini mengkaji pengaruh pupuk kandang dan pupuk bakteri fotosintesis terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kale. Penelitian menggunakan rancangan acak faktorial (RAK). Faktor pertama adalah pupuk kandang dan faktor kedua adalah dosis pupuk cair bakteri fotosintetis. Faktor pertama meliputi K0: kontrol/petak; K1: 5 kg/petak; dan K2: 10kg/petak. Faktor kedua meliputi P0:0 ml; P1: 15 ml/2l; dan P2: 20 ml/2l. Masing-masing perlakuan diulang tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi  antara pupuk kandang dan pupuk bakteri fotosintesis pada parameter yang diamati. Perlakuan pupuk kandang juga tidak berpengaruh nyata, sementara pupuk cair bakteri fotosintesis memberikan pengaruh yang berbeda pada semua parameter pertumbuhan dan hasil tanaman kale. Dosis pupuk bakteri fotosintetis terbaik adalah P2 (20 ml/2l) yang memberikan hasil kale sebanyak 0.26 ton/ha. Kata kunci: kale, bakteri fotosintesis, pupuk kandang, brassicaABSTRACTUnhealthy soil is caused by excessive use of chemical fertilizers. This results in plants not being able to grow and succeed optimally, so it needs to be balanced by providing organic materials. The aim of this research is to examine the effect of manure and photosynthetic bacterial fertilizer on the growth and yield of kale plants. The research used a factorial random design (RAK). The first factor is manure and the second factor is the dose of photosynthetic bacterial liquid fertilizer. The first factor included K0: control/plot; K1: 5 kg/lot; and K2: 10kg/plot. The second factor included P0:0 ml; P1: 15 ml/2l; and P2: 20 ml/2l. Each treatment was repeated three times. The results of the research showed that there was no interaction between manure and photosynthetic bacteria fertilizer treatment on kale growth and yield parameters. The manure treatment also had no significant effect, while the application of photosynthetic bacterial liquid fertilizer had a different effect on all parameters of growth and yield of kale plants. The best photosynthetic bacterial fertilizer dosage was P2 (20 ml/2l) which resulted in kale yields of 0.26 tonnes/ha. Keywords: kale, photosynthetic bacteria, manure, Brassica
IDENTIFIKASI LOGAM BERAT PADA LAHAN PERTANIAN DI SEKITAR INDUSTRI KERTAS DAN PULP KABUPATEN MALANG Hidayati Karamina; Nugroho Aji Prasetiyo; Ariani Trisna Murti; Glorianus Glorianus; Avelinus Tampang
Agrika Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v17i2.4843

Abstract

ABSTRAKSalah satu industri yang menghasilkan limbah cair yang mengandung logam berat adalah industri kertas dan pulp. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi logam berat yang berada di lahan pertanian di sekitar industri kertas dan pulp di Kabupaten Malang. Penelitian dilaksanakan  dengan mengambil beberapa sampel tanah dan air dilahan pertanian di sekitar industru tersebut. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2023. Hasil pengujian laboratorium menunjukkan  bahwa logam berat ditemukan pada sampel tanah pada lahan pertanian di sekitar industri kertas dan pulp yaitu timbal (Pb) dengan kandungan sebesar 3064 mg/liter, yang  melebihi nilai ambang batas, sedangkan kandungan Cadmium (Cd) (0,0020 mg/liter) di bawah ambang batas, kandungan Corganik sedang dan pH tanah agak masam. Pada air limbah industri kertas dan pulp juga ditemukan kandungan Pb yang melebihi ambang batas, sedangkan kandungan Cd tidak melebihi nilai ambang batas. Hasil C Organik tanah masuk dalam kategori sedang dan untuk parameter pH H2O masuk dalam kategori agak masam. ABSTRACTOne of the industries that produces liquid waste containing heavy metals is the paper and pulp industry. The aim of this research is to identify heavy metals in agricultural land around the industry in Malang Regency. The research was carried out by taking several soil and water samples on agricultural land around the industry. The research was carried out in May-June 2023. Laboratory test results showed that heavy metals were found in soil samples on agricultural land around the paper and pulp industry, namely plumbum (Pb) with a content of 3064 mg/liter, which exceeds the threshold value, while the Cadmium (Cd) (0.0020 mg/liter) is below the threshold, the C organic content is moderate and the soil pH is slightly acidic. In wastewater from the industry, it was also found that the Pb content exceeded the threshold value, while the Cd content did not. The soil C organic is in the medium category and the pH parameter H2O is in the slightly acidic category.  
KONSERVASI SEMUT HITAM (Dolichoderus thoracicus) DENGAN PAKAN BUATAN PADA TANAMAN KOPI DI KABUPATEN JEMBER Sofia Dwi Paramita; Zuyyina Hafsah Salsa Bila; Lailla Nur Safitri; Nabiilah Zuhriyyah Humaida; Nindy Istigfarani
Agrika Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v17i2.5111

Abstract

ABSTRAKKopi termasuk salah satu tanaman yang memiliki potensi dan peranan yang cukup besar bagi perekonomian  Indonesia. Berdasarkan Badan Pusat Statistika (BPS) volume ekspor kopi Indonesia pada tahun 2021 yaitu 384510 ton atau setara dengan nilai ekspor 849373.2 US$ dan tahun 2020 Jember termasuk penyumbang produksi kopi yang terbanyak. Meskipun demikian produksi kopi berfluktuatif akibat serangan hama PBKo (Coleoptera: Scolytidae) dengan penurunan produksi sekitar 10-40%. Pengendalian secara kimia tidak efektif karena tidak dapat menjangkau sampai ke dalam buah kopi. Upaya yang memungkinkan adalah dengan memanfaatkan musuh alami  PBKo, yaitu dari predator semut hitam (Dolichoderus thoracicus). Semut hitam perlu dikonservasi dengan pakan buatan ntuk memperbanyak koloni. Penelitian ini menggunakan  4 perlakuan yang terdiri dari A0: kontrol; A: gula merah; A2 : madu; A4 : limbah ikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pakan buatan yang paling efektif dalam mengkonservasi semut hitam D. thoracicus adalah perlakuan A2 (madu). Perlakuan A2 mampu mengkoservasi 10623.6 imago; 1316.0 pupa; 2257.0 larva dan 1538.2  telur.  ABSTRACTCoffee is one of the crops that has quite large potential and role in the Indonesian economy. Based on the Central Statistics Agency (BPS), Indonesia's coffee export volume in 2021 is 384,510 tonnes or the equivalent of an export value of 849373.2 US$ and in 2020 Jember will be among the largest contributors to coffee production. However, coffee production fluctuates due to attacks by PBKo pests (Coleoptera: Scolytidae) with a decrease in production of around 10-40%. Chemical control is ineffective because it cannot reach inside the coffee fruit. A possible effort is to utilize PBKo's natural enemies, namely the predatory black ant (Dolichoderus thoracicus). Black ants need to be conserved with artificial food to multiply the colony. This study used 4 treatments consisting of A0: control; A: brown sugar; A2 : honey; A4: fish waste. The research results showed that the most effective artificial feed in conserving black ants D. thoracicus was treatment A2 (honey). Treatment A2 was able to conserve 10623.6 imago; 1316.0 pupa; 2257.0 larvae and 1538.2 eggs. 
REKAYASA TANAMAN CABAI DENGAN REFUGIA DAN TANAMAN PINGGIR SEBAGAI STRATEGI MENINGKATKAN KEANEKARAGAMAN DAN MEMPERCEPAT KEHADIRAN COCCINELLIDAE PREDATOR Siska Efendi
Agrika Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v17i2.4968

Abstract

ABSTRAKAphis gossypii Glover merupakan salah satu hama penting pada tanaman cabai. Salah satu metode pengendalian yang ramah lingkungan dan efektif adalah  menggunakan Coccinellidae predator yang memiliki keanekaragaman rendah pada tanaman cabai. Kehadiran Coccinellidae predator secara alami selalu terlambat dibandingkan A. gossypii. Pengendalian hama tersebut dapat dioptimalkan melalui rekayasa ekosistem dengan penanaman tanaman refugia dan tanaman pinggir di tanaman cabai. Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh tanaman pinggir dan refugia terhadap keanekaragaman dan kehadiran Coccinellidae predator pada tanaman cabai. Penelitian berbentuk eksperimen yang disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan, yaitu: 1) budidaya cabai monokultur, 2) budidaya cabai dan tanaman pinggir, 3) budidaya cabai dan refugia, 4) budidaya cabai, kombinasi tanaman pinggir dan refugia. Percobaan dilakukan pada lahan seluas 35 m x 10 m. Data diolah dengan menggunakan analisis ragam. Jika terdapat perbedaan antar perlakuan, pengolahan dilanjutkan dengan uji Tukey pada taraf nyata 5 %. Hasil penelitian menunjukkan refugia dan kombinasi refugia dengan tanaman pinggir berpengaruh terhadap jumlah individu, jumlah spesies, keanekaragaman, dan kemerataan Coccinellidae predator. Penanaman tanaman refugia dan tanaman pinggir tidak mampu menarik Coccinellidae predator hadir lebih cepat ke tanaman cabai, tetapi dapat menjadi alternatif pengendalian A. gossypii yang ramah lingkungan dan berpotensi meningkatkan keanekaragaman hayati di lahan pertanian. ABSTRACTAphis gossypii Glover is one of the most destructive pests on chili plants. One environmentally friendly and effective control method for this pest is to use predatory Coccinellidae which have low diversity in chili plants. The presence of predatory Coccinellidae is always naturally later than A. gossypii. Control of these pests can be optimized through ecosystem engineering by planting refugia plants and edge plants in chili plants. This research aims to study the influence of edge plants and refugia on the diversity and presence of predatory Coccinellidae on chili plants. The research took the form of an experiment arranged using Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments, namely: 1) monoculture chili cultivation, 2) chili cultivation and edge plants, 3) chili cultivation and refugia, 4) chili cultivation, a combination of edge plants and refugia. The experiment was carried out on an area of 35 m x 10 m. Data were processed using analysis of variance. If there were differences between treatments, processing continued with the Tukey test at a significance level of 5%. The research results showed that refugia and the combination of refugia with edge plants had an effect on the number of individuals, number of species, diversity and evenness of predatory Coccinellidae. Planting refugia plants and edge plants is not able to attract the predatory Coccinellidae present more quickly to chili plants, but can be an environmentally friendly alternative to control A. gossypii and has the potential to increase biodiversity on an agricultural land.