cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
elharakahjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam
ISSN : 18584357     EISSN : 23561734     DOI : -
Core Subject : Health,
EL HARAKAH (ISSN 1858-4357 and E-ISSN 2356-1734) is peer-reviewed journal published biannually by Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) of Malang. The journal is accredited based on the decree No. 36a E. KPT 2016 on 23 May 2016 by the Directorate General of Higher Education of Indonesia, for the period August 2016 to August 2021 (SINTA 2). The journal emphasizes on aspects related to Islamic Culture in Indonesia and Southeast Asia. We welcome contributions from scholars in the field, papers maybe written in Bahasa Indonesia, English, or Arabic.
Arjuna Subject : -
Articles 791 Documents
REPRESENTASI ETIKA BUDAYA JAWA DALAM KOMIK PANJI KOMING: PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM Ismail, Ismail; Nugroho, Heru; Simatupang, G.R. Lono Lastoro
El-HARAKAH (TERAKREDITASI) Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.661 KB) | DOI: 10.18860/el.v17i2.3344

Abstract

The representation of Javanese cultural ethic in the comic Panji Koming can be identified from a few scenes, for example, physical action, speech and moral values through education and learning process since childhood in Javanese culture. The comic performs the Javanese principles and ethics in each edition. Javanese society upholds the manners. Accordingly, respect is the key for harmonious living in the society as a whole. The respect is shown in various ways: gesture, hand movements, voice, greeting, and the level of the language used. However, the discourse on Javanese female stereotype is clearly viewed, because of the simple representation that reduces women to a series of exaggerated characteristics and usually imply a negative connotation. The stereotype has reduced, naturalized, created a basis, and set a difference. While in the perspective of Islamic education the educational values are taught so that their children have good manners and language reflecting the values of Javanese custom which is still applied and maintained. Representasi etika budaya Jawa dalam komik Panji Koming dapat didentifikasi dari beberapa adegan misalnya, gerak fisik, tutur kata dan nilai-nilai moral melalui proses pembelajaran dan pendidikan yang ditanamkan sejak masih anak-anak dalam kebudayaan Jawa. Komik”Panji Koming” memunculkan prinsip-prinsip dan etika ke-Jawa-an pada tiap edisinya. Masyarakat Jawa menjunjung tinggi budaya unggah-ungguh atau tatakrama. Karena itu penghormatan menjadi kunci untuk dapat hidup secara harmonis dalam tatanan masyarakat secara keseluruhan. Penghormatan itu ditunjukkan dalam berbagai cara: sikap badan, tangan, nada suara, istilah penyapa, dan tataran bahasa yang dipergunakan. Namun sisi lain, wacana stereotipe pada perempuan Jawa dipandang jelas, karena adanya representasi sederhana yang mereduksi perempuan menjadi serangkaian karakteristik yang dibesar-besarkan dan biasanya berkonotasi negatif. Jadi stereotipe mereduksi, mendasarkan, mengalamiahkan dan mematok perbedaan. Sementara dalam perspektif pendidikan Islam nilai-nilai pendidikan yang diajarkan bertujuan agar anak-anak memiliki tatakrama serta bertutur kata yang baik yang mencerminkan nilai-nilai kebiasaan orang Jawa yang sampai sekarang masih diterapkan dan dipertahankan.
ISLAM NUSANTARA: SEBUAH ALTERNATIF MODEL PEMIKIRAN, PEMAHAMAN, DAN PENGAMALAN ISLAM Qomar, Mujamil
El-HARAKAH (TERAKREDITASI) Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.263 KB) | DOI: 10.18860/el.v17i2.3345

Abstract

Islam Nusantara is a model of thought, comprehension, and implementation of Islamic teachings covered by culture and tradition developed in Southeast Asia (the scope of which is limited to Indonesia), that reflects Islamic identity with methodological nuance. The identity has various and controversial responses when it is socialized among Moslem because Islam is one, namely, Islam taught by prophet Muhammad. Otherwise, the majority of Islamic scholars accepted Islam Nusantara. That Islam is one is substantively true, but it expressed widely including Islam Nusantara. Islam is presented (thought, comprehended, and implemented) through cultural approach. The result leads to the thinking model, comprehending, and implementing Islamic teachings which are harmonious, moderate, inclusive, tolerant, peaceful, and multicultural based. The diverse Islamic thought is caused by local culture, especially Javanese culture, or called cultural acculturation. The Indonesian Islam can be a role model. It brings peaceful and harmonious messages, so it could be socialized internationally and replaced misleading opinion that Islam is full of violence. Islam Nusantara merupakan model pemikiran, pemahaman dan pengamalan ajaran-ajaran Islam yang dikemas melalui pertimbangan budaya atau tradisi yang berkembang di wilayah Asia Tenggara (tetapi kajian ini dibatasi pada Indonesia), sehingga mencerminkan identitas Islam yang bernuansa metodologis. Identitas ini ketika disosialisasikan di kalangan umat Islam, khususnya para pemikirnya direspons dengan tanggapan yang kontroversial: ada yang menolak identitas Islam Nusantara itu karena Islam itu hanya satu, yaitu Islam yang diajarkan oleh Nabi. Sebaliknya, banyak pemikir Islam yang menerima identitas Islam Nusantara itu. Bagi mereka, Islam hanya satu itu benar secara substantif, tetapi ekpresinya beragam sekali, termasuk Islam Nusantara. Islam ini ditampilkan (dipikirkan, dipahami dan diamalkan) melalui pendekatan kultural. Hasilnya melahirkan model pemikiran, pemahaman dan pengamalan ajaran-ajaran Islam yang ramah, moderat, inklusif, toleran, cinta damai, harmonis, dan menghargai keberagaman. Keberagamaan Islam demikian ini terjadi lantaran perjumpaan Islam dengan budaya (tradisi) lokal, khususnya Jawa, yang biasa disebut akulturasi budaya. Islam Indonesia patut menjadi contoh cara berislam yang demikian. Model Islam yang serba menyejukkan ini perlu dipublikasikan secara internasional dan diharapkan mampu menggugurkan persepsi dunia bahwa Islam itu penuh kekerasan.
The Continuity and Discontinuity of Visiting Sheikh Yusuf Tomb Tradition in Kobbang Gowa-South Sulawesi Syamzan Syukur
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.938 KB) | DOI: 10.18860/el.v18i1.3500

Abstract

The findings of this paper show that the ritual tradition of visiting the tomb of Sheikh Yusuf in Kobbang from time to time amended. It was initially a strong ritual primarily influenced by the nuances of heresy, but on its further development the influence fades due to the efforts of Islamic preachers. The general motivation of the pilgrims is hoping the livelihood they can acquire, such as finding mates, sustenance, offspring, health and inner tranquility. Yet, some are visiting the tomb to appreciate the scholars or heroes or just for sightseeing. In the context of developing society, this tradition seems to be persisted as Sheikh Yusuf is regarded as having karomah, a guardian, scholars and a hero. His personality is considered to bring blessing to the pilgrims. Therefore, for most modern societies this tradition remains alive and serves as one alternative to find peace and cure severe diseases. Temuan tulisan ini menunjukkan bahwa ritual tradisi ziarah makam Syekh Yusuf di Kobbang dari waktu ke waktu mengalami perubahan. Pada awalnya masih ditemukan ritual yang kental dengan nuansa bid’ah tapi pada perkembangan lebih lanjut nuansa bid’ahnya mulai terkikis berkat usaha para da’i Islam. Motivasi yang melatarbelakangi para peziarah pada umumnya agar hajat mereka dapat terpenuhi, seperti hajat mendapatkan jodoh, keturunan, rezeki, kesehatan dan ketenangan batin. Tetapi ada pula yang berziarah ke makam Syekh Yusuf karena motivasi menghargai ulama atau pahlawan atau sekedar berwisata. Dalam konteks masyarakat yang terus mengalami perkembangan, nampaknya tradisi ini tetap bertahan, karena Syekh Yusuf dianggap sebagai seorang yang memiliki karomah, seorang wali, ulama dan seorang pahlawan. Kepribadian yang dimiliki oleh Syekh Yusuf dianggap akan mendatangkan berkah bagi para peziarah. Karena itu, bagi sebagian masyarakat modern, tradisi ini tetap hidup dan dijadikan sebagai salah satu alternatif mencari ketenangan batin dan menyembuhkan penyakit yang tidak terjangkau oleh medis.
Persepsi Masyarakat tentang Makam Raja dan Wali Gorontalo Muhammad Rusli Ibrahim
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.002 KB) | DOI: 10.18860/el.v18i1.3417

Abstract

This study aims to elucidate community perception of royal cemetry and friends of God of Gorontalo by using an approach of phenomenlogy of religion. The result of research pointed out that cemetry was interpreted as a resting place of human kinds after realm. The purpose of cemetry pilgrimage also has a variety, such as, the place of religious excursion, the efficacious place for praying, the place to get blessing from God by invoking the remains, the place to recall the goodness of a hero and a carrier of Islam, the place to learn both of  the history and Ladunni. A conducting variant procession of visiting cemetry is divided into by self-praying and praying by a priets. Particular things brought for the cemetry of Sultan Amai are for graping the water believed to have a blessing whereas pilgrims, at Ju Pangola, bring bottled water placed before cemetry and prayed by priests and also take glebe to get grace. Boon for pilgrims is:  to get a grace of life with praying for the King and Friends of God, appreciate the kindness of Islamic spreaders and Islamic heroes, and to be a guidance of life that human beings will end and return to the God. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji persepsi masyarakat tentang makam raja dan wali Gorontalo dengan menggunakan pendekatan fenomenologi agama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makam dimaknai sebagai tempat peristirahatan manusia setelah alam dunia. Adapun tujuan ziarah makam memiliki varian yakni: Makam sebagai tempat wisata religi; Tempat mustajab berdoa; Tempat untuk mendapatkan berkah dari Allah dengan mendoakan si mayit; Tempat untuk mengenang jasa pahlawan dan pembawa Islam; Tempat untuk belajar baik sejarah maupun ilmu Ladunni. Varian prosesi pelaksanaan ziarah kubur terbagi dua berdoa sendiri dan didoakan oleh imam. Adapun perlengkapan yang menyertai khususnya di makam Sultan Amai adalah mengambil air sumur yang diyakini memiliki berkah sedangkan di makam Ju Pangola adalah air mineral kemasan botol yang ditempatkan di depan makam dan didoakan oleh imam dan mengambil tanah makam untuk mendapatkan keberkahan. Hikmah bagi peziarah: untuk mendapatkan keberkahan hidup dengan mendoakan raja dan para wali Allah, menghargai jasa para pengembang Islam dan para pahlawan; serta menjadikan sebagai pelajaran hidup bahwa manusia pasti akan mati dan kembali ke Allah. 
Integrasi Agama dan Budaya: Kajian Tentang Tradisi Maulod dalam Masyarakat Aceh Abidin Nurdin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.257 KB) | DOI: 10.18860/el.v18i1.3415

Abstract

Islam and tradition in Aceh Community likes substance and attribut that cannot be separated each other. Religion and culture has been integrated in way of life, system social, culture and Islamic values. In cultural perspective, tradition of maulod has become deeping ritual of religion that integrated by values of religion and tradition that connected each other. This study used sociological and religion anthropology approach by using data collection such as observation, interview and library research. The result of this study describe that in maulud tradition in Aceh, there are integrated between religion and culture. Islam influence culture deeply in the same manner as almost whole social life aspects of Aceh community. These are can be found in process of  uroe maulod (the day of maulod), idang meulapeh (beverage of maulod), dzikee maulod (repeatedly chant part of the confession of islamic faith) and Islamic missionary. Indeed, maulod celebration is done not only in a month but also in three months namely; Rabi’ul Awwal (mulod awai/the first maulod), Rabi’ul Akhir (maulod teungoh/ the middle maulod) dan pada bulan Jumadil Awwal (maulod ache/the last maulod). Islam dan adat dalam masyarakat Aceh bagaikan zat dan sifat yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Agama dan budaya terintegrasi dalam pandangan hidup, sistem sosial, budaya, dan nilai-nilai Islam. Dari konteks budaya, tradisi maulud menjadi praktek keagamaan yang kental dengan integrasi nilai-nilai agama dan adat yang saling berkelit kelindang. Kajian ini menggunakan pendekatan sosiologi dan antropologi agama dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan  studi kepustakaan.  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam tradisi maulod di Aceh terjadi integrasi antara agama dan budaya. Islam mewarnai budaya secara begitu kental, sebagaimana juga ditemukan dalam hampir seluruh aspek kehidupan bagi masyarakat Aceh. Hal ini dapat dilihat dalam proses uroe maulod, idang meulapeh, dzikee maulod, dakwah Islamiyah. Bahkan perayaan maulod tidak hanya sebatas satu bulan saja, namun dilaksanakan dalam tiga bulan yaitu, Rabi’ul Awwal (mulod awai), Rabi’ul Akhir (mulod teungoh) dan pada bulan Jumadil Awwal (mulod akhe).
Bisnis Orang Sunda: Studi Teologi dalam Etika Bisnis Orang Sunda Didin Komarudin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.085 KB) | DOI: 10.18860/el.v18i1.3501

Abstract

Business activities constitute modern management-oriented professional enterpreneurship act. This research gives evidence that business ethics is needed as guiding frame of every business policy. Morever, the theological factor plays an important role in encouraging man to be successful in business. CV. Batu Gunung Padakasih (BGP) located in Cikancung Bandung, Tapin District, has represented the findings concerning relation between ethics and social business theology in the policy that may be regarded as causal relation in business success. The theological aspects come to the surface, but still needed depth tracking, aspecially on God’s power before men. The efforts of praying and asking for blessing remain part of theological aspect integral to human performance. As for social theology emerged in the form of profit-sharing as much as 2.5% for the construction of social and religious institutions. Kegiatan bisnis merupakan manajemen modern yang berorientasi profesional kewirausahaan tindakan. Penelitian ini memberikan bukti bahwa etika bisnis diperlukan sebagai pedoman kerangka setiap kebijakan bisnis. Terlebih lagi, faktor teologis memainkan peran penting dalam mendorong manusia untuk menjadi sukses dalam bisnis. CV. Batu Gunung Padakasih (BGP) yang terletak di Cikancung Bandung, Kabupaten Tapin, telah menunjukkan temuan yang signifikan mengenai hubungan antara etika dan teologi bisnis sosial dalam kebijakan yang dapat dianggap sebagai hubungan kausal dalam keberhasilan bisnis. Aspek teologis muncul ke permukaan, namun masih diperlukan pelacakan mendalam, terutama aspek kekuasaan Tuhan terhadap manusia. Upaya doa dan meminta berkah kepada alim ulama tetap menjadi bagian teologi yang tidak terpisahkan dengan kinerja manusia. Adapun teologi sosial muncul dalam bentuk pembagian keuntungan perusahaan sebanyak 2,5 % untuk kepentingan pembangunan lembaga keagamaan dan lembaga sosial.
Blangkon Hitam: Identitas Gerakan Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga dalam Masyarakat Muslim Perkotaan Fikria Najitama
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.506 KB) | DOI: 10.18860/el.v18i1.2843

Abstract

This paper discusses the identity represented by the community of Padepokan dakwah Sunan Kalijaga (Padasuka). This community is located in Pesantren Ummul Qura, Pondok Cabe Ilir, South Tangerang. There are several reasons underlying the need to explore Padasuka community. One of them is the black clothes and Javanese blangkon of the male members. This fact is certainly interesting as this community exists in a multi- ethnic region and modern urban area. The finding shows that Kiai Syarif, as the leader plays a dominant role in the process of identity representation. This is because he has a strong capital in the social and cultural aspects. In addition, the cultural identity of the community not only serves to determine the code of conduct, but also as a tool of resistance against the domination of the external culture. Tulisan ini membahas identitas yang digunakan oleh komunitas Padepokan dakwah Sunan Kalijaga (Padasuka). Padasuka merupakan komunitas yang berada dalam Pesantren Ummul Qura, Pondok Cabe Ilir, Tangerang Selatan. Ada beberapa alasan yang menjadikan komunitas Padasuka menarik untuk dikaji. Salah satunya adalah pakaian mereka yang serba hitam, dan memakai blangkon dari Jawa bagi anggota laki-laki. Kenyataan ini tentunya menarik, karena Padasuka berada dalam kawasan multi-etnis dan wilayah perkotaan yang modern. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa Kiai Syarif, sebagai tokoh komunitas Padasuka, mempunyai posisi yang sangat dominan dalam proses reproduksi identitas. Hal ini karena dia memiliki modal yang kuat dalam aspek sosial dan kultural. Selain itu, dalam komunitas Padasuka, identitas budaya bukan hanya sebagai pengarah yang menentukan kode etik, namun juga menjadi alat resistensi atas dominasi budaya dari luar.
The Quest of The Islamic Archipelago Inheritance through The Javanese Living Folklore Siti Masitoh
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.355 KB) | DOI: 10.18860/el.v18i1.3499

Abstract

This article is aimed at digging out the Islamic archipelago inheritance through the Javanese living folklore namely ruwatan. Ruwatan is the traditional ceremony done in order to pray to God so that the life of sukerta (one carrying bad luck) will not be under the threat of Bathara Kala. God is the only one who is able to release the sukerta‘s burden. The dalang (story teller) functions as a mediator of the sukerta to pray to God. Ruwatan is usually done by performing the shadow play and the dalang narrates Murwakala. There are many activities undergone by both the dalang and the sukerta before and after the performance of the shadow play. This article discusses the message of Murwakala in which the writer believes that it is not against the Islamic belief. It is a matter of fact that Murwakala was created in the 17th century anonymously so it can be assumed that it is related to the arrival of Islam in Java. Artikel ini bertujuan menggali warisan Nusantara Islam melalui cerita rakyat orang Jawa yaitu ruwatan. Ruwatan merupakan upacara adat dalam rangka berdoa kepada Tuhan agar kehidupan sukerta (pihak yang menyandang sesuatu penyebab kesialan) tidak akan berada di bawah ancaman Bathara Kala. Tuhanlah satu-satunya yang mampu melepaskan beban sukerta. Dalang berfungsi sebagai mediator sukerta untuk berdoa kepada-Nya. Ruwatan biasanya dilakukan dengan pertunjukan wayang dan dalang mengisahkan Murwakala. Ada beberapa ritual yang dilakoni baik dalang maupun sukerta sebelum dan setelah pertunjukan wayang. Artikel ini membahas pesan Murwakala di mana penulis berpendapat bahwa pesan tersebut tidak bertentangan dengan keyakinan Islam. Fakta menunjukkan bahwa Murwakala diciptakan pada abad ke-17 secara anonim sehingga dapat diasumsikan bahwa itu terkait dengan masuknya Islam ke tanah Jawa.
Manajemen Konflik Berbasis “Multicultural Competences”: Solusi Alternatif Kontestasi Pribumi dan Salafi di Lombok Mohamad Iwan Fitriani
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.436 KB) | DOI: 10.18860/el.v18i1.3459

Abstract

The relationship between salafism and indigeneous moslem at Lombok caused several contestations and needed to be studied deeply. In this study, salafism and indigeneous moslem will be classified into rural and urban. This classification based on their unique relations: (1) salafism gets high resistence from rural indigenous moslems, (2) meanwhile, salafism receives tolerance from urban indigenous moslem. This study uses qualitative approach with interpretive paradigm to answer causes of rural indigeneous moslems resistences toward rural salafism, causes of urban indigeneous moslems tolerance toward urban salafism and how to formulate conflict management based on multicultural competences. This study shows that different responses of indigenous moslems toward salafism aren’t only caused by the contestations of Ahlu-al sunnah but also many other elements. Then, multicultural competences needed to be developed by religious elite as an alternative to manage conflict in plural society for the sake of peace built on reciprocal multicultural values. Relasi antara antara salafi dan pribumi di Lombok telah melahirkan berbagai kontestasi yang perlu diulas secara mendalam. Dalam kajian ini, salafi dan pribumi diklasifikasi menjadi dua yaitu salafi desa dan kota serta pribumi desa dan kota. Klasifikasi ini didasarkan pada keunikan relasinya: (1) salafi desa mendapat resistensi tinggi dari muslim pribumi desa, (2) salafi kota mendapatkan toleransi dari pribumi kota. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma interpretatif untuk menjawab penyebab resistensi pribumi desa terhadap salafi desa, penyebab toleransi pribumi kota terhadap salafi kota serta bagaimana rumusan model manajemen konflik berbasis kompetensi multikultural. Kajian ini menunjukkan bahwa perbedaan respon pribumi terhadap salafi tidak hanya disebabkan oleh kontestasi ahlu al-sunnah tetapi juga banyak unsur-unsur yang lain. Selanjutnya, multicultural competence perlu dikembangkan oleh elit agama sebagai alternatif manajemen konflik dalam realitas sosial yang plural demi kerukunan yang dibangun oleh nilai-nilai resiprokal-multikultural.
Al-Mukhadarat fi Nazhr Al-Islam Suwandi Suwandi
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 9, No 1 (2007): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (854.833 KB) | DOI: 10.18860/el.v9i1.4665

Abstract

The presence of narcotics in Islamic world is considered new. Alquran and Hadis do not textually discuss this dangerous thing. Even, there is no indication of restriction of its plant. The term “khomr” is indeed mentioned both in Alquran and Hadis but the definition becomes limited when ulama (specifically ulama in certain mazhab) defines it as something liquid. Some ulama, excessively, delimitate khomr merely as a kind of drink made of grape extract. Narcotics were then known in Islam in the first 6th century when Tatar people colonized and wanted to dominate Moslem society. At that time, common people in Moslem society were influenced in consuming narcotics. After that, number of ulama discussed the law which in fact has harmfully intoxicated (iskar) effect more than khomr. Just then, ulama agreed to forbide (haram) it in the way of kiyas over khomr. The level of its prohibition was also varied based on its kiyas mechanism which is used in the investigation by the authoritative parties. Kehadiran markotika di dunia Islam merupakan hal baru. Alquran dan Hadis secara tekstual tidak membahas barang yang sangat berbahaya ini secara langsung. Bahkan tidak ada indikasi diharamkannya sebuah tanaman atau tumbuhan pada keduanya. Istilah khomer memang disebutkan, baik di dalam Alquran maupun Hadis. Namun pengertian khomer tersebut akhirnya menjadi sempit tatkala para ulama khususnya ulama mazhab mengartikan sebagai sesuatu yang cair. Bahkan secara ekstrim sebagian ulama mazhab tersebut membatasi bahwa yang dimaksudkan dengan khomer adalah minuman yang terbuat dari sari anggur saja. Narkotika baru dikenal di dunia Islam kira-kira awal abad keenam, yaitu ketika bangsa Tatar menjajah dan ingin menguasai kaum muslimin. Pada waktu itulah orang-orang awam dari kalangan kaum muslimin terpengaruh mengkonsumsi narkotika. Baru setelah itu para ulama membicarakan dan membahas hukumnya yang ternyata efek iskar (memabukkannya) kebih berat dan lebih berbahaya dari khomer. Maka, ulama sepakat akan keharamannya dengan jalan kiyas terhadap khomer. Tingkat keharamannya pun akhirnya bervariatif sesuai mekanisme kiyas yang diberlakukan dalam penyidikan oleh yang berwenang. 

Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH E-Harakah (Vol 14, No 2 Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 13, No 1 Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 12, No 3 el-Harakah (Vol 12, No 2 el-Harakah (Vol 12, No 1 Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 11, No 2 el-Harakah (Vol 11, No 1 Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 2 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 1 (2007): EL HARAKAH Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH More Issue