cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
elharakahjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam
ISSN : 18584357     EISSN : 23561734     DOI : -
Core Subject : Health,
EL HARAKAH (ISSN 1858-4357 and E-ISSN 2356-1734) is peer-reviewed journal published biannually by Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) of Malang. The journal is accredited based on the decree No. 36a E. KPT 2016 on 23 May 2016 by the Directorate General of Higher Education of Indonesia, for the period August 2016 to August 2021 (SINTA 2). The journal emphasizes on aspects related to Islamic Culture in Indonesia and Southeast Asia. We welcome contributions from scholars in the field, papers maybe written in Bahasa Indonesia, English, or Arabic.
Arjuna Subject : -
Articles 789 Documents
Korelasi antara Penguasaan Kosakata, Minat Baca, dDan Kemampuan Meresepsi Cerpen Sufistik Siswa Madrasah Tsanawiyah Minahasa Kinayati Djojosuroto
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.805 KB) | DOI: 10.18860/el.v16i1.2773

Abstract

At Madrasah Tsanawiyah (MTs), literature is a part of Indonesian Letters and Language class. Literature can refine manners, enrich aesthetic experience, and improve the knowledge of students. Literature teaching increases their ability in understanding, enjoying, loving, and appreciating literary work, and also to help their development of psychological aspects towards shaping their character as a whole. Regarding reading interest, students were helped in understanding and comprehending sufi short story when they mastered the adequate vocabulary. The sufi short story as a work of literature is rich of life values, either local or spiritual ones. Sufi value  belongs to spiritual value  assessed to develop a person’s spiritual state. This study used the survey method with correlation technique. The respondents were tested on vocabulary mastery, given quiz for reading interest, and also taken essay test for the ability to comprehend sufi short story. It was done in MTs Kampung Jawa, Tondano, Minahasa.  Based on the analysis of the hypothesis test, all of the alternative hypothesizes (H1) given in this research were accepted. This means that the ability to comprehend sufi short story (Y) can be improved by developing the mastery of vocabulary (X1) and reading interest (X2). Di Madrasah Tsanawiyah (MTs), sastra merupakan bagian dari pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Sastra dapat memperhalus budi pekerti, memperkaya pengalaman estetik, dan meningkatkan pengetahuan siswa. Pengajaran sastra bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami, menikmati, mencintai, dan menghargai karya sastra, serta membantu perkembangan aspekaspek kejiwaan anak menuju terbentuknya kebulatan pribadinya. Sehubungan dengan minat baca, siswa sangat terbantu dalam memahami dan meresepsi cerpen sufistik ketika mereka menguasai kosakata yang memadai. Cerpen sufistik sebagai karya sastra, kaya akan nilai-nilai kehidupan, baik itu nilai budaya maupun nilai spiritual. Nilai sufistik termasuk dalam nilai spiritual yang apabila dikaji akan membantu mengembangkan spiritual seseorang. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan teknik korelasi. Responden diuji dengan tes penguasaan kosakata, kuis untuk minat baca, dan tes esai untuk kemampuan meresepsi cerpen sufistik. Penelitian ini dilaksanakan di MTs Kampung Jawa Tondano, Minahasa. Berdasarkan analisis pengujian hipotesis, dapat disimpulkan bahwa semua hipotesis alternatif (H1) yang diajukan pada penelitian ini diterima. Hal ini berarti bahwa kemampuan meresepsi cerpen sufistik (Y) dapat meningkat dengan meningkatkan penguasaan kosakata (X1) dan minat baca (X2).
KEARIFAN LOKAL PADA ARSITEKTUR VERNAKULAR GORONTALO: Tinjauan Pada Aspek Budaya dan Nilai-nilai Islam Heryati, Heryati; Nico Abdul, Nurnaningsih
El-HARAKAH (TERAKREDITASI) Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1592.504 KB) | DOI: 10.18860/el.v16i2.2774

Abstract

This paper aimed to reveal the values of local wisdom in the vernacular architecture of Gorontalo. The research was conducted with a qualitative research method in which the data were grouped into physical and non-physical data. Physical data (tangible) is obtained by measuring, drawing, photo recording, and tracking documents, while the non-physical data (intangible) is gained through interviews with ta momayanga (the expert), basi lo bele (home builders), tauwa lo adati (traditional leader), community /religious figure, architects, academicians and through discussions. The data analysis is done by describing and interpreting the empirical evidence through the vernacular theories to figure out the vernacular concept of the stage house of Gorontalo. Furthermore, the theory of the relation of function, form and meaning is used to reveal the concept of local wisdom. The results show that the architecture of the stage houses contains vernacular factors loaded with the values of local wisdom that can be seen from the shape, layout, construction structure and ornamentation. The values of local wisdom was reinforced after the arrival of  Islam in Gorontalo around 15-16 century. Artikel ini bertujuan mengungkap nilai-nilai kearifan lokal dalam arsitektur vernakular Gorontalo. Penelitian dilakukan dengan metode penelitian kualitatif dimana data dikelompokkan menjadi data fisik dan non fisik. Data fisik (tangible) diperoleh dengan cara pengukuran, penggambaran, rekaman foto, dan penelusuran dokumen, sedangkan data non fisik (intangible) diperoleh melalui wawancara terhadap ta momayanga (ahli rumah), basi lo bele (tukang rumah), tauwa lo adati (tokoh adat), tokoh masyarakat/agama, arsitek, akademisi dan melalui diskusi-diskusi. Analisis data dilakukan melalui deskripsi dan interpretasi bukti empiris yang dikaji berdasarkan teori-teori vernakular untuk mengetahui konsep vernakular rumah panggung Gorontalo. Selanjutnya untuk mengungkap konsep kearifan lokal dilakukan melalui teori relasi fungsi, bentuk dan makna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arsitektur rumah panggung Gorontalo mengandung faktor-faktor vernakular yang sarat nilai-nilai kearifan lokal yang terlihat dari bentuk, tata ruang, struktur konstruksi dan ornamen. Nilai-nilai kearifan lokal ini semakin diperkuat setelah masuknya Islam di Gorontalo sekitar abad ke 15-16.
DINAMIKA RUANG WISATA RELIGI MAKAM SUNAN GIRI DI KABUPATEN GRESIK Santosa, Budi; Antariksa, Antariksa; Dwi Wulandari, Lisa
El-HARAKAH (TERAKREDITASI) Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1052.517 KB) | DOI: 10.18860/el.v16i2.2775

Abstract

Space is the product of an activity, which involves economic and technical activities owned by a group of people, so it has political and strategic nature. The relationship between space and activity is very close, where the space has a concept of a container and content. This study concerns the dynamics of space in Sunan Giri Tomb  formed because of the conflict and activities in the tomb tourist site. The visitors’s space dimension of Sunan Giri Tomb can not be physically limited as each visitor has his own movement space and purpose of his activities. The aim of this study is to analyze the dynamics of space for visitor’s activity in  the tomb. The  method used is descriptive qualitative, deciphering the visitor’s behavior as the research object. The finding shows that space once had  a specific function, but because of the activity and condition adjustment at one time, then the dynamics in space happen. The dynamics contain changes in the function and meaning or the space character which is associated with the context of time and influenced by human activities. Ruang adalah produk aktivitas, yang melibatkan aktivitas ekonomi dan teknik yang dimiliki sekelompok masyarakat, sehingga sifatnya politis dan strategis. Hubungan aktivitas dan ruang sangat erat, dimana konsep ruang sebagai wadah (of space) dan pengisinya (in space). Penelitian ini mengenai dinamika ruang pada Makam Sunan Giri yang terbentuk karena konflik dan aktivitas di wisata religi Makam Sunan Giri. Dimensi ruang peziarah Makam Sunan Giri tidak bisa dibatasi secara fisik karena masing-masing memiliki ruang gerak dan maksud atas aktivitasnya. Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis dinamika ruang terhadap aktivitas peziarah Makam Sunan Giri. Metode penelitian menggunakan deskriptif kualitatif, dengan menjelaskan perilaku para peziarah sebagai objek penelitian. Hasil penelitian menemukan bahwa ruang pada awalnya memiliki fungsi tertentu, namun karena adanya aktivitas dan penyesuaian kondisi pada satu waktu terjadilah dinamika pemanfaatan ruang. Dinamika tersebut meliputi perubahan fungsi dan makna atau karakter ruang yang terkait dengan konteks waktu dan dipengaruhi aktivitas manusia.
Perubahan Ruang pada Tradisi Sedekah Laut di Kampung Nelayan Karangsari Kabupaten Tuban Helena Ramantika; Agung Murti Nugroho; Jenny Ernawati
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1382.458 KB) | DOI: 10.18860/el.v16i2.2776

Abstract

Tradition “Sedekah Laut” often done by fishing communities is one of Indonesian culture. Karangsari village is one of the villages that still maintain this tradition. It becomes  a form of gratitude in daily life, after their needs can be fulfilled well, the health of local residents guaranteed, and they got  abundant catches. This study aimed to identify space changes in either micro, meso and macro scales of the tradition. The method used in this research is qualitative descriptive exploring the space and activities in it. The result showed that there was a change in the space in the tradition activity which occurs either in micro, meso and macro scales. The space chages followed the needs of the process in the tradition. Tradisi sedekah laut yang sering dilakukan masyarakat nelayan merupakan salah satu kebudayaan Indonesia. Kampung Karangsari merupakan salah satu kampung yang masih mempertahankan tradisi sedekah laut. Kegiatan sedekah laut ini adalah suatu bentuk ungkapan syukur dalam kehidupan sehari-hari, dimana kebutuhan hidup dapat tercukupi dengan baik, kesehatan warga setempat terjamin, dan hasil laut dapat menghasilkan tangkapan yang melimpah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan ruang baik skala mikro, meso dan makro dalam tradisi sedekah laut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, dengan mengeksplorasi ruang dan aktivitas yang terdapat di dalamnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perubahan ruang ketika aktivitas tradisi sedekah laut terjadi baik skala mikro, meso dan makro. Perubahan ruang tersebut mengikuti kebutuhan proses kegiatan sedekah laut.
Akulturasi dan Kearifan Lokal dalam Tradisi Baayun Maulid pada Masyarakat Banjar Zulfa Jamalie
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (664.18 KB) | DOI: 10.18860/el.v16i2.2778

Abstract

This research examines the acculturation and transformation of traditional values of Banjarese Baayun Maulud . It used religious anthropology approach as an effort to understand the deepest meaning of the research object. The result shows that this tradition was historically started from swinging child ceremony of Dayakese Tribe in Kalimantan, in order to give blessing, give name, pray for safety, and to thank for the child birth. A long with the incoming and development of Islam in this region, the ceremony which was inherited by the ancestors experienced changes. The Islamic preachers have changed and acculturated this ceremony so it is full of Islamic values. The ceremony once called swinging child ceremony, then after the acculturation it became Baayun Maulud. The venue is centralized at the mosque and is combined with the celebration of Muhammad’s birthday. The children are swung with qur’an recitation, rhyme quatrains of maulud, and prayers. The local wisdoms and the religious thoughts has been unified in harmony in the tradition, which becomes the sign of gratitude expressions  for the child birth, as well as for celebrating and honoring the birth of the Greatest Prophet Muhammad. Penelitian ini mengkaji akulturasi dan transformasi nilai dalam tradisi Baayun Maulid masyarakat Banjar. Penelitian ini menggunakan pendekatan antropologis keagamaan sebagai upaya memahami makna mendalam dari objek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejarah munculnya tradisi ini bermula dari upacara maayun anak masyarakat Dayak Kalimantan untuk memberikan keberkahan, memberi nama, menyampaikan doa keselamatan, dan tanda syukur atas kelahiran anak. Seiring dengan masuk dan berkembangnya Islam di kawasan ini, upacara yang diwariskan oleh nenek moyang ini pun mengalami perubahan. Ulama penyebar Islam telah merubah dan mengakulturasi upacara ini menjadi sarat dengan nilai-nilai keislaman. Apabila semula upacara ini dinamakan Baayun Anak, maka sesudah diakulturasi berubah menjadi Baayun Maulid. Tempat pelaksanaan dipusatkan di masjid dan disandingkan dengan peringatan maulid Nabi. Anak diayun dan dibacakan al Quran, syairsyair maulid, serta doa. Tradisi lokal dan ajaran agama telah bersatu secara harmonis dalam kegiatan Baayun Maulid, yang menjadi penanda kesyukuran atas kelahiran anak sekaligus peringatan dan penghormatan atas kelahiran Nabi Muhammad.
Pola Komunikasi dan Stratifikasi dalam Budaya Tutur Masyarakat Gayo Marhamah Marhamah
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.045 KB) | DOI: 10.18860/el.v16i2.2779

Abstract

Speech is a system call or a form of greeting in Gayo society. The division is closely related to the form of speech or other forms of family kinship system in Gayo society. Because it is a path connecting said to strengthen the bond of kinship within a family and village. The use of said form is used, depending on the position or stratification in the path of an opponent said kinship facing speakers. Said also reflected in the manner and attitude of politeness of speakers against opponents he said, called the ethics of communication. This paper aims to describe patterns of communication in Gayo society called the speech and its relationship to stratification or hierarchy within the kinship system and ethical values   contained in the communication of Islam said. Tutur merupakan sistem panggilan atau bentuk sapaan yang ada dalam masyarakat Gayo. Pembagian bentuk tutur berkaitan erat dengan sistem kekerabatan atau bentuk keluarga dalam masyarakat Gayo. Karena itu tutur merupakan jalur penghubung untuk menguatkan ikatan kekerabatan dalam suatu keluarga dan kampung. Pemakaian bentuk tutur yang digunakan, bergantung kepada kedudukan atau stratifikasi dalam jalur kekerabatan dari lawan tutur yang dihadapi penutur. Dalam tutur juga tergambar cara dan sikap kesantunan berbahasa dari penutur terhadap lawan tuturnya, yang disebut dengan etika komunikasi. Tulisan ini bertujuan untuk mendiskripsikan pola komunikasi dalam masyarakat Gayo yang disebut dengan tutur dan hubungannya dengan stratifikasi atau hirarki dalam sistem kekerabatan serta nilai-nilai etika komunikasi Islam yang terkandung dalam tutur.
Religious Conflicts Management Based on Local Wisdom in The Temple Village of Malang Indonesia Munirul Abidin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.17 KB) | DOI: 10.18860/el.v16i2.2780

Abstract

Indonesia is a country prone to conflict, because it has a pluralistic, multi-ethnic, multi-religious and multi-cultural society. Therefore, it must be certain efforts to prevent the conflict between them in the community. This research aims to describe the conflict resolution through values of local wisdom. It employs qualitative approach with observation, interview,  and documentation as methods to collect data.  The finding shows that local wisdom values have big contribution to make community with complex religions and ethnic lived in harmony.  Local wisdom values also have big role to resolve all conflict problems in the community and make them more humble, tolerant and wise to face the problem in their lives. Indonesia merupakan negara yang rawan terjadi konflik. Salah satu penyebabnya adalah karena Indonesia negara yang memiliki masyarakat majemuk, multi etnis, multi agama dan multi budaya. Karena itu, harus ada upaya-upaya tertentu agar konflik antar etnis, agama dan budaya tersebut tidak terjadi dalam masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan managemen konflik berbasis nilainilai budaya lokal. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah pengamatan, wawancara dan dokumentasi. Penelitian ini menemukan bahwa nilai-nilai budaya lokal memiliki kontribusi yang besar untuk menciptakan masyarakat yang memiliki kompleksitas agama dan suku hidup dalam suasana yang harmonis. Nilai-nilai budaya lokal juga memiliki peran penting dalam memecahkan masalah konflik dalam masyarakat, serta menjadikan mereka lebih ramah, toleran dan bijaksana dalam menghadapi problem-problem kehidupan.
Tradisi Meugang dalam Masyarakat Aceh: Sebuah Tafsir Agama dalam Budaya Marzuki Marzuki
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.651 KB) | DOI: 10.18860/el.v16i2.2781

Abstract

Meugang is a tradition preserved by the people of Aceh to date. It is hold to welcome Ramadan, Idul Fitri and Eid al-Adha. It is a manifestation of a religious interpretation practiced in a form of Acehnese culture. How is meugang tradition in the society? Why this culture is believed to be part of the religion and operates as religious interpretation in people’s life? This study answers them by analyzing the tradition shape through direct observation, because the researcher is an active participant as native Acehnese and live among them. Furthermore, document review is done on the tradition. The results showed that meugang is one of the practices of values existing in Islam. This tradition is used as a means of religious teaching practice, such as anyone who likes to welcome Ramadan will be prevented from the fire of hell. This is indicated by eating meat as a form of pleasure of Acehnese people, as well as holding a feast expecting reward from food or alms. This tradition has been inherent in Aceh, so this tradition is like recommended in religion, it operates as a part of  religion, and as if it is a compulsory ordered by religion. Meugang adalah tradisi yang dilestarikan masyarakat Aceh sampai saat ini. Meugang diadakan pada saat menyambut bulan Ramadhan, hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Meugang merupakan wujud dari sebuah tafsir agama yang diamalkan dalam bentuk budaya masyarakat Aceh. Bagaimana tradisi meugang dalam masyarakat Aceh? Mengapa budaya meugang diyakini sebagai bagian dari agama dan beroperasi sebagai tafsir agama dalam kehidupan masyarakat Aceh? Penelitian ini menJawabnya dengan menganalisis bentuk tradisi meugang, melalui observasi langsung, karena peneliti adalah partisipan aktif sebagai orang Aceh asli dan hidup ditengah-tengah masyarakat. Selanjutnya juga dilakukan telaah dokumen yang berhubungan dengan tradisi meugang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meugang merupakan salah satu praktek dari nilai-nilai dalam agama Islam. Tradisi ini dijadikan sarana pengamalan ajaran agama, seperti barang siapa yang senang menyambut bulan Ramadhan, maka Allah akan mengharamkan tubuhnya dari api neraka. Hal ini ditunjukkan dengan makan daging sebagai bentuk senangnya orang Aceh, serta mengadakan kenduri mengharapkan pahala dari kenduri atau sedekah makanannya. Tradisi ini telah melekat dalam diri masyarakat Aceh, sehingga tradisi ini seolah-olah adalah ajaran agama yang sangat dianjurkan, beroperasi menjadi bagian dari agama, dan seakan-akan menjadi kewajiban yang diperintahkan oleh agama.
SIKAP MASYARAKAT MADURA TERHADAP TRADISI CAROK: STUDI FENOMENOLOGI NILAI-NILAI BUDAYA MASYARAKAT MADURA Rokhyanto, Rokhyanto; Marsuki, Marsuki
El-HARAKAH (TERAKREDITASI) Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.901 KB) | DOI: 10.18860/el.v17i1.3086

Abstract

This paper describes personal and communal attitudes of Maduranese towards carok and the reasons of existing carok. The study’s approach is descriptive involving 195 Maduranese. Observation, questionnaire, and interview were implemented to collect data. Result of analysis shows 4 personal attitudes toward carok as follow: 75% accept that they are not intend to do carok, 60% accept that they will not do carok in any reason, 77.38% accept to solve all cases wisely without doing carok, and (4) 77.40% will not do carok because of being obedient to state and religious rules. While 5 Maduranese communal attitudes toward carok involve: 64.16% accept that carok is not Madura tradition, 81.11%  accept that Madura community love peace, 86.11% agree that carok does not represent Maduranese, 82.44% agree that carok is bad rules, and 76.11%  accept to solve all cases wisely without carok. It is also concluded that the motivation of carok are  women, misunderstanding, inheritance, belief, theft, and debt problems. Studi ini bertujuan mendeskripsikan sikap individu dan kelompok orang Madura terhadap tradisi carok serta alasan-alasan terjadinya carok. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan subyek berjumlah 195 orang. Instrumen yang digunakan adalah pengamatan, angket, dan wawancara. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan 4 sikap individu terhadap carok meliputi 75% tidak senang memiliki tradisi carok, 60% tidak melakukan carok, 77,38%, menyelesaikan persoalan secara bijak tanpa carok, dan 77,40 tidak melakukan carok karena taat terhadap hukum negara dan agama. Sedangkan 5 sikap kelompok orang Madura terhadap carok meliputi: 64,16% menerima aarok bukanlah budaya orang Madura, 81,11% menyatakan masyarakat Madura cinta damai, 86,11% menyatakan carok tidak mewakili orang Madura, 82,44% menerima carok merupakan perbuatan keji dan melanggar hukum, dan 76,11% menyatakan akan menyelesaikan persoalan secara bijak tanpa carok. Selain itu, ditemukan bahwa motif-motif terjadinya carok adalah karena wanita, kesalahpahaman, warisan, keyakinan, pencurian dan) hutang piutang.
PAHAM QADARIYAH DAN JABARIYAH PADA PELAKU PASAR PELELANGAN IKAN BAJOE KABUPATEN BONE PROPINSI SULAWESI SELATAN Hasbi, Muhammad
El-HARAKAH (TERAKREDITASI) Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.944 KB) | DOI: 10.18860/el.v17i1.3084

Abstract

This article discusses the thoughts of fish auction market in Bajoe on Qadariyah and Jabariyah and the role of Qadariyah and Jabariyah theology on the fish auction market of Bajoe. The methodology used for this research is a descriptive method, to explain the problem, events, and any recent phenomenon. In Islamic thoughts, human activities are interpreted in two mainstreams of thoughts. Firstly, the interpretation that human is a free to will, that human activities are created by his self. Secondly, human actions are not created by man, but by God. For this group, a human is not strong enough to do anything, God controls everything. The first stream, in Islamic thought known as Qadariyah, while the second is called Jabariyah. Several people in the community of fish auction market of Bajoe agree on the opinions of Qadariyah and Jabariyah, while some others disagree. Similarly, most of them are affected by Qadariyah  and partly influenced by Jabariyah. Artikel ini membahas tentang pandangan masyarakat pelaku pelelangan ikan Bajoe terhadap paham Qadariyah dan Jabariyah serta peran teologinya. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif untuk menjelaskan masalah, peristiwa dan fenomena yang ada sampai pada masa sekarang. Pada pemikiran Islam, perbuatan manusia diinterpretasikan pada dua paham. Pertama, manusia mempunyai kebebasan dan kekuatan sendiri untuk mewujudkan perbuatanperbuatannya. Kedua, perbuatan manusia bukanlah disebabkan oleh manusia, melainkan Allah. Pada kelompok ini, manusia tidak memiliki kekuatan untuk berbuat sesuatu, Allah mengendalikan semuanya. Paham pertama dikenal dengan Qadariyah, sedangkan paham yang kedua disebut Jabariyah. Beberapa orang di pasar pelelangan ikan menyetujui paham Qadariyah dan Jabariyah, sebagian lainnya tidak sependapat. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar dari mereka dipengaruhi oleh paham Qadariyah dan sebagian kecil dipengaruhi oleh paham Jabariyah.

Page 10 of 79 | Total Record : 789


Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH E-Harakah (Vol 14, No 2 Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 13, No 1 Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 12, No 3 el-Harakah (Vol 12, No 2 el-Harakah (Vol 12, No 1 Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 11, No 2 el-Harakah (Vol 11, No 1 Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 2 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 1 (2007): EL HARAKAH Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH More Issue