cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
elharakahjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam
ISSN : 18584357     EISSN : 23561734     DOI : -
Core Subject : Health,
EL HARAKAH (ISSN 1858-4357 and E-ISSN 2356-1734) is peer-reviewed journal published biannually by Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) of Malang. The journal is accredited based on the decree No. 36a E. KPT 2016 on 23 May 2016 by the Directorate General of Higher Education of Indonesia, for the period August 2016 to August 2021 (SINTA 2). The journal emphasizes on aspects related to Islamic Culture in Indonesia and Southeast Asia. We welcome contributions from scholars in the field, papers maybe written in Bahasa Indonesia, English, or Arabic.
Arjuna Subject : -
Articles 791 Documents
PERGESERAN NILAI-NILAI ISLAM DALAM CERITA ALADDIN: PERBANDINGAN “ARABIAN NIGHTS” DAN FILM ANIMASI DISNEY Rahayu, Mundi; Abdullah, Irwan; Udasmoro, Wening
El-HARAKAH (TERAKREDITASI) Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.282 KB) | DOI: 10.18860/el.v17i1.3085

Abstract

This study compares the folktale “The Story of Aladdin and the Wonderful Lamp” from the Arabian Nights, and the animated film produced by Walt Disney Feature Animation under the title “Aladdin” (1992). The story of Disney’s animated film “Aladdin” is based on the “The Story of Aladdin and the Wonderful Lamp.” The comparison of the two is focused on the aspect of Islamic values, its shifts and changes in the animated film Aladdin. The study applies Fairclough’s Critical Discourse Analysis, by applying the three stages of analysis.  The first level is micro level, on the language practice. In the second level, mezo level, discusses the discourse practice that covers the intertextuality that explore the production and consumption of text as the reference in delivering the ideas. In the third level, macro level, it interprets the social context of particular events. The finding shows that there is a change of discourse of Islamic value which is strongly expressed in the origiinal Aladdin story of “Arabian Nights” especiallly the important role of family. On the other hand, in the animated film Aladdin, remove the discourse of Islamic value and change it into the discourse of freedom. Artikel ini membandingkan dua cerita Aladdin yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi Arabian Nights dengan judul cerita “The Story of Aladdin and the Wonderful Lamp,” dengan film animasi produksi Walt Disney Feature Animation dengan judul “Aladdin” (1992). Cerita Aladdin dalam film animasi ini didasarkan pada cerita“The Story of Aladdin and the Wonderful Lamp.” Perbandingan ini difokuskan pada aspek nilai-nilai Islam, pergeseran dan perubahan yang terjadi pada film animasi Aladdin. Studi ini menerapkan Analisis Wacana Kritis Fairclough dengan menerapkan tiga tingkatan analisis. Tingkatan pertama adalah analisis mikro atau aspek bahasa. Pada tingkatan kedua adalah tingkatan mezo, yang menganalisis praktik wacana yang mencakup intertekstualitas yang mengeksplorasi produksi dan konsumsi teks referensi atas suatu gagasan. Pada tataran ketiga, tataran makro analisis difokuskan pada konteks sosial dari suatu peristiwa naratif tertentu. Hasil analisis menunjukkan bahwa ada pergeseran dan perubahan nilai-nilai Islam yang dalam cerita Aladdin. Dalam “Arabian Nights” cerita Aladdin sangat menonjolkan wacana nilai Islam terutama dalam hal peran penting keluarga, sedangkan dalam film animasi Aladdin wacana yang menonjol adalah nilai kebebasan.
POLITIK IDENTITAS MASYARAKAT TENGGER DALAM MEMPERTAHANKAN SISTEM KEBUDAYAAN DARI HEGEMONI ISLAM DAN KEKUASAAN Maksum, Ali
El-HARAKAH (TERAKREDITASI) Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.416 KB) | DOI: 10.18860/el.v17i1.3083

Abstract

This article explores the dynamic of Tengger communities life in order to defend its culture with regard to the expansion of Islam and the power of Indonesian government. The research were conducted in two villages, Ngadisari and Sapikerep, Probolinggo. Using the perspective of representation theory, this study  elaborate more detail about the strategy of the Tengger people in representing their identity in the midst of the dynamics of the changing time. The dynamics dialectic between the Tengger and power (Islam) have brought out two important propositions. First, because of the strong tradition and culture Tengger systems, both Hindu and Islamic ideology interpreted as a cultural system that only symbolically attached to the Tengger. Second, although impressed syncretic, in fact, Islam and Hinduism also established world view Tengger substantive and culturally. The second view is as commonly as Islam in Java, "Javanese Islam" behind its character as if syncretic. However, it shows "substantial Islam" because it is based on religious traditions of Sufism. Artikel ini mengeksplorasi dinamika masyarakat Tengger dalam mempertahankan sistem kebudayaan dari ekspansi Islam dan kekuasaan pemerintah Indonesia. Penelitian dengan mengambil lokus di dua desa, Ngadisari dan Sapikerep, Probolinggo. Dengan menggunakan perspektif teori representasi, penelitian ini hendak mengelaborasi strategi masyarakat Tengger dalam merepresentasi identitas diri mereka di tengah-tengah dinamika perubahan zaman. Dinamika dialektika antara Tengger dengan kekuasaan (Islam) melahirkan dua proposisi penting. Pertama, karena kuatnya tradisi dan sistem kebudayaan masyarakat Tengger, baik ideologi Hindu maupun Islam, dimaknai sebagai sistem kebudayaan yang tidak ubahnya hanya melekat secara simbolik bagi masyarakat Tengger. Kedua, meskipun terkesan sinkretis, sesungguhnya Islam maupun Hindu juga membentuk world view masyarakat Tengger secara subtantif dan kultural. Pandangan kedua tidak ubahnya seperti sistem keagamaan masyarakat Jawa pada umumnya yang menganut agama Islam. ”Islam Jawa” di balik wataknya seolah-olah sinkretis, namun sesungguhnya tetap menunjukkan ”Islam subtansial” karena berbasis tradisi keagamaan tasawuf
MEMAKNAI TRADISI UPACARA LABUHAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP MASYARAKAT PARANGTRITIS Abdul Jalil
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (723.586 KB) | DOI: 10.18860/el.v17i1.3088

Abstract

This article discusses the meaning of the “Labuhan Ceremony” and the effects on Parangtritis society. The research is based on the writer’s experience as students’ field project supervisor of Madrasah Aliyah Wahid Hasyim. The methodology used for this research is qualitative descriptive. Interviews, literature, brochures and media information were analyzed. It is concluded that according to Parangtritis people, the context of Labuhan ceremony is not only the myth of Queen of the South (Ratu Kidul), but they also believe that the most important context of the “Labuhan Ceremony” is grateful towards the God who was supreme over the devolution of grace. Labuhan has effects on their belief, economis, and safety. Tulisan ini mendiskusikan makna tradisi upacara labuhan dan pengaruhnya bagi masyarakat Parangtritis. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pendampingan penulis kepada siswa-siswi Madrasah Aliyah Wahid Hasyim sebagai tugas akhir berupa karya ilmiah berbasis field trip. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Pengumpulan data diperoleh dari hasil wawancara, literatur, leaflet, dan brosur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menurut masyarakat Parangtritis, Labuhan tidak semata-mata hanya mitos dari nenek moyangnya agar terhindar dari kesialan, tetapi Labuhan dilestarikan sematamata sebagai rasa syukur terhadap Dzat yang maha agung atas pelimpahan anugerah yang diterima. Selain itu, Labuhan memiliki pengaruh terhadap kepercayaan kepercayaan/agama, ekonomi,dan keamanan.
BURUH TANI WANITA PANGGILAN DAN EKSISTENSINYA MENURUT ADAT MINANGKABAU Helfi, Helfi
El-HARAKAH (TERAKREDITASI) Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.685 KB) | DOI: 10.18860/el.v17i1.3089

Abstract

Women farm workers in groups are not common in Minangkabau, especially those who earn wages once a year. The wages are used as an alternative income by allocating them as a capital for other ‘business’ in solving economic household problems. Minangkabau implement matrilineal system which respect women called as bundo kanduang. A local proverb for the system is “limpapeh rumah nan gadang, amban puruak pagangan kunci, sumarak dalam nagari”. Discussions about women have not been finished yet.  The highest reward toward women in Minangkabau custom is not well-implemented in the real life. The Minang ‘queens’ are allowed to compete in economic sector without any gender consideration. Buruh tani wanita panggilan di Minangkabau secara umum tidak lazim ada, apalagi mereka yang mendapatkan upah setahun sekali. Yang lebih menarik lagi, upah yang mereka terima kemudian dijadikan sebagai modal usaha untuk mengatasi ekonomi rumah tangga. Di Minangkabau, posisi perempuan mendapatkan tempat yang terhormat, sebagaimana yang diungkapkan dalam pepatah “bundo kanduang limpapeh rumah nan gadang, amban puruak pagangan kunci, sumarak dalam nagari”. Pembicaraan tentang perempuan hingga hari ini tidak kunjung berhenti. Penghargaan tertinggi kepada perempuan di Minangkabau secara adat tidak tercermin dalam kehidupan nyata. “Ratu-ratu” Minang ini dibiarkan berkompetisi secara bebas dalam pertarungan ekonomi yang tidak melihat jenis kelamin.
KAJIAN KONSEP TAMAN ISLAM BERDASARKAN AL QURAN DAN HADITS Miftahul Jannah; Wahju Qamara Mugnisjah; Andi Gunawan
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (690.444 KB) | DOI: 10.18860/el.v17i1.3082

Abstract

Islam concept is comprehensive (syumuliyyah), including planning and designing a garden. Nowdays, there are various studies regarding  Islamic garden. However, in general, the studies do not refer to the Islamic law. This study  compares the concept of Islamic garden that emerge in Islamic glory period and the basic concept of Islamic law. The data collection method is study literature from two major literatures in Islam (Quran and hadith), and other literatures (books, journals, and research reports). The result analysis shows concept of Islamic garden does not refer to the primary sources of Islamic law, and it is more restrictive. It is emphasized that basically the planning and designing concept of Islamic garden could be free. It should be suitable with the location and the needs of garden users. Islam adalah agama yang memiliki konsep menyeluruh (syumuliyyah) termasuk di dalamnya mengenai merencanakan dan mendesain suatu taman. Hingga saat ini, telah terdapat beragam studi mengenai taman Islam, tetapi pada umumnya pembahasan tidak bersumber dari hukum Islam itu sendiri. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbandingan konsep taman Islam yang berkembang pada masa kejayaan Islam dengan konsep yang berdasarkan hukum Islam. Pengumpulan data menggunakan metode studi literatur, bersumber pada dua literatur utama dalam Islam (al Quran dan hadits) serta literatur lainnya (buku, jurnal, dan hasil penelitian) yang berkaitan. Sebagai hasilnya, diketahui bahwa konsep taman Islam saat ini masih belum bersumber pada hukum utama Islam itu sendiri dan bersifat lebih terbatas. Oleh karena itu, perlu ditekankan bahwa 2 Kajian Konsep Taman Islam Berdasarkan al Quran dan Hadis pada dasarnya perencanaan dan desain taman Islam dapat bersifat lebih bebas dan disesuaikan dengan lokasi dan kebutuhan pengguna taman tersebut.
TIPOLOGI IDEOLOGI RESEPSI AL QURAN DI KALANGAN MASYARAKAT SUMENEP MADURA Fathurrosyid, Fathurrosyid
El-HARAKAH (TERAKREDITASI) Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.836 KB) | DOI: 10.18860/el.v17i2.3049

Abstract

Islamic teachings in the Quran are fused in the community life of West Pakandangan Village, district Bluto at Sumenep Madura. It is not only expressed through reading and exploring the moral messages, or is treated as magical and powerful objects, but also is an aesthetic reception. For instance using a piece of written verses as accessories at homes, mosques and others. This research is qualitative in nature, employing both literary review and field research. It uses phenomenological analysis and content analysis. The findings show; first, the ideological typology of Quran reception in West Pakandangan involves exegetical, aesthetic and functional receptions. Second, the surface structure of reception symbols presents the religious community. While the deep structure exists in the form of social harmony, social stratification, educational media and pragmatic logical structure on the miracle of Quran. Thirdly, the typology reception of West Pakandangan society in the discourse of Quran and commentary can be categorized as a realist and transformative interpretation, that is dialectic and negotiated interpretation with the social context developed in the community. Ajaran-ajaran Islam yang termuat dalam al Quran sudah menyatu dalam kehidupan masyarakat Desa Pakandangan Barat, Kecamatan Bluto, Kabupaten. Sumenep Madura. Penyatuan tersebut selain diekspresikan dengan cara dibaca dan dikaji pesan-pesan moralnya, diperlakukan sebagai “benda ajaib” yang berkekuatan magic, juga diresepsi secara estetis. Misalnya potongan ayat ditulis dan dijadikan aksesoris rumah, masjid dan lainnya. Penelitian ini berjenis penelitian kualitatif, yaitu penelitian kepustakaan dan penelitian lapangan sekaligus. Analisis yang digunakan adalah analisis fenomenologis dan analisis isi. Hasil penelitian ini menyimpulkan; pertama, tipologi ideologi resepsi al Quran di Pakandangan Barat, berupa resepsi eksegetis, resepsi estetis dan resepsi fungsional. Kedua, struktur luar (surface structure) simbolisasi resepsi menunjukkan sebagai masyarakat yang religius. Sementara struktur dalamnya (deep structure) berupa harmonisasi sosial, stratifikasi sosial, media edukatif dan struktur logika pragmatis tentang kemukjizatan al Quran. Ketiga, tipologi resepsi masyarakat Pakandangan Barat dalam diskursus ilmu al Quran dan tafsir dapat dikategorikan sebagai tafsir realis dan transformatif, yaitu tafsir yang berdialektika dan bernegosiasi dengan konteks sosial yang sedang berkembang di masyarakat.
SISTEM KEKERABATAN MASYARAKAT KAMPUNG SAWAH DI KOTA BEKASI Jamaludin, Adon Nasrullah
El-HARAKAH (TERAKREDITASI) Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.711 KB) | DOI: 10.18860/el.v17i2.3347

Abstract

The phenomenon of population at Kampung Sawah Jatimurni District of Pondok Melati Bekasi shows that its people are not from ethnic Batak, but most of them are Sundanese and Betawinese. In the kinship structure of society of both ethnics, the term clan is unfamiliar. Rather it is known in the community of North Sumatra namely Batak. This paper focuses on describing how the people in Kampung Sawah uses the clan system and whether the surnames given in Kampung Sawah have similarities to those existing in Batak. Based on the data, the clan in Kampung Sawah is different from the one used in Batak, either in the marriage system, family system and socio-cultural system. Fenomena masyarakat Kampung Sawah Kelurahan Jatimurni Kecamatan Pondok Melati Kota Bekasi, warganya bukan dari etnis Batak, tetapi kebanyakan dari etnis Sunda dan Betawi. Dalam struktur kekerabatan masyarakat etnis Sunda dan Betawi tidak dikenal istilah marga. Istilah marga lebih identik dan dikenal di masyarakat Sumatera Utara pada etnis Batak. Fokus tulisan ini adalah menjelaskan bagaimana masyarakat Kampung Sawah menggunakan sistem marga dan apakah nama marga yang dibangun oleh masyarakat Kampung Sawah Kota Bekasi memiliki kesamaan dengan marga yang ada pada etnis Batak. Berdasarkan data yang diperoleh bahwa marga yang ada di Kampung Sawah berbeda dengan marga yang ada di Batak, baik sisi sistem perkawinannya, sistem keluarga dan sistem sosial budayanya.
NILAI-NILAI EDUKASI DALAM SENI REYOG PONOROGO Kurnianto, Rido
El-HARAKAH (TERAKREDITASI) Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.814 KB) | DOI: 10.18860/el.v17i2.3346

Abstract

This study examined the character education of Konco Reyog at schools viewed from the meaning of Reyog Ponorogo’s art symbol. Then, it has tried to reveal its relevance with Islamic education. The data were obtained from the key persons, i.e. warok figure, Reyog Foundation, Reyog teachers, and the supporting artists, which then were described qualitatively to arrange character education module of Konco Reyog based on Islamic education. The finding shows that Reyog’s symbol is loaded with value and meaning, including the educational values. These values have very strong relevance with several values contained in Islamic education. Further, these values are built systematically through school. Its position is quite strong as it is included in the curriculum of intra-curricular as a local content based on the local wisdom. These Reyog Ponorogo art values are possible to be alternative models for character education in order to build noble values and meanings based on Islamic education. Penelitian ini mengkaji pendidikan karakter Konco Reyog di sekolah-sekolah yang digali dari makna simbol seni Reyog Ponorogo. Selanjutnya muatan tersebut dikaji basis relevansinya dengan pendidikan Islam, yang selama ini belum tersentuh. Data yang diperoleh dari orang kunci (key person), yaitu tokoh warok, yayasan Reyog, para pengampu pembelajaran Reyog, dan para seniman pendamping, dideskripsikan secara analitis kualitatif untuk menyusun modul pendidikan karakter Konco Reyog berbasis pendidikan Islam. Temuan pokok penelitian ini adalah bahwa dalam seni Reyog Ponorogo memiliki sejumlah simbol yang sarat dengan nilai dan makna, diantaranya adalah nilai pendidikan. Nilai-nilai tersebut memiliki relevansi yang sangat kuat dengan sejumlah nilai yang terkandung di dalam pendidikan Islam. Pada perkembangannya, nilainilai pendidikan dalam seni Reyog Ponorogo ditanamkan secara sistematis melalui lembaga pendidikan sekolah. Posisinya cukup kuat karena masuk dalam kurikulum intrakurikuler sebagai muatan lokal berbasis kearifan lokal. Nilai-nilai pendidikan berbasis seni Reyog Ponorogo ini sangat dimungkinkan menjadi alternatif model pendidikan karakter dalam rangka menanamkan nilai dan makna hidup luhur berbasis pendidikan Islam.
PENGARUH MODERNISASI TERHADAP TRADISI PENDIDIKAN ANAK DALAM MASYARAKAT SUKU GAYO Sukiman, Sukiman
El-HARAKAH (TERAKREDITASI) Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.643 KB) | DOI: 10.18860/el.v17i2.3048

Abstract

The tradition of children education at Gayo typically begins since infant to childhood. At earlier stage, they learn by listening to chant, folktale, and learning from local Islamic scholars. However, in the modernization era, the tradition is worn off. Modernization has changed the youth at Gayo into spiritual depletion, lack in dynamic and creativity, moral degradation and inadequate friendship. To overcome the education crisis of the children in Gayo, it needs reorientation by integrated approach between the Islamic Shariah and the education tradition of Gayo. It is applied though functioning and coordinating between the official Islamic Shariah, the tradition institution of Gayo, and the deliberative board of ulama. Accordingly, the youth at Gayo will become more religious, godly and hold Islamic culture. Tradisi pendidikan anak di Gayo memiliki sifat yang khas mulai dari lahir hingga mendidik anak masa balita. Masa awal pendidikan anak terdapat tradisi lantunan syair-syair, kisah legenda dan penyerahan anak kepada ulama kampung untuk belajar agama Islam. Namun dengan adanya modernisasi, tradisi ini mulai pudar. Modernisasi telah merubah generasi muda di Gayo menipis spiritualnya, kurang dinamis dan kurang kreatif, degradasi moralnya dan silaturrahimnya berkurang. Untuk mengatasi krisis pendidikan anak-anak Gayo ini perlu reorientasi dengan pendekatan integrasi antara syariat Islam dengan tradisi adat pendidikan Gayo. Aplikasinya adalah dengan memfungsikan dan bekerja sama antara Dinas Syariat Islam, Lembaga Adat Gayo dan Majelis Permusyawaratan Ulama. Dengan cara itulah, generasi muda Gayo ini akan menjadi orang-orang yang saleh, taqwa, berbudaya Islami.
RITUAL, KEPERCAYAAN LOKAL DAN IDENTITAS BUDAYA MASYARAKAT CIOMAS BANTEN Humaeni, Ayatullah
El-HARAKAH (TERAKREDITASI) Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.165 KB) | DOI: 10.18860/el.v17i2.3343

Abstract

This article discusses the local beliefs, the characteristics and cultural identity as well as the socio-religious rituals of Ciomas society. It is a field research using ethnographical method based on anthropological perspective. To analyze the data, the researcher uses structural-functional approach. The finding shows the champion character of jawara is frequently identified with negative labels by several authors such as Willams and Kartodirdjo. The fame of Golok Ciomas that has historical and cultural values for Bantenese society in general is also often referred to champion figures who are rude, valiant, and act like a criminal. As a matter of fact, for majority of Bantenese society, such distinctive characteristics have more positive meanings that were inherited by their ancestors and they still possess religious values maintained up to the present. Artikel ini mengkaji sistem kepercayaan lokal, karakteristik dan identitas kultural masyarakat, serta ritual sosial keagamaan masyarakat Ciomas. Artikel ini merupakan hasil penelitian lapangan dengan menggunakan metode ethnografi dengan menggunakan pendekatan antropologis. Dalam menganalisa data, peneliti menggunakan pendekatan fungsional-struktural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa “karakter jawara” seringkali oleh beberapa penulis seperti Williams dan Kartodirdjo digambarkan dengan label-label negatif. Popularitas Golok Ciomas yang memiliki nilai historis dan kultural bagi masyarakat Banten secara umum juga seringkali disandingkan dengan sosok jawara yang terkenal dengan sikapnya yang keras, berani, dan suka berbuat kriminal. Padahal, bagi sebagian besar masyarakat Ciomas sendiri karakteristik-karakteristik khas tersebut sebenarnya memiliki makna yang lebih positif yang diwariskan oleh nenek moyang dan masih memiliki nilai-nilai religius yang masih dipertahankan hingga saat ini.

Page 11 of 80 | Total Record : 791


Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH E-Harakah (Vol 14, No 2 Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 13, No 1 Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 12, No 3 el-Harakah (Vol 12, No 2 el-Harakah (Vol 12, No 1 Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 11, No 2 el-Harakah (Vol 11, No 1 Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 2 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 1 (2007): EL HARAKAH Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH More Issue