cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
elharakahjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam
ISSN : 18584357     EISSN : 23561734     DOI : -
Core Subject : Health,
EL HARAKAH (ISSN 1858-4357 and E-ISSN 2356-1734) is peer-reviewed journal published biannually by Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) of Malang. The journal is accredited based on the decree No. 36a E. KPT 2016 on 23 May 2016 by the Directorate General of Higher Education of Indonesia, for the period August 2016 to August 2021 (SINTA 2). The journal emphasizes on aspects related to Islamic Culture in Indonesia and Southeast Asia. We welcome contributions from scholars in the field, papers maybe written in Bahasa Indonesia, English, or Arabic.
Arjuna Subject : -
Articles 789 Documents
Dakwah Kultural Muhammadiyah antara Pembaruan dan Pembauran Suparto Suparto
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.262 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.430

Abstract

Muhammadiyah has long been recognized as a movement of dakwah (Islamic promulgation), tajdid (religious renewal), and social empowerment, and has been recorded by the history as the point of departure toward the resurrection of Muslim community in Indonesia.  A dakwah activity with a social touch through educational efforts and social services has made this organization as an icon of a distinct Islamic modernization. Due to the increasing challenges faced by the dakwah activity, Muhammadiyah has to dovetail its movement with the sensitivity of cultural rooms located in the heart of Indonesian communities. Therefore, in this modern juncture, Muhammadiyah cannot be conceived as a movement without cultural sensitivity; a movement that tends to banish local cultural elements. This necessitates Muhammadiyah to acknowledge a spotlight where cultures have been well flourishing in such a colorful country. Muhammadiyah sudah lama dikenal sebagai gerakan dakwah, tajdid, pembaharuan sosial, dan telah dicatat sejarah sebagai titik tolak kebangkitan umat Islam di Indonesia. Aktivitas dakwah dengan sentuhan sosial melalui upaya pendidikan dan pelayanan sosial membuat organisasi ini sebagai ikon modernisasi Islam yang berbeda. Karena meningkatnya tantangan yang dihadapi dalam kegiatan dakwah, Muhammadiyah harus menyesuaikan gerakannya dengan kepekaan ruang budaya yang berada di jantung masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, dalam era modern ini, Muhammadiyah tidak dapat dipahami sebagai sebuah gerakan tanpa kepekaan budaya; sebuah gerakan yang cenderung menghalau unsur-unsur budaya lokal. Ini mengharuskan Muhammadiyah untuk mengakui sorotan di mana budaya telah berkembang dengan baik di negara yang penuh warna.
Kebebasan Beragama dan Demokratisasi di Indonesia M. Zainuddin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.862 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.431

Abstract

The objective of this research is to understand the religious freedom and the process of democratization in Indonesia. The result of this research shows that the religious freedom in Indonesia is regulated by the law. In this sense, religious freedom means freedom to choose and believe in certain religion, it does not mean that people have freedom to be atheism. In fact, the religious freedom in Indonesia has not run well since there is a religion banned by claiming it as a wrong and deviate religion. Furthermore, the violence by a religion to another religion is common in social life. Tujuan penelitian ini untuk memahami kebebasan beragama dan proses demokratisasi di Indonesia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kebebasan beragama di Indonesia diatur oleh undang-undang. Dalam pengertian ini, kebebasan beragama berarti kebebasan memilih dan percaya pada agama tertentu, tidak berarti orang memiliki kebebasan untuk bersikap ateis. Sebenarnya, kebebasan beragama di Indonesia belum berjalan dengan baik karena ada agama yang dilarang dengan mengklaimnya sebagai agama yang salah dan menyimpang. Selanjutnya, kekerasan oleh agama ke agama lain biasa terjadi dalam kehidupan sosial.
Pusat Peradaban Islam Abad Pertengahan: Kasus Bayt al Hikmah M. Mukhlis Fahruddin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.786 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.433

Abstract

Science had gotten progression rapidly in Abbasiyah period, it showed by practiced of books translating activity in many languages, out of arabic language and emergence Bayt al-Hikmah as center of civilization and progression in science. Bayt al-Hikmah had formed not only as library but also as translating center, discussion center, and research center. All progression in Abbasiyah period is not far from possessor support and high appreciation which they give to any master in the way to developed science. Because of that, there were various science and specialist present and it makes intellectual tradition in development of Abbasiyah period significant and dynamic. Ilmu pengetahuan telah berkembang pesat dalam periode Abbasiyah, hal ini ditunjukkan dengan buku-buku yang diterjemahkan dalam banyak bahasa dari bahasa Arab dan munculnya Bayt al-Hikmah sebagai pusat peradaban dan kemajuan sains. Bayt al-Hikmah telah terbentuk tidak hanya sebagai perpustakaan, tetapi juga sebagai pusat penerjemahan, pusat diskusi dan pusat penelitian. Semua kemajuan dalam periode Abbasiyah tidak jauh dari dukungan pemiliknya dan apresiasi tinggi yang mereka berikan pada pakar manapun dalam pengembangan sains. Karena itu, ada berbagai sains dan spesialis yang hadir dan itu membuat tradisi intelektual dalam pengembangan periode Abbasiyah signifikan serta dinamis.
Mesopotamia dan Mesir Kuno: Awal Peradaban Dunia Mustofa Umar
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.2 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.434

Abstract

The existence of civilization cannot be separated from the existence of human beings. Mesopotamia and Ancient Egypt were the centers of the oldest civilization in the world. Both Mesopotamia and Ancient Egypt had typical characteristics. Mesopotamian civilization was more non-physical compared to Egypt. Sciences were emphasized more in Mesopotamia, while Egypt emphasized religious aspects. Political systems in both areas were almost the same, that is, absolutism and considered the king as god. Mesopotamia was more humanist than Egypt. The effectiveness of both civilizations was determined much by political power and economy. Keberadaan peradaban tak lepas dari keberadaan manusia. Mesopotamia dan Mesir Kuno adalah pusat peradaban tertua di dunia. Mesopotamia dan Mesir Kuno memiliki ciri khas. Peradaban Mesopotamia lebih bersifat non fisik dibandingkan dengan Mesir. Ilmu pengetahuan lebih ditekankan di Mesopotamia, sementara Mesir menekankan aspek religius. Sistem politik di kedua wilayah hampir sama, yaitu absolutisme dan menganggap raja sebagai tuhan. Mesopotamia lebih humanis daripada Mesir. Keefektifan kedua peradaban itu ditentukan oleh kekuatan politik dan ekonomi.
Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Mughal M. Djamaluddin Miri
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.718 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.435

Abstract

Mughal was one of the Islamic Kingdoms that stay long for about 342 years, starting from Sultan Zahr al-Din Muhammad (1483—1530 A.D) until Sultan Siraj al-Din Bahadur Syah (1837—1858 A.D). There are two prominent factors which caused the Kingdom of Mughal separated each other and faced the decrease, internal and external factors. Internally, the Kingdom of Mughal faced the decrease because of no system and mechanism on power succession, and also the lack leadership integrity of the next generation who descended the former leaders. The hedonism life style also became the main cause of the complicated political situation on the Kingdom. Moreover, the political policy which tends to be more puritanical and ideological also ruined the governmental system. Those internal factors, then, caused weak political control and powerless authority of the Kingdom in front of other kingdoms. As a consequence, many rebellions happened everywhere. It absolutely made the power of the Kingdom one by one belongs to other kingdoms. Mughal adalah salah satu Kerajaan Islam yang tinggal sekitar 342 tahun, mulai dari Sultan Zahruddin Muhammad (1483-1530 M) sampai Sultan Sirajuddin Bahadur Syah (1837-1858 M). Ada dua faktor penting yang menyebabkan Kerajaan Mughal berpisah dan menghadapi kemunduran, faktor internal dan eksternal. Secara internal, Kerajaan Mughal menghadapi kemunduran karena tidak ada sistem dan mekanisme suksesi kekuasaan, dan juga kurangnya integritas kepemimpinan generasi berikutnya. Gaya hidup hedonisme juga menjadi penyebab utama situasi politik yang rumit di Kerajaan. Apalagi, kebijakan politik yang cenderung lebih puritan dan ideologis juga merusak sistem pemerintahan. Faktor internal tersebut kemudian menyebabkan lemahnya kontrol politik dan kekuasaan Kerajaan yang tidak berdaya di depan kerajaan lainnya. Akibatnya, banyak pemberontakan terjadi di mana-mana. Itu benar-benar membuat kekuatan Kerajaan satu demi satu menjadi milik kerajaan lain.
Islam di Sicilia: Asal-usul, Kemajuan dan Kehancuran M. Fajrul Munawir
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.423 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.436

Abstract

Islam authority in Sicilia was being parts of history of Islamic civilization in Europe. The aim of this article is tried to explain background, progression and decline of Islam in Sicilia. Glory of Islam in Sicilia had started in Bani Aghlab period. Bani Aghlab period had already been shaping the important civilization of spreading Islam in Europe 184 H/800 M. Sicilia become center of science and Islamic culture in Europe. Great Land is epithet of prosperity in Sicilia. Decline of Sicilia had appeared when reformation authority from Aghlabiyah to Fatimiyah. Christian Romawi succeeded dominate Sicilia in 871 M until 1090 M. Finally, Sicilia had been formed golden history and spreading Islamic civilization in Europe. Islam authority in Sicilia was being parts of history of Islamic civilization in Europe. The aim of this article is to explain background, progression and decline of Islam in Sicilia. Glory of Islam in Sicilia had started in Bani Aghlab period. Bani Aghlab period had already been shaping the important civilization of spreading Islam in Europe 184 H/800 M. Sicilia become center of science and Islamic culture in Europe. Great Land is epithet of prosperity in Sicilia. Decline of Sicilia had appeared when reformation authority from Aghlabiyah to Fatimiyah. Christian Romawi succeeded to dominate Sicilia in 871 M until 1090 M. Finally, Sicilia had been formed golden history and spreading Islamic civilization in Europe.
Islam di Spanyol: Kemunduran dan Kehancuran Firdaus Firdaus
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.709 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.437

Abstract

Islam in Spain had an important role in many areas, especially science and culture. The history reveals that Islam reached its peak in the era of Abd al Rahman III (912-961 AD) when Cordova became the center of Islamic civilization in Western World, and one of the centers of world civilization. After reaching its peak, Islam domination declined due to the change of political structure. Decline and destruction of Islam in Spain were caused by some factors, both internal and external, that is, the attack from the Christians who directly destroyed Islam, but the most dominant factor was the internal factor of Islam itself. Islam di Spanyol memiliki peran penting di banyak bidang, terutama sains dan budaya. Sejarah menunjukkan bahwa Islam mencapai puncaknya di era Abd al Rahman III (912-961 M) ketika Cordova menjadi pusat peradaban Islam di Dunia Barat, dan salah satu pusat peradaban dunia. Setelah mencapai puncaknya, dominasi Islam menurun akibat perubahan struktur politik. Penurunan dan penghancuran Islam di Spanyol disebabkan oleh beberapa faktor, baik internal maupun eksternal, yaitu serangan dari orang Kristen yang secara langsung menghancurkan Islam, namun faktor yang paling dominan adalah faktor internal Islam itu sendiri.
Menyingkap Peradaban Islam Kontemporer di Anak Benua India Mohammad Asrori
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.29 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.438

Abstract

Civilization and culture in the arm of the continent of India had undergone the rise and fall since the colonialism era until the independence day. It can be illustrated by the domination of political map which had existed since the arrival of foreign nation, especially England until they got their indepence. The condition of Indian society at that time was full of contradiction, religion coflicts, quarrelling, robbery, various race, certain group interest dominating, and etc. From this condition, it born many great islamic political figures like Syeh Ahmad Sirhindi, Shah Waliyullah and the next generation, Sayyid Ahmad Khan and the next generation, Indian Moslem League. Which finally made India and Pakistan Independence (1947 M) and Bangladesh’s (1971M). Next, these three countries, which are the same in term of historical country have also various dynamic and sophisticated improvement of Islam. Peradaban dan budaya di benua India telah mengalami kenaikan dan penurunan sejak era penjajahan hingga hari kemerdekaan. Hal itu bisa diilustrasikan dalam dominasi peta politik yang sudah ada sejak kedatangan bangsa asing, terutama Inggris sampai mereka mendapat indepence mereka. Kondisi masyarakat India saat itu penuh dengan kontradiksi, pertentangan agama, pertengkaran, perampokan, berbagai ras, minat kelompok tertentu yang mendominasi, dan lain-lain. Dari kondisi ini, lahirlah banyak tokoh politik islam seperti Syeh Ahmad Sirhindi, Shah Waliyullah dan generasi berikutnya, Sayyid Ahmad Khan dan generasi berikutnya, Indian Muslim League. Yang akhirnya membuat Kemerdekaan India dan Pakistan (1947 M) dan Bangladesh (1971M). Selanjutnya, ketiga negara ini, yaitu Hal yang sama dalam hal negara bersejarah juga memiliki berbagai pembaharuan Islam yang dinamis dan canggih.
Spiritualisasi Keilmuan: Mengkonstruksi Peradaban Intelektual Muslim Abad Ke-21 Mohammad Miftahusyai'an
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.312 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.439

Abstract

Western scholars who separate between science and religion have brought people in the final point of civilization. Therefore, the duty of Moslem scholar in the 21th century is to rebuild the spiritual intellectual integrity in the frame of science and civilization. The main responsibility of Moslem scholars, nowadays, in reaching the brightness of life is reconstructing science paradigm by relocating God as the main stream of thought. The bright time of Madinah civilization is the starting point of the glory of Islamic civilization which successfully has entered all over the world. Therefore, intellectual orientation which has become Moslem’s responsibility is to reform the principles of Madinah civilization to be reconstructed to the present time. This is very important issue as Madinah civilization has not established yet that will be possible for Moslem scholars can speak much about the 21th century civilization.  At the beginning of Islam period, the fight proposed by Moslem scholars was deconstructed the jahiliyah’s way of thinking, furthermore, the great jihad of Moslem scholars in the present time is reconstructing the scientific way of thinking which is currently empirical-minded. Moreover, the Moslem scholar’s responsibility is to present spiritualism in scientific discourse. The integration of science and religion has become conceptualization of his science, hence, al Quran will be always the eternal source of science. Sarjana Barat yang memisahkan antara sains dan agama telah membawa orang di titik akhir peradaban. Oleh karena itu, tugas sarjana Islam di abad ke 21 adalah membangun kembali integritas intelektual spiritual dalam kerangka sains dan peradaban. Tanggung jawab utama ulama Muslim, saat ini, dalam mencapai kecerahan hidup adalah merekonstruksi paradigma sains dengan merelokasi Tuhan sebagai aliran pemikiran utama. Waktu cemerlang peradaban Madinah menjadi titik awal dari kemuliaan peradaban Islam yang telah berhasil masuk ke seluruh dunia. Oleh karena itu, orientasi intelektual yang telah menjadi tanggung jawab umat Islam adalah mereformasi prinsip peradaban Madinah untuk direkonstruksi hingga saat ini. Ini adalah isu yang sangat penting karena peradaban Madinah belum terbentuk, yang mungkin bagi ulama Islam dapat berbicara banyak tentang peradaban abad 21. Pada awal periode Islam, pertarungan yang diajukan oleh para ilmuwan Muslim mendekonstruksi cara berpikir jahiliyah, jihad besar ulama Muslim saat ini sedang membangun kembali cara berpikir ilmiah yang saat ini bersifat empiris. Lebih dari itu, tanggung jawab ilmuwan Muslim adalah menyajikan spiritualisme dalam wacana ilmiah. Integrasi sains dan agama telah menjadi konseptualisasi sainsnya, oleh karena itu, al Quran akan selalu menjadi sumber sains abadi.
Relevansi Ilmu Pengetahuan, Filsafat, Logika dan Bahasa dalam Membentuk Peradaban Inayatur Rosyidah
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.148 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.440

Abstract

God grant to the great potential of human reason as an instrument for thinking. And the reason humans can develop a philosophical exploration. The philosophical exploration can build by creating dialogue and collaborations between science, philosophy, logic and language. Civilization as composite from spirit and attitude and ways of social life can’t separate from philosophy in forming of good society’s behavior. In the other hand, language, science and technology are also having important roles in civilization. The results of science are impossible to understand with societies if never communicate by language. Therefore, with the achievement of those aspects and discoveries of human philosophy can build a civilization throughout historical from time to time. Thus, in the history of human civilization, science, philosophy, logic and language have their respective roles that sometimes require the dialogue and or cooperation between the fourth in a valuable form of civilization in the history of life. Tuhan memberikan potensi besar akal manusia sebagai instrumen untuk berpikir. Itu menjadi alasan manusia bisa mengembangkan eksplorasi filosofis. Eksplorasi filosofis bisa dibangun dengan menciptakan dialog dan kolaborasi antara sains, filsafat, logika dan bahasa. Peradaban sebagai gabungan dari semangat dan sikap dan cara hidup sosial tidak bisa lepas dari filsafat dalam membentuk perilaku masyarakat yang baik. Di sisi lain, bahasa, sains dan teknologi juga memiliki peran penting dalam peradaban. Hasil sains tidak mungkin bisa dipahami dengan masyarakat jika tidak pernah berkomunikasi dengan bahasa. Karena itu, dengan tercapainya aspek dan penemuan filsafat manusia ini bisa membangun peradaban sepanjang sejarah dari waktu ke waktu. Dengan demikian, dalam sejarah peradaban manusia, sains, filsafat, logika dan bahasa memiliki peran masing-masing yang terkadang memerlukan dialog dan atau kerja sama antara yang keempat dalam bentuk peradaban yang berharga dalam sejarah kehidupan.

Page 2 of 79 | Total Record : 789


Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH E-Harakah (Vol 14, No 2 Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 13, No 1 Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 12, No 3 el-Harakah (Vol 12, No 2 el-Harakah (Vol 12, No 1 Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 11, No 2 el-Harakah (Vol 11, No 1 Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 2 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 1 (2007): EL HARAKAH Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH More Issue