cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
elharakahjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam
ISSN : 18584357     EISSN : 23561734     DOI : -
Core Subject : Health,
EL HARAKAH (ISSN 1858-4357 and E-ISSN 2356-1734) is peer-reviewed journal published biannually by Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) of Malang. The journal is accredited based on the decree No. 36a E. KPT 2016 on 23 May 2016 by the Directorate General of Higher Education of Indonesia, for the period August 2016 to August 2021 (SINTA 2). The journal emphasizes on aspects related to Islamic Culture in Indonesia and Southeast Asia. We welcome contributions from scholars in the field, papers maybe written in Bahasa Indonesia, English, or Arabic.
Arjuna Subject : -
Articles 789 Documents
Spiritual Journey Principles in Javanese House: An Interdisciplinary Reading Pudji Pratitis Wismantara
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (597.111 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.1889

Abstract

Re-contextualizing effort is begun by formulating basic character then developing of architectural design. The purpose of this paper is to explore and re-contextualize the basic character of traditional Javanese house. This study used visual culture method as a thorough of the architectural form and substance behind it by including inter-disciplinary scientific approach. The first step is tracing equivalence thought expression among traditional Javanese House and other traditional houses in through Indonesian archipelago, such as Aceh, Toraja, and Dayak, by doing trans-cultural readings. Step two, is finding a relationship between traditional Javanese house with non-architectural folklore, for instance the story of Dewa Ruci and serat Jatimurti, by doing trans-structural readings. In the process of study, it is seen that traditional Javanese house is consist of universal characters and Javanese local characters. The structural space on the traditional Javanese house is relevance to the concept of Islamic journey that negating god other than Allah, and travelling towards Allah. The discovery of the thought expression which is the basic character of this traditional Javanese house, at least, can be a starting point in developing an architecture which is suitable for the space context (of Java) and time  context (present). Upaya rekontekstualisasi dimulai dengan merumuskan karakter dasar dan dilanjutkan dengan membangun rancangan arsitekturalnya. Tujuan paper ini adalah untuk mengeksplorasi dan merekontekstualisasi karakter dasar pada Rumah Adat Jawa. Model pengkajiannya menggunakan metode visual culture, sebagai model pembacaan menyeluruh terhadap wujud arsitektur dan substansi di baliknya, dengan menyertakan pendekatan antardisiplin keilmuan. Langkah pertama, melacak kesepadanan ungkapan pemikiran antara Rumah Adat Jawa dengan Arsitektur lain di wilayah Nusantara, seperti Aceh, Toraja, dan Dayak, dengan melakukan pembacaan lintas-kultural. Langkah kedua, mencari korelasi antara Rumah Jawa dengan folklore non-arsitektural, seperti kisah Dewa Ruci dan Serat Jatimurti, dengan melakukan pembacaan lintas-struktural. Dalam proses kajian dapat ditunjukkan bahwa Rumah Adat Jawa memiliki karakter universal Nusantara dan karakter lokal Jawa. Perjenjangan ruang pada Rumah Jawa memiliki keterkaitan dengan konsep perjalanan meniadakan selain Allah, dan perjalanan menuju kepada Allah. Penemuan ungkapan pemikiran, yang merupakan karakter dasar Rumah Jawa ini, setidaknya bisa menjadi landasan pijak dalam mengembangkan arsitektur, yang sesuai dengan konteks ruang (Jawa) dan konteks waktu (kekinian).
Islam dan Peradaban Spanyol: Catatan Kritis Beberapa Faktor Penyebab Kesuksesan Islam Spanyol Sudirman Sudirman
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.356 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.1890

Abstract

Born in the East, Islam was successfully expanded to Spain, a strong Christianity based country in the West. The civilization of this nation has encouraged the development of Europe in many ways, especially in the area of science and technology. The development of culture and civilization in Europe was undeniably connected to the existence of Islamic government in Spain. When Muslims rule this country many Europeans tempted to learn and study in Spain. At this classical period, Islam reached their golden era. Spain had become the central of Islamic civilization. From this fact, there are several important questions arise worth discussed in this essay, firstly, the background of the Islamic expansion to Spain and the dynamic development of Islam in this country that resulted in a great success. In this article, the writer applies historical approach using historical data from various history literature sources. In general, there are two conclusions. First of all, the expansion of Islamic government to Spain was motivated by the development of Islamic government in North Africa. Therefore, the expansion to Europe through Spain was unavoidable. Furthermore, Spain is the nearest region to North Africa and the power of Gothic Kingdom ruled this region was weakened. Second, the development of Islam in Spain was about 500 years and had reached its peak of supremacy when it was under the Abdurrahman III command. Although Islam, finally, was expelled from Spain after the fall of Islamic government, the Islamic culture has triggered European society renaissance. Islam yang lahir di dunia Timur pernah berjaya menguasai Spanyol, sebuah negara berbasis Kristen di Barat. Peradaban Spanyol telah berhasil memajukan kawasan Eropa di berbagai bidang, khususnya di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan-kemajuan Eropa tersebut tidak bisa dipisahkan dari keberadaan pemerintahan Islam di Spanyol. Dari Spanyol Islamlah Eropa banyak menimba ilmu. Pada periode klasik, ketika Islam mencapai masa keemasannya. Spanyol merupakan pusat peradaban Islam yang sangat penting. Dari kenyataan itu, ada sebuah pertanyaan yang layak untuk diangkat dalam tulisan ini, yakni latar belakang ekspansi Islam ke Spanyol dan dinamika perkembangan Islam di negara tersebut hingga pernah sukses besar membangun peradaban di sana. Tulisan ini, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan historis dengan memanfaatkan bahan kajian dari literatur sejarah. Ada 2 kesimpulan tulisan ini yaitu pertama, latar belakang ekspansi Islam ke Spanyol didasari oleh semakin kuatnya Islam di Afrika Utara sehingga perlu melakukan perluasan ke Semenanjung Liberia. Spanyol adalah daerah terdekat dari Afrika Utara dan kerajaan Gothic yang menguasai daerah tersebut sedang mengalami kemunduran. Kedua, perkembangan Islam di Spanyol berlangsung sekitar 500 tahun dan pernah mencapai puncaknya saat di bawah kepemimpinan Abdurrahman III. Meskipun akhirnya Islam harus keluar dari Spanyol, peradaban peninggalan Islam telah membuat Eropa bangkit dari keterbelakangannya
Gangguan Kesurupan dan Terapi Ruqyah: Penelitian Multi Kasus Pengobatan Alternatif Terapi Ruqyah di Kota Malang Zainul Arifin; Zulkhair Zulkhair
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.243 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.1891

Abstract

The purpose of this research is aimed to describe forms of trance disorder, influencing factors, process of ruqyah therapy given to the subject and behavior changes after ruqyah therapy. The research used qualitative and multi-case study approaches. The informants in this study are therapy experts, clients and their family. The findings of this research are: a) the form trances symptoms on three patients are: Subject is having auditory hallucination, flat face expression, losing work capabilities, social withdrawal, self-exlcusion, disorganization, and using haloperidol drugs, b) the factor triggered by psychological problems such as introvert problems, impulsive, or domestic problems. The effect of the mentioned crisis is the fall of konasi level and the increase of aggression level. c). To treat the trance disorder happened, the trance practitioners used ruqyah method which includes three steps: firstly, pre-therapy which asses the patient’s feelings. Secondly, the process of therapy  used conventional and improvisational method. Post-therapy is giving ruqyah water or other concoction to the patient as an external protector. And d) behavioral subject changes on the post therapy. It also gives positive feeling on disorder happened to the patients. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk gangguan kesurupan, faktor yang mempengaruhi, proses terapi ruqyah yang diberikan pada penderita, dan menemukan bentuk perubahan perilaku pada subyek pasca terapi ruqyah. Desain penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian multi kasus. Informan dalam penelitian ini terdiri dari terapis, pasien, dan keluarga pasien. Temuan penelitian berupa: a) bentuk gangguan kesurupan pada subyek penelitian, yaitu: halusinasi auditorik, ekspresi wajah yang datar, hilangnya kemampuan kerja, munculnya perilaku penarikan diri dan larut dalam diri sendiri, disorganisasi, dan penggunaan obat haloperidol (antipsikotik), b) faktor yang mempengaruhi dilatarbelakangi problem psikologis, baik problem introvert, impulsif, maupun permasalahan dalam rumah tangganya. Efeknya adalah turunnya konasi dan tingginya agresi, c) proses ruqyah yang diberikan meliputi tiga tahap, yaitu: tahap pra terapi, berupa assesmen keluhan pasien, tahap proses terapi, penggunakan metode konvensional atau improvisasi, dan tahap pasca terapi, berupa pemberian air ruqyah atau ramuan lain sebagai pelindung eksternal, dan d) perubahan perilaku subyek pasca terapi adalah dapat mengindentifikasi, menghilangkan, dan melindungi diri dari hal yang dapat memicu kembalinya gangguan jin, dengan catatan faktor psikologis subyek dapat tertangani dengan baik
Majelis Dzikir: antara Sadar Spiritual dan Praktek Budaya Massa Musthofa Al Makky
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.78 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.2013

Abstract

Man was created  with the provision of spiritual awareness of the existence of God. When in the course of his life to find a variety of  problems, which he first headed the Lord. From every human being must  feel that awareness.  If then it is collective  awareness  activities conducted in order to meet the spiritual needs that can be implemented together. That is a God given institution called the Assembly of  dzikir. If then the activity was done with a lot of people, over time some of them  do not  know the exact substance  and virtues of the assembly  itself, but just following everyone else  alone. Moreover, many activities that  involve  mass was boarded by-worldly orientation of  material interests, economic and political. Then the activity will become a kind of wetland that can be exploited in the interests of a handful of people.Manusia diciptakan dengan bekal kesadaran spiritual akan keberadaan Tuhan. Bila dalam perjalanan hidupnya menemukan berbagai masalah, yang pertama-tama dia tuju pada Tuhan. Dari setiap manusia harus merasakan kesadaran itu. Jika kemudian itu adalah kegiatan kesadaran kolektif yang dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan spiritual yang bisa diimplementasikan bersama. Itu adalah lembaga yang diberi Tuhan yang disebut Majelis dzikir. Jika kemudian aktivitas itu dilakukan dengan banyak orang, lama kelamaan beberapa dari mereka tidak tahu persis substansi dan kebajikan dari majelis itu sendiri, tapi hanya mengikuti orang lain saja. Apalagi, banyak kegiatan yang melibatkan massa ditopang oleh orientasi duniawi terhadap kepentingan material, ekonomi dan politik. Maka kegiatan tersebut akan menjadi semacam lahan basah yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan segelintir orang.
Seni Kaligrafi: Peran Dan Kontribusinya terhadap Peradaban Islam Laily Fitriani
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.674 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.2014

Abstract

Calligraphy, one of the Islamic arts, has gotten a great attention in Muslim community. Basically, calligraphy is artistic writings (khat) taken from Al Quran and it is named based on the place:  Makki, Madani, Anbari and Baghdadi. By the time, names of (khat) shown, seems like Khufi, Mutsallats, Mudawwar, and some other types of writing.  Calligraphy  has  a big role in developing Islamic civilization in the world. The influence of Islamic power expantions, Arabitation, the role of the King and social elites give motivation and facilitate the development of calligraphy and influent the development of science especially in Abbasiyah period. After the Abbasiyah period, the existence of calligraphy still was existing, developing and showing the phenomenal calligrafers like Ibnu Muqlah. Kaligrafi, salah satu seni Islam, mendapat perhatian besar dalam komunitas Muslim. Pada dasarnya, kaligrafi adalah tulisan artistik (khat) yang diambil dari Al Quran dan dinamai berdasarkan tempat: Makki, Madani, Anbari dan Baghdadi. Pada saat itu, nama (khat) yang ditampilkan, sepertinya Khufi, Mutsallats, Mudawwar, dan beberapa jenis tulisan lainnya. Kaligrafi memiliki peran besar dalam mengembangkan peradaban Islam di dunia. Pengaruh ekspedisi kekuatan Islam, Arabitasi, peran Raja dan elit sosial memberikan motivasi dan memudahkan pengembangan kaligrafi dan mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya pada masa Abbasiyah. Setelah masa Abbasiyah, keberadaan kaligrafi masih ada, berkembang dan menunjukkan kaligrafi fenomenal seperti Ibnu Muqlah.
Menata Rumah yang Islami Hafidz Zamroni Zien; Tarranita Kusumadewi
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.594 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.2015

Abstract

Prophet Muhammad in a hadith reveals that there are four things making people happy:  having shalihah  wife, spacious houses, comfortable vehicles, and good neighbors. A house as the inhabited buildings working as the activity base is one of the ways to form a society and Islam civilization. An Islamic house must be able to have two functions in life. First, the welfare of the world including: a sense of compassion (mawadah warahmah), ensuring children's education, creating hospitality (ukhuwah Islamiyah), forming the Muslim individual, supporting successful careers, and having health condition. Second, the welfare of the afterlife including: easy to implement the mahdah worship, muamalah process and able to keep its inhabitants from the things forbidden and makruh. An Islamic house is not always designed like mosques or houses which are full of Islamic ornaments, such as calligraphy, and more. An Islamic house is an efficient house which can be used to  dhikr to Allah, and to remember death. The house is not always facing the Qibla or the lavatory was not facing Mecca. An Islamic house is a house that allows occupants to stay and interact with others. Besides, the privacy of each person can also be maintained in it. It is then becoming the task of the architects to make Islamic houses. However, the most important thing of an Islamic house is that it does not isolate the occupants from the outside world. Further, it could create a better interaction and social relationship with its surroundings and neighbors. Nabi Muhammad dalam sebuah hadits mengungkapkan bahwa ada empat hal yang membuat orang bahagia: memiliki istri yang shalihah, rumah yang luas, kendaraan yang nyaman, dan tetangga yang baik. Rumah sebagai bangunan tempat tinggal yang berfungsi sebagai basis aktivitas merupakan salah satu cara untuk membentuk masyarakat dan peradaban Islam. Sebuah rumah islami harus mampu memiliki dua fungsi dalam kehidupan. Pertama, kesejahteraan dunia meliputi: rasa kasih sayang (mawadah warahmah), menjamin pendidikan anak, menciptakan keramahan (ukhuwah Islamiyah), membentuk individu muslim, mendukung karir yang sukses, dan memiliki kondisi kesehatan. Kedua, kesejahteraan akhirat yang meliputi: kemudahan dalam melaksanakan ibadah mahdah, proses muamalah dan mampu menjaga penghuninya dari hal-hal yang dilarang dan makruh. Sebuah rumah islami tidak selalu didesain seperti masjid atau rumah yang penuh dengan ornamen islami, seperti kaligrafi, dan lainnya. Rumah islami adalah rumah yang efisien yang dapat digunakan untuk berdzikir kepada Allah, dan untuk mengingat kematian. Rumah tidak selalu menghadap kiblat atau kamar mandi tidak menghadap Mekah. Rumah islami adalah rumah yang memungkinkan penghuninya untuk tinggal dan berinteraksi dengan orang lain. Selain itu, privasi setiap orang juga dapat terjaga di dalamnya. Hal inilah yang kemudian menjadi tugas para arsitek untuk membuat rumah-rumah islami. Namun, hal terpenting dari sebuah rumah islami adalah tidak mengisolasi penghuninya dari dunia luar. Selanjutnya dapat menciptakan interaksi dan hubungan sosial yang lebih baik dengan lingkungan dan tetangganya. 
Politik Islam Mongolia: Mencermati Strategi Ekspansi Timur Lenk M. Hadi Masruri
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.587 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.2016

Abstract

This paper discusses Timur Lenk who is ambitious to dominate the world through the founding of the great Mongol Empire as a mission ever launched by the grandchildren of Genghis Khan and Hulagu Khan. Timur Lenk himself continued the tradition of the Mongolian invasion force that is not forcing religion or spiritual practices to a conquered nation; they even build the conquest countries with the principle of regionalism. Even, in the end, the King of Mongolia turned to Islam, including Timur Lenk himself at the end of the 13th century and early 14th century. Then Mongolism Ideology becomes a major platform in conquering the entire countries with the royal and military strength. There are two basic frameworks of the Mongolian nation in its military power expansion, as the one done by Timur Lenk: first, the geneolis theory: the world hegemony to perpetuate the Mongol Empire using military force and running the ancient absolutism politic believing that the greater authority of the ruler could result on achieving peace and security. Second, attack and defend theory: rebuilding a country that has been destroyed with luxurious infrastructures like an extraordinary magnificent palace, developing science, history, Sufism and then try to defend them.Pada dasarnya makalah ini membincang sepak terjang Timur Lenk yang berambisi menguasai dunia lewat pendirian Imperium Mongol Raya sebagaimana misi yang pernah dicanangkan oleh buyutnya Jenghis Khan dan Hulagu Khan. Timur Lenk sendiri tetap melanjutkan tradisi invasi bangsa Mongolia yaitu tidak memaksakan agama ataupun praktek spiritualitasnya terhadap bangsa yang ditaklukkannya, justru mereka membangun negeri taklukannya dengan prinsip kedaerahan. Bahkan pada akhirnya Raja Mongolia yang berbalik memeluk agama Islam termasuk Timur Lenk sendiri pada akhir abad ke-13 dan awal abad ke-14. Kemudian Ideologi Mongolisme menjadi platform utama dalam menaklukkan seluruh negara dengan kekuatan kerajaan dan militer. Ada dua kerangka dasar bangsa Mongolia dalam menancapkan kekuasaan militernya, seperti yang dilakukan oleh Timur Lenk yaitu: pertama, teori geneolis: hegemoni dunia untuk melanggengkan Imperium Mongol Raya dengan garis komando kekuatan militer dan menjalankan politik absolutisme kuno yakni percaya bahwa semakin besar kekuasaan penguasa maka peluang perdamaian dan keamanan akan tercapai. Kedua, teori attack and defend: membangun kembali negara yang telah dihancurkannya dengan infrastuktur yang luar biasa seperti istana megah, pengembangan ilmu pengetahuan, sejarah, dan tasawuf lalu berusaha mempertahankannya
Potret Nilai Kesufian dalam Kehidupan Bermasyarakat Danial Hilmi
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.099 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.2017

Abstract

The value of Sufism has appeared since the time of Prophet Muhammad SAW, so it is not difficult to trace when the seeds of Sufism began to emerge. In fact, the adherents of Sufism are regarded as the ancient society that is antipathy to the modernization and staying away from the life of the world. In fact, this assumption is wrong and far from the values of the truth of Sufism, because the actual teachings of Sufism in the community is to contribute the development of the society into a better society. Nilai-nilai sufisme telah ada sejak masa Nabi Muhammad SAW, oleh karena itu tidak begitu sulit untuk mendapatkan informasi tentang jejak kemunculannya. Berdasarkan asumsi masyarakat, para penganut sufisme dianggap sebagai masyarakat kuno yang antipati terhadap modernisasi dan menjauhi kehidupan duniawi. Sebenarnya, asumsi tersebut adalah salah dan jauh dari nilai-nilai kebenaran sufisme, karena pada dasarnya pengajaran kesufian dalam masyarakat bertujuan memberikan kontribusi terhadap perkembangan masyarakat yang lebih baik
REAKTUALISASI NILAI ISLAM DALAM BUDAYA MINANGKABAU MELALUI KEBIJAKAN DESENTRALISASI Rahmat, Aulia
El-HARAKAH (TERAKREDITASI) el-Harakah (Vol 13, No 1
Publisher : UIN Maliki Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v0i0.2018

Abstract

The decentralization have been represent the form of law development in pasca-reform 1998 era. Stipulate of regulation in Solok Sub-Province represents responsibility to this policy. Through this institution, the Minangkabau’s elite figure shown the integration of Islamic value with Minangkabau’s culture to maintain its individuality in modern era.Keyword : Desentralisasi, Islam dan Budaya Minangkabau.
Islam dan Budaya Masyarakat Yogyakarta Ditinjau dari Perspektif Sejarah Aulia Arif Rahman; Khoirul Hidayah
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.606 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.2019

Abstract

Yogyakarta is one of the Indonesia's special districts embraced the Islamic culture. The history of Mataram Kingdom as the Islamic Kingdom, through Giyanti agreement (1755) gave birth to Yogyakarta Palace as a part of the Islamic history in Mataram. The influence of Islam in its society can be explained by cultural theory. Culture seen from its structure and level could explain that Islam, as a subculture, is not against the Java culture as the main culture, making Islam could be accepted by the Yogyakarta society as the true religion. Islamic values have been fused with the life of Yogyakarta society so that there are many ways of thinking and actions that tend to embrace Islam. This can be shown through art, literature, social activities and the life principles believed by the Yogyakarta society. Yogyakarta merupakan salah satu daerah Istimewa di Indonesia yang mempunyai budaya bernafaskan Islam. Sejarah Kerajaan Mataram sebagai Kerajaan Islam, melalui pejanjian Giyanti (1755) telah melahirkan Keraton Yogyakarta sebagai bagian sejarah Islam di Mataram. Pengaruh Islam dalam masyarakat Yogyakarta dapat dijelaskan melalui teori budaya. Budaya jika ditinjau dari struktur dan tingkatannya dapat dijelaskan bahwa Islam sebagai subculture yang tidak bertentangan dengan culture Jawa sebagai kebudayaan induk, menjadikan Islam dapat diterima masyarakat Jogyakarta sebagai agama yang benar. Nilai-nilai Islam telah menyatu dengan nilai-nilai kehidupan masyarakat Yogyakarta, sehingga banyak cara berpikir dan tindakan yang dilakukan cenderung bernafaskan Islam. Hal ini dapat ditunjukkan melalui seni, sastra, kegiatan sosial dan prinsip hidup yang diyakini masyarakat Jogyakarta.

Page 5 of 79 | Total Record : 789


Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH E-Harakah (Vol 14, No 2 Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 13, No 1 Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 12, No 3 el-Harakah (Vol 12, No 2 el-Harakah (Vol 12, No 1 Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 11, No 2 el-Harakah (Vol 11, No 1 Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 2 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 1 (2007): EL HARAKAH Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH More Issue