cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
elharakahjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam
ISSN : 18584357     EISSN : 23561734     DOI : -
Core Subject : Health,
EL HARAKAH (ISSN 1858-4357 and E-ISSN 2356-1734) is peer-reviewed journal published biannually by Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) of Malang. The journal is accredited based on the decree No. 36a E. KPT 2016 on 23 May 2016 by the Directorate General of Higher Education of Indonesia, for the period August 2016 to August 2021 (SINTA 2). The journal emphasizes on aspects related to Islamic Culture in Indonesia and Southeast Asia. We welcome contributions from scholars in the field, papers maybe written in Bahasa Indonesia, English, or Arabic.
Arjuna Subject : -
Articles 789 Documents
Deskripsi Tipologi, Klasifikasi dan Analisis Perancangan Masjid di Malaysia Nangkula Utaberta; Mohamad Tajuddin Mohamad Rasdi
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (859.711 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.451

Abstract

As one of the countries with the largest muslim communities in Southeast Asia, the study of Islamic architecture, especially the architecture of  modern mosques in Malaysia, has not yet been done intensively. Most of the  studies and documentation carried out were more focused in the study of old  mosques which were considered as more valuable historically with a more unique  traditional architecture. This paper will attempt to describe the typology of form  and visual style of the mosques (as the main building of Islamic architecture)  developed in Malaysia, ranging from traditional mosques in the area of  remote villages to modern mosques in urban areas. This study is very  important in  recognizing aspects of morphology, the influence, and the development of mosque  design in Malaysia which will become a reference in designing the mosque,  especially in this country in the future. The discussion itself will consists of the Traditional Vernacular Mosque Architecture of Malaysia, a Sino Eclectic Mosques in Malaysia, the European Classical Mosque in Malaysia, the  North Indian Mosque in Malaysia, the Malaysia’s Vernacular Mo  dern Mosque, the Modern Expressionism Revivalism Mosque in Malaysia and the Post-Modern Mosque in Malaysia. It is expected that this  study would give an idea of the various approaches and the development  of mosque design in Malaysia in order to recognize the ideas and thoughts of Islamic architecture in Malaysia. Sebagai salah satu negara dengan komunitas muslim terbesar di Asia Tenggara, studi arsitektur Islam, terutama arsitektur masjid modern di Malaysia, belum dilakukan secara intensif. Sebagian besar studi dan dokumentasi yang dilakukan lebih difokuskan pada kajian masjid tua yang dianggap lebih bernilai historis dengan arsitektur tradisional yang lebih unik. Makalah ini menggambarkan tipologi bentuk dan gaya visual masjid (sebagai bangunan utama arsitektur Islam) yang dikembangkan di Malaysia, mulai dari masjid tradisional di daerah terpencil hingga masjid modern di daerah perkotaan. Studi ini sangat penting dalam mengenali aspek morfologi, pengaruh, dan perkembangan desain masjid di Malaysia yang akan menjadi acuan dalam merancang masjid, terutama di negeri ini di masa depan. Diskusi itu sendiri terdiri dari Arsitektur Masjid Tradisional Vernakular Malaysia, sebuah Masjid Ekaristi Sino di Malaysia, Masjid Klasik Eropa di Malaysia, Masjid India Utara di Malaysia, Masjid Vernacular Mo dern Malaysia, Masjid Modern Expressionism Revivalism di Malaysia dan Masjid Post-Modern di Malaysia. Diharapkan penelitian ini akan memberi gambaran tentang berbagai pendekatan dan pengembangan desain masjid di Malaysia untuk bisa mengenali gagasan dan pemikiran arsitektur Islam di Malaysia.
Arsitektur Islam: Seni Ruang dalam Peradaban Islam Aulia Fikriarini
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1098.235 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.452

Abstract

Human being as a caliph, here related to the function of architect, has responsibility for the environment. Hence, in doing their activities in this world, they have to cope with the nature considering the principal of balance and harmony. Architecture as one of the sciences should also go along with the Islamic values. The values based on the Quran should certainly be the foundation for all efforts of developing any sciences, including architectur. The application of Islam values will produce works of “Islamic architecture” that comprise a combination of culture and humans’ submission to their God, which characterizes the harmony of the human beings, environment, and their  Creator. Islamic architecture suggests a complex geometrical relation, hierarchy of shapes and ornaments, and deep symbolic meaning. This writing describes the fact that works of Islamic architectures in over the world that is based on Islamic ethical values and manners do not represent a single and identical shape. However, the varieties and wealth of shapes are unfield by one purpose, that is, as a medium of devoting to God. The varieties create a multitude of Islamic architecture products within Islamic civilization, which lead human beings to rahmatan lil alamiin. Manusia sebagai khalifah, disini berhubungan dengan fungsi tanggung jawabnya terhadap lingkungan. Maka dalam melakukan aktivitasnya di dunia ini, mereka harus mengatasi alam dengan mempertimbangkan prinsip keseimbangan dan harmoni. Arsitektur sebagai salah satu ilmu juga harus sesuai dengan nilai-nilai Islam. Nilai-nilai yang berdasarkan pada Quran pastilah menjadi fondasi bagi semua usaha pengembangan ilmu apapun, termasuk arsitek. Penerapan nilai-nilai Islam akan menghasilkan karya-karya "arsitektur Islam" yang terdiri dari kombinasi antara kedaulatan budaya dan manusia dengan Tuhan mereka, yang mencirikan keharmonisan manusia, lingkungan, dan Penciptanya. Arsitektur Islam menunjukkan hubungan geometris yang kompleks, hierarki bentuk dan ornamen, dan makna simbolik yang dalam. Tulisan ini menggambarkan fakta bahwa karya arsitektur Islam di seantero dunia yang berlandaskan nilai etika dan tata krama Islam tidak mewakili bentuk tunggal dan identik. Namun, varietas dan kekayaan bentuk tidak ada satu tujuan, yaitu media untuk mengabdikan diri kepada Tuhan. Varietas tersebut menciptakan banyak produk arsitektur Islam dalam peradaban Islam, yang menyebabkan manusia menjadi rahmatan lil alamiin.
Muqarnas: Ungkapan Keagungan Nilai Islam dalam Karya Arsitektur Yulia Eka Putrie
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1856.754 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.453

Abstract

Muqarnas is the Arabic word for stalactite vault, a three-dimensional decoration element in Islamic architecture. Inspired by honey comb, this kind of architectural ornament has been developed to the highest form of aesthetics and complexity. Its uniqueness is laid on its geometrical composition, which is transformed from thousands of cells, tiers and intermediate elements.Inspite of its amazing geometrical composition, there are some values and meanings that consist in muqarnas. Infinitive design of muqarnas is mostly based on human’s awareness of God’s infinite highness and strength. Furthermore, it shows us that Allah’s creation such as honey combs, that is often being underestimated by human, contain huge of knowledge and complicated calculations. These kind of awareness and wisdoms are yielded by artists and architects in the past, who had never detached science from Islam, as the way of life. Muqarnas adalah kata Arab untuk kubah stalaktit, elemen hiasan tiga dimensi dalam arsitektur Islam. Terinspirasi oleh sarang madu, ornamen arsitektur semacam ini telah berkembang menjadi bentuk estetika dan kompleksitas tertinggi. Keunikannya diletakkan pada komposisi geometrisnya, yang ditransformasikan dari ribuan sel, tingkatan dan elemen antara. Terlepas dari komposisi geometrisnya yang menakjubkan, ada beberapa nilai dan makna yang ada di muqarnas. Desain infinitif muqarnas sebagian besar didasarkan pada kesadaran manusia akan kekuatan dan kekuatan Tuhan yang tak terbatas. Lebih jauh lagi, ini menunjukkan kepada kita bahwa ciptaan Allah seperti sarang madu, yang sering diremehkan oleh manusia, mengandung banyak pengetahuan dan perhitungan yang rumit. Jenis kesadaran dan hikmat ini dihasilkan oleh seniman dan arsitek di masa lalu, yang tidak pernah melepaskan ilmu pengetahuan dari Islam, sebagai cara hidup.
Pengaruh Budaya dan Nilai Islam: Terbentuknya Arsitektur Vernakular Minangkabau Ernaning Setiyowati
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1158.181 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.454

Abstract

Vernacular Architecture was called as populace architecture that formed because pattern of life, social, culture, and religious from certain society. This thing was caused program of vernacular architecture different in every place. All of vernacular architecture have special characteristic. Also, there is vernacular architecture of Minangkabau. Vernacular architecture of Minangkabau often called as large sprawling house. The uniqueness of that society is specially in matrilineal culture, bringing to one design of living house which different to general modern house. The space formation is based on women life and having hierarchy appropriate with sickles of women life. Type of buildings totality having uniqueness because historical factor and legend. Even, name of building is large sprawling house also having content of historical value and legend. The element of local material also support this uniqueness. Because local material that used in large sprawling house is not truly used in others region. Aspects of social and local culture that arrange the forms of vernacular architecture of Minangkabau. It is not free from Islamic values moreover supports an Islamic values in some designed aspect. Arsitektur vernakular disebut sebagai arsitektur masyarakat yang terbentuk karena pola hidup, sosial, budaya, dan agama dari masyarakat tertentu. Hal ini disebabkan program arsitekturnya berbeda di setiap tempat yang memiliki ciri khas tersendiri, misalnya arsitektur vernakular Minangkabau. Arsitektur Vernakular Minangkabau dikenal dengan rumah tinggal yang luas. Keunikan masyarakat itu secara khusus dalam budaya matrilineal membawa ke salah satu desain rumah tinggal yang berbeda dengan rumah modern secara umum. Pembentukan ruang didasarkan pada kehidupan perempuan dan memiliki hirarki sesuai dengan pola kehidupan wanita. Jenis bangunan secara utuh memiliki keunikan karena faktor sejarah dan legenda. Bahkan, nama bangunan rumah luas ini memiliki kandungan nilai sejarah dan legenda. Unsur materi lokal juga mendukung keunikan ini. Karena bahan lokal yang digunakan di rumah luas ini tidak benar-benar digunakan di daerah lain. Aspek budaya sosial dan lokal yang mengatur bentuk arsitektur vernakular Minangkabau. Ini tidak terlepas dari nilai-nilai Islam yang mendukung nilai-nilai Islam dalam beberapa aspek yang dirancang.
BUDAYA BERHUNI KAUM SUFISTIK BORJUIS: Kontestasi Simbolik dalam Konstruksi Rumah Adat Kudus Said, Nur
El-HARAKAH (TERAKREDITASI) el-Harakah (Vol 12, No 3
Publisher : UIN Maliki Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v0i0.455

Abstract

Omah, Javanese term for house, is not only as a place to protect from hot and cold weather, importantly, as a place for Javanese people to actualize themselves both personally and socially. This is interesting to expose as its existence represents the symbolic fight of negotiation process between cultures happened in its period. The relationship between the house and its occupant symbolizes the cultural apprenticeship which is expressed in the use of the room. The house also represents the substance and material aspect, even the first one still becomes the main concern. The substance aspect can be seen in the ornament which sometimes still has animal picture, as Sunan Kudus is someone who has high tolerance. The material aspect expresses the strategy to defense the existence and dignity. As a whole, the house represents the face of Islam which is substantive-esoteric, and still considers existentialist-symbolic aspect as another important aspect.
Kontestasi pada Arsitektur Masjid Nusantara: Jelajah atas Masjid Ampel Surabaya dan Masjid Jami’ Malang Achmad Gat Gautama
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.553 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.456

Abstract

Conservation on architecture plays very important role in shaping the identity or memory of a place as well as presenting its current context. There are must be three strategies consisting in conservation, those are: continuity, development, and usage. Continuity shows the establishment on the tradition for the sake of the continuity on the building identity in the present and future time. Development is a process of changing and adjusting toward  the current of a building to gain the best condition. Usage is creating the use or giving the facility for the existance sustainability of old, present, and future building. Through the tracing on two architecture cases, Masjid Sunan Ampel and Masjid Jami’ Malang, this paper aims to explore the character of architecture identity of mosque in Indonesia as an alternative of architecture sustainability which is relevant to Indonesian context, and to the development of technology as one of the instrument to build. The initial stage is exploring the architec of two mosques by using three conservation strategies as the reading tool. The next stage is doing an interpretaive analysis by comparing the finding character identity both mosques’ identity in dialogic way. The above study presents the two character of Indonesain mosques’ architecture which includes technology in the building process. These characters have been becoming the  starting planning strategy of mosque’s architecture which orientates to Indonesian context as well as creatively and innovatively. Konservasi pada arsitektur memainkan peran yang sangat penting dalam membentuk identitas atau memori suatu tempat sekaligus menyajikan konteksnya saat ini. Harus ada tiga strategi yang terdiri dalam konservasi, yaitu: kontinuitas, pengembangan, dan penggunaan. Kontinuitas menunjukkan kemunculan tradisi demi kelangsungan identitas bangunan di masa sekarang dan masa depan. Pembangunan adalah proses perubahan dan penyesuaian terhadap arus bangunan untuk mendapatkan kondisi terbaik. Penggunaannya menciptakan penggunaan fasilitas untuk keberlanjutan bangunan lama, sekarang dan masa depan. Melalui penelusuran dua kasus arsitektur, Masjid Sunan Ampel dan Masjid Jami 'Malang, makalah ini bertujuan untuk mengeksplorasi karakter identitas arsitektur masjid di Indonesia sebagai alternatif keberlanjutan arsitektur yang sesuai dengan konteks Indonesia, dan perkembangan teknologi. sebagai salah satu alat untuk membangun. Tahap awalnya yaitu mengeksplorasi arsitektur dua masjid dengan menggunakan tiga strategi konservasi sebagai wacana. Tahap selanjutnya adalah melakukan analisis interpretatif dengan membandingkan identitas karakter temuan kedua identitas masjid tersebut secara dialogis. Studi di atas menyajikan dua karakter arsitektur masjid Indonesia yang mencakup teknologi dalam proses pembangunan. Hal ini telah menjadi strategi perencanaan awal arsitektur masjid yang berorientasi pada konteks Indonesia serta kreatif dan inovatif.
Kearifan Lokal Pela-Gandong di Lumbung Konflik Hamzah Tualeka Zn
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.72 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.457

Abstract

Revitalization of pela-gandong has become urgent to shade a light in the misunderstanding surrounding this concept. This research is aimed at answering three questions: (1) how does the conflict happened in Ambon-Lease, (2) what are the root of the conflict, and (3) what are the best solution according to Ambonesse - Lease people perspective. This research is a field study which is also supported by library research. This research used qualitative method. Finding of this research has a theoretical implication concerning the concept of conflict and integration conflict based on the Lewis A. Coser and Karl Marx theory. This paper believes that there is a close relation between the concept of pela-gandong and the two theories. Findings of the research are expected to inspire other researchers conducting a dialectical theory analysis among Lewis A. Coser, Karl Marx theory and pela-gandong concept which, therefore, can be constructed as theoretical concept related to multi-dimensional conflict. Revitalisasi pela-gandong merupakan keharusan yang mendesak untuk dilakukan sebagai tebusan atas pemahaman miring dan apatis yang selama ini muncul. Penelitian ini ingin menjawab tiga permasalahan pokok: (1) bagaimana sebenarnya peristiwa konflik yang terjadi di Ambon-Lease, (2) apa akar permasalahannya, dan (3) bagaimana pola penyelesaian konflik dalam perspektif masyarakat Ambon-Lease. Penelitian ini merupakan studi lapangan yang ditunjang oleh penelitian literer (library research). Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Temuan dari penelitian ini memiliki implikasi teoretik terhadap konsep konflik dan integrasi ala Lewis A. Coser dan dialektika Karl Marx. Terdapat benang merah antara konsep pela-gandong dengan dua teori di atas. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi sumber inspirasi untuk melakukan dialektika antara pendekatan analitik teori Lewis A. Coser, Karl Marx dan konsep pela-gandong. Langkah selanjutnya, hal itu bisa dijadikan kerangka teoretik terkait dengan konflik multidimensional.
Tradisi Peusijuek dalam Masyarakat Aceh: Integritas Nilai-Nilai Agama dan Budaya Marzuki Marzuki
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.993 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.458

Abstract

Peusijuek is one of the traditions of the people of Aceh are still preserved and practiced. Peusijuek, especially in Aceh moslem society, has been adapted into of Islam pratice. This study is aimed at revealing how peusijuek is believed and practiced  then become one of  religious creed which, originally, is not purely derived from Islamic teaching. This study used content analysis methods. Islam has universalism concept that is able to converge and fuse to various civilizations and culture; this makes Islam accepted in many nations and civilizations. Aceh people believe that Peusijuek is one of the rituals associated with religious belief. Because it is consist of several religious values which must be executed, such as 3 (three) aspects as follow: firstly; the Actor of Peusijuek should have a good understanding of the religion, usually called by the ustadz and ustadzah. Secondly, the moment to do peusijuek is when someone is going for haji, to marry, to be khitanan, and others. Thirdly, prayer of peusijuek are taken from the Quran and Sunnah as well as addressed to Allah SWT. Therefore, considering the three aforementioned aspects, peusijuek is considered to be closely related islam and, so it becomes a public belief.Peusijuek merupakan salah satu tradisi masyarakat Aceh yang masih dilestarikan dan dipraktekkan. Peusijuek ini sebagai sebuah budaya yang telah menjadi bagaian dari Islam, khususnya masyarakat Islam di Aceh. Penelitian ini ingin mengungkap bagaimana peusijuek diyakini dan beroperasi menjadi sebuah kepercayaan masyarakat yang secara keagamaan hal tersebut bukan sepenuhnya murni berasal dari ajaran agama. Penelitian ini menggunakan metode content analisis. Islam memiliki konsep universalisme yang mampu menyatu dan melebur dalam berbagai peradaban dan kebudayaan, Islam menyatu dan dapat diterima oleh berbagai bangsa dan peradaban. Peusijuek diyakini oleh masyarakat Aceh sebagai salah satu ritual yang dikaitkan dengan kepercayaan terhadap agama, karena peusijuek tersebut sarat dengan nilai-nilai agama, yang mesti dijalankan. Hal tersebut dapat dilihat dari 3 (tiga) unsur, yaitu pertama; Pelaku Peusijuek, biasanya dilakukan oleh para tengku (ustadz) dan tengku inong (ustadzah), yang paham agama. Kedua, momen peusijuek, dilakukan ketika akan berangkat haji, pernikahan/walimah, dan khitanan, dan lain-lain. Ketiga, doa peusijuek, doa yang dibacakan adalah doa yang ditujukan kepada Allah SWT, dengan menggunakan doa-doa yang dari al Quran dan Sunnah. Melihat ketiga tinjauan tersebut, dapat disimpulkan bahwa peusijuek sangat sarat dengan nilai-nilai keislaman dan keyakinan terhadap nilai-nilai Islam, sehingga menjadi sebuah kepercayaan masyarakat.
Kebo-Keboan dan Ider Bumi Suku Using: Potret Inklusivisme Islam di Masyarakat Using Banyuwangi Ahmad Kholil
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.247 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.1887

Abstract

This writing presents a discussion on one of cultural heritage in Indonesia which is in the form of magical ceremony having religious nuance. Several aspects of this ceremony, for instance, Animism and Hinduism values are clearly observable, especially in several form and physical orders; on most aspects, however, the aforementioned values trail are obscure as old traditions. Even though the values are considered as old heritage, by polishing and adapting certain creation, the more perceptible value and belief in this ceremony is Islam transcendentalist and humanist. Ider bumi and slametan are the two of cultural heritage having Islamic nuance, while kebo-keboan is an embodiment of Hinduism cultural heritage. In Alasmalang, kebo-keboan ceremony has religious orientation praying to the God for acquiring good harvest, blessed business and achieving wishes. Regarding ider bumi ceremony, which is practiced in most of Using society, is conducted by going around the village while reading kalimah toyyibah and resounding adzan in every side of village. This ceremony’s purpose is to protect the village from any kind of annoyance from human being and devil. Furthermore, socially, kebo-keboan and ider bumi function as harmony keeper among the villagers, nature and with everything in the environment. Tulisan ini membahas salah satu kekayaan budaya bangsa yang menjelma dalam upacara magic bernuansa keagamaan. Pada beberapa sisi masih tampak kental sebagai warisan budaya lama, baik animisme maupun hinduisme, terutama dalam bentuk dan tatanan fisik, tetapi di sebagian besar yang lain sudah tinggal jejak yang samar sebagai warisan lama. Meskipun sebagai warisan leluhur, dengan polesan dan kreasi tertentu, yang tampak sekarang justru nilai dan tradisi Islam yang transendentalis dan humanis. Warisan budaya yang bercita rasa islami itu seperti ider bumi dan slametan, sementara yang masih bernuansa hinduisme adalah kebo-keboan. Kebo-keboan di Alasmalang mempunyai orientasi relijius berupa permohonan kepada Gusti Allah Yang Maha Kuasa agar tanaman, usaha dan tujuan yang hendak diraih mendapat perkenan dan berhasil sesuai harapan. Sementara ider bumi, yang dipraktikkan di sebagian besar masyarakat Using, keliling kampung dengan membaca kalimah thoyyibah dan mengumandangkan adzan di setiap sudut desa adalah bertujuan untuk melindungi desanya dari segala macam gangguan, dari makhluk kasar maupun halus. Di samping kedua tujuan itu, kebo-keboan dan ider bumi ini juga memiliki fungsi sosial, yaitu menjaga kerukunan sosial atau keharmonisan hubungan dengan sesama, alam semesta, dan dengan segala yang ada di lingkungan hidup manusia
Sunda Wiwitan Baduy: Agama Penjaga Alam Lindung di Desa Kanekes Banten Masykur Wahid
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.452 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.1888

Abstract

Baduy-style Islamic is pronounced with syahadat and practiced with tapa to maintain and preserve the natural heritage, karuhun. Tapa of Baduy is working in the fields to plant rice as a form to practice Islamic teachings, by mating the goddess of rice to the earth. Baduy’s action was guided by the pikukuh, custom, following the buyut, taboo. Religious teachings, tapa, pikukuh and buyut have shaped simple personalities Baduy people in maintaining the Kanekes natural conservation. Thus, welfare and peace can be felt by mankind. This paper describes the system of religion and religious rituals Sunda Wiwitan. In the perspective of religion phenomenology issue, the phenomena are studied using direct observation method and in-depth interviews. One of the finding illustrated that the Baduy people’s faith and obedience to God appears in their actions in taking care of forests, rivers and mountain to life in harmony. Their faith is not in the form of memorizing or interpreting old religious scripture. Furthermore, worship rituals are practiced by working in the fields under custom rules guidance and abiding the taboo to have successful harvest and prosperous people. Worship is not intended to become a respected man or benefactor. This is the Sunda Wiwitan people with life perspective of maintaining the Kanekes natural conservation.Islam ala Baduy diucapkan dengan syahadat dan diamalkan dengan tapa untuk menjaga dan melestarikan alam warisan karuhun, nenek moyang. Tapa Baduy adalah bekerja di ladang dengan menanam padi sebagai amalan ajaran agama, mengawinkan dewi padi dengan bumi. Tindakan masyarakat Baduy itu berpedoman kepada pikukuh, aturan adat, dengan mematuhi buyut, tabu. Ajaran agama, tapa, pikukuh dan buyut telah mengkonstruksi pribadi-pribadi Baduy yang sederhana dalam menjaga alam lindung Kanekes. Sehingga, kesejahteraan dan kedamaian dapat dirasakan oleh umat manusia. Tulisan ini memaparkan sistem religi dan ritual keagamaan Sunda Wiwitan. Dalam perspektif fenomenologi agama permasalahan itu dikaji dengan metode observasi terlibat langsung dan wawancara mendalam. Ditemukan jawaban bahwa keimanan dan ketaatan umat Baduy kepada Allah tampak dalam tindakan mereka menjaga hutan, sungai dan gunung hidup harmoni. Keimanannya bukan dalam hafalan ataupun penafsiran kitab suci. Sedangkan, 2 ibadah ritualnya dipraktikkan lewat bekerja di ladang dengan aturan adat dan patuh pada tabu supaya panen berhasil dan umat sejahtera. Ibadahnya bukan ingin menjadi manusia yang dihormati ataupun dermawan. Inilah umat Sunda Wiwitan dengan pandangan hidup menjaga alam lindung Kanekes

Page 4 of 79 | Total Record : 789


Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH E-Harakah (Vol 14, No 2 Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 13, No 1 Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 12, No 3 el-Harakah (Vol 12, No 2 el-Harakah (Vol 12, No 1 Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 11, No 2 el-Harakah (Vol 11, No 1 Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 2 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 1 (2007): EL HARAKAH Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH More Issue