cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
elharakahjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam
ISSN : 18584357     EISSN : 23561734     DOI : -
Core Subject : Health,
EL HARAKAH (ISSN 1858-4357 and E-ISSN 2356-1734) is peer-reviewed journal published biannually by Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) of Malang. The journal is accredited based on the decree No. 36a E. KPT 2016 on 23 May 2016 by the Directorate General of Higher Education of Indonesia, for the period August 2016 to August 2021 (SINTA 2). The journal emphasizes on aspects related to Islamic Culture in Indonesia and Southeast Asia. We welcome contributions from scholars in the field, papers maybe written in Bahasa Indonesia, English, or Arabic.
Arjuna Subject : -
Articles 791 Documents
Islamization Process of The Tellumpoccoe Alliance: The History of Bone, Soppeng and Wajo Fadli Fadli; Aman Aman; Irvan Tasnur
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v25i1.20612

Abstract

 This research was conducted on the basis of the lack of research that specifically reveals the process of Islamization of the Tellumpoccoe alliance based on historical facts available in the field. This study aims to reveal the process of Islamization of three major regions which include Bone, Soppeng, and Wajo. This study used a historical research method consisting of heuristics/collection of historical sources, external and internal criticism of historical sources, interpretation, and historiography/or historical writing. The results demonstrate that the beginning of the arrival of Islam in South Sulawesi was received openly by two major kingdoms namely Luwu in 1602 and Gowa in 1605. After the Kingdom of Gowa embraced Islam, the existence of an Ulu agreement between the Bugis-Makassar kings caused the Kingdom of Gowa to try spreading the religion of Islam peacefully but was rejected because of the suspicion of political motives to control other kingdoms. In response to this matter, a Telumpoccoe alliance was established by three kingdoms namely Bone, Soppeng, and Wajo to stem the invasion effort as well as the process of Islamization carried out by the Kingdom of Gowa. However, such great power possessed by the Kingdom of Gowa caused the failure of this alliance to maintain its existence. In the end, each kingdom that was incorporated into the alliance embraced Islam, namely Soppeng in 1609, Wajo in 1610, and Bone in 1611.Penelitian ini dilakukan dengan dasar masih kurangnya penelitian yang mengungkapkan secara spesifik terkait proses islamisasi aliansi Tellumpoccoe berdasarkan fakta-fakta historis yang tersedia di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap proses islamisasi tiga daerah besar yang meliputi Bone, Soppeng dan Wajo. Penelitian ini menggunakan metode penelitian historis yang meliputi heuristik/pengumpulan sumber sejarah, kritik eksternal maupun internal terhadap sumber sejarah, interpretasi dan historiografi/atau penulisan sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa awal kedatangan Islam di Sulawesi Selatan diterima dengan terbuka oleh dua kerajaan besar yaitu Luwu pada tahun 1602 dan Gowa pada tahun 1605. Setelah kerajaan Gowa memeluk Islam, adanya perjanjian Ulu Ada antara raja-raja Bugis-Makassar menyebabkan Kerajaan Gowa mencoba menyiarkan agama Islam secara damai, akan tetapi ditolak karena adanya kecurigaan adanya motif politik untuk menguasai kerajaan lainnya. Sebagai respons terhadap hal tersebut, maka didirikanlah persekutuan Telumpoccoe oleh tiga kerajaan yaitu Bone, Soppeng dan Wajo guna membendung usaha invasi sekaligus proses islamisasi yang dilakukan oleh Kerajaan Gowa. Akan tetapi, kekuatan begitu besar yang dimiliki oleh Kerajaan Gowa menyebabkan kegagalan aliansi ini untuk mempertahankan eksistensinya. Pada akhirnya masing-masing kerajaan yang tergabung dalam aliansi tersebut memeluk Islam, yaitu Soppeng pada tahun 1609, Wajo tahun 1610, dan Bone pada tahun 1611.
Mapping Religious Activities and Pluralities in Houses: Case Study at Balun Village Lamongan Agus Subaqin; Antariksa Sudikno; Lisa Dwi Wulandari; Herry Santoso
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v25i1.20310

Abstract

 Religious activities are basic things that are indispensable in life and are primary needs that must be met. Religious plurality is a social reality in life; it is a challenge to create religious harmony, but on the other hand, it is prone to conflict. The study aims to map religious activities in the settlement of religious plurality, namely Islam, Christianity, and Hinduism, in Balun village, Lamongan. It applied an environment behavior study approach with a place-centered mapping method to find individuals or groups using and accommodating their behavior in a certain time and space, with aspects studied, namely religious activities, space, and time. Data were obtained from direct observation and interviews with purposive, systematic samples. The results showed that religious activities at home with religious plurality were mapped into two categories: the religious activities of individuals or groups according to their religion; and the religious activities by inviting citizens to their religion and different religions. Mapping of space use showed that the use of semi-public and public space in the home for religious activities result in flexibility in spatial functions and changes in sacred-profane spatial boundaries. The research contributed to the theoretical development of using shared space in the home and creating a space of tolerance in Balun village's religious life. Kegiatan keagamaan merupakan hal mendasar yang sangat diperlukan dalam kehidupan dan menjadi kebutuhan primer yang harus dipenuhi. Pluralitas agama termasuk realitas sosial dalam kehidupan; merupakan tantangan untuk menciptakan kerukunan umat beragama, namun di sisi lain rawan konflik. Kajian ini bertujuan untuk memetakan aktivitas keagamaan dalam penyelesaian pluralitas agama, yaitu Islam, Kristen, dan Hindu, di desa Balun, Lamongan. Penelitian ini menerapkan pendekatan kajian perilaku lingkungan dengan metode place-centered mapping untuk menemukan individu atau kelompok yang menggunakan dan mewadahi perilakunya dalam ruang dan waktu tertentu, dengan aspek yang dikaji yaitu kegiatan keagamaan, ruang, dan waktu. Data diperoleh dari observasi langsung dan wawancara dengan sampel purposif, sistematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan di hunian dengan pluralitas agama dipetakan menjadi dua kategori yaitu kegiatan keagamaan individu atau kelompok menurut agamanya; dan kegiatan keagamaan dengan mengajak warga untuk beragama dan berbeda agama. Pemetaan pemanfaatan ruang menunjukkan bahwa pemanfaatan ruang semi publik dan publik di rumah untuk kegiatan keagamaan mengakibatkan terjadinya fleksibilitas fungsi ruang dan perubahan batas ruang yang sakral-profan. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan teori pemanfaatan ruang bersama di rumah dan penciptaan ruang toleransi dalam kehidupan beragama di Desa Balun.
Satria Piningit: The Concept of Leadership Based on Javanese Local Wisdom Yeni Mulati; Eny Purwandari
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v25i1.20826

Abstract

 The discourse on Satria Piningit has been regarded only as a mystical prophecy that emerged during the succession of national leadership in Indonesia. Many political figures use Satria Piningit to get the people's support so they can be elected as leaders. It is hoped that this support will emerge; the prediction about Satria Piningit's arrival is a prevalent discourse among the Javanese people. This article aims to conduct a literature study on Satria Piningit's discourse as a leadership regeneration concept based on Javanese local wisdom. It used the systematic literature review method of fifteen articles that discuss Satria Piningit's discourse as a leadership concept. The concept of Satria Piningit is an idea of ideal leadership based on local Javanese wisdom that can be applied at various levels, from small to national leadership. Discourse on Satria Piningit contributed to the formation of nationalism during the Indonesian independence struggle. This discourse is also closely related to religious expression in Indonesia. The Satria Piningit leadership concept can be developed in more detail as a form of regeneration of leaders based on Javanese local wisdom. Wacana Satria Piningit selama ini dianggap hanya sebagai sebuah ramalan bernuansa mistis yang muncul pada suksesi kepemimpinan nasional. Banyak tokoh politik menggunakan istilah Satria Piningit untuk mendapatkan dukungan rakyat hingga bisa terpilih menjadi pemimpin. Dukungan tersebut diharapkan muncul, karena ramalan tentang kedatangan Satria Piningit, merupakan sebuah wacana yang sangat populer di kalangan masyarakat Suku Jawa. Artikel ini bertujuan untuk melakukan kajian literatur tentang wacana Satria Piningit sebagai sebuah konsep kaderisasi kepemimpinan berbasis kearifan lokal Jawa. Artikel ini menggunakan metode systematic literature review dari lima belas artikel yang membahas wacana Satria Piningit sebagai sebuah konsep kepemimpinan. Konsep Satria Piningit merupakan sebuah ide tentang kepemimpinan ideal berbasis kearifan lokal Jawa yang bisa diterapkan di berbagai jenjang, mulai dari kepemimpinan skala kecil hingga nasional. Wacana Satria Piningit memiliki kontribusi terhadap pembentukan karakter nasionalisme di masa perjuangan kemerdekaan RI. Wacana ini juga sangat berkaitan dengan ekspresi keberagamaan di Indonesia. Konsep Kepemimpinan Satria Piningit bisa dikembangkan menjadi lebih rinci sebagai salah satu bentuk kaderisasi pemimpin berbasis kearifan lokal Jawa.
Effect of Tarekat Khalwattiyah-Samman on Fishermen's Work on The South Coast of South Sulawesi Abdul Malik Iskandar; Syamsul Bahri; Muhammad Masdar; Nurmi Nonci; Faidah Azuz; Harifuddin Harifuddin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v25i1.18093

Abstract

 Coastal fishermen communities hold religious rituals as Sufism practices. One of which is Tarekat Khalwatiyah-Samman, which affects their daily work. This paper aims to identify the substance of the Khalwatiyah-Samman teachings. It deciphers the effect of this teaching on the work of fishermen on the south coast of South Sulawesi. This research is qualitative with social and empirical approaches. Data collection was done through in-depth interviews, observation, and literature study. It employed qualitative data processing and analysis. The results showed that the substance of the Khalwatiyah-Samman teachings lies in its three doctrines: the purification of the soul, the concept of the essence of God, and the concept of human essence. In addition, the influence of Khalwatiyah-Samman's teaching on the work of fishermen on the south coast of South Sulawesi is the emergence of attitudes in work such as complacency; God has determined everything, and they do not have a competitive spirit and spirit of achievement. Accordingly, the substance of the Khalwatiyah-Samman teaching is that God has determined all human actions, and humans only live it. Moreover, the effect of the Khalwatiyah-Samman teaching is to form an attitude of fatalism in fishermen or resignation. Masyarakat nelayan di wilayah pesisir memegang teguh ritual keagamaan sebagai praktik Sufisme. Salah satunya yaitu Tarekat Khalwatiyah-Samman yang berpengaruh terhadap pekerjaan sehari-hari nelayan. Tulisan ini bertujuan memahami substansi ajaran Tarekat Khalwatiyah-Samman. Penelitian ini mengungkap efek Tarekat Khalwatiyah-Samman terhadap pekerjaan nelayan di pesisir selatan Sulawesi Selatan Penelitian ini bersifat kualitatif dengan pendekatan sosial dan empiris. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi literatur. Kajian ini menggunakan pengolahan dan analisis data kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ini substansi ajaran Tarekat Khalwatiyah-Samman terletak pada tiga doktrinnya yaitu penyucian jiwa, konsep esensi Ketuhanan dan konsep esensi manusia. Pengaruh tarekat Khalwatiyah-Samman terhadap pekerjaan nelayan di pesisir selatan Sulawesi Selatan adalah timbulnya sikap dalam bekerja seperti cepat puas, segala hal telah ditentukan oleh Tuhan, mereka tidak memiliki jiwa bersaing dan semangat berprestasi. Karena itulah substansi ajaran Khalwatiyah-Samman adalah semua perbuatan manusia telah ditentukan Tuhan dan manusia hanya menjalaninya. Adapun efek Tarekat Khalwatiyah-Samman adalah membentuk sikap fatalism pada nelayan atau kepasrahan.
Sufistic Meditation as a Form of Happiness Transformation Naan Naan; Siti Aisyah
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v25i1.18767

Abstract

This study focuses on the discussion of Sufistic meditation as a form of happiness transformation. A discussion that has long been the subject of study. Happiness itself is the hope of everyone, but in reality, the happiness obtained is only false happiness, not eternal happiness. In Buddhist rituals, meditation is a practice that must be done in any school of Buddhism, and this has been a tradition since time immemorial. In this study, meditation from the Sufism perspective is presented as a method to enhance the transformation of true happiness. Meditation according to Buddhism has the same essence as the ritual practices in Islam, only the terms used vary. In Sufism, meditation has a word equivalent to the terms mentioned in Islam, namely Dhikr, tafakkur, mujahadah, muraqobah, riyadhah, and uzlah. In addition, the concept of happiness from several perspectives is also discussed, such as happiness from the perspective of Western psychology, happiness from the Sufistic perspective, and happiness according to experts. The author uses this topic as a study to further explore that Islam also has meditation methods with its perspective, and this Sufistic-based meditation is very supportive to improve the transformation of our spirituality in general and happiness in particular. Kajian ini memfokuskan pada pembahasan tentang meditasi sufistik sebagai bentuk transformasi kebahagiaan. Suatu pembahasan yang sudah lama menjadi bahan kajian. Sebagaimana kebahagiaan itu sendiri menjadi harapan setiap orang, tetapi pada kenyataannya kebahagiaan yang diperoleh hanyalah kebahagiaan yang bersifat semu, bukan kebahagiaan yang abadi. Dalam ritual agama Buddha, meditasi adalah satu praktik yang harus dilakukan dalam aliran Buddhaisme mana pun, dan ini sudah menjadi tradisi sejak dahulu kala. Dalam kajian ini meditasi perspektif tasawuf hadir sebagai metode untuk meningkatkan transformasi kebahagiaan yang sejati. Meditasi menurut agama Buddha memiliki esensi yang sama dengan ritual praktik yang ada dalam agama Islam, hanya saja istilah yang digunakan beragam. Dalam tasawuf, meditasi mempunyai padanan kata dengan istilah yang disebut dalam agama Islam, yaitu Dzikir, tafakkur, mujahadah, muraqobah, riyadhah, dan uzlah. Selain itu, juga dibahas konsep kebahagiaan dari beberapa perspektif, seperti kebahagiaan perspektif psikologi barat, kebahagiaan perspektif sufistik, dan kebahagiaan menurut para ahli. Topik ini penulis jadikan sebagai kajian pembahasan guna mengeksplorasi lebih jauh bahwa Islam juga mempunyai metode meditasi dengan perspektifnya sendiri, dan meditasi berbasis sufistik ini sangat mendukung untuk meningkatkan transformasi spititualitas kita umumnya dan kebahagiaan khususnya.
Religious Moderation Values in The Local Wisdom of Reog Dadak Lar Pitik Ulfi Andrian Sari; Ali Nasith; Azharotunnafi Azharotunnafi; Hayyun Lathifaty Yasri
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v25i1.19664

Abstract

 Reog art has become the identity of the Ponorogo district. Paguyuban Singo Mudo in Sidoharjo village, Ponorogo regency, is the only one that preserves the unique local wisdom of reog, namely reog dadak lar pitik. This reog was made because the community in Sidoharjo had difficulty getting peacock feathers and tiger skin as basic reog ingredients, so they were replaced with dadak lar pitik and civet skin. Then reog dadak lar pitik is believed to be a tradition to bring rain. This research aims to analyze the values of religious moderation in the local wisdom of reog dadak lar pitik. This research was conducted using a qualitative approach with ethnographic methods. The data collection tools were observation sheets, interview sheets, documentation, and Forum Group Discussion (FGD). The findings are first, preserving local culture can be seen in people who still uphold the reog dadak lar pitik performance as a means of bringing rain. Second, tolerance is seen in people who still respect the opinion of the belief that this reog can bring rain, even though many people no longer believe it. The third is the absence of conflict of belief, whether those who believe in the myth of reog dadak lar pitik can bring rain, because this reog was used as a means of da'wah. Fourth, patriotism is depicted in the characters of the reog actors who have a patriotic spirit. Kesenian reog menjadi identitas kabupaten Ponorogo. Paguyuban singo mudo di Desa Sidoharjo, kabupaten Ponorogo satu satunya yang melestarikan kearifan lokal reog yang unik yaitu reog dadak lar pitik. Reog dadak lar pitik dibuat karena masayarakat di Sidoharjo kesulitan mendapatkan bulu merak dan kulit harimau sebagai bahan dasar reog sehingga diganti dengan dadak lar pitik dan kulit musang. Kemuadian reog dadak lar pitik dipercaya sebagai tradisi untuk mendatangkan hujan. Tujuan penelitian ini untuk menganalissis nilai-nilai moderasi beragama dalam kearifan lokal reog dadak lar pitik.  Penelitian ini dilaksanakan menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi. Alat pengumpul data menggunakan lembar observasi, lembar wawancara, dokumentasi, dan Forum Group Discussion (FGD). Temuan penelitian ini pertama melestarikan budaya lokal tampak pada masyarakat yang masih memegang teguh pertunjukan reog dadak lar pitik sebagai sarana mendatangkan hujan. Ke dua, toleransi terlihat pada masyarakat yang tetap menghargai pendapat kepercayaan bahwa reog dadak lar pitik dapat mendatangkan hujan, walaupun banyak masyarakat yang sudah tidak percaya. Ke tiga perdamaian tampak dari tidak adanya konflik kepercayaan baik yang percaya dengan mitos reog dadak lar pitik dapat mendatangkan hujan atau tidak, karena reog dadak lar pitik dijadikan sarana dakwah. Ke empat, patriotisme tergambarkan pada tokoh-tokoh pemeran reog yang memiliki jiwa patriotisme.
Tolerant and Moderate Islamic Religious Practices in Pesantren Al-Qodir Miftahuddin, Miftahuddin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v25i1.18342

Abstract

Creating peace and harmony among communities is an Islamic teaching must be implemented to achieve goodness and harmony among humanity. It is what K.H. Masrur Ahmad MZ and his pesantren are currently doing, not only in theory but also in practice. This article aims to explain the practice of a tolerant and moderate interpretation of Islam, or often referred to as "Islam rahmatan li al-alamin," which is led by K.H. Masrur as the caretaker of Pesantren Al-Qodir. This research uses a qualitative method with a symbolic interaction approach. Data collection is carried out through in-depth interviews and observations, and relevant documentation is gathered. The results show that, by not eliminating the basic principles and values of Islam, the Islamic religiosity practiced in pesantren, Al-Qodir, is Islam that is able to sustain dialogue with various groups, other religions, cultures, and local communities. In this context, K.H. Masrur goes beyond the interpretation of a tolerant and moderate understanding of Islam, and also demonstrates how tolerance is implemented in real actions, such as inviting Christians to participate in the sacrifice of animals for Qurban, staging local art festivals, and other initiatives. Menciptakan perdamaian dan kebersamaan di kalangan masyarakat adalah ajaran Islam yang harus diimplementasikan agar tercipata kebaikan dan keharmonisan di antara umat manusia. Hal inilah yang sedang dilakukan K.H. Masrur Ahmad MZ dan pesantrennya, yang tidak hanya dalam tataran pemikiran atau teori tetapi juga praktik. Artikel ini bertujuan menjelaskan praktik keberagamaan Islam toleran dan moderat atau sering disebut Islam rahmatan li al-alamin yang dimotori oleh K.H. Masrur sebagai pengasuh pesantren Al-Qodir. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan interaksi simbolik. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan tidak menghilangkan prinsip-prinsip dasar dan nilai-nilai Islam, keberagamaan Islam di pesantren Al-Qodir adalah Islam yang mampu berdialog dengan berbagai kelompok, agama lain, budaya, dan masyarakat lokal. Dalam konteks ini, K.H. Masrur tidak berhenti dalam hasil penafsiran ajaran Islam yang toleran dan moderat, akan tetapi bagaimana praktik toleransi diimplementasikan dalam tindakan yang nyata, seperti mengundang kaum nasrani ikut dalam penyembelihan hewan kurban, pagelaran vestifal kesenian lokal, dan lainnya.
The Role of Ibu Nyai for The Development of Local Community-Based Public Health Services Arifin, Samsul; Baharun, Mokhammad; Saputra, Rahmat
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v25i1.19620

Abstract

People with mental disorders are continually increasing every year. However, they are very few who seek treatment. The causative factor is the limited mental health services. One solution is to develop services based on Islamic boarding schools or pesantren. For pesantren, mental health is part of da'wah bil-irsyad or counseling.This paper aims to describe the role and potential of ibu nyai (female scholars of pesantren) in developing local community-based public health services. The study used a qualitative method with an ethnographic-hermeneutic approach. The results show that firstly, ibu nyai had the potential as leaders for female students, many are highly educated, some have colleges and health facilities, and some have sizeable social capital. Second, ibu nyai had a concern for health services because of her theological motivation and passion for da’wah. Third, ibu nyai has a powerful social network, which is expected to be helpful as a communication strategy for strengthening public health. Islamic boarding school-based public health has its own appeal and market share. This research is useful for developing public health science based on local wisdom. Masyarakat yang mengalami gangguan jiwa setiap tahun selalu meningkat. Mereka sedikit sekali yang berusaha mencari pengobatan. Faktor penyebabnya, karena terbatasnya layanan kesehatan mental. Salah satu solusinya, mengembangkan layanan yang berbasis pesantren. Bagi pesantren, kesehatan mental termasuk bagian dakwah bil-irsyad atau konseling. Tujuan tulisan ini untuk mendeskripsikan peran dan potensi ibu nyai dalam mengembangkan layanan kesehatan masyarakat berbasis komunitas lokal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi-hermeneutik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, para ibu nyai berpotensi sebagai pemimpin bagi santri perempuan, banyak yang berpendidikan tinggi, ada yang memiliki perguruan tinggi dan fasilitas kesehatan serta memiliki modal sosial yang besar. Kedua, ibu nyai memiliki kepedulian terhadap layanan kesehatan karena motivasi teologis dan semangat khidmah dalam berdakwah. Ketiga, ibu nyai memiliki jejaring sosial yang sangat kuat, yang diharapkan bermanfaat sebagai strategi komunikasi dalam penguatan kesehatan masyarakat. Kesehatan masyarakat berbasis pesantren memiliki daya tarik dan pangsa pasar tersendiri. Penelitian ini berguna untuk mengembangkan ilmu kesehatan masyarakat yang berbasis kearifan lokal.
Islamization Process of The Tellumpoccoe Alliance: The History of Bone, Soppeng and Wajo Fadli, Fadli; Aman, Aman; Tasnur, Irvan
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v25i1.20612

Abstract

This research was conducted on the basis of the lack of research that specifically reveals the process of Islamization of the Tellumpoccoe alliance based on historical facts available in the field. This study aims to reveal the process of Islamization of three major regions which include Bone, Soppeng, and Wajo. This study used a historical research method consisting of heuristics/collection of historical sources, external and internal criticism of historical sources, interpretation, and historiography/or historical writing. The results demonstrate that the beginning of the arrival of Islam in South Sulawesi was received openly by two major kingdoms namely Luwu in 1602 and Gowa in 1605. After the Kingdom of Gowa embraced Islam, the existence of an Ulu agreement between the Bugis-Makassar kings caused the Kingdom of Gowa to try spreading the religion of Islam peacefully but was rejected because of the suspicion of political motives to control other kingdoms. In response to this matter, a Telumpoccoe alliance was established by three kingdoms namely Bone, Soppeng, and Wajo to stem the invasion effort as well as the process of Islamization carried out by the Kingdom of Gowa. However, such great power possessed by the Kingdom of Gowa caused the failure of this alliance to maintain its existence. In the end, each kingdom that was incorporated into the alliance embraced Islam, namely Soppeng in 1609, Wajo in 1610, and Bone in 1611. Penelitian ini dilakukan dengan dasar masih kurangnya penelitian yang mengungkapkan secara spesifik terkait proses islamisasi aliansi Tellumpoccoe berdasarkan fakta-fakta historis yang tersedia di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap proses islamisasi tiga daerah besar yang meliputi Bone, Soppeng dan Wajo. Penelitian ini menggunakan metode penelitian historis yang meliputi heuristik/pengumpulan sumber sejarah, kritik eksternal maupun internal terhadap sumber sejarah, interpretasi dan historiografi/atau penulisan sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa awal kedatangan Islam di Sulawesi Selatan diterima dengan terbuka oleh dua kerajaan besar yaitu Luwu pada tahun 1602 dan Gowa pada tahun 1605. Setelah kerajaan Gowa memeluk Islam, adanya perjanjian Ulu Ada antara raja-raja Bugis-Makassar menyebabkan Kerajaan Gowa mencoba menyiarkan agama Islam secara damai, akan tetapi ditolak karena adanya kecurigaan adanya motif politik untuk menguasai kerajaan lainnya. Sebagai respons terhadap hal tersebut, maka didirikanlah persekutuan Telumpoccoe oleh tiga kerajaan yaitu Bone, Soppeng dan Wajo guna membendung usaha invasi sekaligus proses islamisasi yang dilakukan oleh Kerajaan Gowa. Akan tetapi, kekuatan begitu besar yang dimiliki oleh Kerajaan Gowa menyebabkan kegagalan aliansi ini untuk mempertahankan eksistensinya. Pada akhirnya masing-masing kerajaan yang tergabung dalam aliansi tersebut memeluk Islam, yaitu Soppeng pada tahun 1609, Wajo tahun 1610, dan Bone pada tahun 1611.
Mapping Religious Activities and Pluralities in Houses: Case Study at Balun Village Lamongan Subaqin, Agus; Sudikno, Antariksa; Wulandari, Lisa Dwi; Santoso, Herry
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v25i1.20310

Abstract

Religious activities are basic things that are indispensable in life and are primary needs that must be met. Religious plurality is a social reality in life; it is a challenge to create religious harmony, but on the other hand, it is prone to conflict. The study aims to map religious activities in the settlement of religious plurality, namely Islam, Christianity, and Hinduism, in Balun village, Lamongan. It applied an environment behavior study approach with a place-centered mapping method to find individuals or groups using and accommodating their behavior in a certain time and space, with aspects studied, namely religious activities, space, and time. Data were obtained from direct observation and interviews with purposive, systematic samples. The results showed that religious activities at home with religious plurality were mapped into two categories: the religious activities of individuals or groups according to their religion; and the religious activities by inviting citizens to their religion and different religions. Mapping of space use showed that the use of semi-public and public space in the home for religious activities result in flexibility in spatial functions and changes in sacred-profane spatial boundaries. The research contributed to the theoretical development of using shared space in the home and creating a space of tolerance in Balun village's religious life. Kegiatan keagamaan merupakan hal mendasar yang sangat diperlukan dalam kehidupan dan menjadi kebutuhan primer yang harus dipenuhi. Pluralitas agama termasuk realitas sosial dalam kehidupan; merupakan tantangan untuk menciptakan kerukunan umat beragama, namun di sisi lain rawan konflik. Kajian ini bertujuan untuk memetakan aktivitas keagamaan dalam penyelesaian pluralitas agama, yaitu Islam, Kristen, dan Hindu, di desa Balun, Lamongan. Penelitian ini menerapkan pendekatan kajian perilaku lingkungan dengan metode place-centered mapping untuk menemukan individu atau kelompok yang menggunakan dan mewadahi perilakunya dalam ruang dan waktu tertentu, dengan aspek yang dikaji yaitu kegiatan keagamaan, ruang, dan waktu. Data diperoleh dari observasi langsung dan wawancara dengan sampel purposif, sistematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan di hunian dengan pluralitas agama dipetakan menjadi dua kategori yaitu kegiatan keagamaan individu atau kelompok menurut agamanya; dan kegiatan keagamaan dengan mengajak warga untuk beragama dan berbeda agama. Pemetaan pemanfaatan ruang menunjukkan bahwa pemanfaatan ruang semi publik dan publik di rumah untuk kegiatan keagamaan mengakibatkan terjadinya fleksibilitas fungsi ruang dan perubahan batas ruang yang sakral-profan. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan teori pemanfaatan ruang bersama di rumah dan penciptaan ruang toleransi dalam kehidupan beragama di Desa Balun.

Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH E-Harakah (Vol 14, No 2 Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 13, No 1 Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 12, No 3 el-Harakah (Vol 12, No 2 el-Harakah (Vol 12, No 1 Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 11, No 2 el-Harakah (Vol 11, No 1 Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 2 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 1 (2007): EL HARAKAH Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH More Issue