cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
elharakahjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam
ISSN : 18584357     EISSN : 23561734     DOI : -
Core Subject : Health,
EL HARAKAH (ISSN 1858-4357 and E-ISSN 2356-1734) is peer-reviewed journal published biannually by Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) of Malang. The journal is accredited based on the decree No. 36a E. KPT 2016 on 23 May 2016 by the Directorate General of Higher Education of Indonesia, for the period August 2016 to August 2021 (SINTA 2). The journal emphasizes on aspects related to Islamic Culture in Indonesia and Southeast Asia. We welcome contributions from scholars in the field, papers maybe written in Bahasa Indonesia, English, or Arabic.
Arjuna Subject : -
Articles 791 Documents
Drugs In Quranic Perspective: An Overview Abur Hamdi Usman; Rosni Wazir; Syamim Zakwan Rosman; Abdul Hadi Awang; Suriani Sudi; Norsaleha Mohd Salleh
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v24i1.15033

Abstract

Drug is a particular term for a substance harmful to a person’s physical, spiritual (mental and emotional), and behavior when used. As a result of this effect, a person who uses drugs will become dependent on the drug and addicted. In other words, drugs carry a very high risk that can be fatal. However, the dangers of drugs that are contagious in society today are given serious attention by Islam. In this regard, fatwā (a decision officially given by a Mufti or a Shariah State Committee) has already been issued to ban drug use. Thus, the Quran, as the primary reference in Islam, has a vital role in resolving the problem of Muslims related to drugs. Using the qualitative method of the library research, this article shows that there are several verses of the Quran that discuss and provide guidance to the community in dealing with this issue. From the Quran, the word drug is associated with the meaning of the word al-Khamr (alcohol/intoxicant). Hence, the impact of drug abuse has many negative effects on society and this study can be used to supplement the existing literature to build modules, conduct rehabilitation programs or parental counseling by using the Quranic approachNarkoba adalah istilah khusus untuk zat yang berbahaya bagi fisik, ruhani (mental dan emosional), dan perilaku seseorang ketika digunakan. Akibat dari efek ini, seseorang yang menggunakan narkoba akan menjadi kecanduan. Dengan kata lain, narkoba membawa risiko yang sangat tinggi yang bisa berakibat fatal. Namun, bahaya narkoba yang mewabah di masyarakat dewasa ini mendapat perhatian serius oleh Islam. Dalam hal ini, fatwa (keputusan resmi yang diberikan oleh Mufti) telah dikeluarkan untuk melarang penggunaan narkoba. Dengan demikian, al-Qur’an sebagai rujukan utama dalam Islam memiliki peran vital dalam menyelesaikan masalah umat Islam terkait narkoba. Dengan menggunakan metode kualitatif perpustakaan, artikel ini menunjukkan bahwa ada beberapa ayat al-Qur’an yang membahas dan memberikan pedoman kepada masyarakat dalam menangani masalah ini. Dari al-Qur’an, kata narkoba dikaitkan dengan arti kata al-Khamr (alkohol/mabuk). Oleh karena itu, penyalahgunaan narkoba memiliki banyak dampak negatif bagi masyarakat dan penelitian ini dapat digunakan untuk melengkapi literatur yang ada untuk membangun modul, melakukan program rehabilitasi atau konseling orang tua dengan menggunakan pendekatan al-Qur’an 
AL-MABADI’ Al-ISLAMIYAH LI MU’ALAJATI ATS-TSAQAFAT AL-MUTATHARRIFAH FI AL-MUJTAMA’ AL-INDUNISI Zulfi Mubaraq; Abd Haris; Uril Bahruddin; Mualimin Mochammad Sahid
El-HARAKAH (TERAKREDITASI) Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v24i1.15169

Abstract

لم يزل المجتمع الإندونيسي تعانيه مشكلة التطرف الديني، بل أصبحت فكرة التطرف ثقافة لدى بعض الأفراد الأكاديميين. وفي جانب آخر عرف الشعب الإندونيسي بالتسامح والتعاون والتعاطف. فأهداف البحث وصف (1) نماذج الثقافات المتطرفة في المجتمع، (2) أسباب انتشار الثقافات المتطرفة في المجتمع، (3) المبادئ الإسلامية لمعالجة الثقافات المتطرفة في المجتمع. استخدم هذا البحث المدخل الكيفي والدراسة المكتبية، وجمع البيانات فيه عن طريق دراسة الوثائق المتعلقة بالموضوع وتحليلها. ويتم بعد ذلك تنظيم البيانات وتفسيرها والمقارنة مع نتائج البحوث الأخرى ثم الاستنتاج منها. وقد توصل البحث إلى أن هناك نماذج الثقافات المتطرفة التي تتمثل في الفهم الخاطئ عن معنى والولاء والبراء والجهاد، وأن أسباب انتشار الثقافات المتطرفة نوعان الدينية التي تتمثل فيعدم فهم الدين فهما صحيحا، والأخذ بظاهر النصوص الدينية، الغلو في الدين، وضعف فهم السيرة والتاريخ، وغير الدينية تتمثل في وعد وجود العدالة في مجالات الحياة، وأن هناك مبادئ إسلاميةلمعالجتها، منها الإنكار على أهل الغلو والتقصير، وأن الوسطية من صفات الأمة، والمسامحة ولين الجانب، والرحمة والرفق والشفقة على المخالف، وإبراز الأمور المتفق عليها على المخالف، وإزالة التصورات الخاطئة وتوضيح الحقائق، وعدم الإساءة إلى الآخرين أو إلى ما يعتقدوه، وقبول الحق من المخالفين، والتركيز على القضايا الأساسية.ومن هنا يمكن أن تعمم نتائج هذا البحث بأن تطبيق المنهج الوسطي في المجتمع الإسلامي يلزم نشر الوعي الإسلامي الوسطي ومناقشة الثقافات المتطرفة التي تؤدي إلى إساءة صورة الإسلام والمسلمين.
Cultural Impact on Islamic Matrimonial Beliefs: A Comparison between Pakistan and Qatar Waqar Husain; Umaima Usman
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v24i2.17721

Abstract

People from distinct cultural backgrounds practice Islam. The general impact of culture over religion, including Islam, has been well documented. The current study specifically focused on marriage-related Islamic beliefs and intended to analyze the impact of culture in this regard by comparing Pakistani and Qatari Muslims. The study involved 519 participants from Pakistan and Qatar. A specific questionnaire was designed for the current study in Urdu and Arabic. It comprised 26 items and covered various Islamic matrimonial beliefs. The findings revealed that the marital beliefs of Qatari Muslims were significantly closer to the authentic Islamic beliefs than those of Pakistani Muslims. The current study's findings reflected the impact of indigenous culture on the marriage-related beliefs of Pakistani Muslims. Islam diamalkan oleh orang-orang dari latar belakang budaya yang berbeda. Kesan umum budaya terhadap agama, termasuk Islam, telah didokumentasikan dengan baik. Kajian ini secara khusus memberi tumpuan kepada kepercayaan Islam berkaitan perkawinan dan bertujuan untuk menganalisis kesan budaya dalam hal ini dengan membandingkan Muslim Pakistan dan Qatar. Kajian itu melibatkan 519 peserta dari Pakistan dan Qatar. Suatu angket khusus telah dirancang untuk kajian ini dalam bahasa Urdu dan Arab. Angket tersebut mengandung 26 butir dan merangkum pelbagai kepercayaan perkawinan Islam. Hasil menunjukkan bahwa kepercayaan perkawinan orang Islam Qatar lebih dekat dengan kepercayaan Islam tulen berbanding dengan kepercayaan orang Islam Pakistan. Temuan penelitian ini mencerminkan kesan budaya orang asli terhadap kepercayaan berkaitan perkawinan orang Islam Pakistan.
Islam, Local Wisdom and Religious Harmony: Religious Moderation in East-Java Christian Village Bases Umi Sumbulah; Agus Purnomo; Jamilah Jamilah
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v24i1.16264

Abstract

This article discusses about the dynamics of interaction and harmony among believers in 41 Christian villages spread over 15 districts in East Java. Although called the Christian Villages, they are populated by Muslims, Catholics, Hindus, and Buddhists. The social diversity is formed through kinship and marriage. The Christian villages, which are called “Pancasila Villages” and “Villages of Diversity”, are melting pots that unite all wisdom, teachings, mythology, and religious traditions. The current qualitative research conducted in Christian villages in Jombang, Malang, and Situbondo go into the following results: first, the esoteric-inclusive interpretation that religion is a way of life that directs its adherents to achieve peace and happiness becomes the basis for religious people to respect each other and guarantee religious freedom; second, interfaith awareness that all religions have an exoteric dimension in the variety of rites to approach God is a basic principle in building harmony; third, the diversity meaning of symbols in the form of values, rituals, and sacred objects are embodied in the interactions of daily life. Religious moderation manifests in tolerance, inclusivism, equality, and cooperation in various cultural spaces. Further researches on interaction pattern and level of religious moderation would be worth investigating. Artikel ini membahas dinamika interaksi dan kerukunan umat beragama di basis desa Kristen yang berjumlah 41 desa yang tersebar di 15 kabupaten di Jawa Timur. Meski disebut Desa Kristen, desa ini juga dihuni pemeluk Islam, Katolik, Hindu, dan Budha. Keberagaman masyarakat terbentuk melalui kekerabatan dan perkawinan. Basis Desa Kristen yang dijuluki “Desa Pancasila” dan “Desa Keragaman” adalah melting pot yang menyatukan semua kearifan, ajaran, mitologi, dan tradisi keagamaan. Hasil penelitian kualitatif yang dilakukan di desa-desa Kristen di Jombang, Malang, dan Situbondo ini menunjukkan: pertama, interpretasi esoteris-inklusif bahwa agama adalah cara hidup yang mengarahkan pemeluknya untuk mencapai kedamaian dan kebahagiaan, menjadi dasar bagi umat beragama untuk saling menghormati dan menjamin kebebasan beragama. Kedua, kesadaran lintas agama bahwa semua agama memiliki dimensi eksoteris dalam ragam ritus untuk mendekati Tuhan merupakan prinsip dasar dalam membangun harmoni. Ketiga, makna keragaman simbol berupa nilai, ritual, dan benda sakral diwujudkan dalam interaksi kehidupan sehari-hari. Moderasi beragama terwujud dalam toleransi, inklusivisme, kesetaraan, dan kerjasama dalam berbagai ruang budaya. Penelitian lebih lanjut tentang pola interaksi dan tingkat moderasi beragama layak dilakukan.
The Effect of Aswaja Values and Javanese Islam on Students' Moderate Islamic Thinking Yauma Trin Sunda; Agus Zaenul Fitri
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v24i2.16924

Abstract

This article examines the issue of dialectical Islam with local culture in Indonesia, which eventually forms a distinctive and unique variant of Islam, as well as the acculturation of Aswaja values and Javanese Islam. Indonesian Islamic State Universities (UIN) are part of the component that forms a nationalist and religious generation. Undeniably, it is free from the Islamic variant of the times. The variant of Islam is not Islam which is separated from its purity, but Islam, which is acculturated with local culture. The study's mixed-method results showed that 72.4% of Aswaja's values influenced the formation of moderate thinking. Meanwhile, 42% of Javanese Islam also contributes to Moderate Islamic thought. As a variant of cultural Islam in Indonesia, Javanese Islam tends to be syncretic with its distinctive traditions. It can be seen in the dialectic of religion and culture, such as the “Grebek Pancasila”, the early Genduri of a sermon, and Wayang performances. Its substance is to transform the prophetic spirit of the teachings of monotheism while preserving local culture. Javanese Aswaja and Islamic values struggle with the realities of modernity and globalization. In this context, it can be seen how the response of groups of Islamic organizations, particularly the moderate Islam Rahmatan Lil Alamin. Artikel ini mengkaji persoalan dialektika Islam dengan budaya lokal di Indonesia yang pada akhirnya membentuk varian Islam yang khas dan unik, serta akulturasi nilai-nilai Aswaja dan Islam Jawa. Universitas Islam Negeri (UIN) di Indonesia merupakan bagian dari komponen yang membentuk generasi nasionalis dan agamis, yang tidak bisa dipungkiri terbebas dari varian Islam zaman. Varian Islam bukanlah Islam yang lepas dari kemurniannya, melainkan Islam yang berakulturasi dengan budaya lokal. Hasil penelitian dengan menggunakan metode campuran menunjukkan bahwa 72,4% nilai Aswaja mempengaruhi pembentukan berpikir moderat. Sementara itu, 42% Islam Jawa juga berkontribusi pada pemikiran Islam Moderat. Sebagai varian Islam budaya di Indonesia, Islam Jawa cenderung sinkretis dengan tradisi khasnya. Hal ini terlihat dalam dialektika agama dan budaya, seperti “Grebek Pancasila”, Genduri awal ceramah, dan pertunjukan wayang. Substansinya adalah mentransformasikan semangat profetik dari ajaran tauhid sekaligus melestarikan budaya lokal. Aswaja Jawa dan nilai-nilai Islam berjuang dengan realitas modernitas dan globalisasi. Dalam konteks ini, terlihat bagaimana respon kelompok ormas Islam, khususnya Islam moderat, Rahmatan Lil Alamin.
Hypebeast Trend on Consumption Behavior in Islamic Point of View Muhamad Parhan; Jenuri Jenuri; Dina Mayadiana Suwarma; Rini Utari; Annisa Gilang Fitriah; Rike Damayanti
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v24i2.17881

Abstract

This study aims to define the effect of the hypebeast trend on adolescent consumptive behavior and how Islam views the issue. The hypebeast has developed in various circles, which causes consumptive behavior. Consumptive behavior affects the hypebeast trend and social actions of the community because it is related to people's habits in managing all the problems in their lives. This study applies qualitative methods with descriptive data types and a questionnaire for the data collection with the Likert scale. The questionnaire is intended for adolescents aged 17 to 22 years who are Muslim, both male and female. The results revealed that 67.6% of respondents agree that the hypebeast trend is a priority in buying goods. Based on the results, it is evident that today's teenagers tend to behave consumptively and follow the hypebeast trend. However, based on the Islamic point of view and associated with the Qur'an and Hadith, consumptive and excessive behavior is not justified and is prohibited by Islam Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tren hypebeast terhadap perilaku konsumtif remaja dan bagaimana Islam memandang isu tersebut. Hypebeast telah berkembang di berbagai kalangan sehingga menimbulkan perilaku konsumtif. Perilaku konsumtif mempengaruhi trend hypebeast dan tindakan sosial masyarakat karena berkaitan dengan kebiasaan masyarakat dalam mengatur segala permasalahan dalam hidupnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis data deskriptif serta angket untuk pengumpulan data dengan skala Likert. Kuesioner ditujukan untuk remaja berusia 17 hingga 22 tahun yang beragama Islam, baik laki-laki maupun perempuan. Hasilnya terungkap bahwa 67,6% responden setuju bahwa tren hypebeast menjadi prioritas dalam membeli barang. Berdasarkan hasil penelitian terlihat bahwa remaja saat ini cenderung berperilaku konsumtif dan mengikuti trend hypebeast. Namun, berdasarkan pandangan Islam dan dikaitkan dengan Al-Qur'an dan Hadits, perilaku konsumtif dan berlebihan tidak dibenarkan dan dilarang dalam Islam.
Sakaya: Balia Tradition Transformation in The Kaili Tribe Community of Palu, Central Sulawesi Hatta Fakhrurrozi; Saepudin Mashuri; Ilham Dwitama Haeba; Ulfun Khoirotun
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v24i2.17238

Abstract

The social changes of the Palu community after the 2018 disaster affected the values, attitudes, behaviors, and perspectives of some religious groups in society, which in turn forced the Balia tradition to transform as an adaptive step. This qualitative research aims to find the transformation of Balia by using an ethnographic approach. The research location was in the cities of Palu and Sigi. The sample was determined twice using the snowball technique and convenience sampling, which resulted in five respondents. Data was collected using depth interviews and analyzed using triangulation. This study found that Balia has transformed into a new form adapted to the community's needs and demands, called Sakaya. The term Sakaya is intended for someone who can be a medium or a means of communication with supernatural beings. Sakaya is not a colossal ritual but a personal ritual. The transformation occurs in the second aspect of Balia and does not leave the primary aspect. As a result, these rituals have become more effective, efficient, inexpensive, and easily accessible to the public. Another finding of this research is that the function of the Sakaya is extended beyond Balia, which includes economic, social, and political aspects, which makes it more acceptable in the social life of the Kaili tribal community.  Perubahan sosial masyarakat Palu pasca bencana 2018 berdampak pada nilai, sikap, perilaku, dan cara pandang sebagian kelompok agama di masyarakat, yang pada gilirannya memaksa tradisi Balia bertransformasi sebagai langkah adaptif. Penelitian kualitatif ini bertujuan untuk menemukan transformasi Balia dengan menggunakan pendekatan etnografi. Lokasi penelitian berada di kota Palu dan Sigi. Penentuan sampel dilakukan sebanyak dua kali dengan teknik snowball dan convenience sampling, yang menghasilkan lima responden. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam dan dianalisis menggunakan triangulasi. Kajian ini menemukan bahwa Balia telah menjelma menjadi bentuk baru yang telah disesuaikan dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat, yang disebut Sakaya. Istilah Sakaya ditujukan untuk seseorang yang mampu menjadi media atau sarana komunikasi dengan makhluk gaib. Sakaya bukanlah ritual kolosal, melainkan ritual pribadi. Transformasi terjadi pada aspek sekunder Balia dan tidak meninggalkan aspek primer. Alhasil, ritual-ritual tersebut menjadi lebih efektif, efisien, murah, dan mudah dijangkau oleh masyarakat. Temuan lain dari penelitian ini adalah bahwa fungsi Sakaya diperluas di luar Balia, yang meliputi aspek ekonomi, sosial, dan politik, yang membuatnya lebih dapat diterima dalam kehidupan sosial masyarakat suku Kaili.
The Social Meaning of 4,444 Sholawat Nariyah in The Covid-19 Pandemic Siti Lailatus Sofiyah; Emy Susanti; Sutinah Sutinah
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v24i2.17467

Abstract

This study discusses the social meaning of reading sholawat nariyah 4,444 times. The purpose is to understand it as a social reality practiced in Badang Village during the COVID-19 pandemic. Sholawat nariyah is interpreted as a religious tradition that continues to be preserved and maintained. It uses a qualitative approach from the phenomenological aspect, with in-depth interviews and observations. The findings cover five categories of sholawat nariyah: as a symbol of religion, as a solidarity action, as sacredness, as collective awareness, and as a tool of power. This study concludes that the social meaning of reading sholawat nariyah for 4,444 times is social capital and cultural wealth in Badang Village. Sholawat nariyah is also as a social reality in understanding sholawat nariyah.Penelitian ini membahas tentang makna sosial dari bacaan sholawat nariyah sebanyak 4,444 kali. Tujuannya yaitu untuk memahami pembacaan sholawat nariyah sebagai realitas sosial di desa Badang pada masa pandemi COVID-19. Sholawat nariyah dimaknai sebagai tradisi keagamaan yang terus dilestarikan dan dipertahankan. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dari aspek fenomenologis, dengan wawancara mendalam dan observasi. Penelitian ini mengklasifikasikan temuan ke dalam lima kategori, antara lain:  sholawat nariyah sebagai simbol agama; sebagai aksi solidaritas; dalam kesucian; sebagai kesadaran kolektif; dan sebagai sebuah alat kekuasaan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa makna sosial yang terkandung dalam bacaan sholawat nariyah sebanyak 4,444 kali merupakan modal sosial dan kekayaan budaya di desa Badang, sholawat nariyah sebagai ralitas sosial dalam memahami sholawat nariyah.
Mediating Peace through Local Tradition of Cross-Religious Community in Saparua Island, Moluccas Hasbollah Toisuta; Abidin Wakano; Miftahul Huda
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v24i2.18051

Abstract

On Saparua Island in the Moluccas, Indonesia, local tradition guides the interreligious community of Muslims and Christians. Issues relating to people's races, religions, and ethnic backgrounds frequently spark conflict in the community. At the moment, it is working on maintaining and advancing peace. This article presents an investigation into the factors that contribute to religious harmony in communities comprised of members of different faiths. This research was conducted on Saparua Island through observation and interviews with community figures and members of the religious, academic, youth, and female communities. It was hypothesized, and subsequent research confirmed, that the community adheres to the principles of peace and the way of life espoused by the "Basudara People" in Ale Rasa Beta Rasa, Sagu Salempeng Patah Dua, and Sei Leli Hatulo-Hatuli Eleli Esepei. Peace in the cross-religious community can be achieved through the practice of local traditions like Pela Gandong and Masohi, which are forms of community cooperation. As a consequence of this, the result demonstrates the significance of having dialogues between people of different religious and cultural backgrounds to keep and maintain the viability of interreligious peace. Tradisi lokal di Pulau Saparua, Maluku, Indonesia menjadi panduan moral (norma) bagi kehidupan komunitas lintas agama (Muslim-Kristiani) yang pernah terjadi konflik dipicu isu Suku, Agama, Ras dan saat ini sedang berproses merawat dan membangun perdamaian. Dalam artikel ini, perdamaian komunitas lintas agama dianalisis melalui tradisi lokal sebagai kriterianya. Penelitian ini didasari oleh observasi dan wawancara di antara tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, pemerhati perempuan, akademisi, dan masyarakat di Pulau Saparua. Diprediksi dan ditemukan bahwa prinsip perdamaian dari filosofi hidup “Basudara People” pada Ale Rasa Beta Rasa, Sagu Salempeng Patah Dua, dan Sei Leli Hatulo-Hatuli Eleli Esepei. Perdamaian melalui tradisi lokal Pela Gandong dan Masohi sebagai kerjasama untuk saling membantu komunitas lintas agama. Dengan demikian, hasil menunjukkan pentingnya dialogis tokoh lintas agama dan tokoh adat untuk menjaga dan memelihara keberlanjutan perdamaian lintas agama.
The Dialectics of Religious and Cultural Liberalism in The Transcultural Era Muhammad Fahmi Hidayatullah; Muhammad Anwar Firdausi; Yusuf Hanafi; Zawawi Ismail
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v23i2.13956

Abstract

Trans culture is a cross-cultural condition which can develop or survive within the life of a community. Religion and culture as the pillars for unity in the cross-cultural era can potentially develop into liberalism. This study aims to reveal the process of religious and cultural liberalism along with the solutions. It uses a qualitative-analysis method with hermeneutic approach based on the thoughts of the figures of Nahdlatul Ulama (NU) in East Java. To collect the data, the researchers conduct in-depth interviews and data analysis of the works and news on religious and cultural liberalism. The study discovers the dialectic model of religious liberalism by making human rights the main source of law, which is called theological-capitalism. Besides, it finds cultural liberalism in the form of an identity crisis, which is called enculturation-liberalism. To overcome the religious liberalism, we can use clarification techniques and logical-systematic thinking. Meanwhile, the solution to deal with cultural liberalism is through cultural realism and socio-cultural learning. Transkultural adalah kondisi lintas kebudayaan yang dapat berkembang atau bertahan di kehidupan masyarakat. Agama dan budaya sebagai pilar persatuan yang dalam era lintas kebudayaan berpotensi berkembang pada paham liberal. Tujuan penelitian ini mengungkap proses liberalisme agama dan budaya yang disertai solusi dalam menangkalnya. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif-analisis dengan pendekatan hermeneutik berdasarkan pemikiran tokoh Ulama’ NU Jawa Timur. Dalam menggali data, dilakukan interviu mendalam serta analisis data dokumentatif karya dan berita liberalisme agama dan budaya. Hasil penelitian ditemukan model dialektika liberalisme agama dengan menjadikan Hak Asasi Manusia sebagai sumber hukum utama disebut teologis-kapitalistik, sedangkan dialektika liberalisme budaya dalam bentuk krisis identitas disebut enkulturasi-liberalistik. Solusi dalam menaggulangi liberalisme agama dengan menggunakan teknik klarifikasi dan berfikir logis-sistematis. Sedangkan solusi menghadapi liberalisme budaya melalui realisme culture dan socio-culture learning.

Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH E-Harakah (Vol 14, No 2 Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 13, No 1 Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 12, No 3 el-Harakah (Vol 12, No 2 el-Harakah (Vol 12, No 1 Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 11, No 2 el-Harakah (Vol 11, No 1 Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 2 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 1 (2007): EL HARAKAH Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH More Issue