cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
elharakahjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam
ISSN : 18584357     EISSN : 23561734     DOI : -
Core Subject : Health,
EL HARAKAH (ISSN 1858-4357 and E-ISSN 2356-1734) is peer-reviewed journal published biannually by Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) of Malang. The journal is accredited based on the decree No. 36a E. KPT 2016 on 23 May 2016 by the Directorate General of Higher Education of Indonesia, for the period August 2016 to August 2021 (SINTA 2). The journal emphasizes on aspects related to Islamic Culture in Indonesia and Southeast Asia. We welcome contributions from scholars in the field, papers maybe written in Bahasa Indonesia, English, or Arabic.
Arjuna Subject : -
Articles 791 Documents
Satria Piningit: The Concept of Leadership Based on Javanese Local Wisdom Mulati, Yeni; Purwandari, Eny
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v25i1.20826

Abstract

The discourse on Satria Piningit has been regarded only as a mystical prophecy that emerged during the succession of national leadership in Indonesia. Many political figures use Satria Piningit to get the people's support so they can be elected as leaders. It is hoped that this support will emerge; the prediction about Satria Piningit's arrival is a prevalent discourse among the Javanese people. This article aims to conduct a literature study on Satria Piningit's discourse as a leadership regeneration concept based on Javanese local wisdom. It used the systematic literature review method of fifteen articles that discuss Satria Piningit's discourse as a leadership concept. The concept of Satria Piningit is an idea of ideal leadership based on local Javanese wisdom that can be applied at various levels, from small to national leadership. Discourse on Satria Piningit contributed to the formation of nationalism during the Indonesian independence struggle. This discourse is also closely related to religious expression in Indonesia. The Satria Piningit leadership concept can be developed in more detail as a form of regeneration of leaders based on Javanese local wisdom. Wacana Satria Piningit selama ini dianggap hanya sebagai sebuah ramalan bernuansa mistis yang muncul pada suksesi kepemimpinan nasional. Banyak tokoh politik menggunakan istilah Satria Piningit untuk mendapatkan dukungan rakyat hingga bisa terpilih menjadi pemimpin. Dukungan tersebut diharapkan muncul, karena ramalan tentang kedatangan Satria Piningit, merupakan sebuah wacana yang sangat populer di kalangan masyarakat Suku Jawa. Artikel ini bertujuan untuk melakukan kajian literatur tentang wacana Satria Piningit sebagai sebuah konsep kaderisasi kepemimpinan berbasis kearifan lokal Jawa. Artikel ini menggunakan metode systematic literature review dari lima belas artikel yang membahas wacana Satria Piningit sebagai sebuah konsep kepemimpinan. Konsep Satria Piningit merupakan sebuah ide tentang kepemimpinan ideal berbasis kearifan lokal Jawa yang bisa diterapkan di berbagai jenjang, mulai dari kepemimpinan skala kecil hingga nasional. Wacana Satria Piningit memiliki kontribusi terhadap pembentukan karakter nasionalisme di masa perjuangan kemerdekaan RI. Wacana ini juga sangat berkaitan dengan ekspresi keberagamaan di Indonesia. Konsep Kepemimpinan Satria Piningit bisa dikembangkan menjadi lebih rinci sebagai salah satu bentuk kaderisasi pemimpin berbasis kearifan lokal Jawa.
Effect of Tarekat Khalwattiyah-Samman on Fishermen's Work on The South Coast of South Sulawesi Iskandar, Abdul Malik; Bahri, Syamsul; Masdar, Muhammad; Nonci, Nurmi; Azuz, Faidah; Harifuddin, Harifuddin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v25i1.18093

Abstract

Coastal fishermen communities hold religious rituals as Sufism practices. One of which is Tarekat Khalwatiyah-Samman, which affects their daily work. This paper aims to identify the substance of the Khalwatiyah-Samman teachings. It deciphers the effect of this teaching on the work of fishermen on the south coast of South Sulawesi. This research is qualitative with social and empirical approaches. Data collection was done through in-depth interviews, observation, and literature study. It employed qualitative data processing and analysis. The results showed that the substance of the Khalwatiyah-Samman teachings lies in its three doctrines: the purification of the soul, the concept of the essence of God, and the concept of human essence. In addition, the influence of Khalwatiyah-Samman's teaching on the work of fishermen on the south coast of South Sulawesi is the emergence of attitudes in work such as complacency; God has determined everything, and they do not have a competitive spirit and spirit of achievement. Accordingly, the substance of the Khalwatiyah-Samman teaching is that God has determined all human actions, and humans only live it. Moreover, the effect of the Khalwatiyah-Samman teaching is to form an attitude of fatalism in fishermen or resignation. Masyarakat nelayan di wilayah pesisir memegang teguh ritual keagamaan sebagai praktik Sufisme. Salah satunya yaitu Tarekat Khalwatiyah-Samman yang berpengaruh terhadap pekerjaan sehari-hari nelayan. Tulisan ini bertujuan memahami substansi ajaran Tarekat Khalwatiyah-Samman. Penelitian ini mengungkap efek Tarekat Khalwatiyah-Samman terhadap pekerjaan nelayan di pesisir selatan Sulawesi Selatan Penelitian ini bersifat kualitatif dengan pendekatan sosial dan empiris. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi literatur. Kajian ini menggunakan pengolahan dan analisis data kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ini substansi ajaran Tarekat Khalwatiyah-Samman terletak pada tiga doktrinnya yaitu penyucian jiwa, konsep esensi Ketuhanan dan konsep esensi manusia. Pengaruh tarekat Khalwatiyah-Samman terhadap pekerjaan nelayan di pesisir selatan Sulawesi Selatan adalah timbulnya sikap dalam bekerja seperti cepat puas, segala hal telah ditentukan oleh Tuhan, mereka tidak memiliki jiwa bersaing dan semangat berprestasi. Karena itulah substansi ajaran Khalwatiyah-Samman adalah semua perbuatan manusia telah ditentukan Tuhan dan manusia hanya menjalaninya. Adapun efek Tarekat Khalwatiyah-Samman adalah membentuk sikap fatalism pada nelayan atau kepasrahan.
Sufistic Meditation as a Form of Happiness Transformation Naan, Naan; Aisyah, Siti
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v25i1.18767

Abstract

This study focuses on the discussion of Sufistic meditation as a form of happiness transformation. A discussion that has long been the subject of study. Happiness itself is the hope of everyone, but in reality, the happiness obtained is only false happiness, not eternal happiness. In Buddhist rituals, meditation is a practice that must be done in any school of Buddhism, and this has been a tradition since time immemorial. In this study, meditation from the Sufism perspective is presented as a method to enhance the transformation of true happiness. Meditation according to Buddhism has the same essence as the ritual practices in Islam, only the terms used vary. In Sufism, meditation has a word equivalent to the terms mentioned in Islam, namely Dhikr, tafakkur, mujahadah, muraqobah, riyadhah, and uzlah. In addition, the concept of happiness from several perspectives is also discussed, such as happiness from the perspective of Western psychology, happiness from the Sufistic perspective, and happiness according to experts. The author uses this topic as a study to further explore that Islam also has meditation methods with its perspective, and this Sufistic-based meditation is very supportive to improve the transformation of our spirituality in general and happiness in particular. Kajian ini memfokuskan pada pembahasan tentang meditasi sufistik sebagai bentuk transformasi kebahagiaan. Suatu pembahasan yang sudah lama menjadi bahan kajian. Sebagaimana kebahagiaan itu sendiri menjadi harapan setiap orang, tetapi pada kenyataannya kebahagiaan yang diperoleh hanyalah kebahagiaan yang bersifat semu, bukan kebahagiaan yang abadi. Dalam ritual agama Buddha, meditasi adalah satu praktik yang harus dilakukan dalam aliran Buddhaisme mana pun, dan ini sudah menjadi tradisi sejak dahulu kala. Dalam kajian ini meditasi perspektif tasawuf hadir sebagai metode untuk meningkatkan transformasi kebahagiaan yang sejati. Meditasi menurut agama Buddha memiliki esensi yang sama dengan ritual praktik yang ada dalam agama Islam, hanya saja istilah yang digunakan beragam. Dalam tasawuf, meditasi mempunyai padanan kata dengan istilah yang disebut dalam agama Islam, yaitu Dzikir, tafakkur, mujahadah, muraqobah, riyadhah, dan uzlah. Selain itu, juga dibahas konsep kebahagiaan dari beberapa perspektif, seperti kebahagiaan perspektif psikologi barat, kebahagiaan perspektif sufistik, dan kebahagiaan menurut para ahli. Topik ini penulis jadikan sebagai kajian pembahasan guna mengeksplorasi lebih jauh bahwa Islam juga mempunyai metode meditasi dengan perspektifnya sendiri, dan meditasi berbasis sufistik ini sangat mendukung untuk meningkatkan transformasi spititualitas kita umumnya dan kebahagiaan khususnya.
Religious Moderation Values in The Local Wisdom of Reog Dadak Lar Pitik Sari, Ulfi Andrian; Nasith, Ali; Azharotunnafi, Azharotunnafi; Yasri, Hayyun Lathifaty
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v25i1.19664

Abstract

Reog art has become the identity of the Ponorogo district. Paguyuban Singo Mudo in Sidoharjo village, Ponorogo regency, is the only one that preserves the unique local wisdom of reog, namely reog dadak lar pitik. This reog was made because the community in Sidoharjo had difficulty getting peacock feathers and tiger skin as basic reog ingredients, so they were replaced with dadak lar pitik and civet skin. Then reog dadak lar pitik is believed to be a tradition to bring rain. This research aims to analyze the values of religious moderation in the local wisdom of reog dadak lar pitik. This research was conducted using a qualitative approach with ethnographic methods. The data collection tools were observation sheets, interview sheets, documentation, and Forum Group Discussion (FGD). The findings are first, preserving local culture can be seen in people who still uphold the reog dadak lar pitik performance as a means of bringing rain. Second, tolerance is seen in people who still respect the opinion of the belief that this reog can bring rain, even though many people no longer believe it. The third is the absence of conflict of belief, whether those who believe in the myth of reog dadak lar pitik can bring rain, because this reog was used as a means of da'wah. Fourth, patriotism is depicted in the characters of the reog actors who have a patriotic spirit. Kesenian reog menjadi identitas kabupaten Ponorogo. Paguyuban singo mudo di Desa Sidoharjo, kabupaten Ponorogo satu satunya yang melestarikan kearifan lokal reog yang unik yaitu reog dadak lar pitik. Reog dadak lar pitik dibuat karena masayarakat di Sidoharjo kesulitan mendapatkan bulu merak dan kulit harimau sebagai bahan dasar reog sehingga diganti dengan dadak lar pitik dan kulit musang. Kemuadian reog dadak lar pitik dipercaya sebagai tradisi untuk mendatangkan hujan. Tujuan penelitian ini untuk menganalissis nilai-nilai moderasi beragama dalam kearifan lokal reog dadak lar pitik. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi. Alat pengumpul data menggunakan lembar observasi, lembar wawancara, dokumentasi, dan Forum Group Discussion (FGD). Temuan penelitian ini pertama melestarikan budaya lokal tampak pada masyarakat yang masih memegang teguh pertunjukan reog dadak lar pitik sebagai sarana mendatangkan hujan. Ke dua, toleransi terlihat pada masyarakat yang tetap menghargai pendapat kepercayaan bahwa reog dadak lar pitik dapat mendatangkan hujan, walaupun banyak masyarakat yang sudah tidak percaya. Ke tiga perdamaian tampak dari tidak adanya konflik kepercayaan baik yang percaya dengan mitos reog dadak lar pitik dapat mendatangkan hujan atau tidak, karena reog dadak lar pitik dijadikan sarana dakwah. Ke empat, patriotisme tergambarkan pada tokoh-tokoh pemeran reog yang memiliki jiwa patriotisme.
Islam and Traditions of The Bugis Pagatan Coastal Community Jamalie, Zulfa; Wibowo, Fasih
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v25i1.20731

Abstract

This study concerned the relationship between Islam and traditions commonly practiced by the Bugis Pagatan coastal community. The purpose is to sociologically describe religious life and understand various rites due to a mixture of Islam and traditions. It is a descriptive qualitative, and empirical research that combines sociological, anthropological, and historical approaches to analyze the religious life of the Bugis Pagatan community. The results showed that there are three major traditions in the life of the coastal community, namely religious traditions as part of teaching values (mabbarasanji, massukkiri, mappanrelebbe), rites (mappandretasi'), and life cycle (mappabotting, madutta, mapacci, mappenretojang). Each form of tradition contains religious and cultural symbols as well as deep best values. Religious values found covered devotion, sincerity, and patience, to obtain safety and the blessings of life. Meanwhile, cultural and social values were in the form of honesty, openness, strength, chastity, and honor, to maintenance of harmony and togetherness. Thus, the interaction between Islam and local traditions runs in harmony and mutually reinforces. Islamic acculturation is accepted with the implementation of culture and directed to support spreading the religion. This research recommends the importance of maintaining a harmonious relationship between Islam and culture to prevent conflicts. Penelitian ini mengkaji hubungan antara Islam dan tradisi yang biasa dilakukan oleh masyarakat pesisir Bugis Pagatan. Tujuannya untuk mendeskripsikan secara sosiologis kehidupan beragama dan memahami berbagai ritus akibat percampuran antara Islam dan tradisi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dan empiris yang memadukan pendekatan sosiologis, antropologis, dan historis untuk menganalisis kehidupan keagamaan masyarakat Bugis Pagatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga tradisi besar dalam kehidupan masyarakat pesisir Bugis Pagatan, yaitu tradisi keagamaan sebagai bagian dari ajaran nilai (mabbarasanji, massukkiri, mappanrelebbe), ritus (mappandretasi'), dan daur hidup (mappabotting, madutta, mapacci, mappenretojang). Setiap bentuk tradisi mengandung simbol-simbol agama dan budaya serta nilai-nilai terbaik yang mendalam. Nilai religius berupa ketaqwaan, keikhlasan, dan kesabaran, untuk memperoleh keselamatan dan keberkahan hidup. Sedangkan nilai budaya dan sosial berupa kejujuran, keterbukaan, kekuatan, kesucian, dan kehormatan, untuk terpeliharanya kerukunan dan kebersamaan. Kesimpulan, interaksi antara Islam dan tradisi lokal berjalan harmonis dan saling menguatkan. Akulturasi Islam diterima dengan implementasi budaya dan diarahkan untuk mendukung proses penyebaran agama. Penelitian ini merekomendasikan pentingnya menjaga hubungan yang harmonis antara Islam dan budaya untuk mencegah terjadinya konflik.
Impact of Fandom Culture on Family Harmony from Islamic Perspective Raihana, Siti Nazla; Syarafuddin, Muhsan
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v25i1.21178

Abstract

The development of fandoms is very rapid; all artists have their fandoms. Almost everyone joins a fandom for leisure, and it is very accessible. These fandom activities certainly impact the fan's life and relationship with the family. This study explores fandom culture's impact on family harmony and Islamic views of fandom. Fandom is an activity that describes the closeness between fans and their idols based on cultural products. This study used a qualitative case study approach with a purposive sampling of thirty informants. The result shows that fandom has five negative impacts on family harmony, namely: (1) neglecting family members from their obligations; (2) causing addiction, jealousy, and wastefulness; (3) children disobeying parental orders; (4) parents having difficulty taking care of children; and (5) poor communication between family members. Furthermore, fandom activities contradict Islamic teachings for five reasons, namely: (1) music and singing; (2) lousy consumerism; (3) wasting time; (4) the wrong community; and (5) bad lifestyle. Family members should advise each other so that no member joins the fandom, thereby endangering the harmony of the family. Perkembangan fandom sangat pesat, semua artis memiliki fandom masing-masing. Hampir semua orang bergabung dengan fandom untuk mengisi waktu luang, dan itu sangat aksesibel. Kegiatan fandom ini tentunya punya dampak untuk kehidupan sang penggemar dan hubungannya dengan keluarga. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi dampak budaya fandom terhadap keharmonisan keluarga dan pandangan Islam terhadap fandom. Fandom merupakan aktivitas yang menggambarkan kedekatan antara penggemar dan idolanya yang didasari oleh produk budaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif bersifat studi kasus dengan pengambilan sampel secara purposive sampling dari tiga puluh informan. Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa fandom memiliki lima dampak negatif terhadap keharmonisan keluarga yaitu: (1) melalaikan anggota keluarga dari kewajibannya; (2) menimbulkan kecanduan, iri hati, dan keborosan;(3) anak tidak mematuhi perintah orang tua; (4) orang tua kesulitan untuk mengurus anak-anak; (5) komunikasi yang tidak baik antar anggota keluarga. Selanjutnya, kegiatan fandom menyelisihi ajaran agama Islam dengan lima alasan yaitu: (1) musik dan nyanyian; (2) konsumerisme yang buruk; (3) membuang waktu; (4) komunitas yang buruk; (5) gaya hidup yang tidak baik. Hendaknya anggota keluarga saling menasehati satu sama lain agar tidak ada anggota yang bergabung dengan fandom, sehingga membahayakan keharmonisan keluarga tersebut.
Tradisi, Sunnah dan Bid'ah: Analisa Barzanji Dalam Perspektif Cultural Studies Jati, Wasisto Raharjo
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v14i2.2315

Abstract

The discussion about barzanji is not only in the theological debate, but also in the cultural debate. The paradigm of sunnah and bid’ah that has contained the study of Islamic theology has been developed in to cultural studies that puts them in a reciprocal relationship. This study aimed to analyze barzanji in the critical culture debate which emerged a new perspective on the dichotomy of sunnah and bid’ah even becomed more dynamic in analyzing culture. Diskusi tentang barzanji tidak hanya terjadi dalam perdebatan teologis saja, akan tetapi juga dalam perdebatan budaya. paradigma tentang sunnah dan bid’ah yang selama ini terdapat dalam kajian teologi Islam berkembang dalam kajian budaya yang menempatkan keduanya dalam relasi timbal balik. Studi ini menggunakan analisa cultural studies untuk mengkaji barzanji dalam perdebatan kritis budaya khususnya, yang memberikan cara pandang baru terhadap dikotomi sunnah dan bid’ah menjadi lebih dinamis dalam menganalisis budaya.
Kritik atas Iman Muhammad Anwar Firdausi
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v8i1.4617

Abstract

In the preceding discussion the term "faith" has been used in a variety of senses. We have used the term to refer to an assumption, conviction and attitudes which the believer brings to the evidence for and against religious truth. It also refers to the commitment and subjective preferences of people in general. Faith is all of these, though this must not be taken as an implication. There is no significant difference between the various kinds of faith. In a sense, every person has faith; everyone has deep-rooted assumption, convictions and attitudes which color what counts as evidence for him and how that evidence is interpreted. This is the kind of faith which one brings to the evidence. Insofar as beliefs are reflected in action, and people must make choices, everyone also has faith in the sense of commitments which may or may not be informed by rational reflection. Dalam diskusi sebelumnya istilah "iman" telah digunakan dalam berbagai pengertian. Kami telah menggunakan istilah tersebut untuk merujuk pada asumsi, keyakinan dan sikap yang dibawa oleh orang percaya kepada bukti dan kebenaran agama. Ini juga mengacu pada komitmen dan preferensi subyektif orang pada umumnya. Iman adalah semua ini, meski ini tidak boleh dianggap implikasinya. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara berbagai jenis iman. Dalam arti tertentu, setiap orang memiliki iman; setiap orang memiliki asumsi, keyakinan, dan sikap yang mengakar yang mewarnai apa yang dianggap sebagai bukti baginya dan bagaimana bukti itu ditafsirkan. Inilah jenis iman yang dibawa seseorang ke bukti. Sejauh kepercayaan tercermin dalam tindakan, dan orang harus membuat pilihan, setiap orang juga memiliki keyakinan akan komitmen yang mungkin atau mungkin tidak diinformasikan oleh refleksi rasional.
The Implication of Local Wisdom in Tafsir Al-Azhar on Moderate Islamic Thought by Hamka Anwar Mujahidin; Hyung-Jun Kim
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v23i2.13414

Abstract

The interpretation of the Qur’an as a source of Islamic teachings specifies the character of Islamic thought. The contextual interpretation that acknowledges various socio-cultural realities will generate moderate Islamic thought. This article aims to analyze the relationship between Tafsir al-Azhar by Hamka and Indonesian local wisdom. Tafsir al-Azhar has adopted Indonesian local wisdom as a source of interpretation. The data are derived from the book, Tafsir al-Azhar by Hamka. It describes the forms of local wisdom employed by Hamka as a source of interpretation and maps the implications for moderate Islamic thought in Indonesia. The result of the study shows that the local wisdoms of the archipelago used as a source of interpretation in Tafsir al-Azhar are local community beliefs, community wisdom in dealing with opponents, and community practices on children's education. These local wisdoms are the manifestation of the interpreter’s positive attitude, respecting the noble values of the local community. Respect on the values of local community wisdom is an important finding regarding the contextuality of Qur’an interpretation. The values resulted from the Qur’an interpretation are not coercive but are transferred to society through dialogue, so they reach harmony and peace. Future researches can examine the readers’ response or reception towards Tafsir al-Azhar so that its function to build moderate society can be comprehensively traced. Tafsir al-Qur’an sebagai sumber ajaran Islam menentukan karakter pemikiran Islam. Tafsir al-Qur`an yang kontekstual yang memahami realitas sosial budaya yang beragam akan melahirkan pemikiran Islam yang moderat. Artikel ini bertujuan menganalisis hubungan tafsir al-Azhar karya Hamka dengan kearifan lokal Indonesia. Tafsir al-Azhar telah menggunakan kearifan lokal masyarakat nusantara sebagai sumber penafsiran. Data penelitian bersumber dari tafsir al-Azhar karya Hamka. Tujuan penelitian untuk memaparkan bentuk bentuk kearifan lokal yang digunakan Hamka sebagai sumber penafsiran dan mempetakan implikasinya kepada pemikiran Islam moderat di Indonesia. Hasil penelitian menujukkan bahwa kearifan lokal nusantara yang digunakan sumber penafsiran dalam tafsir al-Azhar meliputi keyakinan masyarakat lokal, kearifan masyarakat menghadapi lawan dan tradisi pendidikan anak. Bentuk-bentuk kearifan lokal tersebut merupakan wujud dari sikap mufassir yang menghargai nilai-nilai luhur masyarakat lokal. Sikap menghargai nilai kearifan masyarakat lokal menjadi temuan penting mengenai kontekstualitas tafsir al-Qur`an. Nilai-nilai yang dihasilkan tafsir al-Qur`an tidak bersifat memaksa tetapi ditransformasikan di masyarakat dengan dialog sehingga tetap terjaga harmoni dan kedamaian. Penelitian ini menyarankan perlunya penelitian resepsi pembaca terhadap tafsir al-Azhar sehingga diketahui secara lebih komprehensi pengaruh moderasi tafsir al-Azhar di masyarakat.   
Hambatan dan Model Dialog Keagamaan di Era Kontemporer Esha, Muhammad In'am
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v10i2.4333

Abstract

This paper examines problems of religious dialogues in this contemporary era. The conclusion of this discussion suggests that religious dialogue is one of the important problems in the globalization era that becomes one of the alternative methods to anticipate religious conflicts in our society. There are many barriers to develop religious dialogues, such as the level of knowledge, social-political problems, and psychological and theological barriers. In the recent era, three models of religious dialogue can be developed, that is, theological dialogue, anthropological dialogue, and cosmological dialogue. Makalah ini membahas masalah dialog keagamaan di era kontemporer ini. Kesimpulan dari diskusi ini menunjukkan bahwa dialog keagamaan merupakan salah satu masalah penting di era globalisasi yang menjadi salah satu metode alternatif untuk mengantisipasi konflik agama di masyarakat kita. Ada banyak hambatan untuk mengembangkan dialog keagamaan, seperti tingkat pengetahuan, masalah sosial-politik, dan hambatan psikologis dan teologis. Di era baru-baru ini, tiga model dialog keagamaan dapat dikembangkan, yaitu dialog teologis, dialog antropologis, dan dialog kosmologis.

Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH E-Harakah (Vol 14, No 2 Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 13, No 1 Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 12, No 3 el-Harakah (Vol 12, No 2 el-Harakah (Vol 12, No 1 Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 11, No 2 el-Harakah (Vol 11, No 1 Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 2 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 1 (2007): EL HARAKAH Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH More Issue