cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
elharakahjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam
ISSN : 18584357     EISSN : 23561734     DOI : -
Core Subject : Health,
EL HARAKAH (ISSN 1858-4357 and E-ISSN 2356-1734) is peer-reviewed journal published biannually by Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) of Malang. The journal is accredited based on the decree No. 36a E. KPT 2016 on 23 May 2016 by the Directorate General of Higher Education of Indonesia, for the period August 2016 to August 2021 (SINTA 2). The journal emphasizes on aspects related to Islamic Culture in Indonesia and Southeast Asia. We welcome contributions from scholars in the field, papers maybe written in Bahasa Indonesia, English, or Arabic.
Arjuna Subject : -
Articles 789 Documents
Kearifan Lokal pada Kabanti Masyarakat Buton dan Relevansinya dengan Pendidikan Karakter Sahlan Sahlan
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.391 KB) | DOI: 10.18860/el.v14i2.2311

Abstract

This article aimed to describe a local wisdom in kabanti of Buton’s people, like (a) local wisdom value of kabanti in term of religion, (b) local wisdom value of kabanti in term of norm, (c) local wisdom value of kabanti in term of social aspect, and (d) local wisdom value of kabanti in term of characteristical education. Data resource of this research were taken from  three kabanti’s texts which were arranged by Haji Abdulu Ganiyyu, Ajonga Inda Malusa, Kulipopo Mainawa, and Payasa Mainawa. Data analysis method use hermeneutical anlysis and semiotical analysis. This research found that kabanti of Buton’s people had a contents of local wisdom values which were used and applied by society hereditary. Kabanti reflected a local wisdom values in four aspects. first, religious aspect of Buton’s people where very closed to Islam doctrin. It could be shown at the social activity, in term of people relation with The Creator, people relation with people, and people relation with universe. Second, norm aspect of Buton’s people had a punctual values to the rules, equitable in the legal supremacy, and self care. Third, social aspect of Buton’s people had a glorious value, love, care, respect, tolerance to differenciation. Fourth, local wisdom values of kabanti Buton’s people relevanced to the pillars of characteristical education, then implemented by the teacher in learning a character. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap kearifan lokal pada kabanti masyarakat Buton, yaitu (a) mengungkap nilai-nilai kearifan lokal dalam kabanti pada aspek religius, (b) mengungkap nilai-nilai kearifan lokal dalam kabanti pada aspek norma, (c) mengungkap nilai-nilai kearifan lokal dalam kabanti pada aspek sosial, dan (d) mengungkap relevansi nilai-nilai kearifan lokal dalam kabanti dengan pilar-pilar pendidikan karakter. Untuk mendeskripsikan tujuan itu penelitian menggunakan metode analisis isi (content analysis). Sumber data penelitian berasal dari tiga naskah kabanti yang dikarang oleh Haji Abdulu Ganiyyu, Ajonga Inda Malusa, Kulipopo Mainawa, dan Payasa Mainawa. Metode analisis data dipadukan dengan analisis hermeneutik dan analisis semiotik. Temuan penelitian menyimpulkan bahwa kabanti masyarakat Buton memiliki kandungan nilai-nilai kearifan lokal yang digunakan dan diterapkan oleh masyarakat secara turun-temurun. Dalam kabanti tercermin nilai-nilai kearifan lokal pada empat aspek. Pertama, aspek religius masyarakat Buton sangat kental dengan ajaran Islam. Hal ini tampak pada aktivitas masyarakat, baik dalam hubungan manusia dengan pencipta, hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan alam. Kedua, aspek norma masyarakat Buton memiliki kedisiplinan pada aturan, adil pada penerapan hukum, dan bermawas diri. Ketiga, pada aspek sosial masyarakat Buton memiliki nilai-nilai luhur, kasih sayang, saling peduli, saling menghormati, toleransi pada keberagaman, dan saling menghargai. Keempat, nilai-nilai kearifan lokal pada kabanti masyarakat Buton relevan dengan pilar-pilar pendidikan karakter, sehingga dapat diimplementasikan oleh guru pada pembelajaran karakter
Sendi Adat dan Eksistensi Sastra: Pengaruh Islam dalam Nuansa Budaya Lokal Gorontalo Moh. Karmin Baruadi
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.674 KB) | DOI: 10.18860/el.v14i2.2312

Abstract

This articel aimed to describe a value of custom and an existence of unwritten literature which becomed a local tradition among Gorontalo society. It researched custom phenomenon through historical fenomenologic and empiric approach. The result of this study showed that Gorontalo Ethnic was people who applied custom based on kitâb Allâh as their rule life. So, Gorontalos culturally appreciated the tradition which were based on Islam forever and ever.Gorontalo’s culture was influenced by Islam which  could be seen through the way of their culturing and their literaturing.  They based their culture, art, and literature to Islam because they thought these were  like praying to Allah. The Islamic values in the Gorontalo’s culture and literature were coherence to their custom untill today. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang sendi adat dan keberadaan sastra lisan Gorontalo yang mentradisi pada budaya lokal masyarakat Gorontalo. Pengkajian dilakukan secara historical-fenomenologis melalui penelusuran literatur dan pengamatan empirik terhadap pelaksanaannya di setiap peristiwa adat. Hasil penelitian menunjukan bahwa berdasarkan kenyataan historis masyarakat suku Gorontalo adalah masyarakat adat, yang menempatkan adat bersendikan syara’ dan syara’ bersendikan kitâb Allâh sebagai pandangan hidup, sehingga secara kultural masyarakat Gorontalo sangat menghargai tradisitradisi terutama yang bernuansa Islami yang selamanya tetap dipelihara dan dilestarikan. Kebudayaan Gorontalo identik dengan Islam yang tampak pada aktivitas berbudaya dan bersastra. Berbudaya, berseni dan bersastra dengan azas Islam yang dilakukan oleh masyarakat Gorontalo dapat diinterpretasikan sebagai suatu wujud beribadah kepada Allah. Nilai-nilai Islami dalam budaya dan peradaban Gorontalo termasuk sastranya menyatu dengan adat istiadat yang berlaku hingga sekarang.
Interaksi Islam dengan Budaya Barasandi dan Aktivitas Sosial Keagamaan Orang Tolaki di Sulawesi Tenggara Basrin Melamba
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.298 KB) | DOI: 10.18860/el.v14i2.2313

Abstract

This research aimed to describe the interaction between Islam and Tolaki tradition in South East Sulawesi. The interaction between Tolaki and Islam has two formulations, the first, Islam contaminated, changed and reformed local culture, Tolaki. This kind of formulation produced the reality of religious social life like barasandi (bersanji/aqiqah), a marriage procession (mowindahako), a celebration of circumcision (maggilo), a celebration such a praying for being saved from any problem of life, a celebration of  Prophet of  Muhammad birth (Maulud Nabi), religious activities, an art and literature like kinoho agama (religious poems), Taenango langgai saranani (the history of heroic in Islamic spreading or proselytization in Tolaki region), religious social life like how someone performed or pilgrimaged to Mecca  (hadi kobaraka), and the dynamics of social organization life. The second, Islam was contaminated by several local traditions. This case produced the process of Islam localizing in the the dynamics of Tolaki religious social community. There had been an interaction form and acculturation between Islam and Tolaki culture in Southeast Sulawesi. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan interaksi atau perjumpaan antara agama Islam dengan budaya Tolaki di Sulawesi Tenggara. Interaksi Islam dengan kebudayaan Tolaki menghasilkan dua pola, pertama, Islam memberikan warna, mengubah, mengolah, dan memperbaharui budaya lokal. Pola ini memunculkan realitas kehidupan sosial keagamaan dalam bidang budaya Barasandi (aqiqah), adat perkawinan (mowindahako), upacara sunatan (manggilo), doa selamatan (mobasa-basa), peringatan maulid (maulu nabi), aktivitas keagamaan, dalam bidang seni dan sastra seperti kinoho agama (pantun agama), dan Taenango langgai saranani (kisah kepahlawanan dalam penyebaran agama Islam di wilayah Tolaki), serta kehidupan sosial keagamaan misalnya orientasi haji (hadi kobaraka), dan dinamika kehidupan organisasi sosial. Kedua, Islam diwarnai oleh berbagai budaya lokal. Saluran ini memunculkan proses lokalisasi unsurunsur Islam dalam dinamika sosial keagamaan orang Tolaki. Telah terjadi bentuk interaksi, dan akulturasi antara Islam dan budaya Tolaki di Sulawesi Tenggara
Pengaruh Islam dalam Kebudayaan Lokal di Button: Satu Kajian Berdasarkan Teks Sarana Wolio La Niampe
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.465 KB) | DOI: 10.18860/el.v14i2.2314

Abstract

This study aimed to describe how far the moslem teaching has given influence to the local culture in Wolio (Buton). This study researched a classic script text, therefore used a filology and Heuristic methode. filology methode was used to purify text and make text be readable by the citizen, hereas heuristic method was used to find out the substantial of the text. The result of this study showed that Islamic teaching influenced toward local culture in Buton since SultanMobolina Pauna administration. When he arranged the constitution of Buton verbally called as “Martabat Tujuh “ or Sarana Wolio is like influenced by his intuition or his sufism perspective. That   influence could be seen through the culture which was arranged like Martabat Tujuh,  determining of sultan’s number and sapati which was symbolized by the twenty features, determining of minister number was symbolized like thirty of juz alqur’an and determiningnumber of points refused by culture were symbolized by “itikad yang tujuh puluh dua kaum” Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan sejauh mana ajaran Islam telah berpengaruh dalam kebudayaan lokal di Wolio (Buton). Oleh karena objek yang diteliti berupa teks naskah kuno, maka metode yang digunakan adalah metode Filologi dan metode Heuristik. Metode filologi digunakan untuk memurnikan teks serta mebuat teks menjadi terbaca oleh masyarakat umum, sedangkan metode Heuristik digunakan untuk menemukan substansi teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ajaran Islam mulai berpengaruh terhadap budaya lokal di Buton sejak masa pemerintahan sultan Mobolina Pauna. Ketika beliau menyusun Undang-Undang Buton secara tertulis yang disebut “Martabat Tujuh” atau “Sarana Wolio”, tampaknya sangat dipengaruhi perasaan atau alam pemikiran kesufiannya. Pengaruh itu terlihat pada produk adat yang disusunnya seperti penetapan pangkat-pangkat ditamsilkan dengan Martabat Tujuh, penetapan jumlah adat Sultan dan Sapati ditamsilkan dengan sifat dua puluh, penetapan jumlah mentri ditamsilkan dengan tiga puluh juz al Quran dan penetapan jumlah itikat yang ditolak oleh adat ditamsilkan dengan “itikad yang tujuh puluh dua kaum”.
Tradisi, Sunnah dan Bid'ah: Analisa Barzanji Dalam Perspektif Cultural Studies Wasisto Raharjo Jati
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.11 KB) | DOI: 10.18860/el.v14i2.2315

Abstract

The discussion about barzanji is not only in the theological debate, but also in the cultural debate. The paradigm of sunnah and bid’ah that has contained the study of Islamic theology has been developed in to cultural studies that puts them in a reciprocal relationship. This study aimed to analyze barzanji in the critical culture debate which emerged a new perspective on the dichotomy of sunnah and bid’ah even becomed more dynamic in analyzing culture.Diskusi tentang barzanji tidak hanya terjadi dalam perdebatan teologis saja, akan tetapi juga dalam perdebatan budaya. paradigma tentang sunnah dan bid’ah yang selama ini terdapat dalam kajian teologi Islam berkembang dalam kajian budaya yang menempatkan keduanya dalam relasi timbal balik. Studi ini menggunakan analisa cultural studies untuk mengkaji barzanji dalam perdebatan kritis budaya khususnya, yang memberikan cara pandang baru terhadap dikotomisunnah dan bid’ah menjadi lebih dinamis dalam menganalisis budaya.
Pola Sosialisasi Nilai Ajaran Agama dan Budi Pekerti Berbasis Akulturasi Budaya Pada Seni Selawatan Gembrung Kurnianto, Rido
El-HARAKAH (TERAKREDITASI) E-Harakah (Vol 14, No 2
Publisher : UIN Maliki Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v14i2.2316

Abstract

This research focused on the strategic aspect to cultural acculturation in the artof selawatan gembrung wich existed in the community and formed a culturalsystem of moral values. As a valuable art, the existence of selawatan gembrungis still needed in Ponorogo, Madiun, Ngawi, Magetan, Pacitan, and TrenggalekRegency to counter the individualism as the influence of globalization. Thisidentification will formulize the socialization pattern of religious and goodcharacter values in cultural acculturation within developing community andwill be useful for writing a module as a reference for better understanding,comprehension, and implementation of religious and good character values.This study is qualitative research based on sociology of religion approuch which tries to reveal the harmonization between religion doctrine and tradition or culture in community that is well known as acculturation in anthropologyand sociology. This study found the aspects of acculturation on text, costume,gamelan instruments, and stage ritual of selawatan gembrung. Those aspectshave reformed this traditional kind of art into the well-being existence of
Implikasi Falsafah Siri' Na Pacce pada Masyarakat Suku Makassar di Kabupaten Gowa Rizal Darwis; Asna Usman Dilo
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.55 KB) | DOI: 10.18860/el.v14i2.2317

Abstract

Articulating the religion in the life of human is a phenomenon in the actual practice. Religion consists of beliefs, dogmas, traditions, practices and rituals. A faith people who was born into a religious tradition would inherit and take all these aspects directly and believed that everything inherited was essential and integral aspect of religion. From this context, religious understanding begined from understanding the legacy that has been determined and doctrined unilaterally without passing personal lane that bassically  resulted a conviction and a strong understanding. At the life level, people had a philosophy of their life. This was ref lected in aphilosophy siri’ na pacce that was hold  by tribe Makassar as guidelines in their daily activities. Mengartikulasikan agama dalam ranah kehidupan manusia merupakan sesuatu yang fenomenal dalam praktik yang sebenarnya. Agama terdiri dari keyakinan, dogma, tradisi, praktik dan ritual. Seorang yang beriman yang dilahirkan dalam tradisi yang religius akan mewarisi dan mengambil semua aspek ini begitu saja dan meyakini bahwa segala sesuatu yang diwarisi merupakan aspek esensial dan integral dari agama. Dari konteks ini, pemahaman keagamaan merupakan pemahaman yang sama karena berawal dari pemahaman warisan yang sudah ditentukan dan didoktrinkan secara sepihak tanpa melewati jalur penelusuran pribadi yang pada dasarnya akan menghasilkan sebuah keyakinan dan pemahaman yang kukuh. Pada tataran kehidupan, masyarakat tentunya memiliki falsafah dalam menjalani kehidupan mereka. Hal ini tergambar pada falsafah yang dipegangi masyarakat Suku Makassar, yaitu falsafah siri’ na pacce yang menjadi pedoman dalam pergaulan mereka sehari-hari
Adat Segulaha dalam Tradisi Masyarakat Kesultanan Ternate Sagaf S. Pettalongi
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.46 KB) | DOI: 10.18860/el.v14i2.2318

Abstract

Segulaha custom was a process of establishment and implementation of Ternate sultanate custom which was always obeyed and implemented by all the people of Ternate sultanate from the past time. The establishment of a custom was a joint agreement which becomes a guidance in managing socialization in all aspects for the interest of human prosperity. In implementing a custom, Ternate sultanate used bobato dunia system and bobato akhirat system as the organizer and director of custom convention/regulation and religious custom law. The major foundation of implementing segulaha custom began from seatorang custom, sekabasarang rules, galib se lukudi, ngare se cara sere se doniru and cing se cingari. Segulaha custom was implemented especially for joko kaha ceremony (injak tanah), crownprince coronation ceremony, sultanate inauguration ceremony (jou khalifah, jou kolano), and sultanate death ceremony. Segulaha custom was a form of combining of Islamic religious values and Ternate sultanate cultural values. Both values were integrated into one system of value which was sublimized by all people of Ternate sultanate North Maluku. Until this day, segulaha custom still implemented by the people of Ternate sultanate from generation to generation in cultural events. Adat segulaha adalah proses pembentukan dan pelaksanaan adat kesultanan Ternate yang sejak masa lampau selalu ditaaati dan dilaksanakan oleh segenap masyarakat kesultanan Ternate. Terbentuknya suatu adat istiadat merupakan kesepakatan bersama untuk dijadikan pedoman dalam mengatur pergaulan hidup di segala bidang guna mencapai kebahagiaan manusia. Dalam pelaksanaan adat istiadat kesultanan Ternate dikenal dengan sistem bobato dunia dan bobato akhirat sebagai pengatur dan pengarah undang-undang adat dan hukum adat agama. Dasar utama pelaksanaan adat segulaha bersumber dari adat se atorang, Istiadat se kabasarang, galib se lukudi, ngare se cara sere se doniru dan cing se cingari. Adat segulaha dilaksanakan terutama pada upacara joko kaha (injak tanah), upacara pengangkatan putra mahkota, upacara penobatan Sultan (jou khalifa jou kolano), dan upacara kematian sultan. Adat segulaha merupakan bentuk perpaduan antara nilai-nilai agama Islam dan nilai-nilai budaya kesultanan Ternate. Keduanya terintegrasi dalam satu sistem nilai yang dijunjung tinggi oleh segenap masayarakat kesultanan Ternate Maluku Utara. Sampai saat ini adat segulaha masih tetap dilaksanakan oleh masyarakat kesultanan Ternate secara turun temurun terutama dalam acara-acara kebudayaan.
Ritual Alo pada Masyarakat Cia-Cia Burangasi Kabupaten Buton La Janu
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.897 KB) | DOI: 10.18860/el.v14i2.2319

Abstract

This research examined alo ritual in Cia-Cia community Burangasi Buton, South East Celebes Province. This research is conducted to identify answers for the concerning problems described of its present the importance of alo ritual in even the whole community. This study used a qualitative research method with participal observation and in depth interview as data collecting method. While data analysis, was done through ethnographic analysis technique. Alo ritual was carried out by reason of mental pressure or mental crisis caused by the death in family member. They concern about safety of spirit of the death given that the spirit has to experience a long and dangerous passage. They believe that this spiritually dangerous crisis time is not about the death only but covering up the whole family and even the whole community. In general, alo ritual had a purpose to normalize the unstable life condition of the family because of a death through deconstructing the existing life condition and reconstructing it into the brand new one at the same time. In such condition of brand new life, daily activities seemharmonious and normal without any fears, distress, depressed and so on. Penelitian ini fokus pada upacara alo yang terjadi di masyarakat Cia-Cia Burangasi Buton, Propinsi Celebes Tenggara. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi jawaban-jawaban atas problematika penting terkait upacara alo dalam sebuah komunitas. Kajian ini menggunakan metode kualitatif dengan observasi partisipatoris dan wawancara mendalam sebagai teknik pengumpulan data. Data yang telah terkumpul kemudian dianalisa dengan teknik analisis etnografi. Upacara alo dilakukan dengan alasan ketertekanan jiwa dan krisis mental yang disebabkan karena kematian salah satu anggota keluarganya. Mereka berkonsentrasi terhadap keselamatan arwah dari sang mayat yang akan melalui lintasan panjang berbahaya. Mereka berkeyakinan bahwa saat yang membahayakan bagi arwah ini tidak hanya menimpa si mayat saja, melainkan juga seluruh anggota keluarga bahkan seluruh masyarakat. Secara umum, upacara alo bertujuan untuk menormalkan keadaan hidup yang tidak stabil akibat kematian si mayat. Dalam keadaan hidup yang baru ini, kegiatan sehari-hari nampak harmoni dan stabil tanpa ketakutan, penderitaan, tekanan, dan seterusnya
SEDEKAH BUMI DUSUN CISAMPIH (Studi kasus di Dusun Cisampih Desa Kutabima Kecamatan Cimanggu-Cilacap-Jawa Tengah) abidin, zainal
El-HARAKAH (TERAKREDITASI) E-Harakah (Vol 14, No 2
Publisher : UIN Maliki Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v14i2.2494

Abstract

Sedekah Bumi (earth’s alms) is an ethnic ritual to show their high regard to the earth as a place to live in. People depend on earth as it is a place where they do farming, get drink and food, and do other activities. For this reason, they feel that there should be any ceremony that shows their gratitude to the earth. Besides that, sedekah bumi also reflects thankfulness for people’s walfare and fortune and it is also believed to bring abundant crops. In Islamic perspective, the ritual of Sedekah Bumi accords to some Islamic principles, however, some ideas are also contradicted.

Page 7 of 79 | Total Record : 789


Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH E-Harakah (Vol 14, No 2 Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 13, No 1 Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 12, No 3 el-Harakah (Vol 12, No 2 el-Harakah (Vol 12, No 1 Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 11, No 2 el-Harakah (Vol 11, No 1 Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 2 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 1 (2007): EL HARAKAH Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH More Issue