cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
elharakahjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam
ISSN : 18584357     EISSN : 23561734     DOI : -
Core Subject : Health,
EL HARAKAH (ISSN 1858-4357 and E-ISSN 2356-1734) is peer-reviewed journal published biannually by Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) of Malang. The journal is accredited based on the decree No. 36a E. KPT 2016 on 23 May 2016 by the Directorate General of Higher Education of Indonesia, for the period August 2016 to August 2021 (SINTA 2). The journal emphasizes on aspects related to Islamic Culture in Indonesia and Southeast Asia. We welcome contributions from scholars in the field, papers maybe written in Bahasa Indonesia, English, or Arabic.
Arjuna Subject : -
Articles 789 Documents
Kamar Mandi sebagai Tempat Bersuci (Thaharah) Agung Sedayu
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (582.255 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.2020

Abstract

Keeping cleanliness and holiness is the duty for all moslems. To perform these religious duties, every time and everywhere, we must keep and support hard on the holiness of the physic and psychic value aspects. Most cleaning activities have been done in toilet and the other similar places. The Main tool to clean is water; therefore toilet is always having water having the image as a wet place. Toilet is one of the arranged rooms in building and assumed to be added room that is not so important. In fact, it has a very vital and important function. Inside of the toilet we have the erudition and philosophy which must be done, like praying before and after entering this room, and also some other rules to follow when we are in it. Cleaning the psychic is started at cleaning the body, and cleaning the psychic is supported by cleanliness of our environment including toilet as a part of the house. Therefore, before designing it, all of the moslem architects must concern and focus on the erudition and philosophy of Islamic fiqih containing about the effort to be clean and holy. Design results should reflect Islamic values, and the toilet having Islamic characteristics, especially having strength points on cleanliness and holiness. This paper is to discuss about toilet design from the perspective of fiqih values on cleanliness and holiness. The objectives are to give more information and knowledge about toilet design principles having Islamic values based on  fiqih law references on cleanliness and holiness. Menjaga kebersihan dan kesucian adalah tugas semua umat Islam. Untuk melakukan tugas keagamaan ini, setiap saat dan dimana saja, kita harus menjaga dan mendukung keras kekudusan aspek nilai fisik dan psikis. Sebagian besar kegiatan pembersihan telah dilakukan di toilet dan tempat-tempat lain yang serupa. Alat utama untuk membersihkan adalah air; karena itu toilet selalu memiliki air dan sebagai tempat yang basah. Toilet adalah salah satu ruangan yang tersusun di dalam bangunan dan diasumsikan sebagai ruang tambahan yang tidak begitu penting. Padahal, ia memiliki fungsi yang sangat vital. Di dalam toilet kita memiliki pengetahuan dan filosofi yang harus dilakukan, seperti doa sebelum dan sesudah memasuki ruangan ini, dan juga beberapa kaidah lain yang harus diikuti saat kita berada di dalamnya. Pembersihan dimulai dari pembersihan tubuh, dan pembersihan psikis didukung oleh kebersihan lingkungan kita termasuk toilet sebagai bagian dari rumah. Karena itu, sebelum merancangnya, semua arsitek muslim harus peduli dan fokus pada pengetahuan dan filosofi fiqih Islam yang berisi tentang usaha untuk menjadi bersih dan suci. Hasil desain harus mencerminkan nilai-nilai Islam, dan toilet memiliki karakteristik Islam, terutama memiliki titik kekuatan pada kebersihan dan kesucian. Tulisan ini membahas tentang desain toilet dari sudut pandang fiqih nilai kebersihan dan kesucian. Tujuannya adalah untuk memberikan lebih banyak informasi dan pengetahuan tentang prinsip desain toilet yang memiliki nilai-nilai Islam berdasarkan referensi hukum fiqih tentang kebersihan dan kesucian.
Islam Jawa dan Akulturasi Budaya: Karakteristik, Variasi dan Ketaatan Ekspresif Umi Sumbulah
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.765 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.2191

Abstract

Javanese Islam has a character and a unique religious expressions. This is because the spread of Islam in Java, more dominant takes the form of acculturation, both absorbing and dialogical. The pattern of Islam and Javanese acculturation, as well as can be seen on the expression of the Java community, is also supported by the political power of Islamic kingdom of Java, especially Mataram which had brought Islam to the Javanese cosmology Hinduism and Buddhism. Although there are f luctuations in the relation of Islam to the Javanese culture, especially the era of the 19th century, but the face looks acculturative Javanese Islam dominant in almost every religious expressions Muslim communities in this region, so the aspect of ”syncretic” and tolerance of religions into one distinctive cultural character of Javanese Islam. Agama Islam di Jawa memiliki karakter dan ekspresi keberagamaan yang unik. Hal ini karena penyebaran Islam di Jawa, lebih dominan mengambil bentuk akultrasi, baik yang bersifat menyerap maupun dialogis. Pola akulturasi Islam dan budaya Jawa, di samping bisa dilihat pada ekspresi masyarakat Jawa, juga didukung dengan kekuasaan politik kerajaan Islam Jawa, terutama Mataram yang berhasil mempertemukan Islam Jawa dengan kosmologi Hinduisme dan Budhisme. Kendati ada fluktuasi relasi Islam dengan budaya Jawa terutama era abad ke 19-an, namun wajah Islam Jawa yang akulturatif terlihat dominan dalam hampir setiap ekspresi keberagamaan masyarakat muslim di wilayah ini, sehingga ”sinkretisme” dan toleransi agama-agama menjadi satu watak budaya yang khas bagi Islam Jawa.
Tradisi Perayaan Isra’ Mi’raj dalam Budaya Islam Lokal Masyarakat Gorontalo Ridwan Tohopi
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.169 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.2192

Abstract

This paper aims to describe the lokal culture tradition of Gorontalo that has been examined empirically based on the phenomenon of script construction and its activity through syariah approach, that is become a tradition of lokal Islamic culture of Gorontalo. The result of research shown that the Isra’ Mi’raj celebration which is done traditionally by reading classic texts in its celebration must be maintained, because Isra’ Mi’raj celebration is a local Islamic culture tradition which is distinguish the Isra’ Mi’raj celebration between Gorontalo and other ethnics, considering that Gorontalo is one of region that keep maintaining their tradition, culture based on syara’, syara’ based on the Holy Quran. Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan tradisi budaya lokal masyarakat suku Gorontalo yang dikaji secara empiris berdasarkan fenomena konstruksi naskah yakni sistematika naskah dan kegiatannya melalui pendekatan syari’ah (hukum agama), yakni sebuah tradisi yang telah menjadi budaya Islam lokal masyarakat Gorontalo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perayaan Isra’ Mi’raj yang dilaksanakan secara tradisional dengan membaca naskah klasik dalam setiap acara dimaksud harus tetap dipertahankan, mengingat perayaan Isra’ Mi’raj bagi masyarakat Gorontalo merupakan tradisi budaya Islam lokal yang membedakan bentuk perayaan peringatan Isra’ Mi’raj antara masyarakat suku Gorontalo dengan masyarakat suku lainnya. Mengingat bahwa Gorontalo adalah salah satu daerah adat yang memelihara budaya, tradisi dan adat istiadat yang bersendikan syara’ dan syara’ bersendikan kitabullah.  
Tradisi Toron Etnis Madura: Memahami pertautan agama, budaya, dan etos bisnis Muhammad Djakfar
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.356 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.2193

Abstract

Toron or back to the village has been performed as a tradition among the Madurese with various reasons. In understanding the toron tradition which has been a lulture of its own, there is a question whether there are relationships between religious values, culture, and business ethics among the Madurese. This study uses qualitative approach and phenomenological method in order to be able to understand deeper on what the relationship among those three aspects, which can be apprehended from the toron tradition. The data were collected by using observations, in-depth interview, and documentation. The results show that among the students of Islamic boarding schools, the motive of doing toron in commemorating the Prophet’s birthday, is to honour the Prophet, and such celebration is just like a haul for the parents. It is expected that they will receive blessings and help from the Prophet. For those non learners of such boarding schools, it is just like a way (tawassul) to expiate a sin with an expectation to receive blessing from the Prophet. Due to that reason of commemoration, we can understand that there are relationships between religion, culture, and business ethics among the Madurese. Toron atau kembali ke desa telah tampil sebagai tradisi orang Madura dengan berbagai alasan. Dalam memahami tradisi toron yang telah menjadi budaya tersendiri, ada pertanyaan apakah ada hubungan antara nilai agama, budaya, dan etika bisnis di kalangan orang Madura. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan metode fenomenologis untuk dapat memahami lebih dalam tentang hubungan antara ketiga aspek tersebut, yang dapat ditangkap dari tradisi toron. Data dikumpulkan dengan menggunakan observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasilnya menunjukkan bahwa di kalangan siswa pesantren, motif melakukan toron dalam memperingati ulang tahun Nabi, adalah untuk menghormati Nabi, dan perayaan semacam itu sama seperti tangkapan untuk orang tua. Diharapkan mereka akan menerima berkah dan pertolongan dari Nabi. Bagi mereka yang bukan pelajar sekolah pesantren seperti itu, sama seperti cara (tawassul) untuk meredakan dosa dengan harapan untuk menerima berkat dari Nabi. Karena alasan peringatan tersebut, kita bisa mengerti bahwa ada hubungan antara agama, budaya, dan etika bisnis di kalangan orang Madura.  
Pesantren Rakyat: Perhelatan Tradisi Kolaboratif Kaum Abangan dengan Kaum Santri Pinggiran Desa Sumberpucung Kabupaten Malang Mufidah Ch
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.267 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.2194

Abstract

Pesantren is Islamic education base and the oldest Islamic tradition inheritance in Indonesia. As an alternative education institution which is known as opened publicly, that not all people can access this institution because of cultural and psychological obstacles for people who has special needs. While in the fact, people’ intention is getting higher towards this Institution. This research aims to describe people’s pesantren as the base of collaborative-cultural movement between common people (abangan) and santri in order to change black-world tradition into people-based santri tradition. Through field research or case study using social definition paradigm-qualitative method, observation data collecting technique, interview and documentation, this research reveals that pesantren al Amin is a collaborative cultural realm which is very effective in making common people and santri from poor-marginal area into people-based performance of santri, local wisdom–based with multy strategic- approach of empowerment as sunan Kalijaga’s preaching model in spreading Islam in Java island. Pesantren merupakan basis pendidikan Islam dan pewaris tradisi keislaman tertua di Indonesia. Sebagai lembaga pendidikan alternatif yang dikenal terbuka, namun tidak semua masyarakat bisa mengakses pesantren yang disebabkan hambatan kultural dan psikologis bagi kelompok masyarakat yang berkebutuhan khusus. Sementara animo masyarakat terhadap pesantren sangat tinggi. Penelitian ini bertujuan mendiskripsikan pesantren rakyat sebagai basis gerakan kultural kolaboratif antara kaum abangan dengan kaum santri pinggiran, sehingga dapat mengubah tradisi dunia hitam (maksiat) menjadi tradisi santri ala kerakyatan. Melalui penelitian lapangan dengan metode kualitatif berparadigma definisi sosial, menggunakan metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi, hasil yang diperoleh adalah bahwa Pesantren Rakyat al-Amin merupakan medan budaya kolaboratif yang cukup efektif dalam menyantrikan kaum abangan dan santri pinggiran-miskin ala kerakyatan, berbasis kearifan lokal dengan pendekatan pemberdayaan  multi strategic, sebagaimana model dakwah Sunan Kalijaga ketika menyebarkan Islam di Tanah Jawa.  
THE LOCAL TRADITION OF MAGICAL PRACTICES IN BANTEN SOCIETY Ayatullah Humaeni
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.046 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.2195

Abstract

This article aims to discuss the cultural phenomenon of magical practices in the Muslim society of Banten which still exists up to the present. It is a part of my MA thesis research that has been combined with my recent field research using ethnography method based on the anthropological approach. Magical practices becomes cultural identity for Bantenese society.  Several sources on Banten mention that Banten as a central spot for magical sciences, besides it is also well- known as a religious area. The magical practices are still regarded important for Bantenese people, especially who live in the villages to solve their practical problems in their social life. Magic is a socio-religious phenomenon which has long, well-established roots in Banten society. It  is  traceable from many literatures that describes the uniqueness of Bantenese’s culture. Besides other magical practices debus is the most noticeable appearance of the magical tradition in Banten since the sultanate period until nowadays. The existence of debus Banten and other kinds of magical practices in Banten has strengthened the reputation of Banten as if ‘a haven of magical sciences’. Tulisan ini mencoba mendiskusikan tentang fenomena kultural mengenai praktek magis pada masyarakat Muslim Banten yang masih ada hingga saat ini. Artikel ini merupakan bagian dari tesis Master saya yang sudah dikombinasikan dengan penelitian lapangan baru-baru ini dengan menggunakan metode etnografi berdasarkan pendekatan antropologis. Praktek magis sudah menjadi identitas kultural bagi masyarakat Banten. Beberapa sumber menyebut Banten sebagai pusat ilmu-ilmu gaib, di samping dikenal sebagai daerah yang religius. Praktek magis masih dianggap penting bagi masyarakat Banten, khususnya yang tinggal di pedesaan untuk menyelesaikan masalah-masalah praktis dalam kehidupan sosial mereka. Magis adalah sebuah fenomena sosio-kultural yang memiliki akar yang cukup lama dan sudah berakar kuat dalam masyarakat Banten. Hal ini bisa dilacak dari banyak literatur yang menjelaskan keunikan dari budaya Banten. Debus adalah bukti paling kongkrit dari tradisi magis di Banten sejak periode kesultanan hingga saat ini, disamping beragam praktek magis yang lainnya. keberadaan debus Banten dan berbagai jenis praktek magis yang lainnya di Banten telah memperkuat reputasi Banten sebagai ‘tempat bersemayamnya ilmu-ilmu magis’. 
Pengaruh Islam terhadap Perkembangan Budaya Jawa: Tembang Macapat Asmaun Sahlan; Mulyono Mulyono
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.793 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.2196

Abstract

Islam came to Indonesia since the seventh century AD has a major influence on the transformation of the local culture. From cultures that were previously heavily influenced by Hinduism is primarily based on two major books from India, the Ramayana and the Mahabharata to the new culture that is influenced by Islamic values. One form of cultural transformation in the field of Javanese literature is the birth of the tembang macapat (song of macapat). Tembang macapat is a form of transformation from Javanese literature of the form kakawin literary dan kidung (ancient Javanese song) became a form of Java new song (gending). During its development, macapat song contains a lot of Islamic values so utilized by teachers, preachers, religious scholars and Ulama’ to the means of education and transformation of Islamic values. Islam datang ke Indonesia sejak abad ke tujuh Masehi memiliki pengaruh besar terhadap transformasi budaya setempat. Dari kebudayaan yang sebelumnya banyak dipengaruhi oleh agama Hindu terutama didasarkan pada dua karya besar dari India yaitu Ramayana dan Mahabharata menuju kepada kebudayaan baru yang dipengaruhi oleh nilai-nilai Islam. Salah satu bentuk transformasi kebudayaan dalam  bidang sastra Jawa adalah lahirnya tembang macapat. Tembang macapat merupakan bentuk transformasi sastra Jawa dari bentuk kakawin dan kidung menjadi sastra puisi yang berupa lagu/gending. Dalam perkembangannya, tembang macapat banyak mengandung nilai-nilai Islam sehingga dimanfaatkan oleh para guru, mubaligh, kyai maupun ulama’ untuk sarana pendidikan dan dakwah nilai-nilai Islam. 
Dialektika Islam dan Budaya Lokal dalam Bidang Sosial sebagai Salah Satu Wajah Islam Jawa Andik Wahyun Muqoyyidin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.116 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.2197

Abstract

This article is to unravel the issue of dialectic of Islam and local culture in the social field as one face of Javanese Islam. Historically, Islam came to Indonesia there is a record seventh century AD, but there are also the states of the thirteenth century AD. This means that Islam has been a long time to adapt and dialogue with the culture, customs, attitudes and ways of thinking locals Indonesia. Moreover, many aspects of Islamic teachings that can be flexible so it can receive the local elements are in harmony with the teachings of Islam. The style of Islam in Java in many ways resembles Islam in South Asia. Kerala, the Malabar coast became an important area for the spice trade. Therefore, this area is also very likely to be a transit area for the purpose of trading with the merchants and simultaneously broadcast and Sufi Moslem are deliberately seeking new areas for development of Islam. For this reason, the face of Islam in Java is the result of dialogue and dialectic between Islam and local culture which then displays the face of Javanese Islam. In fact, Islam in Java is indeed not a single, not a monolith, and not simple. Among these are reflected in social relations syncretic Javanese Moslem community with other communities go naturally with the local knowledge base in the village community at large. Artikel ini ingin mengurai persoalan dialektika Islam dan budaya lokal dalam bidang sosial sebagai salah satu wajah Islam Jawa. Secara historis, Islam datang ke Indonesia ada yang mencatat abad VII Masehi, tapi ada juga yang menyatakan abad XIII Masehi. Ini berarti Islam telah lama beradaptasi dan berdialog dengan budaya, adat kebiasaan, sikap dan cara berpikir penduduk lokal Indonesia. Terlebih lagi, banyak aspek dari ajaran Islam yang dapat bersifat fleksibel sehingga dapat menerima unsur-unsur lokal yang selaras dengan ajaran Islam. Corak Islam di Jawa dalam banyak hal menyerupai Islam di Asia Selatan. Kerala, di pantai Malabar menjadi daerah penting untuk perdagangan rempah-rempah. Oleh karena itu, daerah ini juga sangat mungkin menjadi daerah transit bagi kaum pedagang dengan tujuan perdagangan dan sekaligus menyiarkan Islam dan kaum sufi yang secara sengaja mencari daerah baru untuk pengembangan Islam. Karena itulah, wajah Islam di Jawa merupakan hasil dialog dan dialektika antara Islam dan budaya lokal yang kemudian menampilkan wajah Islam yang khas Jawa. Dalam kenyataannya, Islam di Jawa memanglah tidak bersifat tunggal, tidak monolit, dan tidak simpel. Di antaranya adalah tercermin dalam relasi sosial komunitas Islam Jawa sinkretis dengan masyarakat lainnya berjalan secara alamiah dengan mendasarkan pada kearifan lokal masyarakat desa pada umumnya. 
Pola Interaksi Harmonis antara Mitos, Sakral, dan Kearifan Lokal Masyarakat Pasuruan Agus Zaenul Fitri
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.936 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.2198

Abstract

The charges with covered mission in terms of local wisdom such as mysticism, sacralization, Javanese and ancestor gods are exaggerated perspective. Through Anthropological studies of sacred, mythology and local wisdom is elaborated on the meaning and relevance to the public ritual actions in Pasuruan Regency with the attempt to build harmony and interaction between local culture and Islam. This study focused on the dynamical of relationship between religion and social religious culture interactions among groups in society through religious symbols system. Every religious tradition includes sacred symbols with which the person conducting a series of measures to shed beliefs in the form of ritual, reverence and servitude. Hindu communities in the mountains Pasuruan region have been driven to assimilate with Muslim population. But the religion which is embraced by the majority of the population are nominal Muslims, but confounds the Tengger and Javanese-style ritual, because the vast majority of Muslims there refused to form a more strict Islamic piety is identified with a culture that does not fit to the culture of Java, in contrast to Muslims Pasuruan in the lowlands because much dominated by the descendants of Madura, the Islamization can continue to do without having to harm the local culture, which in turn would foster against-Islam movement. Tuduhan terhadap misi terselubung dalam istilah kearifan lokal seperti mistisisme, sakralisasi, kejawen, dan sesembahan lelulur merupakan cara pandang yang berlebihan. Melalui studi Antropologi tentang sakralisasi, mitologi, dan kearifan lokal ini dipaparkan makna dan relevansinya terhadap tindakan ritual masyarakat kabupaten Pasuruan dengan upaya membangun wajah dalam harmoni dan interaksi antara budaya lokal dan Islam. Kajian ini menitikberatkan pada dinamika hubungan antara agama dan berbagai kelompok sosio religio kultural melalui interaksi antar kelompok di dalam masyarakat melalui simbol-simbol religius. Setiap tradisi keagamaan memuat simbol-simbol suci yang dengannya orang melakukan serangkaian tindakan untuk menumpahkan keyakinan dalam bentuk melakukan ritual, penghormatan dan penghambaan. Masyarakat Hindu di wilayah Pasuruan pegunungan telah terdorong untuk berasimilasi dengan penduduk muslim. Namun agama Islam yang dipeluk oleh sebagian besar penduduk adalah Islam nominal namun mencampur adukkan gaya ritual Tengger dan Kejawen, karena mayoritas Muslim di sana menolak bentuk kesalehan Islam yang lebih ketat yang diidentifikasi dengan kebudayaan yang tidak njawani, berbeda dengan muslim pasuruan di dataran rendah karena banyak didominasi oleh keturunan Madura, maka Islamisasi dapat terus dilakukan tanpa harus mencederai kebudayaan lokal yang pada akhirnya justru menyuburkan gerakan anti-Islam. 
DOA DALAM TRADISI ISLAM JAWA Abdul Wahab Rosyidi
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.604 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.2199

Abstract

Doa etymologically means request something to God in certain ways. while some ulama define doa is a self statement presence to Allah the Almighty about our weakness, shortages, inabilities, and disgraces, then we ask Allah the Almighty in order the weaknesses, shortages, inabilities, and humiliations are removed and replaced with the strengths, capabilities and a high degree both in human sight and in Allah sight. In the theory needs said, that basically human beings need to feel safe (safety need), and the safety need leads to the two forms, namely: safety needs of life and safety needs of the property. Safety needs emerged as the most important requirement if psychology needs have been fullfilled. this behavior as reflected in the lives of Javanese who always do doa  in the form of slametan ceremony. Slametan aims to achieve slamet (safety), namely a condition in which the events will move smoothly to follow a predetermined path and will not happen misfortunes to just anyone. Doa Secara etimologi artinya memohon sesuatu kepada Allah SWT dengan cara- cara tertentu. Sedangkan beberapa ulama mendefinisikan doa berarti pernyataan diri ke hadirat Allah SWT tentang kelemahan, kekurangan, ketidakmampuan serta kehinaan kita, kemudian kita memohon sesuatu kepada Allah SWT agar kelemahan, kekurangan, ketidakmampuan serta kehinaan ini diangkat dan digantikan dengan kelebihan, kemampuan serta derajat yang tinggi baik di sisi manusia maupun di sisi-Nya. Dalam teori kebutuhan dikatakan; bahwa pada dasarnya manusia membutuhkan rasa aman (safety need), dan rasa aman itu mengarah pada dua bentuk yakni kebutuhan keamanan jiwa dan keamanan harta. Kebutuhan rasa aman muncul sebagai kebutuhan yang paling penting kalau kebutuhan psikologis telah terpenuhi. Hal tersebut sebagaimana tercermin dalam perilaku hidup orang Jawa yang selalu melakukan Doa dalam bentuk upacara slametan. Slametan bertujuan untuk mencapai keadaan slamet, yaitu suatu keadaan dimana peristiwa-peristiwa akan bergerak mengikuti jalan yang telah ditetapkan dengan lancar dan tak akan terjadi kemalangan-kemalangan kepada sembarang orang. 

Page 6 of 79 | Total Record : 789


Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH E-Harakah (Vol 14, No 2 Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 13, No 1 Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 12, No 3 el-Harakah (Vol 12, No 2 el-Harakah (Vol 12, No 1 Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 11, No 2 el-Harakah (Vol 11, No 1 Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 2 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 1 (2007): EL HARAKAH Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH More Issue