cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
elharakahjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam
ISSN : 18584357     EISSN : 23561734     DOI : -
Core Subject : Health,
EL HARAKAH (ISSN 1858-4357 and E-ISSN 2356-1734) is peer-reviewed journal published biannually by Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) of Malang. The journal is accredited based on the decree No. 36a E. KPT 2016 on 23 May 2016 by the Directorate General of Higher Education of Indonesia, for the period August 2016 to August 2021 (SINTA 2). The journal emphasizes on aspects related to Islamic Culture in Indonesia and Southeast Asia. We welcome contributions from scholars in the field, papers maybe written in Bahasa Indonesia, English, or Arabic.
Arjuna Subject : -
Articles 789 Documents
Gaya Busana Kerja Muslimah Indonesia dalam Perspektif Fungsi dan Syariah Islam Pingki Indrianti
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1770.02 KB) | DOI: 10.18860/el.v15i2.2763

Abstract

The phenomenon of hijab trend in Indonesia runs concurrently with the increasing number of working women who wear hijab particularly at a number of offices in major cities, both private and state agencies. However, the formal Muslimah’s work clothes currently follow the trend with no regard to the suitability of the function of the work clothes and Islamic shari’a. This study aims at obtaining the criteria for Muslimah’s work clothes, in terms of silhouette and materials used. The research method employed is literature review on the criteria, as well as the analysis of a number of Muslimah’s work clothes images obtained from personal documentation, magazines, and online shops. The finding shows three groups of Muslimah work clothes: closed to shari’a criteria, to basic concept of work clothes, and to both groups. The perspective of modernist Islamic in Indonesia, regarding the forms of hijab is used as a benchmark for analyzing the Islamic shari’a criteria. Work clothes in accordance with the Islamic criteria, work functions and trends, are expected to help Muslimah workers dressed in syar’i, professional, and trendy hijabs. Fenomena tren jilbab di Indonesia berjalan seiring meningkatnya jumlah pekerja wanita berjilbab, khususnya di sejumlah perkantoran di kota besar, baik instansi swasta maupun pemerintahan. Namun demikian, busana kerja muslim formal saat ini banyak yang hanya mengikuti tren tanpa memperhatikan kesesuaian fungsi busana kerja maupun syariah Islam. Penelitian ini bertujuan mendapatkan kriteria gaya busana kerja muslimah, baik dari segi siluet maupun penggunaan material. Metode penelitian yang digunakan yaitu kajian literatur mengenai kriteria busana kerja muslimah serta analisis sejumlah gambar busana kerja muslimah dari dokumentasi pribadi, majalah, maupun situs jualbeli di internet. Hasil analisis menunjukan tiga kelompok gaya busana kerja muslimah: mendekati kriteria syariah, mendekati konsep dasar busana kerja, dan irisan keduanya. Adapun pemikiran kaum Islam modernis di Indonesia mengenai aturan jilbab, digunakan sebagai acuan dalam menganalisis kriteria syariah busana muslimah. Busana kerja muslimah yang sesuai dengan kriteria syariah, konsep dasar busana kerja maupun tren, diharapkan dapat membantu karyawati muslimah berhijab secara syar’i, profesional, dan trendi.
Haji dan Status Sosial: Studi tentang Simbol Agama di Kalangan Masyarakat Muslim M. Zainuddin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.704 KB) | DOI: 10.18860/el.v15i2.2764

Abstract

Religion as a fact and history has symbolic and sociological dimensions as a structure of abstract realm regardless of space and time. Pilgrimage substantially contains humanity values, such as the doctrines of equality, the necessity to preserve life, property, and honor of others, a ban of oppressing or exploiting the weak people, either economically or others. For example, releasing daily wear and changing it with ihram wear has meaning to erase the social gaps between the rich and the poor. That is the ideal teaching of pilgrimage making one aware that he is a social human. This paper is sociologically intended to see the phenomenon of pilgrimage in the Muslim society of Indonesia, especially in Java. The study showed that the pilgrimage of the majority of Indonesian Muslim is loaded with social attributes. Although the pilgrim is a part of the religion pillars, it has been utilized   by the local ruling elite as a political resource or a mean to establish power legitimacy. Agama sebagai fakta dan sejarah memiliki dimensi simbolis dan sosiologis sebagai struktur sebuah makna yang berada pada ranah abstrak, terlepas dari ruang dan waktu. Ibadah haji secara substansial mengandung nilai-nilai kemanusiaan, seperti ajaran tentang: persamaan, keharusan memelihara jiwa, harta, dan kehormatan orang lain, larangan melakukan penindasan atau pemerasan terhadap kaum lemah, baik di bidang ekonomi maupun bidang-bidang lain. Misalnya, menanggalkan pakaian yang dipakai sehari-hari dan menggantinya dengan baju ihram untuk menghapus kesenjangan sosial antara kaya dan miskin. Itulah harapan ideal ajaran haji untuk membuat pelakunya menyadari bahwa ia adalah makhluk sosial. Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap fenomena haji dalam masyarakat Indonesia, terutama di Jawa, secara sosiologis. Studi ini menunjukkan bahwa ibadah haji yang dilakukan oleh mayoritas muslim Indonesia dipenuhi dengan atribut-atribut sosial. Meski merupakan salah satu pilar agama, ibadah haji telah digunakan elit penguasa lokal sebagai sumberdaya politik atau alat membangun legitimasi kekuasaan
Seting Perilaku dan Teritorialitas Ruang sebagai Perwujudan Adab di Masjid Gading Pesantren Kota Malang Yulia Eka Putrie; Luluk Maslucha
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1174.841 KB) | DOI: 10.18860/el.v15i2.2765

Abstract

This study concerns behavior setting and territoriality in Masjid Gading Pesantren as a part of the broader research on community based mosques and social interaction within them. The purpose is to identify some unique behavior patterns of the users of Masjid Gading Pesantren from the perspective of behavioral based research in architecture. The methods employed in this research are place-centered mapping, architectural documenting, and informal interview. The finding shows some specific behavioral pattern of the mosque’s users derived from the courtesy toward the mosque and the leader of the mosque as well as the pesantren. The behaviors form pattern as they become the tradition or local custom deriving into unique courtesy. Furthermore, this behavioral pattern also shapes the specific territories in the mosque, namely mihrab as a primary territory ‘owned’ by the kyai and legitimated by the santris. Such unique behavioral pattern belongs to local value which is largely accepted in Islam as long as it does not contradict with syariah. Penelitian ini mengenai seting perilaku dan teritorialitas ruang di Masjid Gading Pesantren yang merupakan bagian dari penelitian mengenai masjid berbasis masyarakat dan interaksi sosial yang terjadi di dalamnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kekhasan pola perilaku keruangan santri dan jamaah di Masjid Gading Pesantren dari sudut pandang keilmuan arsitektur perilaku. Penelitian ini menggunakan metode place centered mapping, dokumentasi, dan wawancara informal. Temuan menunjukkan kekhasan pola perilaku keruangan yang disebabkan adanya adab terhadap masjid dan adab terhadap kyai sebagai pemimpin masjid dan pesantren. Perilaku-perilaku ini membentuk pola karena telah menjadi tradisi atau kebiasaan setempat yang menjadi perwujudan yang khas terhadap adab. Lebih jauh, pola perilaku ini juga membentuk teritori-teritori yang khas di masjid tersebut, yaitu area mihrab yang menjadi teritori primer yang ‘dimiliki’ oleh kyai dan dilegitimasi oleh para santri. Kekhasan perilaku ini dapat dianggap sebagai kearifan lokal yang diterima secara luas keberadaannya di dalam Islam selama tidak bertentangan dengan syariat.
Relevansi Nilai-Nilai Budaya Bugis dan Pemikiran Ulama Bugis: Studi Tafsir Berbahasa Bugis Karya MUI Sulsel Muhammad Yusuf
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.596 KB) | DOI: 10.18860/el.v15i2.2766

Abstract

This article investigates the relevance between Bugis culture values and Muslim Scholars’ views on gender issues in Bugis Quranic Interpretation by MUI of South Sulawesi. This research uses content analysis. Woman’s right to be public leader is not questioned as long it fulfills qualitative and functional criteria. In household affairs, a married couple is a partner with equal responsibilities. The concept of ‘iddah emphasizes on religious principle and the culture of self- esteem and purity. The inheritance distribution does not only relate to the right, but also responsibility in order to uphold justice. The expertise of Bugis Muslim scholars to link between Bugis values and its interpretation is not always explicit, some were identifiable implicitly and inherently. The Quranic and local values are two values integrated in giving solution to people. The Bugis people are inspiring to uphold value system and harmonious interaction system in organizing people.  Social establishment through the manifestation of core values of culture and the Quranic principle becomes an effective strategy to maintain the identity of community with Islamic doctrine values. Artikel ini membahas relevansi antara nilai-nilai budaya Bugis dan pemikiran ulama Bugis mengenai isu-isu jender dalam Tafsir Berbahasa Bugis Karya MUI Sulawesi selatan. Kajian ini menggunakan pendekatan analisis isi. Hak kepemimpinan perempuan dalam ranah publik tidak dipersoalkan sepanjang memenuhi syarat kualitatif dan fungsional. Dalam rumah tangga, suami dan istri merupakan mitra dengan prinsip sepenanggungan. Konsep ‘iddah lebih menekankan prinsip agama dan budaya harga diri,dan makna kesucian. Pembagian harta warisan tidak hanya menyangkut hak melainkan juga tanggung jawab demi tegaknya keadilan. Kepiawaian ulama Bugis dalam merelevansikan nilai-nilai budaya Bugis dengan penafsirannya tidak selalu disebutkan secara ekplisit, sebagian diantaranya diketahui dari substansi penjelasannya secara implisit dan inheren. Kearifan Qurani dan kearifan lokal adalah integrasi dua nilai kearifan yang dapat memberikan solusi bagi masyarakat. Masyarakat Bugis dapat memberikan inspirasi bagi tegaknya tata nilai dan pola interaksi yang harmonis dalam menata masyarakat. Pembinaan masyarakat melalui pengejawantahan nilai-nilai utama kebudayaan dan prinsip Qurani adalah strategi yang efektif dalam rangka mempertahankan jati diri suku bangsa dengan nilai-nilai ajaran Islam.
Ikon Tradisi Ba’do Katupat sebagai Refleksi Kebudayaan Masyarakat Jaton di Sulawesi Utara Kinayati Djojosuroto
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.348 KB) | DOI: 10.18860/el.v15i2.2767

Abstract

Ba’do Katupat celebration is a tradition of Jawa Tondano (Jaton) village hold annually. It has a deep meaning to strengthen the relationship, forgive each other, as well as be grateful  for the success of fasting for the whole month. No wonder the celebration is always crowded with thousands of people from different areas, ages and beliefs, and carried out for the whole day. Ba’do Ketupat is an inherited tradition from Diponegoro, Kiai Mojo, and his followers. This Javanese tradition heritage can be found in Tondano, Minahasa as a ceremonial event held annually by people in Jaton village one week after Eid  Ba’do Ketupat contains cultural values   that include local and cultural values, as the icon and identity of  Jaton in Minahasa, as well as the acculturation resulting in solidarity and tolerance. This culture unites the minority of Jaton people with the majority of Minahasa people. The religious ritual performed by Jaton people and other Muslim accomplishes religious obligations in order to increase devotion towards Allah SWT and not to create difference. Perayaan Ba’do Katupat merupakan tradisi kampung Jawa Tondano yang dilaksanakan setiap tahun. Acara ini memiliki makna yang mendalam yaitu untuk memperkokoh tali silaturahim, bermaaf-maafan, sekaligus ucapan syukur atas keberhasilan menjalankan ibadah puasa sebulan lamanya. Tak heran perayaan tersebut selalu dipadati ribuan masyarakat dari berbagai daerah, usia dan keyakinan dan berlangsung sejak pagi hingga malam hari. Ba’do Katupat merupakan tradisi yang diwariskan Diponegoro, Kiai Mojo dan pengikut - pengikutnya. Tradisi ini adalah warisan tradisi Jawa yang ada di Tondano Minahasa dan menjadi acara seremonial yang setiap tahun diselenggarakan warga di Kampung Jaton setelah lewat satu minggu lebaran. Ba’do Katupat mengandung nilai-nilai budaya yang mencakup kearifan lokal dan kearifan budaya Jaton, sebagai ikon dan identitas warga Jaton di Minahasa, serta sebagai akulturasi budaya sehingga terjadi solidaritas dan toleransi. Budaya tersebut mempersatukan penduduk minoritas Jaton dengan penduduk mayoritas Minahasa. Ritual keagamaan yang dilakukan oleh orang Jaton maupun Muslim yang lain merupakan pelaksanaan kewajiban agama dalam upaya meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dan bukan menciptakan perbedaan
Ijtihad Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin Ibnu Badaruddin Al Buthuni: Akulturasi Islam dan Budaya Kesultanan Buton Basrin Melamba; Wa Ode Siti Hafsah
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.394 KB) | DOI: 10.18860/el.v16i1.2768

Abstract

The coming of Islam in the Buton Sultanate has brought a change in the social, political, even in the intellectual aspects. It produced scholars with the thought or ijitihad as a blend of Islamic and local cultures. One of the scholars as well as Buton Sultan was Muhammad Idrus Kaimuddin Ibnu Badaruddin Al Buthuni (1824-1851). His thought or ijitihad found the essence of the concept of manners according to the teachings of the ancestors in kabanti Bula Malino. His several works became the guidance of the public and court authorities in the Sultanate of Buton which were basically rooted from the teachings of Islam. Kaimuddin’s thought in terms of ethics, morals, manners, or advice showed his horizons of knowledge and the depth of leadership thought. The magnitude of Islamic influence in some of his works proves the enduring process of Islamic acculturation done continuously and deeply since the era of Buton Islamic empire. Kaimuddin’s thought is essentially a formation process of Buton’s civilization centered on the palace and passed to Buton society in general through the process of cultural dialogue between Buton culture (Wolio) and Islam. Masuknya agama Islam di Kesultanan Buton, telah membawa perubahan dalam bidang sosial, politik, bahkan dalam aspek intelektual. Hal ini melahirkan ulama-ulama yang memiliki pemikiran atau ijitihad yang merupakan perpaduan budaya Islam dan budaya lokal. Salah satu ulama di Buton sekaligus sebagai Sultan yaitu Muhammad Idrus Kaimuddin Ibnu Badaruddin Al Buthuni (1824- 1851). Pemikiran atau ijitihad Sultan Kaimuddin menemukan esensi konsep tata krama menurut ajaran leluhur dalam kabanti Bula Malino. Beberapa karyanya menjadi tuntunan masyarakat dan penguasa kraton di Kesultanan Buton yang banyak bersumber dari ajaran Islam. Pemikiran dalam hal etika, moral, tata krama, maupun nasehat Sultan Kaimuddin menunjukkan cakrawala pengetahuan dan mendalamnya pemikiran seorang pemimpin. Besarnya pengaruh Islam dalam beberapa karya Sultan Kaimuddin membuktikan berlangsungnya proses akulturasi Islam secara berkesinambungan dan mendalam dari masa kerajaan Islam Buton. Hasil pemikiran Sultan Kaimuddin pada hakekatnya merupakan sebuah proses pembentukan peradaban Buton yang berpusat pada kraton dan ditularkan pada masyarakat Buton secara umum melalui dialog kebudayaan antara kebudayaan Buton (Wolio) dengan Islam
Kepercayaan kepada Kekuatan Gaib dalam Mantra Masyarakat Muslim Banten Ayatullah Humaeni
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.635 KB) | DOI: 10.18860/el.v16i1.2769

Abstract

This article discusses various forms, functions, and meanings of mantra (magical formula) of Bantenese. How Bantenese understands mantra, what kinds of mantra used, and how Bantenese make use of various kinds of mantra in their life become three main focuses. It is the result of a field research using ethnographic method with the descriptive qualitative design based on anthropological perspective. To analyze the data, structural-functional approach is employed. Library research, participant-observation, and in depth interview are used to collect the data. The mantra tradition in Banten is a part of verbal folklore. Mantra is a tribal sacred prayer containing supernatural powers. The Bantenese mantra is a cultural product of the syncretic elements between local belief and religious traditions. For Bantenese, mantra is one of  oral tradition treasures integrated to other cultural treasures. Its existence is still needed by Bantenese up to the present. In certain cases, the tradition of Bantenese mantra is an alternative of the traditional social institution when the formal institution is no longer able to accommodate their interests and practical needs. The use mantra for various purposes becomes a portrait of the pragmatical life style of Bantenese who still believe in magical powers. Artikel ini mengkaji berbagai bentuk, fungsi dan makna mantra pada masyarakat Banten. Bagaimana masyarakat Banten memaknai mantra, jenis mantra apa saja yang digunakan oleh masyarakat Banten, dan bagaimana masyarakat Banten memanfaatkan mantra dalam kehidupan mereka menjadi tiga fokus utama dalam artikel ini. Tulisan ini merupakan hasil penelitian lapangan dengan menggunakan metode ethnografi yang bersifat deskriptif kualitatif dengan pendekatan antropologis. Dalam menganalisa data, peneliti menggunakan pendekatan fungsional-struktural. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah kajian pustaka, observasi, dan wawancara mendalam. Tradisi mantra di Banten merupakan bagian dari tradisi lisan. Mantra merupakan do’a sakral kesukuan yang mengandung kekuatan gaib. Mantra Banten ini merupakan produk budaya yang bersifat sinkretik antara kepercayaan lokal dan tradisi agama. Bagi orang Banten, mantra merupakan salah satu khazanah tradisi lisan yang integral dengan khazanah budaya lainnya. Eksistensinya masih dibutuhkan oleh masyarakat Banten sampai saat ini. Dalam batas tertentu, tradisi mantra Banten merupakan alternatif pranata sosial tradisional ketika pranata formal tidak mampu lagi mengakomodasi kepentingan dan kebutuhan praktis mereka. Pemanfaatan mantra untuk beragam tujuan ini menjadi potret pola kehidupan pragmatis masyarakat Banten yang masih mempercayai kekuatan magis.
Aspek Kultural “Bismillahirrahmânirrahim” dalam Keislaman Orang Buton: Kajian terhadap Kabanti Ajonga Inda Malusa Ali Rosdin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.198 KB) | DOI: 10.18860/el.v16i1.2770

Abstract

This study aimed at describing to what extent expression bismilllahirrahmânirrahim influenced Islamic lives of Buton people in the past. The object of the study is script kabanti Ajonga Inda Malusa as H. Abdul Ganiu’s work. The study focuses on understanding the meanings constructed in kabanti Ajonga Inda Malusa by looking at its relationship with cultural elements and historical background of Buton people. In understanding the phrase bismilllahirrahmânirrahim, it used hermeneutic method supported with the sociological theory of literature, that views literature as (1) a reflection of its supporting society, (2) a document that records cultural social reality and the bias of the reality of society in its time, and (3) other aspects related to a society in accordance with conventions and historical background in its cultural social framework. The results showed that the statement bismilllahirrahmânirrahim is a tradition of Sufi poets in the past Buton Sultanate to start their work, which can be interpreted as a form of practice of Islamic refinement that always refers to the al Quran and Hadis. In the Islamic context of Buton people, the phrase bismilllahirrahmânirrahim then explored and elaborated into whole aspects of life, the world and the hereafter. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sejauhmana ungkapan bismilllahirrahmânirrahim berpengaruh dalam kehidupan keislaman orang Buton pada masa lampau. Objek kajiannya adalah naskah kabanti Ajonga Inda Malusa karya H. Abdul Ganiu. Kajian difokuskan pada pemahaman terhadap makna yang dibangun dalam kabanti Ajonga Inda Malusa dengan melihat hubungannya dengan unsur budaya dan latar belakang kesejarahan masyarakat Buton. Dalam memahami ungkapan bismilllahirrahmânirrahim, digunakan metode hermeneutik yang ditopang dengan teori sosiologi sastra, yang memperhatikan karya sastra sebagai (1) cermin masyarakat pendukungnya, (2) dokumen yang mencatat kenyataan sosial budaya serta bias dari realitas masyarakat pada masanya, dan (3) aspek-aspek lain yang berhubungan dengan masyarakat sesuai dengan konvensi dan latar belakang kesejarahan dalam kerangka sosial budayanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pernyataan bismilllahirrahmânirrahim merupakan tradisi para penyair sufi di Kesultanan Buton masa lampau dalam mengawali setiap karyanya, yang dapat dimaknai sebagai wujud pengamalan adab Islam, yang senantiasa merujuk pada al Quran dan al Hadits. Dalam konteks keislaman orang Buton, pernyataan bismilllahirrahmânirrahim kemudian digali dan dijabarkan dalam seluruh aspek kehidupannya, dunia dan akhirat
Sedekah Bumi (Nyadran) sebagai Konvensi Tradisi Jawa dan Islam Masyarakat Sraturejo Bojonegoro Ichmi Yani Arinda R.
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.164 KB) | DOI: 10.18860/el.v16i1.2771

Abstract

“Sedekah Bumi (Nyadran)” is a tradition preserved by the society of Sraturejo, Bojonegoro. This research describes Nyadran by researcher using ethnographic design. The result shows that Nyadran is carried out after harvest crops of the whole Sraturejo people. The purposes of Nyadran are first, to express gratitude to God for the blessings given to the public with an abundant harvest. Second, to respect  the ancestors for the merits of opening the land as a place to live in the society as well as to look  for a living. Third, the implementation of Nyadran can strengthen inter-community solidarity with one and another. Fourth, it preserves the native cultures. The benefits that have been perceived by  Sraturejo society by holding the tradition of Sedekah Bumi (Nyadran )is the society  feel a closer sense to the Creator, away from distractions (reinforcements) and diseases, better yields. Sedekah bumi (Nyadran) merupakan sebuah tradisi yang dilestarikan oleh masyarakat Sraturejo, Bojonegoro. Penelitian ini mendeskripsikan Nyadran menggunakan metode etnografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nyadran dilaksanakan setelah masyarakat Sraturejo panen hasil bumi secara serentak. Tujuan diadakannya Nyadran yaitu, pertama, untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat yang diberikan kepada masyarakat dengan adanya hasil panen yang melimpah. Kedua, untuk menghormati para leluhur yang telah berjasa dalam membuka lahan (babat alas) sebagai tempat huni masyarakat sekaligus tempat untuk mencari kehidupan. Ketiga, adanya pelaksanaan Nyadran dapat memperkuat solidaritas antar masyarakat satu dengan lainnya. Keempat, dilestarikannya budaya-budaya asli daerah. Manfaat yang selama ini diperoleh masyarakat Sraturejo dengan diadakannya tradisi Nyadran yaitu masyarakat merasakan rasa lebih dekat dengan Sang Pencipta, jauh dari gangguan (bala) dan penyakit, hasil panen lebih baik.
Analisis Tuturan Direktif dan Nilai Budaya pada Buku Al’arabiyah Bayna Yadayka Tatang Tatang; Syihabuddin Syihabuddin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.153 KB) | DOI: 10.18860/el.v16i1.2772

Abstract

This article examines the types of directive speech act in the book Al’arabiyah Bayna Yadayka, and its values of Arabic culture. This study was motivated by the lack of students’ understanding of Arabic culture, whereas they are prospecting to be Arabic teachers. To examine this issue we used a descriptive method with critical discourse analysis, comparative analysis, and pragmatic analysis which is based on Grice’s and Leech’s theories. The data analysis found that in the Al’Arabiyyah Yadayka Baina there are 93 types of questions using directive speech, 8 of solicitation, 9 of petition, 9 of offers, 2 of rejection, and 1 of prohibition.  The directive speech contains the traditions and values of Arab and Islamic cultures, i.e the Arabic speech system which is directive, assertive, and straightforward, the use of insya Allah phrase, the holiday traditions, the worships, the tradition of similar speech opponents, the factual topics, and the topics in the Islamic laws. This tradition constitutes the principle of cooperation and politeness. This Arabic communication and the Islamic values must be taught to the Arabic students to improve their multicultural competence and the Islamic values. Artikel ini menelaah jenis tindak tutur direktif yang terdapat dalam buku Al’arabiyah Bayna Yadayka, serta nilai kebudayaan yang terkandung di dalamnya. Telaah ini dilatarbelakangi oleh rendahnya pemahaman budaya mahasiswa akan nilai budaya Arab, padahal mereka merupakan calon guru bahasa Arab. Untuk menelaah persoalan ini digunakan metode deskriptif dengan teknik analisis wacana kritis, analisis komparatif, dan analisis pragmatik yang didasarkan pada teori Grice dan Leech. Dari analisis data disimpulkan bahwa dalam buku Al ‘Arabiyyah Baina Yadayka terdapat jenis tuturan direktif pertanyaan 93 buah, ajakan 8 buah, permohonan 9 buah, penawaran 9 buah, penolakan 2 buah, dan larangan 1 buah. Di dalam tuturan direktif terkandung tradisi dan nilai-nilai budaya Arab dan Islam, yaitu cara bertutur orang Arab yang langsung, tegas, dan lugas, penggunaan ungkapan insya Allah, tradisi hari raya, peribadatan, tradisi lawan tutur yang sejenis, topik yang faktual, dan topik yang sejalan dengan syariat. Tradisi ini memenuhi prinsip kerjasama dan kesantunan berbahasa. Cara berkomunikasi orang Arab seperti ini serta nilai keislaman yang terkandung di dalamnya perlu diajarkan kepada pembelajar bahasa Arab agar mereka memiliki kompetensi multikultural dan nilai-nilai keislaman.

Page 9 of 79 | Total Record : 789


Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH E-Harakah (Vol 14, No 2 Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 13, No 1 Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 12, No 3 el-Harakah (Vol 12, No 2 el-Harakah (Vol 12, No 1 Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 11, No 2 el-Harakah (Vol 11, No 1 Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 2 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 1 (2007): EL HARAKAH Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH More Issue