cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
elharakahjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam
ISSN : 18584357     EISSN : 23561734     DOI : -
Core Subject : Health,
EL HARAKAH (ISSN 1858-4357 and E-ISSN 2356-1734) is peer-reviewed journal published biannually by Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) of Malang. The journal is accredited based on the decree No. 36a E. KPT 2016 on 23 May 2016 by the Directorate General of Higher Education of Indonesia, for the period August 2016 to August 2021 (SINTA 2). The journal emphasizes on aspects related to Islamic Culture in Indonesia and Southeast Asia. We welcome contributions from scholars in the field, papers maybe written in Bahasa Indonesia, English, or Arabic.
Arjuna Subject : -
Articles 789 Documents
Sedekah Bumi Dusun Cisampih Cilacap Furqon Syarief Hidayatulloh
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.939 KB) | DOI: 10.18860/el.v15i1.2669

Abstract

This study analyzes Islamic perspective in the ritual Sedekah Bumi (earth’s alms) at Dusun Cisampih, Kutabima village in Cimanggu district, at Cilacap Central Java. The method used is descriptive qualitative to describe the facts on the culture of this ritual. The finding shows that Sedekah Bumi is an ethnic ritual to show the people’s high regard to the earth as a place to live in. People depend on earth as it is a place where they do farming, get food and water, and do other activities. For this reason, they feel that there should be any ceremony that shows their gratitude to the earth. Besides that, such ritual also reflects thankfulness for people’s welfare and fortune and it is also believed to bring abundant crops. In Islamic perspective, this ritual accords to some Islamic principles, although some ideas are also contradicted. Penelitian ini mengkaji perspektif Islam terhadap pelaksanaan sedekah bumi di Dusun Cisampih Desa Kutabima Kecamatan Cimanggu, Cilacap, Jawa Tengah. Metode yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif untuk menggambarkan fakta-fakta tentang budaya perayaan sedekah bumi. Hasil temuan menunjukkan bahwa sedekah bumi menjadi perayaan adat sebagai wujud rasa syukur masyarakat Dusun Cisampih kepada Pencipta bumi karena mereka tinggal di bumi dengan anugerah-Nya. Mereka sangat bergantung kepada bumi untuk bercocok tanam, mendapatkan makanan dan minuman, serta melakukan aktifitas lainnya. Karena itu mereka merasa perlu melakukan sedekah bumi sebagai bentuk rasa terima kasih mereka kepada bumi. Selain itu, sedekah bumi juga sebagai bentuk rasa syukur atas keselamatan dan rezeki yang diterima masyarakat dan diyakini dapat mendatangkan keselamatan bagi sawah dan ladang mereka agar hasilnya melimpah. Dalam perspektif Islam, pelaksanaan upacara sedekah bumi ini ada yang bertentangan.
Kontribusi “Pemmali” Tanah Bugis bagi Pembentukan Akhlak Muhammah Rusli; Rakhmawati Rakhmawati
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.113 KB) | DOI: 10.18860/el.v15i1.2670

Abstract

Pemmali culture has firmly staked in Bugis cultural traditions through speech and is believed to shape children’s morals to anticipate the negative effect of the surroundings. Parents introduced pemmali to their children from an early age before they get formal education. Selection of appropriate phrases or sentences easily understood by younger children is the key for parenting success in transmitting noble values. An easy word, for instance, ulcers, worms, bad luck, insurgent, hit by something or kidnapped by demon, lack of sustenance, orphaned, struck by lightning, do not get a mate, and the other can affect children’s way of thinking so that they accept their parent’s advice. The consequence of pemmali is very effective in influencing the thinking and behavior of Bugis children to adulthood. Pemmali reflects noble values inherited from generation to generation. It contains the value of prudence warns for the children to act, customary manners in daily life; appreciating parents, teachers, and human beings; managing time, building mental and physical health and creativity of the children, and others. The concept of pemmali is a main choice for Bugis parents to anticipate the negative effects of globalization era. It expresses the local values as part of national culture. Budaya pemmali telah mengakar dalam tradisi suku Bugis melalui budaya tutur dan diyakini mampu membentuk akhlak anak serta mengantisipasi pengaruh negatif lingkungannya. Pemmali diperkenalkan orang tua Bugis kepada anak-anaknya sejak dini sebelum mereka mengenal dunia pendidikan formal. Pemilihan kata atau kalimat yang pas dan mudah dipahami anak usia dini merupakan kunci kesuksesan orang tua Bugis dalam mewariskan nilai-nilai luhur dan akhlak yang baik kepada anak-anaknya. Kata bisulan, cacingan, celaka, durhaka, ditabrak atau diculik setan, kurang rezeki, orang tua meninggal, disambar petir, tidak mendapatkan jodoh, dan lainnya merupakan kata yangmudah mempengaruhi cara berpikir mereka sehingga mau menerima nasehat orang tuanya. Konsekuensi pemmali sangat efektif mempengaruhi cara berpikir dan perilaku anak Bugis sampai dewasa. Sebagai budaya, pemmali syarat akan nilai-nilai luhur yang diwariskan secara turun temurun. Di dalamnya terkandung nilai kehati-hatian bagi anak dalam bertindak, adat sopan santun dalam menjalani kehidupan sehari-hari; penghargaan kepada orang tua, guru, dan sesama manusia; manajemen waktu, membangun kesehatan mental, fisik dan kreatifitas anak, dan lainnya. Kini konsep pemmali menjadi pilihan utama orang tua Bugis dalam mengantisipasi derasnya pengaruh negatif era globalisasi pada anaknya. Ini merupakan ekspresi kearifan lokal sebagai bagian budaya nasional.
Dialektika Agama dan Budaya dalam Tradisi Selamatan Pernikahan Adat Jawa di Ngajum, Malang Roibin Roibin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.983 KB) | DOI: 10.18860/el.v15i1.2671

Abstract

Empirical analysis on the religion and culture dialectics in the selamatan ritual of Javanese wedding has not been explored by teologist, social scientist or religion anthropologist. Their studies on such a case mostly concern with ontological-philological text analysis not directly related with the religious tradition and socio-culture which is more dynamic and realistic. This study employs social definition paradigm and phenomenological theory approach limited to the dialectic pattern between religion and myth in the ritual selamatan of Javanese wedding. The data were collected though interviewing and observing religious leaders, ethnic leaders, and Muslim preacher in Ngajum, Malang. The study found two models of dialectic pattern namely theological-compromistic and theological-humanistic. The earlier describes the theological shift from emotional-naturalistic to rational-formalistic. The later describes the theological shift from personal to social awareness theology. Telaah empirik seputar pola dialektika antara agama dan budaya dalam kasus ritual selamatan pernikahan adat Jawa, belum banyak dilakukan oleh para pakar agama, ilmuan sosial, maupun ilmuan antropolog agama. Kajian mereka terhadap kasus ini pada umumnya masih menekankan pada objek pembacaan teks secara ontologis-filologis, yang tidak bersinggungan secara langsung terhadap tradisi keagamaan dan budaya masyarakat yang lebih dinamis dan realistis. Penelitian ini menggunakan paradigma definisi sosial dan pendekatan teori fenomenologis, yang dibatasi pada pola dialektika antara agama dan mitos dalam kasus ritual selamatan pernikahan adat Jawa. Data diperoleh dengan cara menginterview dan mengobservasi para tokoh agama, tokoh adat, dan para da’i yang ada di Ngajum, Malang. Penelitian ini menemukan dua model yaitu pola dialektika teologis-kompromistik dan pola dialektika teologis-humanistik. Pola dialektika pertama, menggambarkan pergeseran teologis, dari teologi yang bersifat emosional-naturalistik menuju teologi yang bersifat rasional-formalistik. Adapun pola teologis-humanistik menggambarkan adanya pergeseran teologi yang bersifat personal menuju teologi yang berkesadaran sosial.
Studi Privasi dan Aksesibilitas Rumah Hunian Pondokan Mahasiswa Ditinjau dari Nilai-Nilai As Sunnah Nunik Junara; Tarranita Kusumadewi
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1132.33 KB) | DOI: 10.18860/el.v15i1.2672

Abstract

The existence of boarding house, the process of acculturation and values shift in residence, affect the physical and non-physical condition of the home and its surroundings. Similarly, shifting occurs in the private-public space caused by the interaction between the occupants. In a pluralistic Muslim society, the Islamic values influence the process of shifting the public-private space. Accessibility becomes the main concern in the shift pattern as a consequence of the limited land and increasing space demand. There are two shift patterns, physical shift indicating a change in the function space, and non-physical shift involving a sense of space for those interact in it. Sunnah values are employed to see the aspects are considered in home, especially on privacy and interaction. It used descriptive method through collecting detailed information that depicts the existing symptoms, identifying, making comparisons or evaluations and determining what is done to establish a plan or decision. The result of this study is the suggested design that can synergize with the activities occuring within it. Keberadaan rumah pondokan mahasiswa, terjadinya proses akulturasi budaya dan pergeseran nilai-nilai dalam rumah hunian, mempengaruhi kondisi fisik dan non fisik rumah dan lingkungannya. Begitu pula terjadinya pergeseran ruang privat-publik pada rumah hunian yang disebabkan interaksi antara pemilik rumah dengan penghuni pondokannya. Dalam lingkungan masyarakat muslim yang majemuk terdapat nilai-nilai Islam yang mempengaruhi terjadinya proses pergeseran ruang privat-publik tersebut. Aksesibilitas merupakan hal utama yang harus diperhatikan pada pola pergeseran ruang sebagai konsekuensi sempitnya lahan dan bertambahnya kebutuhan ruang. Terdapat dua pola pergeseran ruang, pertama secara fisik yang mengindikasikan perubahan fungsi ruang, dan kedua secara non fisik, yang melibatkan rasa ruang dari pelaku-pelaku yang berinteraksi didalamnya. Nilai-nilai as Sunnah digunakan untuk mengkaji aspek-aspek yang dipertimbangkan dalam rumah tinggal terutama privasi dan interaksi. Adapun metode yang digunakan adalah deskriptif, dengan mengumpulkan informasi aktual secara rinci yang menggambarkan gejala-gejala yang ada, mengidentifikasi, membuat perbandingan atau evaluasi dan menentukan apa-apa yang dilakukan untuk menetapkan rencana atau keputusan. Hasil dari kajian ini berupa saran rancangan yang dapat bersinergi dengan aktivitas yang terjadi di dalamnya.
Tradisi Wuku Taun sebagai Bentuk Integrasi Agama Islam dengan Budaya Sundah pada Masyarakat Adat Cikondang Deni Miharja
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.153 KB) | DOI: 10.18860/el.v15i1.2673

Abstract

This article write starts from some phenomena of the relation between religions and local cultures. Such relation is interesting to do research that interpretations of the relation between religion and local cultures to certain societies are various. The interaction between Islam and local cultures also undergoes variuos form of relation. Variety of the form of relation between Islam and local cultures in a society depends upon their understanding and interpretation of Islamic teachings itself. One of the forms of relation between Islam and local cultures can be found in traditional society of Cikondang. The form of relation between Islam and local cultures was occurred in traditional society in Cikondang tends to be the form of integration wich certain pattern. Therefore, the focus of this writer article is to describe relation between Islam and Sundanese cultures in form of integration with wuku taun. Based on data of research the tradisional society of Cikondang represents the part of Sundanese society in wich all of them are muslims. This goes hand in hand with the statement that Islam is Sunda and Sunda is Islam. Sundanese people are Muslims before Islam comes to Sundanese society. Artikel ini berangkat dari fenomena hubungan agama dengan budaya lokal. Dimana hubungan agama dengan budaya lokal pada suatu masyarakat, mengalami bentuk hubungan yang beragam. Begitu pun hubungan agama Islam dengan budaya lokal mengalami bentuk hubungan yang beragam pula. Beragamnya bentuk hubungan agama Islam dengan budaya lokal pada suatu masyarakat tergantung dari penghayatan terhadap ajaran Islam itu sendiri. Bentuk hubungan agama Islam dengan budaya lokal bisa ditemukan salah satunya pada masyarakat adat Cikondang. Bentuk hubungan yang terjadi antara Islam dengan budaya Sunda pada masyarakat adat Cikondang cenderung dalam bentuk integrasi dengan pola tertentu, sehingga fokus penulisan artikel ini adalah untuk mengungkap hubungan agama Islam dengan budaya Sunda dalam bentuk integrasi melalui tradisi wuku taun. Berdasarkan data yang diperoleh, masyarakat Cikondang merepresentasikan sebagian masyarakat Sunda yang seluruhnya beragama Islam. Hal ini tentu sejalan dengan beberapa pernyataan yang menyebutkan Islam itu Sunda dan Sunda itu Islam, orang Sunda sudah Islam sebelum Islam
Akulturasi Budaya Islam dan Jawa: Ruang Komunal pada Budaya Nyadran Dukuh Krajan, Desa Kromengan, Kabupaten Malang Sri Winarni; Galih Widjil Pangarsa; Antariksa Antariksa; Lisa Dwi Wulandari
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.339 KB) | DOI: 10.18860/el.v15i1.2674

Abstract

Javanese and Islamic acculturations adhere to the people living at Dukuh Krajan. Javanese social and cultural aspects affect the spirit of Islamic activities. This is obvious by the use of Javanese/Islamic calendar system in every ritual. Yet, the high value of togetherness and communality is decreasing. This change will result in abandoning culture and growing social problem. It also influences the change of common space in the neighborhood. Therefore, it needs exploration on communal space established through Nyadran ritual. The purpose is to maintain the existence of the communal space as well as to develop togetherness and communality for the next generation. The study employs qualitative design with rationalistic approach. The data were collected through observation and interview. The communal space is formed by the activity, the physical area, the doers and the ritual time. The use of communal space in Nyadran ritual reflects togetherness and mutual cooperation value established as the result of the sense of care and the social awareness to share spaces for public interest. Akulturasi budaya Islam dan Jawa masih melekat pada kehidupan masyarakat Dukuh Krajan. Kegiatan Islam suasananya dipengaruhi oleh aspek budaya dan sosial Jawa. Tergambar jelas pada pemakaian kalender Jawa/Islam pada setiap kegiatan budaya. Namun, nilai-nilai kebersamaan dan kegotongroyangan dalam kegiatan sosial budaya saat ini semakin berkurang. Perubahan ini akan berpengaruh terhadap beberapa budaya setempat yang tersisihkan, dan masalah-masalah sosial yang mulai berkembang. Dampaknya akan berpengaruh juga terhadap perubahan ruang-ruang komunal di lingkungan pedesaan. Untuk itu perlu diteliti lebih detail tentang ruang komunal yang terbentuk, khususnya pada runtutan kegiatan budaya nyadran. Tujuannya agar ruang komunal yang terbentuk pada tradisi nyadran eksistensinya tetap ada dan terjaga dengan baik serta dapat bermanfaat dalam menumbuhkan dan mengembangkan rasa kebersamaan dan kegotongroyongan pada generasi berikutnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan rasionalistik dengan data dari observasi lapangan dan wawancara. Pembentukan ruang komunal dipengaruhi aktivitas itu sendiri, fisik ruang, pelaku dan waktu kegiatan itu berlangsung. Penggunaan ruang komunal pada kegiatan budaya nyadran mempunyai makna kebersamaan dan keguyuban, yang terbentuk dari kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan, serta kesadaran masyarakat dalam memberikan sebagian ruang miliknya yang bermanfaat untuk kepentingan umum.
Tradisi Pohulo’o Gorontalo dalam Tinjauan Fiqh Sofhian Sofhian; Asna Usman Dilo
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.773 KB) | DOI: 10.18860/el.v15i1.2675

Abstract

This research describe pohulo’o tradition (pawning) in Gorontalo society that related with the pawn concepth in Islam. Pohulo’o (pawning) system is relationship of law between somebody with land other possession, who accepth pawning money from him. As long as pawning money return yet, the land dominated by hold on pawning. While pawning in Islam or rahn is hold out one of property of borrower as guarantee on loan that he accepth. Based on the result of research showed that there are two kinds of pawning in pohulo’o tradition. First, gave guarantee goods like land or plants like coconut tree with prerequirment (a) return loan money after fall of time, (b) not return loan money after fall of time or in term Gorontalo society is pajaki. Second, without gave guarantee goods like land or plants like coconut tree, but who gave loan accepth 1/3 result of harvest as long as pawning time or back again money loan. The relevance with fiqh rahn view that from law, there are simillary in requirment and contract while the differenciate at used of land, property as pawning then the risk of pohulo’o. Penelitian ini menggambarkan tradisi pohulo’o (gadai) pada masyarakat Gorontalo yang dikaitkan dengan konsep gadai dalam Islam. Sistem pahulo’o (gadai) adalah hubungan hukum antara seseorang dengan tanah milik orang lain, yang telah menerima uang gadai darinya. Selama uang gadai belum dikembalikan, tanah tersebut dikuasai oleh “pemegang gadai” . Sedangkan gadai dalam Islam atau rahn yaitu penahanan harta salah satu milik peminjam sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 2 jenis gadai dalam tradisi pohulo’o. Pertama, menyerahkan barang jaminan berupa lahan atau tanaman seperti pohon kelapa dengan ketentuan mengembalikan uang yang dipinjam setelah jatuh tempo dan tidak mengembalikan uang setelah jatuh tempo atau yang dikenal masyarakat Gorontalo dengan istilah pajaki. Kedua, tidak menyerahkan barang jaminan berupa lahan atau tanaman seperti pohon kelapa, tetapi pemberi pinjaman mendapat 1/3 hasil panen sepanjang kontrak gadai berlangsung atau sampai pinjamannya dikembalikan. Relevansinya dengan fiqh rahn Islam yakni dari segi hukum ada kesamaan dalam hal syarat dan akad sedangkan perbedaanya pada pemanfaatan lahan, harta yang digadaikan serta risiko yang timbul akibat praktek pohulo’o.
Tradisi Sastra Dikili dalam Pelaksanaan Upacara Adat Maulidan di Gorontalo Moh. Karmin Baruadi
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.179 KB) | DOI: 10.18860/el.v16i1.2760

Abstract

This article intent to reveal extent dikili's activity performing that terminological custom tradition/Gorontalo's culture. Assessment did by sosio-cultural's approaching passes through search empirik's literature and watch to its performing at any given custom scene about dikili  that. Study result points out that matter-of-fact social and tribal society culture Gorontalo places dikili as something that important and contains religious point in manage society life behaviour. Islamic aesthetical norms constitute translations symbolically to trusts and grasps to God that most formula deep mirror recitation. Assess dominant Islamic teaching obeyed by that Gorontalo's islamic community constitute basis source that bear artistry as modikili. Such thing this is too causative Gorontalo's society really price traditions especially that gets islami's nuance that all along maintained regular and is kept up. That islami's point was braced motto thru or slogan that becomes Gorontalo's culture reflection that identic with islam which is ‘ adati hula hula’a. to sara’a., sara’a. hula hula’a. to kuru’ani ’ or custom based on al Quran (kitab Allah). Artikel ini bertujuan mengungkapkan pelaksanaan kegiatan dikili atau maulud Nabi menurut tradisi Gorontalo. Pengkajian dilakukan dengan pendekatan sosio-kultural melalui penelusuran literatur dan pengamatan empirik terhadap setiap peristiwa adat terkait dikili. Hasil kajian menunjukan bahwa berdasarkan kenyataan, sosial dan budaya masyarakat suku Gorontalo menempatkan dikili sebagai sesuatu yang penting dan mengandung nilai-nilai religius dalam mengatur perilaku hidup masyarakat. Norma-norma keindahan Islam merupakan penerjemahan secara simbolis terhadap kepercayaan dan pemahaman kepada Tuhan yang tercermin dalam formula zikir. Nilai-nilai ajaran Islam yang dominan dipatuhi oleh masyarakat Islam Gorontalo tersebut merupakan sumber acuan yang melahirkan kesenian seperti modikili. Hal inilah yang menyebabkan masyarakat Gorontalo sangat menghargai tradisitradisi terutama yang bernuansa islami yang selamanya tetap dilestarikan. Nilai-nilai Islami tersebut telah dikukuhkan melalui semboyan yang menjadi cerminan budaya Gorontalo yang identik dengan Islam yaitu ‘adati hula-hula’a to sara’a, sara’a hula-hula’a to kuru’ani’ atau adat bersendi syarak dan syarak bersendi al Quran
Spiritualisme Ratu Kalinyamat: Kontroversi Tapa Wuda Sinjang Rambut Kanjeng Ratu di Jepara Jawa Tengah Nur Said
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.495 KB) | DOI: 10.18860/el.v15i2.2761

Abstract

In Javanese tradition, patriarchal culture is hold strongly though it cannot be generalized as a necessity. The emergence of Queen Kalinyamat as the representation of Javanese woman apparently indicates a contrary to the mainstream Javanese tradition. This article is a semiotical analysis on the spiritualism of Queen Kalinyamat who lived in the 16th century and protested against injustice in that time. She sent the military forces to Malacca to repel the Portuguese so that she was known as a wealthy and very powerful woman. Meanwhile, when her husband and brother were killed by Arya Penangsang, she also demanded justice by living as a naked ascetic (tapa wuda sinjang rambut) which resulted in multiple spiritual interpretations for grass root society. This is mostly interpreted as the spirit of sex drive, but the sufis interpreted it as meaningful metaphor to leave all sorts of worldly power material and position, then it is symbolized by the Arabic letter of Alif. Naked in this case is as a symbol of self-emptying and then filled with repentance, love and taqorrub to God. Queen Kalinyamat’s spiritualism counters the Javanese tradition toward different perspective reflecting eco-feminism trend in post-colonial era. Dalam tradisi Jawa, budaya patriarki masih sangat kuat meskipun tidak bisa digeneralisasi sebagai suatu keniscayaan. Munculnya Ratu Kalinyamat sebagai representasi perempuan di Jawa, ternyata menunjukkan kondisi bertentangan dengan tradisi Jawa secara umum. Artikel ini melalui analisis semiotik membahas spiritualisme Ratu Kalinyamat di Jepara, Jawa Tengah yang hidup di abad ke16 dan berani protes terhadap ketidakadilan pada waktu itu. Dia mengirimkan armada pasukan militer ke Malaka untuk mengusir penjajah Portugis hingga dikenal sebagai wanita kaya dan sangat kuat. Sementara itu, ketika suami dan kakaknya dibunuh Arya Penangsang, dia juga menuntut keadilan dengan bertapa telanjang (tapa wuda sinjang rambut) yang telah melahirkan multi-makna spiritual di masyarakat akar rumput. Meskipun sebagian memaknainya sebagai semangat gairah seksual, kalangan sufistik memandangnya sebagai perilaku simbolik yang bermakna meninggalkan segala macam kekuasaan duniawi baik material dan jabatan sehingga dilambangkan dengan huruf Arab Alif. Telanjang dalam hal ini sebagai simbol pengosongan diri dan kemudian diisi dengan pertobatan, kasih dan taqorrub kepada Allah. Spiritualisme Ratu Kalinyamat menentang tradisi Jawa yang cenderung patriarki menuju perspektif yang berbeda yang mencerminkan trend ecofeminisme di era poskolonial
Masjid di Papua Barat: Tinjauan Ekspresi Keberagamaan Minoritas Muslim dalam Arsitektur Ismail Suardi Wekke
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.411 KB) | DOI: 10.18860/el.v15i2.2762

Abstract

For Muslim, mosque has unique role and its special function in daily life. Five times a day, mosques carry out prayer as compulsory activities. This study explores mosques in West Papua Province where Muslim is as minority. It employs qualitative approach and used in-depth interview and non-participant observation to collect data. The findings show that there are three mosque major components; wudhu area, praying hall, and mimbar. In mosque as a center of activity in the region, the board provided some facilities to be used by either Muslim or others. Mosques embedded with various arts from many traditional roots. Patterns and symmetries were used to enhance art in wall of mosque. On the other hand, the minority condition gives them opportunity to present architecture design to engage with other community. Building styles and type reflect the multicultural characteristics as identity through built environment representing their culture within the local community. Muslim minority tries to extend their mosque not only as praying place but also as a society facility. Bagi muslim, masjid berperan unik dan memiliki fungsi dalam kehidupan keseharian. Lima kali sehari di masjid dilangsungkan shalat sebagai aktivitas wajib. Penelitian ini mengeksplorasi masjid-masjid di Propinsi Papua Barat dimana umat Islam sebagai minoritas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan observasi nonpartisipasi. Penelitian ini menunjukkan tiga komponen utama dalam masjid; tempat wudhu, ruang shalat, dan mimbar. Di masjid yang menjadi pusat akitivitas di daerah tertentu, pengurusnya menyediakan beberapa fasilitas yang dapat digunakan umat Islam maupun umat lain. Masjid dihias dengan keragaman seni dari pelbagai akar tradisi. Pola dan simetris digunakan untuk memperkaya seni di dinding masjid. Di sisi lain, kondisi minoritas memberikan kesempatan kepada umat Islam untuk menghadirkan desain arsitektur yang tetap memperhatikan kepentingan komunitas lain. Gaya dan tipe bangunan mencerminkan karakteristik multikultural sebagai identitas melalui lingkungan bangunan yang mencerminkan budaya mereka diantara komunitas lokal. Masyarakat minoritas muslim berupaya menjadikan masjid tidak saja sebagai tempat shalat tetapi juga sebagai pusat kegiatan masyarakat.

Page 8 of 79 | Total Record : 789


Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH E-Harakah (Vol 14, No 2 Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 13, No 1 Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 12, No 3 el-Harakah (Vol 12, No 2 el-Harakah (Vol 12, No 1 Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 11, No 2 el-Harakah (Vol 11, No 1 Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 2 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 1 (2007): EL HARAKAH Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH More Issue