cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
elharakahjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam
ISSN : 18584357     EISSN : 23561734     DOI : -
Core Subject : Health,
EL HARAKAH (ISSN 1858-4357 and E-ISSN 2356-1734) is peer-reviewed journal published biannually by Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) of Malang. The journal is accredited based on the decree No. 36a E. KPT 2016 on 23 May 2016 by the Directorate General of Higher Education of Indonesia, for the period August 2016 to August 2021 (SINTA 2). The journal emphasizes on aspects related to Islamic Culture in Indonesia and Southeast Asia. We welcome contributions from scholars in the field, papers maybe written in Bahasa Indonesia, English, or Arabic.
Arjuna Subject : -
Articles 789 Documents
Politik Islam Mongolia: Mencermati Strategi Ekspansi Timur Lenk Masruri, M. Hadi
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v0i0.2016

Abstract

This paper discusses Timur Lenk who is ambitious to dominate the world through the founding of the great Mongol Empire as a mission ever launched by the grandchildren of Genghis Khan and Hulagu Khan. Timur Lenk himself continued the tradition of the Mongolian invasion force that is not forcing religion or spiritual practices to a conquered nation; they even build the conquest countries with the principle of regionalism. Even, in the end, the King of Mongolia turned to Islam, including Timur Lenk himself at the end of the 13th century and early 14th century. Then Mongolism Ideology becomes a major platform in conquering the entire countries with the royal and military strength. There are two basic frameworks of the Mongolian nation in its military power expansion, as the one done by Timur Lenk: first, the geneolis theory: the world hegemony to perpetuate the Mongol Empire using military force and running the ancient absolutism politic believing that the greater authority of the ruler could result on achieving peace and security. Second, attack and defend theory: rebuilding a country that has been destroyed with luxurious infrastructures like an extraordinary magnificent palace, developing science, history, Sufism and then try to defend them.Pada dasarnya makalah ini membincang sepak terjang Timur Lenk yang berambisi menguasai dunia lewat pendirian Imperium Mongol Raya sebagaimana misi yang pernah dicanangkan oleh buyutnya Jenghis Khan dan Hulagu Khan. Timur Lenk sendiri tetap melanjutkan tradisi invasi bangsa Mongolia yaitu tidak memaksakan agama ataupun praktek spiritualitasnya terhadap bangsa yang ditaklukkannya, justru mereka membangun negeri taklukannya dengan prinsip kedaerahan. Bahkan pada akhirnya Raja Mongolia yang berbalik memeluk agama Islam termasuk Timur Lenk sendiri pada akhir abad ke-13 dan awal abad ke-14. Kemudian Ideologi Mongolisme menjadi platform utama dalam menaklukkan seluruh negara dengan kekuatan kerajaan dan militer. Ada dua kerangka dasar bangsa Mongolia dalam menancapkan kekuasaan militernya, seperti yang dilakukan oleh Timur Lenk yaitu: pertama, teori geneolis: hegemoni dunia untuk melanggengkan Imperium Mongol Raya dengan garis komando kekuatan militer dan menjalankan politik absolutisme kuno yakni percaya bahwa semakin besar kekuasaan penguasa maka peluang perdamaian dan keamanan akan tercapai. Kedua, teori attack and defend: membangun kembali negara yang telah dihancurkannya dengan infrastuktur yang luar biasa seperti istana megah, pengembangan ilmu pengetahuan, sejarah, dan tasawuf lalu berusaha mempertahankannya
Naturalitas Islamisasi Ilmu Pengetahuan di Lembaga Pendidikan Islam Andarwati, Andarwati
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v4i2.4638

Abstract

The emergence of the concept of Islamization of science has invited much attention from various social circles, including those from Islamic educational institutions. Basically education aims to lift human dignity through a process in the form of transfer of knowledge and transfer of values. Al Faruqi demonstrates the demands of competence complexity in order to meet the criteria of educational standards of eligibility in the Islamization of science. It was concluded that for Islamic educational institution, Islamization of science is a requirement because the substance of learning is expected to produce human with intellectual and moral quality. This will be a preventative effort against intellectual bias. The formulation of the substance and practice of education based on Islamization of science is a potential challenge as it requires multi-capable and multi-skill educators. All of them have to rely on the elements of aqidah and tawhid derived from Al Quran and Hadith. In addition, educators are expected to combine those elements integrally and holistically. Munculnya konsep Islamisasi ilmu pengetahuan telah mengundang banyak perhatian dari berbagai kalangan sosial, termasuk dari kelompok praktikan lembaga pendidikan Islam. Pada dasarnya pendidikan bertujuan untuk mengangkat harkat dan martabat manusia melalui suatu proses dalam bentuk transfer pengetahuan dan transfer nilai. Al Faruqi menunjukkan adanya tuntutan kompleksitas kompetensi untuk dapat memenuhi kriteria standar kelayakan pendidik dalam Islamisasi ilmu pengetahuan. Disimpulkan bahwa bagi lembaga pendidikan Islam, Islamisasi ilmu pengetahuan adalah suatu kebutuhan karena dari substansi pembelajarannya diharapkan dapat mencetak manusia yang memiliki kualitas intelektual dan moral. Ini akan menjadi upaya preventif terhadap bias intelektual. Perumusan substansi dan praktek pendidikan berbasis Islamisasi ilmu pengetahuan ini menjadu suatu tantangan yang potensial karena menuntut pendidik memliki multi kapabilitas dan multi skill. Kesemuanya harus bertumpu pada unsur-unsur akidah dan tauhid yang bersumber dari Al Quran dan Hadits. Selain itu pendidik diharapkan mampu memadukan unsur-unsut tersebut secara integral dan holistik. 
Kekerasan terhadap Perempuan dalam Bahasa dan Media Rahardjo, Mudjia
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v3i1.4681

Abstract

Language and media are accused of being an effective tool for perpetuating the dominance of men over women through word and image. This paper reviews how language uses words that deliberately 'marginalize' women. While the media continues to contain images and events that also discredit and degrade women's dignity. Because of the many perspectives on violence, this article will only understand violence according to the Galtung perspective. Because, as known Johan Galtung is a sociologist who devoted his attention to violence as a social phenomenon two decades past. Injustice and inequality due to social gender either through language with the harsh and degrading selection of words and degrading women's dignity or through the media that shows women as sex objects and commodities shows that violence will continue. Because, in addition to the media have the authority as the holder of the news an event, women themselves attitudes justify, underline and accept the myth of male domination of women. If people think women are not as smart as men, they tend to accept because they accept the authority of society. Bahasa dan media dituding sebagai alat yang efektif untuk mengekalkan dominasi laki-laki atas perempuan melalui kata maupun gambar. Tulisan ini mengulas bagaimana bahasa menggunakan kata yang dengan sengaja ‘meminggirkan’ kaum perempuan. Sedangkan media terus menerus memuat gambar dan peristiwa yang juga memojokkan dan merendahkan martabat kaum perempuan. Karena banyaknya perspektif tentang kekerasan, tulisan ini hanya akan memahami kekerasan menurut perspektif Galtung. Sebab, sebagaimana diketahui Johan Galtung merupakan sosiolog yang mencurahkan perhatiannya pada kekerasan sebagai fenomena sosial dua dasa warsa terakhir. Ketidakadilan dan ketidak setaraan akibat jenis kelamin sosial baik melalui bahasa dengan pemilihan kata-kata yang kasar dan merendahkan martabat perempuan maupun melalui media yang menayangkan perempuan sebagai obyek dan komoditas seks menunjukkan bahwa kekerasan masih akan terus berlangsung. Sebab, selain media memiliki otoritas sebagai pemegang pemberitaan sebuah peristiwa, perempuan sendiri sikapnya ikut membenarkan, menggarisbawahi dan menerima saja mitos dominasi laki-laki atas perempuan. Kalau masyarakat menilai perempuan tidak sepintar laki-laki, mereka cenderung menerima karena mereka menerima otoritas masyarakat.
Perspektif Keberhasilan Pendidikan Tinggi: Ikhtiar Mencari Strategi Untuk Pengembangan Pendidikan Tinggi Islam Baharuddin, Baharuddin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v2i1.4739

Abstract

The selection of universities still seems to be a problematic issue. Because until now, the variables to measure whether higher education institutions, especially PTI, are successful and reliable as a vehicle and means to foster and simulate their next generation is still and will remain questionable extension. Especially when the issue of "educated unemployment" becomes the focus of more parties, doubts about the extension of college are becoming increasingly sharp. An educational institution, especially higher education, is said to be successful or does not need to be viewed from various points of view; input (students), output (achievement), organizational processes and external components (parents and community). All of these components in successful educational institutions must be able to be achieved and implemented properly and able to establish cooperation in a constructive, intense and professional. Building a successful higher education is not an easy and easy job. Continuous effort in actualizing these ideals should not stop without seeing a satisfactory success. Pemilihan perguruan tinggi tampaknya masih menjadi semacam persoalan yang masih sangat problematis. Karena sampai saat ini, variabel untuk mengukur apakah lembaga pendidikan tinggi, lebih-lebih PTI, itu berhasil dan bisa diandalkan sebagai wahana dan sarana untuk memupuk sekaligus mengkader generasi penerusnya masih terus dan akan tetap dipertanyakan ekstensinya. Lebih-lebih ketika isu "pengangguran terdidik" menjadi sorotan lebih banyak pihak, keraguan terhadap ekstensi perguruan tinggi menjadi semakin tajam. Suatu Iembaga pendidikan terutama pendidikan tinggi, dikatakan berhasil atau tidak perlu dilihat dari berbagai sudut pandang; input (mahasiswa), output (pencapaian), proses organisasi dan komponen ekstemal (orang tua dan masyarakat). Semua komponen ini dalam lembaga pendidikan yang berhasil harus mampu dicapai dan dilaksanakan dengan baik dan mampu menjalin kerja sama secara konstruktif, intens dan profesional. Membangun sebuah pendidikan tinggi yang berhasil, bukanlah suatu pekerjaan yang gampang dan mudah. Usaha secara kontinuitas dalam mengaktualisasikan cita-cita tersebut tidak boleh berhenti begitu saja tanpa melihat suatu keberhasilan yang memuaskan.
Rudimental Principles of Interaction in The Holy Qur’an: Surah Al-Hujraat as Case Study Yusuf, Tajudeen; Ahmad, Aliyu Okuta
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v24i1.15120

Abstract

The way in which people interact and address one another is crucial to expressing their social relationship; it encodes the relationship between interlocutors and reflects cultural values. Proper use of words in addressing a fellow or people strengthens peaceful coexistence among individuals and groups within and outside a given cultural setting. On the contrary, the unguarded use of words has been the primary cause of conflicts and disharmony around the world. The Holy Qur'an, as a divine revelation and guide from the Almighty, advocates good social relationships through speech and encourages respect for individual differences through words. At the same time, it warns against aggressive and unhealthy language. This present study examines the principles of communication and interaction contained in Surah Al-Hujraat (Qur’an, chapter 49) as a tool for a peaceful and harmonious relationship among individuals and groups. The study adopts the qualitative content analysis approach to analyze the chapter's extracted verses. The findings of the study reveal that the chapter provides some rudimental principles of interaction that promote the language of respect, and peaceful communication among individuals and groups in the society that enhance interpersonal relationships, regardless of race, color, rank, or tribe. Cara orang berinteraksi dan menyapa satu sama lain sangat penting untuk mengekspresikan hubungan sosial mereka; itu mengkodekan hubungan antara lawan bicara dan mencerminkan nilai-nilai budaya. Penggunaan kata-kata yang tepat dalam menyapa sesama atau orang lain memperkuat koeksistensi damai di antara individu dan kelompok di dalam dan di luar lingkungan budaya tertentu. Sebaliknya, penggunaan kata-kata yang tidak dijaga telah menjadi penyebab utama konflik dan ketidakharmonisan di seluruh dunia. Al-Qur'an Suci, sebagai wahyu ilahi dan panduan dari Yang Mahakuasa, menganjurkan hubungan sosial yang baik melalui ucapan dan mendorong penghormatan terhadap perbedaan individu melalui kata-kata. Pada saat yang sama, ia memperingatkan terhadap bahasa yang agresif dan tidak sehat. Kajian ini mendalami prinsip-prinsip komunikasi dan interaksi yang terkandung dalam Surah Al-Hujraat (Al-Qur'an, bab 49) sebagai alat untuk hubungan yang damai dan harmonis antara individu dan kelompok. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis isi kualitatif untuk menganalisis ayat-ayat yang disarikan dari bab tersebut. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa surah ini memberikan beberapa prinsip dasar interaksi yang mempromosikan bahasa hormat, dan komunikasi damai antara individu dan kelompok dalam masyarakat yang meningkatkan hubungan interpersonal, terlepas dari ras, warna kulit, pangkat, atau suku.
Kepemimpinan Kepala Sekolah Berwawasan Visioner-Transformatif dalam Otonomi Pendidikan Rasmianto, Rasmianto
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v5i1.5146

Abstract

Leadership of the principal has an active role in improving the quality of education so that he is required to have good leadership skills Because good school leadership is capable and able to manage all educational resources to achieve educational goals both in terms of learning and human resource development. So that the principal is also required to be able to create a good organizational climate so that all components of the school can portray themselves together to achieve the goals and objectives of the school organization. The principal must be able to provide the role of an inspiring, inspiratory, participatory, and motivator to teachers, students and employees to create synergy to improve the institution's performance in achieving the expected goals and objectives. Kepemimpinan kepala sekolah mempunyai peran aktif dalam meningakatkan kualitas pendidikan sehingga ia diharuskan memiliki kemampuan memimpin yang baik Sebab, kepemimpinan sekolah yang baik adalah yang mampu dan dapat mengelola semua sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan baik dari sisi pembelajaran maupun pengembangan sumber daya manusia. Sehingga kepala sekolah juga dituntut untuk mampu menciptakan iklim organisasi yang baik agar semua komponen sekolah dapat memerankan diri secara bersama untuk mencapai sasaran dan tujuan organisasi sekolah.  Kepala sekolah harus mampu memberikan peran sebagai seorang insiator, inspiratosr, partisipator, dan motivator kepada guru, siswa, dan karyawan untuk sama-sama menciptakan sinergisitas untuk meningkatkan kinerja lembaga dalam mencapai tujuan dan sasaran yang diharapkan.
Analisis Likuiditas Saham Sebelum, Saat dan Sesudah Pengumuman Stoch Split Sucipto, Agus
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v8i1.4619

Abstract

Stock split announcement is one of information type published by emitent that is used to know market reaction. When stock split announcement contains information, the market reacts that is shown by the changing of stock price. This study is intended to describe the effect of stock split announcement to market reaction using event study. This approach is used to identify the reaction of the market which is an activity of trading volume and bid-ask spread of stock used to know stock liquidity. The findings show that there is no significant difference between stock trading volume activity before, during and after stock split announcement. Whereas, the period of before and after the announcement, there is a significant difference of stock trading volume activity. The finding of bid-ask spread stock shows that there is a significant difference in the period of before and after stock split announcement. But there is no significant difference in the period of before and after stock split announcement. Pengumuman pemecahan saham adalah salah satu jenis informasi yang diterbitkan oleh emiten yang digunakan untuk mengetahui reaksi pasar. Bila pengumuman pemecahan saham berisi informasi, pasar bereaksi yang ditunjukkan oleh perubahan harga saham. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan efek pengumuman pemecahan saham terhadap reaksi pasar dengan menggunakan kajian peristiwa. Pendekatan ini digunakan untuk mengidentifikasi reaksi pasar yang merupakan aktivitas volume perdagangan dan pemecahan saham yang digunakan untuk mengetahui likuiditas saham. Temuan menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara aktivitas volume perdagangan saham sebelum, selama dan setelah pengumuman pemecahan saham. Padahal, periode sebelum dan sesudah pengumuman, ada perbedaan yang signifikan dari aktivitas volume perdagangan saham. Temuan menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan pada periode sebelum dan sesudah pengumuman pemecahan saham. Namun tidak ada perbedaan yang signifikan pada periode sebelum dan sesudah pengumuman pemecahan saham.
Buruh Tani Wanita Panggilan dan Eksistensinya Menurut Adat Minangkabau Helfi, Helfi
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v17i1.3089

Abstract

Women farm workers in groups are not common in Minangkabau, especially those who earn wages once a year. The wages are used as an alternative income by allocating them as a capital for other ‘business’ in solving economic household problems. Minangkabau implement matrilineal system which respect women called as bundo kanduang. A local proverb for the system is “limpapeh rumah nan gadang, amban puruak pagangan kunci, sumarak dalam nagari”. Discussions about women have not been finished yet.  The highest reward toward women in Minangkabau custom is not well-implemented in the real life. The Minang ‘queens’ are allowed to compete in economic sector without any gender consideration. Buruh tani wanita panggilan di Minangkabau secara umum tidak lazim ada, apalagi mereka yang mendapatkan upah setahun sekali. Yang lebih menarik lagi, upah yang mereka terima kemudian dijadikan sebagai modal usaha untuk mengatasi ekonomi rumah tangga. Di Minangkabau, posisi perempuan mendapatkan tempat yang terhormat, sebagaimana yang diungkapkan dalam pepatah “bundo kanduang limpapeh rumah nan gadang, amban puruak pagangan kunci, sumarak dalam nagari”. Pembicaraan tentang perempuan hingga hari ini tidak kunjung berhenti. Penghargaan tertinggi kepada perempuan di Minangkabau secara adat tidak tercermin dalam kehidupan nyata. “Ratu-ratu” Minang ini dibiarkan berkompetisi secara bebas dalam pertarungan ekonomi yang tidak melihat jenis kelamin.
Mengangankan HAM Indonesia Berwawasan Islam Zenrif, M. Fauzan
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v2i1.5100

Abstract

Indonesian Muslims when faced with social problems, especially those related to law and justice, always involve the dualism of thought, Islam and Indonesian. When human rights issues arise, the unification of Indonesian Islam seeks to justify the problem into its shari'ah. This is normal, because Islam is believed not only guide the spirituality of the people, but also related to social rules. This paper tries to explain what Muslims can do as the majority of their beloved country's people in dealing with human rights issues. Besides, the effort to enforce the law for internal Islamic and national interests. This paper also discusses how the Islamic perspective is about this. Discussing human rights issues can not be separated from how the principle as stipulated in Islam. The substance that need to be put forward is the fulfillment of the right of life security and the right of freedom to choose religion or belief. Similarly, the right of equality and justice before the law. Therefore, it is necessary to implement the strategy of human rights by considering three priorities. First, that Islamic law is universal. Secondly, Islamic law is never retroactive. Third, that Islamic law does not impose burden except on the perpetrators. Umat Islam Indonesia apabila dihadapkan pada permasalahan-permasalahan sosial, terutama yang berkaitan dengan hukum dan peradilan, selalu melibatkan dualisme pemikiran, keislaman dan kindonesiaan. Ketika permasalahan Hak Asasi Manusia (HAM) muncul, uniat Islam Indonesia berusaha mencarikan justifikasi permasalahan tersebut ke dalam syari’atnya. Hal ini wajar-wajar saja, sebab Islam diyakini tidak sekedar mngatur spiritualitas umatnya, tetapi juga menyangkut aturan-aturan sosial. Tulisan ini mencoba menjelaskan apa yang bisa diperbuat umat Islam sebagai mayoritas masyarakat negerinya tercinta dalam menghadapi permasalahan hak asasi manusia. Selain itu dibahas upaya menegakkan hukum untuk kepentingan internal Islam dan nasional. Tulisan ini juga membahas bagaimana perspektif Islam mengenai hal ini. Membahas permasalahan HAM tidak lepas dari bagaimana prinsipnya sebagaimana diatur dalam Islam. Secara substansif yang perlu dikedepankan yaitu pemenuhan hak keamanan jiwa dan  hak kebebasan memilih agama atau keyakinan. Demikian pula hak kesamaan dan keadilan di depan hukum. Untuk itu diperlukan strategi implementasi hak asasi manusia dengan mempertimbangkan tiga prioritas. Pertama, bahwa hukum Islam bersifat universal. Kedua, bahwa hukum Islam tidak pernah berlaku  surut. Ketiga, bahwa hukum Islam tidak memberikan beban kecuali pada pelakunya.
Perspektif Implementasi Total Quality Management (TQM) pada Institusi Pendidikan Tinggi Slamet, Slamet
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v8i2.4720

Abstract

In realizing the social demand in this turbulent environment and fulfilling the social needs of higher education, the management should consider the quality of education. Therefore, this study intends to adopt the theory of Total Quality Management (TQM), which has been developed and only understood by the managers of business institutions, to be applied in higher education institutions that are responsible for improving the quality of human resources. Although the TQM concept in higher education is still in controversy, this study is expected to give contribution to the creative thought. The realization of total quality, indeed, is easier to discuss than to implement. The implementation of TQM is interesting and binding as well because it insists fundamental change and reform of the culture of traditional organization. Besides, it also insists commitment and totality that must be realized seriously. Human resources as the vital components in higher education must be paid attention and treatment as insisted by TQM requirements, that is, cross-functional cooperation, empowerment and involvement of all staffs, participative management style, availability of effective media of communication and others. Dalam mewujudkan permintaan sosial di lingkungan yang penuh gejolak ini dan memenuhi kebutuhan sosial pendidikan tinggi, manajemen harus memperhatikan kualitas pendidikan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengadopsi teori Total Quality Management (TQM), yang telah dikembangkan dan hanya dipahami oleh para pengelola lembaga bisnis, untuk diterapkan di institusi pendidikan tinggi yang bertanggung jawab atas peningkatan kualitas sumber daya manusia. Meski konsep TQM di perguruan tinggi masih dalam kontroversi, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pemikiran kreatif. Realisasi kualitas total memang lebih mudah dibahas daripada diimplementasikan. Implementasi TQM juga menarik dan mengikat karena ini menegaskan perubahan mendasar dan reformasi budaya organisasi tradisional. Selain itu, ia juga menegaskan komitmen dan totalitas yang harus diwujudkan dengan serius. Sumber daya manusia sebagai komponen vital dalam pendidikan tinggi harus diperhatikan dan diperlakukan sesuai dengan persyaratan TQM, yaitu kerjasama lintas fungsi, pemberdayaan dan keterlibatan semua staf, gaya manajemen partisipatif, tersedianya media komunikasi yang efektif dan lainnya.

Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH E-Harakah (Vol 14, No 2 Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 13, No 1 Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 12, No 3 el-Harakah (Vol 12, No 2 el-Harakah (Vol 12, No 1 Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 11, No 2 el-Harakah (Vol 11, No 1 Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 2 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 1 (2007): EL HARAKAH Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH More Issue