cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
elharakahjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam
ISSN : 18584357     EISSN : 23561734     DOI : -
Core Subject : Health,
EL HARAKAH (ISSN 1858-4357 and E-ISSN 2356-1734) is peer-reviewed journal published biannually by Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) of Malang. The journal is accredited based on the decree No. 36a E. KPT 2016 on 23 May 2016 by the Directorate General of Higher Education of Indonesia, for the period August 2016 to August 2021 (SINTA 2). The journal emphasizes on aspects related to Islamic Culture in Indonesia and Southeast Asia. We welcome contributions from scholars in the field, papers maybe written in Bahasa Indonesia, English, or Arabic.
Arjuna Subject : -
Articles 789 Documents
Pola Interaksi Harmonis antara Mitos, Sakral, dan Kearifan Lokal Masyarakat Pasuruan Fitri, Agus Zaenul
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v0i0.2198

Abstract

The charges with covered mission in terms of local wisdom such as mysticism, sacralization, Javanese and ancestor gods are exaggerated perspective. Through Anthropological studies of sacred, mythology and local wisdom is elaborated on the meaning and relevance to the public ritual actions in Pasuruan Regency with the attempt to build harmony and interaction between local culture and Islam. This study focused on the dynamical of relationship between religion and social religious culture interactions among groups in society through religious symbols system. Every religious tradition includes sacred symbols with which the person conducting a series of measures to shed beliefs in the form of ritual, reverence and servitude. Hindu communities in the mountains Pasuruan region have been driven to assimilate with Muslim population. But the religion which is embraced by the majority of the population are nominal Muslims, but confounds the Tengger and Javanese-style ritual, because the vast majority of Muslims there refused to form a more strict Islamic piety is identified with a culture that does not fit to the culture of Java, in contrast to Muslims Pasuruan in the lowlands because much dominated by the descendants of Madura, the Islamization can continue to do without having to harm the local culture, which in turn would foster against-Islam movement. Tuduhan terhadap misi terselubung dalam istilah kearifan lokal seperti mistisisme, sakralisasi, kejawen, dan sesembahan lelulur merupakan cara pandang yang berlebihan. Melalui studi Antropologi tentang sakralisasi, mitologi, dan kearifan lokal ini dipaparkan makna dan relevansinya terhadap tindakan ritual masyarakat kabupaten Pasuruan dengan upaya membangun wajah dalam harmoni dan interaksi antara budaya lokal dan Islam. Kajian ini menitikberatkan pada dinamika hubungan antara agama dan berbagai kelompok sosio religio kultural melalui interaksi antar kelompok di dalam masyarakat melalui simbol-simbol religius. Setiap tradisi keagamaan memuat simbol-simbol suci yang dengannya orang melakukan serangkaian tindakan untuk menumpahkan keyakinan dalam bentuk melakukan ritual, penghormatan dan penghambaan. Masyarakat Hindu di wilayah Pasuruan pegunungan telah terdorong untuk berasimilasi dengan penduduk muslim. Namun agama Islam yang dipeluk oleh sebagian besar penduduk adalah Islam nominal namun mencampur adukkan gaya ritual Tengger dan Kejawen, karena mayoritas Muslim di sana menolak bentuk kesalehan Islam yang lebih ketat yang diidentifikasi dengan kebudayaan yang tidak njawani, berbeda dengan muslim pasuruan di dataran rendah karena banyak didominasi oleh keturunan Madura, maka Islamisasi dapat terus dilakukan tanpa harus mencederai kebudayaan lokal yang pada akhirnya justru menyuburkan gerakan anti-Islam.
Theological Meaning of The Munggahan Ramadhan Ritual in Bandung, West Java Komarudin, Didin; Rohmah, Siti
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v24i1.16373

Abstract

Rituals are sacred religious teachings based on beliefs that will give birth to peace and blessings in the life of the believers. One of them is the Munggahan ritual which is still carried out by the people of Bandung, West Java. This study aimed to determine how the ritual process was carried out and to understand the theological meaning of the Munggahan ritual carried out by the people of Bandung. The design used in this research is descriptive method that systematically explains the facts in the field through the anthropological approach of religion. The data collection process employed observation and interview. The informants were the chairman and several members of the Bandung community. The result shows that the theological meaning of the Munggahan ritual in the month of Ramadan is a form of cleansing oneself from bad things during the past year as well as a form of expression of gratitude for what Allah has given. It also conveys the hope to be given the convenience, safety, health and to avoid bad deeds during worship during Ramadan. Ritual merupakan ajaran agama yang sakral berdasarkan kepercayaan yang akan melahirkan kedamaian dan keberkahan dalam hidup penganutnya. Salah satunya adalah ritual Munggahan yang masih dilakukan oleh masyarakat Bandung, Jawa Barat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana proses ritual itu dilakukan dan untuk memahami makna teologis dari ritual Munggahan yang dilakukan oleh masyarakat Bandung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yang menjelaskan secara sistematis fakta-fakta di lapangan melalui pendekatan antropologi agama. Proses pengumpulan data menggunakan observasi dan wawancara. Informan adalah ketua dan beberapa anggota masyarakat Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna teologis dari ritual Munggahan di bulan Ramadhan adalah sebagai bentuk pembersihan diri dari hal-hal buruk selama satu tahun terakhir sekaligus sebagai bentuk ungkapan rasa syukur atas apa yang telah diberikan oleh Allah SWT. Juga menyampaikan harapan agar diberikan kemudahan, keselamatan, kesehatan dan terhindar dari perbuatan buruk selama beribadah di bulan Ramadhan.
Menyingkap Peradaban Islam Kontemporer di Anak Benua India Asrori, Mohammad
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v0i0.438

Abstract

Civilization and culture in the arm of the continent of India had undergone the rise and fall since the colonialism era until the independence day. It can be illustrated by the domination of political map which had existed since the arrival of foreign nation, especially England until they got their indepence. The condition of Indian society at that time was full of contradiction, religion coflicts, quarrelling, robbery, various race, certain group interest dominating, and etc. From this condition, it born many great islamic political figures like Syeh Ahmad Sirhindi, Shah Waliyullah and the next generation, Sayyid Ahmad Khan and the next generation, Indian Moslem League. Which finally made India and Pakistan Independence (1947 M) and Bangladesh’s (1971M). Next, these three countries, which are the same in term of historical country have also various dynamic and sophisticated improvement of Islam. Peradaban dan budaya di benua India telah mengalami kenaikan dan penurunan sejak era penjajahan hingga hari kemerdekaan. Hal itu bisa diilustrasikan dalam dominasi peta politik yang sudah ada sejak kedatangan bangsa asing, terutama Inggris sampai mereka mendapat indepence mereka. Kondisi masyarakat India saat itu penuh dengan kontradiksi, pertentangan agama, pertengkaran, perampokan, berbagai ras, minat kelompok tertentu yang mendominasi, dan lain-lain. Dari kondisi ini, lahirlah banyak tokoh politik islam seperti Syeh Ahmad Sirhindi, Shah Waliyullah dan generasi berikutnya, Sayyid Ahmad Khan dan generasi berikutnya, Indian Muslim League. Yang akhirnya membuat Kemerdekaan India dan Pakistan (1947 M) dan Bangladesh (1971M). Selanjutnya, ketiga negara ini, yaitu Hal yang sama dalam hal negara bersejarah juga memiliki berbagai pembaharuan Islam yang dinamis dan canggih.
Menggagas Bisnis Islam dalam Perekonomian Modern Asnawi, M. Nur
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v5i1.5152

Abstract

In today's global world, the economy appears as a commander. Many economic actors do various breakthrough in developing the business world. Interestingly, at this time also, some Muslim economists are also aggressive to make breakthrough business alternatives called Islamic business is a business that is controlled by the normative values of Islamic teachings, both from the way of acquisition and the utilization. In view of Islam, in conducting business activities, although there are values of freedom, value of ownership, and similarity all there are boundaries and territories that have been determined. Fakhri (l995) said that Islamic businesses are controlled by the law of halal and haram, totally different from non-Islamic business. On the basis of secularism based on material values, non-Islamic business is not paying attention to halal and haram in realizing its business objectives. Dalam dunia global saat ini, ekonomi tampil seolah menjadi panglima. Banyak para pelaku ekonomi melakukan berbagai terosoban dalam mengembangkan dunia bisnis. Yang menarik, pada saat ini pula, beberapa ekonom muslim juga gencar melakukan terobosan bisnis altematif yang disebut bisnis Islam yaitu adalah bisnis yang dikendalikan oleh nilai-nilai normatif ajaran Islam, baik dari cara perolehannya maupun cara pendayagunaannya Dalam pandangan Islam, dalam melakukan aktivitas bisnisnya, walaupun ada nilai-nilai kebebasan, nilai kepemilikan, dan kesamaan semuanya itu ada batas dan wilayah yang sudah ditentukan. Fakhri (l995) mengatakan bahwa bisnis Islami yang dikendalikan oleh aturan halal dan haram, sama sekali beda dengan bisnis yang non islami. Dengan berlandaskan pada asas sekularisme yang bersendikan nilai-nilai material, bisnis non islami tidaklah memperhatikan halal dan haram dalam merealisasikan tujuan bisnisnya.
Mitologi Religius dan Toleransi Orang Jawa: Telaah Pemikiran Benedict Anderson Roibin, Roibin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v10i1.4600

Abstract

The national revolution has brought effects on many aspects including the changing process of Javanese syncretism and relativism into the tolerance of Javanese. Anderson argues that Javanese relativism should not be understood as the tolerance toward public differences by ignoring races, colors, and beliefs. In fact, Javanese relativism does not bring any effect on other ethical groups in Indonesia. Therefore, the idea of openness and tolerance which has been admired from Javanese value is just like chauvinism cultural terminology. Javanese cultural behavior still becomes a mystery as its practice of tolerance measured by the wish and propinquity to its culture. The term of tolerance which becomes a pride and an ideology for Javanese people, in fact, shows the opposite situation as the practices of religiousness are still measured by social hierarchy. This character is inseparable from what is called a rigid religious mythology. It, then, offers much particular morale structure with diverse forms. Revolusi nasional telah membawa dampak pada banyak aspek termasuk perubahan proses sinkretisme dan relativisme Jawa menjadi toleransi orang Jawa. Anderson berpendapat bahwa relativisme Jawa tidak boleh dipahami sebagai toleransi terhadap perbedaan publik dengan mengabaikan ras, warna, dan kepercayaan. Kenyataannya, relativisme Jawa tidak membawa dampak pada kelompok etis lain di Indonesia. Oleh karena itu, gagasan keterbukaan dan toleransi yang dikagumi dari nilai Jawa sama seperti istilah budaya chauvinisme. Perilaku budaya Jawa masih menjadi misteri karena praktik toleransinya diukur dengan harapan dan propimquity terhadap budayanya. Istilah toleransi yang menjadi sebuah kebanggaan dan ideologi bagi orang Jawa, pada kenyataannya, menunjukkan situasi yang berlawanan karena praktik religiusitas masih diukur dengan hierarki sosial. Karakter ini tak terpisahkan dari apa yang disebut mitologi religius yang kaku. Kemudian, ia menawarkan banyak struktur moral tertentu dengan beragam bentuk.
Wayang Existence in The Islamization for Traditional Javanese People Wijayanti, Kenfitria Diah
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v21i1.6279

Abstract

Wayang (puppet) is one of Javanese culture form which was originally a cult of the local religion. Wayang has a dimension of spirituality that meets cultural aesthetics. This article focuses on how wayang is used as a preaching medium in the context of the spread of Islam, especially on the Java island and the values of virtue found in wayang stories. This research is a type of library research. The data collection method used is the documentation method. The data in this study is in the form of information on the process of Islamization for traditional Javanese people; the information is from books, literature, journals, and newspapers. Meanwhile, the data analysis technique uses descriptive analysis. Through analysis of the data, the results obtained are: (1) The names of wayang characters contain Islamic philosophical meanings; (2) The wayang stories modified are packed with deep story themes containing Islamic/divine content; (3) The wayang stories had been modified by Walisanga include virtue religious values, leadership values, and human or social values. Wayang merupakan salah satu wujud budaya masyarakat Jawa yang pada mulanya merupakan pemujaan agama lokal. Wayang memiliki dimensi spiritualitas yang bertemu dengan estetika budaya. Artikel ini memfokuskan pada bagaimana wayang digunakan sebagai media dakwah dalam rangka penyebaran agama Islam khususnya di pulau Jawa dan nilai-nilai keutamaan yang terdapat dalam cerita wayang. Penelitian ini merupakan jenis penelitian pustaka. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode dokumentasi. Data dalam penelitian ini berwujud informasi proses islamisasi masyarakat tradisional Jawa yang berasal dari buku, literatur, jurnal, dan surat kabar. Sementara itu, teknik analisis data menggunakan deskriptif analisis. Melalui analisis data tersebut, diperoleh hasil berupa: (1) Nama-nama tokoh pewayangan mengandung makna filosofis islami; (2) Cerita pewayangan mengalami modifikasi dikemas dengan tema cerita lebet yang memuat konten islami/ketuhanan; (3) Cerita pewayangan yang dimodifikasi para walisanga mengandung nilai keutamaan, yakni: nilai religius, nilai kepemimpinan, dan nilai kemanusiaan atau sosial.
Kepercayaan kepada Kekuatan Gaib dalam Mantra Masyarakat Muslim Banten Humaeni, Ayatullah
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v16i1.2769

Abstract

This article discusses various forms, functions, and meanings of mantra (magical formula) of Bantenese. How Bantenese understands mantra, what kinds of mantra used, and how Bantenese make use of various kinds of mantra in their life become three main focuses. It is the result of a field research using ethnographic method with the descriptive qualitative design based on anthropological perspective. To analyze the data, structural-functional approach is employed. Library research, participant-observation, and in depth interview are used to collect the data. The mantra tradition in Banten is a part of verbal folklore. Mantra is a tribal sacred prayer containing supernatural powers. The Bantenese mantra is a cultural product of the syncretic elements between local belief and religious traditions. For Bantenese, mantra is one of  oral tradition treasures integrated to other cultural treasures. Its existence is still needed by Bantenese up to the present. In certain cases, the tradition of Bantenese mantra is an alternative of the traditional social institution when the formal institution is no longer able to accommodate their interests and practical needs. The use mantra for various purposes becomes a portrait of the pragmatical life style of Bantenese who still believe in magical powers. Artikel ini mengkaji berbagai bentuk, fungsi dan makna mantra pada masyarakat Banten. Bagaimana masyarakat Banten memaknai mantra, jenis mantra apa saja yang digunakan oleh masyarakat Banten, dan bagaimana masyarakat Banten memanfaatkan mantra dalam kehidupan mereka menjadi tiga fokus utama dalam artikel ini. Tulisan ini merupakan hasil penelitian lapangan dengan menggunakan metode ethnografi yang bersifat deskriptif kualitatif dengan pendekatan antropologis. Dalam menganalisa data, peneliti menggunakan pendekatan fungsional-struktural. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah kajian pustaka, observasi, dan wawancara mendalam. Tradisi mantra di Banten merupakan bagian dari tradisi lisan. Mantra merupakan do’a sakral kesukuan yang mengandung kekuatan gaib. Mantra Banten ini merupakan produk budaya yang bersifat sinkretik antara kepercayaan lokal dan tradisi agama. Bagi orang Banten, mantra merupakan salah satu khazanah tradisi lisan yang integral dengan khazanah budaya lainnya. Eksistensinya masih dibutuhkan oleh masyarakat Banten sampai saat ini. Dalam batas tertentu, tradisi mantra Banten merupakan alternatif pranata sosial tradisional ketika pranata formal tidak mampu lagi mengakomodasi kepentingan dan kebutuhan praktis mereka. Pemanfaatan mantra untuk beragam tujuan ini menjadi potret pola kehidupan pragmatis masyarakat Banten yang masih mempercayai kekuatan magis.
Radicalism Prevention Movement: Religious Manifestation of Sholawat Communities in The Mataraman Fuad, A. Jauhar
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v22i2.9729

Abstract

Religious traditions become a form of community religiosity. One’s religious attitude can be manifested in religious forms and actions through religious rituals such as prayer, fasting, zakat, pilgrimage, and other rituals such as tahlil, istighasha, and salawat. Public openness to religious traditions will close the space for radicalization. The research method uses a qualitative approach with data collection techniques, Interviews, documentation and focus group discussion. The findings of this study: first, the salawat council becomes a forum for people who have a spirit of religiosity in carrying out religious traditions. The development of salawat assemblies in the Mataraman region is quite a lot, but there are salawat assemblies having affiliations with FPI and defend against HTI. Second, the salawat council's existence received a response from Gus (young Kyai) who then brought the salawat council as a counterweight to the previous assembly. Its presence becomes a choice for the people in neutralizing radical understanding. As the community's religious universe grows, it needs an assembly that can lead to Islam's concept wasathiyah. Tradisi keagamaan menjadi wujud dari religiusitas masayarakat. Sikap religiusitas seseorang dapat diwujudkan dalam bentuk dan tindakan keagamaan melalui ritual-ritual kegamaan seperti, salat, puasa, zakat, haji, dan ritual lain seperti tahlil, istighasha, dan salawat. Keterbukaan masyarakat pada tradisi agama akan menutup ruang gerak radikalisasi. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data, wawancara, dokumentasi dan FGD. Temuan penelitian ini: pertama, majelis salawat menjadi wadah bagi masyarakat yang mimiliki spirit religiusitas dalam menjalankan tradisi keagamaan. Perkembangan majelis salawat di wilayah Mataraman cukup banyak, akan tetapi ada majelis salawat yang memiliki afiliasi dengan FPI dan melakukan pembelaan terhadap HTI. Kedua, keberadaan majelis salawat tersebut mendapat respon dari Gus (kyai muda) yang kemudian memunculkan majelis salawat sebagai penyeimbang  majelis sebelumnya. Kehadirannya menjadi pilihan bagi umat dalam menetralisir paham radikal. Seiring meningkatnya semangat keagamaan masyarakat, maka dibutuhkan majelis yang dapat mengarahkan pada konsep Islam wasatiyah.
Akar Kekerasan terhadap Perempuan dalam Fiqh Al-Nisa’ Hamidah, Tutik
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v3i1.4688

Abstract

In the problem of femininity, fiqh has a very big role, because it is the science of fiqh that structuring the relationship of male women. This paper describes violence against women rooted in Fiqh al-Nisa 'However it is certainly not fair to judge Fiqh al-Nisa' with the present context. However fiqh is the product of his day. That in general in Fiqh al-Nisa ', women positioned as second actors or objects is due to several factors. First, some verses of the Qur'an and the Prophet's hadith present a patriarchal nuance, a view which places men as superior and inferior women. Secondly, the fiqh historic setting is generally a very patriarchal middle east region and the third, the fiqh writer is a man who is surely better presenting the superiority of men. Basically fiqh is the result of ijtihad miijtahid which is very good, relevant, dynamic in its era. The rigid is the thought of using the old work for the present religious rule. The rigid is the effort to develop new fiqh but still based on the methodology used in designing the old fiqh. Dalam problematika keperempuanan, ilmu fiqh memiliki peran sangat besar, karena ilmu fiqh-lah yang menstrukturkan hubungan laki-laki perempuan. Tulisan ini memaparkan kekerasan terhadap perempuan yang berakar pada Fiqh al-Nisa’ Namun demikian tentu tidak fair menghakimi Fiqh al-Nisa’ dengan konteks sekarang. Bagaimanapun fiqh adalah produk zamannya. Bahwa pada umumnya dalam Fiqh al-Nisa’, perempuan diposisikan sebagai pemeran kedua atau obyek adalah karena beberapa faktor. Pertama, beberapa ayat al-Qur’an dan hadis Nabi menghadirkan nuansa patriarkhi, suatu pandangan yang menempatkan laki-laki sebagai superior dan perempuan inferior. Kedua, setting kesejarahan fiqh itu pada umumnya adalah wilayah Timur tengah yang sangat patriarkhi dan ketiga, penulis fiqh itu adalah laki-laki yang tentu lebih mempresentasikan superioritas laki-laki. Pada dasarnya fiqh adalah hasil ijtihad miijtahid yang sangat baik, relevan, dinamis pada zamannya. Yang kaku adalah pemikiran untuk menggunakan karya lama itu untuk tata aturan keagamaan masa kini. Yang kaku ialah usaha menyusun fiqh baru namun tetap berpijak pada metodologi yang digunakan dalam merancang fiqh yang lama.
Tipologi Ideologi Resepsi Al Quran di Kalangan Masyarakat Sumenep Madura Fathurrosyid, Fathurrosyid
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v17i2.3049

Abstract

Islamic teachings in the Quran are fused in the community life of West Pakandangan Village, district Bluto at Sumenep Madura. It is not only expressed through reading and exploring the moral messages, or is treated as magical and powerful objects, but also is an aesthetic reception. For instance using a piece of written verses as accessories at homes, mosques and others. This research is qualitative in nature, employing both literary review and field research. It uses phenomenological analysis and content analysis. The findings show; first, the ideological typology of Quran reception in West Pakandangan involves exegetical, aesthetic and functional receptions. Second, the surface structure of reception symbols presents the religious community. While the deep structure exists in the form of social harmony, social stratification, educational media and pragmatic logical structure on the miracle of Quran. Thirdly, the typology reception of West Pakandangan society in the discourse of Quran and commentary can be categorized as a realist and transformative interpretation, that is dialectic and negotiated interpretation with the social context developed in the community. Ajaran-ajaran Islam yang termuat dalam al Quran sudah menyatu dalam kehidupan masyarakat Desa Pakandangan Barat, Kecamatan Bluto, Kabupaten. Sumenep Madura. Penyatuan tersebut selain diekspresikan dengan cara dibaca dan dikaji pesan-pesan moralnya, diperlakukan sebagai “benda ajaib” yang berkekuatan magic, juga diresepsi secara estetis. Misalnya potongan ayat ditulis dan dijadikan aksesoris rumah, masjid dan lainnya. Penelitian ini berjenis penelitian kualitatif, yaitu penelitian kepustakaan dan penelitian lapangan sekaligus. Analisis yang digunakan adalah analisis fenomenologis dan analisis isi. Hasil penelitian ini menyimpulkan; pertama, tipologi ideologi resepsi al Quran di Pakandangan Barat, berupa resepsi eksegetis, resepsi estetis dan resepsi fungsional. Kedua, struktur luar (surface structure) simbolisasi resepsi menunjukkan sebagai masyarakat yang religius. Sementara struktur dalamnya (deep structure) berupa harmonisasi sosial, stratifikasi sosial, media edukatif dan struktur logika pragmatis tentang kemukjizatan al Quran. Ketiga, tipologi resepsi masyarakat Pakandangan Barat dalam diskursus ilmu al Quran dan tafsir dapat dikategorikan sebagai tafsir realis dan transformatif, yaitu tafsir yang berdialektika dan bernegosiasi dengan konteks sosial yang sedang berkembang di masyarakat.

Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH E-Harakah (Vol 14, No 2 Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 13, No 1 Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 12, No 3 el-Harakah (Vol 12, No 2 el-Harakah (Vol 12, No 1 Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 11, No 2 el-Harakah (Vol 11, No 1 Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 2 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 1 (2007): EL HARAKAH Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH More Issue