cover
Contact Name
Brigitta Laksmi Paramita
Contact Email
brigitta.laksmi@uajy.ac.id
Phone
+6282329549978
Journal Mail Official
journal.biota@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Teknobiologi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Jalan Babarsari No. 44, Sleman, Yogyakarta 55281, Indonesia
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati
ISSN : 25273221     EISSN : 2527323X     DOI : doi.org/10.24002/biota
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati merupakan jurnal ilmiah yang memuat hasil-hasil penelitian, kajian-kajian pustaka dan berita-berita terbaru tentang ilmu dan teknologi kehayatian (biologi, bioteknologi dan bidang ilmu yang terkait). Biota terbit pertama kali bulan Juli 1995 dengan ISSN 0853-8670. Biota terbit tiga nomor dalam satu tahun (Februari, Juni, dan Oktober).
Articles 1,193 Documents
Perbandingan Pakan Londok Pseudocalotes tympanistriga (Squamata: Agamidae) Selama Musim Penghujan dari Dua Tipe Habitat di Gunung Ciremai, Jawa Barat Awal Riyanto; Erniwati Erniwati
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 17, No 1 (2012): February 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v17i1.126

Abstract

Telah dilakukan analisis isi lambung dari 64 spesimen koleksi Pseudocalotes tympanistriga (Squamata: Agamidae) yang dikoleksi saat musim penghujan (April 2006 dan Maret 2008) dari Gunung Ciremai, Jawa Barat. Terungkap bahwa pakan alami terdiri atas bermacam arthropoda kecil dan tidak terdapat unsur material tumbuhan. Terungkap pula bahwa populasi P. tympanistriga dari lokasi Arban hanya mengkonsumsi 12 macam mangsa sedangkan populasi dari lokasi Cigowong mengkonsumsi 22 macam mangsa. Perbedaan ini merupakan refleksi dari perbedaan tipe habitat antara kedua lokasi tersebut. Kedua populasi tersebut mempunyai kesamaan fenomena dalam hal tumpang tindih relung antar jenis kelamin maupun dengan betina bunting. Tidak adanya perbedaan yang signifikan antara proporsi ukuran tubuh (AGL/SVL) mungkin yang menyebabkan kesamaan dalam aktivitas mencari/berburu mangsa antar jenis kelamin maupun antara betina bunting dan non bunting.
Pemetaan Distribusi Biomassa Hutan dan Kaitannya dengan Suhu dan Intensitas Cahaya Melalui Pendekatan Sistem Informasi Geografi Gun Mardiatmoko
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 17, No 1 (2012): February 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v17i1.127

Abstract

Informasi mengenai distribusi vegetasi dan kandungan biomassa dalam penyerapan karbon sangat penting dalam mendukung proyek Clean Development Mechanism (CDM), Reducing Emissions from Deforestation and forest Degradation (REDD) melalui perdagangan karbon dan tujuan lainnya. Studi mengenai distribusi biomassa hutan dengan Sistem Informasi Geografi (SIG) telah dilaksanakan pada areal hutan Fakultas Pertanian, Universitas Pattimura Ambon. Tujuan penelitian adalah mengetahui distribusi vegetasi, biomassa hutan, suhu udara, dan intensitas cahaya matahari serta menyusun pangkalan data vegetasi hutan berikut kandungan biomassanya serta suhu udara dan intensitas cahaya matahari melalui pendekatan SIG. Tesedianya pangkalan data dimaksud akan bermanfaat dalam mendukung proyek CDM atau REDD dan efisiensi penggunaan energi berbagai gedung yang dikelilingi dengan vegetasi. Hasil studi menunjukkan bahwa distribusi biomassa pada areal hutan seluas 0,85 ha telah berhasil diklasifikasikan kedalam 3 (tiga) kelas yaitu sebaran biomasa tinggi 0,39 ha (46%), sedang 0,31 ha (37%), dan rendah 0,15 ha (17%). Melalui penggunaan SIG, distribusi biomassa hutan tersebut telah dapat disajikan dalam peta distribusi biomassa, termasuk peta distribusi vegetasi, suhu udara, intensitas penyinaran matahari dan data non spasialnya.
Pengetahuan Fauna (Etnozoologi) Masyarakat Tengger di Bromo Tengger Semeru Jawa Timur Jati Batoro; Dede Setiadi; Tatik Chikmawati; Y. Purwanto
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 17, No 1 (2012): February 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v17i1.128

Abstract

Penelitian ini bertujuan mempelajari pengetahuan tentang pemanfaatan hewan berpotensi, pelestarian lingkungan oleh masyarakat Tengger. Mempelajari interaksi antara masyarakat dan lingkungannya dan aspek praktek, persepsi serta representasinya. Metode penelitian digunakan survei exploratif meliputi inventarisasi jenis hewan di kandang, lingkungan rumah, wilayah konservasi hutan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN.BTS) meliputi nama lokal dan nama ilmiah. Metode dengan teknik ethnodirect, sampling meliputi wawancara langsung, semistruktural terhadap penduduk, pemangku adat, dukun serta pengumpulan informasi dengan pendekatan bersifat partisipasif (participatory ethnobotanical appraisal, PEA). Jenis hewan peliharaan mempunyai nilai ekonomi dapat dipergunakan sumber bahan pangan bagi masyarakat Tengger. Pengetahuan keanekaragaman satwa liar dan binatang yang dimanfaatkan masyarakat Tengger meliputi 110 jenis, hanya sekitar 6% saja yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari rumah tangganya, diantaranya adalah untuk bahan pangan, ritual, obat-obatan, dan lain-lainnya.
Perubahan Kadar Hormon Testosteron dan Progesteron, Korelasinya dengan Indeks Gonado Somatik dan Tingkat Kematangan Gonad pada Ikan Brek (Puntius orphoides Cuvier & Valenciennes, 1842) Suhestri Suryaningsih; Mammed Sagi; Kamiso H.N.; Suwarno Hadisusanto
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 17, No 1 (2012): February 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v17i1.129

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui perubahan kadar hormon testosteron pada ikan jantan dan hormon progesteron pada ikan betina, serta korelasinya dengan Indeks Gonado Somatik (IGS) dan Tingkat Kematangan Gonad (TKG). Sampel ikan diperoleh setiap bulan, selama Juni 2009–Mei 2010, menggunakan teknik simple random sampling. Pengukuran hormon dilakukan dengan metode ELISA. Analisis data dilakukan terhadap 120 ekor ikan jantan dan 120 ekor ikan betina, meliputi uji ’F’ terhadap perubahan kadar testosteron dan progesteron, IGS dan TKG setiap bulan selama satu siklus reproduksi. Selain itu, dilakukan analisis korelasi antara kadar testosteron dan progesteron dengan IGS dan TKG. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar testosteron dalam darah ikan brek jantan dan kadar progesteron dalam darah ikan brek betina selama satu tahun penelitian mengalami perubahan. Kadar testosteron memiliki kisaran antara 0,10−0,35 ng/mL, sedangkan kisaran progesteron antara 0,250,60 ng/mL, Puncak tertinggi kadar testosteron sebesar 0,203 n g/ mL dan 0,224 n g/ mL terjadi pada bulan SeptemberOktober, demikian pula puncak tertinggi kadar progesteron sebesar 0,645 g/mL dan 0,091 n g/mL. Korelasi kadar testosteron dengan IGS adalah positif nyata, demikian pula kadar progesteron dengan IGS. Korelasi kadar testosteron dengan TKG positif, demikian pula kadar progesteron dengan TKG.
Potensi Genistein Terhadap Histopatologi Tubulus Seminiferus Testis Mencit (Mus musculus) Cicilia Novi Primiani; Umie Lestari
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 17, No 2 (2012): June 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v17i2.130

Abstract

Pemanfaatan sarana kontrasepsi pria dengan memanfaatkan bahan alami berasal dari tanaman sudah banyak dilakukan. Tetapi pemanfaatan biji kedelai sebagai salah satu tanaman suku Leguminoceae belum pernah dilakukan. Biji kedelai mengandung senyawa genistein, sebagai salah satu senyawa derivat isoflavon mempuyai struktur kimia mirip dengan 17β-estradiol bersifat seperti hormon steroid estrogen, mampu menyebabkan kerusakan pada sistem reproduksi jantan. Penelitian bertujuan menguji pengaruh genistein terhadap histopatologi tubulus seminiferus testis mencit jantan (Mus musculus). Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan eksperimental, yang rancangannya mengikuti rancangan acak lengkap. Variabel bebas adalah dosis genistein 0 mg/g, 0,0035 mg/g, 0,0042 mg/g, dan 0,0049 mg/g. Variabel terikat adalah sel-sel germinal tubulus seminiferus testis. Data rerata jumlah sel-sel germinal dianalisis menggunakan Analisis Varians Satu Arah (One Way ANOVA) dengan tingkat signifikansi 95% (α 5%) dilakukan uji Post Hoc dengan Least Significant Difference (LSD) α 5%. Perubahan pada jaringan testis dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh pemberian genistein terhadap rerata jumlah sel-sel germinal dan menyebabkan penghambatan proliferasi sel-sel germinal dalam tubulus seminiferus testis.
Karakteristik Mikrosatelit Gen BoLA dengan Penanda Primer RM 185 pada Sapi Bali (Bos indicus) di Nusa Penida Putu Suastika; I Ketut Puja; I Nengah Wandia; I Nyoman Sulabda
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 17, No 2 (2012): June 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v17i2.131

Abstract

Penelitian ini bertujuan menjelaskan distribusi frekuensi lokus gen bovine lymphocyte antigen (BoLA) memakai primer RM 185 pada sapi bali dari Nusa Penida. Sebanyak 21 ekor sapi bali yang berasal dari Nusa Penida diambil secara acak. Jumlah alel gen BoLA pada lokus RM 185 ada 7 macam alel yaitu 76 pb, 84 pb, 86 pb, 90 pb, 98 pb, 100 pb, dan 104 pb. Frekuensi tiap- tiap alel yang teramati adalah 0,02%; 0,09%; 0,31%; 0,07%; 0,12%; 0,28%; dan 0,09%. Rata- rata heterozigositas yang didapat adalah 0,804. Dapat disimpulkan, bahwa lokus RM 185 pada gen BoLA sapi bali di Nusa Penida adalah sangat polimorfik di antara populasi.
Keanekaragaman Jenis Herpetofauna di Kawasan Ekowisata Goa Kiskendo, Kulonprogo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tony Febri Qurniawan; Rury Eprilurahman
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 17, No 2 (2012): June 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v17i2.132

Abstract

Perubahan ekosistem dan kondisi lingkungan sangat memengaruhi kehidupan herpetofauna (amfibi dan reptil). Salah satu wilayah yang diduga masih cukup layak untuk menunjang kehidupan herpetofauna adalah Kawasan Ekowisata Goa Kiskendo, Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian tentang keanekaragaman jenis herpetofauna di daerah tersebut perlu dilakukan untuk mendapatkan informasi jumlah jenis dan sebarannya sebagai data awal keanekaragaman fauna. Penelitian dilaksanakan selama enam bulan (November 2007–April 2008) dengan metode pengamatan langsung baik siang maupun malam. Berdasarkan penelitian diperoleh 42 jenis herpetofauna yang terdiri atas 29 jenis reptil dan 13 jenis amfibi. Reptil yang diperoleh terdiri atas kadal (empat suku) dan ular (lima suku), sedangkan untuk amfibi terdiri dari enam suku. Dua jenis amfibi (Limnonectes kuhlii dan Michrohyla achatina) diketahui merupakan jenis endemik Pulau Jawa. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kondisi ekosistem di kawasan wisata Goa Kiskendo masih cukup bagus sebagai habitat herpetofauna.
Pemisahan P4 (Progesteron) dari Serum Kuda Indonesia CBG4 Bunting 3,5 Bulan dengan Sephadex G-75 Ngakan Made Rai Widjaja
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 17, No 2 (2012): June 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v17i2.133

Abstract

eCG (equine Chorionic Gonadotropin) atau PMSG (Pregnant Mare Serum Gonadotropin) merupakan hormon gonadotropin yang beredar di pasaran yang saat ini masih diproduksi menggunakan bahan baku serum Thoroughbred bunting. eCG sangat dibutuhkan untuk mengobati kasus hipofungsi ovarium (inactive ovaries/post partum acyclicity) pada sapi, tetapi harganya mahal dan di Indonesia saat ini sulit memperolehnya. Sudah dibuktikan melalui penelitian sebelumnya bahwa kadar eCG pada kuda CBG4 (cross bred antara kuda Sandel dengan Thoroughbred hingga generasi keempat) tidak berbeda dengan Thoroughbred bunting 3,5 bulan. Serum kuda bunting di samping mengandung eCG, terdapat juga didalamnya E2, P4 (progesteron) dan prolaktin. Sephadex G-75 merupakan produk polimer polidekstran berbentuk gel yang biasa digunakan untuk memisahkan molekul protein dengan kisaran massa molekul antara 10.000–75.000 Dalton (1075 kDa). Tujuan penelitian ini adalah memisahkan P4 dari serum enam ekor CBG4 bunting 3,5 bulan dengan teknik kromatografi filtrasi gel menggunakan sephadex G-75. Model pemisahan dilakukan melalui penampungan sembilan fraksi eluat (fraksi ketiga sampai kesebelas). Selanjutnya, dengan teknik RIA fase padat akan ditentukan kadar P4 tiap-tiap fraksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar P4 (ng/ml) terendah 1,34 ± 1,32 terdapat di dalam fraksi eluat ketiga yang berbeda secara bermakna dengan fraksi eluat kesebelas 18,69 ± 2,99. Di samping itu, terdapat kecenderungan bahwa kadar P4 semakin meningkat seiring dengan semakin mengarahnya eluat ke fraksi akhir. Melalui model pemisahan atas kesembilan fraksi eluat tersebut nantinya digambarkan karakteristik kandungan urutan fraksi eluat untuk setiap komponen protein di dalam serum CBG4 bunting 3,5 bulan. Untuk menunjang maksud tersebut, disarankan untuk meneruskan penelitian terhadap upaya pemisahan eCG dari serum CBG4 bunting 3,5 bulan.
Kemampuan Yogurt Sinbiotik Berbasis Probiotik Lokal dalam Mencegah Diare dan Meningkatkan Imunitas Tikus Putih (Rattus norvegicus) Made Astawan; Tutik Wresdiyati; Irma Isnafia Arief; Septi Dwi Utami
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 17, No 2 (2012): June 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v17i2.134

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengamati kemampuan yogurt sinbiotik yang mengandung probiotik lokal (Lactobacillus acidophilus 2B4) sebagai antidiare pada tikus yang terinfeksi Enteropathogenic Escherichia coli (EPEC), dan untuk mendeteksi dampak terhadap karakteristik imunomodulator (jumlah sel limfosit, kadar malonaldehid/MDA hati, dan aktivitas antioksidan superoksida dismutase/SOD hati). Infeksi EPEC (10 7 cfu/ml/hari) yang dilakukan secara oral ke tikus selama tujuh hari berturut-turut secara nyata menyebabkan diare ringan tanpa penurunan berat badan. Pemberian secara oral yogurt sinbiotik yang mengandung 10 9 cfu bakteri asam laktat/ml/hari selama 21 hari secara nyata meningkatkan respons imun tikus, yang ditunjukkan dengan meningkatnya sel limfosit di hari ke-14, penurunan MDA hati pada hari ke 14 dan 21, dan meningkatnya aktivitas SOD hati pada hari ke-14.
Aplikasi Metode Sidikjari Protein (SDS-PAGE) untuk Identifikasi Isolat Bakteri Endogenik Indonesia (Bacillus thuringiensis Berliner) yang Patogenik terhadap Hama Kubis (Crocidolomia binotalis Zell) Christina L. Salaki; Langkah Sembiring; Jesmandt Situmorang; Niken Satut Nur Handayani
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 17, No 2 (2012): June 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v17i2.135

Abstract

Isolat bakteri Bacillus thuringiensis endogenik Indonesia yang patogenik terhadap hama kubis (Crocidolomia binotalis Zell.) dikarakterisasi dan diidentifikasi secara kimiawi dengan metode sidikjari protein. Total protein selular terlarut 10 isolat terpilih (SLK2.3, SRNG4.2, TKO1, TK9, YPPA1, UG1A,BLPPN8.2, YWKA1, BAU3.2, LPST1) dan 2 strain acuan (B. thuringiensis serovar kurstaki ATCC 10792 dan B. thuringiensis serovar israelensis H14) diperoleh melalui pemecahan sel dengan sonikasi. Ekstrak sel disentrifugasi dengan kecepatan 13000 rpm selama 5 menit untuk memperoleh supernatant. Protein dipisahkan dengan metode elektroforesis (SDS-PAGE) untuk menghasilkan profil sidikjari protein yang didokumentasikan dalam bentuk file elektronik. Selanjutnya, sidikjari protein dianalisis secara kualitatif maupun secara kuantitatif menggunakan software MVSP (Multivariate Statistical Package) untuk menghasilkan dendrogram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa profil protein yang dihasilkan oleh tiap-tiap isolat dan strain acuan memberikan pola yang bermakna sehingga dapat digunakan untuk mengkarakterisasi dan mengidentifikasi isolat secara tegas. Analisis terhadap dendrogram menunjukkan bahwa strain acuan B. thuringiensis serovar kurstaki HD1 dapat dibedakan secara tegas dan jelas dengan strain acuan B. thuringiensis serovar israelensis H14. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa aplikasi profil sidikjari protein merupakan instrumen yang sangat ampuh untuk menyingkap keanekaragaman strain anggota B. thuringiensis yang disolasi dari habitat alami. Isolat yang diteliti diidentifikasi sebagai strain baru anggota B. thuringiensis serovar kurstaki karena menunjukkan kemiripan yang tinggi dengan strain acuan B. thuringiensis serovar kurstaki ATCC 10792 meskipun ke-10 isolat ini juga menunjukkan keanekaragaman genetik yang cukup tinggi.

Page 64 of 120 | Total Record : 1193


Filter by Year

2003 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 11, No 1 (2026): February 2026 Vol 10, No 3 (2025): October 2025 Vol 10, No 2 (2025): June 2025 Vol 10, No 1 (2025): February 2025 Vol 9, No 3 (2024): October 2024 Vol 9, No 2 (2024): June 2024 Vol 9, No 1 (2024): February 2024 Vol 8, No 3 (2023): October 2023 Vol 8, No 2 (2023): June 2023 Vol 8, No 1 (2023): February 2023 Vol 7, No 3 (2022): October 2022 Vol 7, No 2 (2022): June 2022 Vol 7, No 1 (2022): February 2022 Vol 6, No 3 (2021): October 2021 Vol 6, No 2 (2021): June 2021 Vol 6, No 1 (2021): February 2021 Vol 5, No 3 (2020): October 2020 Vol 5, No 2 (2020): June 2020 Vol 5, No 1 (2020): February 2020 Vol 4, No 3 (2019): October 2019 Vol 4, No 2 (2019): June 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 3, No 3 (2018): October 2018 Vol 3, No 2 (2018): June 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 2, No 3 (2017): October 2017 Vol 2, No 2 (2017): June 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 1, No 3 (2016): October 2016 Vol 1, No 2 (2016): June 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 19, No 1 (2014): February 2014 Biota Volume 19 Nomor 1 Tahun 2014 Biota Volume 13 Nomor 2 Tahun 2014 Vol 18, No 2 (2013): June 2013 Vol 18, No 1 (2013): February 2013 Biota Volume 18 Nomor 1 Tahun 2013 Vol 17, No 3 (2012): October 2012 Vol 17, No 2 (2012): June 2012 Vol 17, No 1 (2012): February 2012 BIOTA Volume 17 Nomor 3 Tahun 2012 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 15, No 3 (2010): October 2010 Vol 15, No 2 (2010): June 2010 Vol 15, No 1 (2010): February 2010 Vol 14, No 3 (2009): October 2009 Vol 14, No 2 (2009): June 2009 Vol 14, No 1 (2009): February 2009 Vol 13, No 3 (2008): October 2008 Vol 13, No 2 (2008): June 2008 Vol 13, No 1 (2008): February 2008 Vol 12, No 3 (2007): October 2007 Vol 12, No 2 (2007): June 2007 Vol 12, No 1 (2007): February 2007 Vol 11, No 3 (2006): October 2006 Vol 11, No 2 (2006): June 2006 Vol 11, No 1 (2006): February 2006 Vol 10, No 3 (2005): October 2005 Vol 10, No 2 (2005): June 2005 Vol 10, No 1 (2005): February 2005 Vol 9, No 3 (2004): October 2004 Vol 9, No 2 (2004): June 2004 Vol 9, No 1 (2004): February 2004 Vol 8, No 3 (2003): October 2003 Vol 8, No 2 (2003): June 2003 Vol 8, No 1 (2003): February 2003 More Issue