cover
Contact Name
Nurhadi Siswanto
Contact Email
corak.jurnalsenikriya@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
corak.jurnalsenikriya@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Corak : Jurnal Seni Kriya
ISSN : 23016027     EISSN : 26854708     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
CORAK adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Kriya, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta dengan nomor p-ISSN: 2301-6027 dan nomor e-ISSN: 2685-4708. Jurnal ini berisikan tentang artikel hasil penelitan, gagasan konseptual (hasil pemikiran), penciptaan, resensi buku bidang seni kriya dan hasil pengabdian masyarakat dalam bidang kriya.
Arjuna Subject : -
Articles 280 Documents
MOTIF BATIK DI KAMPUNG BATIK KEMBANG TURI KOTA BLITAR Jeng Oetari; Morinta Rosandini
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 9, No 2 (2020): NOVEMBER 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v9i2.4075

Abstract

Batik Kembang Turi, Blitar was present in 2018 as an embodiment of batik preservation in the City of Blitar. The Blitar Turi Batik Blitar Gallery has become one of the centers of making batik, has succeeded in empowering the surrounding community to produce batik with Blitar's distinctive characteristics. But until now not many people outside the city of Blitar know the beauty and uniqueness of Batik Kembang Turi Blitar, even though there is a lot of potentials that can be developed to be able to increase the strength of the characteristics of Kembang Turi Blitar Batik. The results of this study in the form of data from 17 batik motifs that have the characteristics of the main motifs, the Kembang Turi motif in combination with the Koi, Gendang, Bung Karno, and Lotus motifs that are characteristic of the city of Blitar. The distinctive color that is used on Kampung Batik Kembang Turi batik, namely bright colors, red colors, green and black are the hallmarks of Batik Kembang Turi Blitar. In the future, this data can be used as a basis for the development of new motif designs in “Batik Kembang Turi” Blitar  Gallery. Batik Kembang Turi, Blitar hadir pada tahun 2018 sebagai perwujudan dari pelestarian batik di Kota Blitar. Galeri Batik Kembang Turi Blitar menjadi salah satu pusat pembuatan batik, sudah berhasil memberdayakan masyarakat sekitar untuk memproduksi batik dengan ciri khas Blitar. Namun hingga saat ini belum banyak masyarakat di luar Kota Blitar mengetahui keindahan dan keunikan batik Kembang Turi Blitar, padahal banyak potensi yang dapat dikembangkan untuk dapat meningkatkan kekuatan karakteristik dari batik Kembang Turi Blitar. Hasil dari penelitian ini  berupa data dari 17 motif batik yang memiliki karakteristik motif utama yaitu Motif Kembang Turi dengan kombinasi dengan motif Koi, Gendang, Makam Bung Karno, dan Teratai yang merupakan ciri khas dari Kota Blitar. Ciri khas warna yang digunakkan pada batik Kampung Batik Kembang Turi, yaitu warna-warna yang cerah, seperti warna merah, hijau dan hitam yang merupakan ciri khas batik Kembang Turi Blitar. Ke depannya data ini dapat digunakan sebagai dasar pengembangan desain motif baru di Galeri “Batik Kembang Turi” Blitar.
KREATIVITAS SENI BATIK DI DESA WISATA JARUM KECAMATAN BAYAT KLATEN JAWA TENGAH PADA MASA PANDEMI COVID-19 Sugeng Wardoyo; Tri Wulandari
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 10, No 1 (2021): MEI 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v10i1.5598

Abstract

The batik group in Jarum village is a group that has had batik skills and play a role in maintaining the existence of Jarum village as a tourist village. But entering the era of the Covid-19 pandemic, the batik group in Jarum village experienced many complex problems related to creativity in the development of batik products and management of branding promotion governance in the Covid-19 pandemic. The urgency of the situation, then through the implementation of the P3WILSEN Program  from ISI Yogyakarta is trying to offer alternative programs for developing batik designs and products, as well as the assistance of social media management. In the implementation of art counselling activities, this time using the method of literature studies, discussions, lectures, and experimental methods. The application of this method is intended so that the way obtained in the learning process gets optimal results. The result of the P3WILSEN  program is creating a new creation batik motif Mojo  Arum that has been registered in Intellectual Property Rights and making promotion branding  Nunggak Semi. It is expected that in the future, there will be follow-up with the implementation of other mentoring programs that synergize and be sustainable. Kelompok batik di Desa Jarum merupakan kelompok yang telah memiliki keterampilan membatik dan berperan dalam menjaga eksistensi Desa Jarum sebagai desa wisata. Namun memasuki era pandemi Covid-19, kelompok batik di Desa Jarum banyak mengalami permasalahan yang cukup kompleks, terkait dengan kreativitas dalam pengembangan produk batik dan manajemen tata kelola promosi branding di pandemi Covid-19. Adanya urgensi permasalah tersebut, maka melalui pelaksanaan Program P3wilsen dari ISI Yogyakarta ini mencoba menawarkan alternatif program pengembangan desain dan produk batik, serta pendampingan manajemen media sosial. Dalam pelaksanaan kegiatan penyuluhan seni kali ini digunakan metode kajian literatur, diskusi, ceramah, dan metode eksperimen. Penerapan metode ini dimaksudkan agar cara yang diperoleh dalam proses belajar mendapatkan hasil yang optimal. Hasil capaian Kegiatan P3wilsen, yaitu pembuatan motif batik kreasi baru Mojo Arum yang telah terdaftar dalam Hak Kekayaan Intelektual dan menciptakan branding promosi Nunggak Semi. Diharapkan ke depan terdapat tindak lanjut dengan pelaksanaan program pendampingan lainnya yang saling bersinergi dan berkesinambungan.
KERAJINAN TENUN SONGKET WARNA ALAM NAGARI LINTAU BUO UTARA KABUPATEN TANAH DATAR Nofi Rahmanita; Yuniarti Munaf
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 10, No 1 (2021): MEI 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v10i1.4569

Abstract

This paper is a study of natural color songket weaving craft in Lintau Buo Utara, West Sumatra. The research using qualitative methods with descriptive data and multidisciplinary approach. The results of this study explain that the Lintau Buo Utara songket weaving craft, which was born in 1996, uses natural dyes as a coloring agent for the songket threads. The use of natural dyes is an effort to reduce environmental pollution due to the use of synthetic dyes. The songket weaving decorations applied by the songket craftsmen of Nagari Lintau Buo Utara are sourced from traditional Minangkabau decorations and decorations created by the songket craftsmen themselves. Products made such as songket sarongs, scarves, and other derivative products. In the future, natural color songket weaving crafts will continue to exist and develop both in terms of the color of the songket weaving and the products produced. Makalah ini merupakan sebuah kajian kerajinan tenun songket warna alam di Lintau Buo Utara, Sumatera Barat. Penelitian dilakukan menggunakan metode kualitatif dengan data deskriptif dan metode pendekatan multidisplin. Hasil kajian ini menjelaskan bahwa kerajinan tenun songket Lintau Buo Utara yang lahir sejak tahun 1996, kain tenun songket yang dihasilkan memakai pewarna alam sebagai zat pewarna untuk benang songketnya. Pewarna alami digunakan untuk mengurangi pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh pewarna sintetis. Ragam hias tenun songket yang diterapkan oleh perajin tenun songket Nagari Lintau Buo Utara bersumber dari ragam hias tradisonal Minangkabau dan ragam hias yang diciptakan oleh perajin songket itu sendiri. Produk yang dibuat, seperti sarung, selendang songket, dan produk turunan lainnya. Kerajinan tenun songket warna alam nantinya akan terus hadir dan berkembang baik dari segi warna kain tenun songketnya maupun produk yang dihasilkan.   
BATIK GEDHOG KEREK SEBAGAI PRODUK AMENITIES HOTEL DI KABUPATEN TUBAN isbandono - Hariyanto
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 10, No 1 (2021): MEI 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v10i1.5119

Abstract

Kerek subdistrict is one of the centers of gedhog batik craftsmen in tuban regency.  Batik Kerek has its own characteristic because of the use of cotton yarn cutting materials woven and combined with a series of dynamic colors typical of coastal batik so that it looks exotic. The purpose of this research is to make innovation of batik products Gedhog Kerek as a hotel amenities in Tuban Regency. Research methods used are practice-led research, which is research that creates and reflects new work through practical research conducted. This research phase begins with data collection, data analysis, and presentation of analysis results. The results of the analysis are used as product design materials, starting from the pre-design, design, embodiment, presentation stages. The results of this study will be written in an accredited national scientific journal, registered copyright, and further cooperate with gedhog batik craftsmen in Kerek Subdistrict to be produced. Kecamatan Kerek merupakan salah satu sentra perajin batik gedhog yang ada di wilayah Kabupaten Tuban.  Batik Kerek memiliki ciri khas tersendiri karena penggunaan bahan pintalan benang kapas yang ditenun dan dipadukan dengan serangkaian warna dinamis khas batik pesisiran sehingga kelihatan eksotis. Tujuan penelitian ini adalah membuat inovasi produk batik Gedhog Kerek sebagai amenities hotel yang ada di Kabupaten Tuban. Metode penelitian yang digunakan berbasis praktik (Practice-led Research), yaitu penelitian yang menciptakan dan merefleksikan karya baru melalui riset praktek yang dilakukan. Tahapan penelitian ini diawali dengan pengumpulan data, analisis data, dan penyajian hasil analisis. Hasil analisis digunakan sebagai bahan perancangan produk, yang dimulai dari tahapan pra perancangan, perancangan, perwujudan, penyajian. Hasil penelitian ini akan dituliskan dalam jurnal ilmiah nasional terakreditasi, didaftarkan Hak Ciptanya, dan selanjutnya bekerja sama dengan perajin batik gedhog di Kecamatan Kerek untuk diproduksi.
LAS BUSUR UNTUK PENCIPTAAN KARYA 3 DIMENSI PERMUKAAN LENGKUNG BAHAN AS STAINLESS STEEL BENTUK OVAL Miky Endro Santoso; Elliati Djakaria
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 9, No 2 (2020): NOVEMBER 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v9i2.4076

Abstract

This study uses an experimental-descriptive practical research method, focused on the use of arc welding techniques with stainless steel shaft for the creation of 3-dimensional works with curved surfaces. Application for oval form case studies. The purpose of this research is to identify the materials and equipment needed in the welding process with arc welding techniques; know the stages of implementing the creation process starting from preparation, workmanship, and finishing. This experimental-descriptive practice research method was chosen because the researcher was directly involved in the welding experiment process, felt firsthand the level of difficulty and various obstacles in the creation process, and analyzed the results during the research, accompanied by documentation and recording. This research resulted in a 3-dimensional work of art made of stainless steel axles with oval-formed curved surfaces and research conclusions, one of which occurred shrinking the form of the welding results. The results of this research could potentially increase the diversity of art and craft products that use stainless steel axles, such as sculptures, furniture, metal crafts, and so on. Penelitian ini menggunakan metode riset praktik eksperimental-deskriptif, difokuskan pada penggunaan teknik las busur dengan bahan as stainless steel untuk penciptaan karya 3 dimensi dengan permukaan lengkung. Penerapan untuk studi kasus bentuk oval. Tujuan riset ini adalah mengidentifikasi material dan peralatan yang diperlukan dalam proses pengelasan dengan teknik las busur; mengetahui tahapan pelaksanaan proses penciptaan mulai dari persiapan, pengerjaan dan finishing. Metode riset praktik eksperimental-deskriptif ini dipilih karena peneliti terlibat langsung dalam proses eksperimen pengelasan, merasakan secara langsung tingkat kesulitan dan berbagai kendala dalam proses penciptaan serta menganalisis hasil selama riset, disertai dokumentasi dan pencatatan. Riset ini menghasilkan sebuah karya seni 3 dimensi berbahan as stainless steel dengan permukaan lengkung berbentuk oval dan simpulan riset, salah satunya terjadi penyusutan bentuk pada hasil pengelasan. Hasil riset ini berpotensi dapat menambah keberagaman produk seni dan kriya yang menggunakan bahan as stainless steel, seperti patung, furnitur, kriya logam, dan sebagainya. 
KAJIAN DESAIN TENUN AKAR WANGI GARUT DALAM PENINGKATAN UKM SETEMPAT (Studi Kasus: Produk Kriya Rahayu Akar Wangi di Garut) Mandhe Sekar Nurindah; Dian Widiawati
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 10, No 1 (2021): MEI 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v10i1.5290

Abstract

Fragrant roots is one of the commodity plants in Garut. The fragrant roots are often used as handicraft materials such as handicrafts of fragrant root dolls, prayer mats, tablecloths, tissue boxes and bags. Fragrant root Weaving is much in demand by tourists visiting Garut, because that is why fragrant root Weaving has great potential to be able to compete in this era of creative economy. In this research, product design development of this area needs to be analyzed further related to the design that has been issued. So that the processing of fragrant root weaving in the future can become more developed in the modern craft world of Indonesia. In this research using descriptive qualitative research method. This research by using ATUMICS model where to describe the elements contained in the product fragrant root weaving. This ATUMICS model serves as the basis for design development by studying artifacts/products/crafts, manufacturing techniques, utilities, materials, icons, concepts, and shapes. Akar wangi merupakan salah satu tanaman komoditi di Garut. Akar wangi tersebut sering digunakan sebagai bahan kerajinan tangan seperti kerajinan boneka akar wangi, sajadah, taplak meja, kotak tissue dan tas. Tenun akar wangi ini banyak diminati oleh wisatawan yang berkunjung ke Garut, karena hal itulah Tenun akar wangi ini memiliki potensi besar untuk dapat bersaing di era ekonomi kreatif ini. Dalam penelitian ini pengembangan desain produk daerah ini perlu di analisa lebih lanjut terkait desain yang selama ini dikeluarkan. Sehingga pengolahan tenun akar wangi ini kedepannya dapat menjadi lebih berkembang di dunia kriya modern Indonesia. Dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan model ATUMICS untuk menguraikan unsur-unsur yang terdapat di dalam produk kriya tenun akar wangi. Model ATUMICS ini dijadikan sebagai dasar dalam pengembangan desain dengan mempelajari artefak/produk/kriya, teknik pembuatan, utilitas, material, icon, konsep, dan bentuk. 
PENGEMBANGAN MOTIF BATIK KANAKA UNTUK SERAGAM PPI ISHIKAWA JEPANG Hafiza Aprilia; Morinta Rosandini
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 10, No 1 (2021): MEI 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v10i1.4192

Abstract

PPI Ishikawa, Japan has a jacket uniform, but this uniform doesn’t have a strong Indonesian visual identity yet in it. The Kanaka Batik which was the winner in the batik design contest held by PPI Ishikawa, Japan to be made a uniform hasn’t been realized due to the difficulty of producing the batik. Therefore the purpose of this design is to design the PPI Ishikawa, Japanese uniform by applying the Kanaka Batik motif that has been developed by applying the digital printing and embroidery techniques. The stage of the design method is in the form of problem analysis and problem solving strategies. Then the result of this are three designs of developing Kanaka Batik motifs on a fabric measuring 90 x 100 cm and one sketch of a uniform design of a jacket with the development of Kanaka Batik motifs in it. Through this paper it’s hoped that it can add references for the readersPPI Ishikawa Jepang memiliki seragam berupa jaket, namun seragam ini belum memiliki identitas visual Indonesia yang kuat di dalamnya. Adapun Batik Kanaka yang menjadi pemenang dalam sayembara desain batik yang diadakan oleh PPI Ishikawa Jepang untuk dijadikan seragam belum direalisasikan karena kesulitan memproduksi batik tersebut. Maka dari itu tujuan perancangan ini ialah untuk merancang seragam PPI Ishikawa Jepang dengan mengaplikasikan motif Batik Kanaka yang telah dikembangkan dengan penerapan teknik digital printing dan bordir. Tahapan metode perancangan ini berupa analisis permasalahan dan strategi pemecahan masalah. Kemudian hasilnya adalah tiga desain pengembangan motif Batik Kanaka pada kain berukuran 90 x 100 cm dan satu sketsa desain seragam jaket dengan pengembangan motif Batik Kanaka di dalamnya. Melalui karya tulis ini diharapkan dapat menambah referensi bagi para pembaca.
MEMBACA KECENDERUNGAN BENTUK DAN ISI KERAMIK KONTEMPORER INDONESIA Taufik Akbar; Hendratno Een
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 9, No 2 (2020): NOVEMBER 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v9i2.3645

Abstract

This paper is study about tendency visual forms and content of contemporary ceramics in Indonesia. The research using a qualitative method with history approach as a documentation of history of art ceramic in Indonesia. The result of this research contain: Contemporary ceramics in Indonesia for the past 10 years have a tendency to figurative forms, squlpture ceramics and installation ceramics. It also influenced from art contemporary which is free in visualization of the work. Then, the content of ceramics contemporary is personal and experience expression, aesthetic emphasis, local genius, gender issue or theme of social community. Next, ceramic art in art contemporary era will continue with uniqly forms and content as a reflection of the artist paradigm and the zeitgeist.Makalah ini merupakan sebuah kajian tentang kecenderungan bentuk-bentuk visual dan isi keramik kontemporer di Indonesia. Penelitian dilakukan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan historis sebagai dokumentasi sejarah seni keramik Indonesia. Hasil kajian ini menunjukan bahwa: Keramik kontemporer Indonesia selama lebih kurang 10 tahun terakhir memiliki kecenderungan akan bentuk-bentuk figuratif, squplture dan keramik instalasi. Keramik kontemporer juga banyak mendapat pengaruh kuat dari paradigma seni kontemporer yang bebas dari segi visualisasi karya. Selanjutnya keramik kontemporer Indonesia memiliki isi: ekspresi dan pengalaman personal, penekanan unsur dan prinsip estetik serta tema-tema kearifan lokal, isu gender atau kehidupan sosial masyarakat. Kedepannya, seni keramik di era seni kontemporer akan terus hadir dengan bentuk-bentuk dan tema unik sebagai refleksi atas paradigma berkarya seniman dan jiwa zaman yang melingkupinya.
KAJIAN ESTETIKA MOTIF UKIR KERATON SUMENEP MADURA HASIL AKULTURASI TIONGHOA Zainor Ahmad
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 10, No 1 (2021): MEI 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v10i1.5190

Abstract

The legacy of ancient objects is the history that there was a civilization at that time, such as a kingdom which was the center of social and cultural society. should be grateful that the kingdoms of the past can still be appreciated today. As in the architecture of the Keraton Sumenep Madura, it gets acculturation from various cultures, namely the Madurese and Chinese cultures. It is possible that the palace carving art got a touch from China. Not only the motifs are beautiful, but they give meaning to every motif displayed on the ornaments of the Sumenep Palace. But in reality there are still many people who do not recognize the local culture. This problem is interesting to be studied further. This paper aims to describe the aesthetic value contained in the ornamental motifs of the Sumenep Madura Palace which is a motif resulting from the acculturation of Madurese and Chinese cultures. This study uses qualitative research methods to describe the various motifs and meanings of the Sumenep Palace ornaments. To obtain data sources, interviews, field observations, and documentation were carried out. The results of the article describe the aesthetic value of the carving ornaments of the Sumenep Madura Palace, namely the Janggoleng motif pattern from the orchid plant, and the Hong bird which is a Chinese motif with the meaning of peaceful life combined with the Burneh plant motif which is a typical Sumenep Madura motif. Peninggalan benda kuno merupakan sejarah bahwa telah terjadi sebuah peradaban di masa itu, seperti sebuah kerajaan, pusat masyarakat bersosial dan berbudaya. Patut disyukuri kerajaan-kerajaan silam masih dapat diapresiasi hingga saat ini. Arsitektur bangunan Keraton Sumenep Madura mendapatkan akulturasi dari berbagai budaya, yaitu budaya Madura dan Tiongkok. Tidak menutup kemungkinan seni ukir keraton pun mendapat sentuhan dari Tiongkok. Bukan hanya motifnya yang indah namun memberikan makna setiap motif yang ditampilkan pada ornamen Keraton Sumenep. Namun kenyataannya, masih banyak masyarakat yang tidak mengenali budaya lokalnya. Permasalahan ini menarik untuk dikaji lebih dalam. Tulisan ini memiliki tujuan mendeskripsikan nilai estetika yang terkandung dalam motif ornamen Keraton Sumenep Madura yang merupakan motif hasil akulturasi budaya Madura dan Tiongkok. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif untuk menguraikan berbagai motif dan makna ornamen Keraton Sumenep. Untuk memperoleh sumber data, dilakukan dengan wawancara, observasi lapangan, dan dokumentasi. Hasil dari artikel ialah mendeskripsikan nilai estetika dari ornamen ukir Keraton Sumenep Madura, yakni adanya pola motif Janggoleng dari tanaman anggrek, serta adanya burung Hong yang merupakan motif Tionghoa dengan makna kedamaian hidup yang dikombinasikan dengan motif tanaman Burneh yang merupakan motif khas Sumenep Madura.
BURUNG GARUDA DALAM SENI KRIYA Dedy Shofianto
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 9, No 2 (2020): NOVEMBER 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v9i2.4105

Abstract

 Garuda is an eagle bird that becomes Indonesian national symbol, famous with the slogan Bhineka Tunggal Ika. Garuda is chosen as a source of wood craft creation starts from the idea of writer to take a closer look about a phenomenon of the people of Indonesia nowadays. Slogan Bhineka Tunggal Ika means “unity in diversity”. However, Indoneisan people in this moment are deeply devided by various conflicts such as; religions, cultures, socials, and also politics. The form of Garuda in this creation will go to a deformation become kinetic work. The Garuda with dynamic movement in this creation is different with static Garuda that we commonly see.This artwork creation is using several theories as a basis creation. The first theory is phenomenology by Kuswarno with subjectivism approach. This theory is used to see phenomenon that happens in Indonesia. The second one is aesthetic theory, for aesthetic and social function which is the main stake. Third, creativity theory by Rhodes, it stated that creativity commonly is formulated in the term “Four P’s Creativity”, which is one thing, interrelated within person, process, press, and products.  Creation method in this work uses practice based research. In the practice process, these several stages, exploration, experiment, and execution are applied.The finding outcome in this creation is the fact that different to kinetic work in common, this work is stimulated by mechanic technique and electronic which produce sensor. Therefore, the audience could do interaction directly with the art work. This creation produce five artwork consists of three panel works, and two 3D artwork. Each work has different meaning but has one same correlated concept. The artwork which is created produce a new character of Garuda by combining forms of machine mechanic such as gears, bolts, with electronic devices. All those artwork is dominated by wood, while still showing the character of Garuda and the meaning behind Garuda. Besides, this artwork is also able to represent creativity potency as well as innovation and education in the world of art.  Burung garuda merupakan simbol negara Indonesia yaitu garuda Pancasila dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika. Garuda diangkat sebagai sumber penciptaan kriya kayu ini berawal dari penulis melihat fenomena keadaan bangsa Indonesia pada saat ini. Semboyan Bhineka Tunggal Ika memiliki arti “berbeda- beda tetapi tepat satu” akan tetapi, bangsa Indonesia pada saat ini berpecah belah dikarenakan suatu konflik agama, budaya, sosial, serta politik. Bentuk garuda dalam penciptaan ini akan mengalami suatu deformasi menjadi karya kinetik, pada umumnya kita melihat garuda dengan bentuk statis akan menghasilkan gerakan yang dinamis dalam karya ini.Penciptaan karya ini menerapakan beberapa teori sebagai landasan penciptaannya. Pertama teori Fenomenologi dari Kuswarno  dengan pendekatan sudut pandang subjektivisme, teori ini sebagai cara melihat fenomena yang terjadi saat ini di Indonesia.  Kedua teori estetika, teori ini sebagai fungsi estetika dan sosial merupakan pokok utama. Ketiga teori kreativitas dari Rhodes bahwa kreativitas pada umumnya dirumuskan dalam istilah “Four P’s Creativity”, yaitu suatu hal yang saling berelasi antara person, proses, press, dan Products. Sementara metode penciptaan menggunakan penelitian berbasis praktek pada bagian proses prakteknya dilakukan tahapan eksplorasi, eksperimen dan eksekusi.Hasil temuan dari penciptaan ini yaitu, berbeda dengan kinetik pada umumnya karya ini digerakan dengan teknik mekanik dan elektronik yang akan menghasilkan sensor, sehingga penikmat seni dapat secara langsung berinteraksi dengan karya. Sementara itu dalam tahapan perwujudan karya digunakan beberapa teknik di kriya kayu untuk memperlihatkan nilai estetika dalam karyanya. Penciptaan ini menghasilkan lima karya yang terdiri dari tiga karya panel dan dua karya tiga dimensi. Setiap karya memiliki makna yang berbeda tetapi ada korelasi konsep yang sama. Karya yang diciptakan menghasilkan karakter baru Garuda dengan memadukan bentuk-bentuk mekanik mesin seperti roda gigi, baut, dengan perangkat elektronik. Semua karya tersebut di dominasi dari kayu dengan tetap memperlihatkan karakter Garuda dan makna yang terkandung di dalam Garuda. Selain itu juga mampu menghadirkan potensi kreatifitas serta inovasi dan edukasi dalam dunia kesenian.