cover
Contact Name
Nurhadi Siswanto
Contact Email
corak.jurnalsenikriya@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
corak.jurnalsenikriya@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Corak : Jurnal Seni Kriya
ISSN : 23016027     EISSN : 26854708     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
CORAK adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Kriya, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta dengan nomor p-ISSN: 2301-6027 dan nomor e-ISSN: 2685-4708. Jurnal ini berisikan tentang artikel hasil penelitan, gagasan konseptual (hasil pemikiran), penciptaan, resensi buku bidang seni kriya dan hasil pengabdian masyarakat dalam bidang kriya.
Arjuna Subject : -
Articles 269 Documents
Modifikasi Acuan Sepatu Berbahan Kayu Secara Manual Restu Aji, Abimanyu Yogadita; Nugraha, Sanjaya; Sulistianto, Sulistianto
Corak Vol 13, No 1 (2024): Mei 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v13i1.9716

Abstract

AbstractShoe last is an artificial foot object used in the shoe making process. Traditionally making shoe last uses wood as a raw material. Shoe last with wood raw materials that are less dry will experience shrinkage if used for a long time. Shrinkage that occurs in the shoe last needs to be overcome by modifying the shoe last. The purpose of this study was to determine the process of modifying the shoe last, the materials used in the process of modifying the shoe last and the hardness level of the modification of the shoe last. The method used in this research is descriptive qualitative with the stages of data collection, data processing and data analysis. The result of this research is to know the shoe last modification process. The shoe last modification process starts with analyzing the parts that are experiencing shrinkage, marking the parts to be modified, and manually modifying the shoe last. The material used in the modification process uses fine sawdust combined with G glue to attach the powder to the shoe last. The results of the shoe last modification process can meet the hardness characteristics of the shoe last.Abstrak Acuan merupakan sebuah benda tiruan kaki yang digunakan dalam proses pembuatan sepatu. Pembuatan acuan secara tradisional menggunakan kayu sebagai bahan bakunya. Acuan dengan bahan baku kayu yang kurang kering akan mengalami penyusutan jika digunakan dalam jangka waktu yang lama. Penyusutan yang terjadi pada acuan perlu diatasi dengan cara dilakukan modifikasi pada acuan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses modifikasi acuan, bahan yang digunakan dalam proses modifikasi acuan dan tingkat kekerasan dari hasil modfikasi acuan sepatu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan tahapan pengumpulan data, pengolahan data dan analisis data. Hasil dari penelitian ini adalah dapat diketahui proses modifikasi acuan. Proses modifikasi acuan dimulai dari kegiatan menganalisa bagian yang mengalami penyusustan, pemberian penandaan bagian yang akan dimodifikasi, dan modifikasi acuan sepatu secara manual. Bahan yang digunakan dalam proses modifikasi menggunakan serbuk kayu halus yang dikombinasikan dengan lem G untuk menempelkan serbuk ke acuan. Hasil dari proses modifikasi acuan dapat memenuhi karakteristik kekerasan pada acuan,
Utilizing Balinese Pendet Dance Culture as an Inspirational Idea in Creating "Cening Putri Ayu" Clothing Salsabila, Hana Tasya; Kusumawardani, Hapsari
Corak Vol 14, No 1 (2025): Corak : Jurnal Seni Kriya
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v14i1.13520

Abstract

The design is inspired by the figure of a Balinese Pendet dancing woman, with traditional clothing worn, ranging from sacred colors such as red, gold, black and white, to accessories worn such as bracelets, earrings, necklaces and head accessories. A "Cening Putri Ayu" is a beautiful princess or woman who also has a strong character, is wise, responsible, but still elegant. Which depicts the figure of a female Pendet dancer on the island of Bali. As well as utilizing local wisdom such as Balinese endek woven fabric as the main material for making this clothing collection. These two elements, the Pendet dance and endek woven cloth, are part of the daily life and religious rituals of the Balinese people, and are part of the cultural heritage that is valued and preserved. Through innovation in creating the "Cening Putri Ayu" clothing, the author presents this clothing at shows and fashion exhibitions. The aim of creating this work is to realize an idea through a fashion collection by highlighting the Balinese Pendet Dance culture as the idea for creating the work "Putri Cening Ayu". The method used is the creation of fashion works which includes three stages, including: (1) Exploration, (2) Design, and (3) embodiment. The results of the creation of this fashion collection produced 2 fashion works "Cening Putri Ayu" which depict the figure of a female Pendet dancer on the island of Bali, namely a beautiful princess or woman who also has a strong, wise, responsible, but still elegant character.ABSTRAKDesain yang terinspirasi dari sosok wanita penari Pendet Bali, dengan pakaian adat yang dikenakan, mulai dari warna sakralnya, seperti merah, gold, hitam, dan putih, hingga aksesori yang dikenakan seperti gelang, anting, kalung dan aksesori kepala. Seorang “Cening Putri Ayu” yaitu putri atau wanita yang cantik juga memiliki karakter kuat, bijaksana, tanggung jawab, tetapi tetap elegan yang menggambarkan sosok wanita penari Pendet di Pulau Bali, serta memanfaatkan salah satu kearifan lokalnya, seperti kain tenun endek Bali sebagai bahan utama pembuatan koleksi busana ini. Kedua unsur ini, tari Pendet dan kain tenun endek, menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan ritual keagamaan masyarakat Bali, serta menjadi bagian dari warisan budaya yang dihargai dan dilestarikan. Melalui inovasi dalam penciptaan busana "Cening Putri Ayu", busana ini disajikan pada pagelaran show dan pameran busana. Tujuan dari penciptaan karya ini adalah merealisasikan sebuah ide melalui sebuah koleksi busana dengan mengangkat budaya Tari Pendet Bali sebagai ide penciptaan karya "Putri Cening Ayu". Metode yang digunakan adalah penciptaan karya busana meliputi tiga tahapan, di antaranya: (1) Eksplorasi, (2) Perancangan, dan (3) Perwujudan. Hasil penciptaan koleksi busana ini menghasilkan dua karya busana "Cening Putri Ayu" yang menggambarkan sosok wanita penari Pendet di Pulau Bali, yaitu putri atau wanita yang cantik juga memiliki karakter kuat, bijaksana, tanggung jawab, tetapi tetap elegan.
Prinsip Eco Art dalam Karya Recycle Limbah Tekstil “Night Queen” Syahla, Khansa
Corak Vol 14, No 1 (2025): Corak : Jurnal Seni Kriya
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v14i1.14358

Abstract

The accumulation of textile waste due to excessive consumption patterns and fashion trends has become a significant environmental issue. The three-dimensional artwork titled Night Queen seeks to innovate through a recycling approach by transforming textile waste into textile clay. This new material is pliable and suitable for creating art pieces. The Eco-Art approach is applied to convey ecological messages while educating the public about the impact of textile waste. This study employs an artistic-based research method, incorporating shredded textile waste mixed with additional materials such as cornstarch, white glue, vinegar, liquid soap, and oil. The visualization of this artwork is inspired by the tuberose flower and eye elements, symbolizing the inferiority and sadness experienced by women. It utilizes mimesis aesthetic theory and a tetradic color scheme. The resulting artwork aims to motivate women to build self-confidence while contributing to environmental conservation and innovative textile waste management. ABSTRAKPenumpukan limbah tekstil akibat pola konsumsi berlebihan dan tren fashion telah menjadi permasalahan lingkungan yang signifikan. Karya seni tiga dimensi berjudul “Night Queen” inovasi melalui pendekatan recycle, dengan mengolah limbah tekstil menjadi textile clay. Sebuah material baru yang mudah dibentuk dan digunakan untuk pembuatan karya seni. Pendekatan Eco-Art diterapkan untuk menyampaikan pesan ekologis sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat tentang dampak limbah tekstil. Penelitian ini menggunakan metode artistic based research, mencampur limbah tekstil yang telah dicacah dengan bahan tambahan seperti tepung maizena, lem putih, cuka, sabun cair, dan minyak. Visualisasi karya ini terinspirasi oleh bunga sedap malam dan elemen mata sebagai simbol inferioritas dan kesedihan yang dialami wanita, dengan penerapan teori estetika mimesis dan kombinasi warna tetradic. Hasil karya berfungsi sebagai motivasi untuk meningkatkan kepercayaan diri wanita, sekaligus sebagai kontribusi dalam upaya pelestarian lingkungan dan inovasi pengelolaan limbah tekstil. 
Analisa Model Scamper Kearifan Lokal Bentuk Pincukan sebagai Inspirasi Pembuatan Tas Fahmi, Amelia Isti
Corak Vol 14, No 1 (2025): Corak : Jurnal Seni Kriya
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v14i1.16732

Abstract

Developing ideas to increase and generate creative economic value focuses on the creativity of business actors in the products they produce. Product creativity can be generated by leveraging local wisdom as a creative idea for products. Local wisdom such as the pincuk mechanism and rice wrappers can be used as ideas in realizing visuals and techniques in making functional products. This study provides comprehensive insight into how the simplicity of pincuk packaging is applied to different functions using the Scamper model approach with brainstorming techniques. This, can understand the creative process and preferences of a designer in creating a leather bag idea by adapting pincukan. This preference enhances traditional values and shifts a broad view into other media to consider strategies to maintain and promote traditional cultural heritage.ABSTRAKPengembangan ide untuk menaikkan dan menghasilkan nilai ekonomi kreatif memusatkan kreatifitas para pelaku usaha terhadap produk yang dihasilkan. Kreatifitas produk dapat dihasilkan dengan menaikkan kearifan lokal sebagai ide kreatifitas produk. Kearifan lokal sepertihalnya mekanisme pincuk dan bungkus nasi salah satu yang bisa dijadikan ide dalam merealisasikan visual dan teknik dalam pembuatan produk fungsional. Penelitian ini memberikan wawasan komprehensif tentang bagaimana kesederhanaan kemasan pincuk dengan menganalisa model Scamper. Hal ini dapat mengetahui proses kreatifitas dan preferensi seorang desainer dalam menciptakan ide tas berbahan kulit.  Preferansi ini meningkatkan nilai tradisional dan merubah pandangan yang luas kedalam media lain guna mempertimbangkan strategi guna menjaga dan mempromosikan warisan budaya tradisional.
Pengembangan Buku Sumber Eksplorasi Motif Batik Papua Di Program Studi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Palupi, Almaratu Sholihah Diah
Corak Vol 14, No 1 (2025): Corak : Jurnal Seni Kriya
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v14i1.13617

Abstract

Pembelajaran mata kuliah batik pada Program Studi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga terdiri dari teori dan praktikum pembuatan motif batik, membatik, pewarnaan hingga hasil produk. Praktik pembuatan motif batik memerlukan buku sumber sebagai referensi dalam mengeksplorasi ide motif batik yang unik dan bermakna. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan buku sumber eksplorasi batik Papua di Program Studi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga. Penelitian ini menggunakan model PPE (Planning, Production, Evaluation). Penelitian ini berlokasi di Laboratorium Kriya Program Studi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Fakultas Pendidikan Teknik dan Kejuruan Universitas Pendidikan Indonesia. Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari dua ahli materi dan dua ahli media, yang terdiri dari pemilik NNB Art Community dan Tutor Pendidikan Seni Universitas Terbuka sebagai ahli materi; Guru SMPN 14 Bandung, Kepala Sekolah SMA Tunas Unggul sebagai ahli media. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara, expert judgement, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) buku sumber eksplorasi batik Papua diperlukan sebagai referensi dan sumber belajar mandiri demi mendukung kegiatan praktikum membatik, (2) hasil dari expert judgement buku sumber eksplorasi batik Papua yang dilakukan oleh ahli materi dan ahli media berada pada kriteria yang sangat layak untuk digunakan sebagai buku sumber ide demi mendukungnya kegiatan pembelajaran praktikum batik. Rekomendasi dari penelitian ini adalah penelitian ini kemudian dapat dilanjutkan dengan mengimplementasikan media pembelajaran berupa buku sumber ide batik Papua ini untuk menguji keefektifan literatur dalam proses praktikum yang dilakukan mahasiswa demi mengembangkan karya motif batik yang unik dan bermakna.
Pembuatan Busana Pesta dengan Lengan Pointy Hidayah, Maimunah Nurul; Budiastuti, Emy
Corak Vol 14, No 1 (2025): Corak : Jurnal Seni Kriya
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v14i1.14302

Abstract

Cultural diversity in Indonesia, one of which is Rumah Gadang is a source of ideas in the creation of party clothes so that party clothes with pointy sleeves are created. This research aims to explore the creation of party fashion with pointy sleeves by using a work creation method consisting of three stages: exploration stage, design stage and realization stage. The exploration stage was carried out to find the source of ideas for making party clothes which were expressed in the form of a moodboard. The planning stage is by making a fashion design that is manifested in the form of pictures or visuals. The realization stage by realizing the results of the party dress design into real party clothing. The result of the research is party clothes with pointy sleeves that are unique, innovative, more modern but also have cultural value. Party clothes that integrate cultural elements in the form of Rumah Gadang's gonjong roof into the shape of pointy sleeves offer a solution to party clothing needs with a more creative design and give a new dimension to party clothes so that they make them more attractive. The pointy sleeve design of party clothes by combining traditional songket materials is able to encourage designers and fashion industry players to continue to innovate to create fashion that is not only modern but also has high cultural and aesthetic value.ABSTRAKKeanekaragaman budaya di Indonesia, salah satunya Rumah Gadang menjadi sumber ide dalam penciptaan busana pesta sehingga terciptalah busana pesta dengan lengan pointy. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penciptaan busana pesta dengan lengan pointy dengan menggunakan metode penciptaan karya yang terdiri dari tiga tahapan : tahap eksplorasi, tahap perancangan dan tahap perwujudan. Tahap eksplorasi dilakukan pencarian sumber ide pembuatan busana pesta yang dituangkan dalam bentuk moodboard. Tahap perancangan dengan membuat rancangan busana yang diwujudkan dalam bentuk gambar atau visual. Tahap perwujudan dengan mewujudkan hasil rancangan busana pesta menjadi busana pesta sesungguhnya. Hasil penelitian yaitu busana pesta dengan lengan pointy yang unik, inovatif, lebih modern tetapi juga memiliki nilai budaya. Busana pesta yang mengintregasikan elemen budaya berupa atap gonjong Rumah Gadang ke dalam bentuk lengan pointy menawarkan solusi kebutuhan busana pesta dengan desain yang lebih kreatif dan memberikan dimensi baru pada busana pesta sehingga menjadikannya lebih menarik. Desain lengan pointy pada busana pesta dengan memadukan bahan tradisional songket mampu mendorong desainer dan pelaku industri fashion untuk terus berinovasi  menciptakan busana yang tidak hanya modern tetapi juga memiliki nilai budaya dan estetika yang tinggi.
Kombinasi Jumputan Dengan Teknik Manipulasi Tekstil Shirring Kinasih, Khansa Zahra
Corak Vol 14, No 1 (2025): Corak : Jurnal Seni Kriya
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v14i1.13684

Abstract

The tie-dye technique is one of the techniques for making textile pattern that has long been used in Indonesia. Jumputan is one of the traditional fabrics made using the tie-dye technique. The process of making jumputan, which uses tie and sewing techniques, creates wrinkles. The resulting wrinkles are combined with shirring textile manipulation techniques with the aim of adding a new aesthetic to jumputan while making a slim impression on certain parts. The design method used as a way to solve the problem is SP Gustami's theory. The stages carried out in solving the problem are exploration, design and realization. The combination of jumputan and shirring technique was made into women's clothing. The resulting work is in the form of clothes with motifs made using jumputan technique combining shirring textile manipulation technique. The combination of shirring technique can add the function of jumputan wrinkle.ABSTRAKTeknik ikat celup merupakan salah satu teknik pembuatan motif tekstil yang sudah lama digunakan di Indonesia. Jumputan merupakan salah satu kain tradisional yang dibuat menggunakan teknik ikat celup. Proses pembuatan jumputan yang menggunakan teknik ikat serta menjahit, menciptakan sebuah kerutan. Kerutan yang dihasilkan dikombinasi dengan teknik tekstil shirring dengan tujuan untuk menambahkan estetika baru pada jumputan sekaligus membuat kesan ramping pada bagian tertentu. Metode perancangan yang digunakan sebagai cara penyelesaian masalah adalah teori SP Gustami. Tahap yang dilakukan dalam penyelesaian masalah yaitu tahap eksplorasi, perancangan dan perbaikan. Kombinasi jumputan dan teknik shirring dibuat menjadi pakaian wanita. Karya yang dihasilkan berupa pakaian dengan motif yang dibuat menggunakan teknik jumputan mengkombinasikan teknik manipulasi tekstil shirring. Kombinasi teknik shirring dapat menambahkan fungsi dari kerut jumputan
Penerapan Teknik Spiral Fabric Sebagai Garnitur Evening Gown Rohmat, Alya Azzahra; Nurindah, Mandhe Sekar; Sakti, Asri Wibawa
Corak Vol 14, No 1 (2025): Corak : Jurnal Seni Kriya
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v14i1.14511

Abstract

The fashion industry is currently experiencing rapid growth, with design innovation being one of the key factors attracting consumer attention. One technique that has been widely applied is fabric manipulation. Although this technique is well-known in the fashion world, its application in evening gowns remains limited. The aim of this work is to explore the application of the spiral fabric technique as an embellishment in women's evening gown design. The research method used is the Three Stage Design Process, which includes the stages of problem definition and research, creative exploration, and implementation. In the problem definition stage, a review of market needs and consumer preferences is conducted, specifically targeting women aged 20 to 30, who are often in the phase of exploring their personal identity and style. The creative exploration stage results in a design concept incorporating the spiral fabric technique, inspired by the movement of the fins and tail of the Danio Slayer fish. The fabric exploration reveals that organza is the most suitable material to create a dynamic and clearly defined spiral effect. The implementation stage leads to the realization of a design that combines both aesthetic and functional elements. Further development recommendations include exploring other fabrics and applying this technique to broader fashion designs to create more innovative and original worksABSTRAKIndustri fashion saat ini mengalami perkembangan pesat, dengan inovasi desain sebagai salah satu faktor utama yang menarik perhatian konsumen. Salah satu teknik yang banyak diterapkan adalah fabric manipulation. Meskipun teknik ini telah dikenal dalam dunia fashion, penerapannya pada evening gown masih terbatas. Penciptaan karya ini bertujuan untuk mengeksplorasi penerapan teknik spiral fabric sebagai garnitur dalam desain evening gown wanita. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Three Stage Design Process, yang meliputi tahapan problem definition and research, creative exploration, dan implementation. Pada tahap problem definition, dilakukan tinjauan terhadap kebutuhan pasar dan preferensi konsumen, khususnya wanita berusia 20 hingga 30 tahun, yang sering berada dalam fase eksplorasi identitas diri dan gaya pribadi. Tahap creative exploration menghasilkan konsep desain dengan penerapan teknik spiral fabric yang terinspirasi dari gerakan sirip ekor ikan Danio Slayer. Hasil eksplorasi kain menunjukkan bahwa organza merupakan bahan yang paling tepat untuk menciptakan efek spiral yang dinamis dan terdefinisi dengan jelas. Tahap implementation kemudian mengarah pada realisasi desain yang memadukan elemen estetika dan fungsionalitas. Rekomendasi pengembangan lebih lanjut termasuk eksplorasi bahan lain dan penerapan teknik ini dalam desain busana yang lebih luas untuk menciptakan karya yang lebih inovatif dan orisinal. 
Penciptaan Batik Sogan Dengan Eksperimen Natrium Benzoat Pada Proses Pewarnaan Alam Sedjati, Djandjang Purwo; Monica, Riris
Corak Vol 14, No 1 (2025): Corak : Jurnal Seni Kriya
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v14i1.13812

Abstract

Indonesian batik has gone global and has been designated as a Masterpieces of the oral and intangible heritage of humanity by UNESCO and the designation of Yogyakarta as the world batik city by the World Craft Council. Since then, the Indonesian government and people have tried to maintain its existence. As time develops, batik is expected to meet the market demand for new products, not only fashion products or interior elements but also meet needs that can provide inner satisfaction. Thus, new creative and innovative batik creations are needed. The issue of back to nature has made batik activists who initially used synthetic dyes switch to using natural dyes. According to batik activists and the author's own experience, there is a weakness in natural dye solutions, namely the growth of mold on the surface of the solution can even become rotten if left unattended for several days. Departing from the conditions mentioned above, the author's interest arose to create a sogan batik work whose dye uses the results of experiments using sodium benzoate in natural dyes. Literature methods and observation methods are used to collect data. The practice-led research method is a practice research used to create and reflect on new works through research practice. The method focuses on the scientifically written practice of creation. The experimental method was carried out mainly on research on the use of food preservatives sodium benzoate in natural dyes to determine the quality of these dyes. In the creation of this sogan batik fabric, the results of an experiment on the use of sodium benzoate in natural dyes with dyeing and writing batik techniques were applied. The colors used are sogan. There are four types of batik artworks made, two works each, namely stoles, scarfs, and long cloths as functional batik and wall hanging works as expressional batik artworks.ABSTRAKBatik Indonesia telah mendunia dan telah ditetapkan sebagai Masterpieces of the oral and intangible heritage of humanity oleh UNESCO dan diteteapkannya Yogyakarta sebagai kota batik dunia oleh World Craft Council maka sejak itu pula pemerintah dan masyarakat Indonesia berusaha untuk menjaga keberadaannya. Pada perkembangannya seiring berkembangnya waktu, batik diharapkan dapat memenuhi permintaan pasar akan produk-produk baru, tidak hanya produk fashion atau elemen interior tetapi juga memenuhi kebutuhan yang dapat memberi kepuasan batin. Dengan demikian diperlukan ciptaan-ciptaan batik baru yang kreatif dan inovatif. Adanya isu back to nature, membuat para penggiat batik yang pada awalnya menggunakan zat warna sintetis beralih menggunakan zat warna alam. Menurut para penggiat batik dan pengalaman penulis sendiri terdapat kelemahan pada larutan pewarna alam, yaitu tumbuhnya jamur pada permukaan larutan bahkan bisa menjadi busuk bila didiamkan beberapa hari. Berangkat dari kondisi tersebut diatas muncul ketertarikan penulis untuk menciptakan karya batik sogan yang pewarnanya menggunakan hasil eksperimen penggunaan natrium benzoat pada zat warna alam. Metode pustaka dan metode observasi digunakan untuk mengumpulkan data. Metode practice-led research merupakan penelitian praktik digunakan untuk menciptakan dan merefleksikan karya baru melalui research practice. Metode tersebut berfokus pada praktek proses penciptaan yang ditulis secara ilmiah. Metode eksperimen dilakukan terutama pada penelitian tentang penggunaan pengawet makanan natrium benzoat pada pewarna alam untuk mengetahui kualitas zat warna tersebut. Metode improvisasi digunakan bila dalam pelaksanaan penggarapan menemukan ide-ide baru. Pada penciptaan kain batik sogan ini akan diterapkan hasil dari eksperimen penggunaan natrium benzoat pada zat warna alam dengan teknik celup dan batik tulis. Warna-warna yang dipakai adalah warna sogan. Ada 4 jenis karya seni batik yang akan dibuat, masing-masing 2 karya yaitu stola, scarf, dan kain panjang sebagai batik fungsional serta karya wall hanging sebagai karya seni batik ekspresi.
The Importance of Education about Batik: Addressing Misconceptions about the Term Term "Ecoprint Batik" in Schools Saputri, Supeni
Corak Vol 14, No 1 (2025): Corak : Jurnal Seni Kriya
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v14i1.14575

Abstract

Batik cultural heritage has an important role in education to instill cultural values and national identity in the younger generation. The aim of this research is to analyze misconceptions in the use of the term “batik ecoprint” and how  to respond to them. This research uses descriptive qualitative methods. Data collection techniques include literature studies and interviews with batik experts, teachers, students and ecoprint craftmen. The data analysis technique uses Miles and Huberman analysis techniques which include data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of this research show the difference between batik and ecoprint techniques which lies in the making process. In short, batik is made by going through a process of waxing, dyeing, and removing wax. Meanwhile, ecoprint is made by direct contact printing of leaves on fabric. So the resulting motif is in the form of a print. The long-term impact of less precise use of the term  batik can obscure understanding of the concept of batik and the authenticity of batik itself. Schools should be a place to spread the correct terms so that there are no misconceptions among the nation’s future generations.ABSTRAKWarisan budaya batik memiliki peran penting dalam pendidikan guna menanamkan nilai-nilai budaya dan identitas nasional pada generasi muda. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis miskonsepsi penggunaan istilah “batik ecoprint” serta bagaimana dalam menyikapinya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data yaitu dengan studi pustaka dan wawancara terhadap ahli batik, guru, siswa, dan perajin ecoprint. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan perbedaan teknik batik dan ecoprint yang terletak pada teknik pembuatannya. Secara singkat, batik dibuat dengan melalui proses pelilinan, pewarnaan, dan pelepasan lilin, sedangkan ecoprint dibuat dengan cara cetak kontak langsung dedaunan pada kain, sehingga motif yang dihasilkan berupa cetakan. Dampak jangka panjang dari kurang tepatnya penggunaan istilah batik dapat mengaburkan pemahaman tentang konsep batik dan keaslian batik itu sendiri. Seharusnya sekolah menjadi tempat untuk menyebarkan bagaimana istilah yang benar agar tidak terjadi miskonsepsi pada generasi penerus bangsa.