cover
Contact Name
yosa fiandra
Contact Email
pichaq@telkomuniversity.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalrekam@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia Yogyakarta Jalan Parangtritis Km 6,5 Sewon, Bantul, Yogyakarta Tlp. (62) 0274 384107, HP (62) 089649387947 Email: jurnalrekam@gmail.com
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Rekam : Jurnal, Fotografi, Televisi Animasi
ISSN : 18583997     EISSN : 27453901     DOI : 10.24821
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi is a scientific journal published by the Asosiasi Dosen Seni Media Rekam Indonesia in collaboration with the Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. This journal contains articles on research results, conceptual ideas (results of thought), creation, and the results of community service in the fields of photography, television, and animation.
Articles 198 Documents
Film Komedi Rukun Karya: Strategi Seniman Tradisi Mempertahankan Eksistensi pada Era Pandemi Panakajaya Hidayatullah; Dwi Haryanto; Dewi Angelina
Rekam : Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 17, No 2 (2021): Oktober 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v17i2.5177

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang strategi seniman tradisi dalam mempertahankan eksistensinya di era pandemi. Penelitian difokuskan pada kelompok kesenian tradisi Ketoprak Madura Rukun Karya yang berasal dari Kabupaten Sumenep. Di masa pandemi, kelompok Rukun Karya mengalami dampak yang cukup signifikan, dengan dibatalkannya beberapa daftar pementasan selama setahun. Kelompok ini kemudian mampu membalikkan kondisi keterpurukan melalui kesuksesannya dalam memproduksi konten Film Komedi Rukun Karya. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan multidisipliner. Metode pengumpulan data dilakukan melalui teknik observasi partisipatoris, pengamatan mendalam, wawancara, dan studi literatur. Temuan yang dihasilkan dari penelitian ini antara lain 1) Rukun Karya melakukan peralihan mode pertunjukan dari ketoprak Madura menjadi Film Komedi yang memiliki dua jenis bentuk penceritaan yakni cerita adaptasi (gaya ketoprak, sastra Timur-Tengah, sejarah, dan televisi) dan cerita realitas kehidupan masyarakat Madura; 2) Peralihan mode pertunjukan dari ketoprak menjadi Film Komedi didasari oleh mekanisme industri (budaya) melalui media (youtube) yakni strandarisasi, komodifikasi dan massifikasi; 3) Peralihan mode pertunjukan berdampak pada perubahan cara penyajian dan cara menikmati sajian pertunjukan, beberapa contohnya ialah hilangnya interaksi seniman-penonton, serta digantikannya cita rasa dalam menikmati sajian pertunjukan secara kolektif menjadi cita rasa yang privat dan sangat individualistik.
Rekonstruksi 3D Landmark Memvisualisasikan Perkampungan Peradaban Kuno Situs Liyangan Temuan Balai Arkeologi Yogyakarta Agnes Karina Pritha Atmani; Mohammad Arifian Rohman
Rekam : Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 17, No 2 (2021): Oktober 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v17i2.6033

Abstract

Selama pandemi COVID-19, keterbatasan akses publik menjadi pemicu peningkatan pelayanan edukasi sejarah dan budaya, khususnya bagi lembaga perpustakaan dan museum di Indonesia. Inovasi virtualisasi akses publik dengan menghadirkan akses terbuka bagi dokumen digital atau rekaman sejarah yang disajikan melalui jaringan internet. Tujuan penelitian menghadirkan kembali kondisi situs seperti pada masa kejayaannya dengan menggunakan metode visualisasi 3D. Rekonstruksi 3D dilakukan semi manual dengan memanfaatkan data temuan arkeologis di lapangan dan catatan sejarah atau temuan terkait dimensi dan kondisi tekstur artefak. Proses rekonstruksi 3D dibantu peneliti arkeologi Balai Arkeologi DIY, sehingga obyektivitas dan validitas data terjaga secara keilmuan di bidang Arkeologi. Adapun situs yang menjadi obyek penciptaan seni digital adalah Situs Liyangan, Temanggung, Jawa Tengah.Proses penciptaan rekonstruksi 3D landmark Situs Liyangan dilakukan dengan pengumpulan data arkeologis di Balai Arkeologi DIY dan di Situs Liyangan, Temanggung, Jawa Tengah. Proses penciptaan diawali dengan permodelan aset, tekstur, dan perancangan tata letak. Produksi rekonstruksi 3D menggunakan perangkat lunak 3Ds Max dan mesin game Unreal sebagai penyaji antarmuka akses bagi pengguna berikut interaksinya. Hasil tersebut kemudian menjadi bahan evaluasi pengujian dan publikasi karya. Berdasarkan capaian tersebut, maka hasil akhir yang didapat adalah purwarupa rekonstruksi 3D landmark Situs Liyangan. 
Penciptaan Film Seri Animasi “Sahabat Pancasila” sebagai Media Pendidikan Moral Pancasila di Kanal Youtube Arif Sulistiyono; Mohammad Arifian Rohman
Rekam : Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 17, No 2 (2021): Oktober 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v17i2.5197

Abstract

Pancasila sebagai landasan ideologi diharapkan menjadi watak yang mencirikan pribadi bangsa Indonesia. Toleransi antar umat beragama sebagai bagian nilai-nilai moral Pancasila idealnya tumbuh dalam kesadaran batin setiap manusia. Sikap toleran dapat ditanam dan dipelihara sejak usia dini sebagai bagian pendidikan karakter. Edukasi dalam bentuk film dianggap lebih efektif di tengah tumbuh kembang budaya layar saat ini. Film animasi “Sahabat Pancasila” dibuat sebagai salah satu usaha menanamkan nilai-nilai moral Pancasila kepada anak melalui contoh kongkrit menghormati ibadah pemeluk agama lain. Penggambaran sikap toleransi melalui adegan dan dialog dalam bentuk film animasi diharapkan lebih menarik perhatian, mudah diingat dan dapat ditiru oleh penonton anak-anak. Akan tetapi bentuk edukasi nilai-nilai moral Pancasila melalui film tidak cukup hanya dengan satu judul film, melainkan harus ada judul-judul lain yang sesuai dengan butir-butir Pancasila lainnya dan ditayangkan secara berkelanjutan supaya mudah diingat anak-anak. Film animasi ini dibuat dengan metode five-stage production dalam bentuk dua-dimensi digital dan ditayangkan melalui kanal YouTube agar mudah dijangkau penontonnya.
Transgender dalam Film “Salah Bodi” Moh Mahrush Ali
Rekam : Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 17, No 2 (2021): Oktober 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v17i2.5585

Abstract

ABSTRAKTulisan ini mengemukakan transgender di dalam film “Salah Bodi”. Film ini menceritakan seorang laki-laki yang mengubah identitasnya menjadi perempuan dan seorang perempuan yang berubah menjadi laki-laki. Film “Salah Bodi” ini dikemas dengan gaya komedi. Metode penelitian yang dilakukan adalah deskriptif kualitatif yang menitikberatkan pada metode etnografi. Hasil pengamatan dalam film “Salah Bodi” diketahui bahwa dua tokoh utama Farhan dan Inong selalu berusaha menyembunyikan identitas gender aslinya di tengah masyarakat. Keberpihakan sutradara jelas terlihat di akhir film dengan menampilkan mereka kembali ke kodrat aslinya. Film ini cukup unik dan menarik sebab mengangkat isu sensitif yang berkembang di masyarakat. Masih banyak masyarakat yang menganut konsep maskulin dan feminin. Pandangan lain dari seorang transgender adalah bahwa keputusan untuk mengubah identitasnya karena pengalaman hidup yang secara tidak langsung mempengaruhi kejiwaannya, seperti halnya pengalaman masa kecil.This study investigated the transgender issues in the Salah Bodi movie. The movie tells about a man who changes his identity to be a woman, and a woman who changes her identity to be a man. The Salah Bodi movie is packed with a comedy genre.  This study used a descriptive qualitative which focuses on the ethnographic method. The result shows that there are two of the main characters, who are Farhan and Inong. These main characters attempt to conceal their real identity from society. The director’s allignment is clearly seen at the ending of this movie in which shows their real identity. This movie is a unique and interesting to be criticized because the story is discussing about the sensitive issue that grow in the society.  The society still adere about feminime and masculine concept. The life experinces for example in a childhood,  affected someone’s psychology which become a person to be a transgender.
Pengembangan Kreativitas dalam Berkarya Seni Rupa Melalui Teknologi Digital pada Masa Pandemi Covid-19 Oco - Santoso; Nuning Damayanti; Tisna Sanjaya; Bambang Sugiharto
Rekam : Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 18, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v18i1.6126

Abstract

Situasi pandemi dapat disikapi sebagai salah satu tantangan untuk pengembangan kreativitas sehingga aktivitas berkesenian tetap bisa berjalan dengan baik. Salah satu di antaranya adalah dengan penerapan teknologi digital dalam berkarya seni rupa seperti yang ditunjukkan dalam pameran seni rupa yang bertajuk “Light Weekend”. Kegiatan pameran yang diselenggarakan pada saat pandemi Covid-19 ini menjadi tantangan tersendiri untuk mengembangkan kreativitas melalui penerapan teknologi digital sesuai dengan gagasan dari setiap peserta. Penerapan teknologi digital dalam berkarya seni rupa tentu tidak hanya persoalan teknik penciptaan, tetapi juga sangat berkaitan dengan problem estetika dan kompleksitas digitalisasi itu sendiri. Penulis menggunakan metode etnografi yang fokus pada kajian terhadap pengalaman proses berkarya seni rupa dalam bentuk wawancara terhadap peserta pameran guna menelusuri relasi antara potensi teknologi digital dan problem estetika yang ditawarkan. Melalui pendekatan semiotika, ditelusuri relasi antara potensi teknologi digital dengan problem estetika yang ditawarkan. Dengan demikian, kekayaan unsur estetik yang tercipta melalui teknologi digital dapat menjadi salah satu alternatif bentuk kreativitas yang dikembangkan pascapandemi Covid-19.  During the COVID-19 pandemic, activities in various fields are still being strived to continue with work patterns and governance adapted to the pandemic situation. In the field of fine arts, the pandemic situation can be considered as one of the challenges for the development of creativity so that artistic activities can still run well. One of them is the application of digital technology in creating visual art as shown in the art exhibition entitled "Light Weekend" The exhibition, which was held during the COVID-19 pandemic, was a challenge in itself to develop creativity through the application of digital technology following the ideas of each participant. The application of digital technology in creating fine art is certainly not only a matter of creation technique but is also closely related to aesthetic problems and the complexity of digitalization itself. Through an ethnographic approach, some of the works in this exhibition are exploring how the uniqueness of artistic experience and the relationship between the potential of digital technology and the aesthetic problems offered. Thus, the wealth of aesthetic elements created through digital technology can be an alternative form of creativity developed after the COVID-19 pandemic.
Film Dokumenter Potret Rhythm of Saman Pius Rino Pungkiawan
Rekam : Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 18, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v18i1.4886

Abstract

Film dokumenter potret Rhythm of Saman ini bercerita tentang Joel Tampeng yang mencoba kembali pada kebudayaan asalnya, yaitu Saman, setelah lama merantau di Yogyakarta sebagai seorang musisi rock. Hal ini bermula dari keprihatinannya terhadap Saman yang menjadi warisan budaya tak benda yang memerlukan perlindungan mendesak (UNESCO). Warisan budaya tak benda bisa disebut dengan intangible cultural heritage, bersifat tak dapat dipegang seperti musik dan tari. Joel Tampeng membentuk komunitas Gayagayo di Yogyakarta bersama para mahasiswa dari Gayo dan mencoba untuk menggabungkan musik rock dan seni tradisi Saman yang kemudian menghasilkan komposisi Rhythm of Saman dengan misi mengenalkan kembali Saman. Metode penciptaan film dokumenter Rhythm of Saman yang digunakan adalah riset dan pengembangan, praproduksi, produksi, dan pascaproduksi yang kemudian didistribusikan melalui Youtube. Bentuk dan tema dokumenter ini bisa menjadi inspirasi bagi filmaker dan masyarakat yang lebih luas. This portrait documentary tells the story of Joel Tampeng who tries to return to his original culture, namely Saman, after a long time wandering in Yogyakarta as a rock musician. It is all initiated by his concern for Saman which is an intangible cultural heritage that requires urgent protection (UNESCO). Intangible cultural heritage can be called intangible cultural heritage because we cannot touch it , such as music, dance and so on. Joel Tampeng formed the Gayagayo community in Yogyakarta with students from Gayo and tried to combine rock music and traditional Saman art to produce the composition of Rhythm of Saman with the mission of reintroducing Saman. The method used to create the documentary film "Rhythm of Saman” was a research and its development, pre-production, production and post-production which was then distributed via Youtube. The form and theme of this documentary can be an inspiration for filmmakers and the wider community.
Analisis Wacana Kritis Sara Mills tentang Stereotipe Terhadap Perempuan dengan Profesi Ibu Rumah Tangga dalam Film Rumput Tetangga Nadia Novianti; Dahniar Th Musa; Diaz Restu Darmawan
Rekam : Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 18, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v18i1.6893

Abstract

Film adalah media komunikasi massa yang mampu mempresentasikan dan mengonstruksi realitas sosial yang terjadi dalam masyarakat. Film dapat menampilkan potret kenyataan dalam bentuk simbolik yang mempunyai makna, pesan, dan nilai estetikanya. Tujuan dari tulisan ini adalah mendeskripsikan status dan peran perempuan yang memilih profesi ibu rumah tangga melalui analisis tokoh perempuan yang ditampilkan dalam film Rumput Tetangga serta resepsi penonton terhadap film. Penyusunan tulisan ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan menggunakan pisau analisis wacana kritis Sara Mills.  Untuk metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan wawancara bersama informan sebagai validasi data. Dengan menganalisis setiap scene yang ada dalam film, tulisan ini menunjukkan bahwa masih terdapat ketimpangan sosial dan pandangan terhadap peran ibu rumah tangga baik dari budaya patriarki maupun dari sesama kaum perempuan. Film Rumput Tetangga adalah cerminan realita saat ini dan dialami oleh para perempuan di lingkungan kehidupannya. Ternyata yang lebih sering memberikan stereotipe buruk kepada peran ibu rumah tangga adalah para perempuan. Hal ini menunjukan bahwa pelaku ketidakadilan gender tidak terjadi di antara dua gender yang berbeda, tetapi dapat terjadi di sesama gender.
Representasi Terorisme dalam Dua Adegan Film Dilan 1990 dengan Analisis Semiotika John Fiske Rizca Haqqu; Twin Agus Pramonojati
Rekam : Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 18, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v18i1.4762

Abstract

Dilan 1990 merupakan film yang diangkat dari novel bertajuk Dilan: Dia adalah Dilanku 1990. Film tersebut bergenre romantis yang menjadi salah satu film fenomenal tahun 2018. Di balik kepopuleran film Dilan 1990, ternyata hal ini memunculkan polemik pada warga terkait adegan kekerasan dalam film. Salah satu wujud kekerasan yang ditampilkan adalah dalam bentuk aksi teror yang dilakukan oleh geng motor. Riset ini bertujuan untuk mengenali bagaimana bentuk-bentuk aksi teror yang ada dalam film Dilan 1990 dan hubungannya dengan definisi terorisme yang ada. Guna menggapai tujuan riset ini, penulis memakai pendekatan kualitatif dengan analisis semiotika John Fiske bersumber pada tiga tingkatan, yakni tingkatan realitas, tingkatan representasi, dan tingkatan ideologi. Hasil riset menampilkan bahwa ada dua adegan dalam film Dilan 1990 yang dikategorikan sebagai adegan teror. Ciri pada tataran realitas ditunjukkan lewat kode penampilan, kostum, lingkungan, perilaku, cara berbicara, dan ekspresi. Pada tataran representasi ditunjukkan melalui kode kamera, musik, revisi, suara, narasi, kepribadian, aksi, dan konflik. Sementara itu, pada tataran ideologis, adegan teror dalam film Dilan 1990 merepresentasikan terorisme. Dilan 1990 is a film based on a novel titled Dilan: Dia adalah Dilanku 1990.  The genre of the film is romantic and it became one of the phenomenal films in 2018. Behind the popularity of Dilan 1990 film, there was a polemic in the community regarding the violence scenes in the film.  One of violence scenes is an act of terror by a motorcycle gang.  This research aims to identify how the forms of the terror act in the film Dilan 1990 are related to the existing definition of terrorism. To achieve the objectives of this research, a qualitative approach was used along with John Fiske's semiotic analysis based on three levels, namely the level of reality, the level of representation, and the level of ideology. The results of the research showed that there are two scenes in the Dilan 1990 film which are categorized as terror scenes. Characteristics at the level of reality are shown through the code of appearance, costume, environment, behavior, way of speaking, and expression. At the representation level, it is shown through camera code, music, revision, sound, narration, personality, action, and conflict. While at  the ideological level, the terror scene in the 1990 film Dilan represents terrorism.
Mood Cues dalam Film Kartini: Hubungan antara Pergerakan Kamera dan Emosi Dyah Ayu Wiwid Sintowoko
Rekam : Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 18, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v18i1.5898

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana mood cues dalam film Kartini dengan menggunakan pendekatan teori film, pergerakan kamera, dan mood setting. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif analitis dengan pendekatan studi literatur film. Studi literatur film berupa teori teknik sinematik khususnya pergerakan kamera, yaitu long tracking shot, overhead long shot, dan zoom in yang mendominasi film ini. Hasil penelitian menunjukkan empat poin utama. Pertama, teknik pengambilan gambar long tracking shot tampak kurang menunjukkan mood cues empathy kepada penonton karena kurangnya detail ekspresi wajah tokoh utama. Hal ini menyebabkan kurangnya ambivalen pada adegan terjebaknya Kartini pada aturan Jawa yang masih mendeskreditkan posisi perempuan lebih rendah daripada laki-laki. Kedua, mood setting film Kartini tampak diciptakan dengan gabungan unsur mise-en-scene termasuk kostum, properti, set, colour, dan kombinasi musik etnis dengan setting tahun 1800-an. Ketiga, overhead long shot dengan kemiringan 90° tampak menunjukkan kesan “kebenaran”, “harapan”, sekaligus emosi yang kompleks. Keempat, zoom in tampak menunjukkan empathy kepada penonton yang didukung dengan slow motion. Narasi penolakan dan camera movement menunjukkan emosi Kartini terhadap hak perempuan. Keempat teknik tersebut mendukung ambivalen emosi yang kompleks dan menunjukkan metafora emansipasi perempuan.
Analisis Manajemen Risiko Subsektor Fotografi dalam Konteks Pandemi Covid-19: Studi Kasus di Eternity Studio Rizqa Sari Yulia; Sugeng Santoso; Hendra Soemanto; Wahyu Kurniawan; Iqbal Zega
Rekam : Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 18, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v18i1.6185

Abstract

Ekonomi dunia belakangan ini mengalami depresi akibat pandemi Covid-19. Hal ini berdampak sangat signifikan di beberapa sektor di antaranya sektor ekonomi kreatif, yang merupakan sektor penunjang ekonomi. Di subsektor fotografi, adanya berbagai kebijakan penguncian wilayah negara atau lockdown dan pembatasan aktivitas sosial menyebabkan munculnya rintangan baru dan terputusnya mata rantai industri. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dengan metode FMEA dan pendekatan kualitatif dengan informan kunci Owner Eternity Studio. FMEA merupakan metode yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi dan mengukur semua potensi kegagalan yang mungkin terjadi dalam sebuah proses. Pendekatan kuantitatif dengan metode FMEA ditambah dengan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara informan kunci digunakan untuk menelaah lebih lanjut mengenai dampak pandemi terhadap bisnis fotografi, yaitu di Eternity Studio serta memberikan strategi manajemen risiko untuk menanggapi rintangan pada pandemi ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui proses identifikasi, pengukuran, dan desain mitigasi risiko, risiko penularan Covid-19 dapat diminimalisasi di lingkungan kerja padat karya seperti studio fotografi.