cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts)
ISSN : -     EISSN : 23386770     DOI : https://doi.org/10.24821/resital
Core Subject : Humanities, Art,
Resital : Jurnal Seni Pertunjukan merupakan jurnal ilmiah berkala yang ditujukan untuk mempublikasikan karya ilmiah hasil penelitian, pengembangan, dan studi pustaka di bidang seni pertunjukan. Jurnal Resital pertama kali terbit bulan Juni 2005 sebagai perubahan nama dari Jurnal IDEA yang terbit pertama kali tahun 1999.
Arjuna Subject : -
Articles 303 Documents
Strategi Musikal dalam Ritual Pujian dan Penyembahan Gereja Kristen Kharismatik Bayu Wijayanto
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 16, No 3 (2015): Desember 2015
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.394 KB) | DOI: 10.24821/resital.v16i3.1678

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah memahami fakta, proses, dan fungsi musikal yang digunakanuntuk mencapai tujuan pengembangan suasana ibadah dan melihat kompleksitas cara, struktur, dansistematisasi musikal dalam membangun suasana ibadah melalui pola dan metode tertentu dari parapendukung ibadah. Penelitian ini menerapkan perspektif pergelaran (performance perspective) untukmengkaji aktivitas ritual keagamaan untuk mengungkap peran aspek-aspek teknis-artistik dalamperibadatan. Ide pokok strategi musikal dalam proses ritual adalah suatu metode dan rekayasa musikaltertentu yang dapat memberikan kontribusi terhadap proses ritual. Suatu strategi dan rekayasa musikalberdampak pada kesan, intensitas, pengalaman, atau pemahaman pelaku terhadap objek, tujuan danaktivitas ibadah.
Apropriasi Musikal dan Estetika Musik Gamat Martarosa Martarosa
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 17, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.209 KB) | DOI: 10.24821/resital.v17i1.1687

Abstract

Penelitian ini membahas cara orang Pesisir Minangkabau mengimbuhkan atau mencangkokkan beberapa genre musik tradisional Pesisir Minangkabau hingga genre musik ini menjadi semakin kuat diakui sebagai musik mereka. Penelitian difokuskan pada perubahan dan estetika. Secara musikologis data dipisahkan menjadi dua aspek yaitu aspek musikal dan aspek sosial atau tekstual dan kontekstual. Secara tekstual data dianalisis berdasarkan konsep estetika yang meliputi harmoni dan  orkestrasi yang menyangkut penyajian formasi instrumen. Konsep ini dapat digunakan untuk melihat bentuk-bentuk apropriasi musikal yang terjadi pada musik gamat sebagai kajian analisis dalam bentuk dan struktur, vibrato dan ornamentasi melalui teknik penyajian  garitiak dan gayo. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa proses interaksi dan cara kepemilikan atau apropriasi terhadap musik gamat oleh orang-orang Minangkabau diduga terjadi melalui penawaran-penawaran pada sisi musikal antar budaya timbal balik.
Keunikan Gaya Lieder Franz Scubert A. Gathut Bintarto
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 16, No 2 (2015): Agustus 2015
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.552 KB) | DOI: 10.24821/resital.v16i2.1508

Abstract

Franz Peter Schubert adalah seorang komponis terkenal kelahiran Vienna karena karya lagu seni (art song) berbahasa Jerman yaitu lieder. Pembawaan karya lieder-nya sering disalah interpretasikan selain karena masa hidupnya yang singkat dan berada pada era transisi Klasik menuju Romantik, juga karena minimnya informasi mengenai pembawaan lagu karyanya sendiri. Pendekatan historis dan musikologis digunakan untuk menemukan gaya pembawaan lieder berdasarkan semangat yang dibangun saat pengkomposisiannya. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa keunikan lieder Schubert merupakan hasil dari pengaruh komponis sebelumnya yaitu Beethoven, Mozart, dan Haydn. Kondisi ekonomi membuatnya dekat dengan lingkaran temannya dan mengembangkan gaya yang intim dalam karya lagunya. Gayanya tercermin dalam penggunaan melodi yang bergaya folksong yang sederhana, perpaduan yang seimbang antara piano dan vocal, serta beberapa ciri pemilihan sukat yang variatif, tempo yang cenderung sedang, penggunaan caesura, modulasi, dan harmonisasi serta pola ritmis iringan yang menyesuaikan dengan gambaran puisinya. Berdasarkan ciri khas tersebut ia lebih tepat disebut sebagai komponis Era Klasik daripada anggapan yang beredar luas sebagai komponis Era Romantik. The Unique Style of Franz Schubert’s Lieder. Franz Peter Schubert, one of the well-known Vienna’s composer, is recognized by his greatest number and melodious Germany art songs called lieder. His short life-span (from 1797 until 1828) was expanded in the transition era from Classic to Romantic and by then his lieder is frequently being misinterpreted by the reason of the transition of that musical era and because of the lack of performance information from him. Based on historical and musicological approach, this research tried to figure out the former style of Schubertlieder. The characteristic of Schubert’s lieder is the result of many influences from the well-known composer such as Beethoven, Mozart and Haydn. The economic situation made him closed to his circle of friend and formed his intimate style of composing. He used the simple melodious folksong style, perfect balance between piano and voice, the medium tempo and various meter, caesura, modulation,simple harmonization and particular rhythmical pattern to build his lieder style. His composition is actually closer to Classical style than the Romantic one and he is more precisely known as the Classical composer.
Konstruksi Identitas Tionghoa melalui Difusi Budaya Gambang Kromong: Studi Kasus Film Dikumenter Anak Naga Beranak Naga Umilia Rokhani; Aprianus Salam; Ida Rochani-Adi
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 16, No 3 (2015): Desember 2015
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.558 KB) | DOI: 10.24821/resital.v16i3.1679

Abstract

Gambang kromong menjadi kesenian campur yang mampu bertahan di tengah pembatasanterhadap ruang gerak masyarakat Tionghoa. Keberadaan kesenian ini sekaligus menjadi atributbudaya yang mampu menjadi unsur pembangun identitas masyarakat Tionghoa. Identitas Tionghoamelalui kesenian gambang kromong memunculkan konstruksi yang berbeda terkait dengankebertahanan kesenian tersebut. Wacana ini muncul pada film dokumenter Anak Naga BeranakNaga. Konstruksi identitas ini dikaji dengan mempergunakan teori Bhabha tentang konsep ruangantara.Penelitian ini menggunakan pendekatan konstruktivisme sosial untuk melihat makna-maknasubjektif dari pengalaman-pengalaman subjek pelaku kehidupan masyarakat Tionghoa di Indonesia.Melalui pendekatan ini dapat diketahui bahwa konstruksi identitas masyarakat Tionghoa melaluikesenian gambang kromong bersifat heterogen. Konsep kehidupan berkesenian yang cair dan mampumenembus batas perbedaan terepresentasi pada bentuk instrumen, lagu-lagu yang dibawakan maupunfungsional dari pertunjukan itu sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa identitas masyarakat Tionghoajuga dikonstruksi secara cair oleh masyarakat, bukan hanya dalam menghadapi perbedaan danpermasalahan etnisitas tetapi juga kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan zaman. Dengankonstruksi yang cair tersebut, konstruksi identitas masyarakat Tionghoa menjadi bersifat pragmatisdan dis-identifikasi.
Rekonstruksi dan Revitalisasi Kesenian Rapa’i Aceh Pasca Tsunami Ediwar Ediwar
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 17, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.453 KB) | DOI: 10.24821/resital.v17i1.1688

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami persebaran kesenian rapa’i dan langkah-langkah strategis yang ditempuh oleh seniman, budayawan, dan pemerintah daerah untuk menjadikan kesenian rapa’i tetap hidup dan lestari dalam masyarakat yang sedang berubah setelah dilanda bencana. Penelitan dilaksanakan dengan menggunakan metode kualitatif berupa survei lapangan, wawancara, dan pendokumentasian. Kesenian rapa’i  adalah salah satu jenis kesenian bernuansa Islam di Aceh yang sarat dengan nilai religious, kultural, sosial, keindahan, dan pendidikan. Sebelum bencana tsunami melanda Aceh tahun 2004, kesenian rapa’i digunakan sebagai media dakwah dan berakulturasi dengan budaya lokal. Simbol-simbol ekspresif  seni dan agama  berpadu menjadi kekuatan spiritualitas kebudayaan dan agama Islam. Unsur-unsur seni berupa musik, tari dan sastra menjadi karakter tersendiri dan telah mengantarkan kesenian rapa’i sebagai identitas budaya Aceh. Kehadiran dan perkembangannya  berhubungan  kait dengan perkembangan tarekat dan kehidupan sosial budaya masyarakat Aceh. Namun pada tahun 2004, Aceh diporak porandakan oleh gempa bumi dan tsunami yang menewaskan lebih dari 2000 orang, termasuk di dalamnya seniman-seniman dan budayawan Aceh. Peristiwa ini menimbulkan kekhawatiran terhadap eksistensi kesenian rapa’i dalam menghadapi budaya global.
Musik Hip-Hop sebagai Bentuk Hybrid Culture dalam Tinjauan Estetika Kardi Laksono Laksono
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 16, No 2 (2015): Agustus 2015
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.714 KB) | DOI: 10.24821/resital.v16i2.1507

Abstract

Berbicara mengenai seni mempunyai tendensi berbicara mengenai kehidupan itu sendiri. Dalam kehidupan ini maka proses penciptaan tidak akan pernah stagnan. Dinamisasi dalam kehidupan ini akan menjadikan seni senantiasa untuk mengupayakan dirinya selalu kreatif dalam menciptakan suatu karya seni. Seni yang terlibat dalam kehidupan akan dihasilkan oleh suatu masyarakat yang mampu menangkap esensi seni dalam kehidupan itu sendiri. Seni pada akhirnya merupakan produk masyarakat sebab bagaimanapun juga seni tidak dapat melepaskan dirinya dari suatu masyarakat. Produksi seni yang bersifat kolektif, atau dirasa dan dicipta oleh masyarakat, akan mengutamakan nilai-nilai yang menubuh, mengedepankan etnisitas lokal, dan penuh dengan intepretasi.Proses penciptaan seni dalam kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan pada proses penciptaan kemurniaan dan hibriditas yang merupakan unsur yang mendasar. Proses penciptaan ini secara aktif terlibat dalam akulturasi atau asimilasi kebudayaan. Dilematis menjadi persoalan utama dalam terjadinya proses penciptaan tersebut, “Kemurnian” dan “hibriditas” menjadi gesekan persoalan. Hibriditas, merupakan telaah yang pas dalam melihat pembauran tersebut. Proses hibriditas menjadi semakin menarik terlebih seni yang tercipta dibentuk di masyarakat urban. Seni yang dicipta masyarakat urban menuju pada seni popular, tetapi tidak menutup kemungkinan itu semua berangkat dari masyarakat rural. Habitus, penubuhan, intepretasi individu yang tergabung dalam masyarakat menjadi proses pembentukan yang menarik.Padatataran ini, estetika hybrid culture menjadi studi mendalam dalam melihat persoalan kemajemukan nilai-nilai pada proses pembentukan seni itu sendiri. Pengarahan penelitian ini akan ditujukan kepada pemahaman atas pembentukan estetika seni pertunjukan, dan melihat korelasi yang terjadi antara nilai-nilai hibriditas pada estetika seni pertunjukan. Hip hop merupakan jenis musik yang mengalami percampuran, pembauran, dan intepretasi ulang atas sebuah kebudayaan. Hibriditas hip hop menjadi hakiki, terlebih bila melihat esksistensi dan konsistensinya kini. Hip-Hop Music as a Form of Hybrid Culture in the Aesthetics Reviews. Talking about art, it has a tendency to talk about life itself. The process of creation will never be stagnant in life. The dynamism in life will make art as an effort of seeking itself to be actively creative in creating a work of art. The art involving in life will be produced by a society that is able to capture the essence of art in life itself. Art is then ultimately a product of society because art cannot keep itself away from the society. The collective art production, or perceived and created by the community, will give more priority to the increasing values , prioritize the local ethnicity, and be full of interpretation.The process of creating art in human life cannot be released from the process of creating purity and hybridity which are parts of a fundamental element. The process of creation is actively involved in the acculturation or assimilation of culture. Dilemma becomes the main issue in the process of creation, “purity” and “hybridity” then are the friction of problems. Hybridity, is a suitable study in reviewing such assimilation. The process of hybridity becomes increasingly attractive especially when the created art is formed in the urban society. Art that is created by the urban society leads to the popular art, but it does not rule out the possibility that all arts may derive from the rural community. Habitus, embodiment, and the individual interpretation that belong to the society become theinteresting process of formation.
Keselarasan Lagu dengan Fungsi Pocapan dalam Pertunjukan Wayang Lakon Sudhamala Tatik Harpawati
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 16, No 3 (2015): Desember 2015
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.799 KB) | DOI: 10.24821/resital.v16i3.1680

Abstract

Garap pocapan merupakan bagian dari garap catur dalam pertunjukan wayang kulit purwa.Pocapan diiringi oleh grimingan gender di semua wilayah pathet. Penelitian ini memfokuskanpada keselarasan lagu dengan fungsi pocapan dan kaitannya dengan makna pilihan kata sebagaipendukung suasana yang ditampilkan dalam suatu adegan lakon Sudhamala. Tujuan penelitian iniadalah mendeskripsikan iringan yang menyertai pocapan keterkaitannya dengan fungsi pocapan danmenganalisis kesesuaiannya dengan makna kata dan suasana yang ditampilkan dalam sebuah adegan.Permasalahan tersebut dikaji secara tekstual dengan pendekatan struktur. Berdasarkan penelitiandisimpulkan bahwa iringan yang menyertai pocapan disesuaikan dengan wilayah pathet dan maknakata yang dipilih. Makna kata dalam pocapan juga disesuaikan dengan suasana yang ditampilkandalam sebuah adegan. Antara iringan, makna kata pocapan, dan suasana dalam adegan terdapatkeselarasan untuk mendukung satu kesatuan fungsi pertunjukan secara keseluruhan dalam lakonSudhamala.
Aspek Musikologis Gêndér Wayang dalam Karawitan Bali I Ketut Yasa
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 17, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (483.328 KB) | DOI: 10.24821/resital.v17i1.1689

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola permainan gamelan atau gender wayang pada pertunjukan wayang Bali. Gȇndér wayang terdiri dari dua pasang instrumen, sepasang gȇndér gede dan sepasang gȇndér barangan. Kedua pasang gender ini menghasilkan pola permainan yang saling mengunci (interlocking figuration) yang sangat khas. Pola permainan ini diberi nama ubit-ubitan atau cecandetan. Data diperoleh melalui pengamatan terhadap pertunjukan wayang Bali. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat 10 ubit-ubitan yaitu nyendhok, bolak-balik nuduk, tulak wali, bolak-balik ngutang, nyalud, uber-uberan, mulek, silih berganti, oles-olesan, dan nguluin. Sedang ritme terdapat 7 jenis, yaitu ngumad, ngambang, ngantung, kesiab, imbuh nada, imbuh gatra, dan salah gatra. 
”Ruteng is da City”: Representasi Lokalitas dalam Musik Rap Manggarai Ans. Prawati Yuliantarii
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 16, No 2 (2015): Agustus 2015
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.21 KB) | DOI: 10.24821/resital.v16i2.1511

Abstract

Penelitian ini membahas fenomena musik rap di Manggarai dan representasi lokalitas yang ada di dalam lagu-lagunya. Untuk melihat hal itu dipergunakan teks lagu sebagai obyek kajiannya. Lagu “Ruteng is da City” karangan Lipooz dipilih sebagai bahan kajian untuk melihat elemen-elemen lokal di dalam teksnya itu direpresentasikan dalam lagu sebagai pembentuk identitas rap Manggarai. Untuk membahas elemen lokalitasnya dipergunakan konsep cultural-melding-and-mediation oleh Lull. Sementara untuk mempertajam analisis representasi lokalitas dipergunakan teori Collective Representation dari Durkheim. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa melalui teks lagu “Ruteng is de City” dapat dilihat pengalaman kolektif masyarakat, kebiasaan khas, kode yang merupakan simbol kota Ruteng, dan barang yang menjadi produk lokal wilayah itu. Elemen-elemen lokal itu merepresentasikan budaya Manggarai yang berisi kepercayaan, norma-norma, nilai dan pandangan filosofis masyarakat yang membentuk identitas masyarakat Manggarai. “Ruteng is da City”: Representation of Locality in Manggarai Rap Music. This research discusses the phenomenon of rap in Manggarai and the representation of locality of the songs. To figure out this phenomenon, the textual examination on the song lyrics of “Ruteng is da City” composed by Lipooz is particularly selected as the object of study to identify the local elements of the text (lyric) which are represented in the song as the form of the identity of Manggarai rap. The identification of local elements is based on cultural-melding-and-mediation concept proposed by Lull. Meanwhile, in analyzing the representation of locality in the text, Durkheim’s theory of Collective Representation is adopted. According to the research result, it is concluded that the song text of “Ruteng is d City” contains the collective experience of the community, norms, the symbolic code of the town (Ruteng), and the local commodities of the town. The local elements found in the song represent Manggarai traditional culture that includes beliefs, norms, values and philosophical views of Manggarai society which essentially form the identity of Manggarai people.
Komposisi “Jangkah” Klonthong Laras Pelog Nanang Karbito
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 16, No 3 (2015): Desember 2015
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (403.453 KB) | DOI: 10.24821/resital.v16i3.1681

Abstract

Artikel ini membahas proses penciptaan komposisi “Jangkah” menggunakan klonthong, gentakecil terbuat dari kuningan atau kayu. Umumnya klonthong digunakan untuk penanda sapi atau kerbaudengan cara mengalungkannya pada leher. Potensi bunyi yang dihasilkan klonthong memungkinkandimanfaatkan sebagai alat musik. Berdasarkan observasi, klonthong memiliki potensi bertangga nada(laras) pelog. Laras pelog dicirikan oleh jangkah atau interval antar nada yang tidak sama. Berdasarkanpengukuran dan penghitungan, penulis berhasil mengumpulkan klonthong sehingga membentuktangga nada sama dengan gamelan dan mengkolaborasikan dengan gamelan laras pelog.

Filter by Year

2008 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 26, No 3 (2025): Desember 2025 Vol 26, No 2 (2025): Agustus 2025 Vol 26, No 1 (2025): April 2025 Vol 25, No 3 (2024): Desember 2024 Vol 25, No 2 (2024): Agustus 2024 Vol 25, No 1 (2024): April 2024 Vol 24, No 3 (2023): December 2023 Vol 24, No 2 (2023): Agustus 2023 Vol 24, No 1 (2023): April 2023 Vol 23, No 3 (2022): Desember 2022 Vol 23, No 2 (2022): Agustus 2022 Vol 23, No 1 (2022): April 2022 Vol 22, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 22, No 2 (2021): Agustus 2021 Vol 22, No 1 (2021): April 2021 Vol 21, No 3 (2020): Desember 2020 Vol 21, No 2 (2020): Agustus 2020 Vol 21, No 1 (2020): April 2020 Vol 20, No 3 (2019): Desember 2019 Vol 20, No 2 (2019): Agustus 2019 Vol 20, No 1 (2019): April 2019 Vol 19, No 3 (2018): Desember 2018 Vol 19, No 2 (2018): Agustus 2018 Vol 19, No 1 (2018): April 2018 Vol 18, No 3 (2017): Desember 2017 Vol 18, No 2 (2017): Agustus 2017 Vol 18, No 1 (2017): April 2017 Vol 17, No 3 (2016): Desember, 2016 Vol 17, No 2 (2016): Agustus 2016 Vol 17, No 1 (2016): April 2016 Vol 16, No 3 (2015): Desember 2015 Vol 16, No 2 (2015): Agustus 2015 Vol 16, No 1 (2015): April 2015 Vol 15, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 15, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 14, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 13, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 13, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 12, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 12, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 11, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 11, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 11, No 2 (2010): Desember Vol 10, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 10, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 9, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 9, No 1 (2008): Juni 2008 More Issue