cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts)
ISSN : -     EISSN : 23386770     DOI : https://doi.org/10.24821/resital
Core Subject : Humanities, Art,
Resital : Jurnal Seni Pertunjukan merupakan jurnal ilmiah berkala yang ditujukan untuk mempublikasikan karya ilmiah hasil penelitian, pengembangan, dan studi pustaka di bidang seni pertunjukan. Jurnal Resital pertama kali terbit bulan Juni 2005 sebagai perubahan nama dari Jurnal IDEA yang terbit pertama kali tahun 1999.
Arjuna Subject : -
Articles 306 Documents
Musik Internal dan Eksternal dalam Kesenian Randai Rustiyanti, Sri
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 15, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v15i2.849

Abstract

Kehidupan musik pada masyarakat Minangkabau tidak terlepas adanya peranan serta fungsi yang melekat pada kesenian Randai. Melalui pendekatan etnomusikologi, tulisan ini menelaah peranan musik internal dan eksternal dalam kesenian Randai. Kesenian ini menggunakan medium seni ganda atau kolektif karena didukung oleh beberapa cabang seni antara lain tari, musik, teater, sastra, dan rupa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa musik iringan dalam Randai terbagi menjadi dua, yaitu musik internal dan musik eksternal. Musik internal adalah musik atau bunyi-bunyian yang berasal dari anggota tubuh manusia (penari), misalnya tepukan tangan, petik jari, tepuk dada, siulan, hentakan kaki ke tanah dan sebagainya, sedangkan musik eksternal adalah bunyi-bunyian atau suara yang berasal dari alat musik atau instrumen seperti talempong, gandang, saluang, dan rabab. The Role of Internal and External Music in the Arts of Randai. The musical life in Minangkabau society is inseparable from its roles and functions which attach to the arts of Randai. Through the ethnomusicology approach, this paper examines the role of internal and external music in the art of Randai. Considering its sustainability and amendment, the musicality is the identity of Minangkabau society so that the sustainability of the music can be run in accordance with the dynamics of society today. Among the types of arts in Minangkabau, Randai is an art form that uses multiple or collective art medium for it is supported by several branches of the arts, including dance, music, theater arts, literary arts, and fine arts. The results of this study is more focused on the art of music. Musical accompaniment in Randai is divided into two, namely internal and external music. The internal music is the music or the sounds that come from the human body (a dancer), for example, clapping, finger picking, patting the chest, whistling, stomping on the ground, and so on, while the external music is the sounds emanating from the tools of music or instruments, such as talempong, gandang, saluang, and rabab.
Lirik Musikal pada Lagu Anak Berbahasa Indonesia Tyasrinestu, Fortunata
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 15, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v15i2.850

Abstract

Penelitian ini mengkaji bahasa lagu anak berbahasa Indonesia. Lagu anak berbahasa Indonesia adalah lagu yang diperuntukkan dan dinyanyikan oleh anak-anak sesuai dengan perkembangan anak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan karakteristik lagu anak (LA) secara musikal dengan memperhatikan kata-kata atau lirik yang ada dalam lagu anak berbahasa Indonesia. Karakteristik lirik dan karakteristik musikal yang saling menyatu merupakan harmoni yang indah dalam lagu anak. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Analisis yang diterapkan adalah metode holistik yang dipergunakan untuk melihat LA dari beberapa perspektif melalui wawancara dan angket yang diperoleh dari praktisi musik dan praktisi pendidikan, guru, orangtua, siswa dan awam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lagu anak berbahasa Indonesia mempunyai beberapa karakteristik secara lirik dan musikal yaitu 1) pola ritme yang diulang secara musikal, 2) melodi yang diulang secara musikal, 3) motif yang diulang secara musikal, dan 4) kata-kata yang diulang secara musikal. Fungsi lagu anak berbahasa Indonesia selain untuk belajar bahasa juga mengandung nilai pendidikan dan karakter positif untuk anak dengan kata-kata bermakna positif pada lirik-liriknya. The Characteristics of Musical Lyrics on Indonesian Children Songs.The study tries to examine the discourse of Indonesian children songs. Indonesian children songs are songs that are composed for and sung by children in accordance with the child development stages. The purpose of this study is to describe the discourse of Indonesian children songs which describe their musical characteristics by giving more attention on words or lyrics of the songs. The characteristics of lyrics and musical characteristics that belong to each other are mainly a beautiful harmony in children songs. This study uses a descriptive method. The holistic method is employed to analyze children songs from some perspectives by doing the interview and distributing questionnaires to musicians, educators, teachers, parents, students, and common people in terms of composition background, the actual condition, and the resulted effect. The result shows that the Indonesian children songs have their own lyrics and musical characteristics as the followings: 1) the pattern of repeated musical rhythm, 2) the musically-repeated melody , 3) the repeated musical motives, and 4) the musically-repeated words. The function of Indonesian children songs is to learn a language of which the songs may also contain positive education values and characters for children by showing the meaningful words in the lyrics.
Musik Kontemporer dalam Kurikulum dan Buku Sekolah di Jerman Sukmayadi, Yudi
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 15, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v15i2.851

Abstract

Tulisan ini menyajikan tentang posisi musik kontemporer dalam kurikulum dan buku sekolah di Jerman. Hal yang dibahas adalah pemilihan materi musik kontemporer untuk setiap kelas, jenis musik kontemporer yang dibahas, serta metode didaktis yang diterapkan. Berdasarkan analisis dapat disimpulkan bahwa melalui pelajaran musik kontemporer, siswa tidak hanya mempelajari hal musikal, namun juga mempelajari masalah kontekstualnya di masyarakat, termasuk di dalamnya masalah musik kontemporer dan perkembangan teknologi. Contemporary Music in German Curriculum and Schoolbooks. This study presents the position of contemporary music in German curriculum and schoolbooks in Germany. This study discusses how to select contemporary music materials for every class, kinds of contemporary music, and how the didactic concepts are applied. This study also discusses how, through contemporary music, the students are introduced to contextual problems in society, including the issue of contemporary music and technology development.
Pengaruh Karawitan terhadap Totalitas Ekspresi Dalang dalam Pertunjukan Wayang Golek Menak Yogyakarta Sukistono, Dewanto
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 15, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v15i2.852

Abstract

Tulisan ini dimaksudkan untuk menjelaskan pengaruh karawitan sebagai salah satu pendukung utama pergelaran wayang dengan kualitas ekspresi dalang wayang golek Menak Yogyakarta. Keberadaan wayang golek Menak di Yogyakarta diawali pada tahun 1950-an yang dipopulerkan oleh Ki Widiprayitna, satu-satunya dalang wayang golek Menak pada waktu itu. Kesederhanaan gaya pedesaan Ki Widiprayitna dalam setiap pergelaran tidak mengurangi keberhasilannya dalam memainkan boneka wayang tiga dimensi tersebut, hingga ia mendapat julukan dhalang nuksmèng wayang. Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilannya adalah kesatuan rasa antara gerak wayang dengan karawitan sebagai salah satu pendukung utama pertunjukan. The Influence of Karawitan towards the Expression Totality of Puppeteer in the Performances of Wayang Golek Menak Yogyakarta. This paper is intended to explain the effect of the karawitan as one of a principal supporter of wayang performance to the quality of the puppeteer expression towards wayang golek Menak Yogyakarta. The existence of wayang golek Menak Yogyakarta has been started in the early 1950’s and was popularized by Ki Widiprayitna, the only puppeteer wayang golek Menak at that time. The simplicity of rustic styles of Ki Widiprayitna in every performances does not diminish his success in playing the three-dimensional puppets, until finally he gets the nickname of dhalang nuksmèng wayang. One of the factors that may influence his success is the unity of sense between the puppet motions with the karawitan as one of the principal supporters of performances.
Keprakan dalam Pertunjukan Wayang Gaya Yogyakarta: Studi Kasus Pementasan Ki Hadi Sugito Putra, Ign. Nuryanta; Prasetya, Hanggar B.; -, Sunyata
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 15, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v15i2.853

Abstract

Keprakan adalah bunyi yang dihasilkan oleh cempala tangan atau cempala kaki yang dipukulkan pada kotak wayang dalam pertunjukan wayang. Keprakan menjadi bagian dari karawitan pedalangan dan memiliki peran penting dalam membangun estetika pertunjukan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan memahami teknik dan pola keprakan dalam pertunjukan wayang. Data diperoleh melalui pengamatan pada dua puluh pertunjukan wayang yang dipergelarkan oleh Ki Hadi Sugito. Analisis musikal dilakukan dengan cara melihat hubungan antara keprakan dengan jenis gending dan suasana adegan yang diciptakan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa bunyi keprak memiliki dua fungsi utama, yaitu sebagai penanda atau aba-aba dari dalang kepada para pengrawit dan memberikan suasana dramatik sehingga pertunjukan terasa hidup. Pola keprakan terbentuk dari dua unsur yaitu neteg dan mlatuk. Dari dua pola ini berkembang pola permainan lainnya seperti mbanyu tumetes, ngeceg, nisir, nduduk, dan geter. Keprakan in Yogyakarta Wayang Style: A Case Study on Ki Hadi Sugito’s Wayang Performance. Keprakan is the sound produced by hand or foot cempala slapped on the puppets box in a wayang performance. Keprakan becomes part of the music for wayang and has an important role in building a performing aesthetic. This study aims to describe and understand the keprakan techniques and patterns in wayang performance. The data are obtained through observations on twenty of Ki Hadi Sugito’s  wayang performances. The musical analysis is done by looking at the relationship between keprakan with the musical types and the created atmosphere scene. Based on this study, it can be concluded that the keprak sound has two main functions, namely as signs or clues from the puppet master to the musicians, and to provide a dramatic atmosphere. Keprakan pattern is formed of two elements, namely neteg and mlatuk. Of these two patterns produce other patterns such as mbanyu tumetes, ngeceg, nisir, nduduk, and geter.
Musik Adaptasi Dangdut Madura Panakajaya Hidayatullah
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 16, No 1 (2015): April 2015
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (449.79 KB) | DOI: 10.24821/resital.v16i1.1270

Abstract

Musik adaptasi dangdut Madura adalah bentuk penciptaan musik yang prosesnya dilakukandengan mengadaptasi lagu asing (asal) menjadi lagu dangdut Madura (sasaran). Tujuan penelitianini adalah untuk mengetahui proses adaptasi musik dangdut Madura dari lagu asal ke lagu sasaranmelalui analisis musikologis. Analisis musikologis meliputi lirik, melodi vokal, dan hubungan antaralirik dan melodi vokal. Lirik dan melodi vokal dipilih sebagai objek studi karena keduanya merupakanunsur yang paling menonjol dalam musik adaptasi dangdut Madura. Hasil penelitian menunjukkanbahwa dalam proses adaptasi lagu asal ke lagu sasaran terdapat pola-pola atau kecenderungan yangsering terjadi yaitu: 1) lirik lagu sasaran selalu menyesuaikan dengan lirik lagu asal, penyesuaiantersebut melalui penyesuaian pola liris, pola tiruan bunyi (onomatope), pola penyesuaian bunyi dansaduran. 2) Melodi vokal lagu asal selalu berorientasi untuk tetap dipertahankan, tetapi mengalamiperubahan yaitu penyesuaian ritme melodi vokal dan perubahan nada melodi vokal. 3) Terdapat hubungan lirik dan melodi vokal yang saling mempengaruhi dalam musik adaptasi dangdut Madura.The Musical Adaptation of Maduranese Dangdut. The musical adaptation of Maduranese dangdutis a form of musical creation process done by adapting a foreign song (origin) into a Maduranese dangdutsong (target). The purpose of this study was to determine the adaptation process of Maduranese dangdutmusic from the origin song to the target one through musicological analysis. The musicological analysisincludes the analysis of the lyrics, the vocal melodies, and the relationship between the lyrics and vocalmelodies. The lyrics and vocal melodies were chosen as the objects of study because both of which were themost prominent elements in the musical adaptation of Maduranese dangdut. The results showed that in theprocess of adaptation tracked from the target to the original songs there are several patterns or tendencies thatoften occur. The patterns are the followings: 1) The lyrics targets always adjust to the lyrics of origin, theseadjustments include the adjustment of lyrical pattern, the pattern of sound imitation (onomatopoeic), thepattern of sound adjustment and adaptation. 2) The melody of the original vocal songs are always designedto be retained, yet the changes are in the adjustment of the vocal melody rhythm and the tonal changes of thevocal melody. 3) There is a relationship between the lyrics and vocal melody which interplay in the musical adaptation of Maduranese dangdut.
Peran Partisipan sebagai Bagian Infrastruktur Seni di Sumatera Barat: Perkembangan Seni Musik Talempong Kreasi Ardipal Ardipal
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 16, No 1 (2015): April 2015
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.919 KB) | DOI: 10.24821/resital.v16i1.1271

Abstract

Perkembangan seni tidak lepas dari peran pelaku seni atau seniman musik. Namun peran itubukan hanya terletak pada seniman, tetapi juga berbagai unsur yang terlibat dalam kesenian dalammasyarakat atau partisipan seni, yang terlihat dalam infrastruktur seni. Penelitian ini menggunakanpendekatan deskriptif analisis, dengan maksud memberikan gambaran partisipan seni sebagai bagiandari infrastruktur seni dalam konteks kesenian Talempong Kreasi. Penelitian ini dilakukan untukmenjawab pertanyaan siapa yang berperan dan apa yang dilakukan mereka dalam musik talempongtradisi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa talempong tradisi berhasil dikembangkan olehtokoh partisipan akademik. Pengembangan ini terlihat dari konsep harmoni dalam komposisi musikdan penggabungan alat musik baru dan tradisi sehingga lahirlah Talempong Kreasi. Genre musikini dapat berfungsi untuk pembentuk imaji dan identitas Minangkabau di masyarakat. Di antara permasalahan baru yang timbul, karena hasilnya masih berfokus kepada produksi musik komersial, bukan pada kualitas musik. The Participants Role as a Part of the Arts Infrastructure in West Sumatra: The Developmentof Talempong Kreasi Musical Arts. The development of art cannot be separated from the role of performersor musical artists. But the role does not merely only lie in the artists themselves, but also in the various elementsinvolved in the arts in the community or the participants of art, which are commonly visible in the artsinfrastructure. This study used a descriptive analytical approach, with the intention of giving the participantsan overview of art as a part of the infrastructure of the art in the context of Talempong Kreasi art. Thisstudy was conducted to answer the questions of who play the role, and what they have done for Talempongmusic tradition. These results indicate that the tradition of talempong has successfully been developed by theacademic participants. This development can be seen from the concept of harmony in the music compositionand the incorporation of new and traditional music instruments so that the the tradition of TalempongKreasi is emerged. This genre of music can be served for forming the image and Minangkabau identity inthe society. Among the new problems that arise, the result still focuses on the production of commercial music, not on the quality of the music.
Dekonstruksi Estetika dan Makna Musik Gamat di Sawahlunto, Sumatera Barat Murniati Murniati
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 16, No 1 (2015): April 2015
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (733.555 KB) | DOI: 10.24821/resital.v16i1.1272

Abstract

Keberagaman budaya masyarakat lokal terlihat dari kekayaan ekspresi seni budaya masyarakat,di antaranya terdapat pada musik gamat. Tulisan ini melihat dekonstruksi estetika dan makna darifenomena perubahan bentuk dan struktur sajian musik gamat di masyarakat. Untuk membahasnyadigunakan teori dekonstruksi dan estetika dengan metode kualitatif. Dekonstruksi estetika musikgamat merupakan bentuk baru dari unsur tradisi dan modern, terdiri atas struktur yang saling terkaitdan membentuk sebuah sistem. Berdasarkan bentuknya, struktur ketradisian musik gamat mengalamipercampuran pada idiom instrumen, tangga nada, struktur permainan dan peran musisi, strukturlagu-lagu, serta konteks dan waktu pertunjukan. Berdasarkan penelitian disimpulkan bahwa estetikakeberagaman terwujud dari rasa saling menerima antarbudaya yang berbeda dalam pertunjukanmusik gamat. Dekonstruksi estetika musik gamat mengandung makna makna pembauran, kreativitasdan ekspresi serta estetika multikultural.Deconstruction of Aesthetics and Meaning of Gamat Music in Sawahlunto, West Sumatra.The variety of local social culture can be seen in the richness of cultural artistic expression, among others is inGamat music. This study deconstructs the aesthetics and meaning of the phenomena of the changes in formand structure toward the presentation of Gamat music in that society. For this purpose the deconstructionaland aesthetic theory are used with qualitative method. The deconstruction of the aesthetics of Gamat musicrepresents a new form from the traditional and modern element. It consists of interrelated structure andforms a system. Seen from its form, the structure of the tradition of Gamat music  undergoes the mixture ofinstrumental idiom, the scale, the structure of performance and the role of musicians, the structure of thepieces as well as the context and time of performance.  From the research results, it may be concluded thatthe aesthetics of diversity is formed from the sense of mutual acceptance towards different cultures in theperformance of Gamat music. The deconstruction of the aesthetics of Gamat music embodies the meanings of social integration, creativity and expresssion, and multicultural aesthetics as well.
Estetika Bawa dalam Karawitan Gaya Surakarta Timbul Haryono
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 16, No 1 (2015): April 2015
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (884.207 KB) | DOI: 10.24821/resital.v16i1.1273

Abstract

Penelitian ini difokuskan pada garap vokal terutama estetika båwå untuk mencapai keselarasanbåwå atau carem.  Penelitian ini menggunakan perpektif musikologis dengan menganalisis berbagaiaspek yang berkaitan dengan estetika båwå dalam karawitan meliputi (1) teknik penyuaraan,pernafasan, dinamika, laya, dan kepekaan pathet; (2) jenis-jenis suara yang mendukung capaiankeselarasan sajian båwå; dan (3) pelarasan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa caremmerupakan perpaduan dari beberapa unsur musikal membentuk  satu  kesatuan yang utuh (atut), sehinggamenimbulkan keselarasan (runtut). Dengan demikian untuk mencapai båwå pada tataran carem harus memiliki unsur-unsur estetika: suara baik, larasan pleng, menguasai teknik penyuaraan, menguasai teknik pernafasan, mampu mengatur dinamika, mampu mengatur laya, memiliki kepekaan pathet,dan mampu memilih céngkok, sesuai dengan jenis suara. Pelantun båwå yang memenuhi persyaratanini dapat dipastikan telah mencapai carem..The Aesthetics of Bawa in Karawitan Style of Surakarta. This study focuses on the vocal creation,especially on the aesthetic of båwå, to achieve the harmony of båwå, which is called carem. This study isconducted by employing the musicological perspective, by which analyzing the various aspects related to theaesthetics of båwå karawitan style of Surakarta which include the followings: (1) the techniques of voicing,breathing, dynamics, laya, and sensitivity of pathet; (2)types of sounds that support the achievement of Båwå presentation; and (3) sound tunings. The results of this study show that carem is the combination ofseveral musical elements which form a whole unity (atut), so that it will create a sense of harmony (runtut).Therefore, in order to achieve carem, the singer of the båwå must at least have the aesthetics elements, suchas: 1) a good voice and accurate intonation, 2) a good command of vocal techniques, 3) a good commandof breathing techniques, 4) the ability to control dynamics, 5) the ability to regulate the laya (tempo), 6)the sensitivity to pathet, and 7) the ability to select céngkok, according to the type of voice. Thus, it can beascertained that a båwå singer who meets the above conditions will achieve carem.
Laras, Surupan, dan Patet dalam Praktik Menabuh Gamelan Salendro Asep Saepudin
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 16, No 1 (2015): April 2015
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.962 KB) | DOI: 10.24821/resital.v16i1.1274

Abstract

Tulisan ini membahas tentang peranan laras, surupan, dan patet dalam praktik menabuh gamelansaléndro. Gamelan saléndro termasuk salah satu perangkat gamelan yang terdapat dalam karawitanSunda. Penyajian gamelan saléndro dalam karawitan Sunda memiliki keunikan tersendiri yang tidakditemukan pada musik lain yakni terdapat perbedaan laras antara gamelan yang digunakan denganlagu yang dinyanyikan oleh pesinden (vokalis). Oleh karena itu, tidak mudah untuk menyajikansebuah lagu dalam permainan gamelan saléndro karena harus memahami terlebih dahulu laras,surupan, dan patet sebagai jembatan bagi perbedaan laras ini agar terjalin nuansa musikal yangharmonis. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa laras, surupan, dan patet memilikiperanan sangat penting dalam praktik bermain gamelan saléndro, sebagai kunci utama yang harusdikuasai seorang pengrawit (lebih khusus bagi seorang perebab) untuk menyajikan lagu atau gending.Selain itu, disimpulkan pula bahwa laras, surupan, dan patet sebagai satu kesatuan yang utuh, memilikiketerkaitan satu sama lainnya dalam praktik menabuh gamelan saléndro.Laras, Surupan, and Patet in Playing Salendro Gamelan.This paper discusses the role of laras(musical scale), surupan, and patet (Jawa: pathet) concepts in playing salendro gamelan. Salendro gamelanis one of gamelan instruments in Sundanese gamelan music. The performance of salendro gamelan inSundanese gamelan has its own uniqueness which is not found in other musical genre or characteristics, thatthere is a different laras between the used gamelan and the song sung by vocalist. Therefore, it is not easy topresent a song in a salendro gamelan play because we should understand laras, surupan, and patet conceptsfor bridging the difference to create the harmonious musical nuance. Based on the result analysis, it may beconcluded that laras, surupan, and patet concepts play the important role in playing the salendro gamelan.They are the main keys for gamelan players who should master to play the song or gending. In addition, laras,surupan, and patet concepts as a unity relate to each other in playing the salendro gamelan.

Page 11 of 31 | Total Record : 306


Filter by Year

2008 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 26, No 3 (2025): Desember 2025 Vol 26, No 2 (2025): Agustus 2025 Vol 26, No 1 (2025): April 2025 Vol 25, No 3 (2024): Desember 2024 Vol 25, No 2 (2024): Agustus 2024 Vol 25, No 1 (2024): April 2024 Vol 24, No 3 (2023): December 2023 Vol 24, No 2 (2023): Agustus 2023 Vol 24, No 1 (2023): April 2023 Vol 23, No 3 (2022): Desember 2022 Vol 23, No 2 (2022): Agustus 2022 Vol 23, No 1 (2022): April 2022 Vol 22, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 22, No 2 (2021): Agustus 2021 Vol 22, No 1 (2021): April 2021 Vol 21, No 3 (2020): Desember 2020 Vol 21, No 2 (2020): Agustus 2020 Vol 21, No 1 (2020): April 2020 Vol 20, No 3 (2019): Desember 2019 Vol 20, No 2 (2019): Agustus 2019 Vol 20, No 1 (2019): April 2019 Vol 19, No 3 (2018): Desember 2018 Vol 19, No 2 (2018): Agustus 2018 Vol 19, No 1 (2018): April 2018 Vol 18, No 3 (2017): Desember 2017 Vol 18, No 2 (2017): Agustus 2017 Vol 18, No 1 (2017): April 2017 Vol 17, No 3 (2016): Desember, 2016 Vol 17, No 2 (2016): Agustus 2016 Vol 17, No 1 (2016): April 2016 Vol 16, No 3 (2015): Desember 2015 Vol 16, No 2 (2015): Agustus 2015 Vol 16, No 1 (2015): April 2015 Vol 15, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 15, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 14, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 13, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 13, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 12, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 12, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 11, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 11, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 11, No 2 (2010): Desember Vol 10, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 10, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 9, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 9, No 1 (2008): Juni 2008 More Issue